Karena UN Setitik, Rusak Pendidikan Sebelanga

Ujian Nasional

Ujian (foto by: Google)

Tidak adil rasanya ketika hasil kerja keras selama 3 tahun dinilai oleh ujian selama 3 hari. Itupun dengan kondisi yang karut marut tak jelas.

Namanya Tayusani Yuza, siswa kelas XII di sebuah sekolah tingkat atas di Tangerang. Saya bertemu sekali dengan dia ketika perhelatan Blogger Nusantara bulan November tahun lalu. Dari pertemuan itu saya mengira Tayusani seorang remaja yang pendiam. Tubuhnya kurus dan tinggi, tingkahnya tidak terlalu atraktif meski terlihat mudah bergaul dengan siapa saja.

Bayangan saya tentang Tayusani yang pendiam jadi berubah ketika saya menjatuhkan pandangan pada deretan tulisan di blognya. Judulnya: Jujur UAN 2013 Mengecewakan! Kami Merasa Seperti Kelinci Percobaan! Dari tulisan itu terlihat jelas amarah meledak-ledak seorang bocah kelas XII yang baru saja dikecewakan oleh ujian nasional tingkat SMA.

Tayusani hanya satu dari jutaan anak SMA yang tahun ini mengikuti Ujian Nasional (UN) untuk menentukan kelulusan mereka. Anak-anak sekolah tingkat akhir akan dihadapkan pada sebuah ajang yang rasanya jadi puncak perjuangan mereka selama duduk di bangku sekolah. Kadang malah terasa seperti sebuah proses eksekusi yang menentukan hidup mati seseorang. Tidak heran jika UN jadi penyebab stress bagi kebanyakan siswa di Indonesia.

Jauh sebelum UN digelar, siswa-siswi sudah menempuh banyak cara untuk bisa melewatinya dengan baik. Belajar tentu jadi menu utama, setelahnya ada menu pendamping. Doa bersama, dzikir hingga yang paling luar biasa: minta restu ke makam. UN sudah terasa sangat menakutkan, sehingga membuat para pelakunya harus mempersiapkan banyak senjata untuk melawannya.

Tidak cukup dengan itu, UN yang juga menyertakan polisi berseragam lengkap dengan senjata tersandang untuk mengawal kertas ujiannya, tahun ini diperparah oleh karut marut penyebaran soal yang tidak merata. Jangankan siswa yang jauh dari Jakarta, siswa seperti Tayusani yang bertetangga dengan ibukota juga tetap harus menanggung stress berlebihan karena sistim UN yang berantakan tidak karuan.

Tahun ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tiba-tiba punya niat untuk membuat sistim baru yang meminimalisir perilaku curang para siswa. Saya tidak paham bagaimana detailnya, intinya dalam satu kelas akan ada 20 paket soal yang membuat siswa-siswa yang ikut UN tidak akan menerima soal yang sama dengan teman di sebelahnya. Jadi, mencontek jawaban teman di samping adalah hal yang sia-sia karena soal yang diterima berbeda-beda.

Usaha yang bagus, ide yang briliant! Tapi sayangnya pelaksanaan di lapangan tidak sebagus rencana yang luar biasa itu. Dari tulisan Tayusani terpapar bagaimana kekacauan timbul di lapangan karena ide briliant kementerian pendidikan itu. Murid-murid jadi bingung, guru dan pengawas jadi kalut dan suasana jadi kacau. Ide briliant itu tidak didukung oleh distribusi yang bagus. Hasilnya, soal untuk SMK malah nyasar ke SMA. Soal yang harusnya cukup malah kurang dan akhirnya tukang foto kopi jadi penyelamat. Tapi untuk memperbanyak soal tidak semudah itu karena soal untuk para siswa berbeda-beda. Hasilnya: UN yang namanya saja sudah bikin takut sekarang malah tambah menakutkan. Murid yang sudah menyiapkan diri untuk soal berat di pagi hari terpaksa menunggu hingga siang dan itu berarti ketahanan tubuh dan konsentrasi mereka sudah sangat jauh berkurang. Stress, capek, pusing, jengkel benar-benar bukan kombinasi yang tepat untuk sebuah ujian.

Anak sekolah di beberapa tempat di Indonesia ada yang lebih parah lagi. Ketika mereka sudah mempersiapkan diri untuk ikut UN, ternyata UN harus ditunda! Alasannya, soal belum selesai. Belum bisa dikirim ke tempat mereka. Bahkan ada daerah yang mengalami penundaan hingga dua kali. Pantas saja jika beberapa murid SMA sampai meraung histeris. Persiapan mental mereka yang sudah sedemikian rupa harus pupus oleh kabar kalau kertas ujian belum selesai. Sekali lagi pemerintah berhasil menunjukkan diri sebagai pihak yang paling pandai meruntuhkan semangat warganya, utamanya anak-anak yang katanya adalah generasi penerus bangsa itu.

Aminn..

Aminn..

UN juga dipandang terlalu berorientasi pada hasil, bukan proses. Apapun hasil UN maka itulah cerminan sekolahmu dalam masa 3 tahun terakhir. Alasan ini juga yang mendorong beberapa guru jadi menghalalkan segala cara. Mereka jadi kalap dan berbuat apa saja untuk meraih angka 100% kelulusan. Bocoran kunci jawaban disebar ke murid-murid dengan harapan mereka bisa menyelesaikan ujian dengan cepat dan bisa lulus dengan nyaman.

UN tiba-tiba jadi momok yang sangat menakutkan. Permintaan agar sistim ini dihapus bukan baru hadir tahun ini, tapi pemerintah tetap bebal. Mereka keras kepala untuk meneruskan pelaksanaan UN dengan berbagai inovasi. Sayangnya, inovasi tidak selamanya berhasil dan bahkan membuat kekacauan para siswa makin bertambah.

Saya sepakat dengan Tayusani yang menilai UN tak adil bila dijadikan satu-satunya patokan kelulusan siswa di Indonesia. Hasil UN yang cuma beberapa hari dianggap cukup untuk menggambarkan proses panjang selama 3 tahun di bangku sekolah. Belum lagi tentang standar yang disamakan di semua pelosok republik ini. Bagaimana mungkin adik-adik kita yang berada di ujung timur Indonesia atau di ujung mana saja yang jauh dari riuh rendah perkotaan dipaksa mengikuti standar dari ibukota? Apa kabar pendidikan mereka yang mungkin punya standar sendiri untuk mengetahui potensi siswanya?

UN memang seperti sebuah neraka bagi siswa di Indonesia. Karena UN setitik, rusak pendidikan sebelanga. Sepertinya anak sekolah di Indonesia memang harus bermental baja. Sedari usia dini mereka sudah dikenalkan dengan sistim pemerintahan yang kacau balau dan bobrok di sana-sini. Apalagi tercium bau tidak sedap dari anggaran UN tahun ini. Duh! Bahkan untuk pendidikan penerus bangsapun ada orang yang tega untuk korupsi? Sungguh kasihan nasib adik-adik kita. [dG]

About The Author

One Response

  1. Khie
    29/04/2013

Add Comment

Isi dulu ya, buktikan kalau Anda manusia *

%d bloggers like this: