Tags:

Hidup Berkalang Asumsi

asumsi

asumsi

Kadang secara sadar atau tidak kita menilai seseorang dari tampilan fisik atau pakaiannya. Kadang kita benar, tapi kadang juga kita salah.

Anda pernah mendengar cerita yang beberapa hari lalu heboh di media sosial, utamanya di Facebook? Cerita tentang seorang ukhti yang mengaji di peron stasiun dan ditanyai seorang aparat. Dari sudut pandang si ukhti, dia merasa diinterogasi dan membuatnya tidak nyaman. Dalam pikiran si ukhti, aparat itu adalah pengidap Islamophobia, orang yang selalu merasa ketakutan terhadap Islam dan karenanya berusaha menyelidiki siapapun yang terlihat Islami.

Cerita si ukhti di media sosialnya membuat seorang ukhti yang lain jadi penasaran. Si ukhti yang kedua ini mencoba mencari tahu siapa gerangan aparat yang menanyai si ukhti pertama. Hasilnya, ukhti yang kedua menemukan fakta bahwasanya si aparat bertanya ini-itu ke ukhti yang pertama sehingga terkesan menyelidik bukan karena dia benar-benar ingin menyelidiki latar belakang si ukhti yang mengaji di peron, tapi lebih karena dia kagum. Di jaman modern ini ketika orang lebih sibuk dengan handphone dan gadget ketika sedang menunggu, ternyata masih ada seoang perempuan yang mengisi waktu luangnya dengan mengaji.

Kekaguman itu yang membuatnya mendekati si ukhti dan bertanya macam-macam. Sesuatu yang ternyata oleh si ukhti diterima berbeda. Mungkin karena seragam aparat sehingga si ukhti terkesan diinterogasi dan kemudian berpikir tentang Islamophobia. Apalagi kejadian ini terjadi tidak jauh dari peristiwa pemblokiran beberapa situs yang dituding sebagai situs penyebar ajaran radikal.

*****

Sebenarnya cerita di atas masih menyimpan banyak pertanyaan buat saya. Kisahnya terlalu mirip kisah sinetron atau kisah film. Kata orang, too good to be true. Tapi sudah, kita tinggalkan saja perdebatan soal benar atau tidaknya cerita di atas. Sayapun lebih tertarik bercerita tentang sesuatu di balik cerita itu.

Coba kita pikirkan, seberapa sering kita menilai seseorang hanya karena tampilan fisik atau pakaiannya? Sebagai orang Indonesia yang terbiasa melihat aparat curang atau aparat yang berbuat semena-mena kita juga mungkin sering menilai mereka yang berpakaian aparat itu sebagai orang-orang yang berbeda dengan kita.

Ketika mereka datang dan bertanya banyak hal tentang aktivitas kita secara tidak sadar kita sudah menutup diri karena sudah terlanjur mengangguk setuju pada asumsi yang kita bangun sendiri. Kita mungkin merasa diiterogasi, merasa sang aparat punya agenda lain yang berakar pada kebencian.

Padahal kita lupa kalau aparat di balik pakaiannya adalah manusia biasa, sama seperti kita. Mereka punya rasa penasaran juga, punya rasa ingin tahu yang kadang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan mereka.

Pakaian dan fisik seseorang memang kadang dilekatkan dengan sifat tertentu. Akuilah, kita sering tanpa sadar maupun sadar membangun imaji tentang orang-orang Timur Indonesia sebagai orang-orang yang keras dan cenderung jahat. Mungkin karena tampilan mereka yang berkulit legam, berambut keriting dan bertubuh kekar. Apalagi tidak sedikit tayangan televisi dan film yang menempatkan mereka sebagai orang-orang jahat.

Bayangkan ketika Anda sedang sendirian, asyik dengan handphone dan gadget ketika didekati orang Timur. Saya yakin sebagian dari kita akan langsung berpikiran buruk, membatasi diri dan bersiaga penuh. Tidak usah orang Timurlah, cukup pria dengan dandanan tak rapih, kaos dan celana jeans sobek misalnya. Apalagi kalau rambut mereka panjang terurai. Dandanan yang lebih sering dikesankan sebagai dandanan orang jahat.

Saya ingat, suatu hari ketika di Jogja saya sempat mendengar seorang ibu berbicara di telepon dengan logat Makassar. Saya menyapanya, bertanya apa dia berasal dari Makassar juga. Si ibu menatap saya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menyelidik. Hanya sebentar sebelum dia menjawab iya seadanya dan mempercepat langkahnya menjauh. Belakangan saya baru sadar, waktu itu saya masih gondrong dan kebetulan hanya bercelana pendek dan berkaos oblong. Si ibu pasti merasa was-was, ditanyai seorang lelaki gondrong di tepi jalan di malam hari. Wajar, karena dia sudah membangun asumsinya sendiri.

Begitulah, kita sudah terbiasa membangun asumsi sendiri hanya berdasar pada pakaian atau tampilan fisik seseorang. Asumsi yang tak selamanya benar, karena kadang sifat tulus bersemayam dalam tampilan fisik seseorang yang tak rapi. Sebaliknya, tampilan rapi dan wangi bisa saja berisi hati yang busuk.

Jadi, berhati-hatilah dengan asumsi. [dG]

About The Author

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz
%d bloggers like this: