Fajrin dan Pendar Cahaya dari Hatinya

Fajrin (berbaju cokelat) dengan semangat besarnya yang mau menulis

Meski matanya tak sempurna, tapi semangatnya luar biasa

“Saya bukannya tidak bisa membaca Quran bu, tapi saya tidak bisa melihat huruf-hurufnya.” Kata Fajri dengan memendam rasa sakit di dalam hatinya.

Malam itu sang ibu marah tak terbendung ketika Fajri tak juga mampu mengikuti perintahnya, membaca deretan huruf hijaiyah di lembaran kitab suci Al Quran. Ibunya marah karena Fajrin dianggapnya bodoh, tak bisa membaca. Padahal dia tak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Fajrin.

Fajrin adalah salah satu penghuni asrama milik Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Makassar. Saya menemuninya di suatu hari yang gerah. Waktu itu bersama dua orang kawan saya hadir untuk berbagi tentang bagaimana menulis yang baik kepada Fajri dan teman-temannya, penghuni asrama Pertuni. Sebuah pengalaman yang dengan segera membuka mata saya, membuat saya menemukan cahaya-cahaya terang dari Fajrin dan teman-temannya.

*****

Ade Saputra yang mengetik dengan bantuan perangkat lunak khusus

“Sudah lama mi sebenarnya saya suka menulis kak, tapi jelek ki. Ndak ada yang ajar ka.” Kata Ade Saputra, salah seorang peserta kelas hari itu. Katanya dia sudah lama mau belajar menulis, hanya saja tak ada orang yang bisa ditempatinya belajar.

Ade yang tambun dan selalu tampak ceria itu adalah seorang penyandang tuna netra kategori low vision. Dia masih bisa melihat meski sangat kabur dan gelap. Ade sangat ceria, sepanjang pertemuan dia nyaris tak bisa diam, terus saja berbicara dan sesekali bercanda. Keceriaannya selaras dengan umurnya yang belum lagi menyentuh angka 20.

Selain Ade satu lagi yang saya ingat betul hari itu. Seorang pria tak seberapa tinggi yang umurnya saya taksir antara 20-25 tahun. Namanya Andi Zulfajrin. Fajrin, begitu dia menyebut nama sapaannya-ternyata sudah lama senang menulis. Dia rajin mencatat kisah kehidupannya meski tak berani memperlihatkannya kepada orang lain. Selama ini catatan-catatannya hanya tersimpan rapi, hanya untuk dirinya sendiri.

Fajrin terlahir sebagai anak yang tak berbeda dengan anak-anak lainnya, sehat dan normal. Dia baru merasakan ada yang berbeda dengan dirinya ketika duduk di bangku kelas tiga SD. Perlahan-lahan penglihatannya mulai mengabur tak lagi sejelas dulu. Awalnya Fajrin tidak paham apa yang terjadi pada dirinya, pun dengan orang tuanya. Satu hal yang paling diingatnya adalah ketika suatu malam sang ibu memarahinya karena tak bisa membaca Al Quran seperti yang diperintahkan.

Dengan memendam rasa sakit di hatinya Fajrin bergumam. “ Saya bukannya tidak bisa membaca, tapi saya tidak bisa melihat huruf-hurufnya.”

Fajrin sebenarnya anak yang cerdas, di sekolah dia sempat menjadi pemuncak rangking pertama. Hingga kemudian perlahan-lahan pandangannya mulai mengabur, tak lagi setajam dulu. Fajrin terpaksa berhenti bersekolah, meninggalkan keceriaan kehidupan anak-anak yang dulu menemaninya. Hidupnya berganti dari beragam warna menjadi hanya hitam pekat.

Keluarga besarnya sebenarnya sempat mencari beragam cara untuk mengobati Fajrin. Dari pengobatan medis di Puskesmas sampai pengobatan alternatif yang sulit dicerna logika. Tapi semua tak ada hasilnya. Fajrin kecil sempat terpuruk kehilangan harapan. Api semangat yang dulu berkobar-kobar dalam dadanya seperti padam tak berbekas.

Tapi rupanya Tuhan berkata lain. Meski sempat berada di titik terendah kehidupannya Fajrin toh bisa bangkit juga. Dengan penuh semangat dia meminta untuk disekolahkan di SLB di kota Makassar. Awalnya sang nenek yang lebih banyak merawatnya tak setuju. Dalam pikiran kolotnya apa yang dialami Fajrin berkaitan dengan mitos yang masih dipercayanya. “Kalau Tuhan mau Fajrin sekolah, dia pasti akan bisa melihat kembali.” Begitu katanya.

Tulisan Fajrin di buku Makassar Nol Kilometer

Tulisan Fajrin di buku Makassar Nol Kilometer

Tapi Fajrin kepala batu. Niatnya untuk kembali bersekolah sudah kadung membaja. Orang tua dan neneknya menyerah, membiarkan Fajrin menyisir jalan ke kota Makassar dan bergabung di sebuah SLB milik Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Tunanetra. Di SLB Fajrin berhasil menamatkan pendidikan dasarnya ketika seorang kawannya memotivasi dia untuk melanjutkan sekolah ke SMP umum. Fajrin awalnya gamang, tak berpikir akan bisa. Tapi teman lain semakin mendorongnya untuk bersekolah di SMP umum.

Di suatu hari di bulan Juli 2011, Fajrin menguatkan niatnya. Dengan diantar oleh orang panti dia akhirnya mendaftar di sebuah SMP umum seperti layaknya anak lain yang tak berkekurangan. Modal semangat saja ternyata tidak cukup, pihak sekolah awalnya memandang sebelah mata pada Fajrin yang datang dengan keterbatasannya. Mereka tak acuh dan seperti tak berniat menerima Fajrin.

Sekolah itu mengaku belum pernah menerima siswa tuna netra sebelumnya, dan karenanya mereka akan membahasnya dulu dengan pengajar dan kepala sekolah. Lama Fajrin menanti tapi tak ada kabar, satu per satu pengurus sekolah itu membuang muka dan tak memberi kejelasan pada nasib Fajrin.

“Karena sikap pihak sekolah yang tidak jelas itu saya akhirnya minta bantuan teman-teman di PERTUNI. Mereka juga yang akhirnya membantu saya, menjadi mediator sampai akhirnya saya bisa diterima di SMP itu.” Kata Fajrin dalam tulisannya.

Meski berbeda dan dianggap punya kekurangan, Fajrin toh tidak menyerah begitu saja. Bersaing dengan anak-anak lain yang lebih sempurna fisiknya dari dia tak membuatnya patah semangat. Fajrin memberi bukti, dia bisa menduduki rangking tiga umum mengalahkan ratusan murid lain yang tak punya keterbatasan fisik sepertinya.

“Meskipun saya harus menghadapi beribu tantangan dan menghadapi guru-guru yang  kadang tidak dapat memahami keadaan saya yang tunanetra ini, namun semua itu harus saya lewati.” Kata Fajrin. Lalu dia menutup dengan kalimat, “Karena hidup akan selalu indah apabila kita menyikapinya dengan hati yang teguh. Karena keterbatasan tak membatasi kita untuk dikatakan pantas.”

*****

Andi Zulfajrin hanya satu dari sekian anak luar biasa yang saya temui hari itu. Di balik fisik mereka yang buat kita tak sempurna ternyata tersimpan semangat yang mungkin malah mengalahkan kita yang merasa sempurna. Mereka menantang jutaan rintangan, hanya agar diberi kesempatan sama dengan kita. Dihargai sebagai manusia dan diberi kesempatan sebagai manusia.

Fajrin dan teman-temannya membuat saya malu. Malu karena selama ini saya masih sering mengeluh tak puas pada apa yang terjadi di sekitar saya. Malu karena begitu mudahnya saya melewatkan kesempatan yang ada di depan mata, sementara mereka tak pernah menyerah mencari kesempatan hanya agar keberadaan mereka diakui.

Fajrin dan teman-temannya membuktikan kalau mereka adalah pemilik sesungguhnya atas cahaya terang dari kegelapan. Mereka menolak pameo bahwa orang tuna netra hanya cocok sebagai pengemis atau paling mujur sebagai pemijat. Mereka tidak mau itu, mereka berjuang mencari ilmu dan mengasah kemampuan dengan cara yang mungkin tak bisa dibayangkan oleh mereka yang merasa normal.

Dalam sebuah tulisannya yang dimuat di buku “Jurnalisme Plat Kuning; Makassar Nol Kilometer”, Ade Saputra berkata, “Ingatlah bahwa kami selaku para penyandang disabilitas adalah manusia yang dilahirkan ke muka bumi ini untuk dapat melakukan hal-hal yang sama dengan orang-orang normal pada umumnya.”

Sungguh sebuah semangat yang mampu meluruhkan kesombongan saya, mungkin juga kesombongan kita yang mengaku normal. [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

5 Comments

  1. Nunu Amir
    12/01/2016
  2. Yudi Randa
    12/01/2016
  3. Yudi Randa
    12/01/2016
  4. Muhammad Firman
    12/01/2016
  5. Langit Amaravati
    25/01/2016

Add Comment