Tags:

Di Balik Layar PKM 2014

Keriuhan malam kedua PKM 2014

Keriuhan malam kedua PKM 2014

Ide yang baik adalah ide yang direalisasikan, dan untuk merealisasikan sebuah ide kadang kita butuh banyak bantuan.

Saya terbangun entah jam berapa. Saya sempat sedikit bingung sambil menajamkan pendengaran, di luar suara hujan masih lirih membasahi bumi. Sekejap saya langsung merasa gelisah, hujan ini bisa sangat merusak rencana yang sudah kami buat. Pagi ini kami harus menggelar acara PKM 2014 sesuai jadwal, tapi kalau hujan terus menerus bagaimana mungkin semuanya lancar? Apalagi konsep acara kami memang semuanya outdoor yang artinya sangat mengandalkan keramahan alam.

Segera terbayang tanah yang basah dan air yang menggenang serta tenda yang juga pasti menampung air hujan. Duh, bagaimana ini? Saya benar-benar gelisah, terbayang kegelisahan yang sama juga pasti dirasakan teman-teman yang malam itu memilih untuk tetap berada di Monumen Mandala tempat pelaksanaan acara. Walhasil sampai matahari bangun saya sama sekali tidak bisa memejamkan mata dengan nyaman.

Akhirnya saya memilih bangun dan mengontak Rama, ketua panitia. Sapaan saya langsung disambut dengan nada kuatir dan ikon sedih. Saya tahu dia juga pasti sedih melihat kondisi alam yang sejak dini hari hingga pagi itu tidak bersahabat. Di twitter beberapa teman panitia juga mengaku tidak bisa tidur nyenyak. Di grup Line panitia beberapa foto kondisi terakhir tempat acara menunjukkan kalau lokasi acara memang tidak kondusif lagi. Air menggenang di dalam tenda booth komunitas, semua jaringan kabel listrik basah, sama sekali bukan kondisi yang nyaman untuk sebuah acara besar.

Menjelang jam 8 pagi hujan mulai reda, matahari juga mulai muncul. Saya menghela nafas lega, masih ada waktu untuk menyiapkan semuanya sebelum jam 10 pagi, jam yang ditetapkan sebagai awal acara. Saya memilih untuk mengistirahatkan mata sejenak karena malamnya saya benar-benar tidak bisa tidur dengan nyaman. Lumayan, saya bisa dapat tidur sekira 2 jam sebelum meluncur ke tempat acara.

Selepas hujan.

Selepas hujan.

Tiba di tempat acara sekisar jam 10:30, ternyata ada yang berubah. Di bawah tenda utama ada beberapa pekerja yang memasang panggung portable setinggi kira-kira 30 cm. Rupanya kondisi air yang menggenang membuat teman-teman panitia terpaksa mengontak penyewaan tenda untuk memasang panggung di bawah tenda utama. Ini berarti penambahan biaya lagi yang tidak sedikit, padahal dana untuk acara sudah benar-benar mepet. Tidak ada cara lain, kenyamanan peserta adalah yang utama.

Akhirnya, setelah molor hampir 2 jam acara hari pertama dibuka juga. Selanjutnya semua berjalan lancar, nyaris sesuai rundown yang sudah ditetapkan. Tapi tidak semuanya berjalan lancar, teman-teman dari divisi perlengkapan masih harus berpusing-pusing ketika menjelang malam lampu di beberapa booth tiba-tiba mati karena MCB-nya tidak kuat lagi. Terpaksalah di bawah temaram cahaya mereka bersusah payah mencari sumber aliran listrik lainnya. Sekali lagi kenyamanan peserta adalah segala-galanya meski untuk memuaskan mereka, panitia melakukannya tanpa dibayar sepeserpun.

Sampai akhirnya acara hari pertama selesai juga, sebagian panitia memilih menginap di lokasi acara sekalian nonton bareng final liga Champion. Lumayan, bisa melewatkan malam bersama teman-teman baru dan seru-seruan hingga pagi tiba. Pagi selepas final Champion saya segera pulang ke rumah, beristirahat sejenak sebelum bersiap untuk hari kedua.

*****

Hari kedua dimulai dengan lancar, matahari bersinar cerah dan bahkan agak menyengat. Saya datang terlambat ke lokasi acara, saya kebablasan tidur sampai jam 10 pagi. Setiba di tempat acara suasana mulai ramai meski panggung utama masih kosong. Dalam hati saya sangat optimis hari kedua ini akan lebih ramai dari hari pertama, semua akan lebih lancar dari hari sebelumnya.

Tapi, harapan saya mendadak kabur ketika sebuah kesalahan koordinasi dan kesalahan komunikasi antar panitia membuat salah satu komunitas jadi tidak nyaman. Untuk masalah ini kami tentu saja merasa sangat bersalah, Rama sang ketua panitia benar-benar terpukul dan tiba-tiba jadi seperti kehilangan semangat. Di sudut booth UKM dia duduk lemas bersama Mambiz istri tersayang. Saya paham apa yang dia rasakan, saya mencoba menghiburnya sebisa mungkin. Kita tidak mungkin memuaskan semua pihak, kata saya.

Belum lagi mood sang ketua panitia membaik halangan lain datang. Tepat ketika lokasi acara mulai ramai dengan kedatangan rombongan anjing manis dari komunitas Doggieliciouz hujan tiba-tiba turun! Matahari padahal masih terang bersinar meski mendung memang terlihat di sebelah timur. Sontak semua orang mencari tempat berteduh, area panggung utama langsung sepi. Semua alat ditutup vinyl dan kabel diselamatkan.

“Mudah-mudahan hujannya hanya sebentar.” Kata saya dalam hati. Tapi, manusia berencana Tuhan yang memberi hujan. Meski tidak terlalu deras tapi hujannya seperti enggan berhenti, dia terus saja turun membasahi bumi, membuat kami para panitia mulai gelisah. Kalau terus begini bagaimana nasib acara selanjutnya? Di ruang panitia Rama duduk termenung sementara kami yang lain mencoba menghibur diri dengan terus bercanda.

Sampai akhirnya beberapa orang berinisiatif untuk memecah keheningan. Mereka turun ke halaman belakang monumen dan mulai memainkan permainan tradisional gebok. Awalnya hanya beberapa orang yang meramaikan di bawah hujan yang masih lirih membasahi bumi sebelum yang lainnya ikut terpancing. Bahkan komunitas Hijabers yang lekat dengan fashion dan dandanan rapipun ikut mencemplungkan diri dalam permainan anak-anak yang heboh itu. Suasana mulai menghangat kembali.

Keriuhan di tenda utama, foto; Iqbal Lubis

Keriuhan di tenda utama, foto; Iqbal Lubis

Sebelumnya di dalam tenda utama juga terjadi keriuhan. Meski semua peserta sibuk mengamankan barang mereka dari air hujan dan genangan air tapi mereka rupanya memilih untuk tidak mengeluh. Keriuhan timbul di tenda utama ketika mereka sibuk berfoto-foto selfie, makin riuh lagi ketika Iqbal Lubis yang seorang jurnalis foto dengan beraninya naik ke atas tiang tenda dan memotret. Dalam hati saya bersyukur, kondisi ini ternyata tidak sampai membuat para peserta bete. Buat saya ini bukti kalau mereka juga merasa acara ini milik mereka, susah senang dinikmati bersama.

Menjelang maghrib hujan makin pelan tapi belum berhenti sama sekali. Kami baru mulai bernafas lega ketika satu lagi halangan datang. Listrik di booth UKM kembali putus karena MCB turun! Kali ini solusinya lebih ringan dari kemarin. Urusan listrik di booth UKM selesai datang lagi masalah lain. Kali ini booth sponsor yang kehilangan aliran listrik! Walhasil di dalam gelap yang mulai turun teman-teman sibuk mencari penyebabnya. Ternyata terminal listriknya korslet, dan butuh waktu lumayan lama sebelum semua berhasil diselesaikan. Di luar hujan kembali menderas, soundman belum berani menyalakan sound, takut korslet katanya.

Saya mulai berpikir, apakah kita harus menyelesaikan semuanya sekarang? Menutup acara tanpa mengikuti rundown? Suasana benar-benar tidak mendukung lagi. Jarum jam mulai bergeser ke pukul 7 malam sementara gerimis masih menyambangi. Beberapa orang mulai meninggalkan lokasi, mungkin mereka bosan.

Tapi acara harus jalan terus! Show must go on kata orang bule. Inisiatif diambil teman-teman, mereka mengangkat tenda ke atas panggung agar pengisi acara bisa terhindar dari hujan juga agar sound terlindung dari air hujan. Setelah semua beres tiba-tiba hujan berhenti total! Ini benar-benar seperti cobaan buat kami semua. Tuhan ingin tahu seberapa kuat kami bertahan dari cobaan-cobaan yang diberikan, ketika Dia tahu kami tidak menyerah Dia memberi imbalan dengan menghentikan derai hujan. Terima kasih Tuhan!

Haru biru di akhir acara

Haru biru di akhir acara

Dan berkat rahmat-Nya juga acara malam itu bisa dilanjutkan sampai benar-benar selesai. Pengunjung juga mulai berdatangan tepat ketika hujan berhenti, walhasil ada ratusan orang yang menyemut di depan panggung menikmati sajian demi sajian hingga acara benar-benar selesai. Tepat ketika acara resmi ditutup semua keceriaan dan haru biru tumpah ruah. Semua senyum dan tawa terlepaskan tanpa bisa ditahan lagi. Rasa puas dan lega menjadi satu, rasa capek, lelah dan emosi tiba-tiba hilang dan terasa mendapatkan balasan yang setimpal.

*****

Saya sempat menyepi sejenak, bergerak ke bagian belakang panggung yang sepi dan gelap. Di sana saya tidak bisa menahan air mata haru. Saya terharu, apa yang selama hampir setahun ini saya impikan akhirnya jadi kenyataan. Melihat teman-teman komunitas yang saling bahu membahu dan membuat acara yang menjadi milik mereka benar-benar bisa menjadi kenyataan. Susah senang datang bergantian, halangan dan kesenangan silih berganti jadi teman baik selama berbulan-bulan persiapan acara dan tentu saja selama dua hari acara.

Saya diam dalam gelap, membiarkan air mata haru itu keluar sepuasnya, melihat teman-teman yang bersorak kegirangan dan menggerakkan badan di bawah siraman lampu dan lantunan suara musik yang keras membuat saya melupakan semua penat yang saya rasakan. Mimpi itu jadi kenyataan juga, dan semua bisa jadi mungkin karena ada banyak tangan-tangan yang bergerak tanpa pamrih. Ada banyak teman-teman yang memberikan waktu, tenaga dan bahkan materi untuk mewujudkan mimpi bersama ini. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang baru saya kenal. Kalau bisa malam itu ingin rasanya saya menjura di hadapan mereka. Merekalah juara sesungguhnya!

Mimpi menyatukan komunitas dalam satu pesta sudah usai, mimpi berikutnya adalah menyatukan simpul antar komunitas, membangun kolaborasi antar komunitas. Mimpi yang tidak mungkin dikerjakan sendirian. Tapi kali ini saya tidak pesimis, saya tahu ada banyak teman-teman yang punya mimpi sama dan punya keinginan sama untuk mewujudkan mimpi itu. Karena Makassar punya banyak komunitas yang keren dengan ide yang keren.

JADI INI BARANG! [dG]

About The Author

Leave a Reply

10 Comments on "Di Balik Layar PKM 2014"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Tatay St
Guest

Luar biasa! Sebuah kisah perjuangan panjang utk mempersatukan kekuatan dalam kebersamaan, bravo daeng iPul

manjilala
Guest
Saya sdh janjian dg panitia mau ambil baju di hari pertama, tapi hujan di Daya membuat nyali saya ciut krn rencana saya mau ke lokasi bareng Yazid (5 years). Akhirnya sy putuskan ke lokasi besok siang, sepulang dari aktifitas rutin saya (KBO). Sy tiba sekitar pukul 13.00, setelah baju sdh sy terima, saya dan Yazid menyempatkan diri berkeliling stand. Yazid sangat antusias melihat Iguana dan ular. Tapi keasikan kami terusik dengan langit yg tiba2 gelap disebelah timur. Terpaksa kami pamit dan bergeser ke tempat lain. Khawatir Yazid kehujannan, soalnya baru sembuh dari sakit. Setelah membaca tulisan ta’ dan apa yg… Read more »
nawir
Guest

terima kasih daeng, sudah menuliskan sekelumit apa yang terjadi selama 2 hari di PKM, saya bisa merasakan seperti apa atmosfernya setidaknya kita sudah sukses bikin air mata saya mengalir 🙂
selamat kepada semua komunitas yang sudah berpartisipasi dan turut aktif dalam kegiatan ini 🙂
maafkan hanya bisa memantau dari kejauhan

didut
Guest

selamat daeng sudah melewati 1 fase dan berbahagialah dengan teman-teman yang sudah meluangkan keringat bersama ^^

Fadly Indrawijaya
Guest

Ternyata apa yang terlihat berbeda dengan kenyataannya. Dibalik keseruan PKM2014 kemarin ada cerita yang begitu rumit dibaliknya. Salut buat Tim PKM2014, acaranya keren ^_^

Mugniar
Guest

SALUT buat teman-teman panitia Pesta Komunitas Makassar. Jerih-payah kalian tak sia-sia. Walau hanya sebagai pengunjung, saya ikut bangga dengan apa yang telah kalian kerjakan. Mudah-mudahan ini bisa berlangsung rutin dan kelak lebih mendapat penghargaan dari pemerintah kota kita (Y) 🙂

wpDiscuz
%d bloggers like this: