Cintai Pekerjaanmu

Ilustrasi

Ilustrasi

Kalian kira pekerjaan saya enak? Memang, tapi tentu saja risikonya lebih tinggi.

Sabtu 28 Agustus 2016 saya dan rekan kerja bernama Afdhal mendarat di Mamuju dengan selamat. Keluar dari bandara Tampa Padang kami mampir beberapa jenak menikmati makanan khas Mamuju berupa jepa’ dan semua ikan-ikannya. Setelahnya kami langsung beranjak ke Kalumpang. Kalumpang berada sekira 120 km arah utara kota Mamuju. Jarak 120 km itu sebenarnya tidak terlalu jauh, kalau jalanannya rata. Sayangnya jalanan ke Kalumpang bukan jalan yang rata yang menyenangkan.

Baca: Kembali ke Kalumpang.

Perjalanan ke Kalumpang ini adalah perjalanan estafet dari sebuah perjalanan panjang lainnya beberapa hari sebelumnya. Kamis 25 Agustus 2016 kami mendarat di Jambi, malam sudah turun hampir turun ketika kami tiba di hotel. Hanya mandi, berganti pakaian dan sholat sebelum keluar mencari makan.

Keesokan harinya perjalanan panjang dimulai. Dari Jambi kami menuju kota Bangko di Kabupaten Merangin yang berada di barat daya kota Jambi. Jaraknya sekitar 246 km yang ditempuh antara 5-6 jam. Perjalanan cukup menyenangkan karena jalan yang lumayan rata dan tidak terlalu berkelok dengan kondisi yang mulus.

Dosen galau di antara Jambi-Merangin

Dosen galau di antara Jambi-Merangin

Rencana awal kami akan menginap di salah satu desa yang jadi tujuan kegiatan hari itu. Sayangnya, kondisi yang sudah malam membuat rencana berubah. Tim yang satu memutuskan untuk menginap di Bangko sebelum besok ke desa yang dituju. Kami, karena sudah memutuskan untuk tidak ikut kegiatan kedua akhirnya sepakat untuk kembali ke Jambi saja.

“Berani gak pak kembali ke Jambi malam ini?” Tanya kami pada bapak supir yang mengantar kami. Dengan mantap dan penuh kepercayaan diri, bapak supir itu mengangguk dan mengiyakan.

Jadilah malam itu kami meninggalkan Bangko dan kembali ke Jambi, melewati jalan yang sama dengan jalan dan jarak yang kami tempuh di pagi hari. Berangkat dari Bangko hampir jam 8 malam, kami tiba di kota Jambi jam 12 malam lewat.

Jadi dalam satu hari kami sudah menempuh jarak hampir 500 km.

*****

Perjalanan belum selesai. Dua hari kemudian kami kembali meniti jalan sepanjang 120 km dari kota Mamuju ke Kalumpang, Sulawesi Barat. 120 km tapi tidak rata dan beraspal, beda dengan jalan dari Jambi ke Bungo. Walhasil, kami tiba di Kalumpang ketika malam sudah hampir turun. Total perjalanan adalah sekira 4 jam dari bandara Tampa Padang.

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan. Dari ibukota Kecamatan Kalumpang kami harus beranjak ke dua desa lain, Karataun dan Siraun. Dari Kalumpang ke Karataun kami masih bisa menumpang mobil double gardan yang mengantar kami. Tapi dari Karataun ke Siraun kami harus menumpang ojek melewati medan yang berat. Total perjalanan kami adalah sekira 50 km, pergi dan pulang. Ingat! Dengan medan yang berat.

Lihat video: Sisi Lain Indonesia di Mamuju

Malam harinya, karena semua urusan di Kecamatan Kalumpang sudah selesai kami memutuskan untuk kembali ke kota Mamuju. Supir yang mengantar kami juga dengan mantap mengiyakan, maklum dia sudah terbiasa dengan jalan yang berat itu. Jadilah malam itu kami kembali ke kota Mamuju, meniti jalan sejauh kurang lebih 120 km. Kami tiba di kota Mamuju ketika malam sudah sangat larut, bahkan petugas hotel pun sudah tertidur di lantai belakang meja resepsionis.

Dalam enam hari total saya sudah meniti jalan darat sepanjang 782 km dengan rincian; Jambi-Bungo = 246 km, dikali dua berarti = 492 km. Mamuju – Kalumpang= 120 km, dikali dua berarti = 240 km. Kalumpang ke desa Karataun dan Siraun, pergi pulang sekitar 50 km. Jadi totalnya adalah 782 km. Rekor baru buat saya.

*****

Lima hari kemudian perjalanan panjang kembali saya lakoni. Kali ini Riau yang jadi lapangannya. 5 September saya mendarat ke Riau, kali ini dengan partner yang berbeda, bukan lagi dengan Afdhal. Afdhal sendiri sehari kemudian malah mengukur jalan darat dari Makassar ke Mamasa, Sulawesi Barat yang jaraknya 300 km lebih.

Sementara saya, dari Pekanbaru langsung meniti jalan darat menuju Rokan Hulu di barat daya ibukota Riau itu. Jarak yang ditempuh sekitar 167 km yang untungnya sebagian besar rata dan lurus dengan aspal yang mulus. Adapun beberapa bagian kurang mulus, tapi tidak terlalu terasa. Perjalanan ditempuh sekira empat jam sebelum akhirnya tiba di Pasir Pangarain, ibu kota kabupaten Rokan Hulu.

Kawasan kota praja Pasir Pangarain

Kawasan kota praja Pasir Pangarain

Keesokan harinya kegiatan dimulai. Dari Pasir Pangarain kami menuju Kecamatan Tambusai Utara yang berjarak sekitar 76 km. Setelah semua kegiatan selesai, saatnya untuk kembali. Bukan hanya kembali ke Pasir Pangarain tapi sekaligus kembali ke Pekanbaru karena keesokan paginya kami akan meninggalkan Riau.

Total perjalanan selama di Riau adalah sekitar 486 km. Untungnya karena semua dilewati bukan di hari yang sama, ada jeda istirahat semalam.

Kalau dijumlahkan dengan perjalanan darat minggu sebelumnya maka totalnya menjadi 1268 km. Itu belum termasuk perjalanan udara yang buat saya kadang sama capeknya dengan perjalanan darat.

*****

Apa yang coba saya sampaikan di cerita ini? Begini, beberapa teman kerap bilang begini ke saya, “Daeng ini enak. Kerjanya jalan-jalan terus.”

Yah Alhamdulillah, saya memang sangat mensyukuri pekerjaan ini. Saya bisa mendatangi banyak tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru dan menemukan pengalaman-pengalaman baru. Semua terasa menyenangkan.

Tapi, tahukah mereka kalau pekerjaan ini risikonya juga tinggi? Berjalan jauh, menumpang moda transportasi yang berbeda-beda dan kadang harus mendorong kemampuan fisik sampai titik paling maksimal. Contoh sederhana ya cerita di atas, 1268 km dalam rentang waktu kurang dari dua minggu. Sebuah perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Baca: Kerja Sambil Jalan-jalan Ada Juga Tidak Enaknya

Perjalanan darat maupun udara tentu risikonya lebih tinggi. Saya sudah pernah mengalami kejadian perahu terbalik yang untungnya tidak membahayakan jiwa saya. Bayangkan kalau saat itu sungainya dalam, arusnya deras dan ada buaya pula. Selesai sudah!

Baca juga: Tragedi Sungai Adiu

Bandingkan dengan teman-teman yang bekerja di belakang meja atau di dalam kubikal misalnya. Pekerjaan mereka jelas risikonya lebih rendah dibanding pekerjaan yang saya lakoni.

Hal yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa pekerjaan apapun selalu ada plus dan minusnya, ada “harga” yang harus dibayarkan. Semua kembali kepada kita yang menjalaninya, semakin kita mencintai pekerjaan itu maka tentu akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Jadi kuncinya adalah cintai pekerjaanmu, apapun itu asal halal pasti akan jadi pekerjaan yang menyenangkan.

Setuju? Salam SUKSES! [dG]

 

About The Author

Leave a Reply

8 Comments on "Cintai Pekerjaanmu"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
adetruna
Guest

Lengkap sudah artikel blog + video blog. Meminum kopinya pun penuh kepuasan … Ahay!

Afdhaliya
Guest

Yes, I do love my job!!

Btw, we visited Bangko, Daeng. Not Bungo.
Bungo more than 100 kms from Bangko.

Dhanang Sukmana Adi
Guest

ngebaca sambil minum teh dipagi hari, nyecrol nyecrol ada dosen galau, lah itu kayak blogger jogja :D.
btw apapun pekerjaan yang penting dinikmati disyukuri menghasilkan halal barokah ya mas :), cintai pekerjaan kayak gak kerja, apalagi hobby sesuai dengan pekerjaan 🙂

Miny Jie
Guest

wuah,, ternyata daeng ipul sering ke mamuju ternyata…
thanks for videonya om,,
kudu nyerap ilmu darimu nih sepertinya,, hehe

Yudi Randa
Guest

wkwkwkw kirain daeng nggak bakalan nulis ginian.. ternyata…. dikau juga curhat ya? :))

btw, minggu lalu yudi juuga melakukan trip yang tak kalah jauhnya. sekali jalan dari banda aceh ke aceh tenggara itu mencapai 16 jam perjalanan darat nonstop.. dan kawan2 malah bilang hal yang sama dengan daeng tulis di atas :))

yudi cuma mau bilang, makasih udah selalu menginspirasi selama setahun ini.. cium daeng :)))

btw “malam sudah turun hampir turun ” >> ini maksudnya gimana ya? 😀

wpDiscuz
%d bloggers like this: