Cinta Pertama? Yang Mana Ya?

First Love

First Love (sumber: chetankejiwal.wordpress.com)

Kata orang, cinta pertama tidak pernah mati. Betulkah?

Minggu lalu saya sengaja memilih tema yang agak nakal untuk 8 Minggu Ngeblog-nya Anging Mammiri, cinta pertama. Sebenarnya tema yang saya ajukan tidak sempit-sempit amat karena saya memberi ruang bagi mereka yang mau bercerita tentang cinta pertama pada hal-hal lain selain lawan jenis. Cinta pertama pada motor, musik, alam atau apapun itu. Tapi sepertinya ada beberapa yang memilih untuk menulis tentang cinta pertama pada lawan jenis.

Lucu juga membaca cerita mereka tentang cinta pertama yang sudah berlalu bertahun-tahun. Dari cerita mereka tergambar jelas getaran-getaran yang dulu mungkin membuat mereka mabuk kepayang dan selalu menantikan hari berganti agar bisa kembali bertemu dengan si dia. Atau tentang waktu yang serasa begitu cepat berlalu ketika bersamanya, atau tentang beragam salah tingkah dan kegugupan yang hadir saat dekat dengannya. Cinta pertama yang datang saat usia masih sangat muda memang selalu penuh cerita.

Saya jadi membayangkan sendiri, kapan ya cinta pertama saya hadir? Cinta pertama saya yang mana? Agak sulit menentukan karena yang namanya jatuh cinta datang terlalu pagi buat saya. Mungkin bukan jatuh cinta, hanya sebatas suka tapi setidaknya waktu itu saya memaknainya sebagai jatuh cinta.

Saya masih ingat, ketika itu saya masih berseragam putih merah di penghujung tahun 80an. Di sekolah saya termasuk siswa berprestasi yang selalu berada di peringkat pertama setiap caturwulan. Mungkin karena prestasi itu saya jadi cukup populer di kalangan siswa perempuan, salah satunya adalah dia. Dia yang saya maksud ini adalah seorang perempuan anak seorang guru di sekolah kami. Wajahnya manis, bulat dan berkulit kuning. Yang saya ingat jelas adalah rambut panjangnya yang dikepang satu hingga punggung.

Saya lupa sejak kapan kami sekelas, yang jelas bukan dari kelas satu. Jelasnya lagi, rasa suka itu makin menebal ketika kami sama-sama duduk di kelas 6. Jaman itu belum ada handphone, telepon rumahpun masih termasuk barang mewah. Interaksi antar anak perempuan dan anak lelaki masih sangat jauh dari gaya anak sekarang, apalagi kami masih sangat kecil. Saya lupa siapa yang mulai, tapi akhirnya kami bertukar surat!

Surat? Iya, surat! Selembar atau dua lembar surat berisi cerita sehari-hari yang dimasukkan ke dalam buku tulis untuk menutupi aksi berbalas surat itu. Saya lupa selupa-lupanya apa saja yang kami tulis dalam surat-surat berbalas itu, yang saya ingat hanya satu: saya sempat berkata di dalam surat kalau saya akan datang ke rumahnya suatu saat nanti kalau kami sudah sama-sama SMA. Hahahahaha..luar biasa bukan? Anehnya lagi, kami duduk dalam satu kelas yang sama tapi interaksi intim kami harus melalui surat.

Apakah kami pacaran? Entahlah. Mungkin buat ukuran anak SD waktu itu, kami sudah pacaran meski nyaris tidak ada interaksi secara langsung. Jangankan pegangan tangan, duduk berduaan dan berbagi cerita saja sama sekali tidak ada! Melihat atap rumahnya saja ?sudah sukses membuat jantung berdegup makin kencang dan lutut lemas. Sungguh menggelikan.

Tapi apakah dia cinta pertama saya? Entahlah, karena setahun kemudian ketika saya sudah berseragam putih biru saya bertemu dengan seorang anak perempuan yang kadang kala saya anggap sebagai cinta pertama.

Cinta Pertama Yang Kemudian Mati.

Saya bertemu si Dia di masjid dekat rumah. Awalnya kelompok kami dan kelompoknya malah terlibat selisih paham. Saya lupa apa penyebabnya, yang jelas itu tidak berlangsung lama karena akhirnya kedua kelompok bisa berbaikan. Saya ingat betul, awal perkenalan itu adalah bulan Ramadhan, bulan di mana anak-anak senang menghabiskan waktu di masjid kala sholat tarawih dan sholat subuh.

Awal perkenalan itu dengan cepat mendekatkan kami. Sebenarnya tidak bisa dibilang dekat karena toh interaksi kami juga seperlunya, ingat kalau jaman itu interaksi anak lelaki dan perempuan belum sebebas sekarang apalagi kami tinggal di pinggiran kota yang masih termasuk kampung karena tidak terlalu jauh dari hutan dan kebun.

Dari awal saya sudah suka sama Dia. Menurutku dia cerdas dengan wajah manis dan rambut keriting lucu. Tapi waktu itu saya adalah anak kecil yang tidak punya kepercayaan diri yang besar. Tidak pernah terlintas keberanian untuk benar-benar mendekatkan diri pada Dia. Berkali-kali memang saya datang ke rumahnya dengan beragam alasan. Pinjam kaset, bawa majalah, atau sekadar ngobrol. Setiap bertandang ke rumahnya pasti jantung bedegup sangat keras dan bahkan terkadang saya harus berputar-putar dulu mengumpulkan keberanian sebelum memutuskan mengetuk pintu rumahnya. Menggelikan.

Selain interaksi secara langsung, kami juga rajin bertukar surat. Iya, sekali lagi surat! Kali ini kami tidak perlu menggunakan buku untuk menyembunyikan surat. Kami bisa langsung bertukar setiap kali kami bertemu, sesekali kami menggunakan jasa teman-teman yang bisa kami percaya.? Surat-surat itu masih sempat saya simpan bertahun-tahun setelahnya sebelum kemudian saya singkirkan sebelum menikah, tentu demi kemaslahatan bersama.

Apa Dia cinta pertama saya? Entahlah, waktu itu saya memang menyimpan rasa pada Dia. Rasa yang tidak pernah berhasil saya ungkapkan, bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya. Kami sempat kehilangan kontak lama sekali dan kemudian bertemu ketika kami sudah sama-sama berkeluarga. Ketika itu saya sadar kalau ternyata waktu sudah banyak menggerus rasa yang dulu ada itu. Meski bertatap mata langsung, tapi rasa itu benar-benar sudah tidak bersisa lagi. Sekarang saya bisa melihat jauh ke dalam matanya sebagai seorang sahabat, bukan lagi tatapan penuh degup seperti dulu.

Kalau orang bilang cinta pertama tidak pernah mati, lalu yang mana cinta pertama saya? Sulit untuk menentukannya. Atau mungkin Paolo Maldini adalah cinta pertama saya? Meski tak pernah bertemu langsung atau sekadar bertukar surat dan email, dia masih tetap membuat saya berdebar setiap melihat aksinya di layar televisi atau di layar PC.

Entahlah, cinta pertama rasanya sudah tidak penting lagi. Sekarang sudah masanya memikirkan cinta terakhir dan cinta abadi. Bukan begitu? [dG]

About The Author

2 Comments

  1. Haerul
    17/05/2013
  2. otto
    24/10/2016

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: