Surat Terbuka Buat Calon Walikota Makassar

Walikota Makassar

Yang Terhormat Calon Walikota Makassar…

Sebentar lagi kota ini akan memilih walikotanya yang baru. Masa depan kota ini akan berada di tangan orang yang baru. Akankah masa depannya makin cerah atau malah makin suram?

Yang Terhormat Bapak dan Ibu calon walikota Makassar,

Perkenalkan, saya bukan siapa-siapa. Sayapun tak punya KTP Makassar, saya tinggal di sebuah daerah yang berbatasan langsung dengan kota yang akan Bapak dan Ibu pimpin bila memang warga Makassar memilih Anda. Meski tidak ber-KTP Makassar, setiap hari saya menghabiskan waktu di Makassar. Nafas saya nafas Makassar, saya makan di Makassar, saya menyusuri jalan-jalan di kota Makassar. Kota ini sudah jadi bagian dari hidup saya dan karenanya saya merasa saya harus peduli pada kota ini.

Yang Terhormat Bapak dan Ibu calon walikota Makassar,

Kota ini sudah semakin tua, semakin padat dan semakin menyesakkan. Kawan saya berkata kota ini seakan dibangun bukan untuk manusia. Bapak dan Ibu mungkin tidak pernah merasakan susahnya berjalan di sepanjang jalanan kota ini. Trotoar nyaris tidak ada, yang tersisapun kalau tidak rusak karena tidak terpelihara pasti dipenuhi pedagang atau bahkan mereka yang memarkir kendaraan seenak perut mereka.

Kota ini bukan kota yang nyaman buat pejalan kaki. Keselamatan mereka bisa jadi taruhan bila memaksakan diri berjalan kaki di tepi jalan. Mereka harus siap menerima terjangan kendaraan karena mereka terpaksa berjalan beberapa sentimeter dari tepi jalan raya yang makin lama makin kejam.

Kota ini juga mulai tidak aman buat pohon-pohon. Banyak pohon yang harus mengalah karena jalanan harus diperlebar demi mengurai kemacetan. Apakah macetnya memang terurai? Entahlah, sepertinya tidak. Satu hal yang pasti, jalanan semakin terasa menyiksa. Panas, macet dan tidak ada pohon yang menyejukkan. jadi jangan heran Pak dan Bu kalau pengguna jalan di kota ini semakin hari sumbu emosinya semakin pendek dan gampang tersulut.

Yang Terhormat Bapak dan Ibu calon walikota Makassar,

Pohon di kota ini memang selalu sial. Sebagiannya ditebang dan yang tersisa selalu dipenuhi foto Bapak dan Ibu serta foto mereka yang tersenyum narsis seolah artis. Pohon di kota ini selalu jadi sasaran untuk orang-orang yang merasa perlu memperkenalkan diri, menyapa kami dengan wajah yang dibuat seramah mungkin. Wajah mereka memang ramah, tapi paku mereka tidak.

Tahukah Anda kalau lama-lama kami jadi muak dan mual melihat wajah-wajah itu? Ah mungkin wajah Bapak dan Ibu juga ada di sana. Kasihan pohon-pohon di kota ini. Mereka memang tidak punya KTP Makassar, tapi mereka tumbuh di atas tanah Makassar dan memberikan kesejukan buat warga kota. Tapi apa balasan kita untuk mereka? Paku? Wajah memualkan? Kita kejam ya Pak, Bu.

Yang Terhormat Bapak dan Ibu calon walikota Makassar,

Kalau nanti Bapak dan Ibu benar-benar duduk di kursi Walikota mohon jangan seperti Walikota sebelumnya ya. Beliau ini selalu membiarkan kota tercinta ini penuh dengan poster, baliho dan spanduk liar bertebaran di sekujur kota.

Tahukah Bapak/Ibu kalau semua itu adalah sampah? Sampah visual yang merusak wajah kota. Kami heran sama Walikota yang sekarang, kenapa beliau tega melihat kotanya penuh dengan sampah visual dan tidak berani menurunkan itu semua? Kami mau bertindak, tapi kami juga takut. Kami takut nantinya harus berhadapan dengan mereka yang memasang sampah-sampah visual itu. Tak elok rasanya harus berbenturan dengan sesama warga yang sesungguhnya sama-sama korban.

Yang Terhormat Bapak dan Ibu calon walikota Makassar,

Tahukah Bapak/Ibu kalau sebenarnya kami sudah tidak butuh mall baru lagi? Cukuplah mall dan mini market itu merampas pasar tradisional yang sesungguhnya menyimpan banyak jejak sejarah kota ini. Tolonglah Pak/Bu, kalau Anda jadi walikota nanti jangan seperti walikota yang sekarang yang selalu lupa kalau pasar sudah lama setia hadir dalam setiap jejak langkah kota kita ini.

Kami juga tidak butuh Center Point Of Indonesia yang katanya akan jadi mega proyek itu. Kami lebih butuh transportasi massal yang nyaman. Mohon jangan seperti Walikota yang sekarang yang begitu tergila-gila pada reklamasi pantai yang merusak lingkungan dan biota laut serta menjauhkan warga dari pantai yang seharusnya alami dan bebas kami nikmati.

Kami juga lebih butuh saluran air yang lebih lancar agar jalanan di kota ini tidak gampang tergenang setiap hujan turun. Kami juga lebih butuh taman hijau yang bisa kami manfaatkan untuk berkumpul, berbagi ide dan cerita dengan bebas dan gratis. Tidak seperti mall yang terus membuat kami dan anak-anak kami jadi semakin konsumtif.

Yang Terhormat Bapak dan Ibu calon walikota Makassar,

Bapak dan Ibu pasti sering mendengar kalau adik-adik mahasiswa kita sering demo dan ujung-ujungnya berakhir rusuh, iya kan? Saya mohon Bapak dan Ibu tidak menimpakan semua kesalahan pada mereka karena sesungguhnya mereka juga adalah korban dari kota yang semakin lama semakin membuat mereka pusing dan stress.

Bapak dan Ibu calon walikota, jika nanti Tuhan berkenan memberi Anda amanah memimpin kota ini tolonglah adik-adik mahasiswa itu dirangkul. Beri mereka ruang yang luas untuk berkreasi, dukung mereka untuk menelurkan ide-ide kreatif mereka. Siapa tahu nanti tawuran di jalan itu bisa berubah jadi tawuran ide kreatif dan demonstrasi yang berakhir rusuh itu jadi demonstrasi keahlian dan kreatifitas a la anak muda.

Bapak dan Ibu tentu lebih pintar dari saya dan karenanya tentu lebih tahu apa yang harus dilakukan. Mereka itu hanya anak-anak muda dengan energi berlebih yang tak tahu harus disalurkan ke mana. Beri mereka saluran yang tepat dan saya yakin mereka juga akan ogah untuk turun ke jalan dan berbenturan dengan petugas. Saya yakin mereka akan bisa menemukan cara yang lebih kreatif untuk berdemonstrasi dan menyuarakan pendapat mereka.

Yang Terhormat Bapak dan Ibu calon walikota Makassar,

Siapapun Anda, kalau Tuhan menginginkan maka masa depan kota ini akan ada di tangan Anda. Kami, warga kota dan orang yang hidup di atas kota ini hanya bisa berharap Bapak dan Ibu memang mencintai kota ini, bukan hanya orang yang memanfaatkan kuasa untuk kantong pribadi dan golongan.

Kota ini adalah kota yang kami cintai, karenanya kami peduli dan berharap kota ini tidak pernah kehilangan keramahan dan rasa manusiawinya. Mudah-mudahan kota ini memang dibangun untuk manusia, tidak seperti pertanyaan yang diajukan kawan kami.

Selamat siang, salam sejahtera untuk Bapak dan Ibu yang akan menentukan arah masa depan kota ini.

Wassalam,

Daeng Gassing (warga biasa)

About The Author

One Response

  1. sriyono suke
    13/06/2013

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: