Resah Karena Kota

Satu sudut kota Makassar

Satu sudut kota Makassar

Hampir tidak ada satupun kota di Indonesia yang jadi lebih baik karena perencanaan selepas penjajahan Belanda. Kalaupun ada, itu karena kebetulan.

Suatu hari di tahun kemarin. Hari masih pagi, matahari belum menyengat. Di sebuah ruangan meeting di sekitar Menteng saya dan beberapa orang lainnya mendengarkan pemaparan mendetail tentang dinamika perkotaan. Pelakunya adalah seorang dosen dari Universitas Tarumanegara, bapak Suryono Herlambang.

Kalau biasanya pagi hari dibuka dengan ceramah menyenangkan yang membangkitkan semangat dan motivasi, maka pagi yang terjadi adalah sebaliknya. Pak Herlambang memaparkan banyak fakta bagaimana kota di negeri ini sedang mengalami demam penyeragaman. Identitas lokal dibekap satu persatu, digantikan identitas global sehingga perlahan kita mulai mengalami disorientasi ruang.

Ada Manhattan di Jakarta, ada Beverly Hills, dan ada apa lagi? Kita mulai merasa tinggal di belahan dunia lain. Bukan di Jakarta dan bukan di Indonesia lagi. Kota di Indonesia tercengkeram oleh sesuatu bernama kapitalisasi global. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar.

Selepas acara yang berlangsung selama 2 jam itu, mendung gelap serasa menggelayuti pikiran. Resah membayangkan wajah kota ini ke depannya.

Saya merasakan keresahan yang sama ketika Yulianti Tanyadji dan Agung Prabowo selesai membagikan pengalaman dan pengetahuannya di acara Tudang Sipulung yang digelar komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri (8/2) kemarin. Yuli dan Agung padahal hanya berbagi fakta, saya yakin mereka tidak membesar-besarkan atau melebih-lebihkan. Hanya fakta tentang kota yang terus bergulir kadang bahkan terasa sangat cepat.

Makassar dibangun dengan membabi-buta. Tolak ukurnya hanya ekonomi, semua menghamba kepada ekonomi atau lebih tepatnya kepada uang. Persetan dengan kenyamanan warga, bahkan rencana tata ruang dan rencana wilayah tak pernah dipublikasikan. Warga tak perlu tahu rencana kota ini akan dibawa ke mana. Bahkan wargapun tak perlu tahu kalau RTRW itu memang ada atau cuma mitos.

Kota ini selalu takluk pada tata uang, bukan tata ruang. Warga dibiarkan terlena oleh banguna tinggi yang mentereng, yang kemudian dianggap sebagai lambang kemajuan. Warga hanya berteriak kesal ketika jalanan menjadi semakin tidak ramah, ketika genangan air makin rajin bertamu di musim penghujan. Kesal, tanpa tahu apa penyebabnya.

“Cara terbaik untuk mengetahui apakah daerah resapan sudah mulai hilang adalah dengan melihat air sumur kita. Ketika air makin sulit, maka itu adalah tanda paling nyata kalau daerah resapan sudah mulai hilang”, kata Yulianti Tanyadji. Wanita yang latar belakangnya memang arsitek dan urban planner ini membeberkan beberapa fakta tentang kota yang perkembangannya makin meresahkan.

Suasana Tudang Sipulung

Suasana Tudang Sipulung

Pasar Yang Makin Terpinggirkan

Semua kota punya pasar. Bahkan pasar adalah bagian dari sejarah panjang sebuah kota. Di pasar ada interaksi antar warga, ada pergerakan ekonomi dan ada budaya yang terpelihara. Pasar selalu menyimpan jejak panjang sejarah sebuah kota. Pasar tradisional tentunya.

Tapi pasar tradisional jaman sekarang makin terjepit, terpinggirkan. Imagi kita tentang pasar tradisional adalah sebuah tempat yang kumuh, kotor, becek dan penuh dengan pelaku kriminal. Karena itu pasar jelas bukan tempat yang nyaman hingga perlu digantikan oleh pasar lain yang lebih nyaman, lebih licin dan tentu saja lebih dingin dengan pendingin ruangan.

Padahal pasar tradisional selalu menyumbang pendapatan besar untuk sebuah kota. Ratusan juta setiap bulan untuk satu pasar, kalikan dengan jumlah pasar yang ada. Tapi hasilnya apa? Pasar dibiarkan terlantar tanpa ada niat untuk merapikannya.

Ketika dirapikan, cara yang digunakan bukan cara yang sesuai dengan mereka yang berjualan atau mereka yang berniat mengunjunginya. Pasar Terong di Makassar adalah contohnya. Studi banding ke Hawaii menghasilkan rencana pasar yang dibangun ke atas, jauh dari kebiasaan pedagang dan pembeli yang tidak terbiasa bergaul dengan eskalator apalagi lift.

Agung Prabowo yang aktif mendampingi para pedagang di pasar Terong membawa keresahan yang sama dengan keresahan yang dibawa oleh Yulianti Tanyadji. Keresahan tentang pasar yang perlahan akan hilang karena kerasnya cengkeraman gurita pemodal. Padahal pasar tradisional selama ini selalu setia berada dalam jejak sejarah panjang sebuah kota.

Kota yang takluk pada uang

Ada satu benang merah yang sama dalam semua keresahan tentang kota. Kuasa modal, atau tepatnya kuasa uang. Tak ada rencana dan aturan kota yang tak bisa diubah oleh uang. Aturan sedetil apapun itu akan tinggal menjadi aturan di atas kertas ketika uang sudah berbicara. Pemodal membuat rencana dan mengajukannya ke pemerintah, tata kota akan mengikut dan bukan mengaturnya.

Kuasa uang memang luar biasa, apalagi ketika para pemegang kuasa hanya tahu satu pilihan tentang kota yang menurutnya maju: bangunan megah dan proyek raksasa. Maka ketika itu terjadi, sunga Tallo hanya menunggu waktu ketika modernitas menjamahnya. Lakkang? Sebuah daerah terpencil yang tenang di aliran sungai Tallo itu hanya menunggu nasib. Suatu hari nanti warga Makassar hanya akan mengenalnya dari cerita dengan bumbu ?konon?.

Hampir tidak ada satupun kota di Indonesia yang jadi lebih baik karena perencanaan selepas penjajahan Belanda. Kalaupun ada, itu karena kebetulan.

Kalimat di atas diucapkan Marco Kusumawijaya, seorang arsitek yang banyak bergelut dengan tata kota. Saya rasa dia benar, kota di Indonesia sebagian besar memang direncanakan dengan mata dan nurani tertutup. Karena semua dilihat dengan kacamata uang.

Tak heran kalau malam itu sepanjang acara Tudang Sipulung banyak yang resah. Resah karena kota.

 

[dG]

About The Author

One Response

  1. Ceritaeka
    14/02/2013

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: