Urbanistbox; Kotak Kreatif Anak Muda Makassar

Bagian depan Urbanistbox

Satu lagi pilihan tempat nongkrong anak muda hadir di Makassar. Urbanistbox namanya. Tempat nongkrong dengan konsep yang berbeda tentunya.

DEH, BANYAK NA kafe di Makassar di?” Tanya Tutut, seorang blogger dari Lombok yang saya temui di sore itu.

Tutut berasal dari Lombok tapi pernah tinggal lama di Makassar dan masih sering bolak-balik Makassar. Meski begitu, tetap saja dia merasa takjub melihat begitu banyaknya kafe yang bertebaran di kota Makassar.

Sore itu saya dan beberapa teman bloger Makassar lainnya bertemu dengan Tutut dan Mus serta Rani –suami dan anaknya- di sebuah food court di kawasan Jln. Pelita Raya, Makassar. Sehari sebelumnya saya juga datang ke food court itu, menghadiri undangan soft openingnya.

Soal makan, ada 5 pengalaman makan yang berkesan bagi saya. Baca saja di sini

Food court itu bernama UBOX yang berada dalam kawasan yang bernama Urbanistbox. Informasi tentang Urbanistbox sudah sering saya dengar, berseliweran di media sosial utamanya Facebook. Saya hanya tahu sekilas, sekadar tahu kalau konsepnya adalah menggunakan peti kemas bekas yang dijejer sedemikian rupa.

Ah, peti kemas bekas.

Saya tiba-tiba ingat seorang teman yang bertahun-tahun lalu juga punya mimpi membuat kafe dari peti kemas bekas. Tahun berlalu dan mimpi itu tetap menjadi mimpi, sampai akhirnya saya melihat mimpi itu menjadi kenyataan di tempat lain, di Urbanistbox tepatnya.

Beberapa peti kemas dijejer berdampingan dan membentuk huruf U dengan bagian lowong dan terbuka di tengah. Satu sisi yang menghadap ke jalan juga ditutup dengan peti kemas, tapi sisi itu tidak difungsikan sebagai etalase dan dapur seperti peti kemas lain yang ada di sisi kanan dan kirinya. Sisi yang berada di sebelah timur itu sepertinya dipersiapkan sebagai panggung.

Pintu masuk sisi selatan Urbanistbox

 

Peti kemas itu disusun sedemikian rupa hingga tidak nampak membosankan

Peti kemas yang berjejer di dua sisi itu ditumpuk lagi dengan peti kemas lain di bagian atasnya sehingga membentuk serupa bangunan dua lantai. Totalnya ada tujuh peti kemas. Tingginya tidak sama sehingga ada undak-undakan yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya. Warna-warni cerah seperti biru, oranye dan hijau dipilih untuk menutupi dinding peti kemas itu. Peti kemas-peti kemas itupun sudah dimodifikasi sedemikan rupa, bagian depannya dibuka dan ada pula yang dipasangi kusen. Dari peti kemas yang sekadar kotak dan membosankan, diubah menjadi ruangan-ruangan yang menjadi dapur, etalase dan bahkan kantor.

Perwakilan tenant di acara soft launching

Peti kemas itu diisi oleh 10 tenant dari UKM di kota Makassar dan sekitarnya. Ada tenant roti seperti Roti Mo, ada tenant minuman seperti UBOX Drinks, LeN Cofftea, Good Kedai dan Publice serta tenant makanan dari yang ringan sampai makanan berat yang diisi oleh Warunk Box, Dapur Mama Puji, Fine Fries, Durian Cantika dan Kebab Lovers. Kesepuluh tenant itulah yang siap menjadi pilihan untuk para pengunjung Urbanistbox.

Satu peti kemas yang berada di selatan diisi oleh ADEI atau Asosiasi Digital Enterpreneur Indonesia.

*****

Panorama Urbanistbox dari sisi sebelah barat

URBANISTBOX HADIR UNTUK MEMENUHI kebutuhan anak muda kreatif Makassar,” kata Fajar Assaad, pengelola Urbanistbox di acara soft opening tersebut.

Menurut pria yang akrab disapa Fajar itu, Urbanistbox adalah nama untuk kawasan tersebut yang di dalamnya akan memuat tiga bagian. Bagian yang sedang dioperasikan sekarang bernama UBOX, sebuah food court dengan konsep yang berbeda. Bagian lainnya adalah restoran yang diberinama La Marowa. Bagian restoran ini masih dalam tahap pengerjaan. Satu lagi adalah co-working space yang diberinama Kemae. Co-working space ini berada di lantai dua di sebelah barat atau bagian belakang UBOX yang ada sekarang.

Fajar menunjukkan kepada saya konstruksi baja di bagian belakang UBOX yang masih sementara dalam pengerjaan.

“Ini rencana co-working space-nya. Masuknya dari sini,” kata dia sambil menunjuk satu bagian di lantai dua. Menurut Fajar, co-working space yang nantinya akan dilengkapi dengan lobby, ruang kerja dan ruang rapat itu bisa disewa harian, mingguan hingga bulanan.

“Nah, di lantai tiga nanti kita siapkan khusus untuk komunitas di Makassar kalau mau membuat kegiatan. Soalnya bagian food court tidak bisa di-block,” katanya melanjutkan.

“Jadi, nanti anak-anak muda kan bisa mi sambil nongkrong, di sini mi juga kerja,” pungkas Fajar.

Rencana co-working space di sisi barat

Kelak jika ketiga unit bisnis itu telah jadi, Urbanistbox benar-benar bisa menjadi sebuah one stop solution untuk anak-anak muda kreatifnya kota Makassar. Bisa nongkrong sambil bersantai, pun bisa sekalian bekerja. Ini seperti sesuai dengan tagline yang digunakan Urbanistbox; eat, work and play.

*****

DI SAAT SOFT OPENING saya mencoba memesan Snack Platter yang isinya adalah beragam gorengan berisi kentang, nugget dan sosis. Rasanya enak, sampai-sampai Gaza – putra dari Dweedy- tidak mau berhenti mengunyah. Untuk minuman, saya memesan Cappuccino yang sayangnya rasanya tidak seperti yang saya bayangkan. Mungkin memang untuk urusan kopi, UBOX Drinks masih harus sedikit berbebah. Meski begitu, Awie –rekan blogger yang lain – mengaku kalau kopi hitamnya lumayan enak.

Sehari kemudian ketika kopdar bersama Tutut, Mus dan Rani saya coba memesan minuman yang lain. Kali ini saya coba memesan Mango Sunshine dari Good Kedai. Nah, kali ini saya puas! Minuman yang kemasannya unik karena dikemas dalam plastik ini rasanya maknyuss, pas untuk suasana sore yang gerah. Sebagai kawannya saya memesan kentang goreng yang juga renyah dan tidak mengecewakan.

Suasana terbuka di lantai dua di sisi barat buat saya terasa lebih nyaman. Angin sepoi-sepoi sore menjelang matahari terbenam membuai kami, membuat obrolan berjalan lancar tanpa harus meninggikan suara karena berebutan dengan suara musik. Ini juga alasan kenapa saya lebih suka nongkrong di tempat yang terbuka atau minimal semi terbuka. Suasana tidak terasa sumpek dan bagi perokok seperti saya, saya bisa mengisap rokok tanpa rasa bersalah karena asapnya langsung hilang di udara terbuka.

Ketika malam tiba, suasana semakin terasa romantis. Lampu-lampu kecil yang dibentangkan di atas kepala mulai menyala satu per satu. Warna jingga jejak matahari yang pulang di belakang gedung-gedung menambah kesan romantis itu. Sayup-sayup suara musik mengalun dari bawah, udara dingin pun pelan-pelan berembus dan menyejukkan.

urbanistbox

Menjelang malam di Urbanistbox

Benar-benar suasana yang menyenangkan buat saya.

Saya mengamini apa yang dibilang Tutut. Makassar memang terus menggeliat, utamanya dari sisi ekonomi. Hampir setiap bulan ada saja kafe baru yang buka, pilihan nongkrong buat anak-anak muda terus saja bertambah. Urbanistbox dengan UBOX-nya hadir dengan suasana yang berbeda, menawarkan rasa yang tak sama. Ketika nantinya restoran La Marowa dan co-working space Kemae beroperasi maka pilihan itu akan semakin lengkap.

Kalau kotak selalu diibaratkan sebagai kungkungan dalam berkreasi, Urbanistbox dengan UBOX-nya memberi kesan yang berbeda. Kotak-kotak peti kemas yang membosankan itu ternyata bisa diubah menjadi sangat menarik, disusun dengan perencanaan yang matang dan malah hadir untuk menggoda sisi kreatif pengunjungnya.

Urbanistbox membuktikan kalau ternyata kotak pun bisa membuat orang kreatif. [dG]

urbanistbox

Infografis Mengenal Urbanistbox

 

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

11 Comments

  1. Iyan
    15/07/2017
    • Daeng Ipul
      17/07/2017
  2. andyhardiyanti
    15/07/2017
    • Daeng Ipul
      17/07/2017
  3. Eryvia Maronie
    15/07/2017
    • Daeng Ipul
      17/07/2017
    • Daeng Ipul
      17/07/2017
  4. Mugniar
    17/07/2017
  5. Alfu laila
    26/07/2017
    • Daeng Ipul
      27/07/2017

Add Comment