Jalan Raya, Etalase Ego Manusia

Macet Kota Makassar

Macet Kota Makassar

Jalan raya adalah etalase tempat manusia menunjukkan ego mereka.

Di suatu hari yang terik saya sedang melintas di atas aspal sepanjang Jl. AP Pettarani. Teriknya matahari serasa membakar kulit meski sudah terbungkus jaket. Seperti biasa, di jam padat Jl. AP Pettarani juga padatnya tidak karuan, benar-benar menguji kesabaran. Di depan saya sebuah mobil SUV berwarna putih juga terpaksa mengikuti irama padat yang membuatnya nyaris seperti parkir di tengah jalan. Saya berhenti tepat di belakangnya, menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.

Tiba-tiba dari kaca sebelah kiri mobil itu yang baru saja diturunkan, keluar tangan dengan kulit yang halus. Dari ujung tangan itu terlepas beberapa potong tissue, sebuah gelas styrofoam dengan logo salah satu makanan cepat saji terkenal dan sepertinya beberapa plastik bening. Benda-benda itu lepas begitu saja dan jatuh ke atas aspal yang panas. Tiba-tiba ada sesuatu yang terasa menusuk ke dalam dada saya. Entah apa.

Di hari yang lain saya menyusuri Jl. Pengayoman ke arah Timur. Di perempatan Jl. Pengayoman dan Jl. Toddopuli Timur saya berhenti. Lampu lalu lintas berwarna merah. Jalanan lengang, mungkin karena malam sudah mulai merambat naik. Di sebelah saya ada pete-pete (angkot) berwarna biru , supirnya menghentikan mobil beberapa jenak, benar-benar hanya beberapa jenak karena setelahnya dia kemudian menginjak gas, tak peduli pada lampu lalu lintas yang masih berwarna merah. Di belakangnya beberapa motor juga ikut menerobos, tak peduli lampu lalu lintas masih berwarna merah.

TIIIT!! TIITTT!! Suara klakson terdengar dari arah belakang. Saya menoleh, sebuah mobil stasion wagon berwarna perak membunyikan klaksonnya, saya tidak melihat seperti apa rupa supirnya karena kaca yang gelap. Saya tahu, dia memberi isyarat supaya saya ikut-ikutan menerobos lampu merah karena dia juga punya maksud yang sama, menerobos lampu merah. Mungkin dia berpikir, mumpung jalanan sepi dan tidak ada polisi di sekitar situ. Saya bergeming, tidak bergerak sama sekali. Sang supir juga tidak membunyikan klakson, beruntung karena beberapa detik kemudian lampu lalu lintas berubah warna jadi hijau. Saya dan mobil di belakang saya bisa melintas tanpa harus melanggar aturan.

Di hari yang lain saya berada di perempatan Jl. Toddopuli Raya Timur dan Jl. Toddopuli VIII. Lampu lalu lintas berwarna merah, saya diam berhenti sambil meresapi panasnya Makassar ketika matahari sedang giat-giatnya bekerja. Ketika lampu berwarna hijau segera saya menancap gas, berbelok ke kanan. Tiba-tiba dari arah depan seorang ibu dengan gamis panjang dan kerudung tertutup helm memotong jalan dengan motor bebek matiknya. Saya menginjak rem, nyaris saja motor kami bertabrakan. Si ibu tanpa rasa bersalah terus saja melintas dan berbelok ke kanan meski sebenarnya lampu lalu lintas baru saja menyala merah. Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan perjalanan.

*****

Drama-drama seperti di atas mungkin sudah jadi drama yang terlalu sering kita lihat atau bahkan kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku sebagian besar dari orang Indonesa di jalan raya masih sering absurd dan memancing emosi. Mulai dari membuang sampah dari kendaraannya, menerobos lampu merah, meludah sembarangan sambil menyetir kendaraan, sampai naik ke trotoar ketika jalanan macet. Pemandangan seperti itu sangat mudah ditemui di kota-kota besar di Indonesia.

Saya sudah beberapa kali datang dan menikmati jalan raya di beberapa kota besar di Indonesia dan harus saya akui, perilaku pengendara di kota Makassar memang sedikit ekstrem. Di sini banyak pengendara yang seperti tidak sabar, tak hendak membuang waktu sedikitpun karena bagi mereka waktu adalah uang, satu detik yang terbuang adalah selembar rupiah yang tersia-siakan. Mungkin memang begitu insting pedagang dari suku yang terkenal sebagai pedagang tangguh, atau mungkin rupa laku penduduk kota metropolis memang seperti itu.

Mendiang Ahyar Anwar- seorang akademisi di Univesitas Negeri Makassar- pernah menuliskan sebuah esai menarik tentang jalan raya yang dimuat di rubrik Literasi Harian Tempo Makassar 17 Juni 2013. Dalam esainya, Ahyar Anwar menyoroti banyak perilaku mausia di jalan raya dengan merujuk pada tulisan Ronald Primeau di buku berjudul Romance the Road: The Literature of American Highway.

Perilaku menerobos lampu lalu lintas, melanggar larangan berhenti atau melanggar aturan lalu lintas lainnya disebut Ahyar sebagai sebuah bentuk protes sosial masyarakat. Protes itu muncul akibat kejengahan masyarakat atas ketidakadilan atau perlakuan yang tidak setara dari pemerintah. Masyarakat yang merasa tidak mendapatkan perhatian yang sesuai dari pemerintah atau yang merasa terpinggirkan berusaha merebut kekuasaan di jalan raya, menunjukkan kekuatan dengan melanggar aturan lalu lintas atau aturan lain yang sebenarnya dibuat untuk membuat pengguna jalan raya lebih nyaman.

Masih menurut Ahyar Anwar, jalan raya juga kadang jadi alat bagi sebagian orang untuk memaksakan kehendaknya bagi orang yang lain. Seberapa sering kita mengeluh harus terjebak di jalan raya hanya karena sekelompok orang dengan jaket seragam menutup jalan raya yang begitu vital dan kemudian berteriak-teriak mengecam pemerintah karena dianggap menindas rakyat dengan kebijakannya? Tanpa sadar mereka yang merasa memiliki kuasa dengan bekal jaket seragam itu telah merampok hak kita sebagai pengguna jalan.

Keinginan melakukan protes di jalan raya, atau keinginan menjadi penguasa di jalan raya adalah punya siapa saja. Tidak ada hubungannya dengan tingkat ekonomi, tingkat pendidikan atau ketaatan beragama yang ditandai dengan simbol-simbol tertentu. Penumpang mobil SUV yang saya cerita di paragraf awal jelas bukan orang yang sulit secara ekonomi, setidaknya mungkin lebih berpunya (atau malah berpendidikan lebih tinggi) dari supir pete-pete yang saya cerita di kisah berikutnya, tapi toh dia tetap saja membuang sampah sembarangan di jalan dan kemudian jadi sama saja dengan supir pete-pete yang menerobos lampu merah.

Mungkin yang membedakan hanya karena yang satu berusaha menunjukkan kuasanya dan yang lainnya berusaha melakukan protes sambil berusaha merebut kuasa.

Besok kalau Anda turun ke jalan cobalah mengamati ragam episode yang terjadi di atas jalan raya. Lihatlah betapa banyak orang-orang yang berusaha menunjukkan kuasanya atau mereka yang tak punya kuasa tapi berusaha menunjukkan protes dan eksistensi mereka. Jalan raya memang sudah jadi etalase besar buat ego manusia. Mungkin kita salah satu peserta. [dG]

About The Author

4 Comments

  1. Khie
    22/08/2014
  2. triadicl
    22/08/2014
  3. Made
    22/08/2014
  4. ahsin
    22/11/2014

Add Comment

Isi dulu ya, buktikan kalau Anda manusia *

%d bloggers like this: