Ibu Risma dan Walikota Kami

Ibu Risma (sumber: Liputan 6)

Ibu Risma (sumber: Liputan 6)

Dalam dunia yang normal, seorang pemimpin yang sukses sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh dan harus dipuja-puji karena toh itu adalah tugas mereka untuk melayani rakyat. Tapi negeri ini mungkin memang sedang tidak normal ketika kita begitu terkagum-kagum pada sosok pemimpin yang benar.

Nama ibu Risma atau lengkapnya Tri Rismaharini mendadak populer beberapa bulan belakangan ini. Sebelumnya orang hanya tahu kalau ibu kelahiran 20 Oktober 1961 ini adalah walikota wanita pertama yang dimiliki Surabaya. Orang juga mulai paham kalau ibu yang satu ini adalah walikota yang tegas dan lurus, tegas memegang prinsip melayani rakyat dan lurus dalam mempertahankan prinsipnya. Kata orang, Surabaya banyak berubah sejak dipegang ibu Risma. Tapi entah kenapa beberapa bulan belakangan ini pemberitaan tentang beliau makin gencar, termasuk cerita-cerita politik di sekitarnya yang sempat membuat beliau berpikir untuk mundur.

Saya tidak tahu seberapa besar perubahan pada kota Surabaya ini, toh saya cuma sesekali mendatanginya dan tentu pengamatan sekilas tak cukup buat memberi komentar atas kinerja keseluruhan ibu walikota. Tapi baiklah, saya coba sedikit memberi suara dari pengamatan sekilas itu. Surabaya yang terakhir saya datangi Desember 2012 (di luar transit yang hanya beberapa jam itu) memang terasa sedikit berbeda dibanding Surabaya yang saya ingat di periode 90an.

Dulu saya mengenal Surabaya sebagai kota yang keras, kota yang penuh dengan preman dan menakutkan di malam hari. Itu dulu ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini sekisar tahun 1993. Surabaya yang samar-samar saya ingat adalah Surabaya yang lusuh dan tidak teratur. Tak banyak yang saya kenang dari Surabaya di tahun 1990an itu hingga saya terus memelihara asumsi kalau kota itu biasa saja bahkan cenderung lebih bagus untuk dihindari.

Berbilang belasan tahun kemudian saya kembali ke Surabaya dan susah payah menghapus kenangan lama tentang kota yang dulu lusuh dan akrab dengan kekerasan itu. Saya berhasil, karena Surabaya yang saya temukan di pertengahan tahun 2012 adalah Surabaya yang berbeda dengan Surabaya yang dulu saya kenal. Surabaya sekarang adalah kota yang tenang, teduh dan lebih ramah dari yang saya ingat. Surabaya yang sekarang adalah Surabaya yang punya banyak taman yang nyaman, Surabaya yang tak sesak oleh baliho dan poster caleg dan Surabaya yang sungainya bersih.

Mungkin penilaian saya sangat subjektif dan sudah tercemari oleh imaji yang dibangun oleh media yang banyak menulis tentang hebatnya ibu Risma. Saya hanya berharap apa yang ditulis oleh media itu benar, bahwa Surabaya benar punya pemimpin amanah yang selalu resah membayangkan masih ada warganya yang belum terlayani dengan baik, tak tenang karena masih ada orang di Surabaya yang hidup di luar lingkaran kata sejahtera. Sungguh mulia jika benar-benar beliau seperti itu. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya.

Mulai Membandingkan.

Saya hanya warga kota biasa, hanya manusia biasa tepatnya. Ketika berita tentang ibu Risma ini merebak semerbak ke sana ke mari, satu pikiran dengan cepat menyelinap ke kepala saya. Tentu pikiran untuk membandingkan sang ibu walikota milik Surabaya itu dengan walikota yang dimiliki kota tempat saya beraktifitas.

Sesungguhnya itu bukan sesuatu yang bijak, saya tahu itu. Surabaya dan Makassar punya masalahnya sendiri-sendiri, punya tantangan yang berbeda-beda sehingga tentu tak bijak membandingkan kedua pemimpin secara pear to pear. Tapi tolonglah, untuk sementara biarkan saya untuk tidak bijak dan mengikuti naluri saya untuk berandai-andai dan berakhir pada perbandingan antara keduanya.

Makassar entah sejak kapan mulai mengusung mimpi menjadi kota dunia. Jargonnya jelas, Makassar menuju kota dunia. Iya, jargonnya jelas tapi pelaksanaannya yang kabur seperti belahan dada wanita bule di televisi nasional kita. Kota dunia sepanjang pengetahuan saya yang hanya sejengkal ini adalah kota yang ramah pada warganya. Kota yang punya infrastruktur yang memanjakan publik. Ada transportasi massal, ada taman kota dan ada public space yang gampang diakses warga.

Apakah Makassar sudah punya itu? Bus kota saja tidak ada, busway baru saja dirintis dan kabarnya akan segera dioperasikan. Baguslah, kota ini memang sudah terlalu lama hidup tanpa transportasi massal yang ramah dan nyaman. Kota ini juga tidak punya trotoar, atau punya tapi tak layak untuk dijejaki senti demi sentinya. Taman kota? Memang ada, tapi jumlahnya cukup dihitung dengan jari tangan sebelah. Itupun kondisinya kadang antara ada dan tiada. Kata teman saya, kota ini dibangun bukan untuk manusia, tapi untuk mesin-mesin yang tiap hari berkeliaran di atas tanahnya.

Di musim hujan kota ini memang seperti kota dunia Venesia. Air dengan cepat memenuhi jalan dan mengubah kendaraan di atasnya serupa gondola. Kadang di waktu-waktu ramai kota ini juga seperti kota dunia lainnya, Mumbai. Jalanan akan sangat padat dan macet, persis seperti Mumbai yang saya lihat di televisi. Sebelum lupa, kota ini juga mulai menjadi kota dunia yang punya banyak galeri seni. Hanya saja di sini agak berbeda, karya seni berbentuk baliho dan poster caleg itu dipasang di sekujur kota dan dipaku di pohon-pohon yang sisa sedikit itu.

Sepotong Surabaya

Sepotong Surabaya

Surabaya katanya punya mimpi menjadi salah satu kota terbaik di dunia. Mungkin mimpinya terlalu tinggi, tapi setidaknya mereka sudah mulai merintis mimpi itu. Surabaya punya banyak taman terbuka yang hijau dan bebas digunakan oleh warga. Sang walikota bahkan berani berhadap-hadapan dengan pemilik SPBU hanya supaya rakyatnya punya banyak taman. Sementara kami di sini harus melihat tanah-tanah kosong menjadi apartemen, mall, ruko dan SPBU. Mungkin karena dua visi kota ini berbeda, satu menuju kota dunia satunya lagi menjadi kota terbaik di dunia.

Saya yakin ibu Risma juga tidak sempurna, dia manusia biasa yang setiap kebijakannya pasti mengundang pro dan kontra. Saya juga yakin walikota Makassar yang segera akan turun jabatan itu tidak sepenuhnya jelek. Kebijakannya juga pasti ada baiknya, toh buktinya Makassar jadi kota dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia tahun 2012. Dan iya, saya tahu kalau membandingkan keduanya adalah sesuatu yang tak bijak.

Salahkan media yang terlalu mengekspos keberhasilan seorang ibu Risma sehingga warga kota lainnya di Indonesia tiba-tiba membandingkan sosoknya dengan sosok walikota atau pemimpin mereka masing-masing. Dalam dunia yang normal, seorang pemimpin yang sukses sesungguhnya bukan sesuatu yang aneh dan harus dipuja-puji karena toh itu adalah tugas mereka untuk melayani rakyat. Tapi negeri ini mungkin memang sedang tidak normal ketika kita begitu terkagum-kagum pada sosok pemimpin yang benar. [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

5 Comments

  1. acox
    13/02/2014
    • iPul Gassing
      13/02/2014
  2. didut
    14/02/2014
    • iPul Gassing
      15/02/2014
  3. STR
    17/03/2014

Add Comment