Darah Muda Di Jalan Raya

Balapan Liar

Balapan liar (foto: lensaindonesia.com)

Darah muda darahnya para remaja. Yang selalu merasa gagah. Tak pernah mau mengalah. Masa muda masa yang berapi-api. Yang maunya menang sendiri. Walau salah tak perduli. Darah muda, H. Rhoma Irama.

Berita apa yang sedang heboh di Makassar akhir-akhir ini? Salah satunya berita tentang geng motor selain tentu saja aksi demonstrasi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM. Kalau aksi demo, orang Makassar sudah paham, celutukan bernada kesal atau bahkan umpatan lama-lama jadi pengiring aksi demonstrasi itu di linimassa. Makin lama warga juga mulai maklum dan mulai menyesuaikan diri untuk menghindari jalur favorit para pendemo kalau tidak mau terjebak macet.

Tapi berita tentang geng motor beda. Berita ini membawa banyak pertanyaan dan tentu saja rasa kuatir dari warga kota yang sekarang hampir tiap hari disuguhi berita sejenis. Kalau sekadar aksi balapan liar, warga sudah paham kalau di jalan Veteran dan Sudiang dekat Bandara Sultan Hasanuddin akan selalu diramaikan para pebalap liar setiap malam minggu. Pertanyaan yang muncul paling: di mana polisi-polisi itu? Kenapa mereka membiarkan saja aksi balap liar itu? Masak mereka tidak tahu? Kenapa mereka diam saja? Dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi lama kelamaan aksi geng motor ini makin mengkhawatirkan. Mereka bukan lagi bersaing satu sama lain di jalan raya tapi mulai mengganggu warga, dari mulai perampasan benda-benda berharga, perampasan motor, penyerangan tempat-tempat keramaian sampai peganiayaan. Tindakan mereka jelas sudah mengarah ke tindakan kriminal.

Beruntung bahwa belakangan ini polisi sudah seperti bangun dari tidurnya. Beberapa pentolan geng motor sudah diciduk, sementara yang tersisa masih terus diburu. Setidaknya ini angin segar bagi warga yang sudah sempat dirundung kekhawatiran pada prilaku geng motor ini.

Ternyata Masalah Nasional.

Awalnya saya mengira kisah para kriminal bertopeng geng motor ini hanya ada di Makassar, setidaknya untuk saat ini. Tapi ternyata saya salah. Di Pekanbaru, Riau ada aksi sejenis dan sepertinya malah lebih ganas. Seorang pria tua bernama samaran Klewang ditangkap polisi karena dituduh sebagai raja geng motor dengan 500an anggota. Geng motor mereka lebih ganas lagi karena selain melakukan perampasan dan penganiayaan sang raja besar bahkan sempat memperkosa seorang gadis.

Di kota lain, hal yang sama juga terjadi. Dari kota besar seperti Jakarta dan Bandung hingga kota kecil seperti Tulung Agung di Jawa Timur. Masalah geng motor ini ternyata masalah nasional, Makassar hanya salah satunya.

Aksi geng motor di Makassar (foto: metrotvnews.com)

Aksi geng motor di Makassar (foto: metrotvnews.com)

Miris juga melihat bahwa sebagian besar pelaku tindak kriminal berkedok geng motor ini adalah anak-anak remaja, bahkan beberapa di antaranya adalah anak SMP. Mereka ini yang berhasil dicuci otaknya oleh orang-orang yang lebih dewasa untuk kemudian digerakkan demi kepentingan mereka. Parahnya lagi, beberapa di antara mereka adalah wanita. Selain dipergunakan untuk kepentingan pemimpin geng motor, ada juga yang diposisikan sebagai pemuas nafsu anggota geng yang lain. Sungguh menyedihkan.

Dalam KBBI daring, geng diartikan sebagai: kelompok remaja (yg terkenal krn kesamaan latar belakang sosial, sekolah, daerah, dsb) atau gerombolan. Sejarah geng motor di Indonesia ternyata sudah berumur panjang. Menurut catatan sejarah, geng motor sudah ada di Jakarta sejak tahun 1915. Kala itu namanya Motorfietsrijders te Batavia meski tentu anggota dan fungsinya berbeda jauh dari geng motor yang kita kenal sekarang karena harga motor di tahun tersebut tentu masih sangat sulit dijangkau.

Untuk urusan geng motor di Indonesia, kota Bandung bisa dibilang pionirnya. Tahun 1978 di kota ini berdiri geng motor Moonraker yang kemudian dikenal sebagai geng motor yang ganas dan beringas. Periode 1980an beragam geng motor ikut tumbuh di kota kembang, salah satunya yang paling terkenal hingga kini adalah XTC. Perkembangan geng motor pada masa ini terbilang pesat, dengan cepat anggota geng motor bertambah dan meluas bukan hanya di kota Bandung.

Makin mudahnya motor didapatkan juga membuat perkembangan geng motor ini makin pesat. Apalagi di jaman ketika uang Rp. 250.000,- sudah bisa dipakai untuk menebus sebuah motor baru. Anak-anak muda makin semangat merajuk ke orang tua mereka dan minta dibelikan motor. Salah satu alasannya tentu saja agar tidak dijauhkan dari pergaulan. Anak-anak muda butuh sesuatu agar mereka diterima dalam sebuah lingkungan tertentu dan sesuatu itu biasanya berupa benda yang gampang terlihat. Motor salah satunya.

Eksistensi Dan Darah Muda.

Coba ingat-ingat kembali masa remaja kalian, bukankah di masa itu kita selalu ingin mencari eksistensi dan diterima oleh orang banyak? Beruntung jika kita berada dalam lingkungan yang positif, lingkungan di mana orang menerima kita apa adanya dan bukan karena apa yang kita bawa. Tapi banyak remaja tidak seberuntung itu. Mereka terjebak dalam lingkungan yang menuntut mereka harus punya sesuatu sebagai syarat agar bisa diterima.

Saya membayangkan anak-anak muda pengikut geng motor itu sesungguhnya hanya anak-anak muda yang mencoba untuk diterima dalam sebuah lingkungan, hanya saja mereka salah memilih lingkungan dan terpaksa terjerembab dalam lingkungan yang memaksa mereka untuk jadi anggota geng motor agar bisa diterima. Dari awalnya hanya nongkrong, muncul keinginan untuk makin membuktikan diri dengan ikut balapan liar. Darah muda gampang bergolak dan salah satu pelampiasannya adalah kegiatan yang memicu adrenalin seperti balap liar. Apalagi balapan liar selalu ditonton orang banyak, menang balap liar atau bahkan sekadar ikut-ikutan bisa membuat mereka bagai di awang-awang karena ditonton orang banyak dan tentu merasa menemukan eksistensi yang mereka cari.

Dalam sebuah geng ada hal yang selalu dipegang, solidaritas dan kesetiakawanan. Ketika salah satu dari anggota geng merasa diganggu pihak lain maka anggota yang lain tanpa pikir panjang akan membantu, tidak peduli teman mereka yang salah atau bukan. Di mana-mana rumusnya selalu sama, dan ini bisa jadi tombol ON untuk banyak pertikaian antar geng motor atau antara geng motor dan yang bukan geng motor.

Klewang, sang panglima geng motor Pekanbaru (foto: vivanews.com)

Klewang, sang panglima geng motor Pekanbaru (foto: vivanews.com)

Makin parah ketika geng motor ini mulai dimanfaatkan oleh pihak lain untuk tujuan lain. Uang misalnya, seperti kisah Klewang di atas. Lelaki paruh baya ini tahu betul memanfaatkan darah muda yang butuh eksistensi untuk kepentingannya sendiri. Dengan cara tertentu digerakkannya geng motor ini untuk melakukan tindakan kriminal yang hasilnya masuk ke kantong pribadinya, belum termasuk tindakan pemerkosaan atau kebebasannya meniduri anggota geng perempuan manapun yang dia mau.

Ini jadi semacam simbiosis mutualisme bagi mereka. Sang anak muda merasa menemukan tempat yang bisa menerima mereka dan sang ketua menemukan tambang emas dan tambang birahi buat dirinya. Klop sudah!

Sampai di sini pertanyaan kita sama: ini salah siapa? Salah orang tua yang tidak mengontrol perkembangan anak remajanya? Salah lingkungan yang permisif pada perilaku menyimpang anak remaja? Salah si anak remaja yang gampang ikut-ikutan tanpa berpikir rasional? Salah polisi yang membiarkan aksi ini berkembang makin mengkhawatirkan? Atau jangan-jangan ini salah pemimpin bangsa yang sibuk memberi contoh negatif untuk anak-anak muda negeri ini dan secara tidak langsung menyeret mereka dalam stress berkepanjangan?

Tulisan ini sudah terlalu panjang dan mulai membosankan. Baiknya saya akhiri saja dengan dua pertanyaan, ini salah siapa? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk meredam ini semua?

Ada yang tahu jawabannya? [dG]

Catatan: sejarah geng motor dikumpulkan dari berbagai sumber daring.

About The Author

3 Comments

  1. Rahmah
    16/05/2013
    • iPul Gassing
      17/05/2013

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: