Tags: ,

Alun-Alun, Jantung Sebuah Kota

Karebosi jaman dulu (foto: dokumen KITLV)

Karebosi jaman dulu (foto: dokumen KITLV)

Setiap kota idealnya punya alun-alun tempat warganya berinteraksi secara bebas dan gratis. Tapi tidak semua seperti itu.

Malam merayap di kota Kebumen. Bersama dua kurcaci kecil saya beringsut ke pusat kota, tepatnya ke alun-alun kota. Dari jauh alun-alun itu sudah terlihat ramai, beberapa motor terparkir di sepanjang alun-alun. Warung makan dan minum berdesakan dengan stand-stand lain yang ikut mengais rejeki di malam minggu itu.

Menginjakkan kaki ke dalam kawasan alun-alun seorang lelaki muda langsung menawarkan motor mainan. Ada belasan motor mainan terparkir di sana, motor ini digerakkan mesin sederhana. Besarnya mungkin hanya sepertiga motor asli, tapi bentuknya benar-benar mirip. Beberapa anak-anak berkeliaran dengan motor mainan itu, mereka meliuk-liuk di antara pengunjung lain yang sudah mulai ramai.

Alun-alun kebumen adalah sebuah lapangan seluas kira-kira enam kali lapangan sepakbola. Di bagian tepinya dibuat lebih tinggi dengan lebar kira-kira 4 meter yang dilapisi beton. Di bagian tepi itulah warga bercampur baur dengan pedagang makanan, penyewaan motor dan mobil mainan, penyewaan roller skate, kolam pemancingan buatan dan banyak lagi jenis hiburan.

Alun-alun kota Kebumen

Alun-alun kota Kebumen

Alun-alun ini jadi pusat keramaian di kota Kebumen, ibukota kabupaten yang terletak di selatan pulau Jawa. Malam minggu itu alun-alun terlihat sangat padat. Sebagian besar orang menikmati ragam hiburan di tepi alun-alun, sebagian duduk melantai di warung makan yang berjejer di tepi jalan raya. Sisanya menaiki odong-odong. Sebuah kendaraan yang sudah didesain sedemikian rupa untuk dipakai keliling alun-alun. Satu odong-odong bisa memuat sampai 6 orang, di kedua sisinya ada pedal yang harus dionthel supaya odong-odongnya bergerak. Odong-odong ini dihiasi lampu di sekujur tubuhnya dan ditambah alunan musik yang menggelegar dari pengeras suara.

Sebagian besar pengunjung alun-alun kota Kebumen memang orang tua yang membawa anaknya menikmati malam minggu. Anak-anak muda berpasang-pasangan juga asyik masyuk menikmati malam, beberapa dari mereka bahkan duduk bersembunyi di dekat rimbunan tanaman semak di dalam alun-alun.

Alun-alun dan sejarah kota.

Alun-alun sebenarnya adalah sebuah lapangan luas yang dikelilingi oleh jalan. Lapangan ini digunakan oleh warga kota untuk melakukan aktifitas bersama-sama. Awalnya alun-alun sebenarnya adalah sebuah lapangan luas di depan rumah milik penguasa setempat. Pada jaman kerajaan dulu, seorang raja, bupati, wedana, camat atau bahkan kepala desa pasti punya tanah lapang luas di depan rumahnya. Fungsinya untuk menggelar acara atau mengumpulkan warga.

Pada masa Hindu-Budha, alun-alun digunakan sebagai tempat warga berkumpul untuk melakukan ritual sebelum memulai masa tanam. Di tempat ini warga memohon berkah dan meminta ijin kepada Yang Maha Kuasa sebelum mulai menanam.

Setelah pengaruh Islam masuk, masjid kemudian dibangun di sekitar alun-alun. Fungsinya adalah sebagai perluasan tempat ibadah pada waktu-waktu tertentu seperti pada saat Idul Fitri atau Idul Adha. Kedatangan Islam ke sebagian besar daerah di Indonesia kemudian menjadikan alun-alun, pusat pemerintahan dan masjid menjadi satu paket yang dihubungkan dengan jalur transportasi.

Kedatangan pemerintah Belanda kemudian mengubah sebagian besar fungsi alun-alun. Secara terbuka pemerintah Belanda mengurangi fungsi simbolis alun-alun kota ?sekaligus kewibawaan penguasa setempat dengan mendirikan ragam bangunan besar untuk kepentingan mereka di sekitar alun-alun. Itulah sebabnya kalau kita perhatikan hampir di semua alun-alun kota di Indonesia kita akan menemukan bangunan bergaya kolonial di sekitarnya.

Kota Makassar sendiri sebenarnya tidak punya alun-alun kota peninggalan kerajaan. Penyebanya karena memang kota Makassar dulu bukan kota yang jadi pusat pemerintahan. Pemerintahan kerajaan Gowa jauh di sebelah selatan, di daerah Benteng Somba Opu. Makassar jaman dulu hanyalah sebuah kota kecil antara dua pusat pemerintahan kerajaan Gowa dan Tallo.

Setelah kerajaan Gowa takluk di tangan Belanda, kaum kulit putih itu kemudian memilih kota Makassar sebagai pusat pemerintahan mereka dan memilih benteng Fort Rotterdam sebagai jantung kota. Belakangan mereka kemudian membangun lapangan luas di bagian timur Fort Rotterdam. Lapangan bernama Koningsplein ini kemudian dikenal sebagai lapangan Karebosi.

Dulu warga kota menjadikan lapangan Karebosi sebagai alun-alun, tempat warga bisa berkumpul dan beraktifitas dengan bebas dan gratis. Kemudian pemerintah kota tidak tinggal diam. Dengan beragam alasan mereka mengundang investor untuk mengubah wajah alun-alun kota itu. Jadilah Karebosi yang sekarang sebagai lapangan luas yang rapi dan modern dengan mall di salah satu sudutnya.

Secara tampilan warga kota bisa berbangga karena mereka kini punya lapangan luas di tengah kota yang terlihat mentereng. Tapi, itu tidak gratis. Warga kini kehilangan kebebasan untuk masuk ke alun-alun kota itu. Kehadiran Karebosi yang baru sekaligus jadi pertanda kalau kota Makassar sudah kehilangan alun-alun. Tidak ada lagi tempat yang bisa dipakai warga untuk berkumpul dan berinteraksi tanpa harus memikirkan uang sewa atau tanpa harus merasa terintimidasi oleh bangunan dingin dan kaku.

Alun-alun sejatinya adalah jantung sebuah kota, tempat di mana warga berinteraksi dengan pemimpinnya. Berinteraksi dengan sesamanya, bercanda, bertukar kabar dan salam. Ketika alun-alun sudah hilang warga yang tetap butuh interaksi lalu berpindah ke tempat lain. Salah satunya adalah mall, sisanya adalah cafe atau warung kopi. Jantung kota sudah berpindah. Dulu jantung itu bisa berdegup dengan gratis, sekarang degupannya berarti uang. Mungkin ini yang membuat orang jaman sekarang makin resah, semua diukur dengan uang. Mengikuti degup kota yang semakin materialis.

 

[dG]

About The Author

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: