Rebut Kembali Media Sosial!

Ilustrasi

Media sosial makin tidak nyaman? Terus? Apakah akan kita biarkan seperti itu?


Pagi kemarin saya buka dengan sebuah tulisan dari seorang kawan, Matahari Timoer atau akrab disapa eMTe. Di tulisannya yang berjudul Break Off Medsos, Kang MT menyoroti tentang makin banyaknya orang yang mengalah dan kemudian meninggalkan media sosial karena merasa malas berurusan dengan mereka yang rajin menyebar berita hoax dan sarat kebencian. Mereka-mereka ini kemudian memutuskan untuk berhenti bermain media sosial, atau setidaknya berpindah ke media sosial lain yang lebih nyaman, menurut mereka.

Menurut Kang MT, kekosongan yang terjadi karena perginya orang-orang ini kemudian diisi dengan sangat baik oleh mereka yang memang rajin menyebar berita hoax maupun kebencian. Akibatnya media sosial semakin penuh dengan orang-orang seperti mereka.

Kembali menurut Kang MT, hal ini seharusnya tidak boleh terjadi. Orang-orang waras tidak boleh mengalah pada orang-orang tidak waras. Meninggalkan media sosial tidak serta merta menyelesaikan masalah. Sekarang kita boleh senang karena merasa terbebas dari ketidakwarasan di media sosial, tapi sampai berapa lama? Ketidakwarasan itu menyebar seperti virus. Kita tinggalkan Facebook, tapi tetap bermain Twitter? Sama saja. Atau semua media sosial kita tinggalkan tapi masih tetap punya grup percakapan? Cepat atau lambat ketidakwarasan itu akan merembet ke sana.

Baca juga 5 Panduan di Media Sosial a la Lelaki Bugis.

Semakin banyak orang waras yang meninggalkan media sosial maka semakin berkuasalah mereka para penebar hoax dan kebencian itu.

Media sosial akan semakin tidak nyaman, plus akan sangat beresiko buat orang-orang yang baru bergabung dengan media sosial. Begitu juga dengan orang-orang yang belum tercerahkan. Pelan-pelan mereka akan terseret arus, jadi penikmat berita hoax dan penuh kebencian, bahkan bisa saja suatu hari nanti malah jadi pelaku, pembuat berita hoax dan kebencian karena itulah makanan mereka sehari-hari.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Saya berpikir seperti Kang MT pikirkan. Kita orang-orang waras ini harus kembali merebut media sosial, mengembalikan fungsinya seperti dulu lagi. Sebagai tempat bersilaturahmi, bertemu kawan lama, membagikan foto-foto makanan, memamerkan foto-foto perjalanan atau bahkan sekadar membuat status remeh temeh yang mungkin saja mengundang senyum orang lain.

Menjelang akhir tahun kemarin, fenome OM TELOTET OM cukup menjadi oase di media sosial. Untuk sementara waktu media sosial kembali terasa nyaman dan santai, berbagai meme dan lucu-lucuan terkait fenomena OM TELOLET OM untuk sementara membuat media sosial terasa adem.

Saya jadi ingat fenomena lucu-lucuan yang sama bertahun-tahun lalu. Seperti misalnya waktu Mad Dog dari film The Raid jadi bahan lucu-lucuan di media sosial. Berbagai macam meme dan gambar-gambar lucu tentang Mad Dog menghiasi media sosial. Lalu ada juga potongan adegan dari film Finding Neverland yang ditambahi kalimat lucu-lucuan. Sungguh, waktu itu media sosial benar-benar terasa sebagai penyegaran.

Di level lokal Makassar, hal yang sama juga pernah terjadi. Pernah sekali waktu Twitter anak-anak Makassar diramaikan dengan tagar #pritkamuditilang. Tagar ini sungguh ramai dan mengundang senyum bahkan tawa.

Ah, masa-masa indah di media sosial.

Apa kalian tidak rindu masa-masa seperti itu? Masa-masa ketika kita menatap layar smartphone sambil tertawa lepas atau sekadar senyum-senyum sendiri? Masa ketika bahkan di grup percakapan pun selalu ada hal remeh-temeh yang mampu menggelitik saraf kita.

Nah, kenapa masa-masa itu tidak kita usahakan untuk kembali lagi? Ketimbang menikmati media sosial dengan beragam berita yang tak jelas kebenarannya atau ajakan untuk memusuhi suatu kaum, adalah lebih nyaman menikmati hal-hal remeh temeh dari media sosial bukan?

Memang tidak mudah untuk melawan kekuatan jahat yang mencoba merusak harmoni di media sosial. Saya juga kadang terseret dan akhirnya ikut-ikutan berkomentar, bahkan saya pernah sampai meninggalkan sebuah grup percakapan karena isinya yang sudah tidak nyaman. Sesuatu yang sekarang saya sadari sebagai sebuah kesalahan.

Seharusnya saya bertahan saja di grup itu, kalau perlu memperbanyak konten remeh temeh yang lucu dan menggelikan. Atau kalau mau sedikit berusaha, saya bisa saja mengajak pelaku penyebar berita hoax dan kebencian itu untuk berdiskusi, diskusi berdasarkan data dan fakta. Bukan diskusi yang hanya didasarkan pada “info dari grup sebelah” atau “saya hanya meneruskan”.

Sepertinya kita memang harus kembali merebut media sosial. Mengembalikannya menjadi tempat yang nyaman buat berinteraksi atau setidaknya jadi tempat yang sehat untuk berdiskusi. Literasi digital harus dimulai dari orang-orang yang lebih mengerti. Kita tidak boleh menghindar karena justru itu akan membuat media sosial jadi tempat yang nyaman buat mereka yang tidak suka melihat orang hidup damai.

Hati-hati fitnah di media sosial! Ini beberapa contohnya

Orang-orang jahat semakin banyak karena orang-orang baik lebih memilih diam, begitu kata seorang bapak yang sekarang maju jadi calon gubernur DKI. [dG]

About The Author

12 Comments

  1. MT
    04/01/2017
  2. Haerul
    04/01/2017
  3. Haerul
    04/01/2017
  4. cumilebay.com
    05/01/2017
  5. elafiq
    05/01/2017
  6. didut
    08/01/2017
  7. Fajrin
    11/01/2017
    • Daeng Ipul
      11/01/2017

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: