Pereguk Manfaat Internet di Indonesia Timur

Rahmat Adinata (berkaos hitam garis-garis) menunjukkan video buatannya kepada petani

Rahmat Adinata (berkaos hitam garis-garis) menunjukkan video buatannya kepada petani

Indonesia Timur memang belum berlimpah dalam urusan internet, tapi tidak mengurungkan niat beberapa orang untuk memanfaatkannya.

“Nah, ini sudah ada yang pesan nih di inbok Facebook saya.” Kata pria itu sambil menatap layar Blackberry di tangannya. Namanya Rahmat Adinata, seorang pria Sunda yang sejak 2012 bermukim di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Siang itu saya diajak Kang Rahmat – panggilan akrabnya – ke desa Kadahang, sebuah desa berjarak sekira 60 km dari kota Waingapu, ibu kota kabupaten Sumba Timur. Di desa itu sejarah baru terjadi, tepat di tanggal 14 Desember 2015. Untuk pertama kalinya dalam hidup para warga di sana, mereka bisa memanen semangka. Sebuah hal yang tak pernah terpikir sebelumnya.

Warga desa Kadahang selama ini hanya tahu menanam jagung, selebihnya lahan mereka dibiarkan kosong begitu saja. Padahal di tepian kampung ada sungai lebar yang nyaris tak pernah kering sepanjang tahun.

Hingga kemudian datanglah Rahmat Adinata, pria yang kemudian mengajarkan mereka cara mengolah lahan agar tetap produktif. Warga diajarkan cara menanam sayuran dan semangka, sesuatu yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.

Rahmat Adinata datang ke pulau Sumba sejak 2012. Awalnya karena mendengar berita tentang Sumba yang krisis pangan. Dia penasaran, seperti apa krisis pangan di Sumba yang sampai merenggut nyawa itu? Berbekal pengetahuan tentang pertanian dan tekad seteguh karang, dia mulai mencoba mempelajari apa yang sebenarnya terjadi. Dari mendekati petani hingga mengurai akar masalah di pulau Sumba yang sebenarnya.

“Menurut saya orang Sumba itu bukan krisis pangan. Mereka krisis pengetahuan.” Katanya. Pelan-pelan dia berhasil membuka pintu-pintu pengetahuan baru untuk para petani di pulau Sumba, termasuk memanfaatkan lahan kering. Salah satunya adalah para petani di desa Kadahang.

“Kumpulkan di sini ya, pisahkan menurut ukurannya. Besar sama besar, sedang sama sedang, kecil sama kecil.” Kata Rahmat memberi perintah.

Beberapa orang warga, pria dan wanita sibuk memanen semangka. Ini panen pertama mereka, dan ini adalah hasil keringat mereka sendiri. Semangka-semangka berwarna kehijauan itu ditumpuk di atas hamparan vinyl bekas baliho rumah makan. Dipisahkan dan dikelompokkan menurut besarannya. Rahmat sibuk dengan Blackberry di tangannya, memotret semangka-semangka itu dan mengunggahnya ke Facebook.

Rahmat Adinata (paling belakang) merekam aktivitas warga selepas panen semangka

Rahmat Adinata (paling belakang) merekam aktivitas warga selepas panen semangka

Dia tidak sekadar memamerkan hasil panen petani Kadahang, tapi sekaligus juga mempromosikan dan menjualnya. Tak berapa lama, beberapa pesan menurutnya sudah masuk ke kotak pesan Facebooknya. Ada yang sekadar menanyakan harganya, ada juga yang langsung memesan beberapa biji semangka.

“Ini semangka organik, sama sekali tidak pakai pestisida. Rasa manisnya alami.” Katanya berpromosi.

Rahmat Adinata mengaku mulai menggunakan Facebook sejak Februari 2012. Adalah seorang wartawan yang mengajarinya. Dari awalnya hanya iseng sampai pelan-pelan dia mulai sadar kalau Facebook bisa membantunya mempromosikan hasil keringat petani dampingannya. Awal tahun 2013 dia mulai aktif mempromosikan kegiatan para petani di Sumba, termasuk membantu petani menjual hasil panen mereka.

“Peminatnya bukan hanya di Sumba, saya bahkan dapat pesanan dari Jawa dan Bali.” Katanya.

Bukan hanya memotret hasil pertanian para petani, Rahmat juga rajin membuat video sederhana tentang kegiatan-kegiatan para petani dampingannya. Video itu diunggahnya ke Facebook, sebagai bagian dari penyebaran informasi tentang kegiatan para petani. Status Facebooknya sangat khas, selalu dimulai dengan kalimat: Berita Resmi. Selain Facebook dia juga menggunakan media sosial lain seperti Twitter dan blog. Khusus untuk kegiatan di Sumba, Rahma Adinata menggunakan tagline: Sumba Pulau Organik.

“Saya juga mulai mengajarkan para petani untuk menggunakan Facebook buat promosi kegiatan dan hasil panen mereka.”  Ujarnya. “Saya bilang ke mereka, Facebook jangan hanya dipakai untuk bikin status galau.” Rahmat melanjutkan.

Rahmat yakin kalau era globalisasi jangan dijadikan ancaman, menurutnya petani juga harus ambil bagian dan jangan hanya diam saja. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan media sosial, seperti orang lain memanfaatkannya. Dari keaktifannya di media sosial, beberapa media arus utama kemudian mengendus keberadaannya. Hasilnya, hingga saat ini Rahmat Adinata dan para petani Sumba sudah sering kali muncul di layar televisi dalam berbagai program.

Rahmat Adinata tahu betul bagaimana memanfaatkan media sosial untuk hal yang positif.

Provokator Damai di Ambon.

Lain di Sumba, lain pula di Ambon. September 2011, suhu di Ambon memanas. Beberapa kelompok warga tersulut emosinya dan turun ke jalan menghunus parang. Bayang-bayang kerusuhan tahun 1999 seperti terpampang jelas di depan mata. Media berlomba-lomba menyoroti ibu kota Maluku itu, membawa berita seakan-akan Ambon benar-benar kembali tenggelam di dalam kerusuhan.

Tapi tidak semua orang Ambon percaya apa yang diberitakan media. Di beberapa sudut kota Ambon, beberapa kelompok anak muda sepakat untuk tidak ikut larut dalam framing media yang memang sekadar mencari sensasi itu. Mereka saling kontak satu sama lain, merapatkan barisan dan kemudian membulatkan tekad untuk melawan framing media.

Cara yang mereka lakukan sederhana saja, memanfaatkan media sosial untuk melaporkan situasi Ambon yang sebenarnya. Situasi yang tentu saja jauh dari apa yang diberitakan oleh media arus utama. Sementara itu para fotografer sepakat untuk tidak mengunggah foto-foto kerusuhan Ambon.

Anak-anak muda itu bergabung dalam Ambon Bergerak, sebuah kampanye yang bertujuan untuk mengelaborasi semua ide dan potensi anak-anak muda Ambon. Gerakan ini sudah ada sejak 2010, awalnya adalah komunitas Blogger Ambon; Arumbai yang mencoba mencari teman-teman penggerak komunitas lainnya di kota Ambon. Dari satu-satunya cafe yang menyediakan wifi gratis mereka bertemu dengan penggerak komunitas lainnya. Sebuah grup Facebook dibentuk untuk lebih mengakrabkan para pegiat komunitas itu.

Tidak disangka, ternyata pegiat-pegiat komunitas lainnya juga punya mimpi yang sama. Mimpi untuk berkolaborasi dalam sebuah gerakan atau kampanye positif untuk kota Ambon. Dari situ tercetuslah ide kampanye Ambon Bergerak.

Dalam film dokumenter Linimassa 2 produksi Watch Doc, Almascatie salah seorang pengguna media sosial di Ambon menceritakan bagaimana dia dan teman-teman komunitas di Ambon lainnya sepakat untuk melawan berita-berita negatif tentang Ambon di media arus utama. Keributan bulan September 2011 adalah momentum tepat untuk menguatkan barisan anak-anak muda itu. Sejak kejadian itu, para pegiat komunitas semakin yakin bahwa mereka harus bergerak untuk berkolaborasi, demi kota Ambon yang mereka cintai.

Salah satu kegiatan Ambon Bergerak (dokumen Ambon Bergerak(

Salah satu kegiatan Ambon Bergerak (sumber: dokumen Ambon Bergerak)

Kunjungan Menkominfo Rudiantara ke Paparisa Ambon Bergerak  (sumber: dokumen Ambon Bergerak)

Kunjungan Menkominfo Rudiantara ke Paparisa Ambon Bergerak
(sumber: dokumen Ambon Bergerak)

Almascatie, dalam sebuah tulisan di blognya bulan Maret 2011 mengaku prihatin melihat citra Ambon di mesin pencari Google. Ketika mengetik kata Ambon maka yang muncul adalah citra kerusuhan di kota itu, pun dengan gambar-gambarnya. Sebagian gambar yang muncul di halaman pertama adalah gambar sisa kerusuhan dengan mayat bergelimpangan. Keresahan itu membuat Almascatie dan teman-teman di Ambon Bergerak sepakat untuk berbuat sesuatu, memperbaiki citra Ambon di mesin pencari.

Hampir lima tahun berselang dan usaha mereka sudah menemukan hasil. Ketiklah kata Ambon di Google, maka yang akan muncul adalah deretan berita biasa atau malah keindahan alam kota itu. Coba lihat di bagian gambar, tak ada satupun gambar mengerikan yang muncul di halaman pertama, yang ada malah gambar-gambar keindahan alam Ambon dan Maluku.

Sejak Desember 2014, kampanye Ambon Bergerak itu kemudian makin difokuskan dengan membuat sebuah rumah komunitas yang diberi nama Paparisa. Di sana para pegiat komunitas yang aktif di kampanye Ambon Bergerak kemudian bersama dalam sebuah rumah, merumuskan apa yang bisa mereka lakukan bersama-sama.

Mencari Peluang di Tengah Keterbatasan.

Indonesia timur memang belum berlimpah dalam soal infrastruktur internet, berbeda dengan Indonesia bagian barat, utamanya pulau Jawa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom UI) tahun 2014, pengguna internet di kawasan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua hanya sekitar 5.9 juta dari total pengguna internet Indonesia yang mencapai angka 88,1 juta. Jumlah ini tentu sangat jauh bila dibandingkan pengguna internet di pulau Jawa yang mencapai angka 52 juta.

Rendahnya tingkat pengguna internet di kawasan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua bisa dimengerti mengingat rendahnya tingkat populasi di ketiga daerah itu, ditambah dengan infrastruktur yang tak seberapa bagus karena tantangan geografis. Populasi yang rendah dan infrastruktur yang tak terlalu bagus membuat daerah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua jadi semakin tertinggal dalam urusan jaringan internet.

Tapi, dengan ketertinggalan itu banyak juga dari mereka yang lantas menyerah. Rahmat Adinata dan anak-anak muda yang aktif dalam kampanye Ambon Bergerak hanya sedikit contoh. Dengan fasilitas internet yang tak semulus di pulau Jawa mereka juga merasa berhak untuk menggunakan fasilitas yang tak seberapa itu untuk tujuan positif.

Di Sumba, Rahmat Adinata menggunakan internet untuk mempromosikan kerja-kerja para petani sekaligus membantu mereka untuk menjual hasil produksinya. Di Ambon, anak-anak muda bersama mengampanyekan Ambon Bergerak, mengubah citra kota Ambon dari kota yang akrab dengan kerusuhan menjadi kota yang indah dan hangat buat semua orang.

Sementara itu di bagian lain negeri ini, orang-orang masih sibuk menggunakan internet untuk menyebarkan berita bohong, memecah belah bangsa dan menyulut kerusuhan. Sungguh sebuah ironi. [dG]

Tulisan ini juga dimuat di majalah BaKTI News edisi 121.

About The Author

4 Comments

  1. triadicl
    17/02/2016
    • iPul Gassing
      17/02/2016
  2. Dwi Wahyudi
    17/02/2016

Add Comment