Hati-Hati Fitnah Di Media Sosial

ilustrasi [sumber: fullyilustrated.com]

ilustrasi [sumber: fullyilustrated.com]

Media sosial yang begitu mudah diakses, disebarkan dan dinikmati kadang memang melenakan sampai kita lupa kalau bisa jadi ada fitnah yang disebarkan di media sosial.

Suatu hari di media sosial beredar foto berisi spanduk di depan sebuah kantor. Ada yang menarik dari isi spanduk di foto tersebut, isinya agak provokatif. Intinya PKS menolak kenaikan harga BBM dan mengajak untuk melawan rejim SBY yang mereka sebut sebagai koalisi setan. Pernyataan provokatif itu ditutup dengan pernyataan kalau SBY adalah jongos zionis dan neolib. Sangat provokatif dan hadir di saat isu kenaikan BBM sedang memanas.

Foto itu dengan cepat menyebar di media sosial, tentu dengan tambahan komentar pedas yang mendiskreditkan PKS sebagai partai yang namanya terpampang di foto provokatif itu. Kebetulan PKS sedang berada dalam posisi yang tidak nyaman selepas elit partainya dituding korupsi, foto itu kemudian jadi alasan tambahan untuk mengejek PKS.

Foto rekayasa yang mendiskreditkan PKS

Foto rekayasa yang mendiskreditkan PKS

Saya pertama kali melihat foto itu di laman Facebook. Dari awal saya sudah merasa ada yang salah. Sebagai orang yang terbiasa bergaul dengan dunia grafis dan fotografi saya merasa tulisan di spanduk dalam foto itu terlalu datar dan tidak menyatu dengan keseluruhan fotonya. Sepertinya tulisan bernada provokatif itu ditempel di atas foto yang sudah ada. Kalau meneliti lebih detail maka akan terlihat beberapa bukti kalau foto itu memang rekayasa.

Insting saya terbukti benar. Beberapa hari kemudian saya menemukan kabar di internet kalau foto spanduk bernada provokatif itu memang benar rekayasa. Foto itu aslinya adalah foto spanduk selamat datang yang terpasang di depan kantor DPP PKS. Oleh seseorang tulisan di spanduk itu dihapus, tentu dengan teknik rekayasa foto dan kemudian diberi tulisan tambahan yang isinya mendiskreditkan PKS.

Usaha yang berhasil meski buat orang yang terbiasa dengan dunia grafis dan fotografi “karya” ini dengan mudah mengundang kecurigaan.

Kali Ini Demokrat.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya semalam (23/1/2014) saya menemukan foto lain beredar di media sosial. Kali ini di twitter. Foto ini berisi beberapa bantuan untuk korban bencana Sinabung yang diberi label gambar partai Demokrat. Foto ini tentu mengundang cibiran, mau menyumbang tapi menggunakan label partai? What a looser! Mungkin itu yang muncul di kepala beberapa orang.

Momen munculnya foto ini sangat tepat, partai Demokrat sedang dalam sorotan setelah berturut-turut elit partainya terkait kasus korupsi dan boss besarnya sang presiden sedang menuai kritik karena dianggap kurang bersimpati pada penderitaan rakyatnya. Foto ini tentu dengan cepat memantik sentimen negatif dari orang-orang yang mulai jengah pada partai pemenang pemilu 2009 itu.

Saya tidak tahu seberapa lama keriuhan atas foto itu terjadi karena saya memang cukup lama tidak menengok twitter. Sepertinya saya melangkahi beberapa tahap keriuhan karena saya langsung tiba pada kesimpulan kalau foto itu rekayasa. Ada seseorang yang mengunggah foto asli dari foto yang sudah terlanjur beredar dan mendiskreditkan partai Demokrat itu.

Foto rekayasa yang menyerang Demokrat

Foto rekayasa yang menyerang Demokrat

Dalam foto asli itu bantuan yang diberikan kepada korban Sinabung tidak memuat logo partai Demokrat. Bantuan itu hanya berisi tulisan “Bantuan Kepresidenan” tanpa ada logo apa-apa. Bagian kosong di atas tulisan itulah yang kemudian oleh seseorang diberi logo partai Demokrat seakan-akan partainya pak SBY itu memberi bantuan dengan pamrih tertentu.

Foto itu memang sangat gampang untuk direkayasa karena latarnya yang bernuansa putih-biru seperti warna utama partai Demokrat. Betul kata daeng Khrisna Pabichara, seandainya saja latar yang digunakan berwarna putih-merah maka tentu butuh kerja keras untuk merekayasanya menjadi bantuan dari partai Demokrat. Ada juga yang menyoroti kenapa bapak presiden memilih warna putih-biru dan bukan warna putih-merah? Bukankah ini bantuan kepresidenan yang berarti mewakili Indonesia yang sudah mengakui warna putih-merah (atau merah-putih) sebagai warna kebangsaan? Atau kenapa tidak sekalian menggunakan logo Garuda di bantuan itu? Pemilihan warna putih-biru memang smell fishy, seakan-akan ada maksud tersembunyi di belakangnya.

Tapi sudahlah, ini bukan soal pemilihan warna.

Saya lebih senang menyoroti fenomena mudahnya memfitnah satu orang, kubu atau golongan tertentu dengan menggunakan media sosial sebagai perantara. Dua kasus di atas sudah jadi contoh bagaimana seseorang dengan niat yang tidak bagus bisa meluangkan waktu untuk menciptakan satu foto yang muatannya sama sekali berbeda dengan foto aslinya. Dalam kasus foto bantuan Sinabung yang menjadikan partai Demokrat sebagai korban itu, rekayasa fotonya bisa saya bilang sangat halus dan sempurna. Melihat sekilas foto rekayasa itu saya tidak langsung tahu kalau itu rekayasa, berbeda dengan foto rekayasa spanduk yang menjadikan PKS sebagai korban.

Media sosial memang sangat riuh, penuh dengan orang-orang yang intensinya berbeda-beda. Ada yang hanya ingin bersenang-senang, ada yang ingin bersilaturahmi, ada yang mencari uang dan ada juga yang memang punya niat jelek. Semua jadi begitu mudah karena media sosial terasa sangat bebas nyaris tanpa penapis. Apa yang kita lihat bisa dengan cepat kita bagikan. Kebebasan dan keleluasaan ini perlahan-lahan membuat kita kehilangan kendali, lupa untuk melakukan pengecekan ulang data dan fakta yang beredar di media sosial. Kitapun kadang lupa kalau mereka yang hidup di media sosial sama seperti mereka yang hidup di dunia nyata, tidak semuanya berniat baik.

Hidup memang seperti sekeping mata uang, selalu ada dua sisi yang saling berseberangan. Jadi, hati-hatilah dengan fitnah di media sosial. Sebaiknya tidak cepat menyebar sesuatu yang bernada mendiskreditkan orang atau golongan tertentu. Membekali diri dengan kewaspadaan tinggi tentu tidak ada ruginya, bahkan bisa saja membawa keuntungan. Bukan hanya di media sosial saja, tapi di seluruh kehidupan kita. Bukan begitu? [dG]

About The Author

6 Comments

  1. nique
    24/01/2014
    • iPul Gassing
      24/01/2014
  2. daengrusle
    24/01/2014
  3. Mugniar
    24/01/2014
  4. mumox
    01/02/2014

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: