Di Timur Matahari

Ilustrasi

Ilustrasi

Mereka tinggal di timur Indonesia, minim infrastruktur internet, tapi mereka tahu bagaimana memanfaatkannya dengan baik.

Kecamatan Lewa, Kabupaten Waingapu, Sumba Timur, NTT. Rumah itu tampak berbeda dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Atapnya dari genteng, bukan seng seperti rumah lainnya. Rumah itu tidak terlalu besar, berdiri di sebuah lahan yang cukup luas. Di halaman depannya, sebuah sawah kecil terhampar, berisi batang-batang padi yang tegak berwarna kehijauan. Beberapa bulirnya sudah keluar, masih hijau tapi terlihat gemuk dan sehat.

“Genteng ini kami datangkan dari Jawa, di sini sudah cari genteng,” kata pria paruh baya yang menyambut kami. Namanya Suranto, pria asli Solo yang menikah dengan wanita Sumba dan lalu memilih untuk ikut ke tanah kelahiran istrinya.

Pantas saja rumahnya beratap genteng, pikir saya. Genteng bukan budaya orang Indonesia timur, hampir tidak ada rumah asli orang Indonesia timur yang ditutup genteng.

Tapi saya bertandang ke rumah pak Suranto bukan untuk mencari tahu tentang genteng, tapi untuk bertemu istrinya. Ada hal unik yang dimiliki wanita yang dinikahinya belasan tahun lalu itu. Mama Marthina, begitu namanya. Wanita berusia 52 tahun itu tenar sebagai salah satu sosok yang aktif memperjuangkan penggunaan pupuk organik untuk pertanian. Pupuk organik yang dihasilkannya sebagian adalah bio slurry yang dihasilkan dari reaktor bio gas miliknya.

“Sudah lama saya baca-baca di internet tentang bio gas, terus saya bertanya-tanya ‘kapan di Sumba juga ada bio gas?’” kata Mama Marthina.

Mama Marthina menunjukkan bio slurry buatannya

Mama Marthina menunjukkan bio slurry buatannya

Gayung bersambut. Sebuah program dari NGO menghampiri, program itu adalah pemanfaatan kotoran hewan dan limbah rumah tangga menjadi energi. Mama Marthina dan pak Suranto jadi salah satu penerima manfaatnya. Mereka mendapatkan dana hibah pembuatan reaktor bio gas yang bisa membantu meringankan beban energi mereka. Tidak perlu lagi membeli minyak tanah buat kebutuhan sehari-hari karena gas dari reaktor bio gas sudah cukup.

Tapi pasangan yang bertemu di Solo tahun 1990an ini tidak cepat puas. Mereka mencari tahu apalagi yang bisa dimanfaatkan dari reaktor bio gas. Berbekal pengetahuan dari bangku kuliah dan akses internet, mereka menciptakan bio slurry, limbah bio gas yang bisa diolah menjadi pupuk organik.

“Kami cari-cari sendiri caranya di internet. Terus habis itu ya kami kembangkan sendirilah itu bio slurry,” kata Mama Marthina.

Hampir dua tahun berlalu sejak pertama kali menggunakan bio gas, pasangan Mama Marthina dan pak Suranto sudah sangat fasih membuat pupuk organik bio slurry. Pupuk ciptaan mereka bukan hanya dipakai untuk sawah sendiri, tapi juga dijual. Selain getol memperkenalkan pertanian organik, mereka juga bisa memperoleh keuntungan finansial.

Semua bermula dari rasa ingin tahu yang besar dan kemauan mereka menjelajahi internet.

*****

Desa Kadahang, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Pria dengan kepala tertutup topi fedora itu sibuk mengabadikan kegiatan petani yang sedang memanen semangka. Dengan Blackberry yang menurutnya sering ngadat, dia terus merekam kegiatan para petani itu. Sesekali merekam video, selebihnya merekam foto.

“Fotonya saya masukkan ke Facebook,” jawabnya ketika saya tanya foto itu buat apa. Tak berapa lama kemudian dia berujar, “Ini sudah ada yang inbok, mau pesan semangka.”

Pria itu bernama lengkap Rahmat Adinata, tapi orang-orang memanggilnya Kang Rahmat. Pria asli Sunda yang datang ke pulau Sumba sejak tahun 2012 ini kadang dianggap aneh. Aneh karena dia begitu rajin memperkenalkan hal-hal baru kepada para petani di Sumba. Dari beragam praktik pertanian organik, pemanfaatan lahan kering, pengolahan pupuk organik hingga memperkenalkan internet pada petani.

Rahmat Adinata

Rahmat Adinata (paling belakang) merekam aktivitas warga selepas panen semangka

Kang Rahmat mulai mengenal internet – khususnya Facebook – sejak tahun 2012. Seorang kontributor media nasional yang mengenalkannya pada pria yang juga aktif di radio Max One, Waingapu. Awalnya Kang Rahmat hanya menggunakan Facebook untuk bersenang-senang sebelum akhirnya sadar kalau Facebook juga bisa digunakan lebih jauh untuk hal yang lebih positif.

Awal tahun 2013 dia mulai aktif mempromosikan kegiatan para petani di Sumba, termasuk membantu petani menjual hasil panen mereka. Hasil-hasil panen para petani dipotretnya, lalu diunggah ke Facebook. Sebagian hanya sekadar untuk memamerkan kerja mereka, selebihnya adalah untuk membantu menjual hasil bumi para petani.

“Peminatnya bukan hanya di Sumba, saya bahkan dapat pesanan dari Jawa dan Bali.” Katanya.

Kang Rahmat tidak hanya memotret hasil pertanian para petani, tapi juga rajin membuat video sederhana tentang kegiatan-kegiatan para petani dampingannya. Video itu diunggahnya ke Facebook, sebagai bagian dari penyebaran informasi tentang kegiatan para petani. Status Facebooknya sangat khas, selalu dimulai dengan kalimat: Berita Resmi. Selain Facebook dia juga menggunakan media sosial lain seperti Twitter dan blog. Khusus untuk kegiatan di Sumba, Rahma Adinata menggunakan tagline: Sumba Pulau Organik.

“Saya juga mulai mengajarkan para petani untuk menggunakan Facebook buat promosi kegiatan dan hasil panen mereka.”  Ujarnya. “Saya bilang ke mereka, Facebook jangan hanya dipakai untuk bikin status galau.” Rahmat melanjutkan.

Sumba Organik

Rahmat Adinata (berkaos hitam garis-garis) menunjukkan video buatannya kepada petani

Rahmat yakin kalau era globalisasi jangan dijadikan ancaman, menurutnya petani juga harus ambil bagian dan jangan hanya diam saja. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan media sosial, seperti orang lain memanfaatkannya. Dari keaktifannya di media sosial, beberapa media arus utama kemudian mengendus keberadaannya. Hasilnya, hingga saat ini Rahmat Adinata dan para petani Sumba sudah sering kali muncul di layar televisi dalam berbagai program.

Rahmat Adinata tahu betul bagaimana memanfaatkan media sosial untuk hal yang positif.

*****

Ambon, Maluku, September 2011. Suhu memanas, kota Ambon tiba-tiba seperti kembali dirundung awan gelap pertikaian horizontal bernuansa SARA. Dari sebuah pertikaian kecil, embusan provokasi meluas. Bayang-bayang kerusuhan 1999 membias di udara. Media besar nasional ramai-ramai menyorot kota Ambon, lengkap dengan judul besar-besar; AMBON RUSUH.

Tapi tidak semua orang Ambon pasrah terseret gelombang provokasi itu. Ada sekelompok anak muda yang diam-diam saling berjejaring, memilih untuk tidak terprovokasi dan bahkan memilih untuk melawan framing media. Mereka sadar ada senjata yang bernama internet yang bisa digunakan untuk melawan semua framing tersebut. Lalu mulailah mereka satu sama lain bertukar informasi dan lalu memberitakan kondisi yang sebenarnya, yang jauh dari kesan rusuh seperti yang diberitakan media besar. Jejaring itu mereka sebut dengan nama Ambon Bergerak.

“Saya pernah naik motor ke Masjid Al Fatah untuk memotret suasana di sana. Soalnya ada kabar kalau Laskar Jihad sudah tiba di Ambon dan berkumpul di sana, siap menyerang kampung Kristen. Kabar itu bohong, Masjid Al Fatah kosong melompong, tidak ada aktivitas Laskar Jihad,” kata Almascatie dalam sebuah tulisannya. Dia salah seorang anak muda yang ikut dalam gerakan itu.

Teman yang lain juga sama. Seorang kawan Nasrani juga memotret kondisi desanya yang aman-aman saja, padahal ada kabar yang beredar kalau desa itu sudah terbakar oleh desa tetangga. Kabar yang seperti dibuat oleh seorang penulis skenario film picisan.

Salah satu kegiatan Ambon Bergerak (sumber: dokumen Ambon Bergerak)

Salah satu kegiatan Ambon Bergerak (sumber: dokumen Ambon Bergerak)

Ambon Bergerak

Kunjungan Menkominfo Rudiantara ke Paparisa Ambon Bergerak (sumber: dokumen Ambon Bergerak)

Aksi anak-anak muda Ambon itu berhasil meredam ketegangan di ibukota Maluku tersebut. Kericuhan kecil tidak lantas meletus menjadi konflik besar. Anak-anak muda itu aktif melawan berita-berita tak berdasar dan provokasi yang beredar dengan memanfaatkan media sosial. Hasilnya, kericuhan September 2011 itu tidak membesar. Ambon kembali damai seperti seharusnya.

Anak-anak muda Ambon Bergerak tidak lantas berhenti bergerak. Mereka terus berjejaring dan melakukan banyak hal, utamanya menghapus imaji buruk Ambon di mesin pencari.

“Dulu kalau kita ketik Ambon di Google, yang muncul malah gambar-gambar kerusuhan,” kata Almascatie.

Bersama teman-temannya di Ambon Bergerak, mereka terus menyebarkan hal-hal positif dari Ambon dan Maluku. Alam yang indah, makanan yang lezat, persaudaraan yang lekat dan kedamaian yang pekat.

Hampir lima tahun berselang dan usaha mereka sudah menemukan hasil. Ketiklah kata Ambon di Google, maka yang akan muncul adalah deretan berita biasa atau malah keindahan alam kota itu. Coba lihat di bagian gambar, tak ada satupun gambar mengerikan yang muncul di halaman pertama, yang ada malah gambar-gambar keindahan alam Ambon dan Maluku.

*****

Mama Marthina, Kang Rahmat, Almascatie dan teman-temannya di Ambon Bergerak hanya sedikit dari sekitar 88,1 juta pengguna internet di Indonesia menurut penelitian Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (PUSKAKOM UI) tahun 2014. Mereka tinggal di wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua yang menurut penelitian tersebut hanya berisi sekitar 5,9 juta pengguna internet. Bandingkan dengan jumlah pengguna yang sama di Jawa yang berkisar di angka 52 juta.

Infrastruktur internet di wilayah timur Indonesia memang belum sempurna. Masih banyak daerah yang tak terjangkau internet, bahkan sinyal seluler sekalipun. Jumlah penduduk yang masih sedikit mungkin jadi alasan, di samping tantangan geografis yang juga berat. Pihak operator belum berani berinvestasi besar di wilayah yang masih kurang penduduk dengan alam yang menantang. Mungkin hanya pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat saja yang bisa dianggap punya infrastruktur internet terbaik di wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Di sana, bahkan operator XL Axiata pun merajai sampai ke pelosok.

Senyum anak Indonesia

Senyum anak Indonesia

Dengan infrastruktur yang tak sempurna dan nyaris apa adanya itu, toh masih ada juga orang-orang yang berhasil memaksimalkan fungsi positifnya. Keterbatasan itu tidak menghalangi mereka untuk tetap mereguk nikmat positif dari internet. Mama Marthina mencari tahu tentang pembuatan pupuk organik, Kang Rahmat menyebarkan informasi pertanian organik dan mempromosikan hasil kerja petani di Sumba serta anak-anak Ambon Bergerak menyebarkan kedamaian dari Ambon.

Mereka bukan orang-orang yang mencari untung dari memelintir sebuah isu, mengolahnya jadi berita heboh dan mengejar keuntungan finansial dari situ. Mereka juga bukan seperti banyak pelaku internet lainnya yang membangun sebuah website dengan judul “news” di belakangnya agar tampak seperti website berita asli, lalu sibuk menyebar berita-berita hoax yang justru memecah belah persatuan.

Di tengah karut-marut tata kelola internet Indonesia yang belum juga menemukan muara yang pas, selalu ada orang-orang yang berhasil menemukan cara terbaik untuk memetik buah manisnya. Memetik lalu menyebarkannya kepada siapa saja yang butuh, bukan untuk dirinya semata. Kepada mereka inilah kita bisa berharap Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang lebih damai, sejahtera dan mungkin lebih maju. Lewat internet, mereka merajut mimpi itu.

Saya jadi ingat sebuah lagu; di timur matahari. Dari timur, mereka seperti matahari yang menemukan dan lalu menyebarkan sinar cerah internet.[dG]

About The Author

11 Comments

  1. Imam Rahmanto
    08/10/2016
  2. mt
    08/10/2016
  3. Andhika
    18/10/2016
  4. April Tupai
    18/10/2016
  5. aizeindra
    18/10/2016
  6. Rahmah
    19/10/2016
  7. andyhardiyanti
    19/10/2016
  8. Lucky Caesar Direstiyani
    22/10/2016
  9. fika anaira
    26/10/2016
  10. Amir
    31/10/2016

Add Comment