Belajar 3 Hal Dari Jonru

Jonru

Jonru

Di luar kesan negatif dari banyak orang tentang tindak-tanduk Jonru, saya menangkap hal-hal positif yang bisa dipetik dan dipraktekkan dari sosok fenomenal satu ini.

Dalam beberapa bulan terakhir ini ada satu nama yang sedang populer dan ramai dibincangkan, Anda yang biasa berkutat dengan internet dan media sosial pasti kenal dengan nama Jonru. Lelaki yang dulu terkenal akrab dengan dunia kepenulisan online dan bahkan punya penerbitan indie ini tiba-tiba menyeruak dan makin sering dibincangkan di dunia maya.

Saya sendiri tidak terlalu kenal dengan lelaki berdarah Karo ini. Pertama kali mendengar namanya setahun yang lalu ketika saya ikut dalam sebuah kompetisi menulis yang diadakan Dapur Buku, penerbitan indie punya Jonru.

Kala itu saya terpilih jadi salah satu pemenang dan tulisan saya dibukukan bersama tulisan pemenang lain plus tulisan dari Jonru sendiri. Yah, saya pernah punya tulisan yang dibukukan bersama tulisan Jonru.

Saya tak hendak mengomentari popularitas beliau yang sedang marak dibincangkan sekarang ini, baik dari sisi positif maupun negatifnya. Memang banyak orang yang saat ini menganggap Jonru sebagai tukang fitnah, provokator dan penyebar berita bohong. Saya tak hendak membahas itu, sudah banyak orang lain yang membahasnya, lengkap dengan pro maupun kontranya.

Ada hal lain yang menarik bagi saya di antara hiruk-pikuk perbincangan soal Jonru. Saya percaya dalam sebuah kesalahan sebesar apapun selalu ada hikmah yang bisa kita pelajari, dan mungkin ini juga berlaku pada sosok Jonru. Di balik stempel negatif yang disematkan orang di jidatnya, saya tetap berusaha melihat dan menarik hal positif.

Setidaknya ada 3 hal yang menurut saya bisa dipelajari dan diamalkan. 3 hal itu adalah:

Mencari Celah Yang Tepat.

Pengguna internet di Indonesia diprediksi sudah berjumlah 83 juta orang lebih, Anda bisa membayangkan betapa banyaknya jumlah itu. 83 juta orang berarti hampir sama dengan jumlah 4 negara Malaysia dalam hal jumlah penduduk. Bayangkan, satu Malaysia saja sudah merepotkan kita apalagi 4 sekaligus. Bisa Anda bayangkan bukan berapa besar angka 83 juta itu?

Nah di antara 83 juta pengguna internet itu, ada berapa orang yang berhasil menjadi pusat perhatian pengguna internet? Tidak perlu semua, minimal sebagian besar pengguna internet mengenalnya. Jawabannya mungkin sangat sedikit, tergantung jenis produk internet yang digunakan. Blogger punya istilah seleb blog, pengguna Twitter punya istilah selebtwit, pengguna Instagram juga punya istilah sendiri untuk orang-orang yang populer di dunia mereka.

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa populer di antara sekian banyak pengguna internet itu? Tentu jawabannya Anda harus mencari differensiasi atau pembeda di antara jutaan pengguna internet. Menjadi pengguna biasa tidak membuat Anda populer, Anda akan tetap menjadi orang biasa dan tidak dikenal oleh para pengguna internet lainnya.

Jonru pandai mencari celah itu. Di antara sekian banyak pengguna internet dia memilih untuk menjadi seorang yang kritis terhadap satu kubu, sebut saja kubu Jokowi dan pendukungnya. Saya tidak tahu apakah dia melakukan itu dengan sengaja atau karena kebetulan saja sampai kemudian sadar kalau personal branding itu bisa mendukung popularitasnya.

Di antara sekian banyak pengguna internet di Indonesia, Jonru berhasil menciptakan personal brandingnya sendiri, berhasil membidik celah sempit yang lantas membuatnya terkenal. Popularitas bila diolah dengan sangat baik tentu saja bisa menjadi ladang uang.

Konsistensi.

Kata konsistensi sering jadi musuh bersama bagi kita, manusia biasa. Apapun jenis usaha yang kita jalankan, konsistensi selalu jadi hal yang sangat sulit untuk dijaga. Tapi tidak dengan Jonru. Dia punya konsistensi yang besar, sejak masa-masa pemilihan presiden hingga kabinet sudah mulai bekerja dia tetap konsisten dengan jalan yang dia pilih.

Sekali lagi ini adalah sebuah hal yang patut kita kagumi, tidak mudah loh menjaga konsistensi dalam waktu yang demikian panjang di tengah segala macam pro dan kontra yang menerpa kita. Merawat sebuah usaha dalam iklim yang sejuk dan tenang saja bisa membuat kita melupakan konsistensi, apalagi dalam iklim yang berubah-ubah seperti yang dialami Jonru.

Tabah dan Tahan Banting.

Saya dasarnya tidak suka konflik. Beberapa kali saya pernah terlibat dalam adu twit atau yang kerap disebut orang sebagai twit war. Twit war saya tak seberapa panjang tapi secara pribadi sudah sangat mengganggu saya, saya terus kepikiran, kadang bahkan sampai tidak bisa tidur nyenyak karena bayangan debat di dunia maya itu.

Saya tidak bisa membayangkan kalau saya jadi seorang Jonru. Berapa banyak waktu yang habiskan hanya untuk memikirkan serangan-serangan para haters itu? Saya pasti tidak bisa tidur nyenyak semenitpun, makan tak enak dan hidup benar-benar tidak nyaman.

Tapi Jonru (tampaknya) tidak seperti itu. Dia tetap bisa hidup tenang, mencari bahan baru untuk menjaga sikap kritisnya, mencari alasan baru untuk melawan para penyerang dan tetap bertahan sampai sekarang. Ketabahannya berada di atas rata-rata, atau setidaknya jauh di atas saya yang memang rata-rata ini.

Dan, tiga hal itu buat saya adalah hal positif yang bisa dipetik dari kelakuan seorang Jonru. Seburuk apapun kelakuannya di mata orang-orang yang membencinya, tetap ada sesuatu yang bisa dipelajari, sesuatu yang bisa diambil hikmahnya. Tentu saja hal-hal itu bisa diterapkan dalam hal lain yang lebih positif, demi tujuan dan hasil yang lebih positif.

Mari belajar dari sekitar kita! [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

5 Comments

  1. anazkia
    11/12/2014
  2. didut
    11/12/2014
  3. Ade Truna
    09/01/2015
  4. vika
    10/01/2015
  5. a_b
    11/01/2015

Add Comment