Anak Muda Yang Terjangkit Virus

Ilustrasi

Ilustrasi

Selepas PKM 2015 beberapa anak muda terjangkit virus. Saya tidak kasihan, malah berharap mereka tidak pernah bersih dari virus itu. Biarkan saja!

“KAPAN TULISANMU JADI?”

“Tabek kak, koreksi ki dulu tulisanku.”

“Kak, sudahmi saya posting tulisanku.”

Kalimat-kalimat di atas tiba-tiba menjadi sangat sering saya dengarkan semingguan belakangan ini. Pasalnya, beberapa anak muda tiba-tiba seperti terkena virus untuk menulis. Setiap hari dalam sebuah grup chat Line pembicaraan banyak beredar seputar dunia tulis menulis. Tentang tips, tentang metode sampai tentang bagaimana menumbuhkan semangat menulis.

Semua berawal ketika masa persiapan Pesta Komunitas Makassar 2015 kemarin. Lelaki Bugis yang oleh teman-teman panitia dianggap sebagai sesepuh berhasil menantang mereka untuk meningkatkan kemampuan lewat menulis. Tantangannya bersambut, beberapa anak muda langsung menyatakan minatnya untuk belajar menulis. Kelas menulis mereka dinamakan kelas Kepo, mungkin berasal dari kedai tempat kami biasa berkumpul.

Pertemuan pertama dilakukan di Kampung Buku, sebuah perpustakaan yang memang sangat hangat menerima siapa saja yang ingin belajar dan bertukar pikiran. Jimpe sebagai salah satu sesepuh kami semua berkenan membagi waktu dan ceritanya. Modelnya bukan seperti kelas pada umumnya. Tidak ada guru dan murid. Semua sama rata dan sama rasa, hanya kebetulan Jimpe dan Lelaki Bugis sudah lebih dulu tahu dan mau membagikan pengetahuan mereka. Bukan karena mereka merasa lebih jago.

Itu yang saya suka dari mereka berdua.

*****

LALU SAYA MASUK BELAKANGAN. Lelaki Bugis mengajak saya untuk ikut bebagi pengalaman bersama mereka. Ajakan yang tentu saja tidak bisa saya tolak. Saya memang selalu senang melihat orang-orang yang punya semangat untuk menulis. Beberapa dari mereka saya tahu memang sudah suka menulis dan punya bakat untuk menulis, beberapa lainnya belum bisa saya kenali kemampuannya. Tapi saya selalu yakin, dengan semangat tinggi maka tantangan seberat apapun pasti akan terlewati.

Dalam pertemuan di Kampung Buku, beberapa dari mereka mulai mengeluarkan curhatan dan uneg-uneg seputar dunia menulis. Jimpe, saya dan Lelaki Bugis hanya berusaha menanggapi dan memberi masukan tanpa sama sekali bermaksud mengajari.

Kami hanya berbagi, bukan sok menggurui. (photo: @lontaraa)

Kami hanya berbagi, bukan sok menggurui. (photo: @lontaraa)

Malam itu beberapa teman yang lain yang juga panitia inti dari PKM 2015 ikut merapat. Kelas menjadi sangat ramai. Teman-teman yang sudah hadir duluan sejak pertemuan pertama rupanya sudah memilih beberapa topik yang akan mereka tuliskan dalam rangkaian kegiatan ini. Teman-teman yang baru bergabung belum memilih topik sama sekali.

Pada mereka yang baru bergabung ini saya coba ajukan tantangan untuk menulis tentang Pesta Komunitas Makassar 2015. Dalam pikiran saya, sayang sekali kalau acara sebesar itu sampai terlewat begitu saja tanpa didokumentasikan oleh mereka yang benar-benar tahu prosesnya. Semua kejadian di balik layar harus disebar ke orang banyak, biar makin banyak yang tahu apa sebenarnya yang mereka lakukan.

Buat saya itu juga jadi semacam pertanggungjawaban ke publik, biar semakin banyak yang tahu bagaimana anak-anak muda itu berproses, bekerja bersama dan saling bantu menyukseskan acara yang jadi milik semua orang.

Lalu mulailah keriuhan itu terjadi.

*****

Satu per satu anak-anak muda itu mulai tenggelam dalam bahan tulisan mereka. Beberapa mengaku bingung harus mulai dari mana, sisanya bingung harus merangkai kata seperti apa. Saya dan Lelaki Bugis berusaha memandu mereka dengan pengetahuan kami yang juga tak seberapa. Saya (dan mungkin Lelaki Bugis juga) kagum pada semangat mereka, kagum pada kesungguhan mereka untuk menulis.

Satu per satu tulisan mereka kemudian selesai dan diunggah di blog masing-masing. Dalam hati saya senang luar biasa. Tulisan mereka memang masih naif dan tentu saja butuh perbaikan. Tapi, bukankah itu adalah proses? Memulai menulis saja sudah sesuatu yang luar biasa dan membuat mereka berbeda dari orang-orang yang lain. Jadi, soal kualitas tidak jadi masalah. Semua pasti butuh proses, yang penting mereka mau memulai.

Saya jadi ingat masa-masa ketika mulai ngeblog di tahun 2006 yang lalu. Ketika itu saya hanya menuliskan apa yang saya pikir tanpa takut tulisan saya akan dihina orang. Saya selalu yakin menulis bukan melulu soal kualtas, tapi soal keberanian memulai. Tapi sayapun tidak mau berhenti sampai di situ saja, saya selalu berusaha mencari cara untuk memperbaiki cara saya menulis.

Tantangan kami yang ngeblog di awal tahun 2000an dengan mereka yang baru mulai ngeblog sekarang memang berbeda. Dulu blogging belum jamak, sehingga semua yang memulai bisa dibilang sama-sama memulai dari nol. Hanya satu dua yang memang punya kemampuan menulis yang bagus dan sudah terasah setelah sekian lama, sisanya adalah orang-orang yang baru menemukan kenikmatan dari menulis. Akibatnya kami sama-sama tumbuh, sama-sama belajar tanpa merasa minder.

Sekarang situasinya berbeda. Blogger yang sudah memulai selama bertahun-tahun tentu sudah punya kemampuan dan pengalaman yang lebih. Di satu sisi ini jadi sesuatu yang membuat blogger baru menjadi minder atau merasa ingin cepat seperti mereka para blogger yang lebih duluan itu. Mereka tidak sadar kalau blogger yang sudah lebih dulu menulis dan sudah mencapai titik tertentu itu sudah melewati proses yang panjang, menyesap banyak pelajaran-pelajaran penting. Blogger-blogger itu dulu juga memulai dengan tulisan yang sederhana, remeh temeh dan menggelikan jika dibaca saat ini.

Buat saya semua butuh proses. Tidak ada yang langsung bisa berhasil menulis dengan baik di tulisan pertamanya. Semua butuh proses yang memang kadang begitu panjang dan butuh kesabaran. Tapi, memulai adalah sebuah keberanian tersendiri. Sebuah keberanian yang harus diberi apresiasi lebih. Belum banyak orang Indonesia yang rajin menulis sehingga buat saya kemampuan dan kemauan seseorang untuk menulis tentu saja membuatnya jadi spesial.

Buat saya anak-anak muda ini memang luar biasa. Mereka berani memulai dan semoga saja mereka tetap berani untuk menjaga semangat menulis itu. Semoga saja mereka berani menjaga virus yang sudah menyebar selepas PKM itu. [dG]

Tulisan mereka tentang PKM 2015:

Achil: Awas! Agenda Tersembunyi di PKM 2015
Iyan: Gara-gara PKM Saya Diduakan.
Ian: Pesta Komunitas dan Hari Senin Setelahnya.
Nunu: PKM 2015, Bukan Pesta Biasa
Nunu: PKM 2015 Mengalihkan Duniaku.

Tulisan lain yang bukan tentang PKM 2015 tapi hasil dari kelas menulis:

Ulma: Ciuman Terpanjang di Panggung MIWF 2015
Adnan: Menggenggam Kebahagiaan di Tanralili.

 

About The Author

12 Comments

  1. lelakibugis
    17/06/2015
  2. nunu
    17/06/2015
    • iPul Gassing
      18/06/2015
  3. Arhy Sinjai
    17/06/2015
    • iPul Gassing
      18/06/2015
  4. Disty
    18/06/2015
  5. zaamora
    25/06/2015
  6. Daeng Situju
    25/06/2015
    • iPul Gassing
      27/06/2015
  7. nunu amir
    01/08/2015
  8. galih
    20/08/2015
  9. Heri Anto
    02/07/2016

Add Comment