Cerita Ringan

Semoga Cepat Pulih, Lombok

Ilustrasi

Lombok diuji dengan gempa. Awalnya saya pikir cuma gempa biasa, tapi ternyata tidak. Bencana ini cukup mengena buat saya, mungkin karena ada ikatan batin juga antara saya dengan Lombok.


SUATU HARI DI TAHUN 2000. Saya sedang di Bogor waktu itu, tepatnya di Cileungsi. Daerah Jakarta coret kata orang. Kami sedang sibuk berdiskusi di ruangan kantor berlantai tiga itu. Kebetulan ruangan kami memang ada di lantai tiga. Saat sedang asik berdiskusi, tiba-tiba saja lantai terasa bergetar, meja bergoyang dan dengan sekejap rasa pusing menjalar di kepala. Di luar ruangan kami, beberapa orang berlarian menuju tangga. Suasana sempat riuh. Kami yang sedang berdiskusi terkesiap, seperti bingung harus berbuat apa. Salah seorang teman segera berlari keluar ruangan, bergabung dengan belasan orang lain yang tergopoh-gopoh menuju tangga. Saya dan beberapa orang lainnya hanya diam, bingung tidak tahu harus berbuat apa. Untungnya getaran itu hanya terjadi beberapa detik sebelum semuanya kembali aman.

Itu adalah pengalaman pertama bersentuhan dengan yang namanya gempa bumi. Waktu itu gempa terjadi di Sukabumi, tapi getaran hebatnya terasa sampai ke Jakarta dan sekitarnya. Sebagai orang Sulawesi Selatan, gempa bumi memang jadi hal yang tak umum. Maklum, wilayah Sulawesi Selatan termasuk wilayah yang agak jauh dari lempengan bumi dan tidak biasa mengalami yang namanya gempa bumi. Apalagi di sini tidak ada gunung berapi yang jika meletus juga menyebabkan gempa bumi.

Ketika tinggal di Jayapura, gempa bumi kemudian jadi hal yang biasa. Sering sekali saya rasakan. Papua memang masuk ke dalam wilayah lempeng bumi yang sering bergeser, jadi tidak heran kalau gempa sering sekali menyambangi pulau itu. Dari yang kecil dan nyaris tidak terasa, sampai gempa yang lumayan membuat lantai bergoyang.

Suatu waktu saya dan dua teman sekantor sampai berlarian ke luar ruangan setelah getaran gempa sangat terasa. Meja bergoyang dan air dalam gelas benar-benar terlihat bergerak-gerak. Gempanya hanya beberapa detik, tapi cukup membuat mual. Layanan telepon dan internet di Papua bahkan pernah putus total akibat gempa yang memutuskan jaringan fiber optic bawah laut. Kami pernah hidup dalam kondisi susah sinyal.

*****

TANGGAL 5 AGUSTUS 2018, saya sedang berada di depan laptop ketika berita soal gempa besar di Lombok melintas. Segera saya mengontak teman di Lombok di sebuah grup, dan dengan cepat kabar gempa itu diafirmasi. Seorang kawan yang kebetulan sedang berada di Lombok untuk sebuah tugas, memberikan informasi terkini. Hotel tempatnya menginap rusak cukup parah. Plafon kamar rubuh dan lantai sampai terangkat, pecah. Listrik padam total di seluruh kota Mataram.

“Wah, ini bukan gempa biasa,” kata saya dalam hati.

Ternyata memang benar. Gempa tanggal 5 Agustus bukan gempa biasa seperti yang saya rasakan di Jakarta tahun 2000 atau di Jayapura beberapa kali. Ini gempa yang cukup keras dan merusakkan banyak bangunan bahkan merenggut korban jiwa.

Dalam sekejap gempa itu mengubah wajah pulau Lombok. Orang-orang ketakutan, kehilangan tempat tinggal dan kehilangan orang-orang yang mereka sayangi. Rumah-rumah rusak parah dan tak bisa lagi ditempati. Ribuan orang terpaksa tidur di tenda-tenda pengungsian.

Lombok berduka.

Islamic Center di Mataram

Rasa sedih itu cukup terasa bagi saya. Dalam rentang dua tahun sejak 2015 hingga 2017,  delapan kali saya menyambangi pulau cantik itu. Sebagian besarnya untuk bekerja, tapi ada juga yang untuk berwisata. Di Lombok saya bertemu teman-teman baru, orang-orang baik yang selalu membantu meringankan pekerjaan saya dan selalu memberikan cerita yang menyenangkan. Singkatnya, Lombok begitu berkesan buat saya.

Lombok memberi kenangan tersendiri. Orang-orangnya ramah, alamnya cantik dan makanannya enak. Sampai rasanya tidak pernah bosan untuk kembali ke Lombok.

Baca Juga: 5 Alasan Untuk Berkunjung Ke Lombok

Bencana ini terasa cukup menyedihkan, mungkin karena adanya ikatan batin itu. Beberapa malam lalu, tanggal 19 Agustus 2018, gempa besar kembali terjadi di Lombok. Gempa sebesar 7 skala richter kembali mengguncang Lombok dan mendatangkan kekalutan buat warga yang sebagian masih di pengungsian. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya. Takut dan kalut.

Saya membayangkan, kena gempa yang tak seberapa besar saja dengan durasi yang tidak lama sudah cukup membuat saya mual, apalagi gempa besar dengan durasi sampai semenit. Rasanya pasti sangat menakutkan. Apalagi jika terjadi berulang-ulang. Sungguh tak terbayangkan bagaimana traumanya.

*****

DARI JAUH TIDAK ADA YANG BISA SAYA LAKUKAN kecuali menyisihkan rejeki untuk Lombok, dan tentu saja berdoa semoga Lombok cepat pulih. Semoga teman-teman di Lombok kuat dan tabah menghadapi bencana ini. Ujian berat, tapi saya yakin Lombok bisa melewatinya.

Semoga Lombok cepat pulih. Agar senyum-senyum ramah yang selalu saya temui ketika menginjakkan kaki di sana bisa kembali merekah. Aminn. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (3)

  1. Amin, Daeng. Semoga Lombok dan sekitarnya cepat pulih. 1992 gempa Flores juga menyisakan trauma bagi kami di Ende, Maumere, dan sekitarnya.

  2. Aamiin, semoga saja gempa ini cepat berlalu dan bagi yang tertimpa musibah ini, agar diberi kesabaran dan kekuatan menghadapinya.

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.