Cerita Ringan

Ramadan; Antara Makassar dan Jayapura

Ramadan; Antara Makassar dan Jayapura
Ilustrasi

Setelah 18 tahun, baru kali ini saya kembali merasakan Ramadan jauh dari rumah. Kalau dulu saya berpuasa di Bogor, maka kali ini saya berpuasa sebagai minoritas.

Tahun 2000 yang lalu saya untuk pertama kalinya melewati Ramadan di luar rumah, jauh dari orang tua (waktu itu masih jomblo). Tapi, waktu itu saya melewati Ramadan sebagai perantau di Cileungsi, Bogor. Tidak terlalu masalah karena ada ribuan orang di sekitar saya yang juga melewati Ramadan dengan berpuasa dan berbagai aktivitas khas Ramadan lainnya. Jauh dari rumah, tapi suasana lebaran tetap terasa.

Sekarang, suasananya agak berbeda.

Kali ini saya akan melewati Ramadan (sepertinya sebulan penuh) di Jayapura, ibukota Papua. Suasananya tentu saja sedikit berbeda, karena meski jumlah muslim di kota Jayapura cukup banyak tapi tetap saja kalah banyak dari penganut agama lain. Minoritas lah istilahnya.

Kondisi ini sudah terlihat di kantor tempat saya sekarang bekerja. Dari puluhan karyawan, setidaknya hanya ada empat karyawan yang muslim, dan tentu saja hanya kami berempat yang berpuasa di bulan Ramadan. Beruntung karena di dekat kantor ada masjid besar yang sekitarnya juga dihuni banyak muslim. Setidaknya suasana Ramadan dan sholat berjamaahnya masih terasa.

Di sekitar kosan saya juga suasana Ramadan masih lumayan terasa. Masih ada masjid tempat muslim bisa sholat berjamaan atau bahkan buka bersama. Tapi, tetap saja ada berbeda dengan suasana puasa di Makassar.

Apa saja yang berbeda? Berikut perbedaan yang saya rasakan.

Tidak Ada Ribut-Ribut Menjelang Sahur.

Di Makassar, setiap jam dua dini hari masjid dekat rumah pasti akan mulai ramai dengan teriakan “sahur”. Meski tidak terlalu ramai lengkap dengan tabuhan atau bahkan orkes, tapi suara dari masjid itu lumayan membangunkan warga untuk siap-siap menghidangkan sahur.

Di sini, teriakan seperti itu tidak saya temukan. Khususnya di masjid sebelah kos saya. Tidak ada teriakan “sahur” di jam dua dini hari. Apalagi tabuh-tabuhan yang dibawa anak muda keliling kompleks. Suasananya hening seperti suasana hari-hari biasa.

Hal ini tentu saja bisa dimengerti mengingat lingkungan sekitar lebih banyak dihuni non Muslim yang tidak wajib berpuasa. Membangunkan sahur lewat pelantang masjid tentu akan membuat mereka terganggu.

Warung Makan Yang Tetap Buka Seperti Biasa.

Salah satu perdebatan yang hadir setiap Ramadan di Indonesia adalah: etiskah kalau warung makan tetap buka di siang hari di bulan Ramadan? Perdebatannya biasanya meramaikan media sosial, lengkap dengan segala nyinyir-nyinyirannya.

Nah di Jayapura perdebatan itu tidak perlu ada. Beberapa warung makan memang tutup di siang hari di hari pertama Ramadan. Tapi, di hari kedua mereka sudah kembali buka seperti biasa. Tidak ada bedanya dengan hari lain di luar Ramadan.

Kenapa mereka tetap buka seperti biasa? Ya tentu saja karena di Jayapura – atau Abepura tempat saya tinggal – warga yang non Muslim lebih banyak. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa, butuh makan dan minum di siang hari. Jadi wajar kalau warung makan juga tetap buka seperti biasa.

Selain warung makan, pemandangan orang yang lalu lalang dengan sirih pinang di mulut atau rokok yang mengepul juga bukan pemandangan yang aneh. Biasa saja. Pemandangan ini tentu saja agak berbeda dengan pemandangan di Makassar. Setiap Ramadan datang, setidaknya mereka yang tidak berpuasa akan sedikit menahan diri untuk tidak makan, minum atau merokok secara terang-terangan.

Untungnya di sore hari, penjaja menu buka puasa tetap mudah ditemukan. Variannya pun cukup banyak, dari kolak, es buah sampai makanan khas Bugis-Makassar seperti jalangkote, pisang ijo dan barongko.

Penjaja menu buka puasa di Abepura

Masjid Yang Lebih Sepi di Malam Hari.

Sepi yang saya maksud di sini bukan sepi oleh jamaah, tapi suasana yang sepi. Jamaah pastilah bertambah, namanya juga Ramadan hari-hari pertama. Jamaah masih membludak karena godaan belum terlalu besar.

Tapi bedanya dengan di Makassar, masjid di sini – minimal masjid di dekat kosan saya – tidak diramaikan dengan pedagang kagetan yang menjual dagangan mereka di depan masjid. Di Makassar, pemandangan halaman masjid berubah seperti pasar malam setiap malam Ramadan adalah pemandangan biasa. Beragam pedagang ada di sana. Dari makanan dan minuman ringan sampai asesoris untuk beribadah. Kadang ada juga yang dengan kurang ajarnya menjajakan petasan.

Halaman masjid juga kadang jadi tempat meet up yang paling pas buat anak-anak. Mereka berlarian, saling teriak, bercanda sampai saling goda di halaman masjid. Kadang bahkan ketika sholat sudah berlangsung, mereka tetap riuh. Suasana ini hampir tidak ada di masjid dekat kosan saya.

Balap Liar dan Perang Kelompok.

Oke, ini sebenarnya memang kebiasaan yang tidak baik. Tapi dua kebiasaan ini hampir menjadi tradisi bulanan di Makassar. Selepas sholat subuh atau menjelang buka puasa biasanya menjadi waktu ketika anak-anak muda yang butuh eksistensi itu menjadikan jalanan sebagai sirkuit mereka. Semakin banyak yang menonton semakin membuncah rasa bangga mereka. Kelihatan keren, padahal sebenarnya membahayakan diri mereka dan orang lain.

Di beberapa tempat di Makassar, perang kelompok juga seakan jadi tradisi. Tempat-tempat seperti Bara-barayya, Pampang dan Maccini adalah tempat yang paling sering jadi arena perang kelompok di bulan Ramadan. Pemicunya macam-macam tapi biasanya sepele.

Untungnya belakangan ini perang kelompok seperti itu eskalasinya sudah jauh lebih menurun.

Berpuasa Bersama Teman.

Sebagai penutup, ini kebiasaan puasa di Makassar yang tidak saya temukan di Jayapura. Seperti yang saya bilang tadi, di kantor sendiri hanya ada empat orang muslim yang rumahnya berjauhan jadi agak susah untuk dibilang berpuasa bersama.

Ini tentu saja berbeda dengan suasana di Makassar. Meski kadang-kadang saya juga puasa bersama, tapi setidaknya ada waktu ketika saya sahur dan buka bersama istri, atau pernah juga sahur bersama teman-teman dan buka bersama teman-teman.

Saya bukan seorang yang senang buka puasa di luar rumah. Kalau bisa memilih, saya lebih senang buka puasa di rumah sendiri. Kadang-kadang saja saya buka puasa di luar kalau memang ada yang mengundang, utamanya kalau buka puasa di rumah teman. Sesuatu yang sepertinya tidak akan saya dapatkan selama saya di Jayapura.

Begitulah, jauh dari kampung, jauh dari keluarga, jauh dari teman adalah tantangan tersendiri di puasa kali ini. Apalagi rencananya saya akan turun ke beberapa kabupaten di bulan Ramadan ini. Suasananya tentu akan lebih berbeda dibanding puasa di Jayapura. Kalau memang jadi, akan saya ceritakan ya.

Sampai hari ini Alhamdulillah puasa saya lancar saja meski suasananya berbeda. Semoga kalian juga puasanya lancar. Selamat berpuasa ya teman-teman! [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (4)

  1. wah, selamat berpuasa ya daeng.
    semoga lancar dan ga kelupaan makan siang di warung yang tetap buka di sana 😀
    tapi enak daeng, walau puasa di Jayapura tetap bisa berbuka dengan makanan Makassar.
    sebentar lagi Lebaran, semangats terus ya!

    btw saya baru mampir ke blog daeng lagi, ternyata profile picturenya ganti 😀

  2. Jual petasan di area masjid memang kurang ajar, tapi lebih kurang ajar lagi kalau nanti dekat-dekat lebaran. Waktu tarawih Sudah ramai bunyi petasan

  3. Mantap Daeng. Masih terbayang suasana kota Jayapura waktu tinggal disana 22 tahun yang lalu. Saya yakin sudah jauh berubah… 🙂

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.