Nak, Hidup-hidupilah Hutan Mangrove

Hidup-hidupilah Hutan Mangrove

Hidup-hidupilah Hutan Mangrove

Teruntuk embun pagi pembuka kesenangan dan pria yang wawasannya terus bertambah,

Nak, kalian tahu tanggal 23 Juli diperingati sebagai hari apa?

Kalau belum tahu, Ayah kasih tahu ya. 23 Juli setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Iya, hari kalian, anak-anak yang masih penuh dengan keceriaan. Selamat Hari Anak Nasional ya nak, tetaplah ceria, tetaplah bermain, tak usah terlalu kalian pikirkan beragam pikiran dewasa yang kadang sudah dipenuhi iri, dengki dan kebencian.

Anak-anakku, kalian tahu tidak?

Kemarin, di tanggal 23 Juli 2016 Ayah dan puluhan fotografer serta blogger diajak jalan-jalan ke pulau Pannikiang di Barru. Adalah Blue Forests yang mengajak kami ke sana. Kakak-kakak dan om-tante yang kerja di Blue Forests adalah orang-orang yang sangat mencintai mangrove. Mereka berjuang keras untuk menjaga, merawat dan menanam kembali tanaman darat yang tumbuh di pesisir pantai itu.

Ayah bersama teman-teman blogger Makassar

Ayah bersama teman-teman blogger Makassar

Oh ya, kalian tahu mangrove? Kalian mungkin belum pernah melihatnya. Jadi ayah jelaskan ya, mangrove itu adalah pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di pesisir pantai. Biasanya berada di antara pertemuan sungai dan air laut. Mangrove bisa hidup meski kadang kala sebagian tubuh mereka terendam air, asal tidak terus-terusan terendam tentu saja. Kasihan, mereka bisa megap-megap. Makanya mereka hanya bisa tumbuh di daerah yang 30% terendam dan 70% kering.

Dulu Ayah mengira bakau adalah terjemahan dari mangrove, atau orang Makassar menyebutnya bangkoa, sementara orang Bugis menyebutnya bakko’. Eh, ternyata Ayah salah nak. Bakau itu hanya salah satu jenis mangrove, bukan semua mangrove otomatis adalah bakau.

Jadi konon di dunia ini, Indonesia adalah pemilik hutan mangrove terbesar. Luasnya pernah mencapai 4.000.000 Ha. Sayangnya jumlah itu terus menurun hingga hanya tersisa 2 jutaan Ha saja saat ini. Indonesia juga punya jenis mangrove terbanyak, katanya ada 43 jenis. dari 43 jenis itu, 17 di antaranya ada di pulau Pannikiang yang kami datangi. Wah, banyak benar ya?

Pulau Pannikiang

Pulau Pannikiang

Anak-anakku yang kuharap selalu riang dan gembira,

Ayah sempat bertemu dengan bapak Kepala Dusun Pannikiang. Namanya bapak Abu Nawar, beliau lahir tahun 1957 yang berarti umurnya sudah 59 tahun. Bapak yang masih tegap dan agak gagap berbahasa Indonesia ini adalah penduduk asli pulau Pannikiang. Dari beliau kami mendengar cerita asal mula pulau seluas lebih kurang 90,45 Ha ini.

Beliau menceritakan sejarah pulau Pannikiang yang berawal dari timbunan pasir sebelum akhirnya ditumbuhi hutan mangrove. Lalu datanglah kelelawar atau dalam bahasa Bugis disebut panniki. Itulah asal mula nama pulau Panniki. Manusia baru datang belakangan, awalnya dari para pencari ikan yang mampir di pulau itu.

Kata pak Abu Nawar, pulau itu dihuni sekira 70 jiwa dengan 26 kepala keluarga (KK). Ada pula rumah-rumah yang dibuat pencari ikan dari Mandar. Mereka hanya datang ketika musim barat tiba. Ah iya, pak Abu Nawar ini keren nak! Dia rajin sekali menanam mangrove di pulau Pannikiang.

Embun pagi dan mentari pagiku,

Nah, Ayah kasih tahu ya. Mangrove itu sangat banyak gunanya, baik secara ekologi, ekonomi maupun sosial. Mangrove itu adalah penahan abrasi laut yang paling oke nak, mereka bisa menahan gelombang lautan yang bisa menggerus daratan. Selain itu mangrove juga mampu menyaring sifat asin air laut dengan akar-akarnya. Makanya, air yang ada di dekat hutan mangrove pasti lebih tawar dan tentu saja lebih aman untuk dikonsumsi.

Cuma itukah gunanya mangrove? Oh tentu tidak nak.

Kalian tahu, mangrove itu bisa menyerap karbon lima kali lebih kuat dari hutan-hutan di daratan. Luar biasa kan? Bayangkan betapa besar jasa mereka untuk memurnikan oksigen yang kita hirup setiap hari. Terus, daun-daun dari beberapa jenis mangrove juga bisa dijadikan obat dan ada juga buah mangrove yang bisa dijadikan kue.

Eits tunggu, masih ada lagi gunanya hutan mangrove nak. Hutan mangrove jadi habitat banyak sekali hewan-hewan. Selain kelelawar seperti di Pannikiang, mangrove juga menampung banyak sekali burung yang memilihnya sebagai habitat mereka.

Di Pannikiang, kepiting-kepiting juga hidup dengan riang gembira di bawah hutan mangrove. Itu karena mangrove juga menyediakan banyak sekali nutrisi buat kepiting. Ah, betapa senangnya mereka.

Fungsi hutan mangrove

Fungsi hutan mangrove

Anak-anakku yang manis dan penurut,

Sayang memang, jumlah hutan mangrove di Indonesia terus menurun. Katanya setiap tahun ada 52,000 Ha hutan mangrove yang hilang di Indonesia. Hiyyy, ngeri ya? Angka itu terjadi karena banyak faktor, tapi eksploitasi manusia jadi penyebab utama. Banyak hutan mangrove yang diubah menjadi tambak atau ditimbun untuk dijadikan apartemen, hotel atau perumahan.

Pemerintah memang selalu mencanangkan program penanaman kembali mangrove di banyak tempat. Namanya rehabilitasi mangrove. Tapi, ya begitu deh. Sebagian besar program itu hanya sekadar program tanpa landasan penelitian atau kajian yang memadai. Kata kak Suwardi dari Blue Forests, usaha pemerintah itu kebanyakan akhirnya gagal. Penyebabnya apa coba? Banyak usaha penanaman yang dilakukan a la kadarnya. Asal tanam tanpa menimbang jenis yang cocok di lahan tertentu atau bahkan banyak yang ditanam di atas genangan air. Padahal kan mangrove itu sejatinya adalah tanaman darat yang tumbuh di pesisir, artinya dia tidak bisa hidup kalau sepanjang tahun terendam terus.

Rehabilitasi mangrove di desa Bawa Soa yang tidak berhasil

Rehabilitasi mangrove di desa Bawa Soa yang tidak berhasil

Begitulah nak, banyak proyek yang memang akan berakhir sekadar kegiatan, foto, laporkan dan dana cair. Kelak ketika dewasa mudah-mudahan kamu tidak termasuk dalam bagian itu.

Ayah kasih tahu ya nak, di Sulawesi Selatan ada banyak sekali hutan mangrove yang berubah fungsi menjadi tambak ikan atau udang. Kata ibu Ratna Fadilah dari Blue Forests juga, tahun 1970an SulSel punya 200an ribu Ha hutan mangrove, sekarang tersisa sekitar 70an ribu Ha saja. Duh, jauh sekali ya nak? Sebagian besar memang berubah jadi tambak. Padahal, bekas hutan mangrove yang diubah jadi tambak itu tidak bisa bertahan lama, paling lama hanya lima tahun. Mungkin karena sisa tanaman mangrove itu memang tidak cocok buat tempat hidup ikan atau udang.

Nah setelah lima tahun itu, tambak yang dulunya hutan mangrove itu kemudian dibiarkan terlantar begitu saja. Inilah yang oleh kakak-kakak dan om-tante dari Blue Forests berusaha untuk diubah kembali menjadi hutan mangrove.

Fakta Mangrove

Fakta Mangrove

Kami juga sempat bertemu dengan kak Musriadi. Kakak ini yang bercerita banyak tentang proses pengembalian bekas tambak menjadi hutan mangrove. Memang susah nak, tidak mudah dan tidak asal tanam seperti yang dilakukan pemerintah. Prosesnya panjang, dari mulai diskusi dengan warga, analisa lapangan, pembuatan jalur air yang natural, penanaman sampai tentu saja monitoring dan evaluasi. Benar-benar tidak asal tanam, foto lalu laporkan. Dua jempol buat kerja keras mereka nak.

Kalau kata pak Abdul Kadir, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barru yang menyambut kami di acara pembukaan; percuma infrastruktur bagus kalau kita terus terancam bencana. Betul juga ya nak? Percuma kita punya jalanan bagus, gedung mewah tapi tidak punya mangrove yang membuat kita sebenarnya rentan terancam bencana. Pola pikir yang harus diubah, biar semua sadar pentingnya mangrove.

Mangrove di pulau Pannikiang, masih sehat dan lebat

Mangrove di pulau Pannikiang, masih sehat dan lebat

Anak-anakku, pelita kehidupanku.

Kita mungkin tidak bisa seperti kakak-kakak dan om-tante di Blue Forests, atau seperti bapak Abu Nawar. Tapi, kita juga bisa terus menyuarakan pentingnya mangrove bagi bumi kita. Ceritakan pada teman-temanmu, juga pada anak-anakmu kelak. Jangan sampai mangrove benar-benar hilang dari bumi kita.

Nak, selamat Hari Anak Nasional. Nikmati masa kanak-kanakmu selagi kalian memang masih kanak-kanak. Tapi jangan lupa, 26 Juli akan ada Hari Mangrove Internasional. Hari untuk memupuk kecintaan dan kepedulian pada mangrove, tanaman yang memberi keuntungan berlimpah untuk bumi dan kita manusia yang hidup di atasnya. Meminjam ucapan KH. Ahmad Dahlan, Ayah mau menitip pesan sekali lagi; hidup-hidupilah hutan mangrove.

Peluk cium selalu, untuk kalian anak-anak yang luar biasa. [dG]

Video perjalanan kami kemarin ke Pulau Pannikiang

About The Author

Add Comment

Isi dulu ya, buktikan kalau Anda manusia *

%d bloggers like this: