Agar Gambut Tak Bikin Kalut

Area gambut di Jambi. Sisa-sisa kebakaran hutan 2015 masih terlihat jelas

Sebuah kisah tentang gambut yang sempat bikin kalut di tahun 2015.

“Wah saya ingat betul waktu itu. Parah, kita sampai tidak bisa keluar rumah. Pokoknya di dalam rumah saja, itupun AC harus nyala terus,” kata Bang Fiko, seorang bloger asal Pekanbaru yang saya temui tiga bulan lalu.

Waktu itu kami sedang bertukar cerita tentang kebakaran hutan dahsyat yang melanda Riau di tahun 2015. Kebakaran itu tercatat sebagai salah satu kebakaran hutan terbesar di Indonesia. Bukan hanya Riau, tapi juga berbagai provinsi lain di Sumatra, Kalimantan hingga beberapa di Sulawesi Barat dan Papua.

Dari website Pantau Gambut, saya beroleh data kalau kebakaran itu sampai menyebabkan kerugian hingga Rp. 220 triliun. Jumlah yang cukup wow! Bayangkan berapa banyak bangunan sekolah yang bisa dibangun dari jumlah sebanyak itu. Eh tapi bukan itu saja, kebakaran itu juga menyebabkan terganggunya kegiatan pendidikan, terganggunya kesehatan warga sampai ada yang meninggal dunia pula. Hal yang juga cukup menyedihkan adalah hilangnya keanekaragaman hayati di lokasi kebakaran tersebut.

Kebakaran besar tahun 2015 itu 52%-nya adalah lahan lahan gambut. Total kerusakan lahan gambut diperkirakan mencapai angka 2,3 juta hektar (menurut dari dari Badan Restorasi Gambut). Luas itu hampir sama dengan 32 kali luas Jakarta. Wakwaoo! Terbayang kan betapa luasnya lahan gambut yang terbakar itu?

Sisa-sisa kebakaran hutan 2015. Masih terlihat di awal tahun 2017

Penyebab terbakarnya lahan itu – termasuk lahan gambut – sebagian besar adalah pola pembukaan lahan yang tidak bertanggungjawab. Lahan dibakar begitu saja demi menghemat waktu dan biaya. Sayangnya, kualitas lahan gambut sudah tidak seperti dulu lagi.

Dulu, api bisa cepat padam karena tingkat kebasahan lahan gambut masih tinggi. Kadar airnya masih banyak. Namun, dengan banyaknya alih fungsi lahan gambut dan pembuatan kanal yang berpengaruh terhadap tingkat kebasahan lahan, akhirnya lahan gambut jadi lebih kering. Api pun tak lagi mudah padam.

Parahnya lagi karena lahan gambut itu isinya kebanyakan bahan organik. Bara api seperti tersembunyi di bagian bawah. Persis seperti api dalam sekam. Disiram di bagian atas, tapi di bagian bawah baranya masih ada, siap menyala kapan saja. Ini juga yang jadi hambatan sulitnya memadamkan api di lahan gambut.

Apa Itu Lahan Gambut?

Tunggu, sebelum bercerita lebih jauh saya ingin memulai dengan memperkenalkan tentang lahan gambut dulu.

Sebagai orang Sulawesi, saya tentu saja tidak terlalu akrab dengan lahan gambut. Seumur hidup saya tidak akrab dengan yang namaya lahan gambut, sampai akhirnya Yayasan BaKTI – tempat saya bermitra sekarang – membawa saya ke lahan gambut di Jambi dan Riau. Salah satu kegiatan Yayasan BaKTI memang mendokumentasikan beberapa usaha merestorasi lahan gambut di beberapa daerah.

Dari situ juga saya akhirnya mengenal apa itu gambut.

Jadi singkatnya begini. Lahan gambut itu adalah jenis tanah yang terbentuk oleh penimbunan bahan organik sejak ribuan tahun lalu. Batang pohon, rumput atau tanaman-tanaman itu tertimbun di tanah dan terhambat proses pembusukannya. Inilah alasan kenapa lahan gambut itu jadi lebih basah dan lembek dibanding jenis tanah lain misalnya.

Dalam bahasa Inggris, lahan gambut disebut peat land. Kata gambut sendiri berasal dari bahasa Banjar, salah satu suku yang hidup di pulau Kalimantan.

Rata-rata timbunan bahan organik yang bersifat basah dan asam ini adalah 30%, namun di Indonesia lahan gambutnya bisa mencapai tingkat kebasahan dan keasaman 60%. Karena tingkat keasaman itu pula sungai-sungai yang mengalir di lahan gambut rata-rata airnya berwarna hitam. Tapi jangan salah, meski berwarna hitam tapi sungai-sungai itu jadi ekosistem bagi banyak hewan air tawar utamanya ikan.

Air di lahan gambut memang berwarna hitam, tapi menjadi ekosistem penting bagi banyak mahluk hidup

Lahan gambut sendiri punya banyak sekali kegunaan. Gambut berperan penting menyerap 75% karbon di bumi. Di beberapa negara maju, mereka bahkan bisa mengolah energi yang tersimpan di dalam gambut itu menjadi energi listrik.

Indonesia adalah pemilik lahan gambut nomor empat di dunia, tapi di antara negara tropis Indonesia adalah pemilik lahan gambut terbesar. Totalnya diperkirakan seluas 14.9 juta Ha atau hampir sama dengan luas Jerman, Perancis, Polandia, Belanda dan Belgia sekaligus. Luas sekali bok!

Gambut Indonesia berada di tiga pulau besar, yaitu; Sumatra, Kalimantan dan Papua. Bila digabungkan dengan gambut dalam skala kecil di pulau lainnya, luasnya diprediksi mencapai angka 15 juta hektar.

Pentingnya lahan gambut. Sumber: YouTube Pramana Adi Samudra

Kualitas lahan gambut Indonesia memang terus menurun. Pembukaan lahan yang terlalu agresif dengan skala massif membuat kualitas lahan gambut terus menurun. Ini berpengaruh terhadap kesuburan lahan gambut dan juga lingkungan sekitarnya. Pembukaan lahan besar-besaran itu ditambah dengan pembuatan kanal yang melintasi lahan gambut. Kanal-kanal ini digunakan untuk memudahkan megangkut hasil perkebunan. Sayangnya, kanal ini justru membuat kualitas air lahan gambut terus menurun. Lahan gambut jadi lebih kering dan terganggu fungsinya.

“Terasa betul pak perubahannya sekarang. Tanah kami jadi tidak sesubur dulu, lebih gampang kering. Tanaman juga jadi lebih lama dipanen,” kata Antoni, warga Desa Sogo, Kecamatan Kumpeh, Muaro Jambi. Bersama rombongan dari BRG, saya menemui Anton di rumahnya, sekitar bulan Februari 2017 lalu.

Oh iya, kalau mau mengenalkan tentang gambut kepada anak kecil, video yang dibuat oleh Yayasan BaKTI ini bagus sekali. Dikemas dengan model animasi dan pas buat anak kecil:

Merestorasi Gambut.

Seperti yang ditulis di atas, kebakaran hutan yang juga merusak lahan gambut itu membawa korban dan kerugian yang cukup besar. Karenanya pemerintah Indonesia buru-buru mengambil langkah untuk mengembalikan kualitas gambut Indonesia, sekaligus mencegah agar kebakaran dahsyat seperti tahun 2015 tidak terjadi lagi.

Awal tahun 2016 lewat Peraturan Presiden No. 01/2016, dibentuklah badan setingkat menteri yang diberinama Badan Restorasi Gambut (BRG). BRG diserahi tugas dan tanggung jawab merestorasi gambut di tujuh provinsi. Targetnya sampai tahun 2020, BRG akan bisa merestorasi lahan gambut seluas 2 juta hektar.

Target yang begitu besar dengan jangka waktu yang singkat itu tentu membuat BRG tidak bisa bekerja sendirian. Hal ini diakui oleh Alue Dohong, Deputi Konstruksi, Pembasahan, Operasional, dan Pemeliharaan dalam sebuah acara pertemuan di Jambi, 27 Feb 2017 lalu. BRG membuka ruang seluas-luasnya untuk siapa saja yang punya niat bekerjasama merestorasi lahan gambut.

Infografis tentang lahan gambut Indonesia

Tawaran BRG disambut banyak pihak. Dari NGO, perusahaan swasta hingga masyarakat yang hidup di sekitar lahan gambut. Apalagi lahan gambut di Indonesia memang tidak semuanya milik pemerintah. Sebagian ada juga yang milik warga, dan ada juga yang masuk ke dalam wilayah konsesi dengan perusahaan swasta. Itulah kenapa BRG merasa penting untuk mengajak semua pihak bekerjasama.

Usaha merestorasi sebenarnya sudah berjalan sebelum adanya BRG, namun semua berjalan sendiri-sendiri dan seperti tidak terkoordinasi. Beberapa kebijakan seperti berjalan tumpang tindih, apalagi karena tidak atau belum ada pemetaan yang jelas tentang lahan yang akan direstorasi.

“Kita sebenarnya sudah bekerja bersama-sama, tapi kita belum sampai pada tahap bekerjasama,” kata Susilo, Ketua Kelompok Kerja BRG wilayah Sumatera menanggapi beragam upaya restorasi lahan gambut selama ini.

Ada beragam cara untuk merestorasi lahan gambut, salah satunya adalah dengan membuat sekat kanal. Secara singkat sekat kanal ini adalah upaya membendung aliran sungai di sekitar lahan gambut agar airnya masuk ke dalam lahan gambut. Diharapkan upaya ini bisa mengembalikan tingkat kebasahan lahan gambut tersebut. Kalau lahan gambut basah, fungsinya bisa kembali.

Kanal seperti inilah yang akan disekat untuk mengembalikan tingkat kebasahan lahan gambut

Beberapa warga yang saya temui di sekitar lahan gambut di Jambi mengaku siap membantu usaha restorasi itu. Mereka sadar, kalau tidak direstorasi maka kualitas gambut mereka akan terus menurut dan akhirnya akan membuat mereka kalut juga. Mereka juga masih belum bisa menghapus ingatan dahsyatnya kebakaran hutan di tahun 2015 lalu yang membuat mereka menderita.

“Makanya, kami senang sekali kalau bisa dilibatkan (dalam usaha restorasi lahan gambut) pak,” kata Antoni, warga Jambi.

Warga yang menanam Jelutung untuk mengembalikan kondisi lahan gambut di Jambi

Bukan Cuma Sekat Kanal

Restorasi lahan gambut sebenarnya bukan hanya sekat kanal seperti yang disebut di atas. Di beberapa daerah juga ada usaha dari LSM lokal untuk mendampingi warga. Mereka memberi pengetahuan kepada warga agar bisa bertani atau berkebun di lahan gambut, tentu dengan cara yang aman dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan warga tentang pentingnya lahan gambut, diharapkan gambut bisa tetap terjaga tapi warga pun bisa merasakan manfaatnya. Ini penting, karena warga tidak bisa hanya disuruh menjaga tapi mereka tidak merasa ada keuntungan, bahkan selalu saja disalahkan setiap ada kebakaran hutan.

Usaha restorasi lahan gambut oleh BRG

Dari presentasi Deputi Konstruksi, Pembasahan, Operasional, dan Pemeliharaan BRG, dijelaskan kalau strategi restorasi lahan gambut itu ada tiga langkah.

Pertama, pembasahan kembali lahan gambut (rewetting) dengan cara canal blocking atau sekat kanal tadi. Cara lainnya adalah penimbunan kanal dan pembuatan sumur bor.

Langkah kedua, penanaman kembali atau revegetasi. Langkah penanaman kembali ini terdiri dari tiga tahap; penyemaian dan pembibitan, penanaman serta regenerasi alami.

Langkah ketiga, penguatan kesejahteraan masyarakat lokal yang meliputi penanaman pohon yang bernilai ekonomis, perikanan dan/atau eco tourism. Ini dianggap sebagai tahapan penting. Kenapa? Karena warga adalah orang-orang yang sehari-harinya tinggal di kawasan atau sekitar kawasan gambut. Mereka jadi tulang punggung untuk menjaga lahan gambut tersebut. Kalau mereka tidak dilibatkan, bisa-bisa semua usaha restorasi itu hanya jadi usaha sia-sia yang tidak berumur panjang. Dengan mendorong pertumbuhan kesejahteraan warga di sekitar kawasan gambut, mereka pasti akan dengan sukarela menjaga lahan gambut. Toh, mereka juga merasakan manfaatnya.

Tanaman jelutung yang ditanam di lahan gambut sebagai upaya untuk penanaman kembali sekaligus memberi manfaat ekonomi

Film dokumenter di bawah ini menunjukkan upaya warga yang didampingi oleh NGO di Jambi untuk merestorasi lahan gambut.

Film dokumenter tentang usaha restorasi lahan gambut di Jambi. Sumber: YouTube Yayasan BaKTI

Bagaimanapun peran serta warga juga harus didorong, bukan? Semua harus berusaha menjaga gambut, ini bukan hanya tugas pemerintah. Buat yang jauh dari lahan gambut, salah satuya bisa sering-sering mengintip kegiatanr restorasi gambut di situs pantaugambut.id.

Kalau semua pihak sudah bisa bekerjasama, maka yakinlah kalau kelak gambut tak lagi membuat kalut seperti tahun 2015 lalu. Toh kalau gambutnya aman, kita semua yang senang. Bukan begitu saudara-saudara? [dG]

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba #PantauGambut.

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

16 Comments

  1. tari
    20/07/2017
    • Daeng Ipul
      21/07/2017
  2. Hasymi
    20/07/2017
    • Daeng Ipul
      21/07/2017
  3. Nanie
    20/07/2017
    • Daeng Ipul
      21/07/2017
  4. Iyan
    20/07/2017
    • Daeng Ipul
      20/07/2017
  5. Lelakibugis
    20/07/2017
    • Daeng Ipul
      20/07/2017
  6. deddyhuang.com
    20/07/2017
    • Daeng Ipul
      20/07/2017
  7. Kang Alee
    21/07/2017
  8. Agus Daud
    21/07/2017
    • Daeng Ipul
      21/07/2017

Add Comment