Cerita Ringan

Kenapa Saya Memilih Cangklong?

cangklong
Mencangklong

PERINGATAN: Artikel ini bukan untuk mereka yang berusia di bawah 18 tahun atau yang anti rokok.

SEBENARNYA SUDAH BERBULAN-BULAN saya penasaran dengan pipa cangklong. Pasalnya, seorang kawan sudah mulai jadi cangklonger – sebutan tidak resmi untuk mereka yang merokok menggunakan pipa cangklong. Aktivitas si kawan ini kadang menarik perhatian saya, sesekali saya meminjam pipanya dan mencoba aktivitas mencangklong. Tapi cuma sebatas itu, tidak sampai keterusan apalagi memilih jadi cangklonger.

Lalu akhir bulan November kemarin, selama 13 hari saya dan si kawan itu melintasi Jambi hingga ke Padang, Sumatra Barat. Hampir setiap malam kami sekamar dan saya semakin dekat melihat aktivitasnya mencangklong. Kawan yang sebut saja namanya Iqbal itu bahkan memberikan satu pipanya ke saya, seperti menarik saya ke dalam pusaran cangklonger.

Selama hampir dua minggu itu pula saya mulai belajar mencangklong. Mencoba beragam tembakau, memasukkannya ke mangkuk cangklong, membakar, sampai menghabiskannya. Tapi selama itu pula saya baru jadi penikmat cangklong yang numpang tembakau orang, belum beli sendiri.

Barulah beberapa minggu kemudian saya seperti meresmikan diri menjadi seorang cangklonger ketika saya akhirnya membeli sendiri tembakau dan alat cangklong yang dibutuhkan. Belakangan saya malah membeli satu lagi pipa dari Iqbal. Sejak saat itu resmilah saya menjadi salah seorang cangklonger.

Baca juga: Menjadi Perokok Bermartabat, Mungkinkah?

Tapi sebenarnnya apa yang membuat saya akhirnya jatuh cinta pada praktik menikmati tembakau yang berasal dari kebiasaan suku asli Amerika ini? Berikut beberapa alasan saya:

Rasa dan Aroma Yang Lebih Beragam

Kalau mengisap rokok biasa, rasa yang akan kita dapatkan dari satu merek rokok sebenarnya sama saja. Kalaupun ada perbedaannya, itu tidak seberapa. Tapi, menikmati tembakau dengan cangklong, sensasi rasa yang didapat akan lebih beragam.

Faktor utama tentu saja adalah tembakaunya sendiri. Ada banyak varian tembakau yang memang dibuat khusus buat pipa cangklong. Sebagai cangklonger pemula saya belum tahu betul jenis-jenis tembakaunya, tapi dari beberapa jenis yang sudah saya coba ada satu hal yang paling terasa: tembakau cangklong lebih enak.

Enak, baik itu rasanya maupun aromanya. Beberapa tembakau disiapkan dengan aroma yang menggoda seperti aroma kopi, coklat atau bahkan aroma buah. Saya punya satu tembakau yang aromanya menyerupai jeruk. Rasanya? Hmmm, enak bos!

Faktor lain yang juga memengaruhi rasa adalah tentu saja pipa cangklongnya sendiri. Pipa yang baik katanya salah satunya berasal dari bahan briar, jenis kayu empat musim yang tumbuh di daratan Eropa dan Amerika Utara. Jenis kayu ini tidak memengaruhi rasa karena tahan panas dan tidak ikut terbakar bersama tembakau.

Itu baru jenis kayunya, belum jenis stem atau bagian yang menghubungkan bowl (mangkuk tempat menaruh tembakau) dengan bibir penikmatnya. Stem ini juga beragam bentuk dan bahannya, lain bentuk dan bahan tentu lain juga sensasi rasanya ketika mengisap tembakau yang ada di dalam bowl.

Faktor-faktor ini sulit ditemukan pada rokok biasa. Kerumitan cangklong memang jauh di atas merokok yang cenderung praktis.

Foto Albert Einstein Tahun 1940 di Princeton sedang menikmati pipanya sambil belajar — Image by © Lucien Aigner/CORBIS

Lebih Rumit Tapi Asyik

Menikmati tembakau dengan cara mencangklong memang jauh lebih rumit daripada merokok biasa. Semua dimulai dengan teknik mengisi bowl yang butuh latihan dan kebiasaan. Terlalu padat maka udara di dalam bowl akan sulit berputar, akibatnya api dalam cangklong akan mati dengan sendirinya. Terlalu renggang juga tidak bagus karena rasa tembakau yang sebenarnya jadi hilang, kita hanya akan lebih banyak mengisap angin.

Selama proses mencangklong, kita juga akan dipaksa untuk melakukan pemadatan menggunakan alat khusus yang disebut tamper. Pemadatan ini gunanya agar api dalam bowl terus menyala dan kita bisa terus merasakan kenikmatan tembakaunya. Ketika terjadi pembakaran tentu akan ada ruang yang kosong, nah di sinilah perlunya pemadatan dilakukan.

Teknik pemadatannya juga butuh latihan. Saya sampai harus mencoba berkali-kali sebelum menemukan tekanan yang tepat ke dalam bowl agar api terus menyala. Awalnya ya seperti lazimnya cangklonger pemula, api akan banyak matinya karena saya terlalu keras menekam tamper.

Sekarang lumayanlah, meski sesekali masih harus menggunakan korek api tapi setidaknya frekuensinya berkurang jauh dibanding waktu masih baru.

Ketika mengisap tembakau pun ternyata ada tekniknya juga. Terlalu agresif akan membuat bowl cangklong menjadi sangat panas dan tentunya mengurangi rasa tembakau yang dibakar. Terlalu jarang mengisap, api dalam bowl akan mati dengan sendirinya dan terpaksa harus dinyalakan lagi. Jadi frekuensi mengisap tembakau memang harus dijaga, jangan terlalu agresif tapi juga jangan terlalu sabar.

Terus, mengisap tembakau cangklong beda dengan mengisap rokok. Bila mengisap rokok berarti mengisap dalam-dalam, maka mengisap cangklong cukup sampai di mulut saja. Istilahnya dikumur. Sebenarnya tidak tepat kalau dibilang hanya di mulut saja, ada juga bagian asap tembakau yang masuk tapi tidak sedalam mengisap rokok. Kesalahan cangklonger pemula biasanya mengisap tembakau cangklong seperti mengisap rokok, ini akan membuat kita tersedak dan batuk-batuk.

Baca juga: Merokok Itu Tidak Keren!

Setelah prosesi mencangklong selesai, masih ada satu prosesi lain yang tidak kalah pentingnya yaitu membersihkan cangklong. Ini penting untuk tetap menjaga kualitas cangklong yang digunakan. Ada beberapa alat lagi yang jadi bagian penting dari prosesi membersihkan pipa ini.

Jadi? Sudah terbayangkan kan ribetnya? Beda dengan rokok yang tinggal dikeluarkan dari bungkus, bakar, isap dan buang puntungnya.

Tapi proses yang ribet dan rumit inilah yang buat saya menarik. Mungkin ini seperti perbandingan antara fast food dan slow food.

Kerumitan dari mencangklong dimulai dari alat-alat ini

Lebih Hemat

Untuk bagian ini rasanya memang relatif, bisa ya bisa tidak. Saya membuktikan sendiri dengan jumlah pengeluaran yang jauh berkurang. Dulu dalam sehari saya bisa menghabiskan satu bungkus rokok seharga kurang lebih Rp.25.000,-. Dikali 30 berarti sekitar Rp.750.000,- sebulan.

Sekarang setelah mencangklong jumlahnya jauh berkurang. Saya membeli tembakau seharga Rp.75.000,- per 40gr. Itu bisa habis dalam 5 hari, jadi dalam 10 hari habis Rp.150.000,-. Berarti dalam sebulan hanya habis Rp.450.000,-, jauh lebih hemat dari kebiasaan merokok.

Karena prosesnya yang ribet maka mencangklong hanya saya lakukan antara empat sampai lima kali sehari. Itupun di waktu tertentu karena kenikmatan cangklong rasanya agak sulit dinikmati sambil bekerja. Mencangklong paling nikmat dilakukan ketika kita benar-benar bersantai ditemani kopi atau sesama cangklonger.

Tapi sekali lagi, soal hemat ini tentu saja relatif. Saya kebetulan membeli tembakau yang harganya relatif murah, tapi ada juga cangklonger yang sampai membeli tembakau seharga Rp.200.000,-/50gr atau bahkan lebih. Jadi ya memang kembali ke pribadi masing-masing.

Mencangklong juga agak mahal di investasi awal. Sebuah cangklong yang lengkap (ada bowl dan stem) dengan kualitas yang bagus harganya berkisar antara Rp.350.000 sampai tidak terbatas. Saya sebut tidak terbatas karena memang ada pipa cangklong yang harganya jutaan, puluhan juta bahkan katanya sampai ratusan juta.

Tapi sepertinya sebagian besar cangklonger yang berstatus suami tidak pernah berterus terang pada istrinya kalau ditanya berapa harga pipa yang dia pakai. Tahu sendirilah ya alasannya ha-ha-ha.

Memang ada juga pipa buatan Tiongkok yang harganya Rp.100.000,- atau di bawahnya. Tapi kata teman seorang cangklonger senior, rasanya benar-benar amburadul. Sayang kan tembakau enak dinikmati dengan cangklong berkualitas buruk.

Nah, kira-kira itulah tiga alasan kenapa sekarang saya sepertinya sudah benar-benar jatuh cinta pada cangklong. Tapi meski begitu saya juga masih sesekali mengisap rokok biasa, tapi frekuensinya sangat sedikit. Sebungkus rokok Marlboro Ice Blast pernah habis dalam waktu delapan hari. Benar-benar hanya sekadar selingan saja.

Apapun pilihannya, merokok atau mencangklong keduanya adalah cara yang pas untuk menikmati tembakau. Jadi ya terserah kepada para penikmatnya saja, tentu dengan risiko ditanggung sendiri. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (2)

  1. Saya masih bingung dengan cangklong ini. Kalau misalnya tembakau belum habis dan kita mau beraktivitas di dalam ruangan, apakah bisa dimatikan? Kalau cerutu kan bisa dimatikan dan dinyalakan lagi hehhehehe.

    Sering lihat model seperti ini tapi nggak paham cara kerjanya hahahahah. Kukira awalnya itu semacam tempat untuk menyambung rokok, (kalau di tempatku namanya Once).

  2. kamu kelihatan makin ganteng daeng dengan cangklong itu… *sungkem*

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.