Tags: ,

Ibu

Sang ibu bersama dua anak dan cucunya

Sang ibu bersama dua anak dan cucunya

Sebenarnya saya sangat menghindari sentimentalisme dalam perayaan hari ibu tahun ini. Bukan apa-apa, ini untuk pertama kalinya saya melewati hari ibu tanpa seorang ibu. Memang sih, tak pernah ada yang spesial dalam hari ibu setiap tahunnya. Tak ada ucapan selamat hari ibu atau apapun itu. Keluarga kami bukan keluarga yang senang merayakan sesuatu, cukuplah dengan perayaan hari besar agama saja. Bahkan ulang tahun pun sering terlewatkan.

Salah saya karena hari ini menyimak lini masa media sosial, tempat di mana puluhan atau mungkin ratusan ucapan selamat hari ibu melintas. Tak pelak saya pun jadi ikut terseret dalam semua sentimenalisme itu.

Sudah empat bulan lebih sejak Ibu pergi meninggalkan kami. Tak ada pertanda ketika itu, semua terasa tiba-tiba hingga akhirnya dia pergi dengan tenang. Sejak saat itu saya dan adik-adik resmi menjadi yatim-piatu. Bapak sudah berpulang lima tahun sebelumnya.

Ibu. Banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang beliau. Tentang kesederhanaannya memandang hidup, tentang sifatnya yang keras dan kolot, tentang masakannya yang tak pernah bisa membuat kami menyisakannya, apalagi tentang kasih sayangnya yang begitu besar.

Beliau memang pemarah, tak senang melihat anak-anaknya nakal dan membangkang. Saya salah satu yang paling sering mendapat marah, tentu karena dulu saya adalah anak yang nakal. Keluarga kami memang besar dalam kultur yang keras, sama seperti umumnya orang tua di Makassar jaman dahulu.

Sifat kerasnya itu yang membuat kami tak terlalu dekat, beda dengan adik-adik saya yang semuanya perempuan. Nyaris tak ada satupun interaksi hangat selayaknya sahabat dengan ibu. Semua berjalan seperti seorang ibu dan anak. Meski begitu saya tetap bisa merasakan hangatnya kasih sayang beliau yang kadang ditunjukkan dengan cara yang aneh.

Hal terakhir yang bisa saya ingat adalah ketika saya menemuinya setelah hampir setahun menyepi selepas masalah yang membelit rumah tangga saya. Beliau menangis, antara marah, senang dan sedih melihat anak sulungnya. Terlebih ketika itu saya datang dengan rambut yang panjang, sesuatu yang sepertinya sangat dia benci. Berbulan-bulan kemudian saya datang kembali, kali ini dengan kepala yang plontos. Betapa senangnya beliau waktu itu, sebuah pelukan hangat jadi buktinya. Pelukan yang entah kapan terakhir saya rasakan.

Sudahlah, saya tak hendak tenggelam lebih dalam suasana sentimental ini. Cukuplah doa untuk ibu dan bapak yang bisa saya panjatkan. Semoga Allah mengampuni semua dosa mereka dan memberi tempat yang layak.

Selamat hari Ibu, untuk semua ibu yang luar biasa! [dG]

About The Author

2 Comments

  1. indri juwono
    22/12/2015
  2. Keke Naima
    22/12/2015

Add Comment