Dua Hari Bersama Mahasiswa Asing

Bersama peserta, pemateri dan panitia workshop

Bersama peserta, pemateri dan panitia workshop

Kira-kira 1 tahun yang lalu, sesudah diputuskan tempat belajar, saya bingun sama bagaimana di Unismuh karena kurang informasi lewat laptop.

Kalimat di atas ditulis oleh Yunoki Momoka, seorang mahasiswa asal Jepang yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar. Momoka adalah satu dari 10 peserta workshop menulis yang digelar dua hari (28-29 Maret 2016) di kantor urusan Internasional UNISMUH. Kegiatan ini adalah kerjasama antara UNISMUH dengan Kelas Menulis Kepo, kebetulan saya yang jadi salah satu pematerinya.

Sebenarnya dalam workshop tersebut kami tidak hanya berbagi tentang bagaimana menulis, tapi juga memberikan bekal kemampuan dasar fotografi dan videografi serta etika di media sosial. Ceritanya satu paket lengkap; menulis, foto, video dan media sosial.

Hari pertama dibuka dengan berbagi teknik dasar membuat tulisan non fiksi, a la jurnalisme warga begitulah. Saya mencoba membagikan beberapa tips dan aturan dasar dalam membuat tulisan jurnalistik, dari etika, teknik sampai bagaimana menyusun paragraf. Selepas itu saya meminta mereka untuk membuat tulisan singkat yang bertema kampus mereka; UNISMUH.

Sejam kemudian, tulisan mereka kami review bersama-sama. Memang ada beberapa kalimat yang buat kita orang Indonesia cukup menggelikan. Salah satunya seperti contoh tulisan Mamoka di atas, tulisan yang sempat membuat saya juga bingung untuk mencari kalimat yang tepat. Ada juga peserta yang menuliskan kalimat seperti ini; UNISMUH diperbangunkan sejak tahun 1962. Mungkin maksudnya; dibangun. Atau kalimat lain seperti; UNISMUH diletakkan di Jln. Sultan Alauddin. Diletakkan, bukan terletak.

Kalimat-kalimat itu mungkin menggelikan bagi kita yang orang Indonesia asli yang terbiasa dengan bahasa Indonesia sejak kecil, tapi mau tidak mau saya harus paham pada kendala bahasa. Saya membayangkan kesulitan yang sama akan saya rasakan juga kalau saya berada pada posisi mereka. Belajar bahasa asing di kampung orang.

*****

Kesepuluh mahasiswa asing yang jadi peserta di workshop penulisan kemarin datang dari enam negara; Aljazair (satu orang), Jepang (satu orang), Thailand (lima orang), Malaysia (satu orang), Vietnam (satu orang) dan satu dari Papua Nugini. Sebagian besar dari mereka sudah ada di Indonesia sejak bulan Agustus 2015, tapi ada juga yang sudah ada di Indonesia setahun lebih. Ada yang memang peserta program pertukaran mahasiswa yang diberinama Darmasiswa, tapi ada juga peserta program S1 regular.

Suasana kelas

 

Sebagian besar terlihat seperti orang Indonesia bukan?

Dari kesepuluh peserta tersebut mungkin hanya dua orang yang secara fisik bisa langsung ditandai sebagai warga asing. Yasmine dari Aljazair dan Momoka dari Jepang. Sisanya lebih mirip orang Indonesia, sama sekali tidak kelihatan berbeda. Hyun Thi Thu Hie atau akrab disapa Yuki dari Vietnam memang berkulit sedikit lebih cerah dari teman-temannya, tapi tetap terlihat seperti orang Indonesia keturunan Tionghoa. Dia sendiri mengaku kalau di Vietnam dia nampak berbeda dengan kebanyakan orang Vietnam.

Lima siswa dari Thailand dan satu dari Malaysia secara fisik sama sekali tidak berbeda dengan orang Indonesia. Ketika pertama masuk ke ruangan saya bahkan mengira mereka adalah siswa lokal. Tiga perempuan dari Thailand berkulit cokelat dan berhijab, persis seperti orang Indonesia. Berbeda dengan bayangan saya tentang orang Thailand yang berkulit lebih cerah dengan wajah oriental khas Indochina.

Rupanya Aseema, Nisrin, Asura, Torik dan Termesee datang dari provinsi sebelah selatan Thailand yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Mereka aslinya memang ras Melayu, punya kedekatan erat dengan Malaysia, termasuk dalam hal agama. Di Thailand mereka adalah minoritas di tengah penduduk yang sebagian besar memeluk ajaran Budha.

Sementara Herah Wati Binti Tahir yang berasal dari Selangor, Malaysia tentu saja tak menunjukkan perbedaan fisik dengan orang Indonesia, apalagi konon salah satu orang tuanya memang berasal dari Indonesia.

Satu lagi peserta yang dari segi fisik agak berbeda adalah Omar, warga Papua Nugini yang sebelum menjadi muallaf bernama asli Robert Mau Aruba. Omar berbadan gempal dengan kulit kelam dan rambut keriting khas ras Melanesia. Meski begitu, kita pasti hanya akan mengira dia orang Papua, bukan orang asing.

Saya baru yakin kalau mereka memang warga asing ketika mereka berbicara. Bahasa Indonesia yang terpatah-patah dan kata yang kurang pas menunjukkan keasingan mereka. Meski begitu ada juga beberapa dari mereka yang sudah lebih lama di Makassar mampu bercakap dalam bahasa Indonesia logat Makassar. Asura misalnya, wanita bertubuh mungil itu fasih menggunakan partikel mi, ji dan berucap iye.

*****

Pengalaman membawakan materi di depan mahasiswa asing adalah hal baru buat saya (dan juga tiga pemateri lainnya). Tantangannya jadi berbeda karena kami harus menyederhanakan materi dan menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Pun saya harus berbicara pelan dan bahkan sesekali mengulang supaya mereka bisa menangkap. Begitupun masih ada beberapa kata yang tidak dimengerti oleh mereka.

Misalnya saja kata wawasan, oleh mereka awalnya dikira interview. Mungkin karena wawasan mirip dengan wawancara. Atau kata kokoh dan lahan, dua kata yang sempat membuat mereka bingung. Kata lainnya yang sempat membuat mereka bertanya-tanya adalah kata singkatan seperti dll, dsb dan dst. Dengan agak geli saya akhirnya menjelaskan ke mereka.

Meski punya masalah dengan bahasa, sebagian besar dari peserta rupanya punya daya tangkap yang bagus. Beberapa dari mereka sangat menonjol, mampu menyerap materi dan mempraktikkannya dengan baik. Paling terlihat di materi foto dan video. Khusus di dua materi yang tidak mengharuskan mereka menulis itu, hasilnya buat saya pribadi cukup mengagumkan. Mereka bisa mempraktikkan teori dasar yang diberikan.

Benar-benar sebuah pengalaman baru yang menyenangkan. Khusus buat saya, akhirnya saya bisa belajar langsung bahasa pergaulan Papua Nugini yang mereka sebut sebagai Tok Pisin. Saya tahu tentang bahasa ini dari tulisan Agustinus Wibowo yang sempat melintasi Papua Nugini dua tahun lalu. Tok Pisin sebenarnya berakar dari bahasa Inggris atau English pidgin yang mereka pakai sebagai bahasa pengantar kedua dalam berkomunikasi.

Bersama Omar yang mengajari saya Tok Pisin

Bersama Omar yang mengajari saya Tok Pisin

Tok Pisin buat saya unik dan lucu. Unik karena aslinya itu adalah bahasa Inggris yang diucapkan berbeda, lucu karena pengucapan dan penulisannya tidak mengikuti kaedah penulisan bahasa Inggris yang baik dan benar. Contohnya; mi laik tok tok wan taim yu yang berarti; saya mau berbicara dengan kamu (I would like to talk to you). Contoh lain; mi laik wakabaut yang berarti saya ingin jalan-jalan (I  would like to walk around). Pokoknya unik dan lucu, saya menghabiskan waktu cukup lama belajar dari Omar.

Sementara saya asyik dengan Omar, Iyan dan Lebug yang juga jadi pemateri sibuk bersama dua gadis Thailand. Mereka asyik belajar bahasa Thailand sambil (katanya) mengumpulkan data untuk membuat tulisan. Entah benar atau sekadar modus, biarlah mereka sendiri yang tahu.

Intinya, dua hari berbagi dengan mahasiswa asing di UNISMUH sangat menyenangkan, selain bisa membagikan ilmu juga sekaligus bisa mendapatkan cerita dan pengetahuan baru. Mi laik to wakabbaut, painim kai-kai. [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

5 Comments

  1. lelakibugis
    30/03/2016
  2. manjilala
    30/03/2016
    • lelakibugis
      01/04/2016
  3. manjilala
    30/03/2016
    • iPul Gassing
      30/03/2016

Add Comment