Dek, Belajarlah Dari Daengmu Ini

Jejak Langkah

Postingan ini sama sekali tidak bermaksud menggurui, hanya sekadar berbagi untuk kalian yang lebih muda. Siapa tahu bisa berguna.

Ketika postingan ini saya buat, umur saya genap 36 tahun. Bukan usia yang muda lagi meski masih sangat muda kalau dibandingkan dengan usia provinsi Sulawesi Selatan yang juga berulang tahun di hari yang sama. Dalam rentang masa 36 tahun itu ada banyak kejadian yang menempa saya jadi orang yang seperti sekarang. Beberapa di antaranya adalah hal yang harus disesali, tapi tidak sekadar disesali tapi dijadikan pelajaran agar tidak berulang.

Di hari yang terasa spesial ini, sebagai orang yang sedikit lebih tua dari sebagian kawan-kawan lainnya saya akan coba membagikan beberapa pesan yang saya sesap dari langkah panjang kehidupan saya. Mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran untuk kawan-kawan yang lebih muda.

#1. Temukan Minatmu dan Fokus!

Sedari kecil saya senang menggambar dan menulis. Saya tahu bakat besar saya ada di dunia gambar dan dunia tulis menulis. Sewaktu kecil saya bahkan membayangkan suatu hari nanti saya akan hidup dari dua minat saya itu. Sayang, orang tua saya berpikir sebaliknya. Mereka berpikir kenikmatan hidup hanya bisa dijamin oleh pekerjaan kantoran dan dunia seni tidak bisa melakukannya. Jadilah saya harus memendam dua minat saya itu dan mengikuti kemauan orang tua.

Belakangan ketika sudah lebih dewasa saya malah bingung menentukan minat. Karena arahan orang tua saya mendekat ke arah dunia desain arsitektur. Tapi sayang, saya tidak fokus. Awal periode 2000an saya tertarik pada dunia lain, dunia komputer. Saya bahkan sempat kuliah komputer tapi terhenti karena kantor mengharuskan saya sekolah di Jakarta dan mendalami kembali dunia arsitektur.

Hidup saya makin tidak fokus ketika beberapa tahun kemudian saya malah jatuh cinta pada dunia internet, tulis menulis dan desain grafis. Saya malah merasa dunia itulah yang sebenar-benarnya jadi minat saya. Mungkin saya terlambat menyadarinya, sampai-sampai saya berpikir seandainya saja sejak kecil orang tua mendukung saya untuk mengorek sedalam-dalamnya dua minat besar saya itu entah jadi apa saya sekarang.

Pesan dari saya untuk teman-teman yang lebih muda: temukan minat dan bakat kalian. Gali sedalam-dalamnya dan fokuslah. Orang tua kadang memang tidak sejalan dengan kita, tapi percayalah mereka akan bangga ketika pada akhirnya kita benar-benar bisa bahagia dengan jalan hidup yang kita pilih.

#2. Ijazah Itu Penting, Tapi Skill Jauh Lebih Penting!

Satu hal yang saya sesali adalah ketika saya tidak berhasil menyelesaikan studi. Alasannya karena fokus yang terlalu terpecah-pecah termasuk karena keharusan untuk bekerja kantoran. Kuliah sambil kerja memang berat, dan saya tidak berhasil menjalaninya.

Tapi meski tidak memegang ijazah S1 saya menemukan satu hal baru, skill itu penting! Dunia tidak hanya berputar di kantor yang mensyaratkan pendidikan minimal S1 saja. Ada banyak kesempatan di luar sana yang tidak mencantumkan syarat pendidikan minimal S1 tapi justru lebih menghargai skill yang kita punya.

Pesan saya: kuliah itu penting, tapi skill jauh lebih penting. Ketika menemukan minat maka fokuslah di situ. Anda beruntung kalau berhasil menempuh pendidikan sesuai minat, tapi kalaupun tidak maka jangan berkecil hati. Tingkatkan skill lewat latihan tanpa kenal lelah atau lewat pelatihan non formal yang sesuai dengan minat. Suatu hari nanti bisa saja Anda malah jadi orang yang sukses karena skill, bukan karena ijazah.

#3. Jangan Takut, Rejeki Datang Dari Mana Saja.

Dulu saya penakut, saya merasa rejeki hanya ada di tempat saya bekerja. Jadilah saya menghabiskan masa 15 tahun dengan rutinitas yang tidak selamanya saya senangi. Belakangan saya merasa bersalah, bertahan hanya karena gaji dan tidak sanggup memberikan seluruh cinta pada pekerjaan yang saya geluti. Saya sampai pada titik balik kehidupan ketika memilih untuk meninggalkan kantor yang sudah saya diami selama 15 tahun meski saat itu? saya belum tahu saya akan hidup dari apa dan dengan cara bagaimana.

Hampir dua tahun sejak saya meninggalkan kantor, saya tetap bisa hidup. Tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sesekali berwisata ke banyak tempat. Dengan durasi kerja rata-rata 30 jam sebulan saya sudah bisa menerima penghasilan sama dengan 160 jam kerja di tempat yang lama. Sisanya adalah bermain-main.

Pesan saya: jangan berpikir sempit kalau rejeki hanya datang lewat tangan pimpinan di kantor. Ketika Anda sudah merasa kehilangan cinta untuk bekerja 8 jam sehari dan 5 hari seminggu maka pikirkanlah. Mungkin itu waktunya untuk melangkah ke tempat lain. Jangan bertahan hanya karena takut tidak digaji, bertahanlah hanya karena Anda punya cinta untuk melakukannya.

Tapi untuk berani, Anda memang harus punya skill. Seperti yang saya ceritakan di point sebelum ini.

#4. Selagi Muda, Perbanyaklah Bergaul dan Berjalan.

Wawasan pergaulan saya terbuka lebar ketika mengenal banyak komunitas dan berinteraksi di dalamnya. Memilih komunitas yang tepat ternyata sangat menguntungkan. Saya bertemu banyak guru di sana, bertemu banyak partner dan tentu saja membuka pintu-pintu rejeki yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Sejak itu pula saya banyak berjalan ke tempat-tempat baru atau mendatangi tempat-tempat lain yang pernah saya datangi. Semua membuka wawasan saya, membuka mata saya kalau ada banyak hal yang bisa dipelajari di luar sana. Banyak berjalan dan banyak bergaul juga membuat saya makin bertoleransi pada perbedaan dan tidak mencap diri sendiri sebagai orang yang paling benar dan paling baik.

Pesan saya: selagi muda dan belum banyak terikat, perbanyaklah bergaul dan berjalan. Pilih tempat bergaul yang benar dan sesuai minat. Semua akan sangat menguntungkan, membuat hidup jadi lebih berwarna dan penuh pelajaran penting. Jangan biarkan hidup seperti seekor katak dalam tempurung.

Duh, tulisan ini sudah terlalu panjang dan mulai terkesan menggurui. Saatnya saya berhenti dan menyerahkan semuanya pada Anda. Utamanya teman-teman yang masih lebih muda dari saya. Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri-sendiri. Jalani saja semua, nikmati setiap detiknya dan sesap pelajaran di dalamnya. Kesalahan pasti akan selalu ada, tapi bukan manusia namanya kalau tidak melakukan kesalahan. Kesalahan itu wajar dan manusiawi, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan itu agar tidak jatuh ke lubang yang sama.

Dek, belajarlah dari daengmu ini meski saya tidak mengklaim diri sebagai orang yang lebih baik. Sayapun masih terus belajar, selama nafas masih di kandung badan selama itu pula hidup tetap jadi sekolah yang memberi pelajaran. Kita hanya perlu duduk tenang dan menerima semua pelajaran itu. [dG]

About The Author

Leave a Reply

16 Comments on "Dek, Belajarlah Dari Daengmu Ini"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
halija
Guest

Setuju banget, anak muda harus bisa menemukan potensi dirinya dengan terus belajar dan belajar

ira
Guest

wow…..bakat jadi motivator :p

Imam safrullah
Guest

Artikelnya sangat bermanfaat daeng, usia saya dengan kita beda 18 tahun. (jangan dihitung).

Terima kasih kang…

n t a n
Guest

daeeeeng..
happy b’day yaaa
selalu sehat, tetep rendah hati dan sukses terus

cocok mentong dipanggil ki daeng
sering2 kasih wejangan ya buat dedek2 kayak kita ini
^^

Meli Vedder
Guest

Great posting as always. Motivate me to be more focus, meski actually, I really dont wanna be success, just being an innocent bystander who clap hands from the side of the road. Terlalu cetek yak, but happier (;

Amirul Bahri
Guest

saya suka yang nomor 1 sama 2,…
kalo yang nomor 1 itu mungkin kayak passion dih 🙂
yang nomor 2 saya sudah jalankan dengan masuk sekolah kejuruan.

Salam Blogger Makassar, semangART

elafiq
Guest

selamat ulang tahun daeng 😀
suka point 3 & 4.. 🙂

ANIANGGRAENI
Guest

Saya setuju dengan apa yg anda paparkan dan aku bs mengambil salah satu hikmah didalamnya.

beylley
Guest

Daeng, nomor 3 kalimatnya juara! Berarti sekali buat mahasiswa perantau 🙂

lelakibugis
Guest

di sini ka lagi..

terima kasih Daeng untuk selalu menginspirasi..

wpDiscuz
%d bloggers like this: