Kalau Bloger Lawas Kopdar, Apa Yang Mereka Obrolkan?

Sebagian peserta kopdar hari ini

Pekan kemarin – ketika berada di Jakarta- saya menyempatkan diri bertemu dengan beberapa bloger lawas alias bloger tua.

 

APA KATEGORI BLOGER LAWAS alias bloger tua itu? Usia? Oh tentu saja bukan. Kalau patokannya usia si bloger maka tentu saja hampir semua bloger yang aktif sekarang adalah bloger tua, alias jarang yang umurnya di bawah 25 tahun. Ya kan? Ya kan?

Jadi patokan saya untuk bloger lawas alias bloger tua adalah usia blog mereka. Mereka adalah pemilik dan pengelola blog yang usia blognya sudah di atas 10 tahun, bahkan sepertinya ada yang sudah menyentuh angka 15 tahun. Kalau blognya disekolahkan, sebentar lagi sudah masuk SMA.

Pertemuan pekan lalu sebenarnya tidak disengaja. Berawal dari ajakan kopdar di Facebook sampai kemudian ternyata beberapa di antara para bloger lawas itu sudah berkumpul di 1/15 Coffee, Menteng. Saya yang kebetulan sudah menyelesaikan urusan dan melakukan anjangsana di Mall Ambassador, memutuskan untuk bergabung dengan mereka yang sudah ada di sana.

Di sana sudah ada Jensen Yermi yang jadi bintang tamu utama. Jensen ini bloger dari Papua yang kebetulan sedang liburan di Jakarta. Bersamanya ada pacarnya yang ternyata bloger lawas juga. Seorang dosen dari Salatiga (kalau tak salah) dan sedang belajar di UK. Terus ada Wira, seorang bloger lawas juga yang baru saya kenal hari itu. Satu lagi, Eka Situmorang. Saya tidak perlu menjelaskan siapa dia kan? Kalau kalian tidak kenal dia, berarti kalian jalannya kurang jauh #halah.

Ketika pembicaraan sudah mulai menghangat, datanglah Gita Sudjarwo. Dia ini bloger asli Semarang yang kebetulan sedang kuliah Phd (yang konon adalah singkatan dari Permanent Head Damage) di Jakarta. Soal lawas-lawasan, Gita juga bloger yang cukup lawas, jauh lebih lawas dari saya, ha-ha-ha-ha.

Saya pernah mewawancarai Gita soal framing di media sosial. Baca hasilnya di sini

Personil sudah lengkap, obrolan pun makin menghangat. Obrolan yang tidak dibarengi dengan asik sendiri menatap layar smartphone. Benar-benar suasana kopdar seperti dulu, ketika media sosial belum populer.

Dari sudut yang berbeda

Lalu, apa yang diobrolkan para bloger lawas ini?

Banyak dan sangat beragam. Beberapa di antaranya tidak bisa saya tulis di sini karena masuk kategori rahasia. Bisa merusak tatanan dunia bloger Indonesia dan menimbulkan perpecahan. #halahlagi.

Satu momen yang buat saya lucu adalah ketika tiga perempuan itu (sebenarnya cuma dua yang aktif, Eka hanya menyimak saja) mengobrolkan bedanya bumbu pecal dan lotek. Bayangkan, mereka dengan fasihnya bisa membedakan proses pembuatan dua bumbu itu. Konon, pecal itu bumbunya bisa pakai bumbu yang instan atau sudah jadi, tapi kalau lotek bumbunya benar-benar start from the scratch. Setidaknya begitu kata pacarnya Jensen. Terus beda lainnya ada di kerupuk. Saya lupa bagaimana membedakannya. Saya benar-benar sudah lost in conversation waktu itu.

Ketika mereka asyik mengobrolkan soal perbedaan bumbu itu, kami para pria jadi merasa tersisih. Jangankan membedakan bumbu pecal dan lotek, ketika disajikan tanpa nama pun saya rasanya sulit membedakan mana pecal, mana lotek. Sama-sama pakai sayur dan bumbu kacang bok!

β€œNda apa-apa, mereka bisa paham soal beda bumbu pecal dan lotek. Tapi, mereka pasti tidak tahu bedanya tank Jerman dan tank Inggris,” kata saya ke Jensen yang langsung disambut tawa renyah. Jensen memang penggemar sejarah, salah satunya adalah sejarah Nazi yang terkenal dengan tanknya.

Hal lain yang juga hangat kami obrolkan adalah soal perubahan tren ngeblog jaman dulu dengan jaman sekarang. Jaman dulu itu maksudnya jaman sekira 10 sampai 7 tahun lalu, dibandingkan dengan jaman setelahnya hingga hari ini.

Kami membandingkan betapa dulu kami mulai ngeblog benar-benar tanpa berpikir apa itu DA, apa itu PA, apa itu SEO, apa itu post paid, dan semacamnya. Ngeblog ya ngeblog saja, tulis apa saja, hal remeh temeh sekalipun, lalu sesekali saling bertukar kunjungan dan bertukar komentar. Sekarang, bloger sudah jauh lebih peduli pada DA, PA, tema blog dan tentunya SEO serta post paid yang mengikutinya.

Tapi itulah tren. Semua berubah mengikuti perkembangan jaman.

Meski blog sempat menurun popularitasnya, namun perlahan tapi pasti kembali menguat posisinya. Jumlah bloger baru semakin bertambah, tren pun berubah dari yang sekadar bloger curhat dan remeh temeh menjadi bloger yang lebih peduli terhadap isi dan bahkan menjadikan blog sebagai mata pencaharian, atau mungkin sekadar penambah uang belanja.

Saking kuatnya posisi sebagai bloger, katanya ada Instagramer yang mengaku-ngaku sebagai bloger meski tidak punya blog atau punya blog tapi postingannya hanya β€œHello World”. Analisa saya, di kalangan pengguna media sosial bloger menempati kasta yang lebih tinggi dari sekadar Facebooker atau Instagramer. Minimal kasta secara intelektual, kata saya.

Kenapa? Karena untuk menjadi seorang bloger yang baik usaha yang diberikan pun tidak main-main. Beli domain dan hosting sendiri, belajar teknik dasar SEO, beli tema premium yang kadang harganya lumayan juga, mencari ide dan sudut pandang tulisan lalu menuliskannya lebih dari 750 kata, belajar teknik dasar fotografi biar tampilan foto di blog enak dipandang, berjejaring dengan memanfaatkan media sosial lain. Pokoknya ribet dan prosesnya panjang.

Tapi itu teori saya sendiri loh. Kalian bisa percaya, bisa tidak.

Obrolan hari itu diakhiri dengan obrolan soal tahun 90an. Bermula dari obrolan tentang pemusik tahun 90an yang tenar ketika rata-rata kami masih berseragam putih abu-abu atau putih biru. Masa ketika untuk menghapal lirik lagu kami butuh tombol rewind, pause dan forward sambil mencatat lirik lagunya. Terus bagaimana kadang kami menyambangi toko kaset untuk membuat kaset kompilasi buat dipakai mendekati lawan jenis. Pokoknya jaman yang sulit tapi seru.

Ada juga obrolan tentang telepon koin dan gimbot yang disewakan mas-mas bersepeda yang ketika waktunya habis, mas-masnya harus menarik talinya untuk mengingatkan.

Benar-benar obrolan orang tua yang susah dimengerti anak-anak milenial, ha-ha-ha.

Tapi seru. Tidak terasa empat jam berlalu dengan obrolan yang sebagian besarnya mengundang tawa riang tanpa beban. Menyenangkan bertemu dengan mereka, bloger-bloger lawas yang ceritanya saling bertautan.

Saya harus kembali ke hotel sekira pukul delapan malam, sementara mereka masih asyik bercengkerama entah sampai jam berapa. Sekali lagi, kopdar hari itu sungguh menyenangkan. Semoga di lain waktu bisa kembali bertemu bloger lawas dari kota berbeda yang sudah lama tidak bertegur sapa.

Semoga [dG]

About The Author

35 Comments

  1. Nasirullah Sitam
    06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  2. Lina
    06/10/2017
    • Vita Masli
      06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  3. Dawiah
    06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  4. Depz
    06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  5. Gita
    06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  6. BunSal
    06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  7. tari
    06/10/2017
  8. JenSen
    06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  9. Novpras
    06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  10. Rane
    06/10/2017
    • Daeng Ipul
      06/10/2017
  11. Zilqiah Angraini
    07/10/2017
  12. kamal
    07/10/2017
    • Daeng Ipul
      07/10/2017
  13. Neny
    07/10/2017
  14. Arif Rahman
    08/10/2017
    • Daeng Ipul
      14/10/2017
  15. banyumurti
    08/10/2017
  16. Alid Abdul
    10/10/2017

Add Comment