Bertarung Melawan Setan di Kepala

Samsung Galaxy S8+ yang jadi pangkal pertarungan kami

Saya menemukan handphone Samsung Galaxy S8+ di bandara. Handphone yang membuat saya harus bertarung dengan diri sendiri.

SAYA TIBA DI BANDARA AHMAD YANI, Semarang sekitar pukul 8 pagi. Matahari masih malu-malu, belum terlalu terik. Rasanya agak malas beranjak dari kursi pesawat, maklum semalam saya sama sekali belum tidur. Makanya sepanjang perjalanan yang memakan waktu 2 jam itu hampir seluruhnya saya isi dengan tidur. Bahkan ketika pesawat sempat transit sekitar 30 menit di Surabaya pun saya lebih memilih tetap tidur.

Karena masih ngantuk saya biarkan saja orang-orang turun duluan dari pesawat, sampai semua benar-benar sudah beranjak turun barulah saya berdiri. Mengambil tas di bagasi di atas kepala dan bergerak keluar dari pesawat. Senyum manis mbak-mbak pramugari tidak saya indahkan lagi. Senyumnya tidak mampu membuat mata saya membelalak.

Dengan malas saya bergerak ke terminal kedatangan. Saya hampir berjalan sendirian, penumpang lain berjarak beberapa langkah di depan saya.

Menjelang pintu kedatangan di dekat pot bunga, pandangan saya tertumbuk pada sebuah benda segi empat berwarna ungu gelap. Benda itu tergeletak di tanah, tidak jauh dari pot bunga. Posisinya memang agak tersembunyi dan nyaris tidak terlihat. Insting saya bergerak cepat, memungut benda yang ternyata adalah handphone yang dibungkus seperti dompet itu.

Pembungkusnya saya buka, di dalamnya ada handphone berwarna hitam. Mengkilap dan tampak masih baru. Saya tidak bisa menebak merek dan jenisnya, tapi saya tahu handphone itu mati.

“Kantongi saja bos, nanti dibuka kalau sudah aman,” tiba-tiba ada suara di belakang saya seakan memberi perintah. Saya menoleh, seorang pria yang muka dan perawakannya persis seperti saya. Berbaju hitam dengan pandangan yang agak licik.

Saya tidak membantah dan langsung mengikuti sarannya. Handphone itu saya masukkan ke kantong celana dan bergegas ke dalam terminal kedatangan. Karena conveyor yang berisi bagasi belum terisi, saya memutuskan ke toilet dulu sambil terus menimbang-nimbang perihal handphone yang baru saja saya temukan itu.

Setelah buang air kecil, saya mencuci muka di wastafel. Sekadar menyegarkan wajah.

“Itu rejekimu bos. Lumayan kan? Pagi-pagi dapat rejeki handphone, hehehe” pria mirip saya dengan pakaian hitam-hitam itu ada di samping kiri saya. Tersenyum licik penuh kemenangan.

Saya masih diam, tidak berusaha menanggapinya. Tapi apa yang dia katakan rupanya berhasil membuat saya sedikit terpengaruh.

“Ayolah bos, yang punya pasti sudah ikhlas. Namanya musibah buat dia, ya harus diterima. Itu rejekimu bos, kan kamu nda mencuri. Kamu dapat di jalan, jadi ya nda masalah,” pria itu terus meyakinkan saya.

Saya menghela napas, mulai terpengaruh ucapan si pria berbaju hitam itu.

“Cabut SIM card saja bos, terus reset factory. Selesai! Si yang punya pasti sudah ndak bisa nge-trace lagi HPnya,” si pria berbaju hitam terus saja mendorong saya. Ucapannya sangat intimidatif dan seperti tidak memberi saya waktu untuk berpikir.

Akhirnya saya mengangguk, masih belum berkata tapi dia tahu kalau saya sudah terpengaruh. Dia tersenyum licik dan mengikuti saya keluar toilet menuju conveyor, menantikan bagasi saya.

“Bos, yakin kamu mau ambil HP itu? Itu kan punya orang?” tiba-tiba suara lain muncul dari sebelah kanan saya ketika saya sedang asyik menantikan bagasi.

Saya menoleh. Kali ini seorang pria yang perawakan dan wajahnya mirip saya, tapi dia berbaju putih dengan wajah yang cerah dan senyum yang teduh. Ah, saya rupanya menawan juga dengan tampilan seperti itu, kata saya dalam hati.

“Itu kan punya orang bos. Di dalam ada kontak keluarganya, terus mungkin saja orangnya sekarang lagi coba untuk menelepon ke HP itu. Orangnya pasti bingung mencari HPnya,” kata si pria berbaju putih itu. Tanpa jeda dia melanjutkan, “Bos kan tahu bagaimana rasanya kehilangan barang? Sedih, bingung, jengkel. Apa bos tidak kasihan sama yang punya HP?”

Saya merapatkan bibir, kata-kata si pria berbaju putih itu masuk akal juga. Kasihan yang punya HP. Pasti sekarang dia bingung mencari-cari HPnya, apalagi sepertinya itu HP baru dan mahal pula. Bagaimana kalau itu HP kesayangannya?

“Kembalikan saja bos, nyalakan. Pasti ada kontak yang bisa dihubungi di sana, atau paling tidak ada yang menelepon nanti,” si pria berbaju putih masih terus mencoba meyakinkan saya untuk melakukan hal yang berlawanan dengan ucapan si pria berbaju hitam.

Saya melemparkan pandangan ke sekeliling, mencoba melihat wajah-wajah penumpang yang sama-sama menantikan bagasi. Mencoba mencari-cari wajah kebingungan, siapa tahu di antara mereka ada sang pemilik handphone. Tapi sepertinya tidak ada. Semua yang berkumpul di sekitar conveyor hanya fokus pada barang yang berjalan pelan di atas conveyor. Tidak ada yang berwajah bingung.

“Halah, santai bos. Ambil saja, itu namanya rejeki toh?” si pria berbaju hitam yang sedari tadi diam angkat bicara. Dia masih mencoba mendorong saya melakukan seperti yang dia sarankan.

“Jangan bos. Itu hak orang, ada yang punya dan masih bisa dikembalikan,” si pria berbaju putih dengan cepat mendekat, juga mencoba memengaruhi saya.

Barang saya sudah datang, sementara mereka berdua masih terus berusaha menjejalkan usulan dan mempengaruhi saya. Saya mulai lelah, ngantuk belum terobati, sepagian ini belum ada kopi enak yang masuk ke perut dan sudah diributkan oleh perdebatan kedua orang itu.

“Diam kalian!” Bentak saya ketika rasanya saya sudah tidak tahan. Mereka berdua diam, memundurkan tubuh yang tadi agak condong ke saya. “Saya mau merokok dulu, kalian pagi-pagi sudah bikin ribut,” kata saya lagi dengan nada menggerutu. Mereka berdua benar-benar bikin saya pusing.

Akhirnya saya berjalan keluar dari terminal kedatangan, niat utama mencari tempat untuk merokok. Syukur-syukur bisa mengopi. Seorang pria gempal berkaos oblong mendekati saya di dekat pintu keluar terminal kedatangan.

“Taksi pak?” tanyanya dengan sopan.

“Diam kamu!” bentak saya yang langsung disambut wajah kebingungan si bapak.

Saya berlalu, mencari tempat yang nyaman buat merokok.

*****

HANDPHONE ITU SAYA PEGANG, terasa sangat nyaman di tangan. Lipatan pembungkusnya saya buka dan dengan segera menampakkan bentuknya yang memanjang dengan kontur licin. Layarnya melengkung di bagian samping, berbeda dengan umumnya handphone yang layarnya tidak sampai ke ujung badan. Ini model yang diusung Samsung sejak mengeluarkan seri Galaxy S6. Saya belum tahu handphone di tangan saya seri apa, tapi pasti masih baru.

“Nyalakan bos. Di dalam pasti ada nomor yang bisa dihubungi, atau paling tidak nanti akan ada yang mengontak,” kata pria berbaju putih yang duduk di sebelah kanan saya.

“Iya bos, nyalakan. Rasakan bagaimana nyaman dan mewahnya handphone itu. Tapi, jangan lupa aktifkan flight mode, biar tidak bisa dihubungi,” gantian sekarang pria berbaju hitam di sebelah kiri saya yang memberi saran.

Kami sedang duduk di sebuah kedai kopi di bandara Ahmad Yani. Saya memesan segelas kopi sambil menikmati sebatang rokok dan mulai menimbang-nimbang apa yang harus saya lakukan dengan handphone itu.

Dua pria itu diam memperhatikan saya ketika akhirnya saya memilih untuk menyalakan handphone berbungkus warna ungu di tangan saya. Setelah beberapa detik menekan tombol power, logo Samsung segera muncul di layar. Bergerak-gerak dengan animasi yang elegan. Lalu tiba-tiba saya tercekat ketika muncul tulisan Galaxy S8+.

Gila! ini keluaran anyar Samsung! Harganya bisa sampai 11 juta lebih untuk yang berkapasitas 64GB. Tanpa sadar saya menelan ludah.

“Wow! Samsung S8+ bos! Samsung terbaru! Benar-benar rejeki tidak terduga di pagi hari!” Si pria berbaju hitam di sebelah kiri saya terlonjak kaget dan terlihat gembira. Dia menepuk-nepuk pundak saya, seperti memberi semangat dan selamat.

Tanpa sadar saya juga ikut tersenyum. Gila! Ini barang bagus pakai banget! Saya butuh menabung setahun penuh untuk bisa dapat handphone seperti ini, benar-benar rejeki luar biasa!

Handphone itu sekarang menampilkan gambar seorang perempuan berumur 40an, berhijab dan berfoto bersama seorang pria yang saya taksir adalah suaminya. Saya menggeser layarnya dengan telunjuk, tidak terkunci. Dengan segera gambar di layar berganti dengan gambar si perempuan di layar sebelumnya. Dia berhijab putih dalam gambar separuh badan. Dari gayanya terlihat kalau dia orang berpunya. Saya yakin dialah pemilik handphone ini.

“Langsung atur ke flight mode bos!” si pria berbaju hitam di kiri saya memberi perintah. Perintah yang dengan segera saya ikuti. Mengatur mode ke mode penerbangan agar handphone tidak terhubung ke seluler apalagi internet.

Saya mengecek handphone itu, masih sangat baru. Bahkan belum ada aplikasi tambahan yang terpasang. Semua masih standar, Facebook, Instagram dan aplikasi chat WhatsApp. Saya coba membuka aplikasi WhatsApp, ada beberapa percakapan individu dan beberapa grup. Tapi saya tidak membuka percakapan-percakapan itu. Segan rasanya mengutak-atik privasi orang.

Saya masih asyik meneliti handphone itu, mengagumi arsitekturnya dan kenyamanannya di genggaman. Tiba-tiba pria berbaju putih di samping kanan saya mengusap lembut pundak saya dan mengeluarkan suara.

“Bos, itu punya orang. Ada kontak keluarganya di sana, dan dia juga pasti akan menghubungi nomor di handphone itu. Kembalikan bos, kamu pasti tahu kan bagaimana rasanya kehilangan barang kesayangan?”

Saya menoleh dan mendapati senyum sejuk si pria berbaju putih. Ah, saya rupawan juga ya kalau tersenyum seperti itu, kata saya dalam hati.

Saya menghela napas panjang. Terbayang bagaimana rasanya kehilangan benda kesayangan. Pasti resah, menyesal, tidak enak makan, tidak enak tidur. Saya baru saja merasakannya dan bisa menebak perasaan si ibu pemilik handphone ini.

Ucapan si pria berbaju putih itu benar juga. Ini punya orang dan dia pasti sedang kalut ketika sadar handphone-nya hilang.

Saya mematikan rokok, lalu mereguk kopi terakhir lalu beranjak dari kedai kopi.

*****

AVANZA HITAM BERPLAT H itu menerobos jalan Semarang yang ramai. Saya duduk di depan, diam dan menimbang-nimbang. Dengan agak malas saya meladeni cerita pak supir. Kepala saya masih penuh dengan beragam pikiran.  Pikiran yang dipantik oleh dua pria yang sedari tadi menemani saya. Pria berbaju hitam dan pria berbaju putih.

“Selamat bos! Pagi-pagi sudah dapat rejeki Samsung Galaxy S8+. Kapan lagi coba? Kalau beli sendiri kan susah, harus nabung lama. Hahaha,” si pria berbaju hitam di sebelah kira saya tertawa riang. Wajah liciknya terlihat puas.

“Kembalikan bos. Itu bukan hakmu,” si pria berbaju putih di kanan saya berbisik.

“Okelah kamu bisa punya handphone mahal itu, tapi apa kamu bisa membohongi kata hatimu selamanya? Memangnya kamu tahan hidup sambil terus-terusan membohongi kata hati dan mungkin juga harus membohongi orang lain?” Dia terus mendesak, masih dengan nada yang tenang dan berwibawa.

“Kamu boleh miskin bos, tidak punya apa-apa. Tapi jangan sampai kehilangan integritas. Kamu mau seperti pejabat-pejabat yang biasa kamu kritik itu? Berkoar-koar bekerja untuk rakyat, tapi justru mencuri hak rakyat. Kamu mau serendah mereka?” Pungkasnya.

Deg!

Kata-kata terakhir itu benar-benar membuat saya luluh. Apa iya saya mau merendahkan diri seperti mereka? Bertingkah seolah-olah orang baik tapi mencuri hak orang, mengambil sesuatu yang bukan hak saya.

Saya menghela napas panjang, menoleh ke pria berbaju putih itu dan tersenyum. Dia juga tersenyum, mengangguk lembut. Senyumnya meneduhkan, membuat saya semakin kuat untuk menjatuhkan pilihan. Si pria berbaju hitam yang ada di sisi kiri saya merengut, wajahnya nampak tidak senang. Dia membuang muka, tidak berani menatap mata saya.

Mbak, maaf saya nemu handphone ini di bandara.

Pesan itu segera saya kirimkan pada sebuah akun WhatsApp. Dari foto profilnya seorang wanita muda yang cantik. Saya menebak itu anak sang pemilik handphone, terlihat dari percakapan mereka. Si perempuan cantik itu memanggil si pemilik handphone dengan “Ibu” dan dibalas dengan “Nak”.

Hanya berselang beberapa detik, balasan masuk dari si perempuan muda itu.

Wah  terima kasih bapak/ibu. Maaf bapak/ibu ada di mana sekarang?

Saya lupa saya belum memberi tahu saya pria atau wanita. Pesan itu saya balas, menjelaskan posisi saya dan akan ke mana saya. Kami lalu lanjut bercakap-cakap, saya ceritakan kronologis di mana handphone itu saya temukan dan di mana si mbak bisa menemui saya.

Beberapa menit kemudian sebuah telepon masuk. Tertera nama “Sayangku” di sana. Saya tebak itu telepon dari suami si ibu.

“Halo, selamat pagi pak. Saya Syaiful, saya nemu handphone ini di bandara,” kata saya ketika menjawab panggilan dan mendengar suara pria dari seberang.

“Oh iya pak, wah matur suwun sanget ya pak,” dari seberang si pria penelepon itu mengucapkan terima kasih. Ada nada gembira dalam suaranya.

Selanjutnya kami bercakap-cakap, mengatur waktu dan lokasi untuk bertemu dan menyerahkan handphone itu.

“Nanti adik saya yang ambil pak. Namanya Ahmad,” kata si pria dari seberang telepon.

“Baik pak, saya tunggu,”

“Sekali lagi matur suwun sanget ya pak. Terima kasih banyak,” si pria itu menutup telepon dengan ucapan terima kasih dan suara yang berbinar-binar.

Nyess!

Tiba-tiba ada rasa aneh di dada, rasa ketika sebuah beban seperti terlepas. Saya menghela napas lega, menoleh ke pria berbaju putih yang menatap saya dengan wajah sumringah dan senyum lebar. Kami sama-sama tersenyum.

Si pria berbaju hitam berwajah garang dan pandangan licik itu sudah hilang entah ke mana. Biarlah, saya tidak lagi peduli pada dia.

*****

“PAK SYAIFUL YA?” Seorang pria bertubuh gemuk berambut cepak berdiri di depan saya mengulurkan tangan. Saya tebak usianya masih awal 30an.

Saya menyambut uluran tangannya, kami berjabat tangan. “Pak Ahmad ya?” Tanya saya.

Dia mengangguk dan tersenyum. Dialah pria yang oleh bapak di telepon tadi diminta menjemput handphone istrinya. Kami bertemu ketika siang sedang panas-panasnya di tempat yang sudah kami sepakati.

Tidak banyak basa-basi, saya segera menyerahkan handphone dengan bungkus warna ungu itu. Diterima si bapak dengan senyum merekah. Kami masih sempat basa-basi sebelum dia memohon diri.

“Saya pamit ya pak. Sekali lagi terima kasih,” kata si pria gemuk bernama Ahmad itu. Dia menyodorkan tangan hendak menyalami saya. Ketika tangan saya terulur, saya baru sadar kalau di tangannya ada lembaran-lembaran uang kertas. Saya tidak jadi menyalaminya, tangan saya tarik kembali.

Pak Ahmad seperti mendesak, menyorongkan tangannya mengejar tangan kanan yang saya tarik tadi.

“Gak usah pak, saya tidak minta apa-apa,” saya berusaha menolak sambil mundur selangkah.

“Iya saya tahu pak, tapi ini ucapan terima kasih dari bapak,” katanya sambil terus memaksa, tangannya mengejar tangan saya yang sekarang berusaha saya taruh di belakang badan. Saya terdesak, merapat ke tembok.

“Ambillah pak, ini hanya ucapan terima kasih,” katanya terus mendesak setelah saya juga terus menolak.

Adegan itu berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya saya menyerah, menerima uluran tangannya, memindahkan lembaran uang kertas itu dari tangannya, lalu langsung ke kantong tanpa saya lihat berapa jumlahnya.

“Sekali lagi terima kasih ya pak. Saya pamit dulu,” kata pak Ahmad dengan senyum merekah.

“Terima kasih juga pak,” saya hanya menjawab pendek, masih agak kaget dengan adegan paksa memaksa beberapa detik sebelumnya.

Pandangan saya mengikutinya hingga naik ke mobil sedan yang dikendarainya sebelum saya berbalik. Di ambang pintu si pria berbaju putih berdiri tersenyum kepada saya. Jempol tangan kanannya terangkat tepat di depan dada. Saya tertawa renyah melihat aksinya.

Plok!

Dua tapak tangan kanan kami bertemu di udara. Sama-sama tertawa dan saling berangkulan. Hari itu kami baru saja menang melawan pria berbaju hitam. Setan di kepala. [dG]

 

Catatan:

Cerita ini tentu saja didramatisir, tapi masih disesuaikan dengan kejadian aslinya.

About The Author

18 Comments

  1. nengbiker
    14/11/2017
    • Daeng Ipul
      14/11/2017
  2. Wira Nurmansyah
    14/11/2017
  3. mbita sudjarwo
    14/11/2017
  4. ZILQIAH
    14/11/2017
  5. Adetruna
    14/11/2017
  6. Ayi
    15/11/2017
    • Daeng Ipul
      15/11/2017
  7. Yudi
    15/11/2017
  8. Eryvia Maronie
    15/11/2017
    • Daeng Ipul
      15/11/2017
  9. deddyhuang.com
    17/11/2017

Add Comment