Cerita Ringan

Beratnya Tiket Mudik

Merantaulah, dan kamu akan tahu betapa mahalnya tiket mudik.

  • Tiket pesawat jurusan Jayapura-Makassar beranjak naik dari harga normal Rp.900.000,- an menjadi Rp.3.000.000,- an.
  • Sempat terpikir untuk tidak mudik saja dan berlebaran di Jayapura saja, tapi masak iya saya tidak mudik?
  • Beruntung masih ada miles Garuda Indonesia yang belum pernah saya tukarkan. Benar-benar jadi penyelamat.

Tahun ini saya akhirnya kembali merasakan yang namanya ritual mudik. Mulai dari mencari tiket yang harganya sesuai kantong sampai nanti menjalaninya di hari H. Kebiasaan yang sudah lama tidak pernah saya jalani.

Dulu pernahlah sekali dua kali saya menjalani ritual mudik. Waktu itu kebetulan masih sama ibunya anak-anak yang kebetulan orang Semarang. Seingat saya setidaknya ada dua kali momen mudik yang saya jalani. Dari yang naik kapal laut via Surabaya lalu dilanjut dengan bis menuju Semarang, sampai naik pesawat via Jakarta lalu disambung naik kereta ke Semarang. Dua-duanya penuh perjuangan karena namanya saja mudik, ke Jawa pula. Di situ pusatnya kehidupan di Indonesia.

Lalu kehidupan berjalan, saya sudah tidak bersama ibunya anak-anak lagi dan dengan demikian konsekuensi mudik juga hilang.

Saya kembali ke ritual mudik yang berarti naik motor tiga belas kilometer menuju kampung kelahiran. Berdesak-desakan di atas motor, menantang matahari, melewati macet selama lebih kurang 45 menit. Sungguh berat dan rasanya saya hampir menyerah saja. #halah

Mudik yang rasanya bukan mudik karena perjuangannya tidak terlalu berat. Beda dengan mudik yang sebenarnya yang mengharuskan pelakonnya untuk keluar uang banyak, tenaga berlipat dan tentu saja kesabaran tak terkira.

*****

Lalu datanglah masa ketika saya harus berlabuh di Jayapura, jauh dari kampung halaman. Di sinilah saya sekarang, melewati beberapa hari bulan Ramadan dan siap-siap untuk pulang kampung menjelang lebaran.

Saya mulai mengamati pergerakan harga tiket pesawat sejak Ramadan belum mulai. Iseng-iseng saja karena waktu itu belum tahu kapan tanggal yang pas untuk pulang ke Makassar. Dari pantauan itu saya bisa melihat harga tiket yang naik secara perlahan. Harga tiket normal Jayapura-Makassar di hari biasa mulai dari Rp.900.000,- sampai kira-kira Rp.1.400.000,-. Nah, harga itu perlahan kemudian merangkak naik.

Pertama menyentuh harga Rp.1,4 juta untuk harga paling murah, lalu mulai naik ke angka dua juta, dan makin mendekati tanggal mulainya cuti bersama, harganya sudah menyentuh angka tiga juta. Sungguh pergerakan yang signifikan dan menggetarkan hati.

Tiga juta bok! Ini berarti hampir sama dengan tiket Jakarta-Tokyo. Bahkan kata teman saya, seharga tiket pergi-pulang dari Kuala Lumpur ke Teheran. Lumayan kan? Sungguh rasanya agak tidak rela untuk menghabiskan dana sebesar itu.

Tapi, masak iya saya tidak pulang lebaran?

Bisa terbayang bagaimana sepinya lebaran di Jayapura, jauh dari keluarga. Belum lagi karena semua teman kantor akan pulang mudik. Teman-teman sesama muslim yang jadi teman seperjuangan sudah memastikan untuk mudik lebaran. Yah masak saya tinggal sendirian? Jauh dari keluarga, tidak ada kegaitan pula.

Untung saja saya tertolong dengan miles dari Garuda Indonesia. Selama hampir tiga tahun ini saya memang jadi sering menumpang maskapai pelat merah itu. Tujuannya juga lumayan jauh, kadang ke Sumatra, ke Kalimantan dan paling dekat ke Lombok. Dari semua penerbangan itu saya akhirnya bisa mengumpulkan miles yang lumayan. Tadinya miles-nya mau saya tukar untuk tiket liburan ke Jakarta atau Bali, tapi untung saja belum saya tukar.

Saya juga baru tahu kalau ternyata miles dari Garuda itu bisa ditukarkan dengan tiket Citilink yang masih satu grup. Jumlah miles yang dibutuhkan juga lebih sedikit. Kalau Garuda Indonesia mensyaratkan minimal 24.000 miles untuk ditukar tiket Jayapura-Makassar, maka Citilink hanya meminta 17.000 miles. Lumayan, bisa berhemat 7.000 miles.

Maka, beberapa hari menjelang dimulainya libur lebaran versi pemerintah saya menukarkan miles yang saya punya dengan selembar tiket Citilink jurusan Jayapura – Makassar. Saya hanya harus merogoh kocek Rp.200.000,- untuk biaya administrasi. Jauh lebih murah daripada beli tiket secara normal yang harganya sudah Rp.3.400.000,-.

Dan inilah saya sekarang.

Sudah di kampung halaman, bersiap untuk menantikan lebaran sebelum kembali lagi ke tempat tugas di Jayapura. Satu drama mudik baru saja terlewati, tinggal menantikan apakah drama arus balik akan terjadi atau tidak.

Sekarang saya benar-benar paham anekdot di paragraf pembuka itu. Merantaulah maka kamu akan sadar betapa beratnya membeli tiket mudik.

Buat teman-teman yang baru akan mudik, selaamat mudik ya. Hati-hati di jalan dan semoga selamat tiba di tujuan. Buat yang belum bisa mudik karena biaya, tabahlah. Semoga segera bisa mudik dan bertemu dengan keluarga di kampung halaman.

Mari menantikan Idul Fitri. [dG]

 

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (1)

  1. Kutipan yang sangat inspiring soal merantau dan harga tiket mudik hahaha. Deh nyaman na tawwa dapat miles, nda kutau apa itu kodong anak rumahan ja’ saya bukan ka’ anak pesawat-pesawat bela apalagi Garuda. Garuda kacang atom ji kutau :((

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.