Barang-barang Yang Digusur Oleh Handphone

Barang-barang yang digusur oleh handphone

Barang-barang yang digusur oleh handphone

Perkembangan teknologi handphone mau tidak mau menyebabkan beberapa barang-barang jadi tergusur.

Dalam dua dasawarsa ini, perkembangan teknologi semakin tidak tertahankan perkembangannya. Apa yang dulu hanya impian, sekarang sudah jadi kenyataan atau bahkan melebihi impian. Di tahun 90an awal, kita mungkin hanya bermimpi bisa menelepon sambil saling menatap lawan bicara. Sekarang? Itu sudah jadi kenyataan yang bisa dinikmati kapan saja.

Perkembangan teknologi itu (utamanya teknologi telepon genggam) juga membuat beberapa perangkat atau barang-barang yang dulu jadi favorit dan sangat dibutuhkan, perlahan menghilang dari rumah kita. Beberapa hari ini saya berpikir-pikir, menakar beberapa benda yang sepertinya dulu sangat dibutuhkan dan bahkan jadi semacam penanda status sosial, sekarang sudah mulai tidak dipedulikan. Ketiadaan benda itu tidak lantas membuat kita gelagapan. Tidak seperti dulu.

Berikut benda-benda yang melintas di pikiran saya:

Ringgggg....ringggggg...ada teleponn!!

Ringgggg….ringggggg…ada teleponn!!

Telepon Rumah.

Generasi 70an, 80an dan 90an pasti paham betapa telepon rumah jadi semacam penanda sosial seseorang, utamanya di dekade 70an dan 80an. Punya telepon rumah seperti legitimasi kalau sang pemilik punya harta dan kedudukan yang berlebih dibanding orang kebanyakan. Bukan apa-apa, layanan Telkom waktu itu belum seperti sekarang, para penikmatnya juga tidak sebanyak sekarang. Belum lagi iuran telepon yang bagi orang biasa cukup mencekik.

Jadi wajar kalau waktu itu pemilik telepon rumah bisa jumawa sebagai orang yang berpunya.

Tapi, sejak teknologi telepon genggam marak menguasai dunia, keberadaan telepon rumah atau telepon kabel perlahan mulai tergantikan. Orang tak lagi terlalu pusing apakah di rumah ada sambungan telepon kabel atau tidak. Asal masih ada sinyal telepon selular, telepon rumah tak lagi penting.

Telepon rumah jadi semacam nostalgia saja saat ini. Bukan lagi syarat utama apalagi penanda sosial. Telepon rumah hanya penting bagi mereka yang punya usaha, bagi rumah tinggal tidak lagi. Dulu rumah kontrakan yang dilengkapi telepon rumah harganya mungkin lebih mahal dari rumah kontrakan yang tak bertelepon rumah, tapi sekarang tidak ada bedanya lagi.

Buku yang benar-benar mengumbar privasi orang

Buku yang benar-benar mengumbar privasi orang

Buku Telepon.

Ini jodohnya telepon rumah. Di samping telepon rumah biasanya ada buku kecil yang meraup semua nomor-nomor penting. Dari nomor rumah sakit, kantor polisi, pak RT, pak RW, om A, tante B dan banyak lagi keluarga atau teman. Kalau butuh menelepon mereka, tinggal mencari di halaman buku tersebut.

Selain buku telepon manual, pemilik telepon rumah juga pasti punya buku telepon resmi keluaran pemerintah yang disebut Yellow Pages. Di dalam buku itu termaktub semua nomor dan nama pemilik telepon di satu provinsi, lengkap dengan nama dan nomor telepon beberapa perusahaan penyedia barang dan jasa.

Kalau dipikir-pikir, betapa rentannya privasi kita waktu itu ya? Bayangkan nama, alamat dan nomor telepon kita terpampang jelas di buku yang dibagikan gratis kepada para pelanggan telepon rumah waktu itu.

Sekarang, keberadaan barang-barang itu sudah tidak lagi dibutuhkan. Untuk apa buku tebal-tebal seperti itu kalau semua bisa dimasukkan ke dalam satu telepon genggam? Lebih ringkas dan mudah meski juga berarti otak jadi kekurangan pekerjaan lagi. Dulu kita bisa mengingat begitu banyak nomor telepon, tapi sekarang? Adakah yang bisa mengingat minimal lima nomor telepon selular?

Buat remaja tanggung, kalender dengan gambar artis berbikini adalah idaman.

Buat remaja tanggung, kalender dengan gambar artis berbikini adalah idaman. (sumber: kertasjadoel.blogspot)

Kalender.

Dulu, menjelang pergantian tahun kita sudah kasak-kusuk mencari kalender. Benda yang digantung di dinding sebagai penanda tanggal di tahun berjalan. Rasanya tidak elok melewati hari dalam setahun tanpa ada kalender yang tergantung di rumah. Tidak heran dulu bisnis kalender laris manis menjelang akhir tahun. Beberapa wajah artis terpasang di dinding-dinding rumah warga, tersenyum manis menemani satu bulan kita. Rumah tanpa kalender adalah rumah yang sepi.

Sekarang, tanpa kalender pun rasanya tak mengapa. Kalau ada ya syukur, tapi kalau tak ada ya tidak apa-apa. Toh kita punya telepon selular dan smartphone yang dilengkapi dengan fitur kalender. Bahkan lengkap dengan beragam fitur tambahan sebagai to do list atau reminder. Kalender yang tak hanya diam, tapi juga mengingatkan kita akan rencana atau acara-acara yang akan berlangsung.

Sekarang kalender memang masih eksis. Tapi perlahan kebutuhan akan kalender semakin menurun, tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kita akan betul-betul tak butuh kalender fisik lagi.

Suaranya bisa membangunkan satu RT

Suaranya bisa membangunkan satu RT

Jam Meja Dengan Alarm.

Ini juga salah satu benda yang menurut saya perlahan akan hilang dari rumah-rumah kita. Dulu di setiap meja di samping tempat tidur biasanya diletakkan jam kecil dengan fungsi alarm. Kita bisa mengatur pukul berapa jam itu berdering membangunkan kita.

Sekarang? Ya untuk apa? Toh sudah ada telepon selular yang menggantikan fungsinya. Kita bisa mengatur pukul berapa telepon itu akan berdering untuk membangunkan kita. Bukan cuma berdering, tapi bisa juga dengan menyanyi, berteriak atau macam-macam lagi semau kita.

Begitulah, pengaruh telepon genggam memang semakin besar. Beragam fitur yang dimilikinya menggeser keberadaan banyak barang yang dulunya begitu penting. Di negara berkembang, telepon genggam bahkan mulai menggantikan peran uang. Kita bisa membayar apa saja dengan menggunakan telepon genggam.

Besok-besok mungkin akan semakin banyak benda yang hilang karena keberadaan telepon genggam. [dG]

About The Author

4 Comments

  1. Adetruna
    13/07/2016
    • Daeng Ipul
      13/07/2016
  2. Yudi Randa
    14/07/2016
    • Daeng Ipul
      14/07/2016

Add Comment