Cerita Ringan

Balada Vespa

Vespa biru milik Ian
Vespa biru milik Ian

Saya pernah punya Vespa dan tiba-tiba jadi rindu untuk kembali mengendarai Vespa

Sayup-sayup terdengar suara menggerung dari depan rumah. Saya memicingkan mata, mencoba menyesuaikannya dengan sinar matahari yang sudah menyeruak dari jendela. Jarum pendek jam dinding berada sedikit di depan angka delapan. Suara gerungan mesin itu masih terus terdengar, saya masih bermalas-malasan di atas tempat tidur.

Saya tebak suara itu datang dari Vespa biru milik Ian. Dari suara gerungannya saya tahu kalau dia kesulitan menyalakan Vespa biru yang dikendarainya belakangan ini. Dengan agak malas akhirnya saya bangkit dari tempat tidur dan turun ke lantai satu. Lelaki Bugis masih tergeletak di karpet depan televisi, dengkuran kerasnya terdengar.

Kenapai? Ndak maui bunyi?” Tanya saya pada Iyan yang sedang berjongkok di samping Vespanya.

“Iyye, ndak tauk kenapai ini.” Jawabnya. Peluh membasahi keningnya.

Saya menuntaskan ritual pagi hari dulu, buang air kecil dan minum segelas air putih sebelum membantu Ian.

Berbekal pengalaman bertahun-tahun lalu saat masih mengendarai Vespa, saya coba membantunya. Standart operational procedure (SOP) ketika Vespa tak mau berbunyi adalah: pertama, mengecek pengapian di busi. Kalau pengapiannya kecil berarti ada masalah di platina. Kalau pengapiannya bagus maka berarti ada masalah di karburator. Kedua, kalau pengapiannya kecil coba cek platinanya. Biasanya platina memang agak bermasalah dan perlu sedikit diutak-atik. Ketiga, kalau pengapian bagus berarti ada masalah di karburator yang membuat bensin membanjir dan membasahi busi. Busi yang basah akan menghalagi pengapian.

Pagi itu masalah di Vespa Ian ternyata ada di pengapian. Businya masih bagus, hanya saja platinanya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Ini yang membuat tidak ada pengapian sehingga Vespanya ngadat dan tidak mau bunyi.

Untung Ian punya busi cadangan, hanya dengan mengganti busi Vespa birunya kembali menyalak dengan garang. Masalah selesai!

***

Enam tahun lalu terakhir saya mengendarai Vespa. Saya punya Vespa PX 150 E keluaran tahun 1983 yang saya beri nama Benyamin. Vespa itu warisan dari alm. Bapak yang saya pakai sejak tahun 2002. Selama bertahun-tahun Benyamin selalu setia menemani, dengan segala suka dan dukanya. Dari yang awalnya sering membuat masalah karena saya tak begitu paham dengan kondisinya sampai akhirnya saya benar-benar paham gejala-gejala penyakitnya. Sayang sekarang Benyamin sudah tak bisa berjalan lagi, tergantikan oleh motor lain sejak 2009.

Mengendarai Vespa adalah masa-masa yang menyenangkan. Entah kenapa, Vespa rasanya begitu nyaman dikendarai. Mungkin ini hanya soal romantisme belaka, apalagi saya memang salah satu orang cukup senang dengan sesuatu yang bernuansa vintage dan Vespa adalah bagian dari  hal-hal yang berbau vintage.

Vespa sebenarnya adalah nama salah satu tipe motor produksi Piaggio, Italia. Hanya saja kita lebih sering menyebut Vespa untuk semua jenis motor yang diproduksi oleh Piaggio. Piaggio sendiri perusahaan yang didirikan oleh Rinaldi Piaggio pada tahun 1884 di Genoa, Italia. Awalnya perusahaan ini memproduksi kapal pesiar, lalu mulai berkembang memproduksi lokomotif, gerbong kereta api, van, mobil dan truk karoseri. Di masa perang dunia kedua pertama Piaggio bahkan ikut memproduksi pesawat terbang.

Piaggio baru memproduksi motor yang kemudian diberinama Vespa pada kisaran masa perang dunia kedua. Keputusan ini tidak lepas dari kondisi Italia di perang dunia kedua yang ekonominya merosot ditambah dengan kondisi pabrik Piaggio yang hancur dibom tentara sekutu. Enrico Piaggio, anak Rinaldi Piaggio memutuskan untuk menghentikan semua produksi mereka sebelumnya dan kemudian fokus ke alat transportasi yang lebih bisa menjangkau orang banyak. Enrico bahkan mempekerjakan seorang insinyur pesawat terbang untuk mendesain motor Vespa pertama mereka.

Produksi Vespa pertama mereka diberinama MP5 atau yang oleh orang Italia disebut Donald Duck karena bentuknya mirip dengan bebek. Purwarupa pertama itu terus dikembangkan oleh Corradino D’Ascanio sang insinyur Piaggio sampai hadirnya model MP6. Model inilah yang kemudian diberi nama Vespa (dalam bahasa Italia berarti lebah) dan kemudian dikembangkan secara massal. Sejak saat itu Vespa menjadi makin populer dan mulai menjelajah ke berbagai dunia.

Purwarupa MP5 yang pertama dibuat Piaggio (foto: Wikipedia)
Purwarupa MP5 yang pertama dibuat Piaggio (foto: Wikipedia)

Di Indonesia sendiri Vespa mulai masuk secara massif sejak tahun 1960-an dengan PT Danmotors Indonesia Vespa sebagai importir utama. Sebelumnya Vespa sudah cukup banyak dibawa ke Indonesia oleh para misionaris Katolik. Daya tahannya yang luar biasa dan tubuh yang kuat karena terbuat dari baja asli membuat Vespa jadi pilihan para misionaris untuk menembus alam yang berat. Di awal kehadirannya di Indonesia Vespa konon berharga sama dengan satu rumah sederhana.

Kehadiran motor-motor Jepang yang lebih murah dan terjangkau perlahan membuat Vespa makin tersingkir, popularitasnya makin menurun pelan-pelan setelah sempat menikmati masa kejayaan di dasawarsa 1970-an.

Menjelang tahun 1990-an Vespa makin tersingkir, jumlahnya makin menurun di jalanan Indonesia. Meski begitu kejayaan Vespa di masa lalu membuat namanya tetap dikenang sebagai salah satu produk otomotif klasik. Tidak heran kalau di milenia kedua perlahan mulai banyak Vespa yang beredar di jalanan  dengan desain klasik. Piaggio pun memproduksi kembali Vespa dengan desain yang lebih moderen. Bahkan perusahaan motor lainpun memproduksi motor dengan desain yang mirip Vespa.

Ah, cerita tentang Vespa ini membuat saya tiba-tiba rindu pada Benyamin. Mungkin sudah saatnya si putih gemuk itu saya bangunkan dari tidur panjang. Saya rindu mengukur jalanan Makassar bersama si Benyamin. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (7)

  1. Bapakku usianya 75 tahun, sesekali msh suka naik vespa hijaunya. Kadang2 ada yang tanyaki apakah vespanya mau dijual, Bapak bilang, “Kalau harga jualnya bisa beli motor baru, bolehlah.” 😀
    Tapi pernah adikku mau belikan motor bebek (kira2 7 – 8 tahun yl) tapi Bapak ndak mau.

    Vespanya Bapak dulu yang antar-jemput saya dan adik2 ke sekolah. Teman2 SDku masih ingat itu vespa. Kalo ndak salah Bapak miliki itu vespa tahun 1976 atau 1978. Sekarang masih ada nangkring di depan rumah tiap pagi. Kalau ke dekat2 sini ji, Bapak masih pake vespanya.

    Yang kasihan kalo mogok ki di jalan … ddeh beratnya itu vespa didorong sampai dapat bengekel.

  2. KARENA VESPA SAYA DITERIMA SAMA ISTRI SAYA…
    WAKTU JAMAN PACARAN KATA DIA.. AMA VESPA AJA SAYANG APALAGI AMA PACAR….CUIT CUIT..
    TAMBAH KATA PONAKANNYA INI MO KITA TERIMA TANTE…MIRIPKI LUPUS HAHAHA
    SAYANG VESPA SAYA HARUS DIJUAL KARENA KEPERLUAN MENDESAK.. PUNYAKU BONTE 63′
    JADI RINDU PENGEN NAIK VESPA LAGI SETELAH 15 TAHUN PENSIUN SAMA

  3. Vespaku.. Milik peninggalan almh ibu, terpaksa di jual ayah 8 tahun lalu. Sehabis tsunami, saya harus kuliah ke jkt. Dan musibah terjadi. Dana keluarga minipis. Vespa yang sama dengan Daeng terpaksa di jual. Berikut dengan VW combi Brazil.. Hiks

  4. untuk sparepartnya sekarang masih ada gak ya gan ? harganya pasti mahal dah.

  5. Nanang Rizky

    vespa kayanya memberikan kesan klasikk bagi siapa saja yang memakainyaaa,,, kangen juga ama vespa tempo dulu yang pernah saya tunggangi heheh

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.