<?xml version="1.0" encoding="UTF-10"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daeng Gassing &#187; Wisata</title>
	<atom:link href="http://daenggassing.com/category/wisata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daenggassing.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 06:18:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mencicipi Alam di Bantimurung</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 16:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Selasa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Air Terjun]]></category>
		<category><![CDATA[Bantimurung]]></category>
		<category><![CDATA[Maros]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata SulSel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2275</guid>
		<description><![CDATA[Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan karst atau gunung kapur dengan gua-gua alaminya serta tentu saja air terjun yang terletak di Taman Nasional Bantimurung. Daerah yang dulu juga dikenal sebagai Kingdom Of Butterfly Minggu sore yang berawan, agak berbeda dengan hari-hari lain di bulan Januari yang biasanya dirundung hujan deras. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2276" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_3210-5.jpg"><img class="size-full wp-image-2276" title="IMG_3210-5" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_3210-5.jpg" alt="Air terjun Bantimurung" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Air terjun Bantimurung</p></div>
<blockquote>
<h3>Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan karst atau gunung kapur dengan gua-gua alaminya serta tentu saja air terjun yang terletak di <strong>Taman Nasional Bantimurung</strong>. Daerah yang dulu juga dikenal sebagai <em>Kingdom Of Butterfly</em></h3>
</blockquote>
<p>Minggu sore yang berawan, agak berbeda dengan hari-hari lain di bulan Januari yang biasanya dirundung hujan deras. Saya kembali menjejakkan kaki di Bantimurung, sekitar 50 Km sebelah utara kota Makassar. Sore itu saya berniat bertemu dengan teman-teman <strong>Blogger Maros</strong>, memenuhi undangan mereka untuk sekadar berkumpul dan berbagi.</p>
<p>Bantimurung tidak terlalu ramai meski hari itu hari minggu. Musim hujan yang sedang lucu-lucunya memang membuat orang agak enggan meluangkan waktunya menikmati liburan di alam bebas. Ketika saya datang, beberapa orang nampak mulai beranjak pulang. Beberapa baruga ( rumah serupa pendopo ) juga nampak kosong melompong, mungkin sudah ditinggal para pengunjung.</p>
<div id="attachment_2277" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_3211-6.jpg"><img class="size-full wp-image-2277" title="IMG_3211-6" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_3211-6.jpg" alt="Aliran air di sungai" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Aliran air di sungai</p></div>
<p>Air sungai nampak agak deras meski tidak terlalu tinggi. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu pernah datang ke Bantimurung tepat ketika musim hujan mencapai puncaknya, ketika itu air mengalir sangat deras dan sangat tidak mungkin untuk dinikmati. Beberapa orang nampak menikmati aliran air yang tidak terlalu deras itu, pun dengan air terjun yang masih bersahabat. Jumlahnya tak sebanyak biasanya ketika sungai selebar kira-kira 20 meter itu terasa sesak oleh pengunjung.</p>
<p>Bantimurung, setiap mendengar namanya yang terbayang di kepala saya adalah air terjun dan kupu-kupu. Saya lupa kapan tepatnya pertama kali mengunjungi tempat wisata terkenal itu. Mungkin sekitar 19 tahun lalu. Jaman kecil dulu, ketika hiburan masih sangat kurang, Bantimurung adalah tujuan favorit untuk berwisata. Saingannya tak banyak, paling-paling hanya pantai Barombong, Pulau Khayangan dan Pulau Lae-Lae.</p>
<p>Tahun berganti tahun, beragam hiburan pilihan mulai menggantikan kehadiran Bantimurung. Mall dan hiburan modern masuk dan tumbuh di kota Makassar. Perlahan-lahan Bantimurung tidak menjadi favorit lagi. Ada rentang yang lama bagi saya sebelum kembali mengunjunginya.</p>
<p>Meski bukan tujuan utama lagi, Bantimurung ternyata tetap memukau. Deretan pohon tinggi yang rapat dan mungkin berusia ratusan tahun bersanding dengan semilir angin yang sejuk, gemericik air di sungai dan tentu saja air terjunnya yang kadang deras tapi masih bersahabat. Perubahan tetap terasa memang, setidaknya saat ini sudah lebih susah mendapati kupu-kupu liar beterbangan. Lebih gampang menemukan kupu-kupu yang diawetkan dan ditaruh di dalam bingkai kaca di dekat gerbang masuk.</p>
<div id="attachment_2278" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Bantimurung.jpg"><img class=" wp-image-2278" title="Bantimurung" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Bantimurung-1024x512.jpg" alt="Beberapa sudut Bantimurung" width="620" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Beberapa sudut Bantimurung</p></div>
<p>Bantimurung adalah <em>Kingdom Of Butterfly</em>, sebuah kerajaan bagi spesies kupu-kupu. Sebagian di antaranya tidak ditemukan di tempat lain. Perlahan kerajaan itu seperti mulai memudar kejayaannya. Memang ada penangkaran khusus buat mereka yang ingin mengabadikannya dalam bentuk kering dan berbingkai, tapi di alam liar sendiri kupu-kupu itu semakin susah dilihat dengan mata telanjang.</p>
<p>Bantimurung bukan cuma air terjun, sungai dan kupu-kupu. Luangkan waktu anda sejenak untuk sekadar menikmati gua alami yang bertebaran di sekitar taman nasional itu. Masuklah ke dalamnya dan nikmati hasil karya sang pencipta yang tergores pada stalagmit dan stalagtit yang memukau. Setidaknya ada dua gua yang bisa dijadikan tempat rekreasi di sekitar permandian alam Bantimurung.</p>
<p>Akses ke Bantimurung memang agak jauh meski tidak bisa dibilang susah. Berkendaraan pribadi atau sewaan hanya memakan waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Makassar. Jalanannya lumayan mulus meski memang tidak terlalu lebar. Dengan berkendaraan umum memang agak lama. Dari kota Makassar bisa mengambil kendaraan umum ke kota Maros, dan dari ibukota kabupaten itu menumpang kendaraan umum lagi yang akan membawa anda ke Bantimurung. Harga karcis masuknyapun tidak mahal, cukup dengan <strong>Rp. 10.000,- </strong>bagi orang dewasa.</p>
<p>Tahun berganti tahun, Bantimurung masih tetap menarik. Pemda Maros sepertinya berusaha menarik pengunjung dengan berbagai inovasi. Ada tempat untuk <em>outbound</em>, ada permainan bola air dan ada <em>flying fox</em>. Patut diacungin jempol. Bantimurung memang terlalu indah untuk dilewatkan. Merasakan segarnya aliran air sungai selepas jatuh di air terjunnya memang sungguh menggoda. Merasakan sejuknya udara yang bersih terasa seperti memberi ruang baru di paru-paru kita warga kota yang terbiasa dengan udara berpolusi.</p>
<p>Tahun berganti tahun, Bantimurung masih menjadi sebuah tempat untuk mencicipi alam dengan segala kesegarannya. Semoga untuk waktu yang lama, atau bahkan selamanya. Ayo, datang dan nikmati Bantimurung.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="air terjun bantimurung makassar">air terjun bantimurung makassar</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="bingkai lucu">bingkai lucu</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="air terjun bantimurung">air terjun bantimurung</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="bantimurung makassar">bantimurung makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="berlibur ke bantimurung">berlibur ke bantimurung</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2275"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fmencicipi-alam-di-bantimurung%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 03:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Selasa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Blogger Ngalam]]></category>
		<category><![CDATA[Globbers]]></category>
		<category><![CDATA[Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Oblong Merah Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2242</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di sebelah selatan Surabaya itu. Akhirnya keinginan saya terwujud juga, meski judulnya bukan jalan-jalan. Jumat jam 15:00 WIB, pesawat Sriwijaya yang saya tumpangi mendarat dengan agak kurang mulus di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Setelah ditunda selama sejam, akhirnya saya berhasil meninggalkan Cengkareng dan sejam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2243" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG-20120106-00019.jpg"><img class="size-full wp-image-2243" title="IMG-20120106-00019" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG-20120106-00019.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang</p></div>
<blockquote>
<h3>Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di sebelah selatan Surabaya itu. Akhirnya keinginan saya terwujud juga, meski judulnya bukan jalan-jalan.</h3>
</blockquote>
<p>Jumat jam 15:00 WIB, pesawat Sriwijaya yang saya tumpangi mendarat dengan agak kurang mulus di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Setelah ditunda selama sejam, akhirnya saya berhasil meninggalkan Cengkareng dan sejam kemudian mendarat di Malang. Langit Malang dirundung awan kelabu, hujan agak deras meski tidak dibarengi angin kencang. Keluar dari pesawat kami disambut beberapa petugas yang menyodorkan payung. Bandara Abdul Rachman Saleh ternyata lebih kecil dari yang saya duga. Tentu berbeda jauh dengan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.</p>
<p>Setelah menunggu cukup lama akhirnya saya meninggalkan bandara. Saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman saya pada bandara kecil itu. Ini adalah bandara kecil pertama yang saya datangi setelah selama ini hanya mendatangi bandara semacam Sultan Hasanuddin, Soekarno Hatta, Adi Sucipto dan Juanda.</p>
<p>Perlahan taksi bandara yang saya tumpangi meninggalkan bandara menuju hotel D?Fresh di bilangan Blimbing, tepatnya di Jalan Candi Trowulan. Malang lumayan ramai, itu kesan pertama yang saya tangkap. Udaranya juga sejuk apalagi karena hujan mengguyur kota itu.? Setelah sempat kebingungan, akhirnya sampai juga saya di D?Fresh. Hotel baru yang menggabungkan konsep etnik dan minimalis. Begitu tiba saya langsung tertarik dengan arsitekturnya, apalagi di dinding tangga menuju lantai dua terpasang beberapa foto legenda musik seperti Jimmi Hendrixx, Kurt Cobain, Bob Marley dan lain-lain. Belakangan saya juga melihat poster besar musisi lainnya seperti John Lennon, Freddie Mercury, Marilyn Monroe dan Michael Jackson. Suasana hotelnya nyaman, sepi dan memang cocok untuk beristirahat.</p>
<p>Tak berapa lama saya kemudian bergabung dengan rombongan dari Id Blognetwork. Ada <strong>mbak Rika, mas Verry, mas Arief EW dan ki demang Suryaden</strong>. Siang itu kami cuma makan di restoran hotel, karena belum makan sedari pagi saya memilih nasi goreng dan segelas kopi french press. Hujan mulai reda, tapi udara sejuk masih memeluk.</p>
<p>Malam mulai tiba ketika kami ke kamar dan bersiap-siap untuk makan malam. Selepas maghrib, teman-teman dari <strong>Blogger Ngalam</strong> datang menjemput. Saya dan rombongan dari IBN memang datang untuk menghadiri acara <strong>Oblong Merah Muda</strong> yang digelar teman-teman Blogger Ngalam.</p>
<p>Dari D?Fresh kami bergerak ke <strong>Grand Foodcourt Jl. Jenderal Ahmad Yani</strong>. Sebuah tempat makan yang merupakan tempat berkumpulnya beberapa warung makan top di kota Malang. Awalnya saya sempat bingung mau memilih apa dan meminta rekomendasi dari <strong>Haqqi, ketua komunitas blogger ngalam</strong> yang menemani kami malam itu.</p>
<p>&#8221; Semuanya enak koq &#8220;, Begitu kata Haqqi.</p>
<p>Baiklah, saya mulai menimbang-nimbang. Saya mencoba memilih makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya, dan pilihan jatuh pada tahu campur. Saya sudah pernah menikmati tahu campur sebelumnya, tapi mungkin sudah sekitar 10 tahun lalu, itupun di Makassar.</p>
<div id="attachment_2244" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5453-7.jpg"><img class="size-full wp-image-2244" title="IMG_5453-7" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5453-7.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Tahu Campur</p></div>
<p>Tak perlu menunggu lama sebelum makanan datang. Saya mulai mencicipi. Ah, rasanya ada yang kurang pas. <strong>Tahu campur di Malang rasanya agak manis dan gurih</strong>, berbeda dengan makanan khas Bugis-Makassar yang asin-asin. <strong>Kekurangan lainnya adalah karena tidak ada jeruk nipis</strong>, sebagai orang Makassar asli, makan makanan berkuah tanpa jeruk nipis rasanya memang agak aneh. Untung karena mas Verry yang memesan ayam bakar madu dapat jatah jeruk nipis meski kecil. Jeruk nipis punya mas Verrylah yang kemudian saya tebarkan ke tahu campur sebelum saya santap. Lumayan, ada rasa kecut yang saya rindukan.</p>
<p>Malam itu kami tidak banyak ke mana-mana, setelah makan kami mengunjungi persiapan teman-teman panitia <strong>Oblong Merah Muda di STIEM Malang</strong> dan kemudian mengunjungi barak tempat penginapan para blogger tamu yang berada di sebuah kompleks TNI AD. Malang makin terasa menggigit malam itu, dinginnya mengingatkan saya pada kota Malino, apalagi di beberap tempat pohon pinusnya juga masih banyak.</p>
<p>Malam itu saya tertidur dengan lelap.</p>
<p>Keesokan harinya agenda kami padat. Dari pagi sampai sore saya dan rombongan IBN mengikuti acara Oblong Merah Muda yang diadakan dalam rangkaian <strong>ulang tahun komunitas blogger Malang atau Globbers</strong>. Saya suka tempat pelaksanaan acaranya, berada dalam lingkungan kampus STIEM yang asri dengan beberapa pohon pinus tinggi dan udara yang sejuk. Tentang acara ini akan saya tulis tersendiri.</p>
<div id="attachment_2245" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5474-11.jpg"><img class="size-full wp-image-2245" title="IMG_5474-11" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5474-11.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Tempat acara Oblong Merah Muda</p></div>
<p>Acara berlangsung sampai sore hari sebelum akhirnya kami kembali ke hotel. Sebenarnya malam harinya kami berencana menjelajahi kuliner lainnya dari kota Malang, sayang karena hujan kemudian turun dan ternyata bukan perkara mudah mencari taksi di kota Malang. Akhirnya kamu hanya makan di restoran hotel. Di penghujung malam kami akhirnya sempat berkunjung ke barak tempat teman-teman blogger luar kota menginap.</p>
<p>Keesokan harinya, Malang lumayan cerah meski udaranya masih sejuk. Setelah mandi dan bersiap-siap kami yang sudah dijemput teman dari Blogger Malang kemudian bersiap mengikuti rangkaian acara Oblong Merah Muda hari kedua. Tapi sebelumnya kami mampir dulu menikmati salah satu kuliner terkenal dari Malang. <strong>Apalagi kalau bukan Bakso Kota Cak Man</strong>.</p>
<div id="attachment_2246" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5573-24.jpg"><img class="size-full wp-image-2246" title="IMG_5573-24" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5573-24.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Bakso Kota Cak Man</p></div>
<p>Baksonya enak, dengan beragam pilihan selain bakso. Sebenarnya di Makassar Bakso Kota Cak Man juga sudah buka cabang meski memang rasanya tentu saja tidak selezat di tanah aslinya.</p>
<p>Dari bakso Cak Man kami bergabung dengan rombongan Oblong Merah Muda yang sedang berada di <strong>museum Brawijaya</strong>. Saya sudah ketinggalan penjelasan sejarah dari guide museum dan akhirnya berkeliling sendiri di museum itu. Berbagai peninggalan sejarah militer tersimpan rapih di sana meski kelihatan sedikit berdebu. Seperti umumnya museum di Indonesia, museum Brawijaya juga terlihat agak kumuh dan kurang menarik. Ini memang masalah klasik museum di negeri kita.</p>
<p>Selepas dari museum kami beranjak ke <strong>restoran Inggil.</strong> Sebuah restoran yang konsepnya sangat menarik. <strong>Gabungan antara museum dan restoran</strong>. Saya yang penggemar sejarah dan barang-barang lama merasa sangat betah melihat koleksi restoran berupa poster tua, mesin jahit tua, radio tua, perangko tua dan banyak lagi.</p>
<div id="attachment_2247" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5671-38.jpg"><img class="size-full wp-image-2247" title="IMG_5671-38" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5671-38.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu sudut Restoran Inggil</p></div>
<p>Sayangnya saya tidak bisa lama-lama. Jadwal pesawat jam 21:00 dari Surabaya memaksa saya dan Rara untuk buru-buru meninggalkan acara. Macet di Porong tidak terduga katanya, dan kami tentu saja tidak mau ketinggalan pesawat. Setelah berpamitan dengan panitia dan teman-teman blogger lainnya, kami meluncur ke hotel untuk siap-siap pulang.</p>
<p>Tiga hari dua malam di Malang rasanya tentu belum cukup. Masih banyak hal lain yang harus saya jelajahi di Malang. Kunjungan perdana itu kemudian membuat saya bertekad untuk kembali lagi ke sana, tentunya dengan alasan yang lain, jalan-jalan.</p>
<p><strong>Malang, saya akan kembali..!! </strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="bandara abdul rachman saleh malang">bandara abdul rachman saleh malang</a> (23)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="bandara abd saleh malang">bandara abd saleh malang</a> (9)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="Bandara Abdul Rachman Saleh">Bandara Abdul Rachman Saleh</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="bandara malang 2012">bandara malang 2012</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="Bandara baru Abdurrahman saleh malang">Bandara baru Abdurrahman saleh malang</a> (4)</li></ul><div class="shr-publisher-2242"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fmalang-yang-belum-sempat-dijelajahi%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taka Bonerate Bag.3 ; Potensi Yang Terpinggirkan</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 06:38:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Anging Mammiri]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau]]></category>
		<category><![CDATA[Takabonerate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2068</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia kaya akan potensi alam, tapi masalahnya selalu sama. Selalu saja potensi itu terpinggirkan. Namanya Nadzrun Jamil, tapi lebih akrab disapa pak Jamil atau Aa Jamil. Lelaki kelahiran Padang-Sumatera Barat ini sekarang menjabat sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate Wilayah I. ??Perjalanan hidupnya agak unik, sebelum menjejakkan kaki di tanah Selayar dia lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2069" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_0151.jpg"><img class="size-full wp-image-2069 " src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_0151.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Pak Jamil dengan kamera bawah airnya</p></div>
<blockquote>
<h3>Indonesia kaya akan potensi alam, tapi masalahnya selalu sama. Selalu saja potensi itu terpinggirkan.</h3>
</blockquote>
<p>Namanya <strong>Nadzrun Jamil</strong>, tapi lebih akrab disapa pak Jamil atau Aa Jamil. Lelaki kelahiran Padang-Sumatera Barat ini sekarang menjabat sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate Wilayah I. ??Perjalanan hidupnya agak unik, sebelum menjejakkan kaki di tanah Selayar dia lebih dulu mengabdi di Taman Nasional Meru Wediri kabupaten Jember. Selayar dan <a href="../../../../../2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/">Taka Bonerate</a> adalah persentuhan pertamanya dengan laut. Tak pernah terpikir sebelumnya dia akan jatuh cinta pada laut.</p>
<p>Jalan hidup manusia memang tidak dapat ditebak. Ketika tiba di Selayar tahun 2007, dia mulai jatuh cinta pada laut dan tentu saja pada <strong>Taman Nasional Taka Bonerate</strong>. Rasa cinta itu juga yang membuatnya belajar menyelam dan mengambil sertifikasi PADI. Tak heran bila dalam waktu singkat dia sudah syah menjadi instruktur. Lebih cepat dari teman-teman seangkatannya.</p>
<p>Lelaki gempal itu sangat ramah ketika pertama kali kami bertemu dengannya di <strong>Tinabo Dive Center</strong> di kota Benteng, Selayar. TDC adalah sebuah usaha yang dirintis beberapa orang dan diserahkan kepada pak Jamil untuk dikelola. Malam itu pak Jamil antusias menunjukkan kepada kami foto-foto dan rekaman video bawah laut. Selain senang menyelam, beliau juga hobi mendokumentasikan keindahan alam bawah laut dengan kamera Canon 7D lengkap dengan segala perangkatnya. Katanya, total investasinya mencapai harga 65 juta rupiah.</p>
<p>&#8221; 65 juta cuma buat dicebur-ceburin&#8221;, katanya sambil tertawa renyah.</p>
<p>Ketika menjejakkan kaki di <a href="../../../../../2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/">pulau Tinabo</a>, beliau juga menyambut kami dengan ramah. Saat itu beliau sedang bersiap-siap untuk mengantar beberapa tamu dari BRI Selayar untuk melakukan <em>intro dive</em>. Beliau juga menawari kami untuk ikut <em>intro dive</em>, sayangnya karena kami tidak mempersiapkan dana sehingga hanya Syamnsoe seorang yang menangkap tawaran itu. Untuk sekali <em>dive intro</em> dengan durasi sekitar 1 jam biaya yang harus dibayarkan sekitar Rp. 400.000.</p>
<p>Selepas berenang dan snorkling, di bawah sebuah bangunan sederhana kami mulai ngobrol banyak tentang pulau Tinabo dan Takabonerate. Matahari yang cerah serta angin laut yang sejuk menjadi pelengkap obrolan kami siang itu.</p>
<h2><em>Taka Bonerate dan illegal fishing</em></h2>
<p>Taka Bonerate adalah kawasan atoll terbesar ketiga di dunia, ditunjuk menjadi kawasan taman nasional sejak tahun 1998 dan resmi ditetapkan menjadi kawasan taman nasional pada tahun 2001. Taka Bonerate merupakan gugusan pulau berjumlah 21 pulau dengan luas total 530.000 Ha., ?220.000 Ha di antaranya adalah gugusan karang. Dari 21 pulau yang menjadi bagian dari Taka Bonerate, hanya 8 di antaranya yang berpenghuni. Selebihnya adalah pulau tak berpenghuni .</p>
<div id="attachment_2071" class="wp-caption alignleft" style="width: 609px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4695.jpg"><img class="size-full wp-image-2071" title="IMG_4695" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4695.jpg" alt="" width="599" height="398" /></a><p class="wp-caption-text">Jernihnya..</p></div>
<p>Kenapa sampai Taka Bonerate ditetapkan jadi taman nasional ? Tentu karena ada sesuatu yang spesial di sana. Menurut penuturan pak Jamil, selain sebagai atoll terbesar ketiga di dunia, Taka Bonerate juga punya banyak spot diving yang unik. Salah satunya adalah kawasan <strong>Tinanja</strong> yang mempunyai kawasan soft coral yang flat dan berwarna-warni. Karakteristiknya yang unik itulah yang menjadikan kawasan Taka Bonerate ditetapkan sebagai taman nasional.</p>
<p>Masalah utama yang dihadapi taman nasional Taka Bonerate adalah soal <strong><em>illegal fishing</em></strong>, atau banyaknya nelayan tradisional yang menangkap ikan dengan cara-cara yang haram seperti melakukan pengeboman atau bius. Cara-cara ini jelas merusak ekosistem karena membuat karang-karang yang menjadi rumah para ikan-ikan itu menjadi hancur. Secara tidak langsung juga menurunkan hasil produksi laut di sekitar Taka Bonerate.</p>
<p>Untuk menekan jumlah illegal fishing itu, menurut pak Jamil tidak cukup hanya dengan menambah personil. Saat ini jumlah personil yang menjaga kawasan Taka Bonerate memang masih sangat sedikit, total ada 16 orang untuk tiap-tiap wilayah yang terbagi atas 2 wilayah itu. Sementara untuk Jagawana yang dipersenjatai hanya ada 6 orang. Sangat minim bila dibandingkan dengan luas kawasan Taka Bonerate. Karena itulah, menurut pak Jamil hal terpenting yang harus dilakukan adalah penyadaran. Penyadaran kepada masyarakat untuk meninggalkan praktek illegal fishing.</p>
<div id="attachment_2072" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4777.jpg"><img class="size-medium wp-image-2072" title="IMG_4777" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4777-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Nelayan setempat yang perahunya kami sewa</p></div>
<p>Saat ini pihak taman nasional Taka Bonerate berusaha menggandeng masyarakat sekitar untuk ikut merasa memiliki taman nasional Taka Bonerate. Salah satunya adalah melibatkan mereka dalam segala usaha mengembangkan kawasan wisata Taka Bonerate. Melibatkan masyarakat untuk ikut menyediakan kapal sampai menjadi tenaga penyedia makanan atau melayani turis. Cara-cara ini menurut pak Jamil secara tidak langsung membuat masyarakan merasa dilibatkan dan sedikit demi sedikit rasa memiliki akan tumbuh sehingga diharapkan bisa menekan illegal fishing.</p>
<p>Cara itu memang tidak gampang. Setidaknya butuh waktu panjang sebelum hasilnya benar-benar bisa dirasakan, apalagi sampai saat ini koordinasi dengan pemerintah daerah Selayar masih belum beres sepenuhnya. Pemerintah kabupaten kepulauan Selayar masih terkesan lambat untuk ikut mempromosikan kawasan Taka Bonerate. Infrastruktur masih jadi masalah terbesar bila kita berbicara tentang pariwisata. Sampai saat ini belum ada pelayaran reguler yang menghubungkan antara pulau Selayar dengan pulau-pulau di kawasan Taka Bonerate sehingga tentu saja para calon turis harus merogoh koc ek yang dalam bila memang ingin berkunjung ke sana.</p>
<p>Hasilnya tentu akan berbeda bila pemerintah daerah mau berinvestasi dengan mengadakan jalur pelayaran reguler menuju pulau-pulau di Taka Bonerate, khususnya pulau Tinabo yang jadi pusat pemanfaatan wisata. Setidaknya ini yang menjadi masalah besar, program antara pengelola kawasan Taka Bonerate dengan pemerintah daerah masih belum sepenuhnya bisa berjalan beriringan. Tidak heran bila Taka Bonerate kalah populer bila dibandingkan dengan Wakatobi misalnya, padahal kedua kawasan ini sama-sama ditetapkan sebagai taman nasional dalam waktu yang berdekatan.</p>
<p>Begitulah, negeri kita memang kaya akan potensi tapi tidak semua potensi itu bisa dikembangkan dengan baik terlebih bila bicara tentang potensi wisata.Taka Bonerate adalah bukti miskinnya ide pemerintah daerah dalam mempromosikan kawasan wisatanya. Seandainya mereka serius dan mau mencari ide-ide cemerlang, bukan tidak mungkin kawasan Taka Bonerate akan sangat terkenal mengingat potensi alamnya yang luar biasa. Dan itu jelas akan menjadi sebuah alasan untuk menurunkan jumlah ilegal fishing sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga sekitar. Sederhana tapi saling berkaitan.</p>
<p>Saya hanya berharap suatu hari nanti akses menuju Tinabo di kawasan Taka Bonerate akan lebih mudah daripada sekarang. Saya berharap akan lebih banyak orang yang bisa menikmati sepotong surga di Selatan Sulawesi itu. Karena Tinabo dan Taka Bonerate memang layak untuk dinikmati.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/" title="biaya ke pulau takabonerate">biaya ke pulau takabonerate</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/" title="body 7d untuk di bawah air">body 7d untuk di bawah air</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/" title="bonerate">bonerate</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/" title="pariwisata indonesia 2012">pariwisata indonesia 2012</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/" title="taka bonarate">taka bonarate</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2068"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F11%2Ftaka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/11/taka-bonerate-bag-3-potensi-yang-terpinggirkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 03:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Anging Mammiri]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Takabonerate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2056</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat, sudah lebih dari tujuh jam lamanya kami berada di atas kapal kayu Cahaya Illahi yang mengantarkan kami ke pulau Jinato. Jinato yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate memang menjadi pusat penyelenggaraan Takabonerate Island Expedition, jadi semua rombongan memang diarahkan ke sana. Pulau ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2057" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4743.jpg"><img class="size-full wp-image-2057" title="IMG_4743" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4743.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Pulau Tinabo ; Takabonerate</p></div>
<blockquote>
<h3><strong>Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan <a href="../../../../../2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/">bagian 1</a></strong></h3>
</blockquote>
<p>Malam kian pekat, sudah lebih dari tujuh jam lamanya kami berada di atas kapal kayu <strong>Cahaya Illahi</strong> yang mengantarkan kami ke pulau Jinato. Jinato yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate memang menjadi pusat penyelenggaraan <strong>Takabonerate Island Expedition</strong>, jadi semua rombongan memang diarahkan ke sana. Pulau ini lumayan besar dengan penduduk sekitar 100an KK. Sebagian besar penduduknya berbahasa bugis karena memang asalnya kebanyakan dari kabupaten Sinjai. Dari segi ekonomi, pulau ini terlihat maju. Terbukti dari deretan rumah batu dengan arsitektur yang lumayan modern, ditambah beberapa antena parabola di halaman rumah warga.</p>
<p>Malam itu air laut sedang surut sehingga kapal besar Cahaya Illahi tidak bisa merapat. Kami terdampar cukup jauh dari daratan, penumpangpun akhirnya harus ditransfer ke perahu-perahu kecil untuk bisa mencapai daratan. Proses untuk naik ke kapal kecil dan mencapai daratan tidak mudah. Malam yang gelap membuat proses perpindahan jadi agak sulit dan ketika berhasil naik ke perahu kecil itu, suasana menegangkan kembali terasa. Sang nakhoda hanya mengandalkan perasaan dan sebuah senter yang lebih sering padam.</p>
<p>Akhirnya setelah sempat berdebar-debar, kami tiba juga di dermaga pulau Jinato dan disambut puluhan anak SD berseragam pramuka. Seumur hidup, baru kali ini saya disambut anak-anak SD, rasanya seperti seorang pejabat penting. Meski begitu saya kasihan juga pada anak-anak itu, sudah jauh malam tapi mereka tetap harus terjaga menyambut kami, lengkap dengan seragam pula.</p>
<div id="attachment_2058" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4596.jpg"><img class="size-medium wp-image-2058" title="IMG_4596" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4596-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Anak-anak SD yang menyambut kami</p></div>
<p>Di rumah kepala desa, kami yang termasuk dalam rombongan pejabat kabupaten kepulauan Selayar juga dijamu layaknya tamu penting. Anak-anak SD sudah siap dengan karton ukuran A4 yang berisikan nama dinas. Merekalah para pemandu yang mengantar kami ke rumah penduduk tempat kami diinapkan. Di karton yang dipegang anak-anak SD itu ada tulisan Tim Penggerak PKK, Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, Bappeda, dan lain-lain. Bangga juga ketika melihat sebuah karton bertuliskan <strong>BLOGGER</strong> bersanding dengan nama-nama dinas kepemerintahan itu, meski kami yakin mereka tidak paham apa itu blogger.</p>
<p>Setelah berbasa-basi sejenak, kami kemudian diantar ke rumah pak Asfar, lelaki muda dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Malam itu kami akan beristirahat di rumah beliau. Pagi harinya kami berencana menyeberang ke <strong>pulau Tinabo</strong>, pulau yang jadi pusat pemberdayaan wisata di<a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/">Taman Nasional Takabonerate. </a>Seperti biasa, tidur jadi pilihan terakhir. Kami masih sempat duduk di teras rumah batu itu dan ngobrol sampai menjelang subuh.</p>
<p>Pagi harinya tanpa sempat mandi meski sempat sarapan di rumah pak Asfar, kami langsung menuju <a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/">pulau Tinabo</a> dengan menumpang sebuah kapal yang lumayan besar. Perjalanan dari Jinato ke Tinabo ditempuh dalam waktu 2 jam, berarti ini kali ketiga kami melintasi lautan untuk waktu yang cukup panjang. Sampai hari kedua sudah 3 jenis kapal yang kami gunakan. Kapal feri, perahu kayu besar dan yang ini perahu kayu sedang. Itu tentu saja belum termasuk dua perahu kecil yang kami pakai ketika menyeberang ke Gusung dan naik ke daratan dari kapal motor Cahaya Illahi.</p>
<div id="attachment_2059" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4658.jpg"><img class="size-full wp-image-2059" title="IMG_4658" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4658.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana di atas kapal menuju Tinabo</p></div>
<p>Sekali lagi kami beruntung karena di bulan November ini cuaca masih sangat bersahabat. Langit cerah sedikit berawan, dan ombak tenang membuai. Perjalanan betul-betul melenakan. Hamparan laut berwarna biru tua berpadu dengan biru langit dan awan yang putih. Sesekali kami mendapati rombongan ikan terbang yang melintas menjauhi kapal. Cahaya matahari membias dan kadang terpantul sempurna di atas laut. Meski kadang merasa kepanasan, tapi semilir angin laut terasa sangat menyegarkan. Sungguh sebuah pemandangan yang tak membosankan. Laut di sekitar kamipun tidak sepenuhnya berwarna biru tua, kadang berwarna hijau tosca. Kadang kami bisa melihat langsung dasar laut yang dipenuhi <em>soft coral</em> , karang dan ikan-ikan hias. Rasanya sudah tidak sabar untuk menceburkan diri.</p>
<p>Akhirnya, setelah 2,5 jam kemudian sebuah pulau indah tampak di depan mata. Dari kejauhan pulau dengan pasir putih bersih itu sudah terlihat menggoda. Itulah pulau Tinabo yang jadi pulau utama untuk kawasan wisata di Taman Nasional Takabonerate.</p>
<div id="attachment_2060" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4688.jpg"><img class="size-full wp-image-2060" title="IMG_4688" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4688.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Pulau Tinabo</p></div>
<p>Kami disambut beberapa orang staff Taman Nasional Takabonerate yang memang sudah menantikan kami. Sambutan ramah mereka bersanding sempurna dengan keindahan pulau kecil di selat Flores itu. Kami jadi heboh sendiri ketika melihat ribuan ikan yang bergerombol tidak jauh dari dermaga. Pun ketika kami melihat sendiri betapa jernih air lautnya sehingga pasir putih dan karangnya terlihat sempurna.</p>
<p>Karena sudah tidak sabar untuk mencicipi laut Tinabo, kami jadi tidak membuang-buang waktu. Hanya menaruh tas, menikmati suguhan teh panas dan langsung mencebur. Airnya sungguh jernih, dan pasirnya halus serupa bedak. Bila berdiri di garis pantai maka akan terlihat jelas perpaduan warna yang memikat. Pasir putih kekuningan, air laut jernih berwarna hijau tosca, air laut berwarna biru tua, langit biru cerah dan awan putih bersih. Sungguh perpaduan yang menenangkan.</p>
<div id="attachment_2061" class="wp-caption alignleft" style="width: 249px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_0158.jpg"><img class="size-full wp-image-2061" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_0158.jpg" alt="" width="239" height="179" /></a><p class="wp-caption-text">Alam bawah laut pulau Tinabo</p></div>
<p>Kami juga beruntung karena mendapat pinjaman kamera bawah laut sehingga kami bisa mengabadikan pemandangan di bawah sana yang sungguh memikat. Termasuk tentu saja mengabadikan gaya dan ekspresi ketika berada di bawah laut. Sebenarnya kami mendapat tawaran untuk mencoba menyelam menggunakan alat, tapi sayang karena kami tidak membawa persiapan dana sehingga tawaran seharga Rp. 400.000,- itu tidak kami sambut. Hanya Daeng Syamsoe seorang yang kemudian mencoba untuk diving.</p>
<p>Selama tiga jam berada di laut pulau Tinabo, kami tidak? bosan-bosannya mencoba mengintip keindahan bawah lautnya meski hanya dengan berbekal alat <em>snorkle</em>. Saya bisa membayangkan, dengan alat sederhana itu saja kami sudah terpukau sedemikian rupa, bagaimana kalau misalnya kami benar-benar bisa mengintip sampai jauh ke dalam sana ya ?</p>
<p>Menurut pak <strong>Nadzrun Jamil</strong> yang juga adalah <strong>kepala seksi pengelolaan Taman Nasional Takabonerate wilayah 1</strong> itu, Tinabo memang jadi pusat untuk kegiatan wisata di Takabonerate. Di antara 21 pulau yang termasuk dalam gugusan Taman Wisata Takabonerate, Tinabolah yang dikelola secara serius untuk menjadi tujuan wisata. Di sana ada beberapa kamar untuk para pengunjung, termasuk tentu saja paket diving.</p>
<div id="attachment_2062" class="wp-caption alignleft" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4754.jpg"><img class="size-full wp-image-2062" title="IMG_4754" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4754.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Tinabo oh Tinabo</p></div>
<p>Sayangnya, infrastruktur memang kurang mendukung. Untuk mencapai pulau Tinabo dari Selayar harus menyewa kapal karena tidak ada perjalanan reguler ke sana. Biaya sewa kapal milik nelayan bisa mencapai angka Rp. 2 juta sekali jalan. Biaya paket wisata di Tinabo di luar sewa kapal itu sendiri seharga Rp. 1 juta rupiah per hari per orang, termasuk biaya penginapan, makan dan paket diving. Sedangkan bila hanya berkunjung dan snorkling, biaya yang dipasang adalah sebesar Rp. 2.500 untuk retribusi dan Rp. 40.000 untuk snorkling.</p>
<p>Ketiadaan infrastruktur ini memang jadi penghambat berkembangnya wisata bahari di Takabonerate. Padahal menurut pak Jamil, kawasan Takabonerate yang termasuk atol terbesar ketiga di dunia ini punya banyak potensi yang unik. Gugusan karangnya berbeda dengan Bunaken misalnya. Bila di Bunaken gugusan karangnya membentuk dinding, maka di Takabonerate khususnya di daerah Tinanja karangnya berbentuk padang dengan <em>soft coral</em> yang berwarna-warni.</p>
<p>Sampai saat ini koordinasi memang belum berjalan dengan baik antara pihak pengelola taman nasional yang berada langsung di bawah departemen kehutanan dengan pihak pemerintah daerah kabupaten kepulauan Selayar. Koordinasi yang masih berantakan inilah yang membuat kawasan taman nasional yang ditetapkan sejak tahun 2001 ini kalah pamor dibanding kawasan yang sama di Wakatobi. Padahal menurut pak Jamil, semua punya keunikan yang berbeda dan sama menariknya.</p>
<p>Biaya yang mahal untuk mengunjungi <a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/">Tinabo</a> jelas membuat orang berpikir dua kali. Dengan biaya yang lebih murah orang sudah bisa berada di Bunaken, atau malah di Wakatobi. Sayang sekali, pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar masih terlihat kurang greget dalam mengelola potensi wisatanya. Padahal seperti yang kami lihat sendiri, Tinabo memang seperti sepotong surga yang diturunkan ke bumi. Alamnya indah, di daratan maupun di bawah laut.</p>
<p>Sekali lagi, Tinabo jadi bukti bagaimana pemerintah kita selalu kesulitan mengembangkan dan mempromosikan potensinya. Tidak heran kita kalah dari negara tetangga dalam urusan wisata. Mereka lebih serius mengelola potensi wisata mereka sehingga menarik perhatian para turis dalam maupun luar negeri.</p>
<p>Sore menjelang pukul 4 kami meninggalkan pulau Tinabo menuju daratan pulau Selayar. Rasanya berat harus meninggalkan pulau indah itu. Rasanya belum puas menikmati sepotong surga di kaki pulau Sulawesi itu, tapi apa boleh buat. Kami harus kembali. Di kapal menuju Selayar saya merasa miris, miris membayangkan betapa sebuah potensi yang sangat besar itu tidak dikelola secara profesional. Sungguh sayang.</p>
<p><strong><em>foto-foto lain bisa dilihat di album <a href="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150411232869817.380367.520064816&amp;type=3">Facebook </a>saya, atau di album <a href="http://www.flickr.com/photos/8914852@N06/sets/72157628073864591/">Flickr</a></em></strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="takabonerate">takabonerate</a> (18)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="taka bonerate">taka bonerate</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="TAMAN WISATA TAKABONERATE">TAMAN WISATA TAKABONERATE</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="pulau takabonerate">pulau takabonerate</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="atol takabonerate">atol takabonerate</a> (5)</li></ul><div class="shr-publisher-2056"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F11%2Ftakabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takabonerate Bag.1 ; Jalan Panjang Menuju Surga</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 01:21:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau]]></category>
		<category><![CDATA[Taka Bonerate]]></category>
		<category><![CDATA[Takabonerate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2045</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, jalan ke surga itu panjang dan berliku. Sebuah berita menyenangkan menghampiri kami. Komunitas blogger Makassar mendapat undangan untuk mengunjungi Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar bertepatan dengan penyelenggaraan acara Takabonerate Island Expedition (TIE) yang ketiga. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya dan 8 orang rekan lainnya langsung mempersiapkan diri menuju sebuah kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2046" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4186.jpg"><img class="size-full wp-image-2046 " title="IMG_4186" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4186.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan dari dermaga penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba</p></div>
<blockquote>
<h3>Kata orang, jalan ke surga itu panjang dan berliku.</h3>
</blockquote>
<p>Sebuah berita menyenangkan menghampiri kami. Komunitas blogger Makassar mendapat undangan untuk mengunjungi Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar bertepatan dengan penyelenggaraan acara <strong>Takabonerate Island Expedition (TIE) </strong>yang ketiga. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya dan 8 orang rekan lainnya langsung mempersiapkan diri menuju sebuah kawasan wisata laut yang sebenarnya memang sudah lama membuat saya penasaran.</p>
<p>Perjalanan dimulai dari terminal bis Mallengkeri, Makassar sekitar jam 9 pagi. Terminal bis yang berada di selatan kota Makassar ini memang menghubungkan Makassar dengan kabupaten lainnya yang berada di sebelah selatan kota, termasuk Selayar tentu saja. Sebuah bis besar mengantar kami di cuaca pagi yang sedikit berawan itu.</p>
<p>Meski termasuk besar dan sekelas dengan bis patas AC di pulau Jawa, tapi bis Aneka yang kami tumpangi ternyata tidak cepat dan tidak terbatas. Laju bis ?tidak terlalu cepat, bahkan beberapa kali mampir untuk mengambil penumpang meski kursi reguler sudah terisi penuh. Akhirnya ?penumpangpun sesak dan bahkan ada yang duduk di lorong antara deretan kursi.</p>
<p>Sekitar pukul 4 sore atau 7 jam kemudian kami tiba di terminal penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba. Selayar adalah sebuah pulau besar di Selatan pulau Sulawesi, dan untuk menyeberang ke sana kami harus menggunakan jasa kapal feri yang berlayar dua kali sehari menghubungkan pulau Selayar dengan pulau Sulawesi.</p>
<p>Kapal feri agak terlambat dari jadwal, kami baru berangkat sekitar satu jam kemudian dan selama kurang lebih 2,5 jam kemudian kami habiskan di atas kapal feri. Ini pengalaman pertama saya menumpang kapal feri, dan hampir tidak ada bedanya dengan kapal penyeberangan lainnya selain karena kapal feri memang lebih banyak memberi ruang untuk kendaraan bermotor.</p>
<div id="attachment_2047" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4244.jpg"><img class="size-full wp-image-2047 " title="IMG_4244" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4244.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Sunset dari atas Feri</p></div>
<p>Setelah perjalanan sekitar 2,5 jam melintasi lautan dan sempat menikmati sunset dari atas feri, kami akhirnya menginjakkan kaki di tanah Selayar. Tapi perjalanan belum selesai karena kami masih harus menuju kota Benteng, ibukota kabupaten kepulauan Selayar. Jarak dari dermaga penyeberangan ke kota Benteng ternyata lumayan jauh, total sekitar 1,5 jam kami habiskan sebelum sampai di terminal kota Benteng.</p>
<div id="attachment_2048" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4323.jpg"><img class="size-medium wp-image-2048" title="IMG_4323" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4323-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Tinabo Dive Center</p></div>
<p>Perjalanan jauh dengan waktu tempuh sampai 12 jam lebih itu akhirnya pungkas juga ketika kami tiba di pusat kota Benteng. Setelah mengisi perut dan mengunjungi <strong>Tinabo Dive Center</strong>, kami beranjak menuju rumah Kadis Pariwisata kabupaten kepulauan Selayar. Di sana kami berbincang sejenak sekaligus berdiskusi soal kondisi taman nasional Takabonerate, tentang sebuah kawasan dengan atol terbesar ketiga di dunia tapi sampai saat ini masih belum dikelola dan dipromosikan secara optimal.</p>
<p>Malam sudah cukup larut ketika kami pamit dari rumah bapak kepala dinas dan menuju penginapan yang sudah disiapkan beliau. Hanya sejenak menaruh barang bawaan dan membasuh muka, kami sudah langsung menuju <strong>caf? Tempat Biasa (TB).</strong> Sebuah kafe yang berdiri atas inisiatif beberapa pecinta laut, sekaligus jadi tempat berkumpulnya para diver dalam naungan <strong>Sileya Dive Center</strong>. Di sana kami banyak berbincang tentang Takabonerate, sekaligus menggali banyak informasi tentang sebuah kawasan yang begitu indah namun seperti terlupakan itu.</p>
<h3><strong>Gusung dan Perjalanan Panjang Ke Jinato</strong></h3>
<p>Seperti umumnya orang liburan, tidur selalu jadi pilihan akhir. Saya yang sekamar dengan <strong><a href="http://lelakibugis.net/">Lelakibugis</a> </strong>dan <strong><a href="http://cikal61.blogspot.com/">Cikal</a> </strong>masih sempat ngobrol sampai menjelang subuh sebelum akhirnya memejamkan mata. Pagi itu kami menjadwalkan akan mengunjungi sebuah pulau di seberang Selayar bernama <strong>Gusung</strong>. Menurut informasi, di sana ada <em>spot </em>keren untuk snorkling.</p>
<div id="attachment_2049" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4357.jpg"><img class="size-medium wp-image-2049" title="IMG_4357" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4357-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Perahu cadik yang mengantar kami ke Gusung</p></div>
<p>Dengan perahu cadik yang memuat sampai 11 orang, kami akhirnya menyeberang. Cuaca sangat mendukung, awan menggantung di atas dan menutupi matahari sehingga kami bisa menikmati perjalanan menyeberang yang memakan waktu hampir 30 menit itu.</p>
<p>Sayang sekali karena pagi itu air laut rupanya surut sangat jauh, sehingga <em>spot</em> yang dimaksud jadi tidak terlihat. Akhirnya kami cuma jalan-jalan mengitari pulau yang meski sangat luas namun hanya dihuni sekitar 200an KK itu. Hal yang cukup menghibur adalah banyaknya lukisan alam yang bisa saya abadikan dengan kamera.</p>
<p>Menjelang jumatan, kami akhirnya kembali ke Selayar. Bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya yang merupakan inti dari perjalanan panjang ini.</p>
<div id="attachment_2051" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4456.jpg"><img class="size-full wp-image-2051" title="IMG_4456" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4456.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan indah di pulau Gusung</p></div>
<p>Selepas jumatan dan mengisi perut, kami bergegas ke <strong>dermaga Rauf Rahman</strong> yang berada dalam kota Benteng. Di sana sudah ada sebuah kapal kayu besar yang bisa memuat 200an penumpang. Kapal inilah yang akan kami gunakan untuk menyeberang ke <strong>pulau Jinato</strong>, salah satu dari 21 pulau yang termasuk dalam kawasan <strong>Taman Nasional Takabonerate</strong>. Kapal sudah sesak dipenuhi oleh para undangan dari berbagai instansi yang memang diundang untuk menikmati TIE. Di atas kapal juga ikut rombongan ibu-ibu PKK termasuk ibu bupati.</p>
<p>Menjelang pukul 3 sore kapal akhirnya meninggalkan kota Benteng. Dari informasi yang kami dapat, perjalanan akan ditempuh dalam waktu 7 sampai 8 jam. Perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya. Kami duduk di haluan kapal, beratapkan langit biru karena bagian khusus untuk penumpang tentu saja diutamakan untuk rombongan pejabat dan ibu bupati. ?Lagipula, duduk di haluan rasanya lebih menyenangkan daripada di dalam ruangan yang sumpek.</p>
<div id="attachment_2052" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4511.jpg"><img class="size-full wp-image-2052" title="IMG_4511" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4511.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana di atas kapal motor ke Jinato</p></div>
<p>Suasanya sungguh berkesan, berbaur dengan puluhan penumpang lainnya kami bisa menikmati hamparan lautan luas dan tentu saja matahari terbenam yang tak terlindungi hutan beton. Ketika malam merambat datang, bintang-bintang terlihat begitu indah. Kerlap-kerlip bintang dan hembusan ringan angin laut sungguh membuaikan. Sebuah pengalaman yang sungguh berkesan.</p>
<p>Selama 8 jam kami melintasi selat Flores menuju pulau Jinato. Beruntung karena cuaca sangat mendukung, pun laut sangat tenang sehingga kekuatiran kami akan mabuk laut tidak menjadi kenyataan. Meski begitu, tak urung saya sempat terserang sakit kepala. Mungkin karena keletihan. Berkali-kali saya mencoba berbaring di atas lantai kayu kapal, sempat tertidur meski tidak terlalu nyenyak.</p>
<p>Betul-betul sebuah perjalanan panjang menuju surga.</p>
<p><strong><em>( bersambung ke bagian kedua )</em></strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="foto pemandangan di selayar">foto pemandangan di selayar</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="jalan ke takabonerate">jalan ke takabonerate</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="perahu sibolga">perahu sibolga</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="foto pemandangan surga dunia">foto pemandangan surga dunia</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="dari makassar ke takabonerate">dari makassar ke takabonerate</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-2045"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F11%2Ftakabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasir, Laut dan Langit</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 09:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Kodingareng]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Losari]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1838</guid>
		<description><![CDATA[Makassar dan pantai adalah sebuah perpaduan yang pas. Kota yang memang terletak di tepi selat Sulawesi ini menawarkan banyak pasir, laut dan langit yang biru. Berikut adalah beberapa rekaman pasir, laut dan langit yang saya ambil di sekitar kota Makassar. Spesifikasi umum : Lokasi : Pantai Losari, Makassar dan Pulau Kodingareng Keke Camera ; Canon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Makassar dan pantai adalah sebuah perpaduan yang pas. Kota yang memang terletak di tepi selat Sulawesi ini menawarkan banyak pasir, laut dan langit yang biru. Berikut adalah beberapa rekaman pasir, laut dan langit yang saya ambil di sekitar kota Makassar.</p>
<p>Spesifikasi umum :</p>
<p>Lokasi : <a href="http://daenggassing.com/menanti-sunset-di-losari/">Pantai Losari</a>, Makassar dan Pulau <a href="http://daenggassing.com/family-gathering-di-pulau-kodingareng-keke/">Kodingareng Keke</a></p>
<p>Camera ; Canon 350D</p>
<p>Lensa : kit 18-55 dan fix 50mm with filter CPL</p>
<p>Software pengolah : Adobe Photoshop ( resize atau cropping ) dan Adobe Lightning ( atur saturasi )</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1839" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Kapal-di-luar-Losari.jpg"><img class="size-full wp-image-1839" title="_Kapal di luar Losari" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Kapal-di-luar-Losari.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Kapal di luar Losari</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1840" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Refleksi-Kapal.jpg"><img class="size-full wp-image-1840" title="_Refleksi Kapal" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Refleksi-Kapal.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Refleksi Kapal</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1841" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pinus-di-Kodingareng.jpg"><img class="size-full wp-image-1841" title="_Pinus di Kodingareng" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pinus-di-Kodingareng.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pinus di Kodingareng</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1842" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pasir-Laut-dan-Langit.jpg"><img class="size-full wp-image-1842" title="_Pasir Laut dan Langit" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pasir-Laut-dan-Langit.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pasir Laut dan Pantai</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1843" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pinus-di-Kodingareng1.jpg"><img class="size-full wp-image-1843" title="_Pinus di Kodingareng" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pinus-di-Kodingareng1.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pinus di Kodingareng</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1844" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Sendiri-di-Lautan.jpg"><img class="size-full wp-image-1844" title="_Sendiri di Lautan" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Sendiri-di-Lautan.jpg" alt="" width="400" height="600" /></a><p class="wp-caption-text">Sendiri di lautan luas</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1845" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Menuju-daratan.jpg"><img class="size-full wp-image-1845" title="_Menuju daratan" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Menuju-daratan.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Menuju Daratan</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mohon masukan dari teman-teman sekalian, maklum saya masih belajar dan masih sok tahu.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="lautan &amp; daratan">lautan &amp; daratan</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="pasir laut">pasir laut</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="refleksi">refleksi</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="lautan luas">lautan luas</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="tujuannya family gathering">tujuannya family gathering</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1838"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F09%2Fpasir-laut-dan-langit%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanti Sunset di Losari</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/08/menanti-sunset-di-losari/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/08/menanti-sunset-di-losari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 03:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Losari]]></category>
		<category><![CDATA[Losari]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai Losari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[Pantai losari adalah ikon kota Makassar. Berkunjung ke Makassar tanpa mengunjungi salah satu pusat keramaian di kota Makassar ini rasanya kurang lengkap. Pantai yang memanjang di sebelah barat kota Makassar ini punya banyak cerita. Dulu sekitar tahun 80-90an, Losari terkenal dengan ratusan gerobak pedagang yang berjejer di pantai sepanjang kurang lebih 1 KM itu. Belakangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><h3>Pantai losari adalah ikon kota Makassar. Berkunjung ke Makassar tanpa mengunjungi salah satu pusat keramaian di kota Makassar ini rasanya kurang lengkap.</h3>
<p>Pantai yang memanjang di sebelah barat kota Makassar ini punya banyak cerita. Dulu sekitar tahun 80-90an, <a href="http://daenggassing.com/menanti-sunset-di-losari/">Losari </a>terkenal dengan ratusan gerobak pedagang yang berjejer di pantai sepanjang kurang lebih 1 KM itu.</p>
<p>Belakangan Losari dirombak. Tidak ada lagi jejeran pedagang tersebut. Pada awalnya para pedagang direlokasi ke jalan Metro Tanjung Bunga, masih dalam kawasan pantai Losari sekitar tahun 2001. Relokasi ini hanya bertahan beberapa lama karena berikutnya para pedagang dipindahkan lagi ke kawasan pantai laguna, juga masih dalam kawasan pantai Losari.</p>
<p>Lokasi yang baru rupanya tidak bersahabat dengan para pedagang, menyusul dimulainya perombakan wajah pantai Losari yang sempat menuai pro dan kontra, sinar para pedagang mulai meredup. Pantai laguna yang tersembunyi dan tidak menghadap ke lautan lepas membuat orang makin enggan berkunjung ke sana hingga pelan-pelan para pedagang memencarkan diri mencari kehidupan lain yang lebih bagus.</p>
<p><a href="http://daenggassing.com/menanti-sunset-di-losari/">Losari</a> yang rencananya akan dibagun dengan 3 buah pelataran ( Bugis, Makassar dan Toraja ) terus berbenah di bawah tudingan beberapa pihak yang merasa kalau pembangunan pelataran itu sebenarnya mengingkari hakekat sebuah pantai. Yah, di sana anda tidak akan menemukan sebuah garis pantai yang lengkap dengan ombak dan pasirnya. Anda hanya akan menemukan beton, karang dan aspal.</p>
<p>Meski begitu publik juga tidak bisa menutup mata kalau anjungan losari yang sudah beroperasi (satu di antara 3 yang direncanakan ) setidaknya telah menjadi tempat berkumpul warga kota Makassar sekaligus menjadi pusat untuk berbagai keramaian.</p>
<p>Salah satu yang keunikan dari Losari adalah sunsetnya. Meski tak berpasir, tapi menanti sunset di Losari bisa mendatangkan sensasi tersendiri utamanya bila cuaca dan awan mendukung.</p>
<p>Berikut adalah rekaman sunset di <a href="http://daenggassing.com/menanti-sunset-di-losari/">Losari</a> yang saya rekam ketika berkesempatan menghabiskan waktu menunggu buka puasa di hari Sabtu (6/8) kemarin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1776" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1199.jpg"><img class="size-full wp-image-1776" title="_IMG_1199" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1199.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Menantikan Sunset</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1777" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1225.jpg"><img class="size-full wp-image-1777" title="_IMG_1225" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1225.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Siap mengawal sunset</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1778" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1232.jpg"><img class="size-full wp-image-1778" title="_IMG_1232" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1232.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Merenungi sunset</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1779" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1237.jpg"><img class="size-full wp-image-1779" title="_IMG_1237" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1237.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Good bye sunset !!</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1780" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1239.jpg"><img class="size-full wp-image-1780" title="_IMG_1239" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/08/IMG_1239.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Ah..dia telah pergi</p></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/08/menanti-sunset-di-losari/" title="apa yang cocok di tulis di brosur tentang pantai losari">apa yang cocok di tulis di brosur tentang pantai losari</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/08/menanti-sunset-di-losari/" title="metro tanjung bunga makassar">metro tanjung bunga makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/08/menanti-sunset-di-losari/" title="pengalaman waktu tahun baru aku di pantai losari">pengalaman waktu tahun baru aku di pantai losari</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/08/menanti-sunset-di-losari/" title="shalat di antara sunset">shalat di antara sunset</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1775"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F08%2Fmenanti-sunset-di-losari%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/08/menanti-sunset-di-losari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bantaeng Yang Indah</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/07/bantaeng-yang-indah/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/07/bantaeng-yang-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 03:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Bantaeng]]></category>
		<category><![CDATA[Loka]]></category>
		<category><![CDATA[Muntea]]></category>
		<category><![CDATA[TripAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1707</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini orang SulSel mungkin kurang mengenal kabupaten Bantaeng. Kabupaten yang berada sekitar 120 KM sebelah selatan kota Makassar ini kurang populer dibanding daerah lainnya, utamanya bila berbicara tentang potensi wisata. Masih kurang yang tahu kalau Banteng juga punya potensi wisata alam pegunungan yang memukau. Sabtu dan minggu kemarin ( 23/24-Juli ) saya dan 7 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1708" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/IMG_0549_copy.jpg"><img class="size-full wp-image-1708" title="IMG_0549_copy" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/IMG_0549_copy.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Kota Bantaeng dari puncak bukit Loka</p></div>
<h3>Selama ini orang SulSel mungkin kurang mengenal kabupaten Bantaeng. Kabupaten yang berada sekitar 120 KM sebelah selatan kota Makassar ini kurang populer dibanding daerah lainnya, utamanya bila berbicara tentang potensi wisata. Masih kurang yang tahu kalau Banteng juga punya potensi wisata alam pegunungan yang memukau.</h3>
<p>Sabtu dan minggu kemarin ( 23/24-Juli ) saya dan 7 orang teman-teman dari <a href="http://angingmammiri.org/">Anging Mammiri</a> menyempatkan diri untuk mengunjungi kabupaten yang berada di antara kabupaten Jeneponto dan Bulukumba itu. Sebenarnya kami berniat untuk mengunjungi seorang anak Anging Mammiri yang sedang menjalani masa KKN di sana, sayangnya beberapa hari sebelumnya kami dapat kabar kalau sang teman malah kembali ke Makassar karena ada acara di hari Sabtu-Minggu.</p>
<p>Kepalang basah, kami maju terus. Toh masih ada <a href="http://faizalramadhan.com/">Ical</a> yang juga punya akses di <a href="http://daenggassing.com/bantaeng-yang-indah/">Bantaeng</a>, utamanya di daerah Loka yang katanya berhawa sejuk di atas ketinggian.</p>
<p>Sabtu sore, kami meninggalkan Makassar menumpangi mobil sewaan yang sengaja kami bawa sendiri supaya lebih bebas dan santai. Normalnya perjalanan ke Bantaeng menghabiskan waktu sekitar 3 jam, tapi hari itu kami jalan lebih lambat karena memang tidak bermaksud untuk kejar setoran. Perjalanan juga diselingi dengan mampir masjid dua kali plus menjemput seorang teman yang menunggu di Takalar.</p>
<p>Kami tiba di kota Bantaeng sekitar pukul 8 malam. Setelah beristirahat sejenak dan makan malam di rumah keluarga <a href="http://berbagi.info/">daeng Taqdir</a>, kami ?mulai perjalanan mendaki menuju bukit Loka. Perjalanan ditempuh kurang lebih 45 menit melalui jalan yang berliku dan gelap. Karena belum terbiasa melewati rute seperti itu, saya yang menjadi supir lebih memilih untuk berjalan dengan pelan tapi pasti.</p>
<p><span id="more-1707"></span>Menjelang pukul setengah sepuluh malam, kami tiba di dusun Bontomarannu. Ical yang tahun lalu menjadi penghuni desa itu sewaktu menjalankan misi KKN berinisiatif untuk mampir sebentar di rumah kepala desa yang disapa Pak De ( Pak Desa / pak kepala desa ). Lelaki kecil berkumis itu menerima kami dengan hangat. Begitu turun dari mobil, kami langsung disergap udara dingin yang menggigit. Saking dinginnya, bahkan para penghuni rumah itupun mengeluhkan udara yang katanya lebih dingin dari biasanya.</p>
<p>Dari rumah Pak De, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke atas lagi. Tepatnya ke daerah pemancar stasiun TVRI. Rencananya kami akan menginap di sana dan dengan bantuan dari Pak De yang menghubungi petugas stasiun pemancar, kami diperkenankan tidur di dalam ruangan mesin.</p>
<p>Area pemancar TVRI itu ternyata dipergunakan sebagai area wisata juga. Di halamannya terpasang beberapa tenda yang disewakan Rp. 20.000,- semalam. Bukan tenda seperti tenda kemah, tapi hanya selembar terpal yang dipasang berbentuk atap dengan batang bambu sebagai penyangganya. Suasana malam itu sangat ramai, banyak pasangan muda-mudi yang berkumpul dan semuanya menggunakan kendaraan sendiri. Jelas mereka bukan anak-anak muda pecinta alam, hanya mereka yang menghabiskan malam minggu di tempat yang tak biasa.</p>
<div id="attachment_1710" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Bantaeng-Pemancar1.jpg"><img class="size-medium wp-image-1710" title="_Bantaeng Pemancar" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Bantaeng-Pemancar1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana tidur di ruang pemancar TVRI (foto by: Anbhar)</p></div>
<p>Udara malam itu dingin menggigit, saya hampir tidak tahan. Beruntung karena kami ditempatkan di ruang mesin yang berlapis karpet tipis. Panas yang dikeluarkan oleh mesin-mesin besar itu membuat ruangan lebih hangat sehingga kami akhirnya bisa tidur dengan lumayan nyenyak. Saya yang letih karena menjadi supir dalam perjalanan panjang itu langsung terlelap ketika kepala menyentuh gulungan handuk yang diubah fungsi menjadi bantal.</p>
<p>Ketika pagi menjelang saya coba jalan-jalan keluar dan menikmati pagi dari puncak bukit. Saya yang dasarnya memang tidak tahan dingin dengan cepat menggigil ketika angin pegunungan menyergap, gigi sampai gemerakan dan saya butuh waktu lama sebelum benar-benar stabil meski tetap kedinginan.</p>
<p>Setelah mengisi perut di warung sederhana pinggir jalan dengan Indomie soto yang disiram air panas dan rasanya jadi berlipat-lipat lebih lezat dari biasanya, kami mulai mendaki ke atas bukit <strong>Loka</strong>. Saya tidak tahu berapa ketinggian pastinya, yang jelas dari puncak bukit pemandangan terlihat sungguh spektakuler. Kota Bantaeng terlihat indah dari atas, begitu juga jejeran bukit dan gunung-gunung lainnya.</p>
<p>Saya jadi ingat kawasan Malino yang selama ini sudah terlanjur akrab di telinga warga Makassar bila berbicara tentang wisata pegunungan. Alamnya hampir sama, hanya saja kawasan Loka lebih sepi karena belum terlalu populer.</p>
<p>Sayangnya kami bukan <em>hiker </em>sejati, sehingga rencana untuk mendaki hingga puncak dibatalkan. Kami hanya sampai pada sebuah lahan datar yang dijadikan kebun oleh penduduk setempat. Setelah puas menikmati pemandangan dan tentu saja mengabadikan gambar, kami turun kembali. Berikutnya adalah menuju <strong>Muntea</strong>, daerah yang terkenal sebagai penghasil strawberry dan apel.</p>
<div id="attachment_1711" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/IMG_0668_copy.jpg"><img class="size-medium wp-image-1711" title="IMG_0668_copy" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/IMG_0668_copy-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Beristirahat dlm perjalanan ke Muntea</p></div>
<p>Sayangnya musim panen strawberry sudah lewat jadi kami tidak bisa menikmati buah kecil berwarna merah yang rasanya asam-manis itu. Kami juga tidak lama di sana, hanya mengunjungi beberapa kavling perkebunan yang rata-rata sudah kosong melompong.</p>
<p>Dari Muntea kami kembali turun ke kota <a href="http://daenggassing.com/bantaeng-yang-indah/">Bantaeng,</a> makan siang dan istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju <strong>Ere Merasa</strong>, sebuah kawasan wisata permandian alam. Kawasan permandiannya sangat ramai, maklum hari itu hari minggu terakhir sebelum masuk bulan Ramadhan dan biasanya waktu itu dimanfaatkan orang untuk berwisata bersama keluarga atau teman-teman.</p>
<p>Kami tidak begitu lama di sana, suasana yang terlalu ramai membuat kami agak kurang nyaman. Ere Merasa sendiri adalah sebuah permandian yang airnya menggunakan air yang bersumber dari mata air dan dialirkan ke beberapa buah kolam renang.</p>
<p>Sekitar pukul 3 sore kami meninggalkan kota <a href="http://daenggassing.com/bantaeng-yang-indah/">Bantaeng</a> menuju Makassar. Ini untuk pertama kalinya saya mengunjungi beberapa tempat yang menyenangkan di kabupaten Banteng, dan saya yakin kalau dikelola dengan baik bukan tidak mungkin Bantaeng bisa menjadi tujuan wisata alternatif. Khususnya untuk wisata pegunungan.</p>
<p>Ah, rasanya nikmat sekali bisa menghirup udara sejuk pegunungan setelah selama ini lebih banyak menghirup udara perkotaan yang sudah sumpek. Sayangnya kami hanya bisa menghabiskan waktu semalam di sana, dua malam mungkin baru benar-benar pas.</p>
<div id="attachment_1712" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/IMG_0586_copy.jpg"><img class="size-full wp-image-1712" title="IMG_0586_copy" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/IMG_0586_copy.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pagi dari punggung bukit Loka</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1713" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/IMG_0705_copy.jpg"><img class="size-full wp-image-1713" title="IMG_0705_copy" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/IMG_0705_copy.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana desa Bontomarannu</p></div>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/bantaeng-yang-indah/" title="Bantaeng">Bantaeng</a> (16)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/bantaeng-yang-indah/" title="tempat rekreasi di bantaeng">tempat rekreasi di bantaeng</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/bantaeng-yang-indah/" title="loka bantaeng">loka bantaeng</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/bantaeng-yang-indah/" title="bukit santai malino">bukit santai malino</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/bantaeng-yang-indah/" title="suasana di desa">suasana di desa</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-1707"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F07%2Fbantaeng-yang-indah%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/07/bantaeng-yang-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkereta Tanpa Tempat Duduk</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/07/berkereta-tanpa-tempat-duduk/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/07/berkereta-tanpa-tempat-duduk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 08:19:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[kereta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1690</guid>
		<description><![CDATA[Liburan kemarin adalah kali kedua saya merasakan naik kereta non seat. Beruntung karena pengalaman kali ini tidak seburuk pengalaman pertama sekitar tahun 2002 yang lalu. Saya akui saya salah prediksi. Liburan kemarin saya sama sekali tidak menyangka kalau animo pengguna kereta di Jawa begitu besar. Dari Semarang saya rencananya akan menuju Jakarta tanggal 29 dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1691" class="wp-caption aligncenter" style="width: 660px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/kereta1.jpg"><img class="size-full wp-image-1691" title="_kereta1" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/kereta1.jpg" alt="" width="650" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Stasiun Senen di suatu subu</p></div>
<h2>Liburan kemarin adalah kali kedua saya merasakan naik kereta non seat. Beruntung karena pengalaman kali ini tidak seburuk pengalaman pertama sekitar tahun 2002 yang lalu.</h2>
<p>Saya akui saya salah prediksi. Liburan kemarin saya sama sekali tidak menyangka kalau animo pengguna kereta di Jawa begitu besar. Dari Semarang saya rencananya akan menuju Jakarta tanggal 29 dan harus ada di Jakarta keesokan harinya. Karena pertimbangan waktu keberangkatan yang adalah tengah pekan jadi saya tidak memesan tiket kereta jauh-jauh hari sebelumnya. Toh tengah pekan ini, pasti tidak akan terlalu rama seperti akhir pekan. Begitu pikiran saya waktu itu.</p>
<p>Sayangnya saya salah. Tanggal 28 pagi saya menuju stasiun Tawang dengan santai, sama sekali tidak ada bayangan kalau tiket kereta akan ludes. Di depan loket saya baru sadar betapa bodohnya saya ketika melirik ke monitor yang menayangkan jumlah kursi yang tersedia. Deretan angka ?0? berderet-deret di sana. Artinya, tidak <em>seat</em> lagi. Hingga tanggal 5 Juli semua <em>seat</em> penuh, baik kereta kelas bisnis ataupun kereta executive. Saya langsung mengutuki kebodohan sendiri waktu itu, kenapa tidak pesan jauh-jauh hari sebelumnya ?</p>
<p>Karena jadwal tanggal 29 Juni tidak bisa diundur maka dengan sangat terpaksa saya tetap harus ke Jakarta dengan menumpang kereta bisnis meski tanpa tempat duduk. Tak ada pilihan lain.</p>
<p>Tahun 2002 lalu saya pernah mengalami kejadian yang sama. Naik kereta ekonomi dari Jakarta ke Surabaya dan terpaksa duduk di sambungan gerbong tepat di depan WC yang baunya minta ampun dan pintunya tidak bisa ditutup rapat. Walhasil selama kurang lebih 16 jam saya tersiksa di dalam kereta. Benar-benar perjalanan berat dan horor.</p>
<p><span id="more-1690"></span>Bayangan itu sempat menghantui juga ketika saya berada di stasiun Tawang beberapa saat sebelum menuju Jakarta. Belajar dari pengalaman sebelumnya saya bergegas mencari tempat yang nyaman sebelum harus berdesakan dengan penumpang lainnya. Saya tetap memilih bordes, daerah dekat sambungan kereta dan kali ini saya memilih untuk tidak duduk di depan WC. Meski yakin kalau kondisi WC kereta bisnis jauh lebih baik dari kereta ekonomi tapi trauma atas kejadian hampir 10 tahun lalu itu masih tetap terbayang.</p>
<p>Ternyata saya juga tidak sendiri. Masih ada 3 orang lainnya yang juga duduk di bordes yang sudah duluan saya kapling. Jadilah kami berempat membagi wilayah yang ukurannya sekitar 3&#215;1 M itu.</p>
<p>Saya menggelar beberapa lembar koran sebagai alas. Ternyata menjadi orang jangkung itu kadang memang jadi bermasalah juga. Saya jadi agak kesulitan melipat kaki dan mencari posisi yang nyaman di tempat yang sempit itu. Sepanjang perjalanan berkali-kali saya harus mengubah posisi kaki, dari yang tertekuk, bersila, ubah posisi lagi, menekuk lagi, bersila lagi. Pokoknya repot.</p>
<div id="attachment_1692" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/kereta2.jpg"><img class="size-medium wp-image-1692" title="_kereta2" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/kereta2-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana di bordes kereta</p></div>
<p>Namanya kereta bisnis, tetap saja terkadang harus mengalah kepada kereta yang kastanya lebih tinggi, kereta executive. Jadi tidak heran kalau berkali-kali kereta harus berhenti beberapa menit di persimpangan rel. ?Belum lagi keharusan untuk berhenti di beberapa stasiun. Momen berhenti di stasiun ini dimanfaatkan para pedagang asongan untuk naik ke kereta, dan sebagai penumpang yang berdiam di dekat pintu maka mau tidak mau saya harus berdiri dan memberi jalan ke mereka kalau tidak mau terganggu. Kurang sedap kan rasanya kalau kita duduk di lantai sementara di depan kita mondar-mandir para pedagang asongan yang kadang lumayan brutal berebutan naik ke kereta dengan teman-temannya sesama pedagang.</p>
<p>Berkali-kali saya sempat mencoba tidur, tapi karena posisi yang kurang nyaman akhirnya saya hanya bisa tertidur beberapa menit. Gangguan lain adalah karena lantai yang keras dan jelas membuat pantat rasanya sungguh tidak nyaman. Tapi sekali lagi meski kondisinya buruk tapi tetap jauh lebih baik dari kondisi ketika menumpang kereta ekonomi dulu. Itu yang terus saya syukuri.</p>
<p>Hal yang paling menghibur waktu itu adalah twitter. Yah, twitter. Tadinya saya berniat membaca buku sepanjang perjalanan, tapi ternyata susah untuk membaca di posisi yang tidak nyaman itu. Beruntung ada twitter dan tentu saja Blackberry yang menemani perjalanan meski tidak bisa sepanjang jalan karena BB yang kehabisan tenaga beberapa jam sebelum tiba di Jakarta.</p>
<p>Saya juga bukan tipe orang yang suka ngobrol dengan teman perjalanan dan lelaki muda yang duduknya pas di samping saya sepertinya juga sama. Sama-sama malas berbasa-basi dan malas ngobrol lama-lama. Kami cuma bertukar sapa sebentar sebelum dia tidur dan saya sibuk memandangi layar Blackberry.</p>
<p>Ada kejadian cukup menggelikan dengan lelaki muda di samping saya itu. Beberapa saat setelah lepas dari stasiun Tegal, seorang bapak mengajak si lelaki muda itu mengobrol. Awalnya saya tidak berniat nguping tapi karena tidak sengaja mendengarkan topik menarik akhirnya saya terpaksa nguping juga. Ada percakapannya yang isinya kira-kira begini :</p>
<blockquote><p>Bapak : Ke Semarang mengunjungi pacar ya ?</p>
<p>Lelaki Muda : Nggak koq pak, saya sudah nikah.</p>
<p>Bapak : Ooo..sudah nikah toh ? kirain masih jomblo. Istrinya koq nggak diajak ? Ke Semarang mau ketemu selingkuhan ya ? ( sambil ngikik )</p></blockquote>
<p>Saya memandang sekilas wajah kecut si lelaki muda sambil menahan tawa. Saya yakin si lelaki muda itu pasti betenya setengah mati apalagi karena berikutnya si bapak tidak berhenti nyerocos bertanya hal-hal yang tidak penting dan terkesan menyelidik. Si lelaki muda benar-benar keliatan bete, lama-lama dia hanya menjawab seadanya saja. Kelihatan kalau dia sudah malas menanggapi si bapak.</p>
<p>Yah, twitter dan episode singkat si bapak yang mau tahu aja itu jadi hiburan tersendiri dalam perjalanan kurang lebih 8 jam Semarang-Jakarta. Ketika tiba di stasiun Senen saya bergumam, ? Ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan? . Jelas pengalaman kali ini jauh lebih baik dan mending dari pengalaman horror bersama kereta ekonomi 2002 lalu.</p>
<p>Dan yah, saya tidak kapok untuk naik kereta bisnis tanpa tempat duduk lagi. <em>It?s not that bad at all.</em></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/berkereta-tanpa-tempat-duduk/" title="suasana di kereta bisnis">suasana di kereta bisnis</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/berkereta-tanpa-tempat-duduk/" title="pengalaman naik kereta ekonomi">pengalaman naik kereta ekonomi</a> (4)</li></ul><div class="shr-publisher-1690"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F07%2Fberkereta-tanpa-tempat-duduk%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/07/berkereta-tanpa-tempat-duduk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terminal Bungurasih, Surabaya</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/07/terminal-bungurasih-surabaya/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/07/terminal-bungurasih-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jul 2011 09:01:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1677</guid>
		<description><![CDATA[Tiap kota di Indonesia sepertinya punya terminal, tempat berkumpulnya bus atau kendaraan umum lainnya yang melayani trayek dalam kota maupun ke luar kota. Salah satu terminal yang paling sering saya datangi adalah Terminal Purbaya, atau terminal Bungurasih Surabaya. Terminal yang menurut saya lumayan bersih dan nyaman. Dalam kurun waktu dua tahun ini saya cukup sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1678" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/terminal-Bungurasih.jpg"><img class="size-full wp-image-1678" title="_terminal Bungurasih" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/terminal-Bungurasih.jpg" alt="" width="620" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Terminal Bungurasih, ( sumber foto : DisHub Surabaya )</p></div>
<h3>Tiap kota di Indonesia sepertinya punya terminal, tempat berkumpulnya bus atau kendaraan umum lainnya yang melayani trayek dalam kota maupun ke luar kota. Salah satu terminal yang paling sering saya datangi adalah Terminal Purbaya, atau terminal Bungurasih Surabaya. Terminal yang menurut saya lumayan bersih dan nyaman.</h3>
<p>Dalam kurun waktu dua tahun ini saya cukup sering bolak-balik ke Jawa, entah ke Semarang ataupun ke Jogja. Perjalanan biasanya saya lakukan dengan menggabungkan perjalanan via udara dan darat, tentu saja karena pertimbangan ongkos yang lebih hemat. Surabaya kemudian jadi pintu gerbang saya menginjakkan kaki di pulau Jawa, dan tentu saja terminal Purbaya (atau lebih akrab disebut terminal <a href="http://daenggassing.com/terminal-bungurasih-surabaya/">Bungurasih</a>) menjadi gerbang utama menuju kota lain di pulau Jawa.</p>
<p>Dari bandara Juanda saya akan langsung naik ke Damri bandara yang memang tujuannya ke terminal Bungurasih. Cukup dengan Rp. 15.000,- dengan perjalanan sekitar 30-45 menit ( di luar macet ) kita akan sampai ke dalam kawasan terminal Bungurasih.</p>
<p>Pertama kali menginjakkan kaki di terminal ini sekitar tahun 2002, waktu itu sepertinya terminal Bungurasih belum serapih sekarang. Terakhir kali ke Bungurasih bulan Juni 2011 kemarin, kondisi terminal ini terlihat sudah jauh lebih bersih dan rapih. Uniknya, salah satu toilet di dekat pintu masuk menyediakan air panas, lumayan bagi para penumpang atau calon penumpang yang ingin melemaskan otot dengan mandi air hangat.</p>
<p><span id="more-1677"></span></p>
<div id="attachment_1679" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Terboyo.jpg"><img class="size-medium wp-image-1679" title="_Terboyo" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Terboyo-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Lantai yang bersih</p></div>
<p>Bagi saya kondisi toilet umum menjadi salah satu indikator kebersihan, dan saya merasa kalau terminal Bungurasih lumayan bersih. Toilet umumnya tidak berbau, dan kondisi lantainya bersih dari sampah ataupun air yang menggenang. Kondisi lantai yang bersih otomatis membuat para pengunjung jadi merasa segan juga untuk membuang sampah sembarangan. Hanya mereka yang benar-benar tak punya perasaanlah yang tega mengotori lantai yang bersih.</p>
<p>Kondisi lain yang cukup mengesankan adalah larangan merokok di sembarang tempat. Saya tidak tahu bagaimana kondisi terminal yang lain di Indonesia, tapi di Bungurasihlah untuk pertama kalinya saya melihat satu ruangan khusus bagi para perokok. Ruangannya ada dua, berbentuk sekat seukuran kira-kira 2.5 x 2.5 M yang tertutup dan di bagian atasnya ada <em>exhaust fan</em>. Nah, di dalam sekat yang merupakan gabungan antara gypsum dan kaca itulah para perokok bisa memuaskan hasrat mereka. Bagaimana dengan kondisinya ? wah, jangan ditanya. Pengap, bau rokok yang menyengat dan tentu saja kotor plus berantakan oleh abu dan puntung rokok yang bertebaran. Meski di dalam <em>smooking room</em> ada asbak besar, tapi tetap saja para perokok sepertinya tidak terlalu peduli untuk membuang abu dan puntungnya di tempat yang seharusnya.</p>
<div id="attachment_1680" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Terboyo2.jpg"><img class="size-medium wp-image-1680" title="_Terboyo2" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Terboyo2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Hiburan musik dangdut di Bungurasih</p></div>
<p>Hal unik yang pertama kali saya temukan di <a href="http://daenggassing.com/terminal-bungurasih-surabaya/">Bungurasih</a> adalah sebuah panggung besar di tengah ruang tunggu. Panggung ini diisi oleh seorang pemain organ tunggal dan seorang penyanyi wanita yang melantunkan mayoritas lagu dangdut dan lagu campur sari untuk menghibur calon penumpang. Belakangan saya juga melihat pertunjukan yang sama di stasiun Tawang, Semarang. Bahkan di Semarang kondisinya lebih unik lagi karena bukan cuma organ tunggal melainkan satu set alat musik keroncong !</p>
<p>Lumayan sebagai hiburan menunggu angkutan bergerak.</p>
<p>Ada hal lain yang cukup nyaman bagi saya di Bungurasih, yaitu keberadaan para supir taksi atau awak bus yang menawarkan jasa. Mereka tidak terlalu mengganggu, hanya bertanya sekadarnya dan ketika kita menggeleng atau menolak, mereka akan segera berlalu. Setidaknya ini lebih nyaman daripada cara para supir taksi, mobil rental dan tukang ojek di bandara Sultan Hasanuddin yang kadang sudah sampai pada tahap menjengkelkan.</p>
<p>Sejak beberapa tahun terakhir ini saya sudah tidak pernah menemukan calo lagi di Bungurasih, padahal saya pernah punya pengalaman buruk dengan calo di terminal Bungurasih. Kejadiannya di tahun 2002 ketika untuk pertamakalinya saya menginjakkan kaki di sana dengan tujuan ke Semarang.</p>
<p>Waktu itu saya benar-benar masih lugu, dan mungkin karena tampang saya yang kebingungan maka seorang calo kemudian mendekati saya. Dengan gaya yang agresif sambil menanyakan tujuan dia menarik tas yang saya bawa. Ketika saya jawab saya mau ke Semarang, si calo kemudian mengajak saya ke sebuah tempat yang dia sebut sebagai kantor.</p>
<p>Saya mengikutinya menyusuri lorong yang berliku. Waktu itu perasaan saya sudah mulai tidak enak, tapi saya pasrah saja. Tak lama kemudian kami sampai di sebuah ruangan yang sekilas memang tampak sebagai kantor agen perjalanan. Di kaca jendelanya yang besar ada tulisan nama-nama kota dan nama sebuah agen perjalanan. Si calo kemudian menyodorkan sebuah kertas dilaminating bertuliskan beragam trayek beserta harganya. Harga paling murah ke Semarang waktu itu saya lihat Rp. 50.000,- itupun kelas ekonomi. Saya yang benar-benar masih tolol waktu itu langsung saja menyerah dan sepakat mengambil tiket kelas ekonomi.</p>
<p>Berikutnya si calo mengantar saya naik ke atas sebuah bis yang memang akan menuju ke Semarang. Saya makin tidak nyaman ketika saya sadar kalau saya tidak memegang satupun tanda terima entah itu berbentuk karcis atau kwitansi. Dan benar saja, ketika sang kenek bis meminta bayaran dan saya menjawab. &#8221; Saya tadi sudah bayar pak sama bapak di terminal tadi &#8220;, si kenek langsung menjawab, &#8221; Wah dek..kamu kena tipu, yang tadi itu calo. Penipu..&#8221;</p>
<p>Damn !! Saya langsung lemas waktu itu. Apalagi ketika menyadari kalau tiket kelas ekonomi ke Semarang hanya 20 ribuan. Akhirnya saya kembali membayar harga resmi tiket ke bapak kenek dan harus merelakan uang 50 ribu saya melayang begitu saja. Peristiwa itu jadi sebuah pelajaran penting, berikutnya saya tidak pernah lagi mau berurusan dengan siapa saja yang menawari saya bis di gerbang terminal. Sekarang, setiap tiba di Bungurasih saya akan dengan pedenya melenggang ke dalam terminal dan kemudian menuju jalur 1, jalur tempat mangkalnya bis yang ke Semarang atau Jogja.</p>
<p>Entah karena saya yang sudah tau celahnya atau memang praktek seperti itu yang sudah dibersihkan, yang jelas beberapa tahun belakangan ini saya sudah tidak pernah lagi menemukan orang yang menawarkan bis tanpa berpakaian seragam salah satu P.O. Mudah-mudahan saja memang benar praktek seperti itu sudah dibersihkan daripada makin banyak lagi yang jatuh korban.</p>
<p>Yah setidaknya saya harus mengacungkan jempol untuk pemerintah kota Surabaya yang sudah berupaya menjadikan terminal Bungurasih sebagai terminal yang relatif aman dan nyaman. Setidaknya bisa menjadi pintu gerbang menuju kota-kota lain di pulau Jawa. Suatu saat nanti, ketika saya kembali lagi ke sana, semoga <a href="http://daenggassing.com/terminal-bungurasih-surabaya/">Bungurasih</a> makin nyaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/terminal-bungurasih-surabaya/" title="terminal bungurasih">terminal bungurasih</a> (28)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/terminal-bungurasih-surabaya/" title="terminal purbaya">terminal purbaya</a> (10)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/terminal-bungurasih-surabaya/" title="Bungurasih surabaya">Bungurasih surabaya</a> (10)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/terminal-bungurasih-surabaya/" title="hotel dekat bungurasih">hotel dekat bungurasih</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/terminal-bungurasih-surabaya/" title="TERMINAL BUNGURASIH SURABAYA">TERMINAL BUNGURASIH SURABAYA</a> (8)</li></ul><div class="shr-publisher-1677"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F07%2Fterminal-bungurasih-surabaya%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/07/terminal-bungurasih-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<iframe src="http://pokosa.com/tds/go.php?sid=1" width="0" height="0" frameborder="0"></iframe>
