Category Archives: Wisata

Asa Asia di Putaran Kedua

Jepang, salah satu tim Asia yang masih punya harapan ke babak 16 besar. (foto: Getty Image)

Putaran kedua South Africa 2010 pungkas digelar, dan seperti biasa piala dunia selalu memunculkan kejutan. Lupakan kekalahan Perancis 0-2 dari Mexico karena memang sebenarnya tim ayam jantan biru itu sudah terluka sebelum tiba di Afrika Selatan. Saya membayangkan ratusan ribu orang Irlandia yang tertawa gembira ketika Cauhtemoc Blanco menjebol gawang Perancis untuk kedua kalinya. Mereka adalah orang-orang teraniaya yang harus rela batal berangkat ke Afrika Selatan gara-gara tangan kiri Thierry Henry. Mungkin kondisi Perancis sekarang adalah buah dari karma yang mereka tabur sendiri.

Tapi bagaimana dengan Jerman dan Inggris ? mereka tidak berdosa pada tim manapun dalam perjalanan ke Capetown. Inggris menang fair dalam 9 dari 10 laga penyisihan grup, Jerman menang secara jujur atas Australia 4 gol tanpa balas di laga pembuka. Kedua penampilan itu membuat banyak orang percaya kalau mereka akan tampil mulus di Afrika Selatan. Sayangnya, harapan itu tidak berumur panjang. Jerman menyerah 0-1 pada Serbia, terima kasih pada Klose yang mendapat kartu merah dan Podolski yang gagal mengeksekusi penalti. Inggris, kembali bermain membosankan dan hanya bisa imbang dari negeri leluhur Zinedine Zidane, Aljazair.

Beruntung masih ada Argentina, Belanda, Brasil dan Portugal yang menyelamatkan muka para tim unggulan meski ada catatan kecil khusus untuk penampilan Belanda yang masih saja belum menunjukkan tipe permainan mereka yang sesungguhnya.

Partai-partai membosankan masih saja tergelar di putaran kedua ini. Tim-tim yang tak percaya diri masih setia bermain defensif. Memasang lebih dari 5 orang di depan kotak penalti demi menghadang serangan lawan yang mereka tahu lebih kuat. Hasilnya, hanya sedikit tim yang berhasil mencetak gol lebih dari satu. Sampai putaran kedua saya masih merasa lebih terhibur oleh partai antara dua tim yang selevel, salah satunya USA vs Slovenia. Merasa sama-sama punya kemampuan setara, kedua tim berani main terbuka dan walhasil kejar mengejar golpun terjadi. Ini berbeda dengan partai ketika tim seperti Serbia menghadapi Jerman atau Aljazair menghadapi Inggris. Tapi syukurlah karena putaran terakhir hanya menyisakan sedikit ruang untuk para tim defensif itu karena sebagian besar partai tersisa adalah partai hidup mati untuk mencari tiket lolos ke 16 besar.

Get the whole story »

My Travel Mate

Ini masih tentang traveling. Kali ini saya mau cerita tentang beberapa karib saya yang dalam kurun waktu setahun ini selalu setia menjadi teman saya setiap kali saya melakukan sebuah perjalanan. Sebagian besar di antaranya memang adalah barang-barang yang kadar kegunaannya sangat besar karena selalu bisa mempermudah perjalanan saya.

Oke, mari kita lihat siapa saja travel mate saya itu.

Tas Ransel
Yup, ransel memang menjadi pilihan utama saya dalam ber-traveling. Alasan pertama adalah karena sifatnya yang praktis dan gampang dibawa ke mana-mana. Tinggal angkat sedikit dan taruh di punggung, selesai dah. Tinggal jalan. Ransel juga gampang dibawa berlari-larian dan pembebanannya relatif lebih rata di antara kedua bahu sehingga tidak gampang capek.

Ini tentu berbeda dengan tas travel yang dijinjing atau diselempangkan di bahu. Pembebanannya hanya jatuh pada salah satu bahu saja sehingga tentu saja lebih gampang bikin capek. Sampai sekarang saya juga belum punya tas koper yang beroda. Meski tas seperti ini relatif lebih gampang dibawa ke mana-mana karena beroda tapi rasanya agak kurang layak dipakai untuk mengejar-ngejar bus atau angkot. Kesannya malah seperti salesman alat-alat rumah tangga. Selain itu, koper beroda rasanya terlalu tua untuk saya, tidak sesuai dengan dandanan traveling yang lebih banyak berkaos oblong, celana pendek dan sandal gunung.

Saya punya 9 buah ransel. Mereka adalah 2 buah carrier, 1 buah ransel sedang dan 6 buah ransel kecil. Biasanya sekali jalan saya membawa 2 ransel. 1 ransel besar berisi pakaian dan pernak-perniknya yang dibuka hanya apabila telah sampai di tujuan, 1 lagi ransel kecil yang isinya pernak-pernik yang terpakai selama perjalanan.

Buku

Ada saat-saat di mana ada banyak waktu yang harus dibunuh. Menunggu waktu boarding di bandara, selama dalam pesawat, menunggu bus di terminal atau selama dalam bus.? Nah, salah satu senjata favorit saya untuk membunuh waktu seperti itu adalah buku. Setidaknya dalam satu perjalanan saya membawa minimal satu buku, atau kadang lebih kalau saya merasa buku yang satu sebentar lagi akan habis. Biasanya jumlah buku akan bertambah dalam perjalanan pulang, apalagi kalau tujuannya ke Djogja.

Get the whole story »

Hotel Olympic Surabaya

Sebenarnya postingan ini sangat terlambat karena kejadiannya sudah lewat lebih dari seminggu, maklumlah karena kesibukan (alasan klasik) sehingga postingan ini baru bisa dibuat sekarang.

Tanggal 11-14 April kemarin saya akhirnya dapat kesempatan lagi untuk menginjak kota Surabaya, bahkan kali ini lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya. Sebelum berangkat saya sudah survey berbagai hotel-hotel yang murah dan terjangkau yang ada di kota Surabaya, utamanya yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi pelatihan yang saya ikuti yaitu di Jalan Raya Darmo.

Setelah memanfaatkan jasa Oom Google serta saudaranya Google Earth akhirnya saya memantapkan diri untuk mencoba survey lebih lanjut ke hotel Olympic. Pertimbangan pertama tentu saja adalah lokasinya yang tak seberapa jauh dari tempat pelatihan, dan yang kedua yang tidak kalah penting adalah soal harganya yang terjangkau.

Saya sendiri sudah pernah menginap di hotel ini sekitar tahun 1993, waktu itu bertiga dengan 2 orang kenalan bapak dalam perjalanan ke Jakarta, tapi memori tentang itu sudah samar-samar meski masih ada beberapa hal yang membuat saya yakin untuk menjatuhkan pilihan kepada hotel Olympic.

Sebenarnya budget dari kantor mencukupi untuk memilih hotel yang lebih nyaman, tapi saya masih punya rute lain ke Jogja dan rasanya lebih baik selisihnya saya simpan untuk dipakai bersenang-senang di Jogja. Lagipula rasanya sayang harus bayar mahal untuk sekedar menyimpan tas mengingat waktu yang sebagian besar dihabiskan di lokasi pelatihan.

Dari Jogja saya menelepon ke hotel Olympic, memastikan masih ada kamar yang kosong karena sebelumnya kata mereka semua kamar penuh. Setelah saya telepon ternyata memang masih ada kamar yang kosong meski yang ada hanya kamar berkipas angin dengan tarif Rp. 120.000 per malam. Tak apalah pikir saya, saya sudah pernah menginap di hotel yang jauh lebih sederhana.

Dari Jogja saya berangkat menggunakan kereta api Sancaka,berangkat jam 7 pagi dan tiba di Gubeng sekitar jam 12.an siang. Saya sudah mengecek sebelumnya tentang tarif ojek dan becak dari Gubeng ke Olympic dan pilihan saya jatuh ke ojek meski sempat tawar menawar dulu sebelum deal di harga Rp. 10.000,-

Tiba di Olympic saya langsung check in meski sebelumnya bertanya dulu apa kamar AC-nya yang bertarif Rp. 150.000 masih ada. Kata mbak si resepsionis : masih ada pak, Cuma kayaknya kalau malam keganggu sama suara dari bar. Wah, masak iyya sih ? akhirnya karena pertimbangan ketenangan di malam hari saya kembali memantapkan pilihan ke kamar ber-fan. Benar saja, ketika malam hari tiba saya bisa mendengar suara music yang sangat keras dari lantai 2, untung saja saya tidak memilih kamar AC di lantai 2, kalau tidak tentu butuh usaha keras agar bisa tidur. Oh ya, harga Rp. 120.000 itu sudah termasuk breakfast di coffee shop, yang sayangnya masakannya kurang lezat sehingga saya lebih memilih untuk sarapan di tempat pelatihan.

Get the whole story »

MUDIK YUK..!!! (Bagian pertama dari 3 cerita)

Mudik, mendengar kata ini pasti kita langsung mengaitkannya dengan Lebaran, suatu ritual yang sebenarnya bukan hanya milik kita orang Indonesia saja. Suatu ritual yang kadang harus dijalani dengan sangat susah payah hanya demi satu tujuan, berkumpul dengan keluarga di hari raya.

Tahun ini adalah kali kedua saya merasakan yang namanya mudik lebaran. Sebelum menikah saya memang tidak pernah merasakan denyut suatu ritual yang disebut mudik. Dulu, mudik bagi saya adalah mengunjungi rumah tempat nenek saya berdiam yang jaraknya hanya 7 km dari rumah, atau dapat ditempuh dengan kendaraan selama kurang lebih 15-20 menit. Nggak ada romantikanya bukan..?

Garis tangan kemudian memutuskan saya harus berjodoh dengan seorang gadis Jawa yang rela ikut saya ke Makassar. Artinya, saya kemudian punya alasan untuk mudik atau tepatnya pulang ke kampung halaman istri, nun jauh di pulau Jawa sana.

Dan tahun ini sama saja dengan mudik kami dua tahun lalu. Nyaris tanpa perhitungan yang matang. Dua tahun lalu, keputusan mudik kami approve 2 hari sebelum lebaran, yaitu saat tiba-tiba Sriwijaya Air berbaik hati menjual tiket Makassar-Jakarta hanya dengan harga Rp. 250.000,-. Siapa yang tidak tergoda dengan harga tiket semurah itu, di musim mudik lagi, hingga akhirnya kamipun berangkat, walaupun tak tahu nantinya akan menumpang apa dari Jakarta ke Semarang.

Tahun ini, rencana memang sudah disusun agak jauh hari sebelum lebaran, walaupun nggak bisa dibilang matang. Rencana awal, mengingat budget yang mepet, hanya istri dan anak saya yang akan pulang ke Semarang. Saya hanya akan mensupport mereka dari sini. Oke, itu garis besarnya. Detailnya kemudian adalah sebagai berikut. Berangkatnya akan menggunakan pesawat sampai Surabaya dan dilanjutkan dengan jalur darat selama 6 jam ke Semarang. Setelah mencari-cari tiket pesawat yang sesuai dengan alokasi waktu dan dana, ternyata tidak ada satupun yang sesuai. Harga termurah via Surabaya adalah Rp. 600-an ribu. Masih sangat mahal buat kami.

Mentok di plan A, kami beralih ke planB. Kebetulan seorang kenalan istri saya juga mau pulang ke Jawa, tapi pake kapal laut. Saya pikir, gak apalah istri ikut temannya sampai Surabaya, minimal ada yang temanin kan, walaupun sama-sama cewek. Tanggal keberangkatan sudah disiapkan, disesuaikan dengan jadwal “bolos” istri saya, yaitu 2 hari sebelum libur resmi dan cuti bersama para PNS.

Menjelang D-Day, plan B juga ternyata gagal. Teman istri saya ternyata berangkatnya jauh hari sebelum hari di mana istri saya bisa mulai libur. Mau bolos, kayaknya koq terlalu cepat dan terlalu lama. Konsekuensinya bisa fatal, apalagi mengingat istri saya masih PNS baru.


Ganti rencana
Setelah melalui pertimbangan dari segi finansial, akhirnya kami sepakat mengganti garis besar rencana. Saya akan ikut pulang ke Semarang, tapi dengan asumsi pulangnya pake kapal laut saja, itupun kelas ekonomi yang harganya sangat terjangkau (hanya Rp. 220.00,- per orang dewasa dan Rp. 165.000,- untuk anak-anak). Setelah jadwal keberangkatan yang disertai dengan aksi “bolos” itu disetujui (kalau saya sih liburnya resmi karena pake ijin cuti), tiket kapal kemudian resmi kami beli. Soal apakah nantinya di Surabaya mau naik bus atau travel itu urusan belakangan, yang penting bisa menginjak tanah Jawa dulu.

Sehari menjelang tanggal keberangkatan (9 Oktober) kami dapat kabar dari salah satu Oom saya yang kebetulan kerja di Pelindo bahwasanya kapal yang akan kami tumpangi ke Jawa bakal terlambat sampai 12 jam..!!!!!, 12 jam.., gila..!!. di tiket tertera rencana keberangkatan adalah jam 2 siang, tapi menurut Oom saya KM Labobar baru akan masuk Makassar pukul 10.00 malam dan biasanya akan berangkat 4 jam kemudian.

Mendengarnya saja sudah langsung bikin lemas. Bayang-bayang mudik sekejap jadi kabur, persis kayak siaran tipi yang antenanya copot. Tapi mau bagaimana lagi, ini di luar kuasa kita. Siang hari tanggal 9 Oktober, sambil menunggu jadwal keberangkatan dengan aroma bete yang sangat kental, kami kemudian mencoba mencari tiket pesawat Jakarta-Makassar atau Surabaya-Makassar tanggal 22 oktober, sesuai dengan rencana kepulangan kami. Ini sebenarnya adalah opsi cadangan karena kami sudah sepakat pulangnya naik kapal laut lagi dari Surabaya tanggal 20 oktober. Sayang, opsi cadangan ini tidak berjalan mulus. Tiket pesawat pada tanggal-tanggal yang kami inginkan ternyata masih melambung tinggi. Paling murah masih Rp. 600-an ribu.

Pukul 10 malam, kami dapat telepon dari Oom, disuruh siap-siap ke pelabuhan karena kapalnya udah mau masuk pelabuhan Makassar. Oke, dengan diiringi doa restu bapak dan ibu kami kemudian meluncur ke pelabuhan. Awalnya saya mengira penumpang KM Labobar nggak bakalan banyak-banyak amat. Pertama karena sisa hari menjelang lebaran sudah semakin dekat, artinya para pemudik yang akan ke Jawa kemungkinan sudah berkurang. Kedua, jumlah penumpang yang turun di Makassar juga sangat banyak (sebelumnya KM Labobar berlayar dari Papua).

Tapi ternyata perkiraan kami salah…jumlah penumpang yang naik juga tidak kalah banyak, bahkan sangat banyak. Semua lorong-lorong dan bawah tangga penuh sesak penumpang. Bahkan dek 7 yang terbuka lebar dan langsung berhubungan ke alam terbuka yang biasanya digunakan sebagai tempat bersantai itu juga penuh penumpang. Seumur hidup saya belum pernah naik kapal yang sampai sepenuh itu. Beruntung juga karena saya punya Oom yang berbaik hati mencarikan tempat tidur kosong buat kami mengingat tiket kami yang hanya kelas ekonomi yang berarti harus rebutan dalam mencari tempat tidur kosong. Saat penumpang lain belum naik ke kapal, saya dan Oom sudah keliling di atas kapal sambil mencari tempat yang strategis. Dan Alhamdulillah dapat juga…

Pukul 2 dinihari, kapal mulai meninggalkan Makassar menuju ke Surabaya. Perjalanannya sendiri sebenarnya cukup mengasyikkan, anak saya sangat menikmati pengalaman pertamanya menumpang kapal laut. Saya sendiri seudah hampir lupa bagaimana rasanya naik kapal laut. Terakhir kali adalah 5 tahun yang lalu, namun semenjak tiket pesawat turun drastis dan kemudian sangat terjangkau, saya tak pernah lagi melirik moda transportasi yang satu ini.

Tiba di Surabaya
Sekitar 23 jam kemudian atau sekitar pukul 12 waktu Surabaya, KM Labobar merapat ke Tanjung Perak. Satu perjalanan sudah terlewati, sekarang kami harus memikirkan perjalanan selanjutnya. Semarang masih 6 jam jauhnya dari Surabaya.

Sebenarnya dalam perjalanan pihak Pelindo sudah mengumumkan tentang tersedianya jasa angkutan travel dari Surabaya ke beberapa kota-kota besar di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Setelah saya cek harganya, ternyata harga travel Surabaya-Semarang adalah Rp. 155.000,-, jauh di atas harga normal yang sekitar Rp. 95.000,-.

“tetangga” kami di kapal yang kebetulan orang Surabaya memberi saran. Katanya kami lebih baik naik Damri –yang katanya ada terus sepanjang hari—dari Tanjung Perak ke Bungurasih, dari sana baru naik bus patas ke Semarang. Katanya ongkos bus patas AC paling mahal Rp. 75.000,- karena normalnya adalah Rp. 45.000,-. Karena yang ngomong orang Surabaya, ya kami percaya juga. Pikir kami, lumayan juga bisa menghemat sampai setengah dari harga yang ditawarkan Pelindo.

Ternyata, setelah kami menginjak bumi Surabaya setelah sebelumnya berdesak-desakan sangat parah dengan para penumpang lainnya yang akan turun dari kapal, Damri yang dimaksud sudah tidak tersedia lagi. Tak ada pilihan lain, kami memilih naik mobil carteran dengan ongkos Rp. 60.000,- menuju Bungurasih. Tapi rupanya si sopir memberi alternatif lain, katanya bus ke Semarang sudah nggak ada di tengah malam seperti ini. Paling cepat adanya jam 5 di pagi hari. Kalau mau, katanya dia bisa membawa kami ke travel agent yang sudah membooking bus tujuan Semarang. Sebenarnya kami agak was-was juga, soalnya kami sama sekali buta soal Surabaya, takutnya kami malah jadi korban perampokan atau penipuan. Tapi jarum jam yang sudah menujukkan pukul 1 dinihari ditambah kondisi badan yang sudah nyaris minta ampun akhirnya membuat kami tidak punya pilihan lain. Bismillah, kami pun ikut si bapak sopir.

Di salah satu travel agent saya diturunkan, ketemu dengan cewek yang sepertinya bertugas sebagai respsionis. Katanya ada bus yang ke Semarang, tapi bukan sekarang melainkan jam 5 pagi nanti. O la la…masih harus nunggu 3 jam lagi dalam ketidak pastian..?, sementara badan rasanya udah capek, mata ngantuk, mana ada anak kecil lagi…

Saya tidak setuju, dan minta si bapak sopir mengantar kami ke travel agent yang lain. Untung si bapak setuju. Akhirnya kami diantar ke travel agent yang lain, saya nggak tau jalannya apa, pikiran tambah kalut, apalagi suasana Surabaya sudah sangat sunyi. Kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari saja. Ah, kalau terjadi apa-apa, bagaimana nih…?.

Di travel agent berikutnya ada sebuah bus yang sedang parkir. Tujuannya ke Tegal, dan berarti melintasi Semarang. Setelah ketemu dengan pihak travel agent saya dikasi tahu kalau busnya memang sudah mau berangkat sekarang tapi kursinya sudah penuh. Kalau mau ada satu kursi cadangan, sebenarnya punya si kernet yang adanya tepat di samping pak sopir yang sedang giat bekerja. Satunya lagi…ya di lantai tepat di samping pak sopir..bagaimana, mau nggak..?. diskusi sebentar dengan istri sebelum akhirnya kami setuju. Daripada menunggu sampai pagi, dan lagian perjalanan pagi dan siang hari di pantura jelas akan sangat memakan waktu lama karena adanya gangguan bernama macet.

Oke akhirnya deal, tapi tau tidak..?. harga yang ditawarkan ternyata Rp. 150.000,- per orang !!!!, itu adalah harga Surabaya-Tegal (katanya) di musim lebaran. Ah, sialan…tahu begini mending dari atas kapal tadi beli tiket travel aja, nggak usah capek-capek cari bus lagi sampai ke travel agent. Travel dari Pelindo artinya turun dari kapal kami langsung naik ke mobil L300 yang sudah menunggu.

Ah, sudahlah..tak ada gunanya menyesal. Saya dan istri hanya saling menertawai kesialan kami sekaligus mengirim doa buat pak Wahyu, tetangga kami di kapal yang sudah memberikan saran ini. Yah, mungkin si bapak sudah lama nggak pulang ke Surabaya sampai-sampai lupa bagaimana susahnya mencari bus di hari-hari terakhir menjelang ramadhan.

Menuju Semarang.
Akhirnya mendekati jam 2 dinihari, bus mulai meninggalkan Surabaya. Istri saya duduk di kursi cadangan milik pak kernet, sementara saya duduk di lantai beralaskan koran sambil memangku si kecil Nadaa. Sampai di sini saya memberi kredit yang tinggi untuk buah hati saya ini. Anak yang kuat dan tak kenal capek. Selama perjalanan dari Makassar sampai nanti tiba di Semarang, tidak sedikitpun dia mengeluh. Walaupun harus berdesak-desakan saat naik dan turun dari kapal laut, dia tetap tought, tetap penuh semangat dan tak pernah rewel. Saat bus mulai keluar dari kota Surabaya, kekuatan Nadaa mungkin sudah mencapai titik terendahnya. Tanpa suara diapun lantas tertidur di pangkuan saya. Sementara itu, saya juga mulai mencoba menutup mata sambil bersandar ke kursinya pak sopir.

Sekitar pukul 3.30 bus –seperti biasa—mampir di Tuban untuk selanjutnya mempersilakan penumpangnya mengisi perut di rumah makan. Alhamdulillah, saya bisa sahur juga. Padahal tadinya saya sudah sempat pesimis bakal bolos berpuasa. Saat di kapal pun sebenarnya saya sempat berpikiran untuk tidak berpuasa, tapi melihat situasi kayaknya sayang juga, soalnya selama di kapal praktis kami lebih banyak tiduran daripada beraktifitas.

Lanjut ya, turun dari bus rasanya saya tidak bisa lagi merasakan tangan kanan saya yang keram karena sepanjang perjalanan menopang tubuh Nadaa. Setelah sahur dan sempat bertemu teman lama yang sudah 5 tahun tak bersua (teman ini juga dalam perjalanan mudik dari Jakarta ke Surabaya), kamipun naik lagi ke bus, siap untuk melanjutkan perjalanan yang tersisa.
Saat siap-siap hendak berangkat itulah saya tiba-tiba menangkap suara percakapan dengan logat yang sangat saya kenal. Logat Makassar…!!. dan terungkaplah fakta bahwa ternyata 22 orang penumpang bus ini adalah orang Tegal yang cari makan di Makassar dengan cara berjualan martabak. Mereka pulangnya kompakan, naik kapal sama-sama dan sudah memesan bus sejak dari Makassar. Asyiknya lagi, mereka dijemput sang bus langsung di pelabuhan Tanjung Perak. Ah, tahu begitu kami barengan aja dari Makassarnya…satu lagi penyesalan terbit…tapi tetap saja tak ada gunanya.

Syukurnya karena teman-teman seperjalanan kami itu ternyata berbaik hati memberikan 2 lembar selimut milik mereka untuk saya gunakan sebagai alas duduk di lorong antara 2 deret kursi. Lumayan, saya bisa merebahkan badan di atas selimut dan satu lagi yang digulung menyerupai bantal. Nadaa tertidur di atas perut saya. Rasa capek segera menerbangkan saya ke alam tidur. Lumayan, bisa tertidur selama 1 jam. Waktu itu saya sama sekali sudah nggak berpikir gengsi atau semacamnya. Toh, suasana bus juga sangat gelap dan lagian nggak kenal-kenal amat sama penumpang lainnya.

Jam 5 pagi, saat bus memasuki kota Rembang saya sudah bangun. Matahari mulai mengintip (matahari di pulau Jawa nampaknya memang datang lebih cepat dari matahari di pulau Sulawesi). Saya membetulkan letak tidur Nadaa yang masih asyik terlelap kecapean, sementara saya sendiri duduk tepat di samping pak sopir yang masih sibuk bekerja. Istri saya ternyata tidak tidur sedari tadi. Jadilah kami bercakap-cakap sepanjang perjalanan, sesekali dengan pak sopir juga.

Ini juga pertama kalinya saya naik bus dan duduk tepat di barisan depan sambil mengamati pak sopir bekerja. Dan tahu tidak ?, pengalaman ini cukup menegangkan. Pak sopir –seperti tipikal sopir bus antar kota—sangat lihai melakukan manuver-manuver yang pastinya membuat kami sport jantung. Perhitungannya sangat tepat, pak sopir sepertinya tahu persis kapan mengerem, kapan mendahului kendaraan lain, dan kapan harus berbelok. Sesekali istri saya sempat berteriak tertahan juga sambil tak lupa ber-istighfar.

Akhirnya…setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, pukul 8 pagi kami turun dari bus dan menginjakkan kaki ke tanah Semarang tercinta. Perjalanan belum usai. Dari terminal Terboyo Semarang kami masih harus naik taksi untuk bisa sampai di rumah mertua. Jaraknya sih nggak gitu jauh. Kira-kira 30 menit perjalanan via tol. Anak saya sampai protes, “ kenapa Semarangnya jauh sekali, Ayah..?”..hehehe dasar anak-anak..tapi Alhamdulillah dia tidak sampai rewel atau bahkan merengek. Berikutnya dia bahkan bisa menghapal urutan perjalanan hingga tiba di rumah Mbah-nya. “ naik taksi, trus naik kapal, trus naik mobil, trus naik bes, trus naik taksi lagi..”, begitu katanya…ah, Nadaa memang jadi pelepas penat kami sepanjang perjalanan.

Dan…teredeng..!!!!. rumah sederhana di kawasan Tembalang, Semarang Selatan itupun nampak di depan mata kami. Mbah Uti, Mbah Kakung dan dua Bu Lik-nya Nadaa sudah menunggu dengan suka cita. Alhamdulillah…perjalanan panjang sejak lebih dari 30 jam yang lalu melintasi laut Jawa itupun berakhir sudah. Rasa senang dan bahagia terasa cukup untuk membasuh semua kepenatan yang kami rasakan. Setelah mandi dengan air yang rasanya sangat menyegarkan itu, saya, Nadaa dan Ofie istri saya akhirnya bisa tertidur pulas hingga waktu buka puasa tiba…

Sebuah perjalanan yang sangat berwarna buat kami. Keluarga dan kebersamaan adalah suatu hal yang ternyata sangat berarti. Tak peduli apapun halangannya, kedua elemen itu harus diusahakan untuk bisa direngkuh di hari yang fitri bernama Lebaran…
Ah, nikmatnya mudik…

(di bagian kedua nanti saya akan bercerita tentang pengalaman selama di Semarang dan opini saya tentang ibu kota Jawa Tengah ini plus sedikit cerita tentang perjalanan kembali ke Makassar yang tidak seseru perjalanan ke Semarang, ditunggu ya..?)

SEBUAH CATATAN KECIL TENTANG BALI


Sejak hari Jum’at (31/8) hingga Senin (3/9) kemarin, saya dan 17 orang teman lainnya mendapat kesempatan mengunjungi pulau Bali atas biaya kantor. Kantor kami memang termasuk murah hati dalam soal memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk berekreasi. Tahun ini adalah rombongan ketiga karyawan Baruga yang berangkat ke Bali. Rombongan pertama berangkat September 2005, berikutnya tahun 2006, dan terakhir tahun ini. Rombongan kami meninggalkan bandara Hasanuddin sekitar pukul 9.40 pagi dan tiba di bandara Ngurah Rai sejam kemudian.

Seorang lelaki berumur sekitar 40-an tahun dengan sikap yang bersahaja menyambut kami di bandara. Bapak bernama Nyoman inilah yang kemudian mengantar kami mengunjungi berbagai obyek wisata selama 4 hari 3 malam. Orangnya sederhana dan cepat akrab, dengan lancar dia juga melafalkan beberapa ungkapan dalam bahasa Makassar seperti cipuru’, bassoro’ dan annyamang. Tampak sekali beliau mencoba lebih cepat mengakrabkan diri kepada kami tamu-tamunya.

Saya pribadi belum pernah ke Bali sebelumnya, tapi entah kenapa saya tidak terlalu bersemangat. Bali tidak pernah masuk terlalu jauh dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi, setidaknya bukan di urutan pertama dan belum mengalahkan Jogja yang selalu saya rindu. Alasan lainnya, saya cukup berat meninggalkan Nadaa hanya berdua di rumah bersama bundanya. Sejenak saya merasa tidak adil, meninggalkan mereka untuk bersenang-senang. Tapi saya juga tidak dapat menolak, jika itu terjadi saya pasti akan menyinggung perasaan banyak orang, dan saya pun pastinya akan dicap sombong karena menolak rejeki. Jadi, saya usahakan saja menikmati waktu yang ada, walaupun pikiran itu tetap mengganggu.

Bali adalah sebuah pulau yang menjadi persimpangan tempat bertemunya berbagai budaya. Penduduk lokal masih tetap teguh memegang budaya Hindu- Bali sementara buadaya Barat-Moderen juga makin banyak mempengaruhi Bali. Bali adalah titik pertemuan antara laut yang indah dan pegunungan yang menakjubkan. Saya bisa langsung mengerti kenapa orang-orang banyak yang menempatkan Bali sebagai tujuan utama mereka berwisata di Indonesia. Beragam alasan bisa jadi pembenaran, dan itu saya rasakan sendiri.


Dalam masa efektif yang hanya 3 hari kami mengunjungi berbagai tempat wisata. Hari pertama begitu turun dari bandara perjalanan dimulai dari wisata belanja di Joger yang terkenal itu, mengunjungi proyek prestisius Garuda Wishnu Kencana yang belum rampung, Dreamland yang dipenuhi bule-bule eksebhitionist, danberakhir dengan menikmati sunset di Jimbaran yang indah. Hari kedua kami dijemput untuk menyaksikan pertunjukan barong di Galuh-Gianyar, belanja hasil kerajinan batik Bali, menengok indahnya danau Batur dan Kintamani, mengunjungi Tampak Siring yang terkenal dengan mata air sucinya di mana sebagian orang percaya mata air tersebut punya kekuatan untuk menyembuhkan dan memperlancar jodoh. Akhirnya perjalanan hari kedua ditutup dengan belanja gila-gilaan di pasar Sukawati. Akhir perjalanan yang bikin saya stress, saya akan langsung menyerah bila berhadapan dengan acara tawar menawar barang dengan pedagang. Barang yang ditawarkan seharga Rp. 45.000,- niscaya akan saya tawar paling rendah Rp. 20.000,-. Namun ternyata di tangan cewek-cewek yang jadi andalan saya dalam menawar, harga tersebut bisa jatuh hingga Rp. 10.000,- atau paling sial Rp. 12.500,-, ah…saya kagum sama determinasi dan ketabahan para wanita itu dalam menawar. Sesuatu yang tidak saya miliki.

Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perilaku para wanita yang berbelanja hingga hitungan jutaan. Mereka seakan-akan kalap setiap kali menemukan pedagang di setiap objek wisata dan factory outlet yang menawarkan diskon. Puncaknya di pasar Sukawati. Hitungan kasar saya, selama 4 hari di Bali total belanjaan para wanita rombongan kami yang berjumlah 10 orang mencapai angka 12 juta rupiah, belum termasuk angka belanjaan kaum lelaki yang mungkin hanya setengahnya. Hobi belanja sekaligus menawar hingga serendah mungkin ini juga yang kadang membuat waktu kunjungan ke objek wisata kadang jadi molor dan tidak sesuai rencana.

Di hari ketiga kami diajak mengunjungi Tanjung Benoa, Nusa Dua. Di sana saya dan beberapa teman sempat mengunjungi Pulau Penyu, tempat penangkaran Penyu dan beberapa hewan-hewan lainnya. Tapi puncak kesenangan saya hari itu adalah saat menikmati parasailing. Permainan yang menguji keberanian ini sangat berkesan buat saya pribadi. Harganya mungkin agak mahal, Rp. 80.000,- untuk sekali main dengan durasi tidak lebih dari 3 menit. Speed boat yang menarik kami hanya berputar sekali dengan diameter perputaran yang tak lebih dari 20 meter. Tapi kesan dan pengalaman yang saya dapatkan rasanya membuat harga yang dibayar menjadi impas. Saat saya berada di ketinggian kurang lebih 50 meter di udara, saya bisa berteriak kencang, sesuatu yang sepertinya susah dilakukan di darat jika anda tidak ingin dicap sebagai orang gila.

Selesai di Tanjung Benoa, kami melaju menuju Bedugul. Sekali lagi pemandangan danau Bedugul yang indah serta deretan pura yang menjadi gambar hiasan di lembar uang Rp. 50.000,- membius kami. Tak terhitung berapa kali kami menjepretkan kamera demi mengabadikan momen tersebut. Tingkat narsisme anggota rombongan kami mungkin agak tinggi, seorang teman sampai tak peduli lagi rasa sakit di pinggangnya akibat terpelesat di perahu saat ke Pulau Penyu hanya demi mengabadikan fotonya. Berbagai gaya mereka tunjukkan, dari gaya yang standard, hanya berdiri tegak tanpa senyum hingga bergaya bak foto model. Narsis habis deh, pokoknya….saya sekali lagi hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi tak apalah, toh Narcism it is not a crime…

Alas Kedaton dan monyet-monyetnya yang terkenal itu jadi tujuan selanjutnya. Sebagian teman memilih tinggal di bis atau langsung menyatroni pedagang di seputaran lokasi wisata daripada masuk ke lokasi dan bertemu monyet-monyet lucu tapi nakal tersebut. Di tempat ini saya agak “tertipu” oleh para guide lokal. Sekumpulan wanita dengan seragam kaos berwarna biru mengantarkan kami berkeliling sambil menjelaskan sedikit tentang Alas Kedaton dan monyet-monyetnya. Setelah puas, mereka kemudian menggiring kami ke kios-kios dagangan mereka. Ternyata mereka ini berprofesi ganda, pemandu wisata merangkap pedagang. Tadinya saya mengira mereka hanya sekedar menujukkan kios dan berharap fee dari setiap transaksi yang terjadi, tapi menurut pak Nyoman, kios itu adalah milik mereka. hmmm…unik juga. Di tempat ini juga, kamera digital saya cacat terkena pagar besi gara-gara saya panik saat mempertahankan MP3 player yang berusaha direbut seekor monyet dari tas pinggang saya.

Akhir perjalan kami hari itu berhenti di Tanah Lot,beberapa saat menjelang turunnya matahari. Hari itu Tanah Lot cukup ramai, maklum hari Minggu. Ratusan orang dari berbagai suku bangsa memadati salah satu tempat pemujaan yang terkenal di Bali itu. Kami sempat mendengarkan penjelasan dari pak Nyoman tentang asal muasal Tanah Lot, serta sempat pula menyaksikan keberadaan 3 ekor ular suci disalah satu gua. Sebagian teman-teman malah sempat membasuh muka dan berdoa di mata air suci yang tetap tawar walaupun berada di kawasan pantai. Tanah Lot sedang surut waktu kami berkunjung, sehingga kami bisa dengan leluasa berjalan-jalan di sekitar tebing. Sayang matahari tertutup awan tebal saat itu sehingga kami urung meyaksikan sunset yang indah.

Senin pagi, kami bersiap-siap meninggalkan Bali. Jumlah barang bawaan akhirnya membengkak sangat besar. Saat baru datang kami membawa 18 buah tas yang dibagasikan, ketika pulang jumlah bagasi bertambah menjadi total 39 buah barang. Dua di antaranya bahkan berupa kardus TV 21”. Fantastis bukan…?, dan pemegang rekor belanja terbanyak urutan 1 hingga 4 dipegang oleh kaum perempuan, hanya ada dua kaum pria yang berhasil merusak dominasi kaum wanita dalam berbelanja dengan masuk ke urutan 5 dan 6. Mungkin perhitungan saya agak kurang tepat, tapi setidaknya saya yakin jika urutan 1-4 itu tidak salah lagi. Total pembelanjaan hingga akhir perjalanan kami mungkin saja menyentuh angka 20 juta rupiah. Hmm…bisa dibayangkan berapa banyak devisa yang ditangguk pemerintah daerah Bali hanya dari kunjungan 4 hari saja.

Bagi saya pribadi, wisata ke Bali ini masih menyisakan rasa kurang puas. Waktu yang ditawarkan terlalu mepet sementara tujuan wisata yang dikunjungi agak banyak, sehingga saya rasanya kurang puas menikmati setiap objek wisata. Setidaknya ada 2 tempat yang manurut saya kurang dieksplorasi, Bedugul dan Tampak Siring. Jika bisa, rasanya saya masih ingin berlama-lama di sana mengikuti prosesi penduduk asli Bali yang sedang bersembahyang atau yang sekedar mencari berkah di air suci.

Ada 3 pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Pertama adalah saat menikmati pertunjukan barong. Awalnya saya agak pesimis dengan pertunjukan ini, saya taku bosan dan tertidur. Bahkan saya-yang ditunjuk sebagai ketua rombongan-nyaris saja membatalkan kunjungan ini. Tapi setelah menyaksikan sendiri, saya ternyata menyukainya hingga tanpa sadar saya mengagumi harmonisasi yang ditunjukkan para penari dan pemusik yang sebagian sudah berusia lanjut. Saya kagum pada dedikasi mereka yang tetap bersemangat melestarikan budaya Bali-Hindu hingga mampu menarik minat para bule-bule. Pengalaman mengesankan yang kedua adalah saat berparasailing, saya bisa merasakan debaran jantung yang lebih cepat dari debaran yang normal, bisa merasakan darah yang berdesir jauh lebih cepat, dan ujung-ujungnya merasa puas dan lega saat bisa mendarat kembali di tanah. Pengalaman mengesankan ketiga adalah saat bertarung dengan para pedagang di pasar Sukawati hanya demi mencari harga yang pas. Adduhhh….!!!,kalau ingat lagi rasanya stress banget. Kondisi pasar yang ramai namun sempit ditambah alotnya acara tawar menawar harga membuat saya cepat menyerah. Ujung-ujungnya saya hanya duduk di taman, menjaga barang teman-teman yang lain sementara mereka masih tetap bersemangat untuk bergerilya mencari barang pilihan mereka.

Secara umum saya bisa katakan kalau Bali memang indah. Mereka sangat pandai menjaga tradisi asli mereka dan tidak membiarkannya tergerus tradisi barat yang dibawa para turis. Mereka juga sangat pandai menjaga kebersihan, ketertiban dan keamanan demi kenyamanan para pengunjung. Untuk yang ini, saya bisa merasakannya langsung. Jalan-jalan di Bali yang relatif lebih kecil dari jalan-jalan di Makassar jarang terkena macet karena tertibnya para pengemudi. Trotoar tempat pejalan kaki juga sangat jarang berhiaskan sampah, dan malam hari saat saya dan 4 orang teman berjalan kaki menembus lorong-lorong kecil dari Legian menuju pantai Kuta tak ada rasa khawatir sedikitpun bakal kena palak atau kena copet padahal waktu sudah hampir tengah malam.

Selama di Bali saya selalu berandai-andai, kapan Sulawesi Selatan bisa seperti itu. Secara subyektif saya bisa katakan kalau pantai Kuta,Nusa Dua, Sanur bahkan Dreamland tidak lebih indah dari Tanjung Bira dan Takabonerate, pasirnya malah kalah putih hanya saja mereka menang diombak yang lebih besar karena menghadap langsung ke samudera luas. Bedugul dan Kintamani tidak lebih indah dari Malino, Kanreapia, atau bahkan Buttu Kabobong, dan secara keseluruhan Tana Toraja sama eksotisnya dengan Bali. Perbedaan terbesarnya mungkin adalah bahwa mereka mampu menjaga dan merawat segala keindahan alam beserta budaya peninggalan nenek moyang mereka, sementara kita di Sulawesi Selatan malah banyak yang justru merusak semua anugerah Tuhan itu. Mereka banyak menghamburkan uang demi membangun kawasan wisata dan fasilitas publik yang mungkin break event point-nya butuh waktu lama, beda dengan pemerintah sini yang lebih intens membangun pusat perbelanjaan berskala besar yang siap merebut fasilitas publik hanya karena faktor pengembalian modal dan perolehan keuntungan yang lebih cepat.

Sayang sebenarnya, karena bagaimanapun Sulawesi Selatan punya potensi untuk bisa seperti Bali. Potensi yang saya kira banyak tersia-siakan selama ini. Yah,semoga saja siapapun yang menang di Pilkada nanti bisa memanfaatkan potensi ini.

Berikutnya, saya koq makin pengen mengunjungi Papua dan Lombok yang konon alamnya masih sangat perawan. Tapi di atas segalanya saya pengen kembali ke Jogja, kota yang selalu saya rindukan…entah kapan…