Category Archives: Wisata

MUDIK YUK..!!! (Bagian pertama dari 3 cerita)

Mudik, mendengar kata ini pasti kita langsung mengaitkannya dengan Lebaran, suatu ritual yang sebenarnya bukan hanya milik kita orang Indonesia saja. Suatu ritual yang kadang harus dijalani dengan sangat susah payah hanya demi satu tujuan, berkumpul dengan keluarga di hari raya.

Tahun ini adalah kali kedua saya merasakan yang namanya mudik lebaran. Sebelum menikah saya memang tidak pernah merasakan denyut suatu ritual yang disebut mudik. Dulu, mudik bagi saya adalah mengunjungi rumah tempat nenek saya berdiam yang jaraknya hanya 7 km dari rumah, atau dapat ditempuh dengan kendaraan selama kurang lebih 15-20 menit. Nggak ada romantikanya bukan..?

Garis tangan kemudian memutuskan saya harus berjodoh dengan seorang gadis Jawa yang rela ikut saya ke Makassar. Artinya, saya kemudian punya alasan untuk mudik atau tepatnya pulang ke kampung halaman istri, nun jauh di pulau Jawa sana.

Dan tahun ini sama saja dengan mudik kami dua tahun lalu. Nyaris tanpa perhitungan yang matang. Dua tahun lalu, keputusan mudik kami approve 2 hari sebelum lebaran, yaitu saat tiba-tiba Sriwijaya Air berbaik hati menjual tiket Makassar-Jakarta hanya dengan harga Rp. 250.000,-. Siapa yang tidak tergoda dengan harga tiket semurah itu, di musim mudik lagi, hingga akhirnya kamipun berangkat, walaupun tak tahu nantinya akan menumpang apa dari Jakarta ke Semarang.

Tahun ini, rencana memang sudah disusun agak jauh hari sebelum lebaran, walaupun nggak bisa dibilang matang. Rencana awal, mengingat budget yang mepet, hanya istri dan anak saya yang akan pulang ke Semarang. Saya hanya akan mensupport mereka dari sini. Oke, itu garis besarnya. Detailnya kemudian adalah sebagai berikut. Berangkatnya akan menggunakan pesawat sampai Surabaya dan dilanjutkan dengan jalur darat selama 6 jam ke Semarang. Setelah mencari-cari tiket pesawat yang sesuai dengan alokasi waktu dan dana, ternyata tidak ada satupun yang sesuai. Harga termurah via Surabaya adalah Rp. 600-an ribu. Masih sangat mahal buat kami.

Mentok di plan A, kami beralih ke planB. Kebetulan seorang kenalan istri saya juga mau pulang ke Jawa, tapi pake kapal laut. Saya pikir, gak apalah istri ikut temannya sampai Surabaya, minimal ada yang temanin kan, walaupun sama-sama cewek. Tanggal keberangkatan sudah disiapkan, disesuaikan dengan jadwal “bolos” istri saya, yaitu 2 hari sebelum libur resmi dan cuti bersama para PNS.

Menjelang D-Day, plan B juga ternyata gagal. Teman istri saya ternyata berangkatnya jauh hari sebelum hari di mana istri saya bisa mulai libur. Mau bolos, kayaknya koq terlalu cepat dan terlalu lama. Konsekuensinya bisa fatal, apalagi mengingat istri saya masih PNS baru.


Ganti rencana
Setelah melalui pertimbangan dari segi finansial, akhirnya kami sepakat mengganti garis besar rencana. Saya akan ikut pulang ke Semarang, tapi dengan asumsi pulangnya pake kapal laut saja, itupun kelas ekonomi yang harganya sangat terjangkau (hanya Rp. 220.00,- per orang dewasa dan Rp. 165.000,- untuk anak-anak). Setelah jadwal keberangkatan yang disertai dengan aksi “bolos” itu disetujui (kalau saya sih liburnya resmi karena pake ijin cuti), tiket kapal kemudian resmi kami beli. Soal apakah nantinya di Surabaya mau naik bus atau travel itu urusan belakangan, yang penting bisa menginjak tanah Jawa dulu.

Sehari menjelang tanggal keberangkatan (9 Oktober) kami dapat kabar dari salah satu Oom saya yang kebetulan kerja di Pelindo bahwasanya kapal yang akan kami tumpangi ke Jawa bakal terlambat sampai 12 jam..!!!!!, 12 jam.., gila..!!. di tiket tertera rencana keberangkatan adalah jam 2 siang, tapi menurut Oom saya KM Labobar baru akan masuk Makassar pukul 10.00 malam dan biasanya akan berangkat 4 jam kemudian.

Mendengarnya saja sudah langsung bikin lemas. Bayang-bayang mudik sekejap jadi kabur, persis kayak siaran tipi yang antenanya copot. Tapi mau bagaimana lagi, ini di luar kuasa kita. Siang hari tanggal 9 Oktober, sambil menunggu jadwal keberangkatan dengan aroma bete yang sangat kental, kami kemudian mencoba mencari tiket pesawat Jakarta-Makassar atau Surabaya-Makassar tanggal 22 oktober, sesuai dengan rencana kepulangan kami. Ini sebenarnya adalah opsi cadangan karena kami sudah sepakat pulangnya naik kapal laut lagi dari Surabaya tanggal 20 oktober. Sayang, opsi cadangan ini tidak berjalan mulus. Tiket pesawat pada tanggal-tanggal yang kami inginkan ternyata masih melambung tinggi. Paling murah masih Rp. 600-an ribu.

Pukul 10 malam, kami dapat telepon dari Oom, disuruh siap-siap ke pelabuhan karena kapalnya udah mau masuk pelabuhan Makassar. Oke, dengan diiringi doa restu bapak dan ibu kami kemudian meluncur ke pelabuhan. Awalnya saya mengira penumpang KM Labobar nggak bakalan banyak-banyak amat. Pertama karena sisa hari menjelang lebaran sudah semakin dekat, artinya para pemudik yang akan ke Jawa kemungkinan sudah berkurang. Kedua, jumlah penumpang yang turun di Makassar juga sangat banyak (sebelumnya KM Labobar berlayar dari Papua).

Tapi ternyata perkiraan kami salah…jumlah penumpang yang naik juga tidak kalah banyak, bahkan sangat banyak. Semua lorong-lorong dan bawah tangga penuh sesak penumpang. Bahkan dek 7 yang terbuka lebar dan langsung berhubungan ke alam terbuka yang biasanya digunakan sebagai tempat bersantai itu juga penuh penumpang. Seumur hidup saya belum pernah naik kapal yang sampai sepenuh itu. Beruntung juga karena saya punya Oom yang berbaik hati mencarikan tempat tidur kosong buat kami mengingat tiket kami yang hanya kelas ekonomi yang berarti harus rebutan dalam mencari tempat tidur kosong. Saat penumpang lain belum naik ke kapal, saya dan Oom sudah keliling di atas kapal sambil mencari tempat yang strategis. Dan Alhamdulillah dapat juga…

Pukul 2 dinihari, kapal mulai meninggalkan Makassar menuju ke Surabaya. Perjalanannya sendiri sebenarnya cukup mengasyikkan, anak saya sangat menikmati pengalaman pertamanya menumpang kapal laut. Saya sendiri seudah hampir lupa bagaimana rasanya naik kapal laut. Terakhir kali adalah 5 tahun yang lalu, namun semenjak tiket pesawat turun drastis dan kemudian sangat terjangkau, saya tak pernah lagi melirik moda transportasi yang satu ini.

Tiba di Surabaya
Sekitar 23 jam kemudian atau sekitar pukul 12 waktu Surabaya, KM Labobar merapat ke Tanjung Perak. Satu perjalanan sudah terlewati, sekarang kami harus memikirkan perjalanan selanjutnya. Semarang masih 6 jam jauhnya dari Surabaya.

Sebenarnya dalam perjalanan pihak Pelindo sudah mengumumkan tentang tersedianya jasa angkutan travel dari Surabaya ke beberapa kota-kota besar di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Setelah saya cek harganya, ternyata harga travel Surabaya-Semarang adalah Rp. 155.000,-, jauh di atas harga normal yang sekitar Rp. 95.000,-.

“tetangga” kami di kapal yang kebetulan orang Surabaya memberi saran. Katanya kami lebih baik naik Damri –yang katanya ada terus sepanjang hari—dari Tanjung Perak ke Bungurasih, dari sana baru naik bus patas ke Semarang. Katanya ongkos bus patas AC paling mahal Rp. 75.000,- karena normalnya adalah Rp. 45.000,-. Karena yang ngomong orang Surabaya, ya kami percaya juga. Pikir kami, lumayan juga bisa menghemat sampai setengah dari harga yang ditawarkan Pelindo.

Ternyata, setelah kami menginjak bumi Surabaya setelah sebelumnya berdesak-desakan sangat parah dengan para penumpang lainnya yang akan turun dari kapal, Damri yang dimaksud sudah tidak tersedia lagi. Tak ada pilihan lain, kami memilih naik mobil carteran dengan ongkos Rp. 60.000,- menuju Bungurasih. Tapi rupanya si sopir memberi alternatif lain, katanya bus ke Semarang sudah nggak ada di tengah malam seperti ini. Paling cepat adanya jam 5 di pagi hari. Kalau mau, katanya dia bisa membawa kami ke travel agent yang sudah membooking bus tujuan Semarang. Sebenarnya kami agak was-was juga, soalnya kami sama sekali buta soal Surabaya, takutnya kami malah jadi korban perampokan atau penipuan. Tapi jarum jam yang sudah menujukkan pukul 1 dinihari ditambah kondisi badan yang sudah nyaris minta ampun akhirnya membuat kami tidak punya pilihan lain. Bismillah, kami pun ikut si bapak sopir.

Di salah satu travel agent saya diturunkan, ketemu dengan cewek yang sepertinya bertugas sebagai respsionis. Katanya ada bus yang ke Semarang, tapi bukan sekarang melainkan jam 5 pagi nanti. O la la…masih harus nunggu 3 jam lagi dalam ketidak pastian..?, sementara badan rasanya udah capek, mata ngantuk, mana ada anak kecil lagi…

Saya tidak setuju, dan minta si bapak sopir mengantar kami ke travel agent yang lain. Untung si bapak setuju. Akhirnya kami diantar ke travel agent yang lain, saya nggak tau jalannya apa, pikiran tambah kalut, apalagi suasana Surabaya sudah sangat sunyi. Kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari saja. Ah, kalau terjadi apa-apa, bagaimana nih…?.

Di travel agent berikutnya ada sebuah bus yang sedang parkir. Tujuannya ke Tegal, dan berarti melintasi Semarang. Setelah ketemu dengan pihak travel agent saya dikasi tahu kalau busnya memang sudah mau berangkat sekarang tapi kursinya sudah penuh. Kalau mau ada satu kursi cadangan, sebenarnya punya si kernet yang adanya tepat di samping pak sopir yang sedang giat bekerja. Satunya lagi…ya di lantai tepat di samping pak sopir..bagaimana, mau nggak..?. diskusi sebentar dengan istri sebelum akhirnya kami setuju. Daripada menunggu sampai pagi, dan lagian perjalanan pagi dan siang hari di pantura jelas akan sangat memakan waktu lama karena adanya gangguan bernama macet.

Oke akhirnya deal, tapi tau tidak..?. harga yang ditawarkan ternyata Rp. 150.000,- per orang !!!!, itu adalah harga Surabaya-Tegal (katanya) di musim lebaran. Ah, sialan…tahu begini mending dari atas kapal tadi beli tiket travel aja, nggak usah capek-capek cari bus lagi sampai ke travel agent. Travel dari Pelindo artinya turun dari kapal kami langsung naik ke mobil L300 yang sudah menunggu.

Ah, sudahlah..tak ada gunanya menyesal. Saya dan istri hanya saling menertawai kesialan kami sekaligus mengirim doa buat pak Wahyu, tetangga kami di kapal yang sudah memberikan saran ini. Yah, mungkin si bapak sudah lama nggak pulang ke Surabaya sampai-sampai lupa bagaimana susahnya mencari bus di hari-hari terakhir menjelang ramadhan.

Menuju Semarang.
Akhirnya mendekati jam 2 dinihari, bus mulai meninggalkan Surabaya. Istri saya duduk di kursi cadangan milik pak kernet, sementara saya duduk di lantai beralaskan koran sambil memangku si kecil Nadaa. Sampai di sini saya memberi kredit yang tinggi untuk buah hati saya ini. Anak yang kuat dan tak kenal capek. Selama perjalanan dari Makassar sampai nanti tiba di Semarang, tidak sedikitpun dia mengeluh. Walaupun harus berdesak-desakan saat naik dan turun dari kapal laut, dia tetap tought, tetap penuh semangat dan tak pernah rewel. Saat bus mulai keluar dari kota Surabaya, kekuatan Nadaa mungkin sudah mencapai titik terendahnya. Tanpa suara diapun lantas tertidur di pangkuan saya. Sementara itu, saya juga mulai mencoba menutup mata sambil bersandar ke kursinya pak sopir.

Sekitar pukul 3.30 bus –seperti biasa—mampir di Tuban untuk selanjutnya mempersilakan penumpangnya mengisi perut di rumah makan. Alhamdulillah, saya bisa sahur juga. Padahal tadinya saya sudah sempat pesimis bakal bolos berpuasa. Saat di kapal pun sebenarnya saya sempat berpikiran untuk tidak berpuasa, tapi melihat situasi kayaknya sayang juga, soalnya selama di kapal praktis kami lebih banyak tiduran daripada beraktifitas.

Lanjut ya, turun dari bus rasanya saya tidak bisa lagi merasakan tangan kanan saya yang keram karena sepanjang perjalanan menopang tubuh Nadaa. Setelah sahur dan sempat bertemu teman lama yang sudah 5 tahun tak bersua (teman ini juga dalam perjalanan mudik dari Jakarta ke Surabaya), kamipun naik lagi ke bus, siap untuk melanjutkan perjalanan yang tersisa.
Saat siap-siap hendak berangkat itulah saya tiba-tiba menangkap suara percakapan dengan logat yang sangat saya kenal. Logat Makassar…!!. dan terungkaplah fakta bahwa ternyata 22 orang penumpang bus ini adalah orang Tegal yang cari makan di Makassar dengan cara berjualan martabak. Mereka pulangnya kompakan, naik kapal sama-sama dan sudah memesan bus sejak dari Makassar. Asyiknya lagi, mereka dijemput sang bus langsung di pelabuhan Tanjung Perak. Ah, tahu begitu kami barengan aja dari Makassarnya…satu lagi penyesalan terbit…tapi tetap saja tak ada gunanya.

Syukurnya karena teman-teman seperjalanan kami itu ternyata berbaik hati memberikan 2 lembar selimut milik mereka untuk saya gunakan sebagai alas duduk di lorong antara 2 deret kursi. Lumayan, saya bisa merebahkan badan di atas selimut dan satu lagi yang digulung menyerupai bantal. Nadaa tertidur di atas perut saya. Rasa capek segera menerbangkan saya ke alam tidur. Lumayan, bisa tertidur selama 1 jam. Waktu itu saya sama sekali sudah nggak berpikir gengsi atau semacamnya. Toh, suasana bus juga sangat gelap dan lagian nggak kenal-kenal amat sama penumpang lainnya.

Jam 5 pagi, saat bus memasuki kota Rembang saya sudah bangun. Matahari mulai mengintip (matahari di pulau Jawa nampaknya memang datang lebih cepat dari matahari di pulau Sulawesi). Saya membetulkan letak tidur Nadaa yang masih asyik terlelap kecapean, sementara saya sendiri duduk tepat di samping pak sopir yang masih sibuk bekerja. Istri saya ternyata tidak tidur sedari tadi. Jadilah kami bercakap-cakap sepanjang perjalanan, sesekali dengan pak sopir juga.

Ini juga pertama kalinya saya naik bus dan duduk tepat di barisan depan sambil mengamati pak sopir bekerja. Dan tahu tidak ?, pengalaman ini cukup menegangkan. Pak sopir –seperti tipikal sopir bus antar kota—sangat lihai melakukan manuver-manuver yang pastinya membuat kami sport jantung. Perhitungannya sangat tepat, pak sopir sepertinya tahu persis kapan mengerem, kapan mendahului kendaraan lain, dan kapan harus berbelok. Sesekali istri saya sempat berteriak tertahan juga sambil tak lupa ber-istighfar.

Akhirnya…setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, pukul 8 pagi kami turun dari bus dan menginjakkan kaki ke tanah Semarang tercinta. Perjalanan belum usai. Dari terminal Terboyo Semarang kami masih harus naik taksi untuk bisa sampai di rumah mertua. Jaraknya sih nggak gitu jauh. Kira-kira 30 menit perjalanan via tol. Anak saya sampai protes, “ kenapa Semarangnya jauh sekali, Ayah..?”..hehehe dasar anak-anak..tapi Alhamdulillah dia tidak sampai rewel atau bahkan merengek. Berikutnya dia bahkan bisa menghapal urutan perjalanan hingga tiba di rumah Mbah-nya. “ naik taksi, trus naik kapal, trus naik mobil, trus naik bes, trus naik taksi lagi..”, begitu katanya…ah, Nadaa memang jadi pelepas penat kami sepanjang perjalanan.

Dan…teredeng..!!!!. rumah sederhana di kawasan Tembalang, Semarang Selatan itupun nampak di depan mata kami. Mbah Uti, Mbah Kakung dan dua Bu Lik-nya Nadaa sudah menunggu dengan suka cita. Alhamdulillah…perjalanan panjang sejak lebih dari 30 jam yang lalu melintasi laut Jawa itupun berakhir sudah. Rasa senang dan bahagia terasa cukup untuk membasuh semua kepenatan yang kami rasakan. Setelah mandi dengan air yang rasanya sangat menyegarkan itu, saya, Nadaa dan Ofie istri saya akhirnya bisa tertidur pulas hingga waktu buka puasa tiba…

Sebuah perjalanan yang sangat berwarna buat kami. Keluarga dan kebersamaan adalah suatu hal yang ternyata sangat berarti. Tak peduli apapun halangannya, kedua elemen itu harus diusahakan untuk bisa direngkuh di hari yang fitri bernama Lebaran…
Ah, nikmatnya mudik…

(di bagian kedua nanti saya akan bercerita tentang pengalaman selama di Semarang dan opini saya tentang ibu kota Jawa Tengah ini plus sedikit cerita tentang perjalanan kembali ke Makassar yang tidak seseru perjalanan ke Semarang, ditunggu ya..?)

SEBUAH CATATAN KECIL TENTANG BALI


Sejak hari Jum’at (31/8) hingga Senin (3/9) kemarin, saya dan 17 orang teman lainnya mendapat kesempatan mengunjungi pulau Bali atas biaya kantor. Kantor kami memang termasuk murah hati dalam soal memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk berekreasi. Tahun ini adalah rombongan ketiga karyawan Baruga yang berangkat ke Bali. Rombongan pertama berangkat September 2005, berikutnya tahun 2006, dan terakhir tahun ini. Rombongan kami meninggalkan bandara Hasanuddin sekitar pukul 9.40 pagi dan tiba di bandara Ngurah Rai sejam kemudian.

Seorang lelaki berumur sekitar 40-an tahun dengan sikap yang bersahaja menyambut kami di bandara. Bapak bernama Nyoman inilah yang kemudian mengantar kami mengunjungi berbagai obyek wisata selama 4 hari 3 malam. Orangnya sederhana dan cepat akrab, dengan lancar dia juga melafalkan beberapa ungkapan dalam bahasa Makassar seperti cipuru’, bassoro’ dan annyamang. Tampak sekali beliau mencoba lebih cepat mengakrabkan diri kepada kami tamu-tamunya.

Saya pribadi belum pernah ke Bali sebelumnya, tapi entah kenapa saya tidak terlalu bersemangat. Bali tidak pernah masuk terlalu jauh dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi, setidaknya bukan di urutan pertama dan belum mengalahkan Jogja yang selalu saya rindu. Alasan lainnya, saya cukup berat meninggalkan Nadaa hanya berdua di rumah bersama bundanya. Sejenak saya merasa tidak adil, meninggalkan mereka untuk bersenang-senang. Tapi saya juga tidak dapat menolak, jika itu terjadi saya pasti akan menyinggung perasaan banyak orang, dan saya pun pastinya akan dicap sombong karena menolak rejeki. Jadi, saya usahakan saja menikmati waktu yang ada, walaupun pikiran itu tetap mengganggu.

Bali adalah sebuah pulau yang menjadi persimpangan tempat bertemunya berbagai budaya. Penduduk lokal masih tetap teguh memegang budaya Hindu- Bali sementara buadaya Barat-Moderen juga makin banyak mempengaruhi Bali. Bali adalah titik pertemuan antara laut yang indah dan pegunungan yang menakjubkan. Saya bisa langsung mengerti kenapa orang-orang banyak yang menempatkan Bali sebagai tujuan utama mereka berwisata di Indonesia. Beragam alasan bisa jadi pembenaran, dan itu saya rasakan sendiri.


Dalam masa efektif yang hanya 3 hari kami mengunjungi berbagai tempat wisata. Hari pertama begitu turun dari bandara perjalanan dimulai dari wisata belanja di Joger yang terkenal itu, mengunjungi proyek prestisius Garuda Wishnu Kencana yang belum rampung, Dreamland yang dipenuhi bule-bule eksebhitionist, danberakhir dengan menikmati sunset di Jimbaran yang indah. Hari kedua kami dijemput untuk menyaksikan pertunjukan barong di Galuh-Gianyar, belanja hasil kerajinan batik Bali, menengok indahnya danau Batur dan Kintamani, mengunjungi Tampak Siring yang terkenal dengan mata air sucinya di mana sebagian orang percaya mata air tersebut punya kekuatan untuk menyembuhkan dan memperlancar jodoh. Akhirnya perjalanan hari kedua ditutup dengan belanja gila-gilaan di pasar Sukawati. Akhir perjalanan yang bikin saya stress, saya akan langsung menyerah bila berhadapan dengan acara tawar menawar barang dengan pedagang. Barang yang ditawarkan seharga Rp. 45.000,- niscaya akan saya tawar paling rendah Rp. 20.000,-. Namun ternyata di tangan cewek-cewek yang jadi andalan saya dalam menawar, harga tersebut bisa jatuh hingga Rp. 10.000,- atau paling sial Rp. 12.500,-, ah…saya kagum sama determinasi dan ketabahan para wanita itu dalam menawar. Sesuatu yang tidak saya miliki.

Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perilaku para wanita yang berbelanja hingga hitungan jutaan. Mereka seakan-akan kalap setiap kali menemukan pedagang di setiap objek wisata dan factory outlet yang menawarkan diskon. Puncaknya di pasar Sukawati. Hitungan kasar saya, selama 4 hari di Bali total belanjaan para wanita rombongan kami yang berjumlah 10 orang mencapai angka 12 juta rupiah, belum termasuk angka belanjaan kaum lelaki yang mungkin hanya setengahnya. Hobi belanja sekaligus menawar hingga serendah mungkin ini juga yang kadang membuat waktu kunjungan ke objek wisata kadang jadi molor dan tidak sesuai rencana.

Di hari ketiga kami diajak mengunjungi Tanjung Benoa, Nusa Dua. Di sana saya dan beberapa teman sempat mengunjungi Pulau Penyu, tempat penangkaran Penyu dan beberapa hewan-hewan lainnya. Tapi puncak kesenangan saya hari itu adalah saat menikmati parasailing. Permainan yang menguji keberanian ini sangat berkesan buat saya pribadi. Harganya mungkin agak mahal, Rp. 80.000,- untuk sekali main dengan durasi tidak lebih dari 3 menit. Speed boat yang menarik kami hanya berputar sekali dengan diameter perputaran yang tak lebih dari 20 meter. Tapi kesan dan pengalaman yang saya dapatkan rasanya membuat harga yang dibayar menjadi impas. Saat saya berada di ketinggian kurang lebih 50 meter di udara, saya bisa berteriak kencang, sesuatu yang sepertinya susah dilakukan di darat jika anda tidak ingin dicap sebagai orang gila.

Selesai di Tanjung Benoa, kami melaju menuju Bedugul. Sekali lagi pemandangan danau Bedugul yang indah serta deretan pura yang menjadi gambar hiasan di lembar uang Rp. 50.000,- membius kami. Tak terhitung berapa kali kami menjepretkan kamera demi mengabadikan momen tersebut. Tingkat narsisme anggota rombongan kami mungkin agak tinggi, seorang teman sampai tak peduli lagi rasa sakit di pinggangnya akibat terpelesat di perahu saat ke Pulau Penyu hanya demi mengabadikan fotonya. Berbagai gaya mereka tunjukkan, dari gaya yang standard, hanya berdiri tegak tanpa senyum hingga bergaya bak foto model. Narsis habis deh, pokoknya….saya sekali lagi hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi tak apalah, toh Narcism it is not a crime…

Alas Kedaton dan monyet-monyetnya yang terkenal itu jadi tujuan selanjutnya. Sebagian teman memilih tinggal di bis atau langsung menyatroni pedagang di seputaran lokasi wisata daripada masuk ke lokasi dan bertemu monyet-monyet lucu tapi nakal tersebut. Di tempat ini saya agak “tertipu” oleh para guide lokal. Sekumpulan wanita dengan seragam kaos berwarna biru mengantarkan kami berkeliling sambil menjelaskan sedikit tentang Alas Kedaton dan monyet-monyetnya. Setelah puas, mereka kemudian menggiring kami ke kios-kios dagangan mereka. Ternyata mereka ini berprofesi ganda, pemandu wisata merangkap pedagang. Tadinya saya mengira mereka hanya sekedar menujukkan kios dan berharap fee dari setiap transaksi yang terjadi, tapi menurut pak Nyoman, kios itu adalah milik mereka. hmmm…unik juga. Di tempat ini juga, kamera digital saya cacat terkena pagar besi gara-gara saya panik saat mempertahankan MP3 player yang berusaha direbut seekor monyet dari tas pinggang saya.

Akhir perjalan kami hari itu berhenti di Tanah Lot,beberapa saat menjelang turunnya matahari. Hari itu Tanah Lot cukup ramai, maklum hari Minggu. Ratusan orang dari berbagai suku bangsa memadati salah satu tempat pemujaan yang terkenal di Bali itu. Kami sempat mendengarkan penjelasan dari pak Nyoman tentang asal muasal Tanah Lot, serta sempat pula menyaksikan keberadaan 3 ekor ular suci disalah satu gua. Sebagian teman-teman malah sempat membasuh muka dan berdoa di mata air suci yang tetap tawar walaupun berada di kawasan pantai. Tanah Lot sedang surut waktu kami berkunjung, sehingga kami bisa dengan leluasa berjalan-jalan di sekitar tebing. Sayang matahari tertutup awan tebal saat itu sehingga kami urung meyaksikan sunset yang indah.

Senin pagi, kami bersiap-siap meninggalkan Bali. Jumlah barang bawaan akhirnya membengkak sangat besar. Saat baru datang kami membawa 18 buah tas yang dibagasikan, ketika pulang jumlah bagasi bertambah menjadi total 39 buah barang. Dua di antaranya bahkan berupa kardus TV 21”. Fantastis bukan…?, dan pemegang rekor belanja terbanyak urutan 1 hingga 4 dipegang oleh kaum perempuan, hanya ada dua kaum pria yang berhasil merusak dominasi kaum wanita dalam berbelanja dengan masuk ke urutan 5 dan 6. Mungkin perhitungan saya agak kurang tepat, tapi setidaknya saya yakin jika urutan 1-4 itu tidak salah lagi. Total pembelanjaan hingga akhir perjalanan kami mungkin saja menyentuh angka 20 juta rupiah. Hmm…bisa dibayangkan berapa banyak devisa yang ditangguk pemerintah daerah Bali hanya dari kunjungan 4 hari saja.

Bagi saya pribadi, wisata ke Bali ini masih menyisakan rasa kurang puas. Waktu yang ditawarkan terlalu mepet sementara tujuan wisata yang dikunjungi agak banyak, sehingga saya rasanya kurang puas menikmati setiap objek wisata. Setidaknya ada 2 tempat yang manurut saya kurang dieksplorasi, Bedugul dan Tampak Siring. Jika bisa, rasanya saya masih ingin berlama-lama di sana mengikuti prosesi penduduk asli Bali yang sedang bersembahyang atau yang sekedar mencari berkah di air suci.

Ada 3 pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Pertama adalah saat menikmati pertunjukan barong. Awalnya saya agak pesimis dengan pertunjukan ini, saya taku bosan dan tertidur. Bahkan saya-yang ditunjuk sebagai ketua rombongan-nyaris saja membatalkan kunjungan ini. Tapi setelah menyaksikan sendiri, saya ternyata menyukainya hingga tanpa sadar saya mengagumi harmonisasi yang ditunjukkan para penari dan pemusik yang sebagian sudah berusia lanjut. Saya kagum pada dedikasi mereka yang tetap bersemangat melestarikan budaya Bali-Hindu hingga mampu menarik minat para bule-bule. Pengalaman mengesankan yang kedua adalah saat berparasailing, saya bisa merasakan debaran jantung yang lebih cepat dari debaran yang normal, bisa merasakan darah yang berdesir jauh lebih cepat, dan ujung-ujungnya merasa puas dan lega saat bisa mendarat kembali di tanah. Pengalaman mengesankan ketiga adalah saat bertarung dengan para pedagang di pasar Sukawati hanya demi mencari harga yang pas. Adduhhh….!!!,kalau ingat lagi rasanya stress banget. Kondisi pasar yang ramai namun sempit ditambah alotnya acara tawar menawar harga membuat saya cepat menyerah. Ujung-ujungnya saya hanya duduk di taman, menjaga barang teman-teman yang lain sementara mereka masih tetap bersemangat untuk bergerilya mencari barang pilihan mereka.

Secara umum saya bisa katakan kalau Bali memang indah. Mereka sangat pandai menjaga tradisi asli mereka dan tidak membiarkannya tergerus tradisi barat yang dibawa para turis. Mereka juga sangat pandai menjaga kebersihan, ketertiban dan keamanan demi kenyamanan para pengunjung. Untuk yang ini, saya bisa merasakannya langsung. Jalan-jalan di Bali yang relatif lebih kecil dari jalan-jalan di Makassar jarang terkena macet karena tertibnya para pengemudi. Trotoar tempat pejalan kaki juga sangat jarang berhiaskan sampah, dan malam hari saat saya dan 4 orang teman berjalan kaki menembus lorong-lorong kecil dari Legian menuju pantai Kuta tak ada rasa khawatir sedikitpun bakal kena palak atau kena copet padahal waktu sudah hampir tengah malam.

Selama di Bali saya selalu berandai-andai, kapan Sulawesi Selatan bisa seperti itu. Secara subyektif saya bisa katakan kalau pantai Kuta,Nusa Dua, Sanur bahkan Dreamland tidak lebih indah dari Tanjung Bira dan Takabonerate, pasirnya malah kalah putih hanya saja mereka menang diombak yang lebih besar karena menghadap langsung ke samudera luas. Bedugul dan Kintamani tidak lebih indah dari Malino, Kanreapia, atau bahkan Buttu Kabobong, dan secara keseluruhan Tana Toraja sama eksotisnya dengan Bali. Perbedaan terbesarnya mungkin adalah bahwa mereka mampu menjaga dan merawat segala keindahan alam beserta budaya peninggalan nenek moyang mereka, sementara kita di Sulawesi Selatan malah banyak yang justru merusak semua anugerah Tuhan itu. Mereka banyak menghamburkan uang demi membangun kawasan wisata dan fasilitas publik yang mungkin break event point-nya butuh waktu lama, beda dengan pemerintah sini yang lebih intens membangun pusat perbelanjaan berskala besar yang siap merebut fasilitas publik hanya karena faktor pengembalian modal dan perolehan keuntungan yang lebih cepat.

Sayang sebenarnya, karena bagaimanapun Sulawesi Selatan punya potensi untuk bisa seperti Bali. Potensi yang saya kira banyak tersia-siakan selama ini. Yah,semoga saja siapapun yang menang di Pilkada nanti bisa memanfaatkan potensi ini.

Berikutnya, saya koq makin pengen mengunjungi Papua dan Lombok yang konon alamnya masih sangat perawan. Tapi di atas segalanya saya pengen kembali ke Jogja, kota yang selalu saya rindukan…entah kapan…

Bantimurung-Kingdom of Butterfly

pemandangan air terjun Bantimurung


Momen libur panjang selama 4 hari kemarin merupakan momen yang kami tunggu-tunggu. Sudah cukup lama kami merencanakan untuk melancong ke luar kota. Kali ini tujuan kami adalah Bantimurung. Obyek wisata air terjun yang tepatnya berada di kabupaten Maros,berjarak kira-kira 45 KM sebelah utara kota Makassar.


Hari kamis pagi (17 mei) berangkatlah kami bertiga dengan
menunggangi motor kesayangan. Perjalanan ke sana ternyata cukup melelahkan bagi putri kecil kami. Sepanjang perjalanan dia yang biasanya cerewet dan ngoceh kali ini lebih banyak diam, maklumlah ini perjalanan panjangnya yang pertama pake motor. Gawatnya lagi setiba di kota Maros,kira-kira kurang dari 15 KM dari tujuan dia nggak bisa nahan lagi dan…muntah !!. lumayan bikin panik dan iba, setelah mampir sebentar di masjid buat membersihkan bekas muntahan Nadaa perjalanan kami lanjutkan lagi, kali ini si kecil udah riang kembali, mengoceh dan mengomentari apa yang dilihatnya sepanjang perjalanan,mungkin karena “beban”nya udah lepas..


Bantimurung sendiri kalo menurutku sudah banyak perubahan, makin cantik,bersih dan teraw
at. Berbagai fasilitas umum seperti WC dan tempat istirahat yang ditutupi payung fiber didirikan dan kelihatan cukup terawat. Jalan utama dalam lokasi air terjun yang ditutupi paving block terlihat cukup rapih, sampah-sampah tidak terlihat bertebaran. Suatu kenyataan yang terus terang cukup melegakan buatku. Salah satu sebabnya selain karena (mungkin) kesadaran pengunjung yang cukup besar terhadap kebersihan juga karena di sana-sini pihak pengelola banyak menempatkan tempat sampah berukuran cukup besar.


Udara di sekitar lokasi wisata juga masih terasa sejuk. Terakhir kali berkunjung ke sana
sekitar 8 tahun lalu, aku udah agak-agak lupa apa udara sejuknya masih sama dengan waktu itu atau ada perubahan. Tapi yang jelas, sekarang ini aku agak kesulitan menemukan kupu-kupu yang beterbangan dengan bebas.


Dahulu Bantimurung oleh orang Belanda yang menemukannya dikasih julukan “Kingdom of Butterf
ly”tentu saja karena dulunya Bantimurung adalah surga bagi ratusan spesies kupu-kupu bahkan dari spesies langka sekalipun. Sayangnya menurut laporan terakhir, spesies kupu-kupu di Bantimurung berkurang secara signifikan setiap tahunnya. Penyebabnya bermacam-macam, selain karena perburuan liar yang dilakukan warga sekitar demi memuaskan mata pengunjung dan menangguk rupiah dari setiap ekor kupu-kupu yang mereka awetkan, juga tentu saja karena terjadinya perubahan ekosistem pada habitat asli kupu-kupu itu. Tingkat pencemaran udara yang terus meningkat tentu saja ikut berpengaruh pada menurunnya jumlah kupu-kupu di Bantimurung, karena seperti yang kita ketahui kupu-kupu adalah binatang yang sangat peka terhadap perubahan udara.


Aku agak miris juga melihat
begitu bebasnya warga sekitar menangkapi kupu-kupu yang cantik itu, membunuhnya kemudian mengawetkannya dan memamerkannya dalam bentuk gantungan kunci ataupun hiasan dinding dengan harga berkisar Rp.5000-Rp.25.000. Beruntung bahwa pemerintah daerah sudah berupaya menahan laju jatuhnya angka jumlah spesies kupu-kupu akibat perburuan liar dengan melakukan pembatasan atas perburuan kupu-kupu. Selain itu pemda setempat secara persuasif juga menyadarkan masyarakat untuk sedapat mungkin memiliki penangkaran kupu-kupu sendiri, sehingga diharapkan jumlah kupu-kupu akan bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.


Air terjunnya sendiri yang merupakan objek wisata utama dari Bantimurung sepertinya tidak banyak berubah, hanya saja hari itu arusnya cukup deras dan warna airnya yang agak kecokelatan, mungkin karena hujan yang turun di hulu sungai. Pohon-pohon hijau yang tumbuh di sekitar air terjun yang ditingkahi oleh batu-batu sungai masih tetap alami seperti dulu, kalaupun ada tambahan itu adalah arena berenang yang diperuntukkan bagi anak-anak, ya agak-agak mirip Waterboom Park tapi dengan skala yang jauh lebih kecil. Konon renovasi dan perbaikan areal wisata ini dulunya dibikin menyusul rencana peninjauan oleh presiden SBY setahun atau dua tahun lalu ya..lupa, dan kalau nggak salah waktu itu SBY juga akhirnya batal berkunjung, Yang untung ya para wisatawan, bisa menikmati fasilitas yang lebih bagus dan memadai untuk sebuah kawasan wisata. Hmm..kayaknya pak SBY musti sering-sering menjadwalkan rencana mengujungi tempat wisata, karena terbukti langkah-langkah seperti ini efektif juga buat nakut-nakutin pengelola tempat wisata biar lokasi wisata terus diperbaiki dan dibenahi..hehehe..


Secara umum jalan-jalan kami kali ini cukup menyenangkan, walaupun sempat kepikiran kalau si kecil nggak akan menikmati karena perjalanan yang lumayan jauh ditambah dengan mabok daratnya, tapi syukurlah karena ternyata setelah insiden muntah itu si kecil ahirnya bisa menikmati. Bahkan dia nggak bosan-bosannya bermain di air sungai yang dingin, soalnya baru kali ini dia liat sungai lengkap dengan aior terjun pula, katanya sih kayak di DORA..kalau nggak ingat sama flunya yang belum sembuh betul mungkin kami akan membiarkan dia bermain air lebih lama.


Lewat jam 1 siang kami meninggalkan Bantimurung, yah terbersit harapan mudah-mudahan kondisi tempat wisata yang cukup nyaman itu bisa bertahan lama, dan khususnya buat kupu-kupu yang cantik itu, semoga mereka bisa kembali merasakan makna kata-kata Kingdom of Butterfly, betul-betul merasa seperti berada dalam satu kerajaan di mana merekalah yang menjadi raja dan kita-kita manusia ini yang jadi prajurit penjaga kerajaannya..semoga..