
Tanggal 20 Oktober 2009 adalah tanggal yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh sosok Jusuf Kalla atau yang akrab kita kenal dengan JK. Di tanggal itu, beliau akan mencapai titik terakhir pengabdiannya sebagai wakil presiden yang sudah diembannya selama 5 tahun. Saya jadi tertarik untuk menulis kesan-kesan pribadi saya tentang beliau, sekedar catatan tidak penting saja, anggaplah sebagai sebuah catatan dari seorang warga negara yang mencatat tentang seorang pemimpinnya.
Secara langsung saya sudah berkali-kali ketemu dengan beliau. Saya sudah lupa tepatnya berapa kali, yang jelas pertemuan pertama itu terjadi kira-kira waktu saya masih SMP. Waktu itu seperti biasa beliau menggelar acara halal bihalal di rumah pribadinya dan bapak serta keluarga saya jadi salah satu undangan. Pertama ketemu beliau ya rasanya deg-degan juga, maklum beliau kan boss besarnya bapak dan pastinya salah satu orang paling terkenal dan berpengaruh di Sulawesi Selatan. Beliau memang belum duduk di pemerintahan waktu itu, tapi nama besar keluarga Kalla sudah terlanjur kondang di propinsi ini.
Pertemuan-pertemuan berikutnya tak usahlah saya ceritakan, tak ada yang istimewa apalagi buat beliau. Semua pertemuan terjadi karena tidak sengaja, saya pas lagi di proyek ketika beliau berkunjug atau saya pas lagi di kantor ketika beliau juga datang, jadi tidak ada pertemuan karena saya yang menghadap beliau apalagi karena saya yang diundang beliau untuk menghadap. Sebagai karyawan kasta sudra di salah satu (di antara sekian banyak) anak perusahaan punya beliau kesempatan seperti itu adalah hil yang mustahal. One in a million lah pokoknya.
Nah, setelah lama mengabdi di salah satu perusahaan milik beliau plus beberapa kali pertemuan dengan beliau (meski tidak sengaja dan tidak secara prifat), apa pendapat saya tentang beliau ? Hmmm..sumpah, agak sulit rasanya untuk memberi penilaian yang objektif berhubung karena “kedekatan” secara pribadi itu, jadi mungkin penilaian saya di bawah ini akan sedikit subjektif mengingat faktor-faktor di atas.
Sebagai pribadi saya merasa kalau JK adalah orang yang spontan. Dia selalu berbuat dan berucap apa adanya, pokoknya apa yang ada dalam pikirannya itu yang dikeluarkannya saat itu juga. Saya kira banyak orang yang setuju dengan penilaian saya ini. Para wartawanpun mengaku senang kalau mewawancarai beliau, selain karena polos dan blak-blakan ucapannya sangat quotable, tak perlu ditambah atau dikurangi sudah cukup untuk menarik pembaca.
JK juga adalah orang yang santai dan tidak menyenangi sesuatu yang bersifat kaku dan penuh dengan aturan protokoler. Saat masih menjadi Menko Kesra dan proyek Masjid Raya Makassar sedang berlangsung, beberapa kali beliau berhasil melepaskan diri dari pengawal dan aturan protokoler untuk melihat langsung pembangunan masjid yang dirintisnya itu. Bayangkan bagaimana kagetnya kami waktu itu di proyek. Sedang santai-santai selepas istirahat makansiang tiba-tiba seorang pekerja dengan tergopoh-gopoh datang mengabarkan kalau pak Jusuf Kalla datang berkunjung. Beberapa orang awalnya tidak percaya, masak seorang menteri datang berkunjung tanpa pengawalan dan protokoler sebagaimana lazimnya, tapi yah itulah beliau yang tidak suka hal-hal yang kaku dan serba diatur seperti itu. Saya masih ingat salah satu ucapan beliau saat sudah jadi wapres, beliau bilang “ Saya sekarang malas pulang kampung, soalnya kalau saya pulang banyak orang yang jadi susah”..
Nah, penilaian saya berikutnya tentang beliau adalah bahwa pak JK nih orangnya visoner. Ini dari cerita dan kenyataan yang saya lihat, terutama yang menyangkut tentang kantor dan proyek yang pernah atau sedang saya ikuti.











