Category Archives: Sekitarku

Khayalan tingkat tinggi


Saya orang yang senang mengkhayal, senang berfantasi dan berandai-andai. Itu kebiasaan sedari kecil yang kemudian terus terbawa hingga sekarang. Dulu, waktu saya kecil (dan kadang-kadang sekarang juga masih) saya suka menciptakan tokoh sendiri dalam kepala saya. Entah tokoh berupa super hero, pahlawan jaman kerajaan, seorang pemain bola atau bahkan seorang biasa yang tak punya kelebihan. Semua tokoh khayalan saya itu selalu saya lengkapi dengan elemen-elemen pendukung seperti usia (termasuk tanggal, bulan dan tahun kelahiran), lokasi kejadian, berat badan, postur hingga wajah sang tokoh. Seandainya saja saya lebih rajin dan lebih pandai merangkai kata mungkin sedari dulu saya sudah bisa membuat sebuah novel. Sayangnya khayalan saya itu hanya mengendap dalam batok kepala sebelum kemudian menghilang begitu saja.

 

Nah, sekarang ini saya punya beberapa khayalan yang kemudian saya sebut sebagai khayalan tingkat tinggi-meniru salah satu judul lagunya Peter Pan. Kebetulan aroma pilkada masih terasa di Makassar, maka khayalan tingkat tinggi saya kemudian menjadi ikut-ikutan beraroma pilkada.

 

Apa gerangan khayalan saya itu ?, mari kita lihat.

 

Khayalan yang pertama adalah, saya membayangkan diri sebagai salah seorang yang berkuasa di negeri ini, khususnya dalam menentukan sebuah aturan dalam pesta demokrasi. Entah pesta demokrasi yang memilih calon eksekutif maupun calon legislatif. Nah, karena kekuasaan saya tersebut maka saya kemudian menelurkan sebuah aturan berkaitan dengan kampanye pesta demokrasi tersebut.

 

Aturan yang saya terapkan adalah, setiap kontestan pemilihan umum harus membuat daftar besaran dana kampanye yang mereka persiapkan. Laporan tentang besaran dana kampanye tersebut harus mendapat persetujuan dari sebuah akuntan publik atau auditor yang independen. Nah, dari besaran angka dana kampanye tersebut para kontestan diharuskan membuat alokasi dana minimal 10% dari dana kampanyenya untuk disalurkan ke sekolah-sekolah, khususnya sekolah yang kondisinya memprihatinkan.

 

Coba anda bayangkan bila seorang kontestan punya dana kampanye Rp. 500 juta. 10 % dari Rp. 500 juta berarti sama dengan Rp. 50 juta. Kalau jumlah segitu disumbangkan untuk misalnya perbaikan atap sekolah atau pengadaan buku literatur, perbaikan lapangan olahraga atau pengadaan fasilitas pendukung lainnya, maka jumlah sekolah yang tak layak saya kira bakal menurun drastis. Daripada uang Rp. 50 juta tersebut hanya habis buat bikin poster, baliho, stiker, kaos atau bendera yang nantinya setelah pemilihan hanya akan meninggalkan sampah saja, kan lebih baik bila uangnya disalurkan ke jalan yang lebih benar. Toh, ini juga bisa menjadi ajang kampanye yang sangat efektif dan menguntungkan kedua belah pihak.

 

Mungkin selama ini sudah banyak kontestan sebuah pemilihan umum yang mengalokasikan sebagian dananya ke bidang sosial, tapi saya yakin kalau sebagian besar pengalokasian tersebut masih bernuansa riya’ dan penuh hitungan untung rugi. Kalau cara ini kemudian diatur dalam sebuah undang-undang, saya kira efeknya akan lebih terasa bukan ?, persoalan apakah mereka terpaksa atau tidak itu urusan belakangan, yang penting banyak pihak yang diuntungkan dengan aturan ini.

 

Get the whole story »

Indonesia;potret negeri yang kian rusuh


454767-07472203042008bbentrok3.jpg

Seorang pria nampak tertelungkup dengan pasrah di atas paving blok kawasan Monas. Di sekitarnya, belasan bahkan mungkin puluhan lelaki berpakaian putih-putih dengan sedikit warna hijau bergantian menghujaninya dengan berbagai pukulan. Ada yang memukul dengan tangan kosong, ada yang menggunakan tongkat kayu, dan ada juga yang “hanya” menyarangkan tendangan ke tubuh lelaki yang nampak tak berdaya itu. Beberapa orang dari rombongan berseragam putih-putih itu memang ada juga yang nampak berusaha menahan emosi rekan-rekannya. Namun, mereka tak mampu membendung nafsu amarah yang semakin menguasai itu.

 

Kejadian di atas telah berkali-kali ditayangkan di TV. Tayangan saat terjadi bentrokan antara massa Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berpendapat (AKKBB).

 

Entah sudah berapa kali kerusuhan seperti ini melanda negeri kita Indonesia. Konflik-konflik horisontal nyaris menjadi bagian sehari-hari dari berita di semua media dalam negeri. Ujung dari konflik itu biasanya gampang ditebak, kerusuhan yang berbau anarkis yang biasanya menyebabkan tumpahnya darah dan bahkan jatuhnya korban jiwa.

 

Dulu, saat masih kecil kita mungkin sering mendengar istilah bahwa negeri kita Indonesia ini adalah negeri dengan orang-orangnya yang berbudi pekerti halus, punya tenggang rasa yang tinggi dan sangat anti kekerasan. Sayangnya, hari ini kita sudah hampir lupa dengan istilah itu. Hampir-hampir tak ada lagi kesan manis penuh madu seperti yang dulu sering kita dengar itu.

 

Sekarang Indonesia adalah negeri di mana di dalamnya banyak orang yang sangat gampang tersulut emosinya, sangat mudah terprovokasi dan akhirnya sangat tidak menghargai arti sebuah kehidupan.

 

Lihatlah, beragam aksi anarkis biasanya menjadi ujung dari sebuah keputusan, entah yang bersifat politis atau bukan. Unjuk rasa anti kenaikan BBM, berujung dengan bentrok antara polisi dengan mahasiswa, dua pihak yang sebenarnya adalah korban dari himpitan ekonomi akibat kebijakan tak populer tersebut.

 

Di belahan Indoensia yang lain, dua kubu pendukung dua calon pemimpin daerah saling bertukar pukulan dan lemparan. Di jalanan, para warga yang mungkin bisa jadi hanyalah boneka dari para calon pemimpin itu saling bentrok dan lupa sama sekali kalau sesungguhnya mereka adalah bersaudara. Bayangkan berapa banyak waktu dan energi yang hilang hanya untuk menyiksa dan disiksa saudara sendiri. Kalau seperti ini, kapan ada waktu untuk mulai bekerja dan membangun daerah ?.

 

Sementara itu, sepakbola yang seharusnya menjadi olahraga yang dijalankan dan ditonton oleh orang-orang yang penuh sikap sportif dan saling menghargai seringkali juga berakhir dengan aksi anarkis dan saling serang.

 

Get the whole story »

Es MOSI..!!!

Malam senin kemarin saya lepas kontrol. Di bulan Ramadhan yang seharusnya jadi bulan temapt belajar menahan amarah dan emosi ini, saya malah kelepasan dan meluapkan emosi.

Ceritanya begini, di depan rumah kami tinggal pasangan muda yang usianya kira-kira cuma beda setahun dua tahun dengan saya, udah menikah setahun tapi belum punya anak. Dalam soal senioritas tinggal di daerah kami, saya memang lebih senior kira-kira setahun, cuman dalam segi pergaulan mereka memang lebih gaul.
Rumah mereka bahkan jadi tempat ngumpul ibu-ibu, bapak-bapak dan anak muda. Soalnya di halaman depan rumah mereka ada balai-balai yang sengaja dibuat untuk mengakomodir hobi kumpul-kumpul sebagian warga.

Saya jarang kumpul di situ, walaupun letaknya persis di depan rumah. Bukan apa-apa, malam hari jadi satu-satunya waktu yang tepat untuk menjalin kebersamaan dengan istri dan anak mengingat kami berdua sama-sama kerja. Selain itu, perkumpulan orang-orang di depan rumah saya memang nggak gitu nyambung topik pembicaraannya dengan saya.
Topiknya cemen, kalau gak bisa dibilang gak bermanfaat. Mending kalau mereka ngumpul sambil membahas berita-berita aktual seputar politik, ekonomi atau sport sekalipun, topik mereka sama sekali nggak jelas. Makanya saya kadang cuma sekedar say hello aja, biar gak dibilang sombong. Mending ngumpul dan diskusi sama teman-teman di dunia maya.

Nah, selama ramadhan perkumpulan itu mulai bergeser ke arah perkumpulan anak-anak muda yang kemudian sering nyanyi rame-rame pakai gitar. Kadang-kadang mereka berkumpul sampai jauh malam, bahkan lewat tengah malam. Sebelum malam senin kemarin sih semuanya oke-oke saja, sebelum jam satu kayaknya sudah pada bubar.
Malam senin kemarin, mereka sudah mulai kelewatan–menurut saya–ngumpul-ngumpul sambil nyanyi dan diiringi gitar plus galon minuman mineral yang disulap jadi drum.
Jam 11 saya masih sabar. Lagian saya juga masih asyik nonton bola di tipi. Jam 12 mereka masih asyik, malah kayaknya tambah rame. Jam 1 malam masih semangat juga. Sementara istri saya mulai terganggu.

Istri saya kebetulan tipe orang yang susah tidur. Dalam keadaan sunyi senyap bin gelap gulita saja dia nggak otomatis langsung bisa tidur, apalagi kalau memang suasananya ribut. Saya yang masih asyik di depan tipi mulai terganggu.
Jam 2 malam, atau kira-kira sejam sebelum waktu sahur tiba, anak saya terbangun. Suara ribut-ribut dari depan rupanya bikin tidurnya tidak nyenyak. Ini masalah baru, karena si kecil juga bukan tipe anak yang gampang tidur. Wah, sialan nih pikir saya..mana besok hari senin lagi, sudah jam 2 tapi belum bisa tidur nyenyak.


Emosi saya perlahan-lahan mulai naik. Dari satu strip trus beranjak ke dua strip, tiga strip dan akhirnya mencapai puncaknya ketika istri saya juga ternyata makin jengkel dan mulai triak komplen dari dalam kamar.

Okey, that’s enough…saya gak tahan lagi. Keluar ke teras dan dengan suara tinggi saya treak, “ boss…tolong jangan terlalu ribut bos..!!. ada orang mau tidur nih, besok hari senin, mau kerja….”. sampai di sini mereka rupanya merasa, saya sempat mendengar ada yang ngomong minta maaf. Karena emosi yang sudah terlanjur naik, saya pun melanjutkan, “ ini perumahan boss, bukan tempat pelacuran…!!!”. entah ide darimana, yang ada di pikiran saya hanyalah bahwa satu-satunya tempat di mana orang bebas bernyanyi-nyanyi seribut-ributnya sampai subuh sekalipun adalah di kompleks pelacuran….

Sehabis ngomong begitu, saya langsung masuk kembali ke rumah…entah apa reaksi mereka, yang jelas suara ribut-ribut itupun berhenti.
Saat tenang kembali saya baru sadar, mungkin kata-kata saya udah kasar banget. Tapi ya mo gimana lagi, mereka juga sih yang mulai. Saya jengkelnya karena mereka seakan-akan nggak mau peduli sama orang-orang sekitar, seakan-akan mereka tinggalnya di hutan.

Mereka sih asyik, seabis makan sahur bisa tidur sampe tengah hari dan gak perlu bangun pagi-pagi untuk ke kantor. Tentangga depan rumah saya kebetulan wiraswasta alias buka warung di rumah, jadi terserah mereka mau mulai beraktifitas jam berapa.
Sampai tadi malam, kayaknya mereka cuek aja saat saya pulang kantor dan lewat depan kumpulan mereka, padahal biasanya setidak-tidaknya ada senyum yang tersungging setiap kali melihat saya lewat. Saya juga masih malas untuk mulai tersenyum, toh bukan salah saya kalau saya sampai emosi, merekalah pemicunya….

Tapi yah, itulah….kadang-kadang memang ada orang-orang yang tak paham artinya hidup bertetangga, hidup berdampingan dengan orang lain yang punya kebutuhan dan sifat yang bermacam-macam.

Saya sih sebenarnya nggak suka musuh-musuhan sama orang lain, apalagi sama tetangga sendiri, tapi kan bukan saya yang mau…saya sih berharap kejadian ini bisa jadi pelajaran buat mereka biar lebih bisa mengerti arti toleransi…
Ah, entahlah….

Oya, OOT nih..
Mumpung ingat, saya mau mengajak para pembaca sekalian untuk sama-sama menyisakan sedikit waktu kita untuk bersama-sama memanjatkan doa kepada sahabat-sahabat kita di Myanmar yang sedang berjuang memperoleh kekebasan, keadilan dan kedamaian.
Tak peduli kita beda negara,beda ras, beda bahasa, dan beda agama sekalipun. Kita tetap sama dengan mereka, sama-sama umat manusia ciptaan Tuhan yang mendambakan kebebasan, keadilan dan kedamaian. Jauh dari jajahan siapapun..

Kita doakan semoga mereka tetap kuat untuk bersama-sama melawan Junta Militer yang norak itu. Semoga tak perlu lagi ada korban jiwa, untuk alasan apapun…karena nyawa bukan hak manusia untuk mencabutnya…

Salam,
Yang lebih suka perdamaian..

Sepakbola dan Daster…

Apa hubungan antara sepakbola dan daster ?. secara kasat mata sih gak ada, soalnya saya sendiri belum pernah melihat pemain-pemain sepakbola profesional bermain di lapangan hijau menggunakan seragam daster. Walaupun mungkin saja banyak ibu-ibu yang menemani suaminya atau gadis-gadis yang nonton bola menggunakan daster.

Tapi hari minggu kemarin (12/8) saya jadi tahu kalau ternyata sepakbola dan daster bisa bersinergi jadi satu tontonan yang lucu dan mengasyikkan. Sabtu sorenya saya dapat telpon dari Ibu, beliau meminta saya mewakili bapak membela Blok B4 dalam laga sepakbola berdaster dalam rangka HUT RI. Memang Bapak sedang tidak sehat dan atas anjuran dokter juga tidak boleh berolahraga yang banyak dulu. Okelah pikir saya, mumpung sedang santai dan tidak ada jadwal kegiatan apa-apa. Lagipula saya sudah lupa kapan terakhir kali ikut berpartisipasi dalam acara-acara kayak begini.

Minggu pagi, jam 7 saya sudah siap di lapangan. Beberapa orang bapak-bapak juga nampaknya sudah siap dengan daster yang mungkin punya istrinya. Hampir setengah jam menunggu sebelum akhirnya pertandingan pertama digelar, dengan sedikit ragu dan malu sayapun meleburkan diri lengkap dengan daster tua punya ibu. Kenapa punya Ibu ?, soalnya istri saya emang gak punya daster yang agak tuaan, sayang kalo pake daster baru, takutnya nanti sobek.

Jangan harap anda akan menyaksikan pertandingan sepakbola yang seru, menegangkan dan penuh speed and power seperti yang layaknya kita lihat di layar kaca. Yang ada hanyalah pertandingan penuh gelak tawa. Awalnya coba anda bayangkan bagaimana tampang bapak-bapak berbadan besar, berkulit gelap dengan betis penuh bulu memakai daster yang sebagian besar didominasi motif kembang-kembang. Bayangkan juga bagaimana sebagian besar bapak-bapak itu mengangkat ujung dasternya sambil berlari agak tak terganggu, atau bagaimana bapak-bapak itu terguling-guling karena tak sanggup lagi menahan bobot badannya plus kehabisan nafas saat mengejar bola.

Lupakan soal peraturan dasar sepakbola. Semuanya bisa diatur di lapangan. Walhasil, ada pertandingan yang menggunakan sistim corner kick, tapi di pertandingan lain sistim itu tidak dipakai. Apapun itu, maksud utama dari pertandingan ini untuk memeriahkan hari kemerdekaan negeri kita sepertinya telah terpenuhi. Gelak tawa para penonton dan pemain seperti membuat mereka-mereka lupa betapa banyak bencana yang menimpa bangsa kita.

Sore harinya saya pulang dengan kemenangan setelah 3 kali bertanding tidak pernah kalah dan menang terus, bahkan hanya kemasukan 1 gol dengan memasukkan 6. bonus lainnya, betis, paha, pinggul sampai bahu semuanya pegal…buat jongkok saja susah. Maklumlah, sudah setahun lebih sejak terakhir kali saya turun ke lapangan hijau…..

Ahhh….pegel bow….nyari tukang pijit dulu ahhh…..

oh ya, ini sedikit foto-foto hasil pertandingan kemarin….



foto 1: berpose dulu sebelum bertanding

foto 2: pemain import dari Jepang..


foto 3: walaupun benturan tetap terjadi, namun canda tawa adalah yang utama..


foto 4: the smallest goalkeeper ever..


foto 5: paolo ipuldini, tembok kokoh di pertahanan blok B4


foto 6; pak Haji tak segan berjibaku menyelamatkan gawangnya, tak peduli daster sang istri sobek..

cerita lengkap di balik pertandingan ini bisa dibaca di sini

KEAJAIBAN DI TELEVISI KITA


salah satu adegan sinetron si Entong di TPI


Biasanya rutinitas saya setiap malam jika telah lewat jam 8 dan sedang tidak ada pekerjaan adalah menonton siaran Metro TV, satu-satunya televisi yang menurut saya punya mata acara yang “masuk akal”. Sayang sekali minggu lalu entah kenapa siaran Metro TV menghilang dari TV saya, mungkin karena masalah antena, soalnya selama inipun siaran Metro TV tidak pernah jernih saya terima. Karena kebetulan juga saya sedang tidak kerjaan, maka iseng-iseng saya mencoba menyetel stasiun TV yang lain.

Pilihan pertama saya jatuh ke TPI, stasiun televisi yang dulu mengklaim dirinya sebagai satu-satunya televisi pendidikan di Indonesia. Sebelumnya saya sudah pernah dengar tentang popularitas sinetron Entong yang sedang naik daun saat ini, terbukti dengan makin seringnya orang di sekitar saya menggunakan idiom “ sungguh terlalu” dan “prett”. Maka, malam itu saya coba menonton si Entong untuk mencari tahu, apa sih yang menarik dari sinetron ini.

Saya agak lupa cerita si Entong malam itu, saya hanya ingat kalau tokoh si Entong menyelamatkan kampungnya dari serangan ular besar yang dengan semburan api di mulutnya mampu menebar rasa gatal ke orang-orang kampung. Baru beberapa menit menonton saya sudah bosan, tak ada yang menarik sama sekali. Cerita yang dangkal, dengan beberapa orang pemeran yang berakting konyol dengan dialog-dialog konyol yang sepertinya dibikin untuk membuat orang tertawa. Remote saya sodorkan agak ke depan sambil menekan tombol yang lain. SCTV adalah stasiun berikutnya, sepertinya sinetron tentang anak-anak lagi. Saya tidak tahu judulnya, yang saya lihat ada seorang anak perempuan bermana Neng yang punya sarung ajaib. Sarung ajaib berwarna pink terang ini bisa membuatnya tidak kelihatan bila dipakai menutupi tubuhnya. Hmm….sekali lagi saya langsung bosan. Cerita dangkal yang lain. Mengumbar keajaiban dan mimpi-mimpi ke anak kecil.

Tak sampai lima menit, remote kembali saya tekan. Trans TV tujuan berikutnya. Adegan seorang anak muda berparas tampan dengan pakaian sederhana sedang bercakap-cakap dengan sorang bapak tua berpakaian compang-camping. Dialog berikutnya segera membuat saya sadar kalau ini sinetron dengan tema sama, menjual keajaiban dan mimpi. Bagaimana tidak, si bapak tua menyerahkan sebuah bungkusan kecil yang diakuinya sebagai buncis ajaib yang kelak akan sangat berguna bagi si pemuda. Sepertinya si pemuda baru saja menolong si bapak. Sebuah kisah yang klise.

Ah, nampaknya ada trend baru di TV kita. Dahulu ada trend hantu-hantu gentayangan di TV, mulai dari acara reality show yang mempersembahkan usaha manusia memunculkan bahkan menangkap hantu, sampai sinetron dengan tema hantu. Bahkan seingat saya sinetron yang awalnya bergenre drama pun tiba-tiba memunculkan hantu demi mengikuti trend ini. Setelah tren ini lewat, berikutnya ada tren sinetron bernafas islami. Pelopornya TPI dengan Rahasia Illahi, kemudian yang lain tidak mau ketinggalan. Maka muncullah Hidayah, Kuasa Illahi, Maha Kasih, dan lain-lain yang katanya bernafas Islami tapi lebih sering salah kaprah dan justru melenceng dari nafas Islaminya. Tuhan digambarkan sebagai Dzat yang kejam, bermacam-macam azab Dia turunkan kepada ummat-Nya yang melanggar. Parahnya lagi, ada beberapa sinetron yang menceritakan bagaimana seorang anak manusia yang jahat luar biasa sepanjang hidupnya, mendapat azab dan kemudian bertobat dan mengucap kalimat tauhid beberapa detik sebelum menghembuskan nafas. Enak bangeettt…dan seperti saat tren hantu merebak, tren sintetron azab inipun kemudian membuat beberapa sinetron bergenre drama tiba-tiba banting setir. Si Yoyo misalnya, cerita lengkapnya mungkin anda sudah tahu.

Setelah tren-tren itu berlalu, saya tidak tahu kisah macam apalagi yang jadi tren. Saya sudah betul-betul kehilangan rasa terhibur menonton tayangan sebagian besar TV-TV kita. Tapi saya sempat merasakan booming-nya sinetron Intan yang bahkan bisa membuat bapak-bapak di kantor saya membicarakannya dengan semangat. Berikutnya saya hanya mengintip sekilas perkembangan sinetron dan mendapati beberapa sinetron mulai menggunakan tokoh anak-anak untuk cerita percintaan mereka yang memuakkan itu. Ekploitasi terhadap anak pikir saya, dan ujung-ujungnya pasti dekadensi moral. Mau jadi apa anak-anak kita bila setiap hari TV mengkampanyekan tentang legalitas pacaran di usia muda, bahkan saat mereka masih berpakain putih merah.

Kalau tidak salah menganalisa, maka saya kira saat ini tema yang lagi tren adalah tema “ajaib-ajaib”. Saya sempat mendapati beberapa iklan sinetron dengan tema tersebut, termasuk si Entong itu. Di RCTI saya lihat ada iklan sinetron “si Eneng dan kaos kaki ajaib”, di TPI selain si Entong itu ada beberapa sinetron lain yang temanya sama. Trans TV sama saja, cuma dibikin agak beda karena dikasih label “dongeng”. Entah dengan stasiun TV lain.

Mereka dengan teganya menjual mimpi ke anak-anak kita. Menanamkan pikiran untuk tidak usah belajar atau bekerja keras. Toh dengan berbuat baik saja kita bakal dapat benda-benda ajaib yang bisa mengabulkan semua keinginan kita. Dangkal sekali bukan, dan sayangnya lagi kampanye seperti ini dimeriahkan oleh salah TV yang menyebut diri TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA…mungkin mereka memang berniat mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang hanya suka bermimpi, bertumpu pada benda-benda ajaib dan tidak mau bekerja keras.

Akhirnya bila sedang sendirian, bengong dan tak punya piihan lain, saya jadi suka memindah-mindahkan channel TV. Mencari sinetron-sinetron yang ternyata mampu membuat saya tertawa. Saya menertawai diri sendiri, menertawai kita semua yang masih juga mau meluangkan waktu dan larut dalam sinetron kacangan tak mendidik itu. Dari segi cerita dangkalnya sudah kelihatan, dari segi skenario apalagi. Akting amburadul, tata artistik hancur-hancuran. Anda bisa bayangkan, mana ada orang kampung yang sempat merias wajahnya hingga kinclong menyerupai Krisdayanti, lengkap dengan bulu mata palsu pula. Belum lagi bajunya, tiap hari baju baru. Setahu saya yang lama jadi orang kampung, boro-boro berhias atau memakai baju baru setiap hari, makan saja syusyah..!!, eh tapi bisa jadi karena sekarang negeri kita makin makmur makanya orang kampungnya sudah berubah ya..?, nggak seperti dulu lagi saat saya masih jadi orang kampung.

Ah…saya koq tiba-tiba rindu sinetron “RUMAH MASA DEPAN” ya..?