Jul
08

Jarum jam bergeser sekitar 15 menit dari jam 7 malam. Saya bersama supervisi freelance dan manager pemasaran sedang berada di ruang meeting. Pertemuan dengan freelance baru saja selesai beberapa menit yang lalu, di atas meja meeting masih ada beberapa biji kroket dan jalangkote sisa konsumsi meeting. Seorang lelaki muda bertubuh ceking berbungkus sweater marna oranye muda masuk.
” Masih ada yang bisa dimakan ? ” Dia bertanya ke saya.
” Oh, itu..ambil semuami “, Jawab saya sambil mempersilakannya mengambil sebiji kroket yang tersisa.
Dia bergeming, saya dan dua orang lainnya juga tidak terlalu memperhatikannya. Kami masih sibuk membahas persiapan pameran yang sebentar lagi akan digelar. Karena lelaki itu masih bergeming, iseng saya kumat. Kroket yang tinggal satu itu saya caplok sambil senyum-senyum. Saya lupa reaksinya seperti apa, yang saya ingat dia bergerak kea rah ibu Yeyen, manager pemasaran sambil minta ijin menghabiskan jalangkote dan kroket yang ada di depan ibu manager. Dengan sopan dia meminta ijin, dan ibu manager mengijinkan. Kami masih asyik berdiskusi ketika lelaki muda itu meninggalkan ruang meeting.
” Eh, itu di mejaku masih ada dua biji. Ambil semuami..” kata saya ketika dia sudah berada di pintu. Saya kembali sibuk dengan diskusi malam itu. Selanjutnya malam berjalan seperti yang kami rencanakan.
Lelaki ceking itu bernama Luthfi Al Hakim. Kami memanggilnya dengan nama Upiq seperti yang selalu dia ucapkan kala berkenalan. Umurnya belum genap 21 tahun, di kantor kami dia bertugas sebagai seorang tenaga surveyor. Saya mengenalnya sebagai anak muda yang cerdas, kreatif dan mudah bergaul. Tak heran bila di kantor kami dia dikenal akrab di segala divisi dan segala lapisan mulai dari para OB hingga para manager. Para ibu dan bapak di kantor kami juga mengenalnya sebagai anak yang periang dan hormat meski juga kadang kritis. Singkat kata, tak pernah ada cerita buruk yang diarahkan kepadanya.
Get the whole story »
Mar
04

Mall Ratu Indah, malam minggu jam 20.30 WITA. Pameran masih berlangsung, tapi saya tak bisa berlama-lama lagi. Saya harus menjemput Nadaa di rumah sepupunya sebelum malam kian larut. Setelah berpamit-pamitan pada rekan sejawat saya menuju ke parkiran, tepatnya di sebelah parkiran mall. Ya, saya memarkir motor di luar mall, bukan di parkiran resmi dalam mall. Tujuannya hanya supaya lebih hemat. Parkir dalam mall pasti akan kena charge maksimum karena waktunya yang di atas 3 jam, sementara kalau parkir di luaran (baca: parkir liar) Cuma bayar Rp. 1000,- tanpa batas waktu.
Dengan santainya saya berjalan ke arah parkiran sambil merogoh kantong celana mencari kunci motor yang biasanya ada di sana. Lama saya merogoh kantong kanan, pindah ke kantong kiri terus ke kantong belakang tapi si kunci tidak juga ketemu. Saya pindah merogoh kantong jaket, biasanya saya simpan di sana juga, tapi sama saja..nihil.
” Apa terjatuh di lemari ya..?” pikir saya, tadi jaket memang saya taruh di lemari di counter pameran kami, saya berharap kunci motor memang tercecer dalam lemari counter itu jadi berbaliklah saya kembali ke counter. Lemari counter saya obok-obok tapi kunci tidak ketemu, berarti memang jatuhnya bukan di sana. Saya berpikir keras, berusaha mengingat-ingat rute yang saya lewati sejak siang tadi. Ada kemungkinan kuncinya ikut jatuh waktu saya mengeluarkan uang dari kantong. Tapi rasanya koq tidak mungkin, kunci motorku ada gantungannya jadi kalaupun dia ikut keluar dan terjatuh waktu menarik uang pasti saya akan sadar.
Tiba-tiba sebuah pikiran melintas dikepala. Jangan-jangan kuncinya kelupaan di motor. Saya ingat selepas memarkir motor saya sempat membuka bagasi dan memasukkan sesuatu ke sana dan mungkin saja kuncinya memang kelupaan di bagian samping motor tempat membuka bagasi.
Get the whole story »
Feb
08
Salah satu film favorit saya sepanjang masa adalah “Pursuit of Happyness”, film ini sungguh menyentuh saya. Terus terang saya sampai meneteskan air mata saat menyaksikan film ini. Kisah tentang perjuangan Christopher Gardner yang berjuang seorang diri membesarkan sang anak adalah sebuah kisah perjuangan yang luar biasa. Hebatnya lagi karena film ini diangkat dari kisah nyata.
Perjuangan Chris Gardner ini kembali menginspirasi saya akhir-akhir ini. Minggu lalu sebuah kabar sempat mampir ke telinga saya, bagian HRD dan bapak direktur kabarnya geram melihat catatan prosentase ketepatan waktu saya yang sangat rendah. Dalam sebulan nilai keterlambatan saya mencapai angka 80%, jauh di atas sebagian besar teman-teman kantor. Sampai sekarang memang surat teguran belum terbit, dan kabar kegeraman tersebut saya dengar dari OB yang di kantor saya kadang berfungsi sebagai mata-mata yang bisa menyerap berbagai informasi tanpa terlihat atau terdeteksi.
Harus saya akui, saya memang bukan tipikal orang yang disiplin apalagi soal waktu. Rasanya sungguh sulit bagi saya untuk selalu patuh pada timeline yang sebenarnya sering saya buat sendiri. Semuanya kemudian jadi lebih rumit karena sekitar 8 bulan ini saya jadi orang tua tunggal sehingga aktifitas di pagi hari jadi lebih rumit.
Saya agak susah untuk bangun pagi. Alarm disetel jam 5 pagi meski kenyataannya saya lebih banyak terbangun untuk kemudian mematikan alarm. Walhasil saya baru bisa bangun yang betul-betul bangun sekitar setengah jam kemudian atau bahkan 45 menit kemudian. Acara kemudian akan diisi dengan acara cuci piring, menyiapkan sarapan dan bekal untuk Nadaa, kemudian membangunkan dia, membuatkan susu, mandi untuk diri sendiri sebelum kemudian memandikan Nadaa. Kadang-kadang diselingi dengan acara menyetrika pakaian untuk hari itu dan beberapa hari ke depan. Setelah semua selesai acara akan dilanjutkan dengan mengantar Nadaa ke sekolah yang arahnya berkebalikan dengan arah kantor. Sebenarnya kalau bisa lebih cepat keluar rumah saya masih sempat mengantar Nadaa ke rumah sepupunya yang kebetulan satu sekolah, sayangnya kadang sang sepupu sudah berangkat lebih dulu sebelum saya tiba.
Get the whole story »
Jan
15
..oh dear dad, can you see me now, I am my own like you somehow. I wait up in the dark, for you speak to me.. ( Release – Pearl Jam )
Hari jumat (15/1) genap sudah seminggu bapak di rumah sakit. Beliau punya masalah di jantung. Denyut jantungnya tak normal, bahkan sangat jauh di bawah normal. Akibatnya beliau jadi susah bernafas dan kadang terasa nyeri di dada. Sampai hari ini beliau masih di ruang ICU, belum boleh pindah ke kamar, kata dokter.
Entah kenapa malam ini saya jadi tergerak untuk menuliskan sesuatu tentang bapak, sesuatu yang seingatku belum pernah kutulis sejauh ini.
Terus terang selama ini saya memang kurang dekat dengan bapak. Hubungan kami hanya satu arah, murni hubungan antara bapak dan anak. Beliau memerintah, saya menjalankan. Tak ada sesi debat atau sharing. Bapak tipikal orang Makassar asli, beliau keras, cenderung bersumbu pendek dan gampang meledak, meski sekarang ini usia rupanya telah membuatnya sedikit lebih kalem. Setidaknya menurutku.
Sedari kecil saya selalu dididik dengan keras oleh beliau sehingga kemudian perlahan-lahan muncullah jarak di antara kami. Sifatnya yang keras selalu mampu membuat saya mengkerut, bahkan sebelum bicara sekalipun. Walhasil saya lebih sering menggunakan Ibu sebagai perantara di kala butuh sesuatu dari bapak. Bahkan setelah menikah dan punya anakpun saya masih tetap segan untuk bicara santai dan rileks dengan beliau. Sisa didikan keras sedari kecil rupanya tetap membekas di alam bawah sadarku.
Get the whole story »
Jan
12
Anda tahu pentil ? itu lho, benda kecil yang ada di ban yang fungsinya untuk menahan angin agar tidak keluar dari ban. Saya kira semua orang tahu, meski ada juga yang langsung mengkonotasikan kata pentil dengan sesuatu yang agak saru, tapi khusus untuk postingan ini saya hanya akan bicara tentang pentil di ban itu.
Kita mungkin sepakat kalau pentil ini adalah sebuah bagian yang paling jarang diperhatikan di sebuah kendaraan. Orang kalau bicara mobil pasti yang dibahas Cuma model, kapasitas mesin, tenaga kuda, audio, dan interior lainnya. Saya belum pernah lihat iklan mobil yang menggambarkan betapa hebatnya pentil di mobil tersebut, pentil benar-benar hanya sebuah benda yang nyaris terlupakan. Jika berada di sebuah motor nasibnya mungkin lebih mendingan karena ada juga beberapa orang yang menghiasi pentil mereka dengan penutup yang keren dan modis.
Nah, sekarang mari kita bayangkan seandainya kita punya mobil yang keren dengan model yang futuristik, mesin bertenaga banyak ekor kuda lengkap dengan audio yang membuat jantung berdegup kencang tapi pentilnya ternyata bermasalah. Tengsin kan ? yakin deh anda yang punya mobil pasti kesalnya luar biasa. Apa enaknya punya mobil keren tapi tidak bisa dipakai karena bannya kempes gara-gara pentilnya bermasalah atau malah hilang. Pada titik ini tiba-tiba kita merasa kalau pentil ternyata penting juga, bukan begitu ?
Sepuluh tahun lalu ada sebuah analogi luar biasa yang saya dapatkan dari seorang bapak di kantor saya. Ceritanya waktu itu ada seorang teman kantor yang mengundurkan diri. Teman itu seorang surveyor atau juru ukur. Sehari-harinya si Syahrir-nama teman itu-ibarat pentil dalam sebuah mobil. Dia kecil dan nyaris tidak diberi perhatian khusus, tidak seperti para manager, kabag atau engineer di kantor kami. Karena itu pengunduran dirinya dianggap biasa saja, toh hanya seorang surveyor ini, nyari gantinya gampang koq.
Get the whole story »