Category Archives: Ramadhan

Ramadhan Masa Kecilku

04-keceriaan_anak_bangsa_didik_f.jpg 

 Foto diambil dari:Sorowako.net

 

Ramadhan datang lagi. Bulan penuh ampunan dan penuh Rahmat itu kembali menyapa kita, dan setiap kali Ramadhan datang, setiap kali itu pula kenangan tentang Ramadhan di masa kecilku akan datang menyapa.

 

Sekitar 15-17 tahun yang lalu, saat masih tinggal di daerah Antang, Ramadhan selalu menjadi momen yang paling patut dikenang. Saat itu, bersama 4 orang teman terbaik, kami melewatkan Ramadhan dengan berbagai kegiatan khas anak kecil.

 

Kenangan akan mulai dirajut saat makan sahur telah usai. Biasanya beramai-ramai kami menyambangi masjid yang jaraknya sekitar 300 m dari rumah, sholat berjamaah dan berkumpul dengan teman-teman yang lain yang rumahnya lebih dekat ke masjid. Seusai sholat subuh, acara akan dilanjutkan dengan jalan-jalan subuh. Acaranya tidak cuma jalan-jalan tentu saja. Kami selalu membuat mainan dari sebuah busi tua, yang kepalanya dicabut terus di bagian belakangnya diberi tali rafia menyerupai rumbai-rumbai. Di bagian dalam busi yang kosong kami beri “amunisi” khusus yang diambil dari pentolan korek api. Amunisi itu kemudian ditutup kembali dengan kepala busi.

 

Nah, senjata yang sudah siap itu kemudian dilemparkan ke udara. Saat kepala busi yang menjadi proyektil itu menyentuh aspal atau lapisan keras lainnya, ledakan keras akan terdengar. Akibat dari ledakan itu, busi akan kembali mental ke udara. Bagian ledakan dan mental ke kembali ke udara itu yang selalu menjadi bagian yang paling mengasyikkan. Semakin keras suara ledakan yang dihasilkan dan semakin tinggi busi itu terpelanting ke udara makan semakin tinggi gengsi sang pemilik. Sayangnya sampai sekarang saya belum pernah tahu pasti apa nama mainan itu, dan sekarang nampaknya sudah semakin sedikit anak-anak yang memainkannya. Anak-anak sekarang sepertinya lebih akrab dengan petasan yang bisa dengan gampang dibeli di warung-warung.

 

Selepas acara jalan-jalan subuh, bila sekolah memang sedang libur, maka acara akan dilanjutkan dengan nongkrong di dangau tepi sawah punya seorang teman. Sambil membantu teman mengusir burung-burung di sawahnya, terkadang kami juga bermain kartu. Seringnya sih bermain kwartet yang kemudian di belakang hari mulai meningkat dengan bermain remi (kalau di sini namanya main joker).

 

Aktivitas itu akan berlangsung sampai waktu sholat dhuhur tiba sebelum akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing untuk tidur siang dan berkumpul lagi di sore hari.

 

Kenangan lain yang tak bisa hilang dari ingatan adalah kenangan saat kami bersama-sama meramaikan masjid di malam hari. Begitu sholat Isya kelar, kami anak-anak akan langsung berhamburan ke luar masjid. Jajan berbagai jajanan yang bertebaran di sekitar masjid sambil ngecengin cewek. Kalau lagi mood biasanya kami balik lagi ke masjid kala sholat tarawih mulai berjalan. Kalau tidak, ya kami tetap di luar masjid dan pulang barengan sama orang-orang yang pulang tarawih sambil berpura-pura habis tarawih juga. Di masa-masa itu juga saya mulai belajar merokok, tepatnya di kala sudah berbaju putih biru.

 

Puncak kegembiraan seperti halnya semua muslimin di seluruh dunia tentu saja adalah pada saat hari raya Idul Fitri. Dengan baju baru yang masih mengkilap, kami akan mulai keliling ke rumah kenalan atau tetangga, berharap dapat mencicipi kkue-kue dan minuman terbaik. Bila kebetulan dapat tuan rumah yang menyajikan soft drink sebangsa Coca-Cola, Sprite atau Fanta wuihh..rasanya selangit deh, sudah mewah banget.

 

Di hari kedua atau ketiga lebaran, bersama teman-teman yang lebih tua kami akan menuju bioskop beramai-ramai. Yang paling sering jadi tujuan biasanya bioskop Paramount atau Dewi, 2 bioskop kelas menengah di Makassar saat itu. Film-film favorit tentu saja adalah film-film punyanya Warkop DKI yang biasanya memang dirilis tepat di saat hari Idul Fitri. Ah, rasanya jadi senyum sendiri kalau mengingat kenangan itu.

 

Rangkaian kenangan-kenangan itu selalu datang setiap kali saya berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan. Momen-momen saat masih kanak-kanak, saat masih “jernih “ selalu menjadi momen yang menyenangkan untuk dikenang kembali. Saat ini saya memang sudah tidak bersama teman-teman itu lagi. Dua orang dari kami telah berkeluarga, seorang lagi belum berkeluarga, seorang entah ada di mana dan seorang lagi telah meninggal dunia. Ah, masa-masa yang menyenangkan untuk dikenang. I really miss that time. 

MUDIK YUK..!!! (Bagian pertama dari 3 cerita)

Mudik, mendengar kata ini pasti kita langsung mengaitkannya dengan Lebaran, suatu ritual yang sebenarnya bukan hanya milik kita orang Indonesia saja. Suatu ritual yang kadang harus dijalani dengan sangat susah payah hanya demi satu tujuan, berkumpul dengan keluarga di hari raya.

Tahun ini adalah kali kedua saya merasakan yang namanya mudik lebaran. Sebelum menikah saya memang tidak pernah merasakan denyut suatu ritual yang disebut mudik. Dulu, mudik bagi saya adalah mengunjungi rumah tempat nenek saya berdiam yang jaraknya hanya 7 km dari rumah, atau dapat ditempuh dengan kendaraan selama kurang lebih 15-20 menit. Nggak ada romantikanya bukan..?

Garis tangan kemudian memutuskan saya harus berjodoh dengan seorang gadis Jawa yang rela ikut saya ke Makassar. Artinya, saya kemudian punya alasan untuk mudik atau tepatnya pulang ke kampung halaman istri, nun jauh di pulau Jawa sana.

Dan tahun ini sama saja dengan mudik kami dua tahun lalu. Nyaris tanpa perhitungan yang matang. Dua tahun lalu, keputusan mudik kami approve 2 hari sebelum lebaran, yaitu saat tiba-tiba Sriwijaya Air berbaik hati menjual tiket Makassar-Jakarta hanya dengan harga Rp. 250.000,-. Siapa yang tidak tergoda dengan harga tiket semurah itu, di musim mudik lagi, hingga akhirnya kamipun berangkat, walaupun tak tahu nantinya akan menumpang apa dari Jakarta ke Semarang.

Tahun ini, rencana memang sudah disusun agak jauh hari sebelum lebaran, walaupun nggak bisa dibilang matang. Rencana awal, mengingat budget yang mepet, hanya istri dan anak saya yang akan pulang ke Semarang. Saya hanya akan mensupport mereka dari sini. Oke, itu garis besarnya. Detailnya kemudian adalah sebagai berikut. Berangkatnya akan menggunakan pesawat sampai Surabaya dan dilanjutkan dengan jalur darat selama 6 jam ke Semarang. Setelah mencari-cari tiket pesawat yang sesuai dengan alokasi waktu dan dana, ternyata tidak ada satupun yang sesuai. Harga termurah via Surabaya adalah Rp. 600-an ribu. Masih sangat mahal buat kami.

Mentok di plan A, kami beralih ke planB. Kebetulan seorang kenalan istri saya juga mau pulang ke Jawa, tapi pake kapal laut. Saya pikir, gak apalah istri ikut temannya sampai Surabaya, minimal ada yang temanin kan, walaupun sama-sama cewek. Tanggal keberangkatan sudah disiapkan, disesuaikan dengan jadwal “bolos” istri saya, yaitu 2 hari sebelum libur resmi dan cuti bersama para PNS.

Menjelang D-Day, plan B juga ternyata gagal. Teman istri saya ternyata berangkatnya jauh hari sebelum hari di mana istri saya bisa mulai libur. Mau bolos, kayaknya koq terlalu cepat dan terlalu lama. Konsekuensinya bisa fatal, apalagi mengingat istri saya masih PNS baru.


Ganti rencana
Setelah melalui pertimbangan dari segi finansial, akhirnya kami sepakat mengganti garis besar rencana. Saya akan ikut pulang ke Semarang, tapi dengan asumsi pulangnya pake kapal laut saja, itupun kelas ekonomi yang harganya sangat terjangkau (hanya Rp. 220.00,- per orang dewasa dan Rp. 165.000,- untuk anak-anak). Setelah jadwal keberangkatan yang disertai dengan aksi “bolos” itu disetujui (kalau saya sih liburnya resmi karena pake ijin cuti), tiket kapal kemudian resmi kami beli. Soal apakah nantinya di Surabaya mau naik bus atau travel itu urusan belakangan, yang penting bisa menginjak tanah Jawa dulu.

Sehari menjelang tanggal keberangkatan (9 Oktober) kami dapat kabar dari salah satu Oom saya yang kebetulan kerja di Pelindo bahwasanya kapal yang akan kami tumpangi ke Jawa bakal terlambat sampai 12 jam..!!!!!, 12 jam.., gila..!!. di tiket tertera rencana keberangkatan adalah jam 2 siang, tapi menurut Oom saya KM Labobar baru akan masuk Makassar pukul 10.00 malam dan biasanya akan berangkat 4 jam kemudian.

Mendengarnya saja sudah langsung bikin lemas. Bayang-bayang mudik sekejap jadi kabur, persis kayak siaran tipi yang antenanya copot. Tapi mau bagaimana lagi, ini di luar kuasa kita. Siang hari tanggal 9 Oktober, sambil menunggu jadwal keberangkatan dengan aroma bete yang sangat kental, kami kemudian mencoba mencari tiket pesawat Jakarta-Makassar atau Surabaya-Makassar tanggal 22 oktober, sesuai dengan rencana kepulangan kami. Ini sebenarnya adalah opsi cadangan karena kami sudah sepakat pulangnya naik kapal laut lagi dari Surabaya tanggal 20 oktober. Sayang, opsi cadangan ini tidak berjalan mulus. Tiket pesawat pada tanggal-tanggal yang kami inginkan ternyata masih melambung tinggi. Paling murah masih Rp. 600-an ribu.

Pukul 10 malam, kami dapat telepon dari Oom, disuruh siap-siap ke pelabuhan karena kapalnya udah mau masuk pelabuhan Makassar. Oke, dengan diiringi doa restu bapak dan ibu kami kemudian meluncur ke pelabuhan. Awalnya saya mengira penumpang KM Labobar nggak bakalan banyak-banyak amat. Pertama karena sisa hari menjelang lebaran sudah semakin dekat, artinya para pemudik yang akan ke Jawa kemungkinan sudah berkurang. Kedua, jumlah penumpang yang turun di Makassar juga sangat banyak (sebelumnya KM Labobar berlayar dari Papua).

Tapi ternyata perkiraan kami salah…jumlah penumpang yang naik juga tidak kalah banyak, bahkan sangat banyak. Semua lorong-lorong dan bawah tangga penuh sesak penumpang. Bahkan dek 7 yang terbuka lebar dan langsung berhubungan ke alam terbuka yang biasanya digunakan sebagai tempat bersantai itu juga penuh penumpang. Seumur hidup saya belum pernah naik kapal yang sampai sepenuh itu. Beruntung juga karena saya punya Oom yang berbaik hati mencarikan tempat tidur kosong buat kami mengingat tiket kami yang hanya kelas ekonomi yang berarti harus rebutan dalam mencari tempat tidur kosong. Saat penumpang lain belum naik ke kapal, saya dan Oom sudah keliling di atas kapal sambil mencari tempat yang strategis. Dan Alhamdulillah dapat juga…

Pukul 2 dinihari, kapal mulai meninggalkan Makassar menuju ke Surabaya. Perjalanannya sendiri sebenarnya cukup mengasyikkan, anak saya sangat menikmati pengalaman pertamanya menumpang kapal laut. Saya sendiri seudah hampir lupa bagaimana rasanya naik kapal laut. Terakhir kali adalah 5 tahun yang lalu, namun semenjak tiket pesawat turun drastis dan kemudian sangat terjangkau, saya tak pernah lagi melirik moda transportasi yang satu ini.

Tiba di Surabaya
Sekitar 23 jam kemudian atau sekitar pukul 12 waktu Surabaya, KM Labobar merapat ke Tanjung Perak. Satu perjalanan sudah terlewati, sekarang kami harus memikirkan perjalanan selanjutnya. Semarang masih 6 jam jauhnya dari Surabaya.

Sebenarnya dalam perjalanan pihak Pelindo sudah mengumumkan tentang tersedianya jasa angkutan travel dari Surabaya ke beberapa kota-kota besar di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Setelah saya cek harganya, ternyata harga travel Surabaya-Semarang adalah Rp. 155.000,-, jauh di atas harga normal yang sekitar Rp. 95.000,-.

“tetangga” kami di kapal yang kebetulan orang Surabaya memberi saran. Katanya kami lebih baik naik Damri –yang katanya ada terus sepanjang hari—dari Tanjung Perak ke Bungurasih, dari sana baru naik bus patas ke Semarang. Katanya ongkos bus patas AC paling mahal Rp. 75.000,- karena normalnya adalah Rp. 45.000,-. Karena yang ngomong orang Surabaya, ya kami percaya juga. Pikir kami, lumayan juga bisa menghemat sampai setengah dari harga yang ditawarkan Pelindo.

Ternyata, setelah kami menginjak bumi Surabaya setelah sebelumnya berdesak-desakan sangat parah dengan para penumpang lainnya yang akan turun dari kapal, Damri yang dimaksud sudah tidak tersedia lagi. Tak ada pilihan lain, kami memilih naik mobil carteran dengan ongkos Rp. 60.000,- menuju Bungurasih. Tapi rupanya si sopir memberi alternatif lain, katanya bus ke Semarang sudah nggak ada di tengah malam seperti ini. Paling cepat adanya jam 5 di pagi hari. Kalau mau, katanya dia bisa membawa kami ke travel agent yang sudah membooking bus tujuan Semarang. Sebenarnya kami agak was-was juga, soalnya kami sama sekali buta soal Surabaya, takutnya kami malah jadi korban perampokan atau penipuan. Tapi jarum jam yang sudah menujukkan pukul 1 dinihari ditambah kondisi badan yang sudah nyaris minta ampun akhirnya membuat kami tidak punya pilihan lain. Bismillah, kami pun ikut si bapak sopir.

Di salah satu travel agent saya diturunkan, ketemu dengan cewek yang sepertinya bertugas sebagai respsionis. Katanya ada bus yang ke Semarang, tapi bukan sekarang melainkan jam 5 pagi nanti. O la la…masih harus nunggu 3 jam lagi dalam ketidak pastian..?, sementara badan rasanya udah capek, mata ngantuk, mana ada anak kecil lagi…

Saya tidak setuju, dan minta si bapak sopir mengantar kami ke travel agent yang lain. Untung si bapak setuju. Akhirnya kami diantar ke travel agent yang lain, saya nggak tau jalannya apa, pikiran tambah kalut, apalagi suasana Surabaya sudah sangat sunyi. Kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari saja. Ah, kalau terjadi apa-apa, bagaimana nih…?.

Di travel agent berikutnya ada sebuah bus yang sedang parkir. Tujuannya ke Tegal, dan berarti melintasi Semarang. Setelah ketemu dengan pihak travel agent saya dikasi tahu kalau busnya memang sudah mau berangkat sekarang tapi kursinya sudah penuh. Kalau mau ada satu kursi cadangan, sebenarnya punya si kernet yang adanya tepat di samping pak sopir yang sedang giat bekerja. Satunya lagi…ya di lantai tepat di samping pak sopir..bagaimana, mau nggak..?. diskusi sebentar dengan istri sebelum akhirnya kami setuju. Daripada menunggu sampai pagi, dan lagian perjalanan pagi dan siang hari di pantura jelas akan sangat memakan waktu lama karena adanya gangguan bernama macet.

Oke akhirnya deal, tapi tau tidak..?. harga yang ditawarkan ternyata Rp. 150.000,- per orang !!!!, itu adalah harga Surabaya-Tegal (katanya) di musim lebaran. Ah, sialan…tahu begini mending dari atas kapal tadi beli tiket travel aja, nggak usah capek-capek cari bus lagi sampai ke travel agent. Travel dari Pelindo artinya turun dari kapal kami langsung naik ke mobil L300 yang sudah menunggu.

Ah, sudahlah..tak ada gunanya menyesal. Saya dan istri hanya saling menertawai kesialan kami sekaligus mengirim doa buat pak Wahyu, tetangga kami di kapal yang sudah memberikan saran ini. Yah, mungkin si bapak sudah lama nggak pulang ke Surabaya sampai-sampai lupa bagaimana susahnya mencari bus di hari-hari terakhir menjelang ramadhan.

Menuju Semarang.
Akhirnya mendekati jam 2 dinihari, bus mulai meninggalkan Surabaya. Istri saya duduk di kursi cadangan milik pak kernet, sementara saya duduk di lantai beralaskan koran sambil memangku si kecil Nadaa. Sampai di sini saya memberi kredit yang tinggi untuk buah hati saya ini. Anak yang kuat dan tak kenal capek. Selama perjalanan dari Makassar sampai nanti tiba di Semarang, tidak sedikitpun dia mengeluh. Walaupun harus berdesak-desakan saat naik dan turun dari kapal laut, dia tetap tought, tetap penuh semangat dan tak pernah rewel. Saat bus mulai keluar dari kota Surabaya, kekuatan Nadaa mungkin sudah mencapai titik terendahnya. Tanpa suara diapun lantas tertidur di pangkuan saya. Sementara itu, saya juga mulai mencoba menutup mata sambil bersandar ke kursinya pak sopir.

Sekitar pukul 3.30 bus –seperti biasa—mampir di Tuban untuk selanjutnya mempersilakan penumpangnya mengisi perut di rumah makan. Alhamdulillah, saya bisa sahur juga. Padahal tadinya saya sudah sempat pesimis bakal bolos berpuasa. Saat di kapal pun sebenarnya saya sempat berpikiran untuk tidak berpuasa, tapi melihat situasi kayaknya sayang juga, soalnya selama di kapal praktis kami lebih banyak tiduran daripada beraktifitas.

Lanjut ya, turun dari bus rasanya saya tidak bisa lagi merasakan tangan kanan saya yang keram karena sepanjang perjalanan menopang tubuh Nadaa. Setelah sahur dan sempat bertemu teman lama yang sudah 5 tahun tak bersua (teman ini juga dalam perjalanan mudik dari Jakarta ke Surabaya), kamipun naik lagi ke bus, siap untuk melanjutkan perjalanan yang tersisa.
Saat siap-siap hendak berangkat itulah saya tiba-tiba menangkap suara percakapan dengan logat yang sangat saya kenal. Logat Makassar…!!. dan terungkaplah fakta bahwa ternyata 22 orang penumpang bus ini adalah orang Tegal yang cari makan di Makassar dengan cara berjualan martabak. Mereka pulangnya kompakan, naik kapal sama-sama dan sudah memesan bus sejak dari Makassar. Asyiknya lagi, mereka dijemput sang bus langsung di pelabuhan Tanjung Perak. Ah, tahu begitu kami barengan aja dari Makassarnya…satu lagi penyesalan terbit…tapi tetap saja tak ada gunanya.

Syukurnya karena teman-teman seperjalanan kami itu ternyata berbaik hati memberikan 2 lembar selimut milik mereka untuk saya gunakan sebagai alas duduk di lorong antara 2 deret kursi. Lumayan, saya bisa merebahkan badan di atas selimut dan satu lagi yang digulung menyerupai bantal. Nadaa tertidur di atas perut saya. Rasa capek segera menerbangkan saya ke alam tidur. Lumayan, bisa tertidur selama 1 jam. Waktu itu saya sama sekali sudah nggak berpikir gengsi atau semacamnya. Toh, suasana bus juga sangat gelap dan lagian nggak kenal-kenal amat sama penumpang lainnya.

Jam 5 pagi, saat bus memasuki kota Rembang saya sudah bangun. Matahari mulai mengintip (matahari di pulau Jawa nampaknya memang datang lebih cepat dari matahari di pulau Sulawesi). Saya membetulkan letak tidur Nadaa yang masih asyik terlelap kecapean, sementara saya sendiri duduk tepat di samping pak sopir yang masih sibuk bekerja. Istri saya ternyata tidak tidur sedari tadi. Jadilah kami bercakap-cakap sepanjang perjalanan, sesekali dengan pak sopir juga.

Ini juga pertama kalinya saya naik bus dan duduk tepat di barisan depan sambil mengamati pak sopir bekerja. Dan tahu tidak ?, pengalaman ini cukup menegangkan. Pak sopir –seperti tipikal sopir bus antar kota—sangat lihai melakukan manuver-manuver yang pastinya membuat kami sport jantung. Perhitungannya sangat tepat, pak sopir sepertinya tahu persis kapan mengerem, kapan mendahului kendaraan lain, dan kapan harus berbelok. Sesekali istri saya sempat berteriak tertahan juga sambil tak lupa ber-istighfar.

Akhirnya…setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, pukul 8 pagi kami turun dari bus dan menginjakkan kaki ke tanah Semarang tercinta. Perjalanan belum usai. Dari terminal Terboyo Semarang kami masih harus naik taksi untuk bisa sampai di rumah mertua. Jaraknya sih nggak gitu jauh. Kira-kira 30 menit perjalanan via tol. Anak saya sampai protes, “ kenapa Semarangnya jauh sekali, Ayah..?”..hehehe dasar anak-anak..tapi Alhamdulillah dia tidak sampai rewel atau bahkan merengek. Berikutnya dia bahkan bisa menghapal urutan perjalanan hingga tiba di rumah Mbah-nya. “ naik taksi, trus naik kapal, trus naik mobil, trus naik bes, trus naik taksi lagi..”, begitu katanya…ah, Nadaa memang jadi pelepas penat kami sepanjang perjalanan.

Dan…teredeng..!!!!. rumah sederhana di kawasan Tembalang, Semarang Selatan itupun nampak di depan mata kami. Mbah Uti, Mbah Kakung dan dua Bu Lik-nya Nadaa sudah menunggu dengan suka cita. Alhamdulillah…perjalanan panjang sejak lebih dari 30 jam yang lalu melintasi laut Jawa itupun berakhir sudah. Rasa senang dan bahagia terasa cukup untuk membasuh semua kepenatan yang kami rasakan. Setelah mandi dengan air yang rasanya sangat menyegarkan itu, saya, Nadaa dan Ofie istri saya akhirnya bisa tertidur pulas hingga waktu buka puasa tiba…

Sebuah perjalanan yang sangat berwarna buat kami. Keluarga dan kebersamaan adalah suatu hal yang ternyata sangat berarti. Tak peduli apapun halangannya, kedua elemen itu harus diusahakan untuk bisa direngkuh di hari yang fitri bernama Lebaran…
Ah, nikmatnya mudik…

(di bagian kedua nanti saya akan bercerita tentang pengalaman selama di Semarang dan opini saya tentang ibu kota Jawa Tengah ini plus sedikit cerita tentang perjalanan kembali ke Makassar yang tidak seseru perjalanan ke Semarang, ditunggu ya..?)

Hormatilah orang yang [tidak] berpuasa

Udara pagi serasa sangat sesak, matahari juga bersinar tak kalah garangnya, lebih garang dari tampang para begundal di sinetron produksi Punjabi cs. Dalam perjalanan ke kantor saya sempat melirik sebuah warung Coto Makassar yang ada di pinggir jalan.

Tampang warungnya ngejreng banget, dengan kain warna kuning besar bertuliskan nama warung dan jenis makanan yang ditawarkan. Selain itu, sang pemilik masih menambah semaraknya suasana warung dengan sebuah plat besi seukuran kira-kira 60×40 cm yang berdiri tegak di depan warung dengan tulisan besar-besar “ADA”. Artinya, Coto Makassar yang dijajakan memang ada.

Jam baru menujukkan pukul 9.00 pagi, berarti waktu buka puasa masih kira-kira 9 jam lagi, masih sangat lama. Tapi di depan warung sudah berjejer beberapa motor, penanda bahwa sang pemilik sedang berada di dalam warung. Saat melongok sepintas ke dalam warung, kayaknya ndak ada seorangpun wanita di sana, yang ada hanya laki-laki.

Bulan Ramadhan, pagi-pagi, di warung coto. Hmmm…jelas itu berarti sang pengunjung nggak puasa. Non muslim kah..?, sepertinya koq bukan ya..?. memang saya nggak sampai seiseng itu untuk turun dan nanya agama mereka, bisa-bisa digebukin orang..tapi saya koq yakin kalau mereka itu muslim. Pedagangnya apalagi, jarang-jarang ada pedagang coto makassar yang non muslim, saya malah belum pernah nemu.

Trus kalau mereka cowok dan muslim, kenapa mereka nggak puasa ya ?. kerja keraskah mereka ?. kayaknya koq nggak, itu kalau melihat tongkrongan mereka plus kendaraan yang mereka pakai. Beda kalau teman-teman tukang saya yang nongkrong di situ pagi-pagi. Tongkrongannya beda lah..

Tapi memang sepertinya sudah jamak koq, hari-hari terakhir menjelang perginya bulan Ramadhan, pemandangan orang yang terang-terangan mengaku tidak berpuasa sudah jadi pemandangan biasa. Bukan cuma di warung, orang yang merokok secara bebas dan transparan aja sudah biasa koq.

Saya ingat, dulu, duluuu banget, sepertinya orang muslim kalau nggak berpuasa tuh kayaknya malu banget. Sampe-sampe kalau mau makan atau merokok musti cari tempat yang betul-betul tersembunyi. Tapi hari ini, sepertinya yang terjadi adalah kebalikannya. Udah banyak orang yang kayaknya bangga banget kalau nggak puasa.

Sepertinya mereka dengan sombongnya berkata, “toh puasa hanya diwajibkan untuk orang-orang yang beriman, bukan kepada semua orang..”, Jadi ya mereka nggak salah dong ya…

Saya kemudian berpikir, seharusnya kalau suasananya kayak begini, spanduk-spanduk yang berbunyi “ hormatilah orang yang berpuasa” seharusnya diganti dengan “ hormatilah orang yang tidak berpuasa”. Karena kadang-kadang mereka-mereka itu tampak nggak mikirin orang-orang yang berpuasa, sehingga terasa malah mereka yang harus dihormati.

Saya koq malah lebih respek pada sodara-sodara non muslim yang biasanya malah sangat menghormati kita-kita yang lagi puasa. Sayangnya sodara-sodara se-muslim lah yang kadang-kadang tampil imperesif dengan mempertontonkan keberanian mereka menantang ajakan Tuhan.

Yah, kalau sudah begini mau bagaimana lagi, sabar saja dengan harapan puasa kita lebih berbobot. Sekalian mari kita berpositif thinking, mungkin aja mereka nggak puasa karena memang lagi berhalangan, lagi sakit kali. Tapi…sakit koq ya berjamaah..?.

Yah sudahlah, kita berpuasa yang benar aja ya….anggap saja pemandangan seperti itu sebagai godaan yang Insya Allah bisa kita lewati dan bisa mempertebal keimanan kita,

Selamat berpuasa…


Makassar Town Square : Mall Baru, Masalah Baru..

tampak depan Makassar Town Square
foto:Syaifullah

catatan: tulisan ini juga dimuat di Panyingkul!
Matahari bersinar dengan garangnya di atas kota Makassar siang itu. Jam menunjukkan pukul 1.15 siang. Biasanya di siang hari yang panas terik seperti ini, apalagi di bulan Ramadhan, orang-orang lebih memilih berdiam diri di dalam ruangan daripada keluar menantang matahari, tapi siang itu ratusan orang nampak penuh semangat meluangkan waktu untuk berdesak-desakan mengunjungi sebuah mall yang baru buka untuk pertama kalinya di hari rabu tanggal 26 september.

Makassar Town Square yang berlokasi di daerah Tamalanrea, tidak jauh dari jembatan sungai Tello seketika menjadi magnet yang sangat kuat yang mampu menarik minat ratusan warga Makassar dan sekitarnya untuk mendatanginya. Aroma keramaian mulai tercium beberapa meter setelah melewati jembatan Tello. Kendaraan tertahan di depan Makassar Town Square (M’Tos) sehingga membentuk barisan yang panjang, baik yang ke arah pusat kota maupun ke arah Tamalanrea. Dalam situasi yang semrawut itu, hanya ada seorang polisi yang tampak sibuk mengatur lalu lintas, agak kepayahan memang mengingat para penggunan jalan yang sebagian besar tampak tidak sabar menunggu giliran antri untuk masuk ataupun keluar dari M’Tos.

Pembangunan M’Tos ini memang sempat mengundang perbedaan pendapat dari berbagai pihak. Beberapa pihak mengkritik kebijakan pemerintah kota Makassar yang memberi ijin pembangunan Mall skala besar di kawasan Tamalanrea yang dalam tata kota Makassar sebenarnya dijadikan sebagai kawasan pendidikan. Apalagi kawasan tempat berdirinya M’Tos ini berada cukup dekat dengan daerah aliran sungai Tello serta otomatis jadi kawasan hijau dan daerah resapan air. Warga sekitar utamanya yang berada di BTN Antara, BTN Asal Mula dan pondokan mahasiswa nampaknya harus waspada pada ancaman banjir di musim hujan nanti.

Selain itu timbul juga kekhawatiran akan bertambahnya titik kemacetan di kawasan Tamalanrea. Pihak DPRD Makassar jauh-jauh hari sudah mengungkapkan kekhawatiran ini. Sementara itu dari pihak dinas Perhubungan kota Makassar, terdengar kabar kalau pihak M’Tos belum pernah mengajukan permohonan untuk dibuatkan rekayasa lalu lintas dalam upaya mencegah kemacetan (Fajar, 24 sept.07). Kendati demikian, Kadishub Kota Makassar mengaku, kemungkinan besar di depan Matos akan dibuat median jalan, sebagai salah satu upaya mengantisipasi macet. Hanya saja, lanjut dia, median jalan itu baru dibangun setelah pelebaran jalan rampung dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Prasarana Wilayah.

Sebenarnya apa sih Town Square itu ?, dan apa bedanya dengan Mall biasa ?. Konsep Town Square sendiri pertama kali digunakan dalam studi perkotaan. Town Square (atau bisa juga disebut town center) merupakan lokasi (a place), bagian dari kota (wilayah urban) tempat berkumpulnya berbagai aktivitas masyarakat mulai dari bersosialisasi, bisnis, perdagangan hingga hiburan, sampai skala tertentu. Konsep town square ini kemudian diadopsi menjadi pusat-pusat perbelanjaan yang berfungsi ganda sebagai tempat pertemuan (melting point) yang mengakomodasi berbagai kebutuhan para pengunjungnya. Menurut para ahli, perbedaan secara fisik antara Mall, Trade Center dan Town Square adalah bahwa Mall dan Trade Centre lebih merupakan bangunan tertutup (enclosed) sedangkan Town Square memiliki ruang-ruang publik yang terbuka atau semi open space. Pada kasus M’Tos, ruang publiknya yang terbuka dapat dilihat di lantai 2 yang menghadap ke depan.

Makassar Town Square yang dibangun oleh PT.Jakarta Intiland ini menempati lahan seluas 2,4 hektar dengan luas bangunan mencapai 30 ribu meter persegi yang terdiri atas tiga lantai dengan total investasi sekitar Rp. 300 miliar. Penyewa terbesar (anchor tenant) di M’Tos ini adalah Ramayana, perusahaan ritel yang terkenal sebagai salah satu penyedia produk fashion terbesar di Indonesia dengan sasaran utama masyarakat kelas menengah. Ramayana menyewa 2 lantai dengan total luas sekitar 8.6 meter persegi, di lantai satu Ramayana menghadirkan konsep hipermarket yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok rumah tangga, sedangkan di lantai dua Grand Ramayana menghadirkan produk-produk fashion. Selain Ramayana berbagai tenant lain juga ikut ambil bagian meramaikan M’Tos, termasuk beberapa cafe dan penyedia produk kuliner yang meramaikan food court di lantai 2.

Pembangunan M’Tos memang agak dikebut menjelang bulan Ramadhan tahun ini, tentu saja untuk menangkap momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang bagi sebagian besar warga dijadikan ajang belanja besar-besaran. Siasat seperti ini bukan hal baru lagi, tahun 1999 Mall Ratu Indah juga melakukan hal yang sama, memaksakan diri membuka Mall di bulan Ramadhan walaupun belum selesai 100%. GTC di kawasan Tanjung Bunga, Mall Panakkukang dan Panakkukang Square juga sama saja, mereka tidak mau menyia-nyiakan sedikitpun momentum Ramadhan.

Sebagai mana umumnya Mall yang baru buka, M’Tos dalam hal ini Ramayana tentu saja memberikan berbagai promosi besar-besaran untuk menarik minat pengunjung, salah satunya adalah program diskon 50%+20% untuk beberapa produk fashion. Entah karena promosi itu atau bukan, ratusan warga memadati M’Tos sejak pagi hari. Matahari siang yang panas pun tampaknya tak menyurutkan niat warga, malah sepertinya jumlah yang datang makin banyak karena sebagian besar pegawai negeri maupun karyawan swasta sudah pulang kantor.
Dari pengamatan kasar, saya mendapati bahwa sebagian besar warga yang datang adalah warga yang bermukim di sekitar Tamalanrea, Daya,Sudiang, Tello, Panaikang, dan Antang, bahkan beberapa ada yang sengaja datang jauh-jauh dari Maros. Seorang warga yang tinggal di daerah Daya mengungkapkan kegembiraannya dengan kehadiran M’Tos di Tamalanrea. Hal itu berarti apabila ingin berbelanja ke Mall, dia dan keluarga tidak perlu susah payah jauh-jauh ke daerah Panakkukang apalagi ke Jl. Ratulangi. Si bapak yang kebetulan datang sendirian karena langsung mampir sepulang dari kantor, tampak antusias meneliti harga-harga berbagai produk fashion dan kemudian sampai pada kesimpulan kalau harganya memang agak murah dibanding harga di mall yang lain.

Tampaknya banyak orang yang sependapat dengan bapak ini, buktinya sebagian besar pengunjung dengan penuh semangat rela berdesak-desakan memilih-milih produk busana yang ditempatkan di wadah khusus dan diberi label diskon hingga 70% tersebut. Para pelayan toko dan satpam tampak sangat kerepotan mengantisipasi keramaian yang timbul, khususnya di depan kasir saat sebagian besar pembeli berebut untuk dilayani. Selain pengunjung yang datang dengan maksud berbelanja itu, banyak juga pengunjung yang tampaknya hanya ingin cuci mata, sebagian besar adalah ABG dan remaja. Mereka lebih banyak berdiri bergerombol di railing tangga sambil bercengkerama. Suasana ramai ini bukan hanya terlihat di area perbelanjaan, di area food court pun terlihat banyak pengunjung yang duduk menikmati makanan dan minuman secara terbuka, tak peduli ini bulan Ramadhan.

Karakteristik pengunjung yang sebagian besar golongan menengah memberikan pemandangan yang cukup unik. Di beberapa sudut tampak beberapa ibu dan bapak yang dengan cueknya duduk selonjoran sambil bersandar di tembok setelah lelah berbelanja, ada juga yang tampak menyusui anaknya yang masih kecil. Sebagian malah tidur-tiduran di lantai seakan-akan di rumah sendiri. pemandangan seperti ini mungkin tidak akan kita temukan di Mall Panakkukang atau Panakkukang Square.

Sementara itu secara tidak sengaja saya mendapati suasana yang sangat berbeda di toko Harapan Baru yang terletak tidak jauh dari M’Tos. Menurut informasi teman, hari-hari sebelumnya Harapan Baru cukup ramai dipadati pengunjung, maklum toko tersebut masih tergolong baru juga. Siang itu, nampak suasana sepi terlihat dari pelataran Harapan Baru yang biasanya juga dipadati kendaraan yang parkir, satu bukti bahwa magnet M’Tos ternyata memang sangat kuat menyedot pengunjung.

Makin siang, M’Tos terlihat makin ramai. Jalan di depan M’Tos pun terlihat makin semrawut, kendaraan merayap sangat pelan untuk bisa keluar dari kemacetan. Dalam perjalanan pulang ke daerah Antang saya bisa melihat kemacetan panjang hingga ke jalan DR. Leimena dekat pertigaan ke arah Jl. Abdullah Dg. Sirua, kalau tidak segera dibenahi saya yakin kemacetan ini akan makin parah di kemudian hari. Teringat oleh saya komentar seorang teman yang setiap hari melewati jalan Tamalanrea saat melihat kemacetan di depan M’Tos, “ aiihhh..tambah siksama’ ini pulang nanti…”, dan kenyataannya malam hari sampai jam 10 malam jalan Urip Sumohardjo dan DR.Leimena masih macet parah…

Tampaknya setiap kali kota ini menggeliat, setiap kali itu pula ada warga yang harus menderita.

foto-foto lainnya dapat dilihat di sini

Legenda Pisang Ijo

Pada jaman dahulu kala, di pulau Sulawesi hiduplah seorang raja yang sangat berkuasa. Sang raja selain dikenal berkuasa juga terkenal sangat kejam dan sadis. Dia memimpin kerajaannya dengan tangan besi dan darah dingin. Tak ada seorangpun yang berani melawan perintahnya, bila berani maka hukuman cambuk atau pancung balasannya.

Raja ini punya satu kebiasaan, dia rupanya senang sekali menyantap pisang. Setiap hari, saat bangun tidur sang raja akan mencari buah pisang sebagai makanan yang pertama kali dia santap. Sebagai seorang raja dia tentu saja punya tukang masak pribadi, di antara tukang masaknya itu ada seorang lelaki tampan yang bernama Ijo. Lelaki ini adalah tukang masak andalan kerajaan, sebenarnya dia sangat tidak suka melayani sang raja yang kejam dan bengis, namun dia tak berani untuk melawan.

Suatu hari si Ijo sedang terkena musibah. Entah kenapa, hari itu masakannya tiba-tiba menjadi sangat tidak enak dan memuakkan. Walhasil, raja yang memang terkenal gampang naik pitam akhirnya memutuskan si Ijo diseret ke tempat pemancungan. Hanya gara-gara sepele sebenarnya, tapi itulah tabiat jelek sang raja. Ijo berusaha menyelamatkan nyawanya, dia memutar otak dan mencari jalan agar bisa bebas dari hukuman sang raja. Karena tahu kalau sang raja sangat menggemari pisang, Ijo menawarkan kepada raja sebuah resep masakan berbahan dsar pisang yang menurutnya akan mampu membuat sang raja luluh. Penasaran, sang raja memberi waktu setengah hari bagi untuk membuat makanan yang dimaksud.

Ijo yang sebenarnya tidak punya ide menjadi bingung, dengan segenap perasaan dan pengharapan dia berhasil membuat sebuah hidangan dari pisang yang dibungkus kulit tipis dari tepung serupa kulit dadar dengan tambahan saus berbentuk fla yang rasanya manis.

Dengan hati berdebar, Ijo menyodorkan makanan baru buatannya dengan harapan sang raja menyukainya. Debaran jantung Ijo serentak berganti dengan lonjakan penuh kegembiraan ketika di luar dugaan sang raja sangat menyukai makanan hasil kreasinya. Saking sukanya, sang raja kemudian memutuskan bahwa makanan baru itu dinamakan PISANG IJO dan menjadi makanan resmi kerajaan. Ijo pun selamat dari maut. Hal yang paling menggembirakan bagi Ijo dan seluruh rakyat kerajaan adalah kenyataan bahwa setelah itu sang raja berubah menjadi raja yang lemah lembut, rupanya PISANG IJO yang dibuat dengan penuh perasaan dan harapan itu mampu memikat hati sang raja, kelembutan saus PISANG IJO turut melembutkan hati sang raja yang sebelumnya keras dan membatu. Semenjak itu, kerajaan hidup dalam ketenangan dan kemakmuran. PISANG IJO pun kemudian menjadi makanan khas kerajaan tersebut dan bertahan hingga kini.

Cerita di atas adalah legenda bo’ong-bo’ongan tentang PISANG IJO. Asli boong, karena itu semata-mata adalah rekaan saya saja, beberapa menit sebelum saya menuliskan cerita ini. Sori untuk para pembaca sekalian..

Sejujurnya, saya tidak pernah tahu asal muasal cerita tentang PISANG IJO ini. Yang saya tahu adalah bahwa PISANG IJO ini adalah salah satu makanan khas Sulawesi Selatan yang juga identik dengan bulan puasa. Kalau menilik namanya, saya kok curiga makanan ini datangnya justru dari Jawa, analisa sederhana saya adalah bahwa tidak mungkin sebuah makanan khas SulSel (Bugis-Makassar) diberi nama PISANG IJO karena dalam bahasa Makassar pisang disebut UNTI dan IJO (hijau) adalah Moncombulo. Jadi kalau memang makanan ini khas Makassar, harusnya namanya jadi UNTI MONCOMBULO, sama seperti kue Nagasari yang berubah menjadi ROKO’-ROKO’ UNTI (Bungkus-bungkus pisang-karena bahan dasarnya pisang dan ujung-ujungnya dibungkus daun pisang). Atau seperti Pallubutung yang sepertinya memang makanan khas sini dan terciptanya sudah lama. Lagian gaul amat orang dulu mengganti nama Hijau dengan Ijo..?. Sampai saat ini saya belum pernah menemukan catatan tertulis tentang PISANG IJO, terutama tentang kapan makanan ini mulai ditemukan, oleh siapa, dan cara distribusi resepnya bagaimana. Mungkin ada yang tahu…?

Yang jelas, saya sangat menikmati makanan ini. Secara garis besar bagi yang belum pernah melihatnya, saya hanya bisa menceritakan kalau makanan ini dibuat dengan bahan dasar pisang gepok atau pisang raja yang kemudian dibungkus lempengan tepung tipis serupa dadar yang telah diberi warna hijau (biasanya dari pewarna makanan atau lebih jadul lagi dari air perasan daun pandan). Sebagai pelengkap (atau sebenarnya penentu rasa) pisang yang sudah dibungkus ini diberi saus atau fla dari bahan..bahan apa ya..?, mungkin tepung dan gula kali ya..(hehehe..gimana sih..). ya pokoknya sausnya itu agak kental warna putih dengan rasa yang manis. Kalau menurut saya, penentu utama enak atau tidaknya PISANG IJO adalah sausnya ini, pisang yang dibungkus tepung biasanya rasanya seragam walaupun ada beberapa yang memang beul-betul enak karena pisangnya pisang pilihan dan tepung pembungkusnya punya resep khusus. Adduh sori ya, resepnya jadi gak detail gini, abis saya cuma penikmat danbukan pembuat…

Saat dihidangkan PISANG IJO biasanya diberi tambahan es yang sudah diserut, kemudian sausnya diberi sirup merah (biasanya beraroma pisang ambon) dan yang paling terkenal di Makassar adalah sirup DHT, sirup lokal yang sangat legendaris. Jadi ingat, adek dan tante saya yang di Jakarta pernah minta dikirimi sirup ini karena katanya kangen dengan aroma khasnya. Beberapa orang kemudian memberi tambahan susu pada PISANG IJO yang siap santap tersebut, susunya tentu saja susu kental manis, terbayang kan bagaimana rasa manisnya, kalau secara matematis mungkin bisa digambarkan rasa manisnya jadi manis pangkat 3, fla-nya sudah manis, plus sirup manis, plus susu kental manis. Jangan heran, kue-kue khas Bugis-Makassar tuh emang manis buangeeedddd….setidak-tidaknya menurut orang Jawa (saya sering mendengar komentar ini dari istri saya yang asli orang Jawa).

Entah kenapa si PISANG IJO ini menjadi favorit saya setiap kali berbuka puasa. Semenjak tidak tinggal dengan orang tua lagi dan bebas memilih menu berbuka puasa, nyaris setiap hari si pisang yang berwarna hijau ini tersaji di meja makan saya setiap kali berbuka puasa. Rasanya buka puasa tanpa PISANG IJO menjadi kurang lengkap. Walaupun begitu, saya belum pernah bikin sendiri. Semua PISANG IJO yang saya santap adalah asli buatan orang lain alias beli. Harganya beragam, dari yang kelas rumah makan seharga Rp. 10.000,-sebiji, Rp. 5.000,- sebiji sampai yang kelas pinggir jalan seharga Rp. 3.000,- sampai yang paling murah Rp. 1.000,- sebijinya. Kalau saya sih pilih yang harga Rp. 1.000,- sampai Rp. 3.000,- selain murah (alasan utama) bentuknya juga tidak terlalu besar.

Yang paling terkenal di Makassar adalah PISANG IJO buatan RM. BRAVO, harganya (kalau tidak salah) Rp. 10.000,- sebiji. Bentuknya emang gede banget, kira-kira sepanjang 20 cm, dengan fla yang asli muaniss banget. Emang enak sih, tapi kalau menurut saya ada juga koq PISANG IJO kelas pinggir jalan yang rasanya nggak kalah enak dengan harga yang pastinya jauh lebih murah. Di pertigaan antara Jl. DR. Leimena dan Abd. Dg. Sirua dekat jembatan ada koq yang harganya hanya Rp. 1500,- sebiji tapi rasanya enak banget. Sepulang dari kantor saya memang sering beli PISANG IJO dari penujual yang berbeda-beda, dan hasilnya…hampir sama semua koq. Cuma ada beberapa yang rasanya agak kurang sehingga saya kemudian nggak akan mampir ke sana lagi.

Ah…cerita soal PISANG IJO saya jadi ingat, di kulkas masih ada sebiji sisa buka tadi. Biasanya saya siapkan dua biji, sebiji buat buka dan sebiji lagi buat makan setelah sholat. Nah, pembaca..saya tinggal dulu ya..mau makan PISANG IJO dulu, favorit saya. Kalau anda..?, apa hidangan buka puasa favorit anda…?.