Category Archives: Musik

3 Level Fans Pearl Jam

Saya adalah fans Pearl Jam. Mungkin sudah masuk dalam kategori terobsesi karena selama bertahun-tahun saya hampir hanya mendengarkan musik dan lagu dari mereka. Prosentasenya mungkin di atas 80% lagu-lagu Pearl Jam berbanding kurang dari 20% lagu-lagu dari kelompok atau musisi dan penyanyi yang lain. Alasannya tidak usah saya ceritakan lagi, semua ada di blog ini. Meski tergila-gila pada Pearl Jam, saya juga belum berani mengklaim diri sejajar dengan Hilman dan Reza, dua orang kamus berjalan Pearl Jam di Indonesia.

Sebagai fans berat sebuah band yang masa keemasannya sudah lewat namun belum cukup memenuhi kriteria sebagai legenda, adalah sebuah kesulitan sendiri untuk menemukan orang-orang yang senasib dan searah dengan saya, utamanya di dunia nyata. Saya cukup beruntung bisa berkenalan dengan para “Lost Dog” se Indonesia yang membuat saya benar-benar tidak merasa sendirian.

Beberapa waktu yang lalu saat iseng mencari seorang teman di jejaring sosial Facebook saya menemukan sebuah account bernama Pearl Jam. Pemiliknya adalah seorang lelaki muda yang berdomisili di Makassar. Didasari oleh keinginan untuk berkenalan dengan sesama Jamily utamanya yang berdomisili di Makassar, saya menambahkan dia sebagai teman. Tak lama kemudian ajakan saya bersambut. Dengan segera saya menulis di dindingnya, bertanya apakah dia benar-benar seorang fans Pearl Jam sambil tak lupa memperkenalkan diri sebagai seorang penggemar Pearl Jam juga.

Tak berapa lama pertanyaan saya terjawab. Dia mengaku suka pada Pearl Jam. Sampai di sini saya sudah mulai kehilangan semangat dan bisa menebak seperti apa kadar “suka” si cowok ini. seorang fans berat (setahu saya) tidak akan menggunakan kata “suka” apabila dipancing berbicara tentang idolanya. Setidaknya dia akan menggunakan kata “suka banget” atau bahkan “tergila-gila”. Percakapan kami lewat dinding FB berlanjut dan berujung pada kekecewaan di pihak saya.

Get the whole story »

Versus dan 19 Oktober

Pearl_Jam_-_Vs_-_frontHari jumat minggu lalu saya berusaha mengingat-ingat berbagai kejadian penting yang terjadi pada tanggal 19 Oktober, iseng aja. Saya pengen tahu kejadian penting apa yang terjadi tepat di tanggal lahir saya itu. Informasi dari Wikipedia tidak banyak, satu-satunya hal yang saya ingat baik tentang kejadian penting dan patut diingat di tanggal 19 adalah kecelakaan kereta api di Bintaro tahun 1987 yang dicatat Iwan Fals dalam salah sebuah lagunya berjudul “1910”.

Saya rupanya tidak ingat (atau mungkin memang belum pernah tahu) kalau ternyata di tanggal itu ada sebuah kejadian penting yang terjadi pada band yang paling saya puja. Tanggal 19 Oktober 1993, Pearl Jam resmi meluncurkan album kedua mereka. Titelnya VS dengan sampul depan gambar domba yang difoto pake lensa wide angle. Saya baru sadar soal peluncuran album VS itu dan tanggal peluncurannya yang tepat di tanggal lahirku ketika topik tentang VS dilempar ke milis. Nah, untuk menghormati album yang (bagi saya) spesial ini tak salah rasanya kalau saya coba bercerita kembali meski tentu saja dengan cara pandang seseorang yang sangat awam akan musik.

Meski lahir di tahun 1993 namun saya baru benar-benar bertemu dengan VS justru di tahun 2000. Tahun 1993 saat VS diluncurkan saya masih seorang ABG yang jatuh cinta pada Nirvana sehingga kemudian sedikit menutup telinga pada album lain. Apalagi posisi saya yang berada jauh dari episentrum informasi di Indonesia membuat saya (dan sebagian besar teman-teman) kemudian hanya kenal dan fanatik pada Nirvana. Otomatis dari album ini saya hanya kenal “Daughter” saja yang waktu itu memang lumayan sering wara-wiri di stasiun radio. Selebihnya gelap.

Tahun 2000 adalah perkenalan kedua saya dengan Pearl Jam, perkenalan yang kemudian membuat saya jatuh cinta dan meminangnya hingga sekarang. Deretan albumnya kemudian satu persatu saya koleksi. VS adalah album ketiga yang saya beli setelah sebelumnya membeli Ten (itupun dari loakan di daerah Matraman) dan Live on Two Legs (yang waktu saya kira adalah album the best of-nya Pearl Jam).

Ekspektasi saya setelah lama tak bersua dengan Pearl Jam adalah bahwa band ini masih tetap keras dan mengusung nilai-nilai grunge yang kasar dan penuh distorsi. Ten jelas masih merefleksikan nilai-nilai itu, tapi Live on Two Legs sudah tidak sepenuhnya seperti itu. Saya sempat agak kecewa saat menemukan lagu-lagu balad dan lagu-lagu bernafaskan hard rock dan rock n’ roll di kompilasi penampilan Pearl Jam di Eropa tersebut. Maka, ketika membeli dan mendengarkan semua isi album VS saya merasa menemukan kembali Pearl Jam yang sesuai dengan yang saya inginkan (waktu itu). Perjalanan waktu kemudian membuat saya menyadari kalau Pearl Jam tidak mau tampil sesuai apa yang fansnya inginkan tapi tampil sesuai apa yang mereka inginkan, bila fans tetap mau menerimanya maka itu artinya mereka benar-benar adalah fans. Ini cerita berbeda, saya hanya akan fokus pada album VS saja.

Sebagian besar lagu dalam VS menurut saya masih kental meneruskan tradisi grunge yang memang masih sangat  laku dijual waktu itu. VS masih tetap tampil dengan irama yang menghentak, distorsi dan noise yang kuat khas grunge yang dibuka dengan nomor “GO”. Lirik-lirik pada VS sebagian besar masih tentang kemarahan meski sebagian besar juga sudah mulai melebar kepada kritikan sosial. Sedikit berbeda dengan sebagian besar lirik di TEN yang lebih banyak berbicara tentang hal-hal yang pribadi.

Penggarapan album VS sepenuhnya masih menggunakan tenaga Dave Abruzzese drummer ketiga Pearl Jam. Dibandingkan dengan drummer setelahnya, Dave memang terkenal dengan gebukannya yang powerfull, cocok dengan keseluruhan tema grunge yang memang sedang hype waktu itu. Ada dua nomor di album ini yang bagi saya menunjukkan harmonisasi yang luar biasa antara Dave dan Jeff Ament si pembetot bass, WMA dan Rearviewmirror.

Di dua nomor itu, bass dan drum seakan terasa lebih dominan terutama di WMA sebuah lagu yang bercerita tentang rasisme yang menimpa kaum kulit hitam Amerika. Rearviewmirror sendiri kemudian menjadi sebuah lagu yang nyaris menjadi lagu wajib di setiap konser Pearl Jam. Dalam setiap konser,lagu Rearviewmirror memberi ruang lebih kepada drum dan bass untuk berimprovisasi lebih di tengah lagu.

Nomor lain dari album ini yang selalu memberi ruang lebih untuk improvisasi di setiap konser adalah lagu Daughter. Ujung dari Daughter ini seringkali digabungkan dengan lagu lain, atau kadang improvisasi spontan dari Eddie Vedder termasuk tentu saja ucapan “ George Bush find yoursef another home, George Bush leave this world alone” yang kontroversial pada penampilan mereka di Lollapalooza 2007.

VS adalah salah satu album terlaris dari Pearl Jam, laku sebanyak lebih dari 950 ribu kopi di minggu pertamanya dan nangkring di top chart Billboard. Sebenarnya ini bukan hal yang luar biasa mengingat Pearl Jam waktu itu memang sedang dalam masa jayanya menyusul booming yang diraih Ten dua tahun sebelumnya serta tentu saja karena demam grunge yang sedang melanda dunia musik kala itu.

16 tahun kemudian, VS memang terdengar sedikit ketinggalan jaman kecuali pasti bagi para die hard fansnya. VS adalah album terakhir Pearl Jam yang dibuat “sesuai selera publik” karena setelahnya mereka lebih banyak bermain dengan idealisme mereka tanpa peduli pada nilai dan besaran penjualan. 16 tahun setelah lahirnya VS, Pearl Jam masih eksis dan masih mengeluarkan album kesembilan mereka meski tentu saja dengan nilai penjualan yang jauh berkurang, namun bila mau membandingkan VS dengan BACKSPACER yang adalah album terakhir mereka maka akan jelas terasa sebuah proses pendewasaan dalam bermusik. Sebuah proses yang membuat mereka tetap bertahan sejauh ini.

Kami Ingin Mereka Ke Indonesia

pj_warung

Pearl Jam di Warung Soto, jepretan : Roel Rocker

Sebuah berita mengejutkan muncul di milis Pearl Jam Indonesia pagi ini. Berita yang diteruskan dari New Straight Times ini menyebutkan kalau beberapa promotor Malaysia sedang berusaha untuk mendatangkan Pearl Jam ke Malaysia bulan depan..!!

Reaksi para Jamily jadi beragam, ada yang senang ada juga yang merasa tidak rela. Mereka yang senang tentu saja karena dengan begitu kesempatan menonton langsung penampilan band asal Seattle-US itu jadi terbuka, karena bagaimanapun Kuala Lumpur masih lebih gampang dijangkau daripada Melbourne-misalnya. Di samping yang bergembira ria, ada juga yang bersikap sebaliknya. Mungkin bukan bersedih, tepatnya agak tidak rela kalau band idola mereka sampai berhasil manggung di negara tetangga yang jaraknya sungguh dekat dengan negara kita sendiri. Soal perseteruan terselubung antara Indonesia-Malaysia mugkin ada juga yang menjadikan alasan kekecewaan, tapi itu hanya samar dan bukan alasan utama.

Saya sendiri terus terang merasa sedih dan kecewa kalau ternyata Pearl Jam memang berhasil manggung di Malaysia. Sedih karena ternyata promotor lokal Indonesia tidak ada yang berhasil menculik mereka, sedih karena sekali lagi kita kalah dari Malaysia. Okelah, dalam beberapa hal Malaysia mungkin memang lebih perhatian negara-negara “barat”. Mereka lebih terkenal di luar sana, salah satunya karena mereka adalah negara persemakmuran yang jelas punya akses dan kedekatan lebih dengan Inggris. Itu Cuma satu alasan, tak usahlah saya menuliskan alasan yang lain.

Kalau memang akhirnya Pearl Jam jadi manggung di Kuala Lumpur, kesedihan dan kekecewaan saya akan bertumpuk-tumpuk. Bayangkan bagaimana rasanya bila anda menantikan seseorang yang sangat spesial buat anda selama bertahun-tahun, suatu hari dia datang dan berkunjung ke tetangga anda dan tak sempat mampir ke tempat anda, saat dia berkunjungpun anda tak bisa ikut nimbrung. Rasanya tentu mengecewakan, bukan ?

Nah, kira-kira itulah yang akan terjadi pada saya bila Pearl Jam benar-benar bisa datang ke Malaysia bulan depan. Jarak yang terlalu singkat antara rencana dengan realisasi membuat saya tentu tidak bisa ikut menonton mereka, biayanya lumayan besar dan tidak masuk dalam rencana, sehingga yang ada tentu hanya impian saja. Impian yang pahit, sepertinya..

Belakangan ini perbincangan tentang kemungkinan mendatangkan Pearl Jam ke Indonesia memang semakin menghangat. Beberapa waktu lalu muncul opsi untuk menculik mereka dari jadwal konser yang sudah tersusun rapih, mereka memang punya jadwal untuk berkunjung ke Australia bulan depan dan semua berharap semoga Pearl Jam mau mampir barang sehari-dua hari di Jakarta. Sayangnya kemungkinan ini juga mentah, pihak managemen Pearl Jam tidak bersedia untuk menambah jadwal konser. Tapi, kalau ternyata sponsor dari Malaysia berhasil membelokkan arah tour mereka, saya kira dengan lapang ada saya harus mengangkat jempol untuk mereka.

Segala kemungkinan memang masih bisa terjadi. Asa dari para pendukung mereka di Indonesia masih sangat tinggi, tak ada yang tak mungkin selama kita berusaha, yang jelas..KAMI INGIN MEREKA KE INDONESIA.

Kemana perginya lirik-lirik indah ?

vedder1

Ibu-ibu, bapak-bapak/siapa yang punya anak bilang aku/aku yang sedang malu/pada teman-temanku karena hanya diriku/yang tak laku-laku..

Lirik di atas tentu sudah tak asing lagi di kuping orang Indonesia. Lirik di atas adalah potongan lagu dari band Wali berjudul “Cari Jodoh’. Harus diakui kalau lagu di atas memang sedang laris-larisnya sehingga bukan Cuma anak-anak muda saja yang dengan fasihnya mendendangkan lirik di atas, orang tua sampai anak-anak kecilpun tak kalah fasihnya melantunkan lagu band asal Sumatera Barat itu.

Bagi saya, lirik lagu di atas melengkapi kekecewaan saya pada beberapa band-band baru yang muncul belakangan ini. Sebagai seorang penikmat lagu, saya selalu menganggap sebuah lagu adalah gabungan dari lirik yang indah dan musik yang melenakan. Meski tak pandai bermain musik dan bukan seorang sastrawan tapi tetap saja saya menganggap paket tersebut adalah harga mutlak dalam menikmati sebuah lagu.

Belakangan ini musik tanah air memang sedang kebanjiran pendatang baru, utamanya yang berbentuk band. Beberapa di antara mereka-atau malah sebagian besarnya-adalah band-band yang sering disebut sebagai “band tiga jurus”. Berbekal 3 kunci nada, mereka bikin lagu dan tampil di panggung. Seorang produser bermata jeli kemudian mengorbitkan mereka, tanpa peduli kualitas bermusik mereka yang sesungguhnya. Persoalan berapa lama mereka akan bertahan, itu soal belakangan, yang penting mereka bisa dijadikan mesin uang selagi masih sempat. Maklum, ini juga bagian dari ciri khas orang Indonesia yang suka latah.

Hadirnya band-band tiga jurus ini memang selalu ada di tiap dekade. Tahun 90-an saat saya mulai kenal akrab dengan musikpun begitu. Seleksi alamlah yang kemudian membuat band-band karbitan nan cemen itu berguguran satu persatu. Namun, periode tahun 2000-an ini semuanya jadi terasa makin menggila. Ini tentu ada hubungannya dengan akses yang semakin mudah. Entah akses bermain musik, entah akses ke dapur rekaman.

Belakangan, musik Indonesia memang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Lihatlah berbagai acara musik di stasiun televisi dalam negeri, jatah untuk musik dalam negeri selalu lebih besar dibanding jatah untuk musik luar. Sayangnya, meski jadi tuan rumah di negeri sendiri, menurut saya kualitas musik malah menurun. Terlalu banyak pemusik-utamanya band-yang tampil apa adanya. Sebagian besar tampil dengan kemampuan bermusik yang minim dan dilengkapi dengan lirik yang sangat datar, tidak dalam dan sangat apa adanya.

Coba lihat lirik berikut ini : Suara, dengarkanlah aku/ apa kabarmu/ pujaan hatiku.

Buat saya lirik di atas lucu. Koq dia minta suara untuk mendengarkannya,bukankah seharusnya dia yang mendengarkan suara. Aneh, menurut saya…

Dua contoh di atas tentu hanya sebagian kecil saja dari menjamurnya lirik-lirik rendahan di dunia musik tanah air. Silakan anda mencari sendiri contoh-contoh lainnya.

Semuanya kemudian kembali kepada kita semua sebagai pendengar. Tak ada satupun aturan di dunia ini yang  mengatakan kalau lagu tak berkualitas tidak boleh diedarkan. Ini soal selera, dan tak ada aturan tentang selera. Dan karena soal selera itupun maka saya menganggap kalau belakangan ini musik dalam negeri kita semakin memprihatinkan.

Akhirnya saya bertanya, ke manakah perginya lirik-lirik indah itu..?

“SEBERKAS SINAR” yang terus menyala di Wonomulyo


 

 

Anda pernah punya idola ?Terus seberapa besar rasa cinta anda pada sang idola, dan bagaimana anda menunjukkan kecintaan anda pada sang idola ?Kalau anda sudah merasa cukup mampu menunjukan rasa cinta anda pada idola, maka saya rasa ada baiknya anda membandingkannya dengan pria yang satu ini.

 

Namanya Muhammad Takdir, seorang lelaki lulusan STMIK Dipanegara-Makassar. Lelaki ini punya kecintaan yang besar pada sosok Alm. Nike Ardilla. Dan untuk menunjukkan kecintaannya yang besar pada Nike Ardilla, Muhammad Takdir membuka sebuah warung makan di poros Polman-Majene Sulawesi Barat, tepatnya di kota Wonomulyo.

 

Sepintas warung makan ini tak jauh berbeda dengan warung makan lain pada umumnya, kecuali papan pengenalnya yang mencantumkan foto Nike Ardilla. Tapi, yang paing membedakan warung milik Takdir ini dengan warung makan lainnya adalah pada penataan interior. Warung makan yang diberi mana Warung Makan Nike Ardilla ini seluruh interiornya dihiasi dengan beragam pernak-pernik beraroma Nike Ardilla. Mulai dari foto, kliping koran, kaset, hingga baju-baju asli milik almarhumah. Bahkan yang paling mengagumkan, di salah satu dinding terpasang pecahan kaca asli dari mobil yang dikendarai almarhumah saat mengalami kecelakaan.

 

Semua pernak-pernik tersebut ditata rapi di sepanjang dinding warung makan yang catnya dominan warna kuning dan merah marun. Khusus untuk baju asli Nike Ardilla, semuanya diletakkan dalam kotak kaca yang diberi lampu sehingga kelihatan sangat eksklusif.

 

Dari situs panyingkul.com disebutkan kalau Muhammad Takdir memang sangat memuja wanita berdarah Sunda tersebut. Mendirikan warung makan bertema Nike Ardilla dikatakan oleh Takdir sebagai salah satu caranya untuk meneruskan cita-cita almarhumah.

 

Memasuki warung makan seluas kira-kira 4×15 M ini rasanya seperti memasuki sebuah museum, tepatnya museum Nike Ardilla. Dari pintu depan kita akan langsung disambut beragam foto Nike Ardilla dalam berbagai pose. Beberapa di antaranya adalah pose Nike saat masih sangat polos dan belum terlalu terkenal. Di dalam warung ada 2 buah televisi yang terus menerus menyiarkan beragam informasi tentang Nike Ardilla. Ada potongan acara infotainment, film dokumenter dan tentu saja video klip dari beberapa lagu hits Nike Ardilla. Nyaris tak ada ruang kosong yang tak terisi hal-hal berbau Nike Ardilla, bahkan ke kamar mandi sekalipun.

 

Sungguh, saya merasa perlu untuk mengacungkan jempol pada usaha gigih sang pemilik warung untuk tetap menjaga spirit kecintaannya pada almarhumah Nike Ardilla. Apa yang terpajang di warung makan tersebut adalah bukti nyata sebuah fanatisme yang membabi buta pada sosok seorang idola.

 

Saat saya dan teman-teman mampir di warung makan tersebut kami hanya sempat berbincang-bincang sejenak dengan adik sang pemilik warung. Kata beliau, sebentar lagi Takdir akan membuka cabang warung makan Nike Ardilla di kawasan BTP, Tamalanrea-Makassar. Dari beliau juga kami dapat informasi kalau sang kakak baru saja mendapatkan tambahan beberapa lembar pakaian asli Nike Ardilla yang baru saja dilelang. Belasan tahun selepas kepergian sang bintang namun ternyata rasa cintanya masih tetap membara, luar biasa bukan ?.

 

Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira apa komentar Nike Ardilla di alam sana bila saja dia tahu kegilaan seorang fans-nya ?Tersanjungkah dia ?Entahlah..yang jelas saya baru saja menyaksikan bukti nyata sebuah fanatisme yang sungguh luar biasa. Saya berandai-andai, kalau bisa punya warung makan kira-kira interiornya akan saya tata dengan aroma apa ya ?Aroma Pearl Jam ?Atau aroma Paolo Maldini ?, mmm…belum bisa saya putuskan sekarang. Hehehe..

 

Cerita lengkap tentang warung ini bisa dibaca di sini : http://panyingkul.com/view.php?id=452&jenis=tahukahkita

Galeri foto terbarunya bisa dilihat di sini : http://iipull.multiply.com/photos/album/29/Warung_Makan_Nike_Ardilla