Jun
08

“..Susahnya menjaga kualitas tulisan di antara derasnya godaan publish button..”, ini sepenggal kalimat dari Lily Yulianti, blogger, jurnalis dan pencetus situs citizen reporter www.panyingkul.com yang dikirim via email ke saya. Penggalan kalimatnya memang singkat tapi bagi saya sangat bermakna.
Musti saya akui, untuk menjadi seorang blogger berkualitas memang sangat berat tantangannya. Bukan hanya bagaimana mengundang pembaca sebanyak-banyaknya dan mendongkrak popularitas pribadi sebagai blogger tapi yang terpenting adalah bagaimana menjaga kualitas postingan.
Di saat senggang saya sering menilik kembali arsip-arsip tulisan saya dalam kurun waktu setahun hingga dua tahun yang lalu. Musti saya akui kalau setahun belakangan ini kualitas tulisan saya ada grafk penurunan. Saya susah menemukan indikatornya, lebih banyak sih hanya dari feeling saja. Menurut saya grafik tertinggi dari segi kualitas tulisan saya ada di kisaran 1,5-2 tahun yang lalu. Waktu itu saya memang sedang getol-getolnya belajar menulis yang baik dan banyak belajar dari komunitas Panyingkul!.
Get the whole story »
Jun
02

Saya orang yang senang jalan-jalan, meski hobi itu tak selalu terpuaskan karena banyaknya halangan, biasanya sih karena dana. Namun, saya cukup beruntung karena setidaknya 4 tahun belakangan ini saya banyak mendapat kesempatan untuk jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia. Sebagiannya bersama teman-teman kantor, sebagiannya lagi sendirian atau setidaknya bersama istri dan anak.
Jalan-jalan paling terakhir baru saja terjadi minggu lalu. Bersama kurang lebih 43 orang lainnya, saya berkesempatan ke Ciater dan Bandung selama 5 hari. Judulnya sih acara kantor yang isinya kebanyakan hanya berleyeh-leyeh di Ciater, ber-outbound dan ditutup dengan belanja gila-gilaan di Bandung. Jalan-jalan terakhir ini membuat saya menyadari perbedaan besar antara jalan-jalan bersama rombongan dan jalan-jalan sendiri apalagi karena sebulan sebelumnya saya sempat berjalan-jalan solo ke Surabaya.
Hasil perbandingan saya memberikan kesimpulan kalau jalan-jalan berombongan itu kurang asyik, setidaknya buat saya. Banyak sekali hal-hal menarik yang terlewatkan. Kadar keseruannya juga tidak seberapa apabila dibandingkan dengan jalan-jalan sendirian. Penyebab utamanya adalah karena age-gap dan status-gap yang rentangnya jauh banget antar para peserta.
Get the whole story »
May
21

Suatu hari pikiran saya kembali ke masa-masa puluhan tahun yang lalu. Masa ketika saya masih seorang bocah ingusan, kurus dan dekil. Saya ingat bahwa sejak masa itu saya sudah mulai suka mencorat-coret di atas kertas, menggambar apa saja yang ada di kepala. Pada masa itu juga saya mulai suka menghayal, membangun cerita sendiri dalam kepala,menciptakan tokoh-tokoh khayalan sendiri dengan berbagai macam profesi dan kelebihannya. Sejak masa itu saya sudah menjadi seorang penghayal, kadang khayalan itu saya gariskan pada selembar kertas. Sudah tidak terhitung berapa banyak tokoh khayalan yang lahir dari kepala saya. Ada tokoh dari masa lalu, seorang pendekar semacam Brama Kumbara, ada pesepakbola, pun seorang superhero semacam Superman.
Khayalan saya dan coretan saya selalu bertambah. Tapi semua lenyap begitu saja tanpa pernah sempat dikembangkan atau didokumentasikan. Saya ingat kalau waktu itu orang tua saya tidak pernah membukakan jalan lapang untuk semua khayalan dan coretan saya hingga kemudian semua itu hanya tersimpan di kepala dan hanya berbentuk coretan yang tak pernah ada perkembangan.
Orang tua saya masih sangat kolot. Di kepala mereka hanya ada satu persepsi : anak pintar dan cerdas adalah anak yang punya nilai ilmu pasti yang tinggi. Karena itu mereka hanya bangga jika saya bisa menunjukkan hasil ulangan matematika yang nilainya lebih dari 8.? Saya tak pernah menunjukkan setiap coretan saya ke mereka, juga setiap kerangka cerita tentang khayalan saya meski mereka tahu kalau saya suka mencoret.
Get the whole story »
May
10
Hari Minggu kemarin (9/5) saya sempat menon ton bagian akhir dari acara John Pantau di Trans TV. Karena menontonnya hanya di sepertiga bagian akhir, saya cuma bisa menebak topik yang diangkat. Kebetulan waktu itu ada 2 artis yang jadi topik utama, Maria Eva dan Julia Perez. Kita tahu kalau keduanya adalah artis-artis yang sedang hangat-hangatnya jadi bahan pembicaraan menyusul niatan mereka untuk menjadi wakil pemimpin di beberapa daerah di Jawa.
Maria Eva maju sebagai calon wakil bupati di Sidoarjo, sementara Julia Perez maju sebagai calon bupati di Pacitan. Mereka tidak hanya berdua, sudah ada nama Ayu Azhari dan Inul Daratista yang juga maju sebagai calon pemimpin di kabupaten yang berbeda. Ini seperti sebuah efek domino menyusul banyaknya artis yang lolos ke Senayan dan beberapa artis yang juga sukses menjadi pemimpin/wakil pemimpin di beberapa daerah. Tidak heran kalau pencalonan kedua artis itu dan dua lagi yang lainnya menyulut kontroversi dan perdebatan antara yang setuju dan tidak setuju.
Get the whole story »
May
04
Ya,kenapa harus saya ? Itu pertanyaan yang saya ajukan ketika wacana memunculkan nama saya sebagai ketua komunitas Blogger Makassar, AngingMammiri.org muncul di permukaan. Proses penggiringan nama saya ke permukaan sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Adalah Rara dan pak Amril yang pertama kali memuculkannya. Keduanya bukan orang biasa di komuntas blogger Makassar, mereka adalah orang-orang terbaik yang pernah dimiliki oleh Blogger Makassar. Rara bahkan adalah ketua komunitas ini sejak tahun 2007.
Entah sejak kapan Rara mulai merasa dirinya sudah kurang efektif untuk berperan sebagai ketua mengingat jam terbangnya yang semakin tinggi sehingga lebih sering berada di luar Makassar. Wacana penggantian ketuapun bergulir, bersamaan dengan wacana regenerasi dalam tubuh komunitas yang selama ini kesannya hanya diisi oleh 4L ( Lu Lagi Lu Lagi). Karena semangat regenerasi itu pula maka muncul beberapa nama orang baru dan muda dalam tubuh komunitas Blogger Makassar yang dianggap mampu untuk menanggung beban sebagai ketua komunitas.
Sayangnya karena seiring perjalanan waktu, nama-nama itu kemudian mengabur hingga menghilang sama sekali. Wacana regenerasi dan ketua barupun kemudian mengambang.
Suatu hari saya chatting dengan Rara. One thing led to another hingga kemudian bermuara pada penyebutan saya untuk menggantikan Rara sebagai ketua. Sebelumnya di milis juga sudah ada pak Amril yang meneriakkan nama saya sebagai calon ketua. Saya spontan menolak dorongan Rara. Saya bergeming karena merasa tak mampu dan tak pantas menakhodai komunitas blogger luar Jawa yang terbesar ini. Karena saya bergeming, wacana menjadi mentah kembali.
Selang berbulan-bulan kemudian, dalam sebuah acara kumpul-kumpul para survivor ( saya menyebutnya begitu ) wacana tersebut mencuat kembali. Seluruh peserta acara kumpul-kumpul seperti bersekongkol menyebut satu nama meneruskan usulan Rara via telepon. Sebenarnya bukan satu, tapi tiga yaitu : Ipul, Syaifullah dan Daeng Ipul. Sama saja..!!
Get the whole story »