Category Archives: Kenangan

In Memoriam : Luthfi Al Hakim

Jarum jam bergeser sekitar 15 menit dari jam 7 malam. Saya bersama supervisi freelance dan manager pemasaran sedang berada di ruang meeting. Pertemuan dengan freelance baru saja selesai beberapa menit yang lalu, di atas meja meeting masih ada beberapa biji kroket dan jalangkote sisa konsumsi meeting. Seorang lelaki muda bertubuh ceking berbungkus sweater marna oranye muda masuk.

” Masih ada yang bisa dimakan ? ” Dia bertanya ke saya.

” Oh, itu..ambil semuami “, Jawab saya sambil mempersilakannya mengambil sebiji kroket yang tersisa.

Dia bergeming, saya dan dua orang lainnya juga tidak terlalu memperhatikannya. Kami masih sibuk membahas persiapan pameran yang sebentar lagi akan digelar. Karena lelaki itu masih bergeming, iseng saya kumat. Kroket yang tinggal satu itu saya caplok sambil senyum-senyum. Saya lupa reaksinya seperti apa, yang saya ingat dia bergerak kea rah ibu Yeyen, manager pemasaran sambil minta ijin menghabiskan jalangkote dan kroket yang ada di depan ibu manager. Dengan sopan dia meminta ijin, dan ibu manager mengijinkan. Kami masih asyik berdiskusi ketika lelaki muda itu meninggalkan ruang meeting.

” Eh, itu di mejaku masih ada dua biji. Ambil semuami..” kata saya ketika dia sudah berada di pintu. Saya kembali sibuk dengan diskusi malam itu. Selanjutnya malam berjalan seperti yang kami rencanakan.

Lelaki ceking itu bernama Luthfi Al Hakim. Kami memanggilnya dengan nama Upiq seperti yang selalu dia ucapkan kala berkenalan. Umurnya belum genap 21 tahun, di kantor kami dia bertugas sebagai seorang tenaga surveyor. Saya mengenalnya sebagai anak muda yang cerdas, kreatif dan mudah bergaul. Tak heran bila di kantor kami dia dikenal akrab di segala divisi dan segala lapisan mulai dari para OB hingga para manager. Para ibu dan bapak di kantor kami juga mengenalnya sebagai anak yang periang dan hormat meski juga kadang kritis. Singkat kata, tak pernah ada cerita buruk yang diarahkan kepadanya.

Get the whole story »

5 Partai World Cup Paling Berkesan

Tahun ini gelaran sepakbola terbesar di muka bumi ini akan digelar kembali. Tahun ini juga akan genap sudah 20 tahun sejak pertama kalinya saya mengikuti secara serius ajang piala paling prestisius bagi para pesepakbola Bumi ini. Yah, Italy 1990 adalah kenangan pertama saya untuk piala dunia. Sebelumnya, Mexico ‘86 belum cukup ampuh untuk menarik atensi saya. Saya masih berusia 9 tahun waktu itu dan arus informasi belum sederas sekarang sehingga wajar bila bagi anak-anak seumuran kami waktu itu, piala dunia belumlah jadi menu favorit. Saya dan teman-teman hanya mengenal nama-nama seperti Maradona, Burruchaga, Rummanigge dan Platini. Hanya sekedar tahu tanpa paham kehebatan mereka.

Italy’90 adalah titik mula kecintaan saya pada ajang World Cup. Pertama kalinya saya serius menahan kantuk menyaksikan tim-tim yang berlaga, meski tidak semua pertandingan berhasil saya tuntaskan. Tahun 1990 juga adalah pertama kalinya saya akrab dengan istilah-istilah sepakbola dan deretan pemain-pemain yang tak lagi sekedar saya kenal namanya tapi juga saya akrabi kemampuannya. Saya mulai tahu bagaimana liarnya Salvatore “Toto” Schillachi, bagaimana lincahnya Roberto Baggio dan Paul Gascoigne, bagaimana hebatnya Caniggia memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencetak gol , atau bagaimana si bintang baru berbakat bernama Paolo Maldini baru saja memulai langkahnya di piala dunia pertamanya. Tahun 1990 adalah titik awal, selebihnya adalah sejarah.

Tahun ini akan jadi piala dunia keenam yang-Insya Allah-saya pelototi dan selama jangka waktu itu sudah ada ratusan pertandingan yang sudah saya tonton. Di antara ratusan pertandingan itu setidaknya ada 5 partai yang akan selalu saya kenang, sebenarnya banyak partai yang pantas untuk dikenang namun bila pilihannya dikerucutkan maka setidaknya 5 partai inilah yang akan pertama keluar dari benak saya. Mari kita simak, urutannya bukan berdasarkan kadar kenangan tapi benar-benar acak :

Get the whole story »

ASYIKNYA [DIKIRA] PACARAN

Cerita ini masih ada hubungannya dengan cerita Another Day in Surabaya yang saya posting beberapa hari yang lalu.

Jadi ceritanya ketika tiba saatnya untuk mengakhiri acara di Surabaya, saya dan Ofie berpisah di depan JS Plaza. Ofie dijemput temannya ke Gubeng sementara saya menunggu tukang ojek yang mau mengantar saya ke Juanda. Kebetulan si mas tukang ojeknya adalah tukang ojek yang sehari sebelumnya juga mengantar Ofie ke Ubaya untuk test.

Tak begitu lama menunggu datanglah si tukang ojek dan perjalanan ke bandara dimulai. Seperti biasanya terjadilah percakapan antara penumpang dan tukang ojek.

” mbaknya udah pulang, mas ?” tanya si tukang ojek.

” Iya, dia ke Gubeng mau balik ke Jogja”, jawab saya,

Si mas tukang ojek nanya lagi, ” kalau mas aslinya mana ?”

Saya jawab, ” kalau saya aslinya Makassar mas, tapi istri saya aslinya Semarang ”

Tanpa saya duga si tukang ojek bertanya lagi, ” Ooohh..itu istrinya ya..? udah nikah toh ? “.

Otomatis saya jawab iyya sambil dalam hati bertanya-tanya. Benarkah si tukang ojek sama sekali tidak menyangka kalau kami sudah menikah ? kalau iyya, berarti selama 2 hari ini dia hanya menyangka kami sepasang kekasih yang menghabiskan malam di kamar hotel yang sama.

Awalnya saya sempat mengumpat dalam hati. Sialan, pikir saya. memangnya kami kelihatan seperti pasangan mesum ? enak aja. Tapi berikutnya, ada rasa senang juga dalam hati saya, artinya meski kami sudah menikah selama hampir 8 tahun dan sudah punya 2 anak tapi masih ada orang yang mengira kami sepasang kekasih. Hmmm…lumayanlah, artinya kami masih (kelihatan) muda dong.

Tahun ini, Insya Allah kami akan memasuki masa tahun kedelapan dari usia perkawinan kami. Bagi yang belum menikah atau jumlah tahun pernikahannya masih di bawah angka 5 tahun, masa 8 tahun mungkin sudah dianggap cukup lama. Tapi, bagi kami sendiri masa 8 tahun rasanya masih sangat singkat. Sampai sekarang kami masih terus belajar menjadi sepasang suami istri yang baik, menjadi orang tua yang baik dan tentu saja menjadi individu yang baik. Berkali-kali kami (terutama saya) jatuh ke dalam kubangan kesalahan, berkali-kali juga kami terseret badai dan bahkan berpikir untuk menyerah tapi syukurlah karena Allah masih terus memberi kami kekuatan untuk tetap bersama-sama melangkah seperti janji pernikahan kami.

Dari awal sebelum menikah kami sudah sepakat untuk bersama-sama menolak “menjadi tua”, kami ingin seterusnya bisa seperti sepasang kekasih yang tetap terlihat muda, ceria dan mesra meski anak-anak kami makin beranjak dewasa. Sampai sekarang setidaknya dari segi penampilan kami masih bisalah dianggap muda. Bukti terakhir ?berhasil?-nya kami tampil muda ya percakapan dengan tukang ojek di atas.

Get the whole story »

6 yang terkenang di 2009

Tahun 2009 sebentar lagi akan berlalu, tinggal hitungan hari saja. Orang-orang sudah sibuk menyusun rencana untuk malam pergantian tahun, sebagian juga sudah mulai merenung dan mengevaluasi tahun yang akan lewat dan membuat perencanaan menyambut tahun yang akan tiba. Saya pribadi tidak pernah terlalu antusias menyambut pergantian tahun. Seumur hidup saya Cuma pernah dua kali ikut acara pergantian tahun. Sekali waktu masih ABG dan sekali lagi karena terpaksa. Pernah juga saya membuat rencana dan resolusi setiap pergantian tahun tapi akhirnya lebih banyak hanya jadi catatan biasa yang tak banyak ditaati. Akhirnya saya pikir merenung dan membuat resolusi tak mesti menanti pergantian tahun, saya bisa melakukannya setiap hari, dan..pergantian tahun kembali jadi acara biasa yang tak ada bedanya dengan pergantian hari. Hanya berbeda di soal mengganti kalender saja.

Tahun inipun sama. Tak ada acara spesial dan tak ada resolusi spesial. Hanya saja hari ini saya coba membuat sesuatu yang agak berbeda. Saya ingin membagi 6 momen yang terjadi sepanjang tahun 2009 yang menurut saya punya tempat tersendiri di ingatan saya. Ini dia momen yang saya maksud :

BACKSPACER rilis resmi bulan September tahun ini.
Pearl Jam, satu-satunya survivor Seattle Sound kembali menunjukkan eksistensinya. Saat banyak orang awam bertanya apakah mereka masih eksis atau tidak, mereka dengan bangga melempar album studio kesembilan mereka di bulan sembilan tahun dua ribu sembilan ini.

Album ini juga sekaligus pembuktian kalau dari sisi musikalitas mereka semakin matang. Backspacer berisi lagu-lagu yang tak lagi mengandung kemarahan, kegelapan dan kritikan tajam. Situasi politik AS yang cenderung lebih adem pasca turunnya Bush membuat Vedder cs. sedikit melunak. Di album ini mereka menyebarkan aura positif dan optimisme lewat perenungan panjang tentang hidup dan kehidupan. Lirik dan musik yang mereka tawarkan lebih gampang dicerna kuping dibandingkan album terdahulu meski sama sekali tidak murahan. Untuk pertama kalinya juga selepas album ?Yield? mereka berhasil duduk di tangga nomor 1chart Billboard meski itu bukan tujuan mereka.

Pearl Jam tetaplah Pearl Jam. Mereka memainkan musik yang mereka suka, musik yang dipersembahkan untuk orang-orang yang menghargai mereka sebagai musisi dan manusia, bukan objek.

Koin untuk Prita.
Berawal dari sebuah keluhan lewat email dan berakhir di pengadilan negeri Tangerang. Itulah nasib yang dialami ibu Prita, seorang ibu rumah tangga biasa yang kebetulan mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari sebuah rumah sakit besar bertaraf Internasional.

Ibu Prita sempat ditahan di lembaga pemasyarakatan. Dukungan khalayak terutama yang digalang lewat dunia maya memaksa pihak pengadilan melunak dan membebaskan beliau. Tapi kasus ini tetap bergulir, nyaris tanpa menarik perhatian publik.

Perhatian baru tersedot kembali ketika ibu Prita terancam harus membayar denda Rp. 240 juta ke pihak Omni Internasional. Di sinilah para pendukung Prita, orang-orang biasa yang sudah muak dengan segala ketidakadilan di negeri ini kembali bereaksi. Awalnya hanya di dunia maya yang kemudian berlanjut ke dunia nyata. Koin-koin dikumpulkan sebagai simbol perlawanan. Hasilnya sungguh luar biasa, ditaksir nilai koin yang terkumpul mencapai Rp. 600 juta lebih yang datang dari segala penjuru negeri.

Sensasikah yang mereka cari ? Saya kira bukan. Mereka hanya berusaha menggelitik nurani kita yang sudah terlanjur lelah oleh ketidakadilan yang ada di sekitar kita. Dan Ibu Prita bukan orang terakhir yang jadi korban ketidakadilan itu.
Get the whole story »

Keseleo Lidah di TV Nasional

IMG00021-20091121-0810

Mungkin tidak banyak yang tahu, atau mungkin tidak banyak memperhatikan kalau hari sabtu (21/11) saya dapat kesempatan tampil di TV nasional, tepatnya di TvOne. Lagian saya juga tidak penting-penting amat.

Sebenarnya yang dapat tawaran untuk jadi bintang tamu di acara Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan itu adalah Aan, rekan penyair kami. Cuma karena yang akan dibahas adalah komunitas maka Aan minta kepada wakil komunitas blogger Makassar untuk menemaninya, dan hopla..saya, Iqko dan Ntan akhirnya bersedia (tentu saja) untuk menemani Aan.

Jadilah hari sabtu pagi jam 7 (sesuai arahan dari Aan) saya sudah tiba di anjungan pantai Losari tempat acara digelar. Saya datang bersamaan dengan Ntan, sementara Iqko ternyata sudah tiba duluan di lokasi. Hanya berselang beberapa menit Akmal juga merapat,lengkap dengan kaos AM dan X banner. Sejenak saya menyangka dia mau mancing karena x banner yang menyelip dari ransel persis seperti joran pancing.

Aan yang jadi pihak pengundang belum tiba di lokasi. Bergantian kami coba menghubunginya, tidak diangkat. Mungkin lagi di jalan. Sementara kru TVOne nampak sudah sibuk menyiapkan lokasi acara. Beberapa kamera sudah tertata rapi, tempat duduk untuk host dan bintang tamu juga sudah siap. Bahkan alat musik lengkap serta band yang akan tampil juga sudah mulai cek sound.

“ Rasanya koq mules…”, kata Ntan. Wajarlah..kami kan bukan orang yang biasa masuk tipi, lagian ini tv nasional dan live pula, siapa yang tidak grogi. Awalnya saya biasa-biasa saja bukan karena sudah biasa masuk tipi, tapi lebih karena belum percaya 100% kalau bakal beneran jadi bintang tamu jadi ya masih santai lah.

Tak lama kemudian yang dinanti-nantipun tiba. Aan merapat dengan gayanya yang khas, jenggot tebal dan kacamata bergagang tebal plus sweater hitam. Karena sudah lengkap, kami berinisiatif mendekat ke tenda kru TvOne sambil sekalian menikmati penampilan band Anima dan Angel Percussion yang sedang cek sound.

Acara sudah hampir dimulai, tapi kami masih tetap berstatus sebagai penonton. Belum ada tanda-tanda kami akan jadi bintang tamu. Kru dari TvOne juga tidak ada yang mendekati, sayapun mulai merasa pesimis, jangan-jangan nggak jadi nih. Rugi juga kalau sampai nggak jadi masuk tipi, soalnya pemberitahuan sudah disebar via FB plus keluarga dekat juga sudah dikasih tahu. Kalau sampai tidak jadi, pasti malu deh.

Untunglah karena beberapa detik sebelum acara dimulai Aan dapat telepon dari kru TvOne dan kamipun merapat ke area kru. Acara sudah dimulai dengan penampilan Angel Percussion ketika kami diajak untuk dirias, maklumlah wajah asli kami memang lumayan tidak pantas masuk tipi, terlalu kumuh kata Iqko. Jadi, setelah bertahun-tahun sejak terahir kali waktu menikah dulu akhirnya wajah saya kembali bertemu bedak, kali ini malah sangat tebal. Rasanya lucu juga melihat muka sendiri seabis dirias. Tiba-tiba saya jadi ingat para penghuni lapangan Karebosi jaman dulu sebelum Karebosi dibenahi ( you know what I mean, right ?)

Selesai dirias sambil menunggu dipanggil naik ke panggung utama tiba-tiba saya mulai merasa mules. Rasa nervous mulai menyerang. Kalau sebelumnya tidak terpikir sama sekali, maka kali ini saya sudah mulai membayangkan yang tidak-tidak. Mengingat ini acara live yang disiarkan ke seluruh pelosok Indonesia saya sampai membayangkan kalau sampai melakukan sesuatu hal yang bodoh di depan televisi, seluruh Indonesia bisa-bisa menertawakan saya. Pikiran itu makin kuat ketika kami dikasih aba-aba untuk mulai masuk ke panggung utama.

Get the whole story »