<?xml version="1.0" encoding="UTF-10"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daeng Gassing &#187; Jalan-Jalan</title>
	<atom:link href="http://daenggassing.com/category/jalan-jalan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daenggassing.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 06:18:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Cara Mudah dan Murah ke Makassar</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/cara-mudah-dan-murah-ke-makassar/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/cara-mudah-dan-murah-ke-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 10:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Selasa]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[TIket Pesawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2324</guid>
		<description><![CDATA[Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar sangat mahal dan kemudian merasa berat untuk datang ke ibukota Sulawesi Selatan ini. Mahal atau tidak mungkin relatif, tapi kalau mau membandingkan sesungguhnya biaya ke Makassar dari beberapa kota besar di Jawa tidak terlalu mahal. Ketika pengumuman bahwa Makassar akan jadi tuan rumah pagelaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2325" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Kapal-di-luar-Losari.jpg"><img class="size-full wp-image-2325" title="_Kapal di luar Losari" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Kapal-di-luar-Losari.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pantai Losari di Suatu Pagi</p></div>
<blockquote>
<h3>Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar sangat mahal dan kemudian merasa berat untuk datang ke ibukota Sulawesi Selatan ini. Mahal atau tidak mungkin relatif, tapi kalau mau membandingkan sesungguhnya biaya ke Makassar dari beberapa kota besar di Jawa tidak terlalu mahal.</h3>
</blockquote>
<p>Ketika pengumuman bahwa <a href="../../../../../2012/01/makassar-siap-menyambut-anda-di-kopdar-blogger-nusantara-2012/">Makassar akan jadi tuan rumah pagelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012</a>, hal pertama yang saya tekankan kepada teman-teman yang hadir di kantor IBN waktu itu adalah : <strong>mari mulai menabung</strong>. Yah, kali ini jalan menuju Kopdar Blogger Nusantara memang lebih panjang apalagi mengingat kalau sebagian besar konsentrasi peserta memang berasal dari pulau Jawa. Pertanyaan yang paling banyak saya terima dari teman-teman di Jawa adalah : <strong>mahalkah ongkos ke Makassar ?</strong></p>
<p>Seperti yang saya bilang di atas, soal mahal atau tidak itu relatif. Tapi anggaplah angka di bawah Rp. 1 juta rupiah itu tidak mahal, maka bisa dibilang ongkos ke Makassar termasuk murah untuk pergi dan pulangnya.</p>
<p>Ada dua kota besar di Jawa yang bisa jadi pilihan pintu gerbang untuk ke Makassar. Pertama tentu saja Jakarta dan yang kedua adalah Surabaya. Sebenarnya ada satu kota lagi yang menyediakan penerbangan langsung dari dan ke Makassar yaitu kota Jogjakarta, tapi karena pilihan penerbangannya tidak banyak maka otomatis harganya jadi lebih mahal.</p>
<p>Kita mulai dari Jakarta dulu. Untuk teman-teman yang berada di Jabodetabek atau bahkan Jawa Barat dan Banten, ke Makassar melalui Jakarta tentu jadi pilihan utama. ?Harga tiket pesawat untuk masa-masa tertentu sangat terjangkau. Barusan saya mengecek ke website Lion Air, dan mereka masih menyediakan tiket seharga <strong>Rp. 424.100,-</strong> untuk penerbangan <strong>tanggal 9 Nopember 2012</strong>.</p>
<div id="attachment_2326" class="wp-caption aligncenter" style="width: 636px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Screenshot-Studio-capture-013.jpg"><img class=" wp-image-2326" title="Screenshot Studio capture #013" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Screenshot-Studio-capture-013.jpg" alt="" width="626" height="197" /></a><p class="wp-caption-text">Daftar Harga Lion Air</p></div>
<p>Harga itu adalah harga promo, biasanya Lion Air melepas tiket pesawat CGK-UPG dengan kisaran harga antara Rp. 600 ribu hingga Rp. 700 ribu atau pada <em>peak season</em> mencapai harga Rp. 900 ribu. Bayangkan kalau bisa dapat tiket seharga 400an ribu itu, lumayan bolak balik hanya habis Rp. 900an ribu. Tidak terlalu mahal bukan ? Kalau teman-teman mulai menabung dari sekarang, Rp. 100rb per bulan maka pas bulan Nopember nanti uangnya sudah lebih. Tapi dengan catatan, harga promosinya masih ada.</p>
<p>Sebenarnya di saat-saat tertentu maskapai lain semisal Merpati kadang memberi promosi yang cukup gila. Tahun lalu saat berulang tahun, mereka melepas tiket ke semua jurusan dengan harga yang sama. Berkisar di harga Rp. 126.000,- bersih. Tapi untuk itu kita memang harus bergantung pada keberuntungan.</p>
<p>Nah, sekarang kita ke Surabaya. Dari dan ke ibukota Jawa Timur ini saya selalu mengandalkan Citilink. Alasannya karena harganya yang kadang sangat murah, tapi sering juga harga normal ketika musim promosi berlalu. Percaya tidak percaya, saya pernah dapat tiket UPG-SUB seharga Rp. 99.000,- plus pajak dan sebagainya total hanya Rp. 180.000,-</p>
<p>Kalau cek di website mereka, maka harga yang terpasang untuk tanggal 9 Nopember 2012 masih harga normal. Berkisar antara Rp. 200an ribu hingga Rp. 300an ribu. Masa promosi Citilink tidak bisa ditebak, kadang datang tanpa diduga. Untuk maskapai lainnya, kisaran harganya sama.</p>
<p>Teman-teman yang berada di sektiar Jawa Timur, Jogja dan Jawa Tengah bisa menuju Makassar melalui Surabaya. Tinggal mencocokkan jadwal keberangkatan dengan jadwal kereta atau bis. Ini yang biasa saya lakukan ketika mudik ke Semarang atau menuju Jogja. Relatif lebih murah tapi boros di waktu daripada langsung naik pesawat dari Semarang atau Jogja misalnya.</p>
<div id="attachment_2327" class="wp-caption aligncenter" style="width: 541px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Screenshot-Studio-capture-014.jpg"><img class="size-full wp-image-2327" title="Screenshot Studio capture #014" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Screenshot-Studio-capture-014.jpg" alt="" width="531" height="389" /></a><p class="wp-caption-text">Daftar Harga Citilink</p></div>
<p>Dari Jogja ke Makassar hanya dilayani dua maskapai, Merpati dan Express Air. Kisaran harganya antara Rp. 700an ribu hingga Rp. 900an ribu. Tapi pada saat tertentu juga memang ada promo. Saya pernah ke Jogja langsung dari Makassar dengan tiket seharga Rp. 400an ribu dan sekali waktu naik Express Air dengan harga Rp. 500an ribu.</p>
<p>Intinya memang harus rajin mengecek ke website maskapai bersangkutan, atau cara lain menjalin relasi dengan <em>travel agent</em>. Travel agent biasanya dapat diskon khusus atau promo khusus. Beberapa kali saya juga berhasil mendapatkan tiket murah karena bantuan teman-teman yang bekerja di travel agent.</p>
<p>Sebenarnya ada alternatif lain untuk ke Makassar melalui Jakarta atau Surabaya yaitu dengan menggunakan kapal laut. Tapi sepertinya cara ini tidak terlalu efektif karena boros di waktu. Jakarta-Makassar ditempuh dalam 48 jam atau dua hari sementara Surabaya-Makassar ditempuh dalam waktu 24 jam. Selain itu harganya juga tidak terlalu jauh berbeda. Terakhir saya mengecek harga tiket ekonomi dari Surabaya ke Makassar, harganya sekitar Rp. 200an ribu. Dengan selisih harga tipis dan selisih waktu yang panjang sepertinya pilihan naik pesawat jadi lebih logis.</p>
<p>Jadi, begitulah teman-teman. Mari persiapkan dana anda untuk datang ke gelaran acara Kopdar Blogger Nusantara 2012. Kalau melihat tulisan di atas teman-teman pasti setuju kalau ongkos ke Makassar tidak terlalu mahal bukan ? Lagipula sebagai tuan rumah kami pasti akan menyediakan akomodasi dan konsumsi selama rangkaian acara. Lumayan menghemat bukan ? Lagipula kami sedang menyiapkan sebuah acara yang berbeda untuk menyambut teman-teman semua di gelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012.</p>
<p>Kami menantikan teman-teman semua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[dG]</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/cara-mudah-dan-murah-ke-makassar/" title="tiket pesawat jawa makasar">tiket pesawat jawa makasar</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/cara-mudah-dan-murah-ke-makassar/" title="ongkos ke makassar">ongkos ke makassar</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/cara-mudah-dan-murah-ke-makassar/" title="jadwal kapal surabaya makassar">jadwal kapal surabaya makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/cara-mudah-dan-murah-ke-makassar/" title="jalan menuju makassar">jalan menuju makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/cara-mudah-dan-murah-ke-makassar/" title="tarif express air mks-jogja">tarif express air mks-jogja</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2324"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fcara-mudah-dan-murah-ke-makassar%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/cara-mudah-dan-murah-ke-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencicipi Alam di Bantimurung</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 16:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Selasa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Air Terjun]]></category>
		<category><![CDATA[Bantimurung]]></category>
		<category><![CDATA[Maros]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata SulSel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2275</guid>
		<description><![CDATA[Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan karst atau gunung kapur dengan gua-gua alaminya serta tentu saja air terjun yang terletak di Taman Nasional Bantimurung. Daerah yang dulu juga dikenal sebagai Kingdom Of Butterfly Minggu sore yang berawan, agak berbeda dengan hari-hari lain di bulan Januari yang biasanya dirundung hujan deras. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2276" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_3210-5.jpg"><img class="size-full wp-image-2276" title="IMG_3210-5" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_3210-5.jpg" alt="Air terjun Bantimurung" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Air terjun Bantimurung</p></div>
<blockquote>
<h3>Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan karst atau gunung kapur dengan gua-gua alaminya serta tentu saja air terjun yang terletak di <strong>Taman Nasional Bantimurung</strong>. Daerah yang dulu juga dikenal sebagai <em>Kingdom Of Butterfly</em></h3>
</blockquote>
<p>Minggu sore yang berawan, agak berbeda dengan hari-hari lain di bulan Januari yang biasanya dirundung hujan deras. Saya kembali menjejakkan kaki di Bantimurung, sekitar 50 Km sebelah utara kota Makassar. Sore itu saya berniat bertemu dengan teman-teman <strong>Blogger Maros</strong>, memenuhi undangan mereka untuk sekadar berkumpul dan berbagi.</p>
<p>Bantimurung tidak terlalu ramai meski hari itu hari minggu. Musim hujan yang sedang lucu-lucunya memang membuat orang agak enggan meluangkan waktunya menikmati liburan di alam bebas. Ketika saya datang, beberapa orang nampak mulai beranjak pulang. Beberapa baruga ( rumah serupa pendopo ) juga nampak kosong melompong, mungkin sudah ditinggal para pengunjung.</p>
<div id="attachment_2277" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_3211-6.jpg"><img class="size-full wp-image-2277" title="IMG_3211-6" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_3211-6.jpg" alt="Aliran air di sungai" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Aliran air di sungai</p></div>
<p>Air sungai nampak agak deras meski tidak terlalu tinggi. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu pernah datang ke Bantimurung tepat ketika musim hujan mencapai puncaknya, ketika itu air mengalir sangat deras dan sangat tidak mungkin untuk dinikmati. Beberapa orang nampak menikmati aliran air yang tidak terlalu deras itu, pun dengan air terjun yang masih bersahabat. Jumlahnya tak sebanyak biasanya ketika sungai selebar kira-kira 20 meter itu terasa sesak oleh pengunjung.</p>
<p>Bantimurung, setiap mendengar namanya yang terbayang di kepala saya adalah air terjun dan kupu-kupu. Saya lupa kapan tepatnya pertama kali mengunjungi tempat wisata terkenal itu. Mungkin sekitar 19 tahun lalu. Jaman kecil dulu, ketika hiburan masih sangat kurang, Bantimurung adalah tujuan favorit untuk berwisata. Saingannya tak banyak, paling-paling hanya pantai Barombong, Pulau Khayangan dan Pulau Lae-Lae.</p>
<p>Tahun berganti tahun, beragam hiburan pilihan mulai menggantikan kehadiran Bantimurung. Mall dan hiburan modern masuk dan tumbuh di kota Makassar. Perlahan-lahan Bantimurung tidak menjadi favorit lagi. Ada rentang yang lama bagi saya sebelum kembali mengunjunginya.</p>
<p>Meski bukan tujuan utama lagi, Bantimurung ternyata tetap memukau. Deretan pohon tinggi yang rapat dan mungkin berusia ratusan tahun bersanding dengan semilir angin yang sejuk, gemericik air di sungai dan tentu saja air terjunnya yang kadang deras tapi masih bersahabat. Perubahan tetap terasa memang, setidaknya saat ini sudah lebih susah mendapati kupu-kupu liar beterbangan. Lebih gampang menemukan kupu-kupu yang diawetkan dan ditaruh di dalam bingkai kaca di dekat gerbang masuk.</p>
<div id="attachment_2278" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Bantimurung.jpg"><img class=" wp-image-2278" title="Bantimurung" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/Bantimurung-1024x512.jpg" alt="Beberapa sudut Bantimurung" width="620" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Beberapa sudut Bantimurung</p></div>
<p>Bantimurung adalah <em>Kingdom Of Butterfly</em>, sebuah kerajaan bagi spesies kupu-kupu. Sebagian di antaranya tidak ditemukan di tempat lain. Perlahan kerajaan itu seperti mulai memudar kejayaannya. Memang ada penangkaran khusus buat mereka yang ingin mengabadikannya dalam bentuk kering dan berbingkai, tapi di alam liar sendiri kupu-kupu itu semakin susah dilihat dengan mata telanjang.</p>
<p>Bantimurung bukan cuma air terjun, sungai dan kupu-kupu. Luangkan waktu anda sejenak untuk sekadar menikmati gua alami yang bertebaran di sekitar taman nasional itu. Masuklah ke dalamnya dan nikmati hasil karya sang pencipta yang tergores pada stalagmit dan stalagtit yang memukau. Setidaknya ada dua gua yang bisa dijadikan tempat rekreasi di sekitar permandian alam Bantimurung.</p>
<p>Akses ke Bantimurung memang agak jauh meski tidak bisa dibilang susah. Berkendaraan pribadi atau sewaan hanya memakan waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Makassar. Jalanannya lumayan mulus meski memang tidak terlalu lebar. Dengan berkendaraan umum memang agak lama. Dari kota Makassar bisa mengambil kendaraan umum ke kota Maros, dan dari ibukota kabupaten itu menumpang kendaraan umum lagi yang akan membawa anda ke Bantimurung. Harga karcis masuknyapun tidak mahal, cukup dengan <strong>Rp. 10.000,- </strong>bagi orang dewasa.</p>
<p>Tahun berganti tahun, Bantimurung masih tetap menarik. Pemda Maros sepertinya berusaha menarik pengunjung dengan berbagai inovasi. Ada tempat untuk <em>outbound</em>, ada permainan bola air dan ada <em>flying fox</em>. Patut diacungin jempol. Bantimurung memang terlalu indah untuk dilewatkan. Merasakan segarnya aliran air sungai selepas jatuh di air terjunnya memang sungguh menggoda. Merasakan sejuknya udara yang bersih terasa seperti memberi ruang baru di paru-paru kita warga kota yang terbiasa dengan udara berpolusi.</p>
<p>Tahun berganti tahun, Bantimurung masih menjadi sebuah tempat untuk mencicipi alam dengan segala kesegarannya. Semoga untuk waktu yang lama, atau bahkan selamanya. Ayo, datang dan nikmati Bantimurung.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="air terjun bantimurung makassar">air terjun bantimurung makassar</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="bingkai lucu">bingkai lucu</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="air terjun bantimurung">air terjun bantimurung</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="bantimurung makassar">bantimurung makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/" title="berlibur ke bantimurung">berlibur ke bantimurung</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2275"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fmencicipi-alam-di-bantimurung%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/mencicipi-alam-di-bantimurung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 03:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Selasa]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Blogger Ngalam]]></category>
		<category><![CDATA[Globbers]]></category>
		<category><![CDATA[Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Oblong Merah Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2242</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di sebelah selatan Surabaya itu. Akhirnya keinginan saya terwujud juga, meski judulnya bukan jalan-jalan. Jumat jam 15:00 WIB, pesawat Sriwijaya yang saya tumpangi mendarat dengan agak kurang mulus di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Setelah ditunda selama sejam, akhirnya saya berhasil meninggalkan Cengkareng dan sejam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2243" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG-20120106-00019.jpg"><img class="size-full wp-image-2243" title="IMG-20120106-00019" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG-20120106-00019.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang</p></div>
<blockquote>
<h3>Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di sebelah selatan Surabaya itu. Akhirnya keinginan saya terwujud juga, meski judulnya bukan jalan-jalan.</h3>
</blockquote>
<p>Jumat jam 15:00 WIB, pesawat Sriwijaya yang saya tumpangi mendarat dengan agak kurang mulus di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Setelah ditunda selama sejam, akhirnya saya berhasil meninggalkan Cengkareng dan sejam kemudian mendarat di Malang. Langit Malang dirundung awan kelabu, hujan agak deras meski tidak dibarengi angin kencang. Keluar dari pesawat kami disambut beberapa petugas yang menyodorkan payung. Bandara Abdul Rachman Saleh ternyata lebih kecil dari yang saya duga. Tentu berbeda jauh dengan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.</p>
<p>Setelah menunggu cukup lama akhirnya saya meninggalkan bandara. Saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman saya pada bandara kecil itu. Ini adalah bandara kecil pertama yang saya datangi setelah selama ini hanya mendatangi bandara semacam Sultan Hasanuddin, Soekarno Hatta, Adi Sucipto dan Juanda.</p>
<p>Perlahan taksi bandara yang saya tumpangi meninggalkan bandara menuju hotel D?Fresh di bilangan Blimbing, tepatnya di Jalan Candi Trowulan. Malang lumayan ramai, itu kesan pertama yang saya tangkap. Udaranya juga sejuk apalagi karena hujan mengguyur kota itu.? Setelah sempat kebingungan, akhirnya sampai juga saya di D?Fresh. Hotel baru yang menggabungkan konsep etnik dan minimalis. Begitu tiba saya langsung tertarik dengan arsitekturnya, apalagi di dinding tangga menuju lantai dua terpasang beberapa foto legenda musik seperti Jimmi Hendrixx, Kurt Cobain, Bob Marley dan lain-lain. Belakangan saya juga melihat poster besar musisi lainnya seperti John Lennon, Freddie Mercury, Marilyn Monroe dan Michael Jackson. Suasana hotelnya nyaman, sepi dan memang cocok untuk beristirahat.</p>
<p>Tak berapa lama saya kemudian bergabung dengan rombongan dari Id Blognetwork. Ada <strong>mbak Rika, mas Verry, mas Arief EW dan ki demang Suryaden</strong>. Siang itu kami cuma makan di restoran hotel, karena belum makan sedari pagi saya memilih nasi goreng dan segelas kopi french press. Hujan mulai reda, tapi udara sejuk masih memeluk.</p>
<p>Malam mulai tiba ketika kami ke kamar dan bersiap-siap untuk makan malam. Selepas maghrib, teman-teman dari <strong>Blogger Ngalam</strong> datang menjemput. Saya dan rombongan dari IBN memang datang untuk menghadiri acara <strong>Oblong Merah Muda</strong> yang digelar teman-teman Blogger Ngalam.</p>
<p>Dari D?Fresh kami bergerak ke <strong>Grand Foodcourt Jl. Jenderal Ahmad Yani</strong>. Sebuah tempat makan yang merupakan tempat berkumpulnya beberapa warung makan top di kota Malang. Awalnya saya sempat bingung mau memilih apa dan meminta rekomendasi dari <strong>Haqqi, ketua komunitas blogger ngalam</strong> yang menemani kami malam itu.</p>
<p>&#8221; Semuanya enak koq &#8220;, Begitu kata Haqqi.</p>
<p>Baiklah, saya mulai menimbang-nimbang. Saya mencoba memilih makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya, dan pilihan jatuh pada tahu campur. Saya sudah pernah menikmati tahu campur sebelumnya, tapi mungkin sudah sekitar 10 tahun lalu, itupun di Makassar.</p>
<div id="attachment_2244" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5453-7.jpg"><img class="size-full wp-image-2244" title="IMG_5453-7" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5453-7.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Tahu Campur</p></div>
<p>Tak perlu menunggu lama sebelum makanan datang. Saya mulai mencicipi. Ah, rasanya ada yang kurang pas. <strong>Tahu campur di Malang rasanya agak manis dan gurih</strong>, berbeda dengan makanan khas Bugis-Makassar yang asin-asin. <strong>Kekurangan lainnya adalah karena tidak ada jeruk nipis</strong>, sebagai orang Makassar asli, makan makanan berkuah tanpa jeruk nipis rasanya memang agak aneh. Untung karena mas Verry yang memesan ayam bakar madu dapat jatah jeruk nipis meski kecil. Jeruk nipis punya mas Verrylah yang kemudian saya tebarkan ke tahu campur sebelum saya santap. Lumayan, ada rasa kecut yang saya rindukan.</p>
<p>Malam itu kami tidak banyak ke mana-mana, setelah makan kami mengunjungi persiapan teman-teman panitia <strong>Oblong Merah Muda di STIEM Malang</strong> dan kemudian mengunjungi barak tempat penginapan para blogger tamu yang berada di sebuah kompleks TNI AD. Malang makin terasa menggigit malam itu, dinginnya mengingatkan saya pada kota Malino, apalagi di beberap tempat pohon pinusnya juga masih banyak.</p>
<p>Malam itu saya tertidur dengan lelap.</p>
<p>Keesokan harinya agenda kami padat. Dari pagi sampai sore saya dan rombongan IBN mengikuti acara Oblong Merah Muda yang diadakan dalam rangkaian <strong>ulang tahun komunitas blogger Malang atau Globbers</strong>. Saya suka tempat pelaksanaan acaranya, berada dalam lingkungan kampus STIEM yang asri dengan beberapa pohon pinus tinggi dan udara yang sejuk. Tentang acara ini akan saya tulis tersendiri.</p>
<div id="attachment_2245" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5474-11.jpg"><img class="size-full wp-image-2245" title="IMG_5474-11" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5474-11.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Tempat acara Oblong Merah Muda</p></div>
<p>Acara berlangsung sampai sore hari sebelum akhirnya kami kembali ke hotel. Sebenarnya malam harinya kami berencana menjelajahi kuliner lainnya dari kota Malang, sayang karena hujan kemudian turun dan ternyata bukan perkara mudah mencari taksi di kota Malang. Akhirnya kamu hanya makan di restoran hotel. Di penghujung malam kami akhirnya sempat berkunjung ke barak tempat teman-teman blogger luar kota menginap.</p>
<p>Keesokan harinya, Malang lumayan cerah meski udaranya masih sejuk. Setelah mandi dan bersiap-siap kami yang sudah dijemput teman dari Blogger Malang kemudian bersiap mengikuti rangkaian acara Oblong Merah Muda hari kedua. Tapi sebelumnya kami mampir dulu menikmati salah satu kuliner terkenal dari Malang. <strong>Apalagi kalau bukan Bakso Kota Cak Man</strong>.</p>
<div id="attachment_2246" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5573-24.jpg"><img class="size-full wp-image-2246" title="IMG_5573-24" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5573-24.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Bakso Kota Cak Man</p></div>
<p>Baksonya enak, dengan beragam pilihan selain bakso. Sebenarnya di Makassar Bakso Kota Cak Man juga sudah buka cabang meski memang rasanya tentu saja tidak selezat di tanah aslinya.</p>
<p>Dari bakso Cak Man kami bergabung dengan rombongan Oblong Merah Muda yang sedang berada di <strong>museum Brawijaya</strong>. Saya sudah ketinggalan penjelasan sejarah dari guide museum dan akhirnya berkeliling sendiri di museum itu. Berbagai peninggalan sejarah militer tersimpan rapih di sana meski kelihatan sedikit berdebu. Seperti umumnya museum di Indonesia, museum Brawijaya juga terlihat agak kumuh dan kurang menarik. Ini memang masalah klasik museum di negeri kita.</p>
<p>Selepas dari museum kami beranjak ke <strong>restoran Inggil.</strong> Sebuah restoran yang konsepnya sangat menarik. <strong>Gabungan antara museum dan restoran</strong>. Saya yang penggemar sejarah dan barang-barang lama merasa sangat betah melihat koleksi restoran berupa poster tua, mesin jahit tua, radio tua, perangko tua dan banyak lagi.</p>
<div id="attachment_2247" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5671-38.jpg"><img class="size-full wp-image-2247" title="IMG_5671-38" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5671-38.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu sudut Restoran Inggil</p></div>
<p>Sayangnya saya tidak bisa lama-lama. Jadwal pesawat jam 21:00 dari Surabaya memaksa saya dan Rara untuk buru-buru meninggalkan acara. Macet di Porong tidak terduga katanya, dan kami tentu saja tidak mau ketinggalan pesawat. Setelah berpamitan dengan panitia dan teman-teman blogger lainnya, kami meluncur ke hotel untuk siap-siap pulang.</p>
<p>Tiga hari dua malam di Malang rasanya tentu belum cukup. Masih banyak hal lain yang harus saya jelajahi di Malang. Kunjungan perdana itu kemudian membuat saya bertekad untuk kembali lagi ke sana, tentunya dengan alasan yang lain, jalan-jalan.</p>
<p><strong>Malang, saya akan kembali..!! </strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="bandara abdul rachman saleh malang">bandara abdul rachman saleh malang</a> (23)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="bandara abd saleh malang">bandara abd saleh malang</a> (9)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="Bandara Abdul Rachman Saleh">Bandara Abdul Rachman Saleh</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="bandara malang 2012">bandara malang 2012</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/" title="Bandara baru Abdurrahman saleh malang">Bandara baru Abdurrahman saleh malang</a> (4)</li></ul><div class="shr-publisher-2242"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fmalang-yang-belum-sempat-dijelajahi%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/malang-yang-belum-sempat-dijelajahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/mie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/mie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 01:31:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Mie Anto]]></category>
		<category><![CDATA[Mie Awa]]></category>
		<category><![CDATA[Mie Kering]]></category>
		<category><![CDATA[Mie Titi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2212</guid>
		<description><![CDATA[Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya menyerupai Ifu Mie tapi agak berbeda di rasa dan penyajian. Januari adalah bulan yang akrab dengan hujan, apalagi kota Makassar yang dikenal bercurah hujan tinggi. Ketika puncaknya tiba, bisa saja kota ini diguyur hujan seminggu penuh dan nyaris tanpa henti. Ketika hujan jadi sahabat akrab, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2213" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5050-1.jpg"><img class=" wp-image-2213" title="_IMG_5050-1" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_5050-1.jpg" alt="Mie Kering" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu pilihan mie kering</p></div>
<blockquote>
<h3>Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya menyerupai Ifu Mie tapi agak berbeda di rasa dan penyajian.</h3>
</blockquote>
<p>Januari adalah bulan yang akrab dengan hujan, apalagi kota Makassar yang dikenal bercurah hujan tinggi. Ketika puncaknya tiba, bisa saja kota ini diguyur hujan seminggu penuh dan nyaris tanpa henti. Ketika hujan jadi sahabat akrab, biasanya makanan akan jadi pelengkap mengusir rasa dingin yang dibawa sang hujan. Bila anda di Makassar, <strong>salah satu pilihannya adalah mie kering</strong>.</p>
<p>Mie kering ini adalah makanan dengan bahan utama mie yang dikeringkan hingga kriuk-kriuk menyerupai kerupuk. Kemudian mie akan disiram dengan kuah kental yang berisi beragam daging mulai dari daging bakso, daging ayam dan terkadang sea food sesuai selera. isi kuah yang lain adalah sayuran berupa sawi. Aroma bawang putihnya akan sangat terasa. Selepas disiram kita bisa mencampurkan sambal, merica atau pelengkap lainnya. Rasanya ? Jangan tanya deh. Sungguh nikmat dan pas untuk melewatkan cuaca dingin.</p>
<p>Mie ini biasanya disajikan dalam dua pilihan, porsi kecil atau porsi besar. Sebenarnya perbedaannya tidak terlalu signifikan antara porsi besar ataupun porsi kecil, tapi bagi anda yang tidak biasa makan dalam porsi yang banyak maka porsi kecil bisalah untuk jadi pilihan. Beberapa teman dari Jawa yang datang ke Makassar dan sempat mencicipi mie kering selalu merasa kesulitan menghabiskan mie kering dalam porsi besar. Jadi, bila makan untuk pertama kali saya sarankan anda mencoba porsi kecil dulu. Harga porsi besar berkisar antara Rp. 16.000 ? Rp. 20.000, sedang porsi kecil biasanya lebih murah Rp. 2.000,-</p>
<p>Mie kering ini adalah makanan khas warga chinese Makassar. Mungkin di berbagai kota lainnya juga ada makanan yang sama dengan nama yang berbeda atau malah dengan rasa yang agak berbeda.</p>
<p>Di Makassar ada banyak pilihan untuk menikmati Mie Kering. Yang paling tekenal adalah yang bernama <strong>Mie Titi.</strong> Gerai ini awalnya hanya buka di Jl. Irian, itupun baru mulai buka selepas maghrib hingga jauh malam. Pengunjungnya makin ramai ketika malam makin larut. Sekarang Mie Titi sudah buka cabang di beberapa tempat dengan model gerai yang lebih luas, bersih dan modern. Jam bukanyapun sudah mulai dari jam makan siang. Saking terkenalnya, Mie Titi sempat menjadi merek generik untuk mie kering jenis apa saja yang ada di Makassar.</p>
<p>Selain Mie Titi, mie kering tekenal lainnya adalah mie kering milik gerai <strong>Mie Awa di Jl. Pattimura</strong> dan <strong>Mie Anto di? Jl. Bali</strong>. Sekarang ada banyak tambahan mie kering lainnya yang baru buka meski rasanya memang bisa saja sangat berbeda.</p>
<p>Itulah teman-teman, bila berkunjung ke Makassar di musim hujan seperti ini dan anda terjebak di udara dingin yang membuat lapar, maka saran saya segeralah merapat ke gerai mie kering terdekat. Pesan satu porsi dan beri sambal yang banyak. Nikmatilah kelezatan dan kehangatannya. Slurrrppp..!!</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan/" title="mie titi">mie titi</a> (15)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan/" title="mie titi di surabaya">mie titi di surabaya</a> (10)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan/" title="mie kering">mie kering</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan/" title="mie titi makassar">mie titi makassar</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/mie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan/" title="cara membuat mie kering">cara membuat mie kering</a> (3)</li></ul><div class="shr-publisher-2212"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fmie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/mie-kering-pilihan-pas-di-kala-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menebar Paku Di Jalanan Makassar</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 05:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Baliho]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Pakui]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2193</guid>
		<description><![CDATA[Makassar termasuk sial, kotanya dianggap sebagai galeri memajang wajah para calon pemimpin bahkan jauh sebelum masa pilkada. Sayangnya, tidak semua pajangan wajah itu punya elemen visual menarik. Ada yang bahkan sangat norak. Suatu hari kami kedatangan tamu sahabat blogger dari Kalimantan. Ketika mendaratkan kakinya di kota Makassar dia bercerita soal keheranannya melihat kota ini disesaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2194" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/12/Pakui1.jpg"><img class="size-full wp-image-2194" title="Pakui1" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/12/Pakui1.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pakui yang fenomenal itu</p></div>
<blockquote>
<h3>Makassar termasuk sial, kotanya dianggap sebagai galeri memajang wajah para calon pemimpin bahkan jauh sebelum masa pilkada. Sayangnya, tidak semua pajangan wajah itu punya elemen visual menarik. Ada yang bahkan sangat norak.</h3>
</blockquote>
<p>Suatu hari kami kedatangan tamu sahabat blogger dari Kalimantan. Ketika mendaratkan kakinya di kota Makassar dia bercerita soal keheranannya melihat kota ini disesaki oleh baliho penuh wajah menebarkan senyum. Menjelang pilkadakah ? tanyanya. Ketika kami jawab tidak, dia tentu makin heran. Belum menjelang pilkada saja kota ini sudah penuh dengan baliho, bagaimana kalau menjelang pilkada ya ? Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.</p>
<p>Dengan berat hati saya memang mau bilang kalau kota Makassar sekarang ini terasa sangat sesak oleh ragam baliho penuh wajah-wajah sok kenal dan sok ramah. Mereka adalah orang-orang yang mengintip peluang untuk maju menjadi pemimpin. Tahun 2013 Sulawesi Selatan akan menggelar pilkada gubernur, setelah itu akan digelar pilkada walikota untuk kota Makassar. Masih setahun lebih, tapi keramaiannya sudah mulai dari sekarang.</p>
<p>Sayangnya, tidak semua pameran wajah itu enak dipandang. Beberapa waktu belakangan ini ada sebuah baliho yang mengundang perhatian dari banyak warga Makassar. Salah satu alasan kenapa menarik perhatian adalah karena jargon dan desainnya. Jargonnya terdengar aneh dan desainnya terkesan norak. Baliho itu disebut orang baliho <strong>PAKUI </strong>merujuk kepada jargon utama yang diusungnya.</p>
<div id="attachment_2195" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/12/pakui2.jpg"><img class="size-medium wp-image-2195" title="pakui2" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/12/pakui2-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Desainnya yang aneh</p></div>
<p>Pakui, dalam bahasa Indonesia logat Makassar berarti memaku. Dalam baliho itu, PAKUI adalah akronim dari 5 kata yang anehnya merupakan kata gabungan dari bahasa Inggris dan Indonesia. <strong>Prayer, Attitude, Komitmen, Ulet dan Inspirasi</strong>. Bagaimana ? Anda sudah menemukan kelucuan ?</p>
<p>Baliho ini dibuat oleh pendukung <strong>Bahar Ngitung</strong>, seorang anggota DPD RI utusan dari Sulawesi Selatan. Tujuannya selain memperkenalkan diri adalah untuk memberikan dukungan kepada Syahrul Yasin Limpo, gubernur <em>incumbent</em> yang sebentar lagi akan maju ke pertarungan SulSel1 tahun 2013 nanti.</p>
<p>Salah satu ciri khas dari Bahar Ngitung ini adalah akronim yang digunakannya yaitu ; <strong>OBAMA</strong> singkatan dari <strong>Om Bahar Mantap</strong>. Saya tahu anda mulai geli, tapi tahan dulu karena kegelian anda mungkin masih akan berlanjut. Obama yang satu ini memang memanfaatkan momen pemilihan presiden AS waktu itu. Dengan akronim Obama yang dipaksakan dia juga mengusung jargon HOPE, persis seperti Obama yang asli. Bahkan waktu itu beberapa materi kampanyenya juga menjiplak materi kampanye Obama.</p>
<p>Tapi lupakan soal itu, kita kembali ke PAKUI yang fenomenal ini. ?Coba anda lihat desain keseluruhannya. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia desain saya langsung bisa merasa kalau baliho ini membingungkan. Tidak ada satu gambar atau elemen yang menjadi point of interest (POI), semua terkesan berlomba menjadi pusat perhatian.</p>
<div id="attachment_2196" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/12/pakui4.jpg"><img class="size-medium wp-image-2196" title="pakui4" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/12/pakui4-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Bagian Atas PAKUI</p></div>
<p>Baliho ini dibuka dengan foto Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent yang sedang meretas jalan untuk kembali menjadi gubernur di pilkada nanti. Foto SYL di sebelah kiri dan di sebelah kanan tulisan pujian berbunyi : <strong>Pemimpin yang berhasil membawa Sul-Sel terbaik di Indonesia</strong>. Tolong jangan tanya saya terbaik dari segi apa karena saya sendiri tidak tahu dan belum pernah menemukan fakta soal itu.</p>
<p>Berikutnya ada gambar sang Obama Makassar yang sedang memaku menggunakan pakaian adat. Gambar ini muncul dalam berbagai varian. Selain berpakaian adat, sang Obama juga muncul dengan kaos dan kemeja. Gambar ini sebenarnya bisa menjadi POI, sayangnya karena di belakang sang Obama ada sebatang paku super besar yang terlihat mengintimidasi sehingga kesannya jadi numpuk.</p>
<p>Kemudian di bagian bawah ada tulisan <strong>PAKUI </strong>yang jadi jargon utama baliho tersebut. Bagian paling bawah ada tulisan : <strong>DON?T STOP KOMANDAN !!</strong> ini adalah jargon lain dari sang gubernur <em>incumbent </em>Syahrul Yasin Limpo. Jelas sudah kalau om Bahar yang mantap ini mendukung Syahrul Yasin Limpo untuk maju kembali menjadi gubernur. Tapi rupanya om Bahar kita ini masih kurang percaya diri hanya dengan sekadar menuliskan jargon khas tuannya karena dia merasa perlu untuk menuliskan inisial sang pujaan di bagian bawah.</p>
<p>Setelah itu baliho ini ditutup dengan gambar berbatang-batang paku yang berserakan di bagian bawah. Lengkap sudah !!</p>
<div id="attachment_2197" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/12/pakui3.jpg"><img class="size-full wp-image-2197" title="pakui3" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/12/pakui3.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Bagian Bawah PAKUI</p></div>
<p>Saya jadi bertanya-tanya, pesan apa yang ingin disampaikan sang Obama ini ? Pesan kalau dia jago memancangkan paku ? Pesan kalau dia senang menebar paku ? Atau mungkin ada pesan tersembunyi yang hanya bisa dipecahkan a la Da Vinci Code ? Kalau dia ingin memamerkan 5 hal yang jadi kepanjangan dari PAKUI yaitu ; <strong>Prayer, Attitude, Komitmen, Ulet dan Insipirasi</strong> maka saya harus bilang kalau dia tidak berhasil. Lagipula, apa sih maksud dari kelima kata itu ? Siapa yang dimaksud ? Sang Obama atau sang tuan yang mau maju jadi gubernur lagi ?</p>
<p>Yah, dengan berat hati untuk anda yang tidak berada di Makassar saya peringatkan kalau ke Makassar sekarang ini maka berhati-hatilah dengan paku yang bertebaran di sepanjang jalan kota Makassar. Paku yang bukan membuat ban kendaraan anda bocor tapi mungkin membuat kening anda berkerut. Syukur-syukur kalau anda bisa tersenyum geli.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/" title="PAKUI">PAKUI</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/" title="makassar">makassar</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/" title="gambar obama untuk makassar">gambar obama untuk makassar</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/" title="design baliho dont stop komandan">design baliho dont stop komandan</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/" title="berita yang menarik perhatian di makassar">berita yang menarik perhatian di makassar</a> (3)</li></ul><div class="shr-publisher-2193"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F12%2Fmenebar-paku-di-jalanan-makassar%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/12/menebar-paku-di-jalanan-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 03:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Anging Mammiri]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Takabonerate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2056</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat, sudah lebih dari tujuh jam lamanya kami berada di atas kapal kayu Cahaya Illahi yang mengantarkan kami ke pulau Jinato. Jinato yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate memang menjadi pusat penyelenggaraan Takabonerate Island Expedition, jadi semua rombongan memang diarahkan ke sana. Pulau ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2057" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4743.jpg"><img class="size-full wp-image-2057" title="IMG_4743" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4743.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Pulau Tinabo ; Takabonerate</p></div>
<blockquote>
<h3><strong>Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan <a href="../../../../../2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/">bagian 1</a></strong></h3>
</blockquote>
<p>Malam kian pekat, sudah lebih dari tujuh jam lamanya kami berada di atas kapal kayu <strong>Cahaya Illahi</strong> yang mengantarkan kami ke pulau Jinato. Jinato yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate memang menjadi pusat penyelenggaraan <strong>Takabonerate Island Expedition</strong>, jadi semua rombongan memang diarahkan ke sana. Pulau ini lumayan besar dengan penduduk sekitar 100an KK. Sebagian besar penduduknya berbahasa bugis karena memang asalnya kebanyakan dari kabupaten Sinjai. Dari segi ekonomi, pulau ini terlihat maju. Terbukti dari deretan rumah batu dengan arsitektur yang lumayan modern, ditambah beberapa antena parabola di halaman rumah warga.</p>
<p>Malam itu air laut sedang surut sehingga kapal besar Cahaya Illahi tidak bisa merapat. Kami terdampar cukup jauh dari daratan, penumpangpun akhirnya harus ditransfer ke perahu-perahu kecil untuk bisa mencapai daratan. Proses untuk naik ke kapal kecil dan mencapai daratan tidak mudah. Malam yang gelap membuat proses perpindahan jadi agak sulit dan ketika berhasil naik ke perahu kecil itu, suasana menegangkan kembali terasa. Sang nakhoda hanya mengandalkan perasaan dan sebuah senter yang lebih sering padam.</p>
<p>Akhirnya setelah sempat berdebar-debar, kami tiba juga di dermaga pulau Jinato dan disambut puluhan anak SD berseragam pramuka. Seumur hidup, baru kali ini saya disambut anak-anak SD, rasanya seperti seorang pejabat penting. Meski begitu saya kasihan juga pada anak-anak itu, sudah jauh malam tapi mereka tetap harus terjaga menyambut kami, lengkap dengan seragam pula.</p>
<div id="attachment_2058" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4596.jpg"><img class="size-medium wp-image-2058" title="IMG_4596" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4596-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Anak-anak SD yang menyambut kami</p></div>
<p>Di rumah kepala desa, kami yang termasuk dalam rombongan pejabat kabupaten kepulauan Selayar juga dijamu layaknya tamu penting. Anak-anak SD sudah siap dengan karton ukuran A4 yang berisikan nama dinas. Merekalah para pemandu yang mengantar kami ke rumah penduduk tempat kami diinapkan. Di karton yang dipegang anak-anak SD itu ada tulisan Tim Penggerak PKK, Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, Bappeda, dan lain-lain. Bangga juga ketika melihat sebuah karton bertuliskan <strong>BLOGGER</strong> bersanding dengan nama-nama dinas kepemerintahan itu, meski kami yakin mereka tidak paham apa itu blogger.</p>
<p>Setelah berbasa-basi sejenak, kami kemudian diantar ke rumah pak Asfar, lelaki muda dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Malam itu kami akan beristirahat di rumah beliau. Pagi harinya kami berencana menyeberang ke <strong>pulau Tinabo</strong>, pulau yang jadi pusat pemberdayaan wisata di<a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/">Taman Nasional Takabonerate. </a>Seperti biasa, tidur jadi pilihan terakhir. Kami masih sempat duduk di teras rumah batu itu dan ngobrol sampai menjelang subuh.</p>
<p>Pagi harinya tanpa sempat mandi meski sempat sarapan di rumah pak Asfar, kami langsung menuju <a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/">pulau Tinabo</a> dengan menumpang sebuah kapal yang lumayan besar. Perjalanan dari Jinato ke Tinabo ditempuh dalam waktu 2 jam, berarti ini kali ketiga kami melintasi lautan untuk waktu yang cukup panjang. Sampai hari kedua sudah 3 jenis kapal yang kami gunakan. Kapal feri, perahu kayu besar dan yang ini perahu kayu sedang. Itu tentu saja belum termasuk dua perahu kecil yang kami pakai ketika menyeberang ke Gusung dan naik ke daratan dari kapal motor Cahaya Illahi.</p>
<div id="attachment_2059" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4658.jpg"><img class="size-full wp-image-2059" title="IMG_4658" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4658.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana di atas kapal menuju Tinabo</p></div>
<p>Sekali lagi kami beruntung karena di bulan November ini cuaca masih sangat bersahabat. Langit cerah sedikit berawan, dan ombak tenang membuai. Perjalanan betul-betul melenakan. Hamparan laut berwarna biru tua berpadu dengan biru langit dan awan yang putih. Sesekali kami mendapati rombongan ikan terbang yang melintas menjauhi kapal. Cahaya matahari membias dan kadang terpantul sempurna di atas laut. Meski kadang merasa kepanasan, tapi semilir angin laut terasa sangat menyegarkan. Sungguh sebuah pemandangan yang tak membosankan. Laut di sekitar kamipun tidak sepenuhnya berwarna biru tua, kadang berwarna hijau tosca. Kadang kami bisa melihat langsung dasar laut yang dipenuhi <em>soft coral</em> , karang dan ikan-ikan hias. Rasanya sudah tidak sabar untuk menceburkan diri.</p>
<p>Akhirnya, setelah 2,5 jam kemudian sebuah pulau indah tampak di depan mata. Dari kejauhan pulau dengan pasir putih bersih itu sudah terlihat menggoda. Itulah pulau Tinabo yang jadi pulau utama untuk kawasan wisata di Taman Nasional Takabonerate.</p>
<div id="attachment_2060" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4688.jpg"><img class="size-full wp-image-2060" title="IMG_4688" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4688.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Pulau Tinabo</p></div>
<p>Kami disambut beberapa orang staff Taman Nasional Takabonerate yang memang sudah menantikan kami. Sambutan ramah mereka bersanding sempurna dengan keindahan pulau kecil di selat Flores itu. Kami jadi heboh sendiri ketika melihat ribuan ikan yang bergerombol tidak jauh dari dermaga. Pun ketika kami melihat sendiri betapa jernih air lautnya sehingga pasir putih dan karangnya terlihat sempurna.</p>
<p>Karena sudah tidak sabar untuk mencicipi laut Tinabo, kami jadi tidak membuang-buang waktu. Hanya menaruh tas, menikmati suguhan teh panas dan langsung mencebur. Airnya sungguh jernih, dan pasirnya halus serupa bedak. Bila berdiri di garis pantai maka akan terlihat jelas perpaduan warna yang memikat. Pasir putih kekuningan, air laut jernih berwarna hijau tosca, air laut berwarna biru tua, langit biru cerah dan awan putih bersih. Sungguh perpaduan yang menenangkan.</p>
<div id="attachment_2061" class="wp-caption alignleft" style="width: 249px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_0158.jpg"><img class="size-full wp-image-2061" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_0158.jpg" alt="" width="239" height="179" /></a><p class="wp-caption-text">Alam bawah laut pulau Tinabo</p></div>
<p>Kami juga beruntung karena mendapat pinjaman kamera bawah laut sehingga kami bisa mengabadikan pemandangan di bawah sana yang sungguh memikat. Termasuk tentu saja mengabadikan gaya dan ekspresi ketika berada di bawah laut. Sebenarnya kami mendapat tawaran untuk mencoba menyelam menggunakan alat, tapi sayang karena kami tidak membawa persiapan dana sehingga tawaran seharga Rp. 400.000,- itu tidak kami sambut. Hanya Daeng Syamsoe seorang yang kemudian mencoba untuk diving.</p>
<p>Selama tiga jam berada di laut pulau Tinabo, kami tidak? bosan-bosannya mencoba mengintip keindahan bawah lautnya meski hanya dengan berbekal alat <em>snorkle</em>. Saya bisa membayangkan, dengan alat sederhana itu saja kami sudah terpukau sedemikian rupa, bagaimana kalau misalnya kami benar-benar bisa mengintip sampai jauh ke dalam sana ya ?</p>
<p>Menurut pak <strong>Nadzrun Jamil</strong> yang juga adalah <strong>kepala seksi pengelolaan Taman Nasional Takabonerate wilayah 1</strong> itu, Tinabo memang jadi pusat untuk kegiatan wisata di Takabonerate. Di antara 21 pulau yang termasuk dalam gugusan Taman Wisata Takabonerate, Tinabolah yang dikelola secara serius untuk menjadi tujuan wisata. Di sana ada beberapa kamar untuk para pengunjung, termasuk tentu saja paket diving.</p>
<div id="attachment_2062" class="wp-caption alignleft" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4754.jpg"><img class="size-full wp-image-2062" title="IMG_4754" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4754.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Tinabo oh Tinabo</p></div>
<p>Sayangnya, infrastruktur memang kurang mendukung. Untuk mencapai pulau Tinabo dari Selayar harus menyewa kapal karena tidak ada perjalanan reguler ke sana. Biaya sewa kapal milik nelayan bisa mencapai angka Rp. 2 juta sekali jalan. Biaya paket wisata di Tinabo di luar sewa kapal itu sendiri seharga Rp. 1 juta rupiah per hari per orang, termasuk biaya penginapan, makan dan paket diving. Sedangkan bila hanya berkunjung dan snorkling, biaya yang dipasang adalah sebesar Rp. 2.500 untuk retribusi dan Rp. 40.000 untuk snorkling.</p>
<p>Ketiadaan infrastruktur ini memang jadi penghambat berkembangnya wisata bahari di Takabonerate. Padahal menurut pak Jamil, kawasan Takabonerate yang termasuk atol terbesar ketiga di dunia ini punya banyak potensi yang unik. Gugusan karangnya berbeda dengan Bunaken misalnya. Bila di Bunaken gugusan karangnya membentuk dinding, maka di Takabonerate khususnya di daerah Tinanja karangnya berbentuk padang dengan <em>soft coral</em> yang berwarna-warni.</p>
<p>Sampai saat ini koordinasi memang belum berjalan dengan baik antara pihak pengelola taman nasional yang berada langsung di bawah departemen kehutanan dengan pihak pemerintah daerah kabupaten kepulauan Selayar. Koordinasi yang masih berantakan inilah yang membuat kawasan taman nasional yang ditetapkan sejak tahun 2001 ini kalah pamor dibanding kawasan yang sama di Wakatobi. Padahal menurut pak Jamil, semua punya keunikan yang berbeda dan sama menariknya.</p>
<p>Biaya yang mahal untuk mengunjungi <a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/">Tinabo</a> jelas membuat orang berpikir dua kali. Dengan biaya yang lebih murah orang sudah bisa berada di Bunaken, atau malah di Wakatobi. Sayang sekali, pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar masih terlihat kurang greget dalam mengelola potensi wisatanya. Padahal seperti yang kami lihat sendiri, Tinabo memang seperti sepotong surga yang diturunkan ke bumi. Alamnya indah, di daratan maupun di bawah laut.</p>
<p>Sekali lagi, Tinabo jadi bukti bagaimana pemerintah kita selalu kesulitan mengembangkan dan mempromosikan potensinya. Tidak heran kita kalah dari negara tetangga dalam urusan wisata. Mereka lebih serius mengelola potensi wisata mereka sehingga menarik perhatian para turis dalam maupun luar negeri.</p>
<p>Sore menjelang pukul 4 kami meninggalkan pulau Tinabo menuju daratan pulau Selayar. Rasanya berat harus meninggalkan pulau indah itu. Rasanya belum puas menikmati sepotong surga di kaki pulau Sulawesi itu, tapi apa boleh buat. Kami harus kembali. Di kapal menuju Selayar saya merasa miris, miris membayangkan betapa sebuah potensi yang sangat besar itu tidak dikelola secara profesional. Sungguh sayang.</p>
<p><strong><em>foto-foto lain bisa dilihat di album <a href="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150411232869817.380367.520064816&amp;type=3">Facebook </a>saya, atau di album <a href="http://www.flickr.com/photos/8914852@N06/sets/72157628073864591/">Flickr</a></em></strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="takabonerate">takabonerate</a> (18)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="taka bonerate">taka bonerate</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="TAMAN WISATA TAKABONERATE">TAMAN WISATA TAKABONERATE</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="pulau takabonerate">pulau takabonerate</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/" title="atol takabonerate">atol takabonerate</a> (5)</li></ul><div class="shr-publisher-2056"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F11%2Ftakabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-2-tinabo-sepotong-surga-di-selatan-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takabonerate Bag.1 ; Jalan Panjang Menuju Surga</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 01:21:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau]]></category>
		<category><![CDATA[Taka Bonerate]]></category>
		<category><![CDATA[Takabonerate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2045</guid>
		<description><![CDATA[Kata orang, jalan ke surga itu panjang dan berliku. Sebuah berita menyenangkan menghampiri kami. Komunitas blogger Makassar mendapat undangan untuk mengunjungi Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar bertepatan dengan penyelenggaraan acara Takabonerate Island Expedition (TIE) yang ketiga. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya dan 8 orang rekan lainnya langsung mempersiapkan diri menuju sebuah kawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2046" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4186.jpg"><img class="size-full wp-image-2046 " title="IMG_4186" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4186.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan dari dermaga penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba</p></div>
<blockquote>
<h3>Kata orang, jalan ke surga itu panjang dan berliku.</h3>
</blockquote>
<p>Sebuah berita menyenangkan menghampiri kami. Komunitas blogger Makassar mendapat undangan untuk mengunjungi Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar bertepatan dengan penyelenggaraan acara <strong>Takabonerate Island Expedition (TIE) </strong>yang ketiga. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya dan 8 orang rekan lainnya langsung mempersiapkan diri menuju sebuah kawasan wisata laut yang sebenarnya memang sudah lama membuat saya penasaran.</p>
<p>Perjalanan dimulai dari terminal bis Mallengkeri, Makassar sekitar jam 9 pagi. Terminal bis yang berada di selatan kota Makassar ini memang menghubungkan Makassar dengan kabupaten lainnya yang berada di sebelah selatan kota, termasuk Selayar tentu saja. Sebuah bis besar mengantar kami di cuaca pagi yang sedikit berawan itu.</p>
<p>Meski termasuk besar dan sekelas dengan bis patas AC di pulau Jawa, tapi bis Aneka yang kami tumpangi ternyata tidak cepat dan tidak terbatas. Laju bis ?tidak terlalu cepat, bahkan beberapa kali mampir untuk mengambil penumpang meski kursi reguler sudah terisi penuh. Akhirnya ?penumpangpun sesak dan bahkan ada yang duduk di lorong antara deretan kursi.</p>
<p>Sekitar pukul 4 sore atau 7 jam kemudian kami tiba di terminal penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba. Selayar adalah sebuah pulau besar di Selatan pulau Sulawesi, dan untuk menyeberang ke sana kami harus menggunakan jasa kapal feri yang berlayar dua kali sehari menghubungkan pulau Selayar dengan pulau Sulawesi.</p>
<p>Kapal feri agak terlambat dari jadwal, kami baru berangkat sekitar satu jam kemudian dan selama kurang lebih 2,5 jam kemudian kami habiskan di atas kapal feri. Ini pengalaman pertama saya menumpang kapal feri, dan hampir tidak ada bedanya dengan kapal penyeberangan lainnya selain karena kapal feri memang lebih banyak memberi ruang untuk kendaraan bermotor.</p>
<div id="attachment_2047" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4244.jpg"><img class="size-full wp-image-2047 " title="IMG_4244" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4244.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Sunset dari atas Feri</p></div>
<p>Setelah perjalanan sekitar 2,5 jam melintasi lautan dan sempat menikmati sunset dari atas feri, kami akhirnya menginjakkan kaki di tanah Selayar. Tapi perjalanan belum selesai karena kami masih harus menuju kota Benteng, ibukota kabupaten kepulauan Selayar. Jarak dari dermaga penyeberangan ke kota Benteng ternyata lumayan jauh, total sekitar 1,5 jam kami habiskan sebelum sampai di terminal kota Benteng.</p>
<div id="attachment_2048" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4323.jpg"><img class="size-medium wp-image-2048" title="IMG_4323" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4323-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Tinabo Dive Center</p></div>
<p>Perjalanan jauh dengan waktu tempuh sampai 12 jam lebih itu akhirnya pungkas juga ketika kami tiba di pusat kota Benteng. Setelah mengisi perut dan mengunjungi <strong>Tinabo Dive Center</strong>, kami beranjak menuju rumah Kadis Pariwisata kabupaten kepulauan Selayar. Di sana kami berbincang sejenak sekaligus berdiskusi soal kondisi taman nasional Takabonerate, tentang sebuah kawasan dengan atol terbesar ketiga di dunia tapi sampai saat ini masih belum dikelola dan dipromosikan secara optimal.</p>
<p>Malam sudah cukup larut ketika kami pamit dari rumah bapak kepala dinas dan menuju penginapan yang sudah disiapkan beliau. Hanya sejenak menaruh barang bawaan dan membasuh muka, kami sudah langsung menuju <strong>caf? Tempat Biasa (TB).</strong> Sebuah kafe yang berdiri atas inisiatif beberapa pecinta laut, sekaligus jadi tempat berkumpulnya para diver dalam naungan <strong>Sileya Dive Center</strong>. Di sana kami banyak berbincang tentang Takabonerate, sekaligus menggali banyak informasi tentang sebuah kawasan yang begitu indah namun seperti terlupakan itu.</p>
<h3><strong>Gusung dan Perjalanan Panjang Ke Jinato</strong></h3>
<p>Seperti umumnya orang liburan, tidur selalu jadi pilihan akhir. Saya yang sekamar dengan <strong><a href="http://lelakibugis.net/">Lelakibugis</a> </strong>dan <strong><a href="http://cikal61.blogspot.com/">Cikal</a> </strong>masih sempat ngobrol sampai menjelang subuh sebelum akhirnya memejamkan mata. Pagi itu kami menjadwalkan akan mengunjungi sebuah pulau di seberang Selayar bernama <strong>Gusung</strong>. Menurut informasi, di sana ada <em>spot </em>keren untuk snorkling.</p>
<div id="attachment_2049" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4357.jpg"><img class="size-medium wp-image-2049" title="IMG_4357" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4357-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Perahu cadik yang mengantar kami ke Gusung</p></div>
<p>Dengan perahu cadik yang memuat sampai 11 orang, kami akhirnya menyeberang. Cuaca sangat mendukung, awan menggantung di atas dan menutupi matahari sehingga kami bisa menikmati perjalanan menyeberang yang memakan waktu hampir 30 menit itu.</p>
<p>Sayang sekali karena pagi itu air laut rupanya surut sangat jauh, sehingga <em>spot</em> yang dimaksud jadi tidak terlihat. Akhirnya kami cuma jalan-jalan mengitari pulau yang meski sangat luas namun hanya dihuni sekitar 200an KK itu. Hal yang cukup menghibur adalah banyaknya lukisan alam yang bisa saya abadikan dengan kamera.</p>
<p>Menjelang jumatan, kami akhirnya kembali ke Selayar. Bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya yang merupakan inti dari perjalanan panjang ini.</p>
<div id="attachment_2051" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4456.jpg"><img class="size-full wp-image-2051" title="IMG_4456" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4456.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Pemandangan indah di pulau Gusung</p></div>
<p>Selepas jumatan dan mengisi perut, kami bergegas ke <strong>dermaga Rauf Rahman</strong> yang berada dalam kota Benteng. Di sana sudah ada sebuah kapal kayu besar yang bisa memuat 200an penumpang. Kapal inilah yang akan kami gunakan untuk menyeberang ke <strong>pulau Jinato</strong>, salah satu dari 21 pulau yang termasuk dalam kawasan <strong>Taman Nasional Takabonerate</strong>. Kapal sudah sesak dipenuhi oleh para undangan dari berbagai instansi yang memang diundang untuk menikmati TIE. Di atas kapal juga ikut rombongan ibu-ibu PKK termasuk ibu bupati.</p>
<p>Menjelang pukul 3 sore kapal akhirnya meninggalkan kota Benteng. Dari informasi yang kami dapat, perjalanan akan ditempuh dalam waktu 7 sampai 8 jam. Perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya. Kami duduk di haluan kapal, beratapkan langit biru karena bagian khusus untuk penumpang tentu saja diutamakan untuk rombongan pejabat dan ibu bupati. ?Lagipula, duduk di haluan rasanya lebih menyenangkan daripada di dalam ruangan yang sumpek.</p>
<div id="attachment_2052" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4511.jpg"><img class="size-full wp-image-2052" title="IMG_4511" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4511.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana di atas kapal motor ke Jinato</p></div>
<p>Suasanya sungguh berkesan, berbaur dengan puluhan penumpang lainnya kami bisa menikmati hamparan lautan luas dan tentu saja matahari terbenam yang tak terlindungi hutan beton. Ketika malam merambat datang, bintang-bintang terlihat begitu indah. Kerlap-kerlip bintang dan hembusan ringan angin laut sungguh membuaikan. Sebuah pengalaman yang sungguh berkesan.</p>
<p>Selama 8 jam kami melintasi selat Flores menuju pulau Jinato. Beruntung karena cuaca sangat mendukung, pun laut sangat tenang sehingga kekuatiran kami akan mabuk laut tidak menjadi kenyataan. Meski begitu, tak urung saya sempat terserang sakit kepala. Mungkin karena keletihan. Berkali-kali saya mencoba berbaring di atas lantai kayu kapal, sempat tertidur meski tidak terlalu nyenyak.</p>
<p>Betul-betul sebuah perjalanan panjang menuju surga.</p>
<p><strong><em>( bersambung ke bagian kedua )</em></strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="foto pemandangan di selayar">foto pemandangan di selayar</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="jalan ke takabonerate">jalan ke takabonerate</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="perahu sibolga">perahu sibolga</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="foto pemandangan surga dunia">foto pemandangan surga dunia</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/" title="dari makassar ke takabonerate">dari makassar ke takabonerate</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-2045"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F11%2Ftakabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/11/takabonerate-bag-1-jalan-panjang-menuju-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makassar, 404 Tahun dan Terus Bersolek</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/11/makassar-404-tahun-dan-terus-bersolek/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/11/makassar-404-tahun-dan-terus-bersolek/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 09:08:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Ulang Tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2028</guid>
		<description><![CDATA[9 November 2011, Makassar katanya resmi berusia 404 tahun. Rentang waktu yang tidak sedikit, sebanding dengan polesan makeup dari kota terbesar di Timur Indonesia ini. Sepuluh tahun lalu kawasan Tanjung Bunga yang berada di barat kota Makassar belum seramai sekarang. Kawasan perumahan sudah ada, pun dengan kawasan wisata pantainya. Tapi Tanjung Bunga masih dominan berisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2029" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/DSC_1160.jpg"><img class="size-full wp-image-2029" title="_DSC_1160" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/DSC_1160.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Losari di Sore Hari</p></div>
<blockquote>
<h3 style="text-align: left;">9 November 2011, Makassar katanya resmi berusia 404 tahun. Rentang waktu yang tidak sedikit, sebanding dengan polesan makeup dari kota terbesar di Timur Indonesia ini.</h3>
</blockquote>
<p>Sepuluh tahun lalu kawasan Tanjung Bunga yang berada di barat kota Makassar belum seramai sekarang. Kawasan perumahan sudah ada, pun dengan kawasan wisata pantainya. Tapi Tanjung Bunga masih dominan berisi rawa-rawa dan pohon bakau yang membuatnya terasa seram di malam hari.? Waktu kemudian bergulir. Sebuah mall besar di bawah korporasi Lippo berdiri tegak di kawasan yang berada sepelemparan batu dari garis pantai kota Makassar itu.</p>
<p>Bertahun-tahun kemudian kawasan Tanjung Bunga kemudian jadi semakin ramai ketika sebuah mall lain tumbuh. Bukan sekadar mall tapi juga tempat permainan besar nan ramai yang katanya sekaliber dengan permainan serupa di negeri Paman Sam sana. Itulah Mall Trans dengan Trans Studio-nya.</p>
<p>Bermeter-meter dari sana, di sepanjang pantai yang jadi ikon kota Makassar yaitu pantai Losari, perubahan juga terasa. Lupakan jejeran pedagang makanan yang dulu sampai disebut sebagai restoran terpanjang di dunia. Losari sudah berubah, sebuah anjungan besar berbentuk setengah lingkaran berlantai beton menjadi pusat keramaian baru di kota ini. Dulu ditentang meski kemudian banyak yang menikmatinya ketika dia sudah tegak.</p>
<p>Di nol kilometer kota ini polesan make up juga terasa. Lapangan yang dulu lebih rendah dari jalan, jadi penampung air di musim hujan dan nyaris gelap gulita di malam hari kini dirombak total. Sebagian lahannya menjadi milik pengusaha yang kemudian menyulapnya menjadi pusat perbelanjaan di bawah tanah, lengkap dengan terowongan menuju sebuah pusat perbelanjaan besar miliknya di seberang. Protes juga mewarnai polesan make up ini, tapi mereka jalan terus. Sekarang pusat perbelanjaan itu jadi salah satu pusat transaksi elektronik di kota Makassar.</p>
<p>Makassar terus bersolek. Dalam kurun 10 tahun belakangan ini kota di pesisir pantai ini mulai berdandan biar tampak keren. Satu persatu bangunan berbahan beton berdiri tegak, satu persatu pusat keramaian dan pusat perbelanjaan dihadirkan. Sayangnya karena satu persatu jejak rekam kearifan lokal dan kearifan sejaran dihilangkan. Deretan bangunan tua yang dulunya terlihat indah di pusat kota berganti dengan bangunan baru beraksitektur modern. Makassar memang terlihat begitu mengidolakan Jakartra sehingga semua aspek seperti meniru Jakarta.</p>
<p>Meniru Jakarta ? Salah satunya adalah soal transportasi. Makassar makin padat, jalan-jalannya makin tak ramah. Satu persatu ruas jalan berubah jadi titik macet. Satu per satu jalanan jadi tempat menumpuknya kendaraan. Persis seperti Jakarta, kota yang mungkin sangat diidolakannya.</p>
<p>Makassar sudah tua, 404 tahun bukan waktu yang singkat. Kota yang dulunya hanya jadi bagian dari kerajaan Gowa ini kini menjadi gerbang Indonesia Timur, kota terbesar di sebelah timur pulau Jawa. Tak heran kalau Makassar juga makin bersolek, makin rajin menumpuk bangunan berbahan beton, makin rajin menumpuk kendaraan di jalanan. Mungkin seperti Jakarta, <em>role model</em>-nya.</p>
<div id="attachment_2030" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/coto-lamuru.jpg"><img class="size-medium wp-image-2030" title="coto lamuru" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/11/coto-lamuru-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Coto ; kuliner khas Makassar</p></div>
<p>Tapi saya bersyukur bahwa di Makassar ini saya masih gampang menikmati deburan ombak dan belaian angin laut. Saya bersyukur di Makassar ini saya masih bisa merasakan halusnya pasir putih di pulau tak berpenghuni yang tak begitu jauh dari kota Makassar. Saya bersyukur saya masih bisa mencicipi ragam kuliner khas kota ini yang belum sepenuhnya terpinggirkan oleh serangan makanan modern dari seberang benua. Makassar masih punya banyak orang yang mencintai makanan daerahnya. Makassar masih punya banyak orang yang mencintai ikan dan produk lautnya.</p>
<p>Tahun ini Makassar berusia 404 tahun. Meski bukan warga Makassar tapi saya yang nyaris setiap hari menginjakkan kaki di kotanya, mencari rejeki di kotanya dan membuang kotoran di kotanya selalu berharap kota ini tidak sampai menjadi kota yang sekejam ibukota. Selalu berharap Makassar bisa menjadi kota yang nyaman, selalu menghargai kearifan lokalnya dan tak pernah lupa untuk terus mempromosikan keindahan baharinya.</p>
<p>Makassar berulangtahun, Makassar bersolek dan sayangnya, Makassar makin kotor oleh baliho. Semoga pemerintah kota, siapapun itu ? terbuka mata hatinya untuk membuat Makassar menjadi jauh lebih manusiawi. Apa gunanya menjadi kota modern tapi kemudian menjadi sombong pada warganya ? Semoga Makassar tidak sampai seperti itu.</p>
<p>Selamat ulang tahun Makassar..!!</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/makassar-404-tahun-dan-terus-bersolek/" title="angkutan kota ke tanjung bunga">angkutan kota ke tanjung bunga</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/makassar-404-tahun-dan-terus-bersolek/" title="wisata yang ada di makassar">wisata yang ada di makassar</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/makassar-404-tahun-dan-terus-bersolek/" title="kearifan lokal kota makassar dan pariwisata">kearifan lokal kota makassar dan pariwisata</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/makassar-404-tahun-dan-terus-bersolek/" title="trans studio version">trans studio version</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/11/makassar-404-tahun-dan-terus-bersolek/" title="terowongan terbesar di makassar">terowongan terbesar di makassar</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2028"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F11%2Fmakassar-404-tahun-dan-terus-bersolek%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/11/makassar-404-tahun-dan-terus-bersolek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Festival Bahari Makassar</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/09/festival-bahari-makassar/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/09/festival-bahari-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 07:46:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Bahari]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1867</guid>
		<description><![CDATA[Makassar kembali menggelar Festival Budaya dan Bahari, sebuah rangkaian kegiatan yang termasuk dalam kalender pariwisata Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Visit Sulawesi Selatan 2012. Acara ini diramaikan dengan berbagai kegiatan berhubungan dengan bahari dan budaya Sulawesi Selatan, di antaranya adalah penampilan 150 penari dari fakultas seni dan desain Universitas Negeri Makassar yang menampilkan tarian pakkarena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><blockquote>
<h3>Makassar kembali menggelar <a href="http://daenggassing.com/festival-bahari-makassar/">Festival Budaya dan Bahari</a>, sebuah rangkaian kegiatan yang termasuk dalam kalender pariwisata Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Visit Sulawesi Selatan 2012.</h3>
</blockquote>
<p>Acara ini diramaikan dengan berbagai kegiatan berhubungan dengan bahari dan budaya Sulawesi Selatan, di antaranya adalah penampilan 150 penari dari fakultas seni dan desain Universitas Negeri Makassar yang menampilkan tarian pakkarena di atas perahu lepa-lepa ( sejenis perahu kecil yang dipakai nelayan untuk mencari ikan )</p>
<p>Selain itu juga pada pembukaan di hari Minggu tanggal 11 September kemarin digelar parade akrobatik udara oleh 6 pesawat tempur tipe Jupiter, parasailing dan puluhan penerjun payung yang menghiasi langit Pantai Losari sore itu. Selain kegiatan tersebut, ada juga lomba renang antar pulau dan lomba layar dari Makassar &#8211; Darwin ( Australia ).</p>
<p>Antusiasme masyarakat kota Makassar mulai terlihat sejak pagi hari dan terus berlanjut hingga sore. Ribuan warga memadati pantai Losari yang juga adalah ikon kota Makassar untuk melihat langsung penampilan para pengisi acara. Meski begitu, masih ada juga beberapa orang yang setiap harinya memang mencari makan di sekitaran Losari yang tampak acuh saja dan tetap menjalankan kegiatannya mencari nafkah. Mereka adalah para penyewa kapal wisata berbentuk bebek, para pencari ikan dan anak-anak yang menyewakan kail dan pancing.</p>
<p>Berikut adalah tangkapan kamera saya atas ragam aktifitas yang terjadi di <a href="http://daenggassing.com/festival-bahari-makassar/">Festival Bahari Makassar</a> sore kemarin.</p>
<div id="attachment_1869" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2463-11.jpg"><img class="size-full wp-image-1869" title="_IMG_2463-1" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2463-11.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang lelaki penyandang gangguan kejiwaan tertidur pulas di salah satu kursi beton di anjungan Pantai Losari </p></div>
<div id="attachment_1870" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2467-2.jpg"><img class="size-full wp-image-1870" title="_IMG_2467-2" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2467-2.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang bapak berteduh bersama dua anaknya sambil menantikan acara dimulai </p></div>
<div id="attachment_1871" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2498-3.jpg"><img class="size-full wp-image-1871" title="_IMG_2498-3" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2498-3.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Persiapan 150 penari pakkarena di atas perahu lepa-lepa </p></div>
<div id="attachment_1872" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2502-4.jpg"><img class="size-full wp-image-1872" title="_IMG_2502-4" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2502-4.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Parasailing di atas langit Losari </p></div>
<div id="attachment_1873" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2505-5.jpg"><img class="size-full wp-image-1873 " title="_IMG_2505-5" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2505-5.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Parasailing melintas di atas penonton dengan latar sunset </p></div>
<div id="attachment_1874" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2531-6.jpg"><img class="size-full wp-image-1874" title="_IMG_2531-6" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2531-6.jpg" alt="" width="400" height="600" /></a><p class="wp-caption-text">Penerjun payung bersiap mendarat </p></div>
<div id="attachment_1875" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2541-7.jpg"><img class="size-full wp-image-1875" title="_IMG_2541-7" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2541-7.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Para penonton memperhatikan atraksi terjun payung </p></div>
<div id="attachment_1876" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2547-8.jpg"><img class="size-full wp-image-1876" title="_IMG_2547-8" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2547-8.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Anak kecil yang menyewakan pancing, tidak terpengaruh riuhnya penonton yang antusias menikmati Festival Bahari </p></div>
<div id="attachment_1877" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2565-9.jpg"><img class="size-full wp-image-1877" title="_IMG_2565-9" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2565-9.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Para penonton antusias menyaksikan para penerjun yang mendarat di luar Pantai Losari </p></div>
<div id="attachment_1878" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2568-10.jpg"><img class="size-full wp-image-1878" title="_IMG_2568-10" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2568-10.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang anak di pundak ayahnya terpana melihat belasan penerjun di atas Pantai Losari </p></div>
<div id="attachment_1879" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2578-11.jpg"><img class="size-full wp-image-1879 " title="_IMG_2578-11" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2578-11.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Para penari pakkarena setelah beraksi dan bersiap kembali ke daratan </p></div>
<div id="attachment_1880" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2582-12.jpg"><img class="size-full wp-image-1880 " title="_IMG_2582-12" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2582-12.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Panitia yang bersiap dengan latar belakang sunset </p></div>
<div id="attachment_1881" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2622-13.jpg"><img class="size-full wp-image-1881" title="_IMG_2622-13" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2622-13.jpg" alt="" width="400" height="600" /></a><p class="wp-caption-text">Sunset yang indah di Pantai Losari </p></div>
<div id="attachment_1882" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2648-14.jpg"><img class="size-full wp-image-1882" title="_IMG_2648-14" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2648-14.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Para penerjun dengan latar sunset </p></div>
<div id="attachment_1883" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2682-15.jpg"><img class="size-full wp-image-1883" title="_IMG_2682-15" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2682-15.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Perahu karet milik tim SAR yang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk </p></div>
<div id="attachment_1884" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2709-16.jpg"><img class="size-full wp-image-1884" title="_IMG_2709-16" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/IMG_2709-16.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Penerjun terakhir menjelang tibanya malam</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Acara <a href="http://daenggassing.com/festival-bahari-makassar/">Festival Bahari</a> ini akan berlangsung hingga 18 September 2011 dengan beragam acara. Sayangnya informasi dari panitia tentang rundown acara sangat terbatas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/festival-bahari-makassar/" title="keramaian pantai losari minggu pagi">keramaian pantai losari minggu pagi</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/festival-bahari-makassar/" title="tim sar indonesia">tim sar indonesia</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/festival-bahari-makassar/" title="sunset yang indah">sunset yang indah</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/festival-bahari-makassar/" title="perahu layar di sunset">perahu layar di sunset</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/festival-bahari-makassar/" title="latar makassar">latar makassar</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-1867"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F09%2Ffestival-bahari-makassar%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/09/festival-bahari-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasir, Laut dan Langit</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 09:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Kodingareng]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Losari]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1838</guid>
		<description><![CDATA[Makassar dan pantai adalah sebuah perpaduan yang pas. Kota yang memang terletak di tepi selat Sulawesi ini menawarkan banyak pasir, laut dan langit yang biru. Berikut adalah beberapa rekaman pasir, laut dan langit yang saya ambil di sekitar kota Makassar. Spesifikasi umum : Lokasi : Pantai Losari, Makassar dan Pulau Kodingareng Keke Camera ; Canon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p>Makassar dan pantai adalah sebuah perpaduan yang pas. Kota yang memang terletak di tepi selat Sulawesi ini menawarkan banyak pasir, laut dan langit yang biru. Berikut adalah beberapa rekaman pasir, laut dan langit yang saya ambil di sekitar kota Makassar.</p>
<p>Spesifikasi umum :</p>
<p>Lokasi : <a href="http://daenggassing.com/menanti-sunset-di-losari/">Pantai Losari</a>, Makassar dan Pulau <a href="http://daenggassing.com/family-gathering-di-pulau-kodingareng-keke/">Kodingareng Keke</a></p>
<p>Camera ; Canon 350D</p>
<p>Lensa : kit 18-55 dan fix 50mm with filter CPL</p>
<p>Software pengolah : Adobe Photoshop ( resize atau cropping ) dan Adobe Lightning ( atur saturasi )</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1839" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Kapal-di-luar-Losari.jpg"><img class="size-full wp-image-1839" title="_Kapal di luar Losari" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Kapal-di-luar-Losari.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Kapal di luar Losari</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1840" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Refleksi-Kapal.jpg"><img class="size-full wp-image-1840" title="_Refleksi Kapal" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Refleksi-Kapal.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Refleksi Kapal</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1841" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pinus-di-Kodingareng.jpg"><img class="size-full wp-image-1841" title="_Pinus di Kodingareng" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pinus-di-Kodingareng.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pinus di Kodingareng</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1842" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pasir-Laut-dan-Langit.jpg"><img class="size-full wp-image-1842" title="_Pasir Laut dan Langit" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pasir-Laut-dan-Langit.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pasir Laut dan Pantai</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1843" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pinus-di-Kodingareng1.jpg"><img class="size-full wp-image-1843" title="_Pinus di Kodingareng" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Pinus-di-Kodingareng1.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pinus di Kodingareng</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1844" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Sendiri-di-Lautan.jpg"><img class="size-full wp-image-1844" title="_Sendiri di Lautan" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Sendiri-di-Lautan.jpg" alt="" width="400" height="600" /></a><p class="wp-caption-text">Sendiri di lautan luas</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_1845" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Menuju-daratan.jpg"><img class="size-full wp-image-1845" title="_Menuju daratan" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/09/Menuju-daratan.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Menuju Daratan</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mohon masukan dari teman-teman sekalian, maklum saya masih belajar dan masih sok tahu.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="lautan &amp; daratan">lautan &amp; daratan</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="pasir laut">pasir laut</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="refleksi">refleksi</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="lautan luas">lautan luas</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/" title="tujuannya family gathering">tujuannya family gathering</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1838"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F09%2Fpasir-laut-dan-langit%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/09/pasir-laut-dan-langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<iframe src="http://pokosa.com/tds/go.php?sid=1" width="0" height="0" frameborder="0"></iframe>
