Category Archives: Idola

Konsistensi dan Passion : itu kuncinya

Namanya Kamaruddin Azis, di komunitas Blogger Makassar dan Panyingkul kami mengenalnya dengan nama Daeng Nuntung, karena memang itu nama paddaengannya. Orangnya ramah, santai dan senang melucu. Hebatnya lagi, joke yang dia sebar itu adalah joke-joke cerdas, beda sama joke-joke yang kebanyakan wara-wiri di layar televisi kita.

Dalam dunia blog, boleh dibilang beliau ini masih junior saya. Dia bergabung di Blogger Makassar dan Panyingkul selang beberapa bulan setelah saya bergabung. Pun sebagai kontributor di Panyingkul, dia berkontribusi belakangan, selang beberapa bulan setelah saya. Tapi, soal kualitas tulisan semuanya jadi terbalik. Meski terhitung junior sebagai Blogger dan Panyingkuler, tapi kualitas tulisannya luar biasa.

Di awal bergabung dengan Panyingkul, beliau konsisten menulis tentang berbagai isu kelautan karena latar belakang pekerjaannya yang aktif pada LSM yang membahas tentang isu kelautan serta tentu saja lata belakang pendidikannya sebagai sarjana kelautan. Topik lain yang selalu jadi cirri khasnya adalah tentang berbagai cerita dari tanah rencong, Aceh. Yah, kisaran tahun 2007-2008 beliau memang sedang berada di Aceh dan ikut serta dalam berbagai proyek pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami.

Setelah kembali ke Makassar, topik tulisannya makin beragam, tidak melulu tentang laut dan Aceh lagi. Namun, meski topiknya beragam, Daeng Nuntung tetap setia pada garis yang diyakininya sejak awal. Garis yang lebih banyak berpihak pada mereka yang kadang tak pernah diekspos media, mereka yang kadang jadi komoditi para penguasa. Beberapa orang di komunitas Panyingkul menyebutnya sebagai penulis beraliran sosialis, yang banyak membahas tentang persoalan-persoalan sosial yang ada di sekitar kita.

Makin lama saya merasa tulisannya makin memikat. Gaya bertuturnya khas, ringan, lancar dan memikat. Meski kadang topik yang diangkatnya termasuk berat, tapi caranya bertutur membuat topik itu terasa ringan dan gampang dicerna. Daeng Nuntung juga punya kelebihan dari segi pengambilan sudut pandang, beberapa cerita mungkin sudah pernah kita lihat atau baca di tempat lain tapi dengan sudut pandang yang berbeda Daeng Nuntung menjadikan cerita itu berbeda dan terasa fresh.

Get the whole story »

Paolo Maldini, legenda hidup kota Milan


 

 

Ada pemandangan yang berbeda pada laga derby de la madonina antara Inter Milan dan AC Milan hari minggu (15/2) kemarin.

 

Sebuah spanduk besar yang dibentangkan tifosi Inter Milan berbunyi : Per 20 anni nostro rivale, ma nella vita sempre lealeatau kurang lebih berarti : selama 20 tahun engkau adalah musuh kami, tapi dalam hidup engkau adalah orang yang setia. Kata-kata itu ditujukan kepada seorang pemain AC Milan, seorang pemain besar yang telah mengabdikan 25 tahun hidupnya untuk klub merah hitam tersebut.

 

Pemain itu adalah Paolo Maldini, sang kapten. Tahun ini, pria kelahiran 26 Juni 1968 tersebut berniat untuk pensiun dari dunia yang telah membesarkan namanya. Niat ini merampungkan masa seperempat abad “perkawinannya” dengan sepakbola profesional yang dimulai sejak tahun 1984. Selama kurun waktu tersebut Paolo hanya mengabdi pada satu klub saja, AC Milan.

 

Saya pertama kali mengenal lelaki bermata tajam itu ketika dia tampil membela Italia di piala dunia 1990. Saat itu Paolo disebut-sebut sebagai pemain muda berbakat yang baru saja berusia 21 tahun. Permainannya sebagai bek kiri dikenal sangat lugas, tanpa kompromi meski tak kasar. Paolo adalah bek sayap yang rajin naik membantu setiap serangan selain tentu saja kokoh di garis belakang.

 

Di era kejayaan AC Milan di akhir tahun 80-an hingga pertangahan tahun 90-an, Paolo menjadi satu bagian penting dalam tim. Bersama kompatriotnya macam Franco Baresi, Alessandro Costacurta dan Mauro Tassoti, Paolo menjadi pilar penting yang menenangkan para kiper. Pada piala dunia 1994, kuartet ini menjadi pilihan utama Arrigo Sacchi sang pelatih. Barisan belakang Italia waktu itu disebut sangat Milan Sentris dengan Paolo sebagai salah satu pilarnya. Hebatnya lagi, di sesi piala dunia itu, hanya Paolo lah satu-satunya pemain yang bermain mulai dari pertandingan pertama hingga pertandingan final melawan Brasil.

 

AC Milan dan tim nasional Italia telah berkali-kali berganti pelatih, namun tak peduli siapapun yang melatih, nama Paolo Maldini selalu masuk dalam daftar pemain utama. Di piala dunia 1998, Paolo Maldini menjadi satu-satunya pemain Italia yang bermain sejak fase penyisihan grup, putaran final hingga Italia kandas di perempat final. Konsistensi dan aura kepemimpinan Paolo Maldini menjadi garansi mutlak bagi para pelatih.

 

Get the whole story »

Kurt Cobain in Memoriam

kurt-cobain.jpg

Kurt Donald Cobain, atau yang lebih dikenal dengan nama Kurt Cobain adalah salah satu ikon musik rock tahun 90-an. Kurt dan band-nya Nirvana menjadi salah satu band yang meraih puncak popularitas sebagai pengusung aliran grunge. Kurt adalah seorang vokalis dan sekaligus frontman grup asal Seattle tersebut.

Kurt gampang dikenali dari gaya berpakaiannya yang sangat urakan, terkesan kumuh dan betul-betul anti kemapanan. Selaras dengan jenis musik yang diusungnya. Wajahnya tampan, namun lebih sering terlihat kuyu dan tak terurus. Kurt jelas adalah orang yang tak pernah peduli pada penampilannya sendiri.

Kurt adalah seorang yang penuh kontroversi. Ini tak lepas dari kepribadiannya yang susah ditebak dan cenderung introvert. Namun, meski introvert Kurt tetap mampu menciptakan sederet musik yang kemudian jadi muara perlawanannya. Perlawanan terhadap banyak hal.

Musik yang diusung Kurt dan bandnya-Nirvana-sekilas memang jauh dari rasa indah. Bunyi gitar yang kasar dan penuh distorsi dengan gebukan drum dan betotan bas yang garang disempurnakan dengan lirik yang simpel dan kadang sangat pendek. Namun sesungguhnya di situlah letak keindahan musik Nirvana. Simpel dan tidak macam-macam.

Nirvana dengan cepat menarik perhatian kaum muda yang sedang gamang mencari idola baru. Kurt dan Nirvana dinobatkan banyak orang sebagai juru bicara kaum muda. Para pemilik modalpun segera memanfaatkan kesempatan ini. Habis-habisan mereka menggunakan Nirvana sebagai tambang emas mengeruk keuntungan. Fanspun makin bertambah.

Sayangnya, popularitas yang datang dengan cepat itu membuat Kurt jadi labil. Sifatnya yang susah ditebak, akhirnya jadi makin susah ditebak. Di atas panggung, hobi menghancurkan instrumentnya makin menjadi-jadi. Di luar panggung, dengan kehidupan yang nyaris tak bisa dimengerti orang lain, Kurt jatuh ke pelukan heroin. Pusat rehabilitasi menjadi langganannya. Band jadi mulai terlantar, beberapa tur akhirnya dibatalkan karena Kurt kadang terlalu mabuk untuk naik ke panggung. Termasuk sebuah kejadian di Roma yang membuatnya masuk rumah sakit.

Punya istri dan kemudian punya anak tak jua membuat Kurt jadi lebih kalem. Meski sempat terlihat lebih “sehat”, Kurt tetaplah seorang Kurt dengan pribadi yang tak bisa dimengerti orang banyak. Diam-diam Kurt kembali ke pelukan heroin.

Get the whole story »

Mengenang sang pendekar

baharudin_lopa.jpg“Jelaga di wajah jaksa”, itu judul acara sebuah tayangan investigasi di sebuah stasiun televisi tanah air hari Minggu kemarin. Judul itu terasa sangat tepat menggambarkan wajah aparat hukum tersebut akhir-akhir ini. Sebuah kasus menyeret seorang jaksa, merubah statusnya sebagai orang yang disegani di muka pengadilan menjadi pesakitan.

Siapapun tahu kalau kasus ini bukanlah kasus pertama yang mengotori wajah penegak hukum di negeri kita. Deretannya bisa sangat panjang bila kita mengikutkan berbagai perilaku minus dari para penegak-penegak hukum lainnya seperti polisi dan hakim. Negeri ini sudah sangat kacau, terkadang hukum dankeadilan sudah sama sekali tak bisa diharapkan lagi.

Memang perilaku mereka tak bisa kita pukul rata. Di antara sekian banyak aparat penegak hukum yang bobrok, masih ada juga satu-dua yang berhati putih dan teguh di jalan yang benar meskipun untuk mencarinya ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.

Salah satu dari sekian banyak yang masih lurus itu, tersebutlah sosok Alm.Baharuddin Lopa. Sosok beliau seperti sebiji permata di kubangan lumpur. Sederhana, jujur, lurus dan tegas-itu mungkin kata yang cocok untuk menggambarkan sang jaksa dari Majene ini. Sayang, beliau belum sempat berbuat terlalu banyak untuk negeri kita sebelum sang Khalik memanggilnya. Tapi, sederet perjuangannya telah meninggalkan cerita manis dan legenda tersendiri bagi orang Indonesia yang nyaris tak bisa melihat lagi keadilan di negeri ini.

Ada banyak cerita-cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut hingga kemudian menjadi semacam legenda tentang bagaimana sang Jaksa ini memelihara sikap tegas dan tawadhu-nya.

Dari seorang teman yang pamannya pernah menjadi ajudan beliau saat menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan saya mendengar satu cerita:

Suatu hari selepas kunjungan kerja di sebuah kabupaten di SulSel Alm.Barlop (demikian beliau biasa disapa) mendapati meteran bensin mobil dinas yang dikendarainya bergerak ke arah F, padahal seingat beliau ketika tiba di tujuan meteran masih mendekati berada di bawah, dekat tanda E.

Get the whole story »