Category Archives: Hot Issue

Sekilas Tentang Daeng

Tulisan ini mungkin agak terlambat karena heboh pemanggilan ?daeng? kepada JK oleh Ruhut Sitompul sudah terjadi hampir seminggu yang lalu, tapi saya masih tetap merasa tertarik untuk menulis tentang ?daeng? ini, katakanlah sebagai sebuah informasi untuk teman-teman (khususnya teman-teman non SulSel) yang kurang mengerti tentang ?daeng?.

Sebenarnya ?daeng? ada dua macam. Pertama ?daeng? sebagai sebutan kepada orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sifatnya sama dengan Mas bagi orang Jawa, atau Akang bagi orang Sunda. Panggilan ini awalnya hanya milik suku Makassar saja karena ?daeng? memang sebenarnya adalah bagian dari budaya suku Makassar. Daeng sebagai panggilan kepada orang yang lebih tua dipergunakan merata kepada pria ataupun wanita.

?Daeng? yang kedua atau yang lebih spesifik adalah bagian dari ?paddaengang?. Nah, ?Paddaengang? ini dalam tradisi suku Makassar adalah sebuah bagian penting. Istilah lainnya adalah ?areng alusu? atau nama halus. Seseorang yang bersuku Makassar biasanya akan menerima penyematan nama halus atau paddaengang ini di belakang nama aslinya. Contohnya seperti saya, nama asli saya Syaifullah tapi kemudian ditambahkan dengan paddaengang yaitu daeng gassing, jadilah nama lengkap saya Syaifullah daeng Gassing.

Get the whole story »

KOIN, PRITA dan KEADILAN

koinpritaam

Seorang teman saya- namanya Kele – datang dengan sekantong plastik kecil berisi uang logam dalam berbagai nominal. Saya tidak tahu jumlahnya berapa tapi jelas berpuluh-puluh ribu rupiah.

“ Ini sumbangan Naufal untuk ibu Prita”, katanya ketika menyerahkan kantong plastik kecil itu ke saya. Naufal adalah nama anak pertamanya, usianya belum 3 tahun saya rasa.
Sehari sebelumnya saat pertama kali saya mengedarkan kaleng berisi koin sumbangan untuk Prita, Kele memang sudah cerita kalau dia punya celengan berisi koin punya anaknya di rumah.

Yah, seminggu yang lalu saya memang berinisiatif untuk mengedarkan kaleng kecil bekas tempat sarung di kantor saya sebagai wadah untuk menampung koin-koin berbagai nominal sebagai bentuk dukungan untuk ibu Prita Mulyasari. Kaleng itu sudah terisi lebih dari ¾ bagian, hasil tabungan saya setiap kali saya ada uang koin kembalian. Biasanya kaleng itu saya buka setahun sekali atau sepenuhnya saja. Biasanya isinya lebih dari Rp. 100 ribu, tapi pernah juga hanya sekitar 90-an ribu.

Terus terang saya cukup tergugah dengan kasus ibu Prita ini. Ada sesuatu dalam diri saya yang rasanya terusik oleh kasus yang ibaratnya David vs Goliath ini. Sebenarnya agak terlambat sih karena inisiatif mengumpulkan koin sudah lama bergulir sebelum saya menyadarinya. Ketika riuh rendah acara puncak ulang tahun komunitas AngingMammiri baru saja berakhir, saya berinisiatif mengajak teman-teman blogger Makassar untuk ikut mendukung gerakan moral ini dan syukurlah teman-teman menyambut baik. Kami lalu menyebar di sekitar tempat tinggal dan tempat kerja kami untuk mengumpulkan koin sebanyak mungkin dan kemudian menyatukannya untuk dikirim ke posko koinkeadilan.com. Beritanya bisa dibaca di sini.

Bagi saya gerakan ini penting, sangat penting malah. Intinya bukan pada berapa jumlah koin yang terkumpul, atau seberapa besar sensasi yang ditimbulkan, tapi intinya adalah pada seberapa besar kita peduli pada sebuah ketidakadilan yang sedang terjadi. Kasus ibu Prita melawan RS.Omni International ini adalah preseden buruk tentang wajah keadilan di negeri kita. Bagaimana mungkin seorang ibu rumah tangga yang jadi korban buruknya pelayanan rumah sakit yang kemudian berkeluh kesah tentang kesusahannya malah kemudian berakhir sebagai korban.

Get the whole story »

Krisis yang bikin meringis

PLN

Sulsel sedang dilanda krisis untuk kesekian kalinya, seperti tahun-tahun sebelumnya listrik kembali menjadi biang masalah dan mengundang kritikan, protes bahkan cemoohan orang banyak.

Selepas Ramadhan, atau tepatnya kira-kira seminggu ini, listrik padam menjadi makanan sehari-hari warga Makassar dan sekitarnya. Benar-benar seperti makanan karena frekuensinya yang bisa sampai 3 kali sehari. Durasinyapun tidak main-main, sekali padam bisa sampai 2 jam atau kadang-kadang kalau sedang sial malah bisa sampai 3 jam.

Dari rilis resmi yang dikeluarkan pihak PLN wilayah SULMAPA (Sulawesi Maluku dan Papua) penyebab utama krisis penerangan kali ini adalah karena PLTG Sengkang sedang bermasalah sementara PLTA Bakaru yang jadi urat nadi utama penyedia listrik kawasan Sulawesi Selatan tidak bisa optimal menjalankan tugas karena debit airnya yang jauh di bawah persyaratan minimum.

Masalah ini sebenarnya adalah makanan khas warga SulSel, setiap tahun ketika musim kemarau mulai berkepanjangan maka masalah yang sama akan datang. Dalam kasus yang berbeda, PLN tetap tidak mampu melayani kebutuhan masyarakat akan listrik. Daftar panjang para pemohon baru penyambungan listrik semakin panjang dari tahun ke tahun, bahkan banyak warga yang sudah antri selama 3 tahun lebih tapi belum juga bisa mendapatkan sambungan listrik. Alasannya klasik, tidak ada meteran. Padahal masalah utama jelas adalah tidak cukupnya daya yang bisa didistribusikan ke masyarakat.

Masalah yang berulang dari tahun ke tahun ini membuar saya bertanya-tanya, mungkinkah pihak PLN atau lebih besar lagi pihak pemerintah tidak mampu mencari jalan keluar dari masalah yang sebenarnya adalah masalah klasik ini ? Apa mereka memang sudah betul-betul kehabisan akal untuk mengantisipasi segala kemungkinan datangnya masalah yang sama di tahun yang berbeda ? Masak sih sebagai warga kita harus pasrah setiap tahunnya dengan kondisi seperti ini ? Atau kita memang tidak punya hak untuk meminta pelayanan prima dari perusahaan negara yang kita tahu karyawannya bergaji tinggi itu ?

Get the whole story »

Karena kita negara besar

menarikan-tarian-pendet

Belakangan ini salah satu berita yang paling hangat di jagat berita Indonesia adalah berita tentang klaim terbaru Malaysia atas salah satu warisan budaya Indonesia. Sebenarnya tidak terlalu jelas apakah Malaysia benar mengklaim tari pendet dari Bali sebagai budaya mereka, yang jelas mereka menayangkan potongan tari pendet dalam iklan pariwisata mereka di Discovery Channel. Orang yang tak tahu pasti tentang tari tersebut pasti akan langsung berkesimpulan kalau tari Pendet itu berasal dari Malaysia seperti yang ada di iklan.

Ini bukan yang pertama, sebelumnya Malaysia sudah lebih dulu mengklaim gamelan dari Jawa, batik parang, badik tumbuk dari Riau, angklung dari Jawa Barat, wayang kulit, rendang, lagu rasa sayange, reog Ponorogo, kain ulos, keris, dan banyak lagi. Bahkan secara berseloroh ada yang mengatakan kalau bencana alam gempa bumi di Jawa Barat kemarin juga diklaim sebagai milik Malaysia.

Bukan hanya dari segi budaya, yang terbaru Malaysia juga mengiklankan pulau Jemur di kepulauan Riau dalam iklan pariwisata mereka di internet. Luar biasa.

Tingkah polah Malaysia ini mengundang reaksi tentu saja. Di ranah internet, perang antar pengguna internet dari kedua negara sudah berlangsung dengan sengit, rapper Saykoji bereaksi dengan menciptakan sebuah lagu menyindir Malaysia, sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah kabarnya bahkan menolak mahasiswa asal Malaysia, dan yang terbaru puluhan orang unjuk kekuatan dan menyatakan dirinya siap untuk dibawa mengganyang Malaysia.

Dalam sekejap rasa nasionalisme kita seakan diusik, apalagi jarak antara suasana panas dengan Malaysia ini masih dekat dengan hari kemerdekaan kita. Berbagai kebudayaan daerah kita tiba-tiba mendapatkan porsi perhatian besar dari masyarakat dan pemerintah, tidak seperti sebelumnya. Pulau Jemur yang sebelumnya tak pernah kita dengarpun tiba-tiba menjadi pusat perhatian, bahkan pihak angkatan laut dengan tergopoh=gopoh segera mengibarkan bendera merah putih di tanah pulau Jemur. Sekali lagi luar biasa.

Get the whole story »

Pilpres dan Stempel Penghianat di Jidat

penghianat

Jum’at ( 3/7) kemarin saya sempat berdebat dengan seorang teman di kantor. Sang teman sempat mengeluarkan statemen yang mengatakan kalau dia mengutuk orang Sulawesi Selatan yang mendukung pasangan SBY-Boediono.

‘ Dasarnya apa sampai kamu mengutuk mereka ?” Tanya saya.
Teman saya menjelaskan kalau dia tidak bisa mengerti kenapa masih ada orang SulSel yang mau mendukung pasangan lain selain JK, apalagi sampai mendukung SBY-lawan berat JK di pilpres 2009 ini.
“ Tapi, ini kan demokrasi..tidak ada paksaan dong untuk harus memilih salah satu calon hanya karena kesamaan asal daerah ”, saya terus mendebat pernyataan teman saya itu, namun dia tetap bertahan dengan statemennya. Ujung-ujungnya diskusi kami siang itu tidak berakhir dengan sebuah konklusi.

Well, dalam pilpres 2009 ini saya begitu terbiasa dengan segala hal yang berbau sentimen kedaerahan seperti itu, maklumlah saya setiap hari beraktifitas di dalam “sarang” pendukung JK. Walhasil segala hal yang berkaitan dengan pencalonan JK menjadi santapan sehari-hari saya, satu paket dengan segala sentimen kedaerahan yang melekat padanya.

Beberapa orang kemudian melekatkan cap penghianat di jidat orang-orang SulSel yang mempunyai pilihan berbeda, khususnya mereka yang memilih pasangan SBY-Boediono. Jadi, jangan tanyakan bagaimana reaksi mereka saat membaca berbagai pernyataan provokatif dari Mallarangeng bersaudara.

Bagi saya hal ini menggelikan. Dalam iklim demokrasi seperti ini masih saja ada orang terkesan memaksakan pilihan pada orang lain dan sontak melekatkan label penghianat begitu si orang lain memilih jalan yang berbeda. Dasarnya adalah sentimen kedaerahan. Banyak dari mereka yang berprinsip, kalau masih ada pilihan dari kampung sendiri, kenapa mesti memilih orang lain ?

Prinsip ini yang belum bisa saya terima. Benarkah memilih seorang pemimpin hanya berdasarkan pada sentimen kedaerahan dan kemudian tidak menerima kalau ada orang sekampung yang memilih orang lain Cuma karena dia mungkin melihat sesuatu yang lebih dari calon yang lain ? Rasanya koq naif sekali.

Bagi saya, memilih seorang pemimpin harus dilakukan dengan menggunakan rasio. Mempertimbangkan kapabilitas sang calon, programnya, kejujurannya serta kemampuannya. Faktor asal daerah adalah hal berikutnya, hal yang tak terlalu penting kalau menurut saya.

Tapi, itulah rakyat Indonesia. Sebagian besar pemilih kita memang masih merupakan pemiih emosional yang menjatuhkan pilihan berdasarkan pada pertimbangan yang bersifat emosional. Asal kedaerahan dan tampilan serta image yang tercipta adalah alasan dasar dalam menjatuhkan pilihan. Itulah kenapa ada salah satu calon yang mati-matian berjuang membangun imagenya dalam rangkaian kampanye pemilihan presiden 2009 ini. 5 tahun yang lalu, strategi ini berhasil dan sekarang hendak diulangnya lagi.

Bagi saya, di jaman demokrasi seperti ini setiap warga negara berhak menentukan pilihannya sendiri, entah karena faktor rasional ataupun faktor emosi. Perbedaan jangan sampai membuat kita merasa punya hak menempelkan cap penghianat atau mengutuk orang-orang yang berbeda dengan kita, apalagi hanya karena faktor sentimen kedaerahan. So..selamat memilih..ingat, pilihlah calon sesuai hati nurani anda. Tak ada seorangpun yang berhak dicap penghianat hanya karena berbeda pendapat.