Category Archives: Harapan

Menunggu lahirnya pahlawan masa depan


 08082307334500.JPG

 

Jarum jam masih menunjuk ke angka 8, matahari belum terlalu panas. Rumput-rumput dan daun-daunan masih bercumbu dengan embun yang basah. Di sebuah lapangan rumput berukuran setengah dari lapangan sepakbola, dua puluh dua orang anak lelaki sedang asyik berpeluh sambil memainkan sebuah bola.

 

Anak-anak itu tampak sangat bersemangat, mereka berlari ke sana ke mari. Bergerombol memperebutkan bola. Sesekali ada juga dari mereka yang mencoba meliuk-liuk dengan bola di kakinya. Semangat terlihat jelas dari mata-mata mereka yang berbinar cerah saat tanpa rasa lelah mengejar si kulit bundar. Sesekali ada juga dari mereka yang berbenturan, terjatuh, mengaduh sejenak sebelum kemudian kembali berdiri dan kembali mengejar bola. Di tengah lapangan ada 3 orang dewasa yang dengan setia terus mengarahkan mereka, memberi semangat sambil sesekali memerintah. Mereka adalah pelatih anak-anak itu.

 

Hampir setengah jam lamanya saya berdiri di pinggir lapangan, menikmati semangat anak-anak yang umurnya tak lebih dari 12 tahun itu. Sesekali saya tergelak saat melihat aksi mereka, ada anak-anak yang punya semangat yang melebihi kemampuan fisik mereka. Sungguh 30 menit yang menyenangkan. Semangat mereka, peluh mereka dan fantasi mereka adalah sebuah kenikmatan tersendiri.

 

Sejenak saya berandai-andai, salah satu-atau mungkin semuanya- dari 22 anak-anak ini nantinya akan berdiri di sebuah podium besar, mengangkat sebuah tropi berlapis emas, menciumnya sebelum mengangkatnya tinggi ke udara di sela-sela confetti yang jatuh bak tetesan hujan. Saya membayangkan salah satu dari anak-anak ini adalah pahlawan masa depan Indonesia yang bersama anak-anak muda lainnya bahu membahu mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.

 

Mimpi saya mungkin berlebihan. Tapi namanya juga mimpi, tak mengapa bila berlebihan bukan ?, meski saya tak bisa membedakan ini mimpi atau sebuah harapan ?.

 

Get the whole story »

Anugerah


hasil_usg.jpg

Sabtu kemarin, kami bertiga (saya, Ofie dan Nadaa) kembali menyambangi dr.Putra Rimba, SpOG. Sebuah rutinitas yang selalu kami lakukan setiap bulan, semenjak kami menyadari kalau di dalam tubuh Ofie sedang tumbuh seorang manusia.

Dan seperti biasanya juga, dr.Putra selalu melakukan USG untuk memastikan kondisi sang janin. Sebenarnya dari sekitar 2 bulan lalu, kami sudah diberitahu kalau sang janin yang sedang tumbuh itu berjenis kelamin lelaki, tapi belajar dari pengalaman sewaktu Nadaa masih dalam kandungan dulu, kami tak lantas percaya 100%. Dulu, saat Nadaa masih berusia 5 buland alam kandungan, dokter sudah memvonis kalau si jabang bayi bakal berkelamin laki-laki, tapi sebulan kemudian, vonis berubah menjadi perempuan.

Sabtu kemarin, dokter Putra Rimba kembali memvonis kalau bakal anak kedua kami ini adalah laki-laki. Pernyataan sang dokter diperkuat oleh tampak buah zakar dari sang bayi, dan akhirnya kamipun percaya.

Rasanya sungguh luar biasa..khususnya bagi saya.

Saya lahir dan besar dari keluarga yang lebih banyak didominasi oleh kaum wanita. 3 saudara kandung saya semuanya wanita. Setelah dewasa, saya bertemu dan akhirnya menikah dengan seorang wanita yang ternyata semua saudaranya juga wanita. Hampir dua tahun setelah menikah, saya dikaruniai seorang anak yang ternyata juga wanita. Bisa dibayangkan bukan, betapa kehidupan saya selalu dikelilingi oleh wanita.

Tidak heran bila kemudian saya sungguh merasa bahagia ketika mengetahui calon jabang bayi di tubuh istri saya adalah seorang lelaki. Kalau tak ada aral melintang, maka berarti nanti di rumah kami akan ada satu lagi lelaki selain saya, dan artinya (mudah-mudahan) akan ada satu orang yang akan menemani saya nonton bola….

Jalan itu mungkin masih panjang, saya belum berani bermimpi terlalu jauh. Sekarang saya hanya bisa berdoa kepada sang Maha Pengatur semoga kehamilan ini lancar-lancar saja, dan nantinya si jabang bayi bisa lahir dengan sehat, selamat dan tak kurang satu apapun. Sang ibu juga bisa melahirkan dengan lancar, Aminn..

Untuk teman-teman semua, saya dengan segala kerendahan hati memohon bantuan doanya, semoga semua harapan kami bisa didengar dan diwujudkan oleh sang Maha Kuasa…

Aminn..

Makassar, akankah lebih manusiawi ?

Siang itu panas, suatu hari di bulan Januari. Tidak seperti biasanya, siang itu matahari sedang bersahabat. Hujan seakan sedang berhenti sejenak, mengambil ancang-ancang sebelum nantinya datang lagi mengguyur setiap inci kotaku. Dari sebuah tempat makan di sebuah mall terbesar di Makassar, aku bersama dua belahan jiwaku sedang duduk menantikan pesanan kami. Di sisiku, bocah kecil yang belum genap 4 tahun itu mengoceh riang, tak henti-hentinya dia bercerita tentang pakaian dan mainan yang baru saja kami hadiahkan untuknya.

 

Aku masih menikmati celotehannya ketika istriku menunjuk ke bawah sana, ke arah pinggir jalan besar tepat di depan mall. Kusapukan pandanganku ke arah telunjuk wanitaku. Empat orang anak sedang tertawa riang di bawah sana. Besarnya mungkin tak lebih dari ukuran anak-anak umur 9 tahun. Di masing-masing bahu mereka tersampir karung goni, sementara di tangan yang lain sepotong besi berbentuk pengait nampak tergenggam erat. Tubuh mereka kumal, selaras dengan pakaian yang sudah nyaris tak terbentuk, lebih mirip kain lap di dapur kita.

 

Anak-anak itu tampak riang dalam kemarjinalan mereka. Tertawa dan saling beekejaran lalu berhenti di sebuah bak sampah besar. Berikutnya mereka sibuk mengaduk bak sampah dengan kait dari besi, saling berlomba selayaknya kucing yang berebut makanan sisa. Satu-dua benda yang tak kutahu benda apa mereka lemparkan ke dalam karung putih yang sama kumalnya dengan tubuh mereka. Setelah puas mereka kembali berlalu sambil tetap tertawa dan saling menggoda.

 

“ Kasihan …. Pernah nggak ya mereka sedih..?”, pertanyaan itu keluar dari bibir istriku. Bisa kurasakan kegetiran di nada biacaranya. Aku diam tak menjawabnya, mataku masih lekat mengawasi keempat bocah kumal itu yang terus tertawa dan akhirnya hilang dari pandangan. Aku sendiri memang tak tahu jawaban yang pasti dari pertanyaan istriku. Entah apakah anak-anak itu pernah berhenti sejenak dari kesusahan mereka dan memikirkan begitu banyak alasan untuk bersedih. Hatiku mendadak miris membayangkannya.

 

Get the whole story »