Jarum jam masih menunjuk ke angka 8, matahari belum terlalu panas. Rumput-rumput dan daun-daunan masih bercumbu dengan embun yang basah. Di sebuah lapangan rumput berukuran setengah dari lapangan sepakbola, dua puluh dua orang anak lelaki sedang asyik berpeluh sambil memainkan sebuah bola.
Anak-anak itu tampak sangat bersemangat, mereka berlari ke sana ke mari. Bergerombol memperebutkan bola. Sesekali ada juga dari mereka yang mencoba meliuk-liuk dengan bola di kakinya. Semangat terlihat jelas dari mata-mata mereka yang berbinar cerah saat tanpa rasa lelah mengejar si kulit bundar. Sesekali ada juga dari mereka yang berbenturan, terjatuh, mengaduh sejenak sebelum kemudian kembali berdiri dan kembali mengejar bola. Di tengah lapangan ada 3 orang dewasa yang dengan setia terus mengarahkan mereka, memberi semangat sambil sesekali memerintah. Mereka adalah pelatih anak-anak itu.
Hampir setengah jam lamanya saya berdiri di pinggir lapangan, menikmati semangat anak-anak yang umurnya tak lebih dari 12 tahun itu. Sesekali saya tergelak saat melihat aksi mereka, ada anak-anak yang punya semangat yang melebihi kemampuan fisik mereka. Sungguh 30 menit yang menyenangkan. Semangat mereka, peluh mereka dan fantasi mereka adalah sebuah kenikmatan tersendiri.
Sejenak saya berandai-andai, salah satu-atau mungkin semuanya- dari 22 anak-anak ini nantinya akan berdiri di sebuah podium besar, mengangkat sebuah tropi berlapis emas, menciumnya sebelum mengangkatnya tinggi ke udara di sela-sela confetti yang jatuh bak tetesan hujan. Saya membayangkan salah satu dari anak-anak ini adalah pahlawan masa depan Indonesia yang bersama anak-anak muda lainnya bahu membahu mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.
Mimpi saya mungkin berlebihan. Tapi namanya juga mimpi, tak mengapa bila berlebihan bukan ?, meski saya tak bisa membedakan ini mimpi atau sebuah harapan ?.










