Category Archives: diskusi

Ini Bukan Sekedar Permainan

Piala dunia tinggal menghitung hari. Aroma the greatest show on earthitu sudah bisa tercium di mana-mana. Dari bilik-bilik kantor yang wangi dan dingin ber-AC hingga warung pinggir jalan yang gerah dan berdebu. Lihat sekeliling anda, topik tentang piala dunia pasti muncul setiap kali para lelaki berkerumun. Mereka yang tak fasih menimpali obrolan tentang piala dunia pasti akan dianggap sebagai orang yang tak mengerti bola dan tak mengikuti perkembangan. Sebagian wanitapun terseret dalam arus demam piala dunia, singkatnya pagelaran 4 tahunan ini seperti magnet yang mampu menarik atensi jutaan penduduk di muka bumi, bahkan untuk mereka yang tak mengerti sepakbola sekalipun.

Hari rabu kemarin (9/6) saya sempat terlibat dalam chatting singkat dengan seorang teman. dari pembicaraan awal yang hanya bertukar salam kami kemudian mulai ngobrol tentang piala dunia. Saya coba mengulik rasa penasaran dia tentang piala dunia. Namun agak di luar dugaan saya, si teman ternyata sama sekali tidak tertarik dengan sepakbola, meski dalam situasi dunia yang sedang demam sepakbola seperti sekarang.

Get the whole story »

Blogging : Kualitas vs Kuantitas

“..Susahnya menjaga kualitas tulisan di antara derasnya godaan publish button..”, ini sepenggal kalimat dari Lily Yulianti, blogger, jurnalis dan pencetus situs citizen reporter www.panyingkul.com yang dikirim via email ke saya. Penggalan kalimatnya memang singkat tapi bagi saya sangat bermakna.

Musti saya akui, untuk menjadi seorang blogger berkualitas memang sangat berat tantangannya. Bukan hanya bagaimana mengundang pembaca sebanyak-banyaknya dan mendongkrak popularitas pribadi sebagai blogger tapi yang terpenting adalah bagaimana menjaga kualitas postingan.

Di saat senggang saya sering menilik kembali arsip-arsip tulisan saya dalam kurun waktu setahun hingga dua tahun yang lalu. Musti saya akui kalau setahun belakangan ini kualitas tulisan saya ada grafk penurunan. Saya susah menemukan indikatornya, lebih banyak sih hanya dari feeling saja. Menurut saya grafik tertinggi dari segi kualitas tulisan saya ada di kisaran 1,5-2 tahun yang lalu. Waktu itu saya memang sedang getol-getolnya belajar menulis yang baik dan banyak belajar dari komunitas Panyingkul!.

Get the whole story »

[Masih] Tentang Laskar Pelangi


 

Sebuah kebetulan baru saja terjadi dalam hidup saya di akhir pekan kemarin. Dimulai pada hari Jum’at malam. Dari sebuah milis yang saya ikuti, muncul sebuah info tentang acara Kick Andy di Metro TV yang rencananya akan membahas tuntas tentang film Laskar Pelangi, film yang sudah diantisipasi banyak orang sejak jauh-jauh hari.

 

Malamnya saya memang menyempatkan diri menonton acara itu. Euforia kemudian berlanjut di keesokan harinya. Saya mencabut kembali novel Laskar Pelangi dari lemari buku, membaca ulang beberapa bab-nya, tentu saja sambil melompat-lompat. Ini salah satu antisipasi saya menyambut film Laskar Pelangi karena terus terang beberapa karakter di dalam cerita itu sudah tidak begitu melekat lagi di kepala saya.

 

Hari Minggu, giliran Edensor yang saya raih. Membaca sambil melompat-lompat beberapa bagian dari cerita itu, sambil menantikan siaran ulang tayangan Kick Andy di Metro TV. Masih di hari yang sama namun di jam yang berbeda, sebuah tugas dari kantor membuat saya mesti berhubungan dengan internet. Setelah tugas rampung, saya berkunjung sejenak ke panyingkul.com dan segera bertemu dengan sebuah tulisan tentang Andrea Hirata dan tetralogi Laskar Pelangi-nya. Tulisan ini segera menarik perhatian saya karena toh hampir 3 hari ini kehidupan saya bertemakan Laskar Pelangi.

 

Dalam tulisan tersebut, sang penulis mencoba membeberkan beberapa kekurangan dari tetralogi yang sangat fenomenal tersebut. Karena berbau ilmiah maka sang penulis tentu saja menyertakan beberapa data dan fakta untuk mendukung analisanya. Hasilnya adalah sebuah perspektif baru dalam memandang sebuah karya yang oleh banyak orang dianggap sebagai sebuah inspirasi. Bila dilihat secara sepintas akan kelihatan kalau sang penulis mencoba melawan sebuah arus dan tentu saja musti bersiap-siap mendapat hujatan dan perlawanan dari para penggemar Andrea Hirata.

 

Saya cukup mengenal sang penulis, meski tak terlalu akrab. Selama mengenal beliau, terkadang saya memang agak kesulitan untuk membaca arah pikirannya, meski sangat sering saya dibuat terkagum-kagum oleh sudut pandang yang diambilnya dalam menilai sesuatu. Bukan satu dua kali Dandi (nama panggilan sang penulis) muncul dengan pespektif pandangan yang berbeda, tak lazim namun sangat mencerahkan.

 

Salah satu perpedaan pespektif pandangannya adalah tulisan tentang Laskar Pelangi itu. Saat ribuan orang menghaturkan pujian pada karya Andrea Hirata , Dandi memilih bergeser pada sebuah titik yang tak populer untuk kemudian memberikan analisa tentang tetralogi Laskar Pelangi. Perspektif pandangannya yang dilatarbelakangi berbagai data dan fakta cukup membuat saya kaget. Mungkin karena kapasitas ilmu, referensi dan perenungan saya yang memang belum sampai ke sana membuat saya sama sekali tak pernah berpikiran untuk melihat tetralogi Laskar Pelangi dari perspektif yang sama dengan Dandi.

 

Dandi memang agak berbeda. Latar belakang pendidikan, referensi dan mungkin kehidupannya selalu memaksa dan memungkinkan dia untuk selalu mencari cara pandang yang berbeda dalam memandang sesuatu hal. Namun selalu ada garis merah dari cara pandangnya itu. Dandi terang-terangan memperlihatkan keberpihakan (secara sadar atau tidak) pada kaum marjinal, kaum terbelakang atau kaum tertindas. Terkadang ada aroma anti kapitalisme dalam setiap tulisan dan kritikannya.

 

Kembali ke masalah Laskar Pelangi dan tulisan Dandi. Pada kasus ini, di manakah saya berdiri ?. Berpihak pada Andrea Hirata sebagai seorang pecinta fanatik dan buta ?, atau berdiri di belakang Dandi sebagai pengkritik yang pedas ?.

 

Get the whole story »

Seleraku, Seleramu


ahmad_dhani_0709.jpg

Beberapa hari yang lalu saya baru saja lepas membaca sebuah artikel berisi wawancara dengan Ahmad Dhani di majalah Rolling Stones Indonesia edisi Juni 2007. Selalu ada yang menarik dengan orang ini, kontroversi maupun hasil karyanya seperti tak pernah kering untuk sekedar menarik atensi publik dunia hiburan di Indonesia.

Ada satu hal yang saya garis bawahi dalam artikel tersebut, yaitu celoteh Dhani tentang selera musik orang Indonesia pada umumnya sekarang ini. Sebenarnya bukan pertama kalinya saya membaca komentar Dhani yang pedas tentang pergeseran selera musik jaman di negeri kita. Bertahun-tahun yang lalu saat Dhani mendirikan Ahmad Band dan sempat mengadakan wawancara di majalah HAI, sang pentolan band DEWA 19 ini juga sudah dengan lantangnya mengatakan kalau, “ semua lagu-lagu di TOP 40 sekarang adalah sampah..!!!, apalagi lagu-lagu dalam negeri”.

Semua orang yang pernah mendengar nama Dhani tentu paham betul bagaimana arogansi arek Suroboyo satu ini.  Arogansi yang dikawinkan dengan sikap blak-blakan dan tanpa kompromi yang sering mengundang berbagai kontroversi adalah satu hal yang lekat dengan kehidupannya.

Nah, kembali ke pembicaraan awal. Di artikel terakhir yang saya baca, Dhani juga masih semangat menggugat selera pasar musik dalam negeri kita. Dasar pijakannya tentu saja adalah meroketnya beberapa band-band baru yang bisa dibilang hanya bermodalkan tiga jurus. Dhani sebagai seorang musisi-yang mengaku-idealis dan mengklaim telah mendengarkan ribuan rekaman musik sepanjang hidupnya tentu merasa gelisah, apalagi menghadapi kenyataan kalau penjualan album grup DEWA 19-nya maupun side project-nya kalah banyak dari penjualan para musisi kelas tiga jurus itu.

Saya tidak bisa menyalahkan Dhani sepenuhnya, bahkanpun jika dia menggunakan alasan komersil semata untuk memunculkan penilaian seperti di atas.

Sebagai seorang penikmat musik yang “tertawan” di musik-musik tahun 90-an, saya memang sedikit banyaknya merasa ada degradasi yang sedang terjadi pada selera pasar musik kita. Tahun-tahun 90-an mungkin adalah tahun bangkitnya musik-musik ber-genre rock, progressive rock dan sedikit musik rap.

Tahun 90-an adalah puncak kejayaan berbagai band-band baru yang tak bisa dicap sebagai band 3 jurus. Simak kiprah band besar dan (sekarang) jadi legenda seperti SLANK, GIGI dan DEWA 19. Siapa yang berani mempertanyakan eksistensi mereka, apalagi kualitas musikalitas mereka. Meski awalnya lahir sebagai band yang cukup “manis”, ketiga band itu kemudian bertransformasi menjadi 3 band dengan ciri khas dan karakter yang kuat sehingga terkadang menjadi role model bagi band-band yang muncul belakangan.

Bila menilik lebih ke belakang, yaitu pada periode tahun 80-an maka bisa dibilang secara kualitas band-band yang berkibar di tahun 90-an masih bisa dianggap sebagai penerus tradisi band berkualitas yang sebenarnya sudah di tanamkan oleh banyak pemusik di periode tahun 80-an. Sebut saja Karimata, KLA dan Fariz RM.

Get the whole story »

[diskusi] apa klasifikasi blogger yang baik ?

Apa motivasi anda menjadi seorang blogger ?. Sekedar mencari “teman curhat”, mencari ajang etalase diri, atau ingin mencari corong baru yang independent untuk menyuarakan sesuatu yang mungkin tidak tidak terakomodasi oleh media-media mainstream ?, atau mungkin anda punya motivasi sendiri untuk menjadi seorang blogger ?.

Minggu lalu sempat terjadi perdebaran seru di milis Panyingkul! dan milis Blogger Makassar tentang bagaimanakah sebenarnya seorang blogger yang baik itu ?. Awal munculnya diskusi ini dipicu oleh keresahan kak Lily, editor http://panyingkul.com yang meresahkan masih banyaknya blogger yang kurang aware terhadap luasnya spektrum kebermanfaatan dari sebuah new media yang bernama Blog. Beliau meresahkan masih banyaknya blogger yang kemudian hanya berpuas di wilayah comfort zone dengan hanya memanfaatkan blog sebagai media curhat dan narsis.

Keresahan kak Lily ini kemudian mendapat tanggapan dari beberapa blogger yang masih merasa berada di comfort zone tersebut. Beberapa blogger menganggap kalau blog itu adalah rumah mereka, mau diisi apa saja terserah mereka. Soal apakah dianggap dianggap hanya narsis dan “kosong tak berisi” itu urusan para pembaca, toh tak ada aturan yang menggariskan tentang aturan content pada sebuah blog.

Diskusi menjadi panjang dan cukup seru. Kak Lily dengan panjang lebar memaparkan alasan-alasan di belakang keresahannya. Di sisi lain, Rara mewakili para blogger “biasa” yang menganggap kalau blogger tak perlu harus tunduk pada kaidah-kaidah jurnalistik untuk mengisi blog mereka. Rara dan beberapa teman blogger lainnya tetap berpegang pada aturan tak tertulis bahwa blog adalah media interaksi dan ekspresi, setiap pemilik blog tidak bisa dipaksa untuk mengikuti suatu aturan soal gaya penulisan atau tema-tema yang diangkat.

Get the whole story »