<?xml version="1.0" encoding="UTF-10"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daeng Gassing &#187; Buku-ku</title>
	<atom:link href="http://daenggassing.com/category/buku-ku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daenggassing.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 06:18:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Makassar Nol Kilometer ; Dari Supporter PSM Hingga Cafe di Losari</title>
		<link>http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 23:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Ininnawa]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar Nol Kilometer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=2294</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal Makassar tidak hanya lewat brosur wisata atau catatan manis di situs-situs travel atau milik pemerintah saja. Makassar punya banyak cerita, dari pinggiran kota hingga ke pusat kota. Sebagian cerita itu dirangkum 14 orang warga dalam buku Makassar Nol Kilometer. Cerita ini dibuka dengan kisah para supporter setia klub sepakbola PSM. Cerita tentang bagaimana mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_2295" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/makassar-nol-kilometer.jpg"><img class="size-full wp-image-2295" title="makassar nol kilometer" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2012/01/makassar-nol-kilometer.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Makassar Nol Kilometer</p></div>
<blockquote>
<h3>Mengenal Makassar tidak hanya lewat brosur wisata atau catatan manis di situs-situs travel atau milik pemerintah saja. Makassar punya banyak cerita, dari pinggiran kota hingga ke pusat kota. Sebagian cerita itu dirangkum 14 orang warga dalam buku Makassar Nol Kilometer.</h3>
</blockquote>
<p>Cerita ini dibuka dengan kisah para supporter setia klub sepakbola PSM. Cerita tentang bagaimana mereka bersedia menyabung nyawa mengawal klub kesayangan mereka yang tandang ke kota-kota lain di luar Sulawesi, tentang bagaimana mereka harus berhadapan dengan amarah supporter tuan rumah yang jumlahnya berlipat ganda. Juga cerita tentang semangat mereka memerahkan stadion Mattoangin setiap kali PSM menjadi tuan rumah untuk klub tamu.</p>
<p>Cerita seperti ini mungkin sudah sering terbaca di berbagai media, utamanya media lokal. Tapi kedalaman cerita yang dipaparkan di bab : Pengawal Pasukan Ramang karya Muh. Nur Abdurrahman ini melebihi kedalaman cerita wartawan biasa.</p>
<p>Buku ini memang dibuat dengan dasar menggali kepedulian warga biasa tentang kotanya. Ragam cerita yang terangkum adalah ragam cerita tentang keseharian, tentang kehidupan warga biasa yang mungkin tidak akan bisa ditemukan di media mainstream, apalagi media mainstream lokal yang lebih banyak diisi acara seremonial pejabat dan gosip artis.</p>
<p>Simak cerita tentang penjual jajanan buroncong ( kue pancong khas Makassar ) di seputaran Tamalanrea atau tentang para payabo ( sebutan untuk para pengumpul barang bekas atau pemulung ) Kisah remeh temeh itu biasanya tidak mendapat tempat di koran lokal, atau kalaupun mendapat tempat, porsinya kecil dan nyaris tidak terlihat.</p>
<p>Buku ini dibagi dalam 4 bagian, Komunitas, Kuliner, Fenomena dan Ruang. Masing-masing memotret lebih dalam tentang kehidupan warga biasa di kota Makassar. Cara penulisannya beragam, sesuai dengan gaya dari keempatbelas penulis meski tetap punya benang merah yang sama yaitu feature yang dalam dan memikat.</p>
<p>Makassar Nol Kilometer terbitan penerbit Ininnawa ini sudah masuk cetakan kedua. Tiga orang editornya dikenal baik sebagai orang-orang yang aktif di dunia literasi kota Makassar. Mereka adalah Anwar J. Rahman, Nurhady Sirimorok dan M. Aan Mansyur.</p>
<p>Kedalaman cerita, sudut pandang yang berbeda dan cara mengemas yang apik menjadikan Makassar Nol Kilometer sebagai sebuah buku yang harus dibaca oleh mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang Makassar, atau mereka yang ingin mendengar kisah nyata perjuangan masyarakat pinggiran sebuah kota yang terus berkembang dan memoles wajahnya hingga kelihatan menor.</p>
<p>Makassar Nol Kilometer dibuka oleh tulisan tentang supporter setia pasukan Ramang ( julukan PSM ) dan ditutup dengan cerita tentang cafe di sekitar pantai Losari yang makin hari makin terjepit hingga sekarang nyaris menghilang. Mari melihat sisi terdalam kota Makassar lewat buku Makassar Nol Kilometer.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>[dG]</strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/" title="cafe di makassar">cafe di makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/" title="hotel melati dilosari makasar">hotel melati dilosari makasar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/" title="ininnawa cafe makassar">ininnawa cafe makassar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/" title="kue pancong makasar">kue pancong makasar</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-2294"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2012%2F01%2Fmakassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2012/01/makassar-nol-kilometer-dari-supporter-psm-hingga-cafe-di-losari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selimut Debu ; Menyingkap Wajah Lain Afghanistan</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/07/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/07/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 09:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Agustinus Wibowo]]></category>
		<category><![CDATA[Review Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Selimut Debu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1666</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Berapa harga kepala kambing ini ? &#8221; , Tanya seorang pembeli &#8221; Lima puluh afghani &#8220;, Jawab penjual &#8221; Lima puluh ? Mahal sekali, dua puluh saja &#8220;, Si Pembeli menawar &#8221; Apa ? Dua puluh ? Kamu gila ? Kamu kira ini kepala manusia ? &#8220; **lelucon dari Kandahar, Afghanistan. Apa yang anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1667" class="wp-caption aligncenter" style="width: 620px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Selimut-Debu_2.jpg"><img class="size-full wp-image-1667" title="Selimut Debu_2" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Selimut-Debu_2.jpg" alt="" width="610" height="411" /></a><p class="wp-caption-text">Buszkashi, olahraga khas Afghanistan (foto by:avgustin.net)</p></div>
<h3 align="left">&#8221; Berapa harga kepala kambing ini ? &#8221; , Tanya seorang pembeli</h3>
<h3 align="left">&#8221; Lima puluh afghani &#8220;, Jawab penjual</h3>
<h3 align="left">&#8221; Lima puluh ? Mahal sekali, dua puluh saja &#8220;, Si Pembeli menawar</h3>
<h3 align="left">&#8221; Apa ? Dua puluh ? Kamu gila ? Kamu kira ini kepala manusia ? &#8220;</h3>
<h3 align="left"><em>**lelucon dari Kandahar, Afghanistan.</em></h3>
<p align="left">Apa yang anda bayangkan tentang Afghanistan ? Sebuah negara yang akrab dengan perang ? Bom bunuh diri ? Roket ? Kemiskinan ? Perempuan dengan wajah tertutupi <em>burqa</em> ? Alam yang ganas ? Debu yang selalu menyelimuti ? Semua mungkin benar.</p>
<p align="left">Bagi seorang <strong><a href="http://avgustin.net/">Agustinus Wibowo</a></strong>, Afghanistan adalah sebuah negeri yang penuh misteri. Maret 2001, gerilyawan Taliban merobohkan patung Buddha raksasa di Afghanistan dan ditayangkan ke seluruh dunia. Tak ada yang mengira kalau tayangan itu justru membuat seorang lelaki kewarganegaraan Indonesia jatuh cinta pada alam yang menjadi latar belakang adegan perubuhan patung tersebut.</p>
<p align="left"><strong>Agustinus Wibowo</strong> secara ajaib merasakan sebuah panggilan dari negeri yang porak-poranda karena perang itu. Sebuah mimpi kemudian makin menguatkan ambisinya untuk mengunjungi negeri di utara Pakistan tersebut.</p>
<p align="left"><span id="more-1666"></span>Agustinus akhirnya masuk ke Afghanistan. Bukan sebagai seorang turis, tapi sebagai seorang pengembara. Merangsek sampai ke jantung Afghanistan, bergaul dengan warga lokal, mencecap budaya setempat, dengan bekal uang a la kadarnya dan hanya berbekal keberanian yang kadang tidak masuk akal.</p>
<p align="left">Afghanistan begitu jauh merasuk ke dalam nadinya, membuat perjalanan berat dengan mobil-mobil tua nan renta dinikmatinya apa adanya. Tidur di kedai teh yang bobrok, berkawan dengan lalat dan nyamuk, bahkan Agustinus sempat berjalan kaki 40 KM hanya karena kalimat <strong>&#8220;tidak jauh lagi&#8221;</strong> . Bahkan yang paling parah, Agustinus berkali-kali mengalami pelecehan seksual, ditawar lelaki dan bahkan nyaris diperkosa. Hanya keteguhan luar biasalah yang membuat lelaki asal Lumajang itu tidak mengendurkan langkahnya dan terus berjalan menyusuri Afghanistan.</p>
<div id="attachment_1668" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/selimut-debu.jpg"><img class="size-full wp-image-1668" title="selimut-debu" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/selimut-debu.jpg" alt="" width="200" height="290" /></a><p class="wp-caption-text">Cover Selimut Debu</p></div>
<p align="left"><a href="http://daenggassing.com/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/"><strong>Selimut Debu</strong></a> menyingkap wajah Afghanistan. Negeri yang selama ratusan tahun terus dikuasai negeri asing, mengusir para penjajah, dijajah lagi, mengusir penjajah lagi, perang antar etnis dan kemudian jatuh dalam kemelaratan yang panjang.</p>
<p align="left">Afghanistan adalah sebuah negeri indah ibarat surga yang terlupakan. Tak banyak yang tahu kalau Afghanistan menyimpan lukisan alam yang begitu memukau. Deretan bukit gersang yang tertutupi salju di musim dingin, hamparan padang rumput yang menghijau, atau bahkan hamparan padang pasir yang gersang sejauh mata memandang.</p>
<p align="left">Dalam <strong>Selimut Debu</strong>, Agustinus juga menuliskan ragam budaya khas Afghanistan. Bagaimana orang Afghan menghargai para tamunya, bahkan rela mati demi tamunya. Bagaimana orang Afghan tak pernah secara frontal mengatakan <strong>tidak</strong> untuk menunjukkan penolakan. Orang Afghan lebih suka mengutarakan alasan yang berbelit-belit untuk menunjukkan kalau mereka sebenarnya keberatan. Kita yang harus pandai <em>membaca gelagat</em>.</p>
<p align="left"><a href="http://daenggassing.com/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/"><strong>Selimut Debu</strong></a> juga menceritakan tentang tradisi bachabazi. Tradisi yang sudah mengakar ratusan tahun pada suku Pashtun di Afghanistan, tradisi yang memungkinkan para pria dewasa menyodomi lelaki-lelaki muda demi kepuasan seksual mereka. Beragam alasan yang melatarbelakangi tradisi ini, salah satunya karena begitu tertutupnya pergaulan antara pria dan wanita di Afghanistan atau mahalnya harga mahar untuk bisa meminang seorang wanita Afghan.</p>
<p align="left"><strong>Selimut Debu</strong> adalah sebuah memoar tentang sebuah negeri yang kadang lebih kita kenal sebagai negeri yang asyik masyuk dengan perang. Banyak cerita dan fakta tentang Afghanistan yang diceritakan dengan sangat runut oleh Agustinus Wibowo dalam buku <strong>Selimut Debu</strong>.</p>
<div id="attachment_1669" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Selimut-debu_4.jpg"><img class="size-medium wp-image-1669" title="Selimut debu_4" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/07/Selimut-debu_4-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Pengemis di Kabul (foto by:Avgustin.net)</p></div>
<p align="left">Membaca <strong>Selimut Debu</strong>, kita akan bersyukur bahwa kita lahir dan besar di Indonesia, negeri yang relatif lebih aman meski masih saja dirundung berbagai kesulitan. Ragam kesulitan yang kita rasakan di Indonesia ternyata tidak ada apa-apanya dibanding dengan kesulitan rakyat Afghan yang sangat akrab dengan kemiskinan dan kemelaratan di negeri yang tak kunjung damai.</p>
<p align="left">Anda yang menyukai laporan perjalanan bernuansa jurnalistik pasti akan menyukai buku ini. Berbagai renungan tentang kehidupan ikut tersaji dalam buku setebal 461 halaman ini. Terima kasih untuk Agustinus Wibowo yang karena kecintaan, keteguhan hati dan rasa penasarannya yang luar biasa besar itu memungkinkan buku <a href="http://daenggassing.com/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/"><strong>Selimut Debu</strong></a> ini hadir di tangan kita para pembacanya.</p>
<p align="left"><strong><em>Tashakor ya Avgustin.</em></strong></p>
<p align="left">baca buku lain dari Agustinus Wibowo : <a href="http://daenggassing.com/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/"><strong>Garis Batas.</strong></a></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/" title="selimut debu">selimut debu</a> (11)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/" title="www avgustin net">www avgustin net</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/" title="WAJAH pengemis">WAJAH pengemis</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/" title="Wajah perempuan di Afghanistan">Wajah perempuan di Afghanistan</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/07/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/" title="buku tentang afganistan">buku tentang afganistan</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1666"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F07%2Fselimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/07/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Garis Batas ; Cerita Tentang Ragam Batas Dalam Kehidupan Manusia</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/06/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/06/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Jun 2011 03:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Agustinus Wibowo]]></category>
		<category><![CDATA[Avgustin]]></category>
		<category><![CDATA[buku garis batas]]></category>
		<category><![CDATA[Garis Batas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1634</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah rekor baru. Di jaman digital ketika twitter jadi salah satu bagian yang paling menyita perhatian dalam kehidupan saya, membaca buku jadi sebuah aktifitas yang berat untuk dijalani. Tapi, sebuah rekor baru saja saya torehkan. Buku setebal 510 halaman berhasil saya selesaikan dalam 10 hari, berarti rata-rata 51 halaman per hari. Hal yang luar biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p style="text-align: center;">
<div id="attachment_1637" class="wp-caption aligncenter" style="width: 626px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/garisbatas1.jpg"><img class="size-full wp-image-1637 " title="_garisbatas1" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/garisbatas1.jpg" alt="" width="616" height="465" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu masjid di Uzbekistan (sumber : Avgustin.net)</p></div>
<h3>Sebuah rekor baru. Di jaman digital ketika twitter jadi salah satu bagian yang paling menyita perhatian dalam kehidupan saya, membaca buku jadi sebuah aktifitas yang berat untuk dijalani. Tapi, sebuah rekor baru saja saya torehkan. Buku setebal 510 halaman berhasil saya selesaikan dalam 10 hari, berarti rata-rata 51 halaman per hari. Hal yang luar biasa di tengah godaan update status, membalas mention atau mengomentari ocehan orang di twitter. Buku itu berjudul Garis Batas.</h3>
<p>Apa definisi anda tentang jalan-jalan ? mengunjungi tempat indah di negeri yang aman ? menikmati debur ombak, langit biru dan air laut yang hangat ? menikmati spa, makanan enak dan pelayanan kelas 1 di hotel berbintang 5 ? Jujur saja, banyak orang yang mendambakan jalan-jalan seperti itu. Anda mungkin salah satunya.</p>
<p>Tapi bagi seorang <strong><a href="http://avgustin.net/">Agustinus Wibowo</a></strong>, bukan jalan-jalan seperti itu yang dia nikmati. Bagi Agustinus ( atau kemudian lebih akrab disapa Avgustin ) jalan-jalan berarti mengunjungi pelosok negeri yang tersembunyi jauh dari keramaian, jauh dari rasa aman atau bahkan tak ada dalam peta. Jalan-jalan berarti masuk ke dalam perkampungan kumuh, bertemu dengan orang-orang baru, tidur di hostel berfasilitas sangat minim, mempelajari adat-istiadat dan kebudayaan warga setempat, dan kadang bahkan berurusan dengan tentara, polisi atau agen rahasia.</p>
<p>Buang jauh-jauh bayangan tentang liburan seperti paragraf pertama di atas.</p>
<p><span id="more-1634"></span>Agustinus Wibowo, seorang pemuda kelahiran Lumajang, Jawa Timur. Seorang kutu buku di jaman SMA yang kemudian seperti terlahir kembali sebagai seorang pengembara. Dia melangkahkan kakinya ke beberapa negara di Asia Tengah. Masuk ke Mongolia, Afghanistan, Tajikistan, Kyrgysztan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turkmenistan dan kemudian mencatat banyak hal dari perjalanannya, menemukan banyak hal dan merenungkan banyak hal.</p>
<div id="attachment_1635" class="wp-caption alignright" style="width: 327px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/garisbatas.jpg"><img class="size-full wp-image-1635" title="_garisbatas" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/garisbatas.jpg" alt="" width="317" height="475" /></a><p class="wp-caption-text">Cover buku Garis Batas</p></div>
<p>Dalam buku <a href="http://daenggassing.com/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/"><strong>Garis Batas</strong></a> yang adalah buku kedua berisi catatan perjalanannya setelah <a href="http://daenggassing.com/selimut-debu-menyingkap-wajah-lain-afghanistan/"><strong>Selimut Debu</strong></a>, Agustinus bercerita banyak tentang kondisi negara-negara pecahan Uni Sovyet tersebut. Negara-negara yang hampir selama satu abad tidak pernah didengar namanya oleh orang di Bumi sebelum akhirnya muncul satu persatu di atas peta meski tetap menyimpan sejuta misteri. Negara-negara yang menyimpan romantika kemashyuran ketika menjadi bagian dari jalur sutra tapi kemudian kabur, kerdil dan tunduk dalam pengaruh Uni Sovyet.</p>
<p>Selepas runtuhnya raksasa Uni Sovyet, negara-negara kecil itu gamang. Selama pendudukan Uni Sovyet identitas asli mereka dibungkam. Kaum Kazakh yang nomaden dipaksa menetap dalam satu negara, kebudayaan Islam yang mengakar selama berabad-abad dibungkam, bahasa lokal dikaburkan dan semua diseragamkan. Semua harus tunduk pada Stalin dan Lenin, patuh pada komunisme dan diam dalam jutaan aturan yang mengikat.</p>
<p>Efeknya, ketika Uni Sovyet runtuh negara-negara kecil itu kebingungan menggali kembali jati diri mereka. Kebingungan memaknai garis batas yang selama ini diciptakan oleh Uni Sovyet, bingung untuk menarik garis batas yang baru dan bingung untuk melintasi garis batas yang sudah ada selama ini. Hingga kemudian muncul kerancuan, ketidakteraturan dan bahkan kericuhan serta kemiskinan dan kemelaratan yang terus berlanjut.</p>
<p>Buku ini tidak sekadar bercerita tentang sebuah perjalanan ke negeri-negeri eksotis dan jarang diekspos. Buku ini bercerita banyak tentang beragam garis batas yang secara tidak sadar sudah ikut mengalir dalam darah kita di detik ketika kita hadir ke muka bumi.</p>
<p>Kewarganegaraan, suku, agama, warna kulit, bahasa, status sosial, semua adalah garis batas yang mengikut tanpa kita minta, dia lahir ketika kita juga lahir. Tidak semua orang bisa menerima garis batas tersebut. Sebagian orang menciptakan perang untuk melindungi garis batasnya, menciptakan garis batas yang baru meski harus berlumuran darah.</p>
<p><a href="http://daenggassing.com/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/">Garis batas</a> itu pula yang membuat Suhrat (bab : Dunia Tanpa Batas) menjadi manusia tanpa kewarganegaraan. Dia lahir di Turkmenistan tapi bersekolah di Tashkent, Uzbekistan. Waktu itu identitasnya jelas : warga Uni Sovyet. Ketika Uni Sovyet runtuh, dia kehilangan identitas. Tidak diakui oleh Uzbekistan dan ditolak Turkmenistan. Jadilah dia manusia tanpa kewarganegaraan. Sebuah garis batas mengungkung hidupnya, membuatnya sulit ke mana-mana. Bahkan untuk pulang ke kampung halaman sendiri.</p>
<p>Garis batas itu juga yang membuat dua buah negara yang hanya dipisahkan sungai berjarak 20 M tapi punya peradaban yang nyaris terpisah jarak 100 tahun. Warga Afghanistan di sisi yang satu masih akrab dengan keledai dan kuda, menatap penuh rasa penasaran pada warga Tajikistan di seberang sana yang melintas di atas mobil di aspal yang mulus. Sungguh ironis bagaimana sebuah garis batas membuat dua negara seakan terpisah jarak waktu yang panjang.</p>
<p>Buku ini berisi banyak cerita tentang pergulatan manusia di beberapa negara di Asia Tengah. Manusia yang bergulat melawan garis batas kehidupan, yang nyata ataupun imajiner. Garis-garis batas yang begitu nyata memisahkan manusia satu dengan manusia lainnya, mengkotakkan manusia menurut garisnya masing-masing.</p>
<div id="attachment_1638" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/agustinus.jpg"><img class="size-full wp-image-1638" title="_agustinus" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/agustinus.jpg" alt="" width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Agustinus Wibowo</p></div>
<p>Agustinus Wibowo menuliskan renungannya yang panjang, renungan yang muncul dari perjalanan panjangnya ke negeri-negeri berakhiran Stan itu. Sebagai warga keturunan, Agustinus juga pernah berada dalam posisi sulit akibat garis batas. Agustinus kecil selalu menjadi korban ejekan rasis karena asal-usulnya yang keturunan. Dia tidak dianggap Indonesia murni karena dalam darahnya mengalir darah China. Ketika berada di Beijing, dia juga tidak otomatis diterima di sana. Ras China-nya bukan jaminan dia bisa melebur dengan nyaman di negeri asal leluhurnya. Di sana dia juga harus menerima celaan akibat ulah sebagian orang Indonesia selepas kerusuhan Mei 1999. Garis batas imajiner yang begitu menyulitkan.</p>
<p>Jangan harap anda akan menemukan tips berwisata dalam buku Garis Batas ini meski isinya memang tentang jalan-jalan. Tidak ada daftar harga tiket, harga penginapan, pilihan moda transportasi, harga makanan atau daftar tujuan wisata. Buku ini sepenuhnya berisi cerita tentang perjalanan tidak biasa yang kemudian dibubuhi kesimpulan dari sebuah perenungan.</p>
<p>Garis Batas sesungguhnya adalah sebuah buku yang banyak becerita tentang garis-garis batas yang kita punyai dan kita hadapi sehari-hari dalam kehidupan kita. Setiap dari kita punya garis batas sendiri-sendiri, tinggal bagaimana kita bisa berdamai dengan garis batas tersebut, menjadikannya sebagai sebuah keunikan dan bukan alasan untuk berpecah-belah.</p>
<p>Mari menemukan dan merenungkan <a href="http://daenggassing.com/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/">garis batas </a>itu.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/" title="garis batas">garis batas</a> (9)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/" title="review garis batas agustinus wibowo">review garis batas agustinus wibowo</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/" title="resensi buku garis batas">resensi buku garis batas</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/" title="perkampungan Negara uzbekistan">perkampungan Negara uzbekistan</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/" title="keunikan garis hidup seseorang">keunikan garis hidup seseorang</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1634"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F06%2Fgaris-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/06/garis-batas-cerita-tentang-ragam-batas-dalam-kehidupan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NAKED TRAVELER -2, Catatan Perjalanan yang Bikin Iri</title>
		<link>http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 06:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[naked traveler]]></category>
		<category><![CDATA[trinity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Di dunia ini ada 2 wanita yang paling mampu membuat saya sirik plus iri. Yang pertama adalah Riyani Djangkaru dan yang kedua adalah Trinity. Riyani ?terkenal sebagai icon dari acara Jejak Petualang di Trans-7. Riyani yang mempopulerkan acara jalan-jalan di stasiun televisi, selepas kepergiannya acara Jejak Petualang makin merosot pamornya. Medina Kamil sang pengganti tampaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/naked-traveler_n36814787199_7656.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-593" title="naked traveler_n36814787199_7656" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/naked-traveler_n36814787199_7656.jpg" alt="" width="200" height="321" /></a>Di dunia ini ada 2 wanita yang paling mampu membuat saya sirik plus iri. Yang pertama adalah Riyani Djangkaru dan yang kedua adalah Trinity.</p>
<p>Riyani ?terkenal sebagai icon dari acara Jejak Petualang di Trans-7. Riyani yang mempopulerkan acara jalan-jalan di stasiun televisi, selepas kepergiannya acara Jejak Petualang makin merosot pamornya. Medina Kamil sang pengganti tampaknya kesulitan untuk meneruskan nama besar Riyani.</p>
<p>Riyani mampu membuat saya iri bin sirik karena dia punya banyak kesempatan untuk jalan-jalan, sebagian besarnya adalah ke tempat-tempat non turistik yang eksotis di pelosok-pelosok Indonesia dan beberapa Negara tetangga. Yang lebih mengasyikkan adalah karena dia digaji..!!. Bagi saya ini kerjaan yang luar biasa enak, seperti bukan bekerja saja rasanya.</p>
<p>Wanita kedua yang selalu membuat saya iri bin sirik adalah Trinity. Saya mulai kenal dia lewat buku Naked Travel sekitar setahun lebih yang lalu. Agak telat memang, apalagi ternyata Trinity sudah sangat terkenal di jagad maya. Wanita bertubuh subur dengan tampang mirip Pinoy (menurut dia) ini adalah seorang traveler sejati, tujuan utama hidupnya hanyalah agar bisa berjalan-jalan sebanyak mungkin dan sejauh mungkin. Total telah 43 negara dan hampir seluruh propinsi di Indonesia telah didatanginya.</p>
<p>Inti dari tulisan perjalanan Trinity yang dicatat di buku Naked Traveler dan Naked Traveler 2 bukanlah tentang informasi lokasi-lokasi wisata yang menarik di berbagai tempat yang dia datangi. Trinity tidak seperti agen wisata yang menceritakan tentang keindahan objek wisata di sebuah tempat berikut informasi perjalanan dan akomodasinya, Trinity hanya mencatat berbagai hal yang justru jauh lebih menarik.</p>
<p>Trinity banyak bercerita tentang kebudayaan, kebiasaan, kelucuan dan hal remeh temeh lainnya yang dia jumpai di semua tempat yang dia kunjungi. Inilah perbedaan besar antara buku Naked Traveler-nya Trinity dengan brosur wisata atau info wisata lainnya yang banyak bertebaran.</p>
<p><span id="more-592"></span>Lewat buku Naked Traveler kita bisa tahu banyak tentang berbagai hal-hal unik, lucu dan mengasyikkan yang bertebaran di berbagai tempat di dunia ini. Salah satu contohnya adalah tulisan tentang Negara Palau, salah satu Negara kecil di Samudra Pasifik, daerah Micronesia.</p>
<p>Di Negara yang jumlah penduduknya hanya sekitar 30.000 orang itu, Trinity menceritakan tentang banyak hal yang lucunya sungguh absurd. Tentang bagaimana ?kemalasan? penduduk lokal, ?tentang bagaimana kecilnya Negara itu dan sedikitnya penduduk sehingga untuk sekedar flirting saja mereka harus mengusut asal-usul seseorang karena jangan sampai mereka adalah keluarga sendiri.</p>
<p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/Naked_Traveler_Depan.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-594" title="Naked_Traveler_Depan" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/03/Naked_Traveler_Depan.jpg" alt="" width="91" height="144" /></a>Cerita tentang Palau hanya satu dari sekian banyak cerita yang dipaparkan Trinity di bukunya. Khusus di buku Naked Traveler 2 ini, Trinity juga banyak menuliskan tentang latar belakang hobinya berjalan-jalan juga tentang siapa saja yang sering menjadi teman jalan-jalannya.</p>
<p>Naked Traveler 2 ini menurut saya mutunya sedikit di bawah Naked Traveler 1. Ada beberapa cerita yang berulang di NT2 ini dan sama sekali tidak mengulangi pengeditan ulang sehingga rasanya hanya mengejar setoran saja. Unsur surprise juga sepertinya agak hilang dari buku ini, tidak seperti yang saya rasakan waktu membaca buku Naked Traveler 1 meski unsur lucunya masih tetap ada. Yah, ini salah satu hal yang paling menarik dari Naked Traveler. Trinity (dan editornya) mampu mengemas sebuah cerita ringan menjadi sebuah cerita yang lucu dan menarik. Saya sampai tergeli-geli sendiri membaca beberapa cerita Trinity di buku ini.</p>
<p>Intinya, Naked Traveler 2 ini tetap merupakan sebuah buku yang menarik bagi saya. Buku yang mampu menerbitkan rasa iri saya pada Trinity yang sudah berani (dan bisa) melakukan perjalanan ke berbagai Negara dan propinsi di Indonesia. Segala macam perjalanan yang sudah dilewatinya tentu akan memperluas wawasannya dan memberikan pengalaman-pengalaman tak ternilai dalam hidupnya.</p>
<p>Sayangya, menurut saya buku terlalu mahal (Rp. 61.000,-) agak kurang sesuai dengan isinya karena (sekali lagi menurut saya) buku Naked Traveler 1 masih lebih menarik, lebih lucu dan lebih punya unsure surprise. Meski begitu Naked Traveler 2 bolehlah saya rekomendasikan untuk anda yang senang baca buku, ratingnya saya beri 3,5/5.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="riyani jangkaru 2011">riyani jangkaru 2011</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="trinity naked traveller nama">trinity naked traveller nama</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="catatan traveler">catatan traveler</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="harga buku trinity">harga buku trinity</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/" title="jejak petualang riyani jangkaru">jejak petualang riyani jangkaru</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-592"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2010%2F03%2Fnaked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2010/03/naked-traveler-2-catatan-perjalanan-yang-bikin-iri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggugat Makassar yang Modern tapi Tak Manusiawi</title>
		<link>http://daenggassing.com/2009/10/menggugat-makassar-yang-modern-tapi-tak-manusiawi/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2009/10/menggugat-makassar-yang-modern-tapi-tak-manusiawi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 10:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[BENARKAH MAKASSAR SUDAH LEBIH MAJU, MODERN, NYAMAN DAN MANUSIAWI ? Judul Buku     :    Makassar dari jendela pete-pete : catatan seorang pengguna jalan Penulis    :    Winarni K.S Penerbit    :    Panyingkul, 2009. Sebelum mulai menulis catatan tentang buku ini, saya sebelumnya ingin bertanya dulu kepada anda yang tinggal di Makassar minimal dalam kurun waktu 10 tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><img class="alignleft size-full wp-image-437" title="petepete" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2009/10/petepete.jpg" alt="petepete" width="200" height="254" />BENARKAH MAKASSAR SUDAH LEBIH MAJU, MODERN, NYAMAN DAN MANUSIAWI ?</p>
<p>Judul Buku     :    Makassar dari jendela pete-pete : catatan seorang pengguna jalan<br />
Penulis    :    Winarni K.S<br />
Penerbit    :    Panyingkul, 2009.</p>
<p>Sebelum mulai menulis catatan tentang buku ini, saya sebelumnya ingin bertanya dulu kepada anda yang tinggal di Makassar minimal dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini, atau anda orang Makassar yang lama tinggal di luar Makassar dan baru saja berkunjung kembali ke kota Anging Mammiri ini.</p>
<p>Pertanyaan pertama saya, benarkah Makassar sekarang sudah lebih maju dan modern ?<br />
Pertanyaan kedua saya, Apakah Makassar sudah lebih manusiawi dan lebih nyaman untuk warganya ?</p>
<p>Untuk pertanyaan pertama saya yakin hampir semua dari anda akan menjawab : Iya. Setidaknya bila melihat secara kasat mata betapa dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini Makassar telah benar-benar berubah makin maju dan modern. Tidak percaya ? mari kita hitung jumlah gedung monumental yang megah dan menggambarkan kemajuan Makassar. Kita mulai menghitung dari jumlah mall yang sudah berdiri di berbagai sudut kota kita ini, mulai dari selatan kota di daerah Tanjung Bunga hingga di utara kota di daerah Tamalanrea. Jumlahnya terus bertambah. Nah, contoh lainnya mari kita lihat betapa megahnya bandara Sultan Hasanuddin yang baru, kemudian masukkan juga proyek revitalisasi Karebosi yang mengkilap, proyek anjungan Losari yang megah dan tentu jangan lupakan proyek jalan layang yang sebentar lagi akan beroperasi. Bukti-bukti di atas tentu belum termasuk beberapa bangunan jangkung yang lantainya terdiri dari bilangan dua digit. Kurang bukti apalagi coba kalau kita katakan bahwa Makassar memang telah jauh lebih maju dan modern dibandingkan dengan – misalnya – 10 tahun yang lalu ?.</p>
<p>Nah, sekarang untuk pertanyaan kedua. Benarkah Makassar sudah lebih manusiawi dan lebih nyaman untuk warganya ? Jawaban untuk pertanyaan ini mungkin beragam, saya yakin itu. Makassar memang makin maju dan modern, tapi untuk dibilang makin manusiawi dan nyaman rasanya masih bisa diperdebatkan. Titik kemacetan makin bertambah, genangan air di jalan raya saat musim hujan tiba terus saja bertambah, masalah transportasi massal yang masih saja bagai benang kusut hingga masalah parkir yang belum terpecahkan. Oh, maaf saya lupa memasukkan panasnya cuaca kota yang makin menguras keringat. Jadi, benarkah Makassar lebih manusiawi dan nyaman setelah kita yakin Makassar makin maju dan modern ?</p>
<p>Bila kita mau merenung sejenak saja dan mulai membandingkan Makassar tahun 2009 dengan Makassar 10 tahun yang lalu saya yakin banyak dari kita yang mengeluh dan mungkin menyadari kalau ada yang salah atau mungkin kurang tepat dari perkembangan kota ini. Salah seorang yang merasakannya adalah Winarni.</p>
<p>Winarni adalah seorang mahasiswa (sebentar lagi mantan mahasiswa) jurusan tata kota. Berbekal ilmu yang didapatnya di bangku kuliah, dia membandingkan antara teori tata kota serta berderet-deret bacaan dan artikel tentang tata kota yang dilahapnya selama kuliah dengan kenyataan yang dilihat dan dirasakannya di kota tempat dia lahir dan hidup sehari-hari. Winarni menyadari ada beberapa hal yang sesuai dengan apa yang dipelajari atau dibacanya. Winarni kemudian memilih untuk menuliskan keresahannya, menumpahkan sederet pertanyaan dan mungkin saja kekesalannya pada kebijakan-kebijakan penataan kota yang dianggapnya tak benar.</p>
<p><span id="more-436"></span>Lewat buku yang dominan bersampul biru ini, Winarni banyak menulis tentang berbagai aspek tata kota yang dirasakannya selama ini. Winarni mencatat tentang perubahan yang terjadi pada daerah Panakkukang, daerah yang dulunya hanya berupa rawa dan lahan tak produktif yang kini telah berubah menjadi primadona kawasan bisnis. Winarnipun mencatat tentang berbagai perubahan mendasar yang terjadi pada kota Makassar. Tentang mall yang terus bertambah, tentang ruko yang tumbuh tak terkendali, tentang jumlah pete-pete yang terus membengkak dan tidak seimbang dengan jumlah penumpang dan tentang apa saja, bahkan tentang nasib para pejalan kaki yang makin terpinggirkan dan trotoarnya hilang direnggut pihak lain. Winarni dengan rajinnya mencatat dan mencurahkan perasaannya, mirip seorang remaja yang mengisi buku harian.</p>
<p>Namun, ada satu hal yang membedakan Winarni dengan remaja biasa yang rajin mengisi buku harian. Winarni bicara dengan fakta dan dasar yang kuat. Dalam setiap bab tulisannya, Winarni selalu mengikutsertakan data-data baik yang berupa angka-angka maupun yang berupa analisa dan teori yang dirangkumnya dari berbagai sumber, sehingga “curhatannya” kemudian terasa berbau ilmiah, membuat tulisannya menjadi sebuah rujukan yang pas untuk para akademisi ataupun orang-orang yang sekedar ingin tahu banyak tentang tata kota.</p>
<p>Bukan hanya masalah-masalah berat yang jadi pokok tulisan Inart (begitu gadis ini biasa disapa), beberapa hal yang bersifat ringan dan personalpun dibahasnya. Simak tulisan tentang makin sempitnya lahan untuk bermain layangan yang memaksa anak-anak bergeser ke jalan raya hanya untuk sekedar menerbangkan layang-layangnya. Inartpun tak lupa menuliskan keresahannya tentang jati diri para remaja yang mungkin makin  terkikis karena ramainya ikon-ikon produk modern yang sepenuhnya adalah produk import, juga tentang bagaimana pandangan para remaja di pasar tradisional tentang mall yang hari ini sudah bertebaran di berbagai sudut kota Makassar. Tak lupa Inartpun bercerita tentang sebuah pusat perbelanjaan baru yang tumbuh di tengah kawasan yang dulunya diperuntukkan sebagai kawasan pendidikan. Meski tak langsung namun dalam tulisan itu Inart terlihat kuatir akan dampak yang mungkin terjadi pada para pelajar dan mahasiswa di sekitar pusat perbelanjaan tersebut. Ah, Inart juga rupanya mempertanyakan proyek Center Point Of Indonesia (CPI) yang dirasakannya tak lebih dari sebuah proyek ambisius milik para pejabat.</p>
<p>Dalam setiap tulisannya Inart seakan membuka sebuah ruang dialog yang luas dengan kita para pembacanya. Inart mengajak kita merenungi arah perkembangan kota Makassar, mempertanyakan banyak hal terkait perubahan dan perkembangan tersebut dan mungkin sebagian orang akan tertantang untuk mendebat atau minimal mendiskusikan isi catatan Inart.</p>
<p>Bagi saya Inart adalah seorang mahasiswa yang cerdas, dia berhasil membuka sebuah ruang baru untuk sebuah diskusi dan perenungan tentang nasib kota Makassar, kota yang diakrabinya setiap hari. Namun di sisi yang lain Inart juga memancing para pembacanya yang bukan warga kota Makassar untuk ikut merenungi arah perkembangan kota mereka, membandingkan perkembangan kota mereka dengan kota Makassar yang dicatat oleh Inart.</p>
<p>Karenanya tanpa ragu-ragu saya bisa mengatakan kalau buku ini adalah sebuah buku yang pantas menjadi rujukan untuk para warga kota di mana saja berada, bukan hanya mereka yang tinggal dan akrab dengan Makassar.</p>
<p>Satu hal lagi yang membuat Inart sang penulis menjadi istimewa adalah karena melalui buku ini Inart ingin menunjukkan sebuah perlawanan terhadap sebuah tradisi turun temurun yang entah sudah berapa jauh mengakar. Inart mempersembahkan buku ini sebagai hadiah bagi dosen dan almamaternya, Inart keluar dari pakem selama ini bahwa mahasiswa yang baru lulus akan menyetor parsel berisi buah atau jenis makanan dan minuman lainnya kepada dosen mereka. Inart mempersembahkan sebuah parsel yang isinya berbeda, parsel yang isinya lebih ilmiah dan tentu lebih mencerdaskan, atau meminjam istilah Habudi di Republik Mimpi maka parsel Inart adalah parsel yang high tech.</p>
<p>Inart memanfaatkan haknya sebagai warga kota yang taat membayar pajak, inart memanfaatkan haknya itu dengan cara membukukan buah pikiran, hasil analisa dan mungkin sekedar curhatan tentang kotanya. Saat menutup buku ini kita pasti akan kesulitan menjawab pertanyaan, benarkah Makassar sudah lebih maju, lebih modern dan sekaligus lebih nyaman dan manusiawi ? Sebuah pertanyaan yang jawabannya masih bisa kita perdebatkan.</p>
<div class="shr-publisher-436"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2009%2F10%2Fmenggugat-makassar-yang-modern-tapi-tak-manusiawi%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2009/10/menggugat-makassar-yang-modern-tapi-tak-manusiawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maryamah Karpov; episode pamungkas yang antiklimaks</title>
		<link>http://daenggassing.com/2009/01/maryamah-karpov-episode-pamungkas-yang-antiklimaks/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2009/01/maryamah-karpov-episode-pamungkas-yang-antiklimaks/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 02:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, novel pamungkas dari tetralogi Laskar Pelangi itupun terbit juga. Novel pamungkas ini sudah ditunggu para penggemar Laskar Pelangi, tentu saja karena keberhasilan tiga novel terdahulu serta film Laskar Pelangi yang bisa dibilang fenomenal.   Ekspektasi orang terhadap novel keempat ini tentu bermacam-macam, meski sebagian besarnya tentu berharap Maryamah Karpov bisa seperti novel-novel pendahulunya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 11" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 11" /></p>
<link href="file:///C:\DOCUME~1\PEMASA~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:PunctuationKerning/>   <w:ValidateAgainstSchemas/>   <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>   <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent>   <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>    <w:DontGrowAutofit/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156">  </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><br />
<style><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><img src="http://i168.photobucket.com/albums/u175/ipulji/foto%20blog/maryamahkarpov.png" align="left" /><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Akhirnya, novel pamungkas dari tetralogi Laskar Pelangi itupun terbit juga. Novel pamungkas ini sudah ditunggu para penggemar Laskar Pelangi, tentu saja karena keberhasilan tiga novel terdahulu serta film Laskar Pelangi yang bisa dibilang fenomenal. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Ekspektasi orang terhadap novel keempat ini tentu bermacam-macam, meski sebagian besarnya tentu berharap Maryamah Karpov bisa seperti novel-novel pendahulunya yang inspiratif dan menggugah semangat bagi sebagian orang. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Saya baru saja menamatkannya beberapa hari yang lalu dan rasanya saya tergoda untuk membuat resensinya sesuai penilaian pribadi saya selepas membaca Maryamah Karpov (MK). <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Sebelum MK terbit sebenarnya saya sudah dihinggapi berbagai pertanyaan seputar momen penerbitan buku ini. Jarak antara peluncuran buku seri ketiga ( Edensor ) dengan Maryamah Karpov terasa sangat jauh. Ada kejanggalan yang saya rasakan di sini, apalagi cover depan MK sudah dipromosikan di buku ketiga. Logika sederhana saya, orang tak mungkin berani membuat cover buku apabila tak mengerti betul isi buku tersebut, karena bagaimanapun cover dan isi buku harus sejalan atau minimal ada benang merahnya.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Pikiran saya waktu itu adalah, MK sebenarnya sudah selesai hanya saja peluncurannya menunggu monentum yang tepat. Andrea Hirata dan Laskar Pelangi-nya mulai meroket sejak pertengahan tahun 2007 dan mencapai puncaknya sejak dipromosikan besar-besaran di acara Kick Andy!-nya Metro TV. Sejak itu LP dan 2 novel pengikutnya tiba-tiba jadi sebuah meteor terang dalam jagad perbukuan di tanah air. Belakangan malah muncul wacana mengangkat LP ke layar lebar. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Nah, saya kira ini adalah alasan kuat kenapa MK kemudian ditunda peluncurannya. Nama Andrea Hirata dan LP yang sedang naik tentu saja perlu antisipasi yang tepat untuk dijaga kelanggengannya. Salah satunya adalah menahan laju penerbitan buku terakhir agar nantinya ada kontinuitas dalam menjaga popularitas Andrea dan LP. Terbukti bahwa setelah film Laskar Pelangi diluncurkan, Maryamah Karpov-pun ikut meluncur. Ini tentu momentum yang sangat tepat.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Tapi, itu hanya teori saya saja yang tentu bisa benar dan sangat bisa salah..<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-254"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Keganjilan lain yang saya rasakan adalah, isi buku ternyata sama sekali tak sejalan dengan judul apalagi cover-nya. Awalnya saya mengira MK ini akan banyak bercerita tentang Mak Cik Maryamah dan Nurmi anaknya yang pemain biola itu (merujuk ke sampul yang bergambar wanita memainkan biola). Mak Cik Maryamah dan Nurmi sudah dihadirkan di salah satu bab di Sang Pemimpi. Tapi ternyata dugaan saya salah. Buku terakhir ini, yang kemudian ditambahi dengan kata-kata “Mimpi-Mimpi Lintang” lebih banyak bercerita tentang perjalanan Ikal mencari cinta sejatinya dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Maryamah. Nama Maryamah sendiri hanya dua kali disebut-sebut, lengkap dengan julukannya Maryamah Karpov.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Di akhir buku Sang Pemimpipun dituliskan kalau Maryamah Karpov nantinya akan bercerita tentang perempuan yang dilihat dari sebuah sudut yang tak pernah dihadirkan penulis Indonesia sebelumnya. Tapi pada kenyataannya MK kemudian lebih banyak bercerita tentang Ikal dan mimpi-mimpinya. Bagi saya ini jelas sebuah keganjilan yang besar hingga kemudian menerbitkan satu pertanyaan lagi di kepala saya. Mungkinkah naskah awal MK mengalami perubahan ? Apalagi setelah Laskar Pelangi sukses dan Andrea menyadari ekspektasi pembacanya yang sangat besar untuk mengetahui nasib percintaan Ikal dan A Ling serta nasib Arai, Lintang dan anggota Laskar Pelangi lainnya, sehingga kemudian naskah MK dirombak habis-habisan demi memuaskan rasa ingin tahu para pembaca setia Laskar Pelangi. Mungkin saja bukan ?.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Satu keganjilan lagi. Di akhir buku Laskar Pelangi diceritakan kalau Mahar akhirnya jadi abdi pemerintah di departemen kebudayaan, sekaligus jadi penulis cerita anak-anak sesuai dengan minatnya yang besar pada dunia seni. Societet de Limpai-organisasi rahasia para pecinta mistis-pun sudah dibubarkan setelah mereka menerima “pukulan telak” dari Tuk Bayan Tula. Di MK, Mahar diceritakan malah serius dengan dunia mistis dan tetap memelihara organisasinya lengkap dengan para pendukungnya. Jelas ada alur cerita yang dibelokkan. Apalagi cerita pertama lebih sejalan dengan realitas karena setahu saya dari tayangan di televisi, Mahar yang asli memang seorang pegawai negeri.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Kalau bicara tentang logika, buku ini sebenarnya memang mengandung banyak cacat logika, setidak-tidaknya bagi saya. Usaha keras Ikal yang kemudian berhasil membuat perahu nyaris seorang diri bagi saya agak di luar logika. Tidak masuk akal, meski kemungkinannya tetap ada. Ini kapal sepanjang 11 meter Boi, bukan pekerjaan ringan apalagi bila dikerjakan sendiri. Kantor saya memesan kapal dengan ukuran seperti itu dan sudah hampir setahun belum selesai padahal saya yakin yang mengerjakannya bukan hanya seorang saja. Nah, bayangkan bila anda mengerjakannya seorang diri dan ditambah lagi anda harus bekerja serabutan untuk mengumpulkan modal.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Nah, proses mengumpulkan modal ini juga menimbulkan pertanyaan baru di kepala saya. Logika saya begini, waktu yang digunakan Ikal untuk bekerja kasar sebagai kuli dan editor majalah sangat sedikit, hanya beberapa bulan kalau tak salah. Nah, hasil kerja tersebut digunakannya untuk membuat perahu dan sisanya dipakai untuk menyogok anak buah Tambok si bajak laut. Kira-kira jumlah hasil kerjanya berapa ya ? Yang jelas pasti tak sedikit karena toh Ikal mampu membeli beberapa bahan-bahan pembuat perahu plus mesin kapal dan tentu saja logistik untuk perjalanan jauh tapi kemudian masih ada sisanya untuk dijadikan upeti. Jumlahnya pasti besar sekali bukan ? Karena setahu saya harga sebuah mesin kapal itu sangat tidak murah, bisa berkisar 10 sampai ratusan juta tergantung PK-nya. Nah, apa iya kerja sebagai kasar sebagai buruh dan sebagai editor majalah sekaligus selama beberapa bulan mampu untuk membiayai semua itu ? Kalau iya berarti pekerjaan itu sangat menjanjikan dong, apalagi untuk dikerjakan selama setahun penuh misalnya. <span> </span><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Sekarang lihat halaman 258. Di sana Andrea bercerita tentang kenangan Ikal bersama teman-teman Laskar Pelanginya saat masih bersekolah di SD Muhammadiyah, khususnya tentang goresan di tiang yang menandai tinggi badan mereka. Di salah satu paragraf diceritakan kalau tinggi Ikal saat kelas 2 SMP adalah 147 cm dan di paragraf bawah ditulis kalau tinggi Ikal di kelas 3 SMP adalah 144 cm, aneh bukan ? Berarti saat naik kelas dan bertambah umur tingginya malah turun 3 cm. Dan kesalahan ini juga berlaku untuk anggota Laskar Pelangi yang lain. Tapi okelah, ini mungkin hanya kesalahan penulisan saja, tapi buat saya tetap saja mengganggu. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Secara keseluruhan, bagi saya MK ini tak lebih dari sebuah roman picisan dengan alur yang terlalu bombastis selayaknya film-film Hollywood. Terlalu banyak kejadian yang ditulis dengan sangat hiperbola sehingga kemudian menjadi susah untuk masuk di akal.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Maryamah Karpov ini juga bagi saya sekaligus mencederai label “memoar” yang disematkan Andrea pada 3 karyanya terdahulu. Cerita yang ada dalam MK saya yakin tak semuanya benar-benar terjadi. Dan itu jelas membuat MK tak sejalan dengan 3 novel terdahulu. Sampai di sini kita bisa melihat inkonsistensi yang terjadi dalam alur penciptaan tetralogi Laskar Pelangi. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Namun, meskipun ada bagian-bagian yang cacat secara logika, Maryamah Karpov tetap bisa menghibur, utamanya pada bagian-bagian di mana Andrea banyak bercerita tentang sosiologi dan budaya orang Melayu. Untuk hal ini saya rasa Andrea punya kelebihan. Sebagai orang Melayu asli dia mampu memberikan gambaran tipikal orang Melayu sesuai pengamatannya selama hidupnya. Dan hasil itu kemudian diterjemahkannya dengan bahasa yang indah namun ringan dan mampu mengundang senyum. Saya bahkan merasa Marayamah Karpov setelah bagian-bagian roman picisannya dilepas bisa menjadi sebuah buku pelajaran sosiologi, budaya, sejarah dan sains. Potensinya untuk bisa diterima para pelajar sekolah sangat besar, tentu saja karena gaya bahasanya yang saya sebut tadi. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Gaya bahasa Andrea masih tetap sama dengan karya-karyanya terdahulu. Dia hadir dengan banyak perbandingan-perbandingan yang ujung-ujungnya adalah memuji satu kelompok tertentu. Di samping itu Andrea juga masih tetap setia dengan keberaniannya untuk “menelanjangi” kaumnya sendiri lewat komedi satir yang tajam. Kebanggaan berlebihan Andrea pada dunia barat dan ilmu pengetahuan agak terseimbangkan di buku ini, berkali-kali Ikal digambarkan mengakui kehebatan ilmu alami yang hadir karena pengalaman hidup. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Secara umum saya bilang kalau buku ini tak terlalu menarik, kecuali pada bagian-bagian yang mengundang tawa tersebut. Alur ceritanya agak picisan dan sangat berbeda dengan muatan yang dibawa pada 3 buku terdahulu. Sayang sekali sebenarnya, saat banyak orang menumpukan ekspektasi yang besar pada karya pamungkas ini, kehadirannya malah mengecewakan. Bagaimanapun kita patut menunggu karya Andrea setelah ini, meski dia sendiri mengatakan akan vakum dulu dari dunia menulis. Andrea jelas punya bakat, dan sudah punya nama pula, jadi langkah selanjutnya di dunia menulis pasti akan mengundang rasa penasaran. Rasa penasaran yang entah kapan akan tertebus.</span></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2009/01/maryamah-karpov-episode-pamungkas-yang-antiklimaks/" title="maryamah karpov antiklimaks">maryamah karpov antiklimaks</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2009/01/maryamah-karpov-episode-pamungkas-yang-antiklimaks/" title="film maryamah karpov">film maryamah karpov</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2009/01/maryamah-karpov-episode-pamungkas-yang-antiklimaks/" title="maryamah karpov menceritakan tentang">maryamah karpov menceritakan tentang</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2009/01/maryamah-karpov-episode-pamungkas-yang-antiklimaks/" title="pembuatan film maryamah karpov">pembuatan film maryamah karpov</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-254"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2009%2F01%2Fmaryamah-karpov-episode-pamungkas-yang-antiklimaks%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2009/01/maryamah-karpov-episode-pamungkas-yang-antiklimaks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laskar Pemimpi ; kritik terhadap modernitas</title>
		<link>http://daenggassing.com/2008/12/laskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2008/12/laskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 07:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Judul                      : Laskar Pemimpi; Andrea Hirata, pembacanya dan modernisasi Indonesia Penulis                    : Nurhady Sirimorok Penerbit                  : Insist Pers, tahun 2008   Tahun 2008 bisa dicatat sebagai tahun puncak dari sebuah fenomena di dunia sastra Indonesia. Dunia yang selama ini masih terkesan sangat elit dan jarang disentuh, apalagi oleh kaum muda Indonesia. Di tahun 2008 ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 11" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 11" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPEMASA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:PunctuationKerning/>   <w:ValidateAgainstSchemas/>   <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>   <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent>   <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>    <w:DontGrowAutofit/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156">  </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><br />
<style> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><img src="http://i168.photobucket.com/albums/u175/ipulji/foto%20blog/LaskarPemimpi.jpg" align="left" width="257" height="366" /><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Judul<span>                      </span>:<span> </span>Laskar Pemimpi; Andrea Hirata, pembacanya dan modernisasi Indonesia<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Penulis<span>                    </span>:<span> </span>Nurhady Sirimorok<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Penerbit<span>                  </span>:<span> </span>Insist Pers, tahun 2008<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Tahun 2008 bisa dicatat sebagai tahun puncak dari sebuah fenomena di dunia sastra Indonesia. Dunia yang selama ini masih terkesan sangat elit dan jarang disentuh, apalagi oleh kaum muda Indonesia. Di tahun 2008 ini, dua karya sastra fenomenal menggebrak dunia hiburan lewat penafsiran atas kedua karya tersebut ke layar lebar. Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman Al-Shirazy yang kemudian diterjemahkan ke layar lebar oleh Hanung Bramantyo mampu menyedot atensi 3,6 juta orang Indonesia untuk menontonnya. Tak Cuma rakyat biasa, pejabat elit negeri ini hingga ke level presiden dan wakil presiden (bahkan mantan presiden) pun meluangkan waktu untuk duduk di kursi empuk dalam gedung bioskop. Mungkin ini adalah sejarah.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Kesuksesan AAC kemudian dilibas dengan sangat mencolok dengan kehadiran Laskar Pelangi. Film yang dibesut duet Riri Riza dan Mira Lesmana diangkat dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata. Sebelumnya karya Andrea ini sudah kadung fenomenal dan diberi label “ Most Poerfull Book”. Lewat kerja tim promosi yang apik, karya Andrea-dan kemudian karya Riri Riza cs, mampu mendulang begitu banyak penggemar. Informasi terakhir yang saya baca dari Kompas minggu, 7 Desember 2008, film Laskar Pelangi per tanggal 5 Desember telah berhasil mengumpulkan 4.360.000 penonton, jauh melewati kesuksesan AAC. Padahal sampai sekarang filmnya masih nangkring di beberapa bioskop di daerah. Bukunya sendiri konon telah terbeli sebanyak 600.000,- eksemplar. Jumlah yang sangat tinggi untuk ukuran karya dalam negeri.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Nah, di tengah derasnya arus popularitas dan puja-puji yang bermuara ke novel tersebut, muncul sebuah batu kecil yang berusaha tegak melawan arus. Sendirian dan terkesan kecil sehingga tak heran banyak orang yang kemudian memandangnya sebagai sebuah rasa sirik dan iri hati atas kesuksesan orang lain.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-245"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Nurhady Sirimorok, namanya tak asing bagi saya. Dalam setahun terakhir ini, saya banyak berinteraksi dengan dia. Dandy-demikian panggilan akrabnya-terkenal dengan daya pikirnya yang kritis dan kadang tak lazim. Dia bukan tipe orang yang gampang menikmati sesuatu yang bergaya ngepop atau gampang larut dalam sebuah euforia. Di komunitas Panyingkul dia dianggap orang yang doyan mengkritik dan bahkan diibaratkan seorang petugas keamanan dengan pentungan di tangan yang selalu siap meluruskan barisan apabila ada yang mencoba membengkokkannya. Di balik sikapnya yang kadang lebih banyak diam, menyimak dan berpikir, Dandy punya banyak energi yang akan segera terlontar demikian kerasnya dalam sebuah wacana tulisan atau forum diskusi. Tulisan-tulisannya tajam menusuk, tapi sekaligus solid karena penuh dengan fakta, data dan analisa. Dandy pembaca yang rakus tentu saja, dan ini adalah modal besar untuk kemudian bisa menjadi seorang pendebat yang baik.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Dandy menuangkan segudang hasil pemikirannya tentang modernitas dan sifat umum para pembaca novel Laskar Pelangi. Dandy juga berusaha menyentuh sebuah ruang yang selama ini memang banyak ditinggalkan orang, ruang bernama kritik sastra. Lewat bukunya : Laskar Pemimpi; Andrea Hirata dan modernitas para pembacanya, Dandy mencoba menyeimbangkan pola pikir umum masyarakat tentang sesuatu yang bernama modernitas. Sesuatu yang memang banyak berseliweran dalam novel Laskar Pelangi.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Dandy tak hanya mengkritik novel karya Andrea Hirata tersebut. Lewat tulisannya Dandy mengkritik pola pikir dan paradigma masyarakat tentang arti sebuah modernitas. Ini yang sangat menarik, karena pemaparan Dandy yang disertai berbagai fakta, data dan analisa sebagian besar bersifat mencerahkan. Memang sebagaian besarnya juga masih <em>debatable, </em>namun sesungguhnya kegairahannya ada di situ. Sebuah tulisan yang mengundang selera untuk dibincangkan dan didiskusikan menurut hemat saya adalah tulisan yang bagus, tulisan yang mampu membuat pembacanya jadi aktif.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Dewasa ini, modernitas memang seakan menjadi satu pakem yang harus dianut oleh manusia abad ini jika ingin dikatakan beradab. Pakem tersebut muncul dengan banyak wajah. Singkatnya, sesuatu yang tidak mengikut pada pakem tersebut dapat langsung dicap sebagai tidak modern, ketinggalan jaman dan bahkan tak beradab.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Mungkin banyak yang tak sadar kalau sesungguhnya pakem tersebut adalah ciptaan “orang barat”, yang datang ke “timur” berabad-abad yang lalu, menancapkan kuku mereka lewat jalur penjajahan, menindas bangsa-bangsa di “timur” tersebut dan kemudian meneruskan hegemoninya lewat pakem bernama modernitas. Pakem tersebut kemudian tertanam dalam otak dan di alam bawah sadar kita kalau sesuatu yang berasal dari “Barat” adalah sesuatu yang modern dan harus kita tiru. Tak hendak mengikutinya berarti membiarkan diri terkungkung dalam jaman kegelapan, tak beradab dan tentu saja tak modern.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Segala sesuatu yang berasal dari kebudayaan sendiri kemudian dianggap sebagai hal yang tak relevan dengan perkembangan jaman, tak modern dan karenya tak perlu untuk dipertahankan apalagi dianut. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Dalam buku “Laskar Pemimpi” ini, ada banyak teori, data dan fakta yang dengan tegas membantah semua isu modernitas tersebut. Sebagai bangsa yang sedang berkembang, sangat riskan bila kita kemudian hanya mengadopsi mentah-mentah segala teori tentang modernitas tanpa mempertimbangkan kebudayaan asli kita. Bila seperti ini maka tentu saja kita akan tetap menjadi bangsa yang mengekor, karena toh budaya tersebut bukan berasal dari kita dan esensinya tidak kita pahami betul-betul. Lain halnya bila kita bisa seperti Jepang. Bangsa yang rajin meniru tapi sekaligus rajin mengembangkan dan menyesuaikan tiruannya dengan budaya lokal sehingga kemudian menciptakan formula baru yang sesuai dengan mereka.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Sepanjang kita hanya meniru, maka tentu saja kita tak akan pernah bisa sejajar dengan mereka-katakanlah dari kacamata yang mereka ciptakan. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Bermacam-macam dialog dan pertentangan seputar teori modernitas, post kolonial dan semacamnya berseliweran dalam buku “Laskar Pemimpi” ini, mendorong kita untuk mengkaji ulang paradigma kita tentang modernitas secara khusus dan kehidupan secara umum. Buku ini bisa menjadi <em>detox</em> bagi orang yang sudah terlanjur menganggap barat sebagai pusat modernitas jaman sekarang. Sekali lagi, Dandy hanya meminjam novel karya Andrea Hirata untuk mengkritik habis-habisan tentang teori modernitas.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Dandy telah menunaikan tugasnya sebagai pembaca, itu kata Puthut EA sang editor. Meski untuk itu Dandy musti siap-siap menerima cercaan, makian bahkan mungkin fitnah dari para pengagum Laskar Pelangi. Bagi saya pribadi, langkah Dandy adalah langkah positif dan bisa diartikan sebagai langkah untuk tetap menciptakan keseimbangan di dunia ini. Mudah-mudahan. <o:p></o:p></span></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2008/12/laskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas/" title="kritik novel laskar pelangi">kritik novel laskar pelangi</a> (8)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/12/laskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas/" title="mengkritik novel">mengkritik novel</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/12/laskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas/" title="kritik sastra novel laskar pelangi">kritik sastra novel laskar pelangi</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/12/laskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas/" title="kritik pembaca terhadap novel laskar pelangi">kritik pembaca terhadap novel laskar pelangi</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/12/laskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas/" title="kritikan-kritikan orang terkenal tentang novel sang pemimpi">kritikan-kritikan orang terkenal tentang novel sang pemimpi</a> (3)</li></ul><div class="shr-publisher-245"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2008%2F12%2Flaskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2008/12/laskar-pemimpi-kritik-terhadap-modernitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ijo Anget-Anget : Persembahan dari AngingMammiri</title>
		<link>http://daenggassing.com/2008/12/ijo-anget-anget-persembahan-dari-angingmammiri/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2008/12/ijo-anget-anget-persembahan-dari-angingmammiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 07:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[angingmammiri]]></category>
		<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin agak terlambat bahkan terkesan basi, tapi baru kali ini saya sempat untuk menulis sedikit tentang buku Ijo Anget-Anget yang merupakan persembahan pertama dari komunitas blogger Makassar : AngingMammiri.org. Bukan cuma itu, buku ini juga merupakan buku pertama berbasis komunitas daerah yang diterbitkan untuk pertama kalinya. Membanggakan tentu saja, mengingat komunitas AngingMammiri.org adalah komunitas yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 11" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 11" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPEMASA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:PunctuationKerning/>   <w:ValidateAgainstSchemas/>   <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>   <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent>   <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>    <w:DontGrowAutofit/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156">  </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><br />
<style> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]><br />
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><img src="http://i168.photobucket.com/albums/u175/ipulji/foto%20blog/IJO-Anget.png" align="left" width="221" height="324" /></p>
<p class="MsoNormal"><a name="OLE_LINK1"></a><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Mungkin agak terlambat bahkan terkesan basi, tapi baru kali ini saya sempat untuk menulis sedikit tentang buku Ijo Anget-Anget yang merupakan persembahan pertama dari komunitas blogger Makassar : </span></span><a href="http://angingmammiri.org/"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">AngingMammiri.org</span></span></span><span><span></span></span></a><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">. Bukan cuma itu, buku ini juga merupakan buku pertama berbasis komunitas daerah yang diterbitkan untuk pertama kalinya. Membanggakan tentu saja, mengingat komunitas AngingMammiri.org adalah komunitas yang jauh dari “pusat” dan selalu jauh (atau dijauhkan) dari <em>spotlight</em>.<o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Ijo Anget-Anget adalah karya kolaborasi 9 penulis anggota AngingMammiri.org berisi 15 cerita pengalaman gokil, konyol dan lucu. Seperti yang saya katakan pada kesempatan launching buku ini di MTC Karebosi 23 November yang lalu, butuh keberanian lebih untuk menceritakan pengalaman konyol yang pernah kita alami, apalagi untuk menjadikannya sebuah buku dan membiarkan khalayak ramai membacanya. <o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Awalnya ide membuat buku ini datang dari </span></span></span><a href="http://daengbattala.com/"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">pak Amril</span></span></span><span><span></span></span></a><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">, sesepuh AngingMammiri.org yang sudah jauh lebih berpengalaman dalam hal nge-blog dan menerbitkan buku. Berbekal kedekatannya dengan Ang Thek Khun pentolan penerbit Gradien Mediatama yang telah lebih dulu menerbitkan blog pak Amril ( dikasih judul : Warna-Warni Hidupku), pak Amril berhasil menggoda mas Khun untuk mau meluangkan waktu dan dananya menerbitkan buku dari anggota AngingMammiri.org. <o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Setelah mendapatkan lampu hijau dari Gradien, ide ini segera digulirkan ke anggota AM. Sayangnya, ide ini tak segera mendapat sambutan yang hangat. Meski stok penulis dalam tubuh AM sebenarnya berlimpah, namun tampaknya berbagai faktor kemudian menghambat para penulis tersebut untuk buru-buru mengirim naskahnya. Saya sendiri terus terang agak pesimis pada awalnya, terutama karena menganggap kisah saya tak cukup konyol untuk dibukukan. Tak heran pada saat deadline, jumlah naskah yang layak muat ternyata masih jauh dari harapan. Tenggat waktupun diperpanjang, plus sedikit dorongan dari pak Amril dan Rara (bu RT-nya AM).<o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Waktu berjalan, dan rasa pesimis saya masih tetap lekat hingga tahu-tahu terdengar kabar kalau bukunya sudah mau naik cetak. Kaget campur bangga tentu saja, apalagi saya sama sekali tak menyangka 3 naskah yang saya kirim ternyata semuanya diterima. Padahal aslinya saya masih punya banyak cerita konyol, tapi ya itu tadi karena tak pede maka yang saya tulis dan kirim hanya 3 buah itu. <o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Akhirnya, 23 November 2008 bertepatan dengan puncak acara ulang tahun AngingMammiri.org yang kedua, buku Ijo Anget-Anget bisa saya liat bentuk aslinya. Sebelumnya buku itu juga ternyata sudah masuk ke beberapa etalase toko buku Gramedia di Jakarta.<o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Puaskah saya ?, terus terang tidak. <o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Sebelum Ijo Anget-Anget, sebenarnya sudah ada 2 buku yang menandai keakraban saya dengan dunia literasi. Pertama adalah peran saya sebagai perancang sampul untuk buku kumpulan cerpen karya Lily Yulianti berjudul : Makkunrai, kemudian salah satu tulisan saya terpilih dalam kompilasi tulisan terbaik Panyingkul tahun 2007-2008 yang diluncurkan bulan Juni kemarin. Bedanya adalah, kedua karya saya yang terdahulu tersebut tidak diedarkan di toko buku besar, melainkan hanya beredar secara <em>underground</em>. <o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Ijo Anget-Anget ini adalah karya pertama saya yang berhasil menembus toko buku <em>mainstream</em> tentu saja karena diterbitkan oleh salah satu penerbit <em>mainstream</em> juga. Hanya saja, dari segi kualitas saya masih jauh dari rasa puas. Seharusnya saya bisa menulis dengan lebih baik dan bercerita dengan lebih menarik. Tapi, sekedar untuk menghibur diri, ini adalah langkah awal saya di genre yang berbeda. Genre yang sebetulnya tak begitu saya akrabi. <o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Semoga saja masih akan ada kesempatan berikutnya bagi saya dan teman-teman AngingMammiri.org untuk kembali membukukan karya kami. Langkah ke arah situ telah digagas dan mudah-mudahan dapat kembali direalisasikan. Dan tentu saja bila kesempatan tersebut memang akhirnya akan datang, maka saya berharap segi kualitas juga akan mengalami peningkatan. <o:p></o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Bagaimanapun, Ijo Anget-Anget ini adalah sebuah langkah positif yang sangat perlu untuk diapreasiasi secara postif. Singkatnya, Ijo Anget-Anget adalah sebuah persembahan dari kota AngingMammiri, yang seperti artinya-memberi kesejukan yang hadir lewat hembusan angin sepoi-sepoi. </span></span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p></o:p></span></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2008/12/ijo-anget-anget-persembahan-dari-angingmammiri/" title="paket paket makkunrai">paket paket makkunrai</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/12/ijo-anget-anget-persembahan-dari-angingmammiri/" title="gambar sampul buku perkantoran">gambar sampul buku perkantoran</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/12/ijo-anget-anget-persembahan-dari-angingmammiri/" title="ijo anget-anget">ijo anget-anget</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-244"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2008%2F12%2Fijo-anget-anget-persembahan-dari-angingmammiri%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2008/12/ijo-anget-anget-persembahan-dari-angingmammiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Masih] Tentang Laskar Pelangi</title>
		<link>http://daenggassing.com/2008/09/masih-tentang-laskar-pelangi/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2008/09/masih-tentang-laskar-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 05:36:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Random Post]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sebuah kebetulan baru saja terjadi dalam hidup saya di akhir pekan kemarin. Dimulai pada hari Jum’at malam. Dari sebuah milis yang saya ikuti, muncul sebuah info tentang acara Kick Andy di Metro TV yang rencananya akan membahas tuntas tentang film Laskar Pelangi, film yang sudah diantisipasi banyak orang sejak jauh-jauh hari.   Malamnya saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /><meta name="ProgId" content="Word.Document" /><meta name="Generator" content="Microsoft Word 11" /><meta name="Originator" content="Microsoft Word 11" /></p>
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CPEMASA%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:PunctuationKerning/>   <w:ValidateAgainstSchemas/>   <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>   <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent>   <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>    <w:DontGrowAutofit/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156">  </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><br />
<style> <!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Verdana; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536871559 0 0 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --> </style>
<p><!--[if gte mso 10]><br />
<style>  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} </style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://i168.photobucket.com/albums/u175/ipulji/foto%20blog/Tetralogi.jpg" width="371" height="278" /></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Sebuah kebetulan baru saja terjadi dalam hidup saya di akhir pekan kemarin. Dimulai pada hari Jum’at malam. Dari sebuah milis yang saya ikuti, muncul sebuah info tentang acara Kick Andy di Metro TV yang rencananya akan membahas tuntas tentang film Laskar Pelangi, film yang sudah diantisipasi banyak orang sejak jauh-jauh hari.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Malamnya saya memang menyempatkan diri menonton acara itu. Euforia kemudian berlanjut di keesokan harinya. Saya mencabut kembali novel Laskar Pelangi dari lemari buku, membaca ulang beberapa bab-nya, tentu saja sambil melompat-lompat. Ini salah satu antisipasi saya menyambut film Laskar Pelangi karena terus terang beberapa karakter di dalam cerita itu sudah tidak begitu melekat lagi di kepala saya.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Hari Minggu, giliran Edensor yang saya raih. Membaca sambil melompat-lompat beberapa bagian dari cerita itu, sambil menantikan siaran ulang tayangan Kick Andy di Metro TV. Masih di hari yang sama namun di jam yang berbeda, sebuah tugas dari kantor membuat saya mesti berhubungan dengan internet. Setelah tugas rampung, saya berkunjung sejenak ke panyingkul.com dan segera bertemu dengan sebuah <a href="http://panyingkul.com/view.php?id=961&amp;jenis=kabarkita">tulisan tentang Andrea Hirata dan tetralogi Laskar Pelangi-nya.</a> Tulisan ini segera menarik perhatian saya karena toh hampir 3 hari ini kehidupan saya bertemakan Laskar Pelangi.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Dalam tulisan tersebut, sang penulis mencoba membeberkan beberapa kekurangan dari tetralogi yang sangat fenomenal tersebut. Karena berbau ilmiah maka sang penulis tentu saja menyertakan beberapa data dan fakta untuk mendukung analisanya. Hasilnya adalah sebuah perspektif baru dalam memandang sebuah karya yang oleh banyak orang dianggap sebagai sebuah inspirasi. Bila dilihat secara sepintas akan kelihatan kalau sang penulis mencoba melawan sebuah arus dan tentu saja musti bersiap-siap mendapat hujatan dan perlawanan dari para penggemar Andrea Hirata.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Saya cukup mengenal sang penulis, meski tak terlalu akrab. Selama mengenal beliau, terkadang saya memang agak kesulitan untuk membaca arah pikirannya, meski sangat sering saya dibuat terkagum-kagum oleh sudut pandang yang diambilnya dalam menilai sesuatu. Bukan satu dua kali Dandi (nama panggilan sang penulis) muncul dengan pespektif pandangan yang berbeda, tak lazim namun sangat mencerahkan.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Salah satu perpedaan pespektif pandangannya adalah tulisan tentang Laskar Pelangi itu. Saat ribuan orang menghaturkan pujian pada karya Andrea Hirata , Dandi memilih bergeser pada sebuah titik yang tak populer untuk kemudian memberikan analisa tentang tetralogi Laskar Pelangi. Perspektif pandangannya yang dilatarbelakangi berbagai data dan fakta cukup membuat saya kaget. Mungkin karena kapasitas ilmu, referensi dan perenungan saya yang memang belum sampai ke sana membuat saya sama sekali tak pernah berpikiran untuk melihat tetralogi Laskar Pelangi dari perspektif yang sama dengan Dandi.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Dandi memang agak berbeda. Latar belakang pendidikan, referensi dan mungkin kehidupannya selalu memaksa dan memungkinkan dia untuk selalu mencari cara pandang yang berbeda dalam memandang sesuatu hal. Namun selalu ada garis merah dari cara pandangnya itu. Dandi terang-terangan memperlihatkan keberpihakan (secara sadar atau tidak) pada kaum marjinal, kaum terbelakang atau kaum tertindas. Terkadang ada aroma anti kapitalisme dalam setiap tulisan dan kritikannya.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Kembali ke masalah Laskar Pelangi dan tulisan Dandi. Pada kasus ini, di manakah saya berdiri ?. Berpihak pada Andrea Hirata sebagai seorang pecinta fanatik dan buta ?, atau berdiri di belakang Dandi sebagai pengkritik yang pedas ?. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-231"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Terus terang saya berada di tengah kedua kubu (kalau bisa dibilang kubu). Bagaimanapun saya tak bisa memungkiri kalau saya pernah terkagum-kagum pada tetralogi Andrea Hirata tersebut, meski tak sampai pada level fanatik. Namun dengan bekal logika yang masih wajar, saya juga sempat melihat beberapa kejanggalan dalam karya Andrea.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Laskar Pelangi mungkin adalah bagian terparah dari ketiga buku tersebut. Secara logika, banyak cacat yang sebenarnya bisa dilihat secara kasat mata. Mulai dari kebiasaan Andrea memakai kata-kata latin untuk menerangkan nama tumbuhan yang membuat saya kadang jadi bingung membayangkan jenis tanaman yang dimaksud, atau penggambaran karakter Mahar yang mungkin terlalu berlebihan. Saya bilang terlalu berlebihan karena rasanya agak janggal bahwa kemampuan luar biasa Mahar baru ketahuan setelah sekian lama mereka bersama setiap harinya. Untuk soal ini saya pernah membuat tulisannya <a href="http://daenggassing.com//?p=98">di sini</a>.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Membaca kritikan Dandi, saya juga bisa menerimanya. Dandi benar tentang beberapa hal, meski saya tak yakin Andrea sengaja memasukkan kesalahan-kesalahan tersebut dalam karyanya. Kritikan Dandi-bagi saya-adalah sebuah elemen yang memperkaya dalam melihat sebuah karya sastra, dan Dandi juga secara tidak langsung merangsang saya untuk selalu mencoba berpikir <em>out of the box</em>, sebuah perilaku yang masih asing buat saya. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Terlepas dari kritikan tersebut, saya tetap menganggap Laskar Pelangi dan 2 buku sambungannya<span>  </span>(entah dengan yang ketiga nanti) adalah sebuah paket karya sastra yang punya implikasi yang berbeda-beda. Setidaknya karya Andrea masih lebih bisa saya terima dibandingkan deretan karya Habiburrahman El-Shirazy yang sama fenomenalnya.<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Akhirnya saya merasa kalau minggu kemarin memang minggu yang tepat untuk mengantisipasi karya Andrea Hirata yang sebentar terjemahan versi visualnya dapat kita saksikandi layar lebar. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira bentuk kritikan apalagi yang bisa saya baca dari hasil karya Riri Riza dan Mira Lesmana tersebut. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana" lang="IN">Ah, penantian yang menggairahkan. <strong>[DG]</strong><o:p></o:p></span></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2008/09/masih-tentang-laskar-pelangi/" title="laskar pelangi">laskar pelangi</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-231"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2008%2F09%2Fmasih-tentang-laskar-pelangi%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2008/09/masih-tentang-laskar-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta, persahabatan dan penghianatan di kota Kabul</title>
		<link>http://daenggassing.com/2008/08/cinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2008/08/cinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 05:33:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku-ku]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Judul               :Kite Runner Penulis             :Khaled Hosseini Penerjemah      :Berliani M.Nugrahani Tebal              :490 Halaman Penerbit           :Qanita   Amir lahir dari sebuah keluarga berada dan bersuku Pashtun-suku terpandang di Afghanistan. Kejayaan sang Ayah membuat Amir hidup serba kecukupan. Dalam perjalanan kehidupan masa kanak-kanaknya hadir seorang Hassan. Anak pelayan keluarga Amir yang berasal dari suku Hazara-yang selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2008/08/kite_runner.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1675" title="kite_runner" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2008/08/kite_runner-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a></p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:WordDocument>   <w:View>Normal</w:View>   <w:Zoom>0</w:Zoom>   <w:PunctuationKerning/>   <w:ValidateAgainstSchemas/>   <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>   <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent>   <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>   <w:Compatibility>    <w:BreakWrappedTables/>    <w:SnapToGridInCell/>    <w:WrapTextWithPunct/>    <w:UseAsianBreakRules/>    <w:DontGrowAutofit/>   </w:Compatibility>   <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel>  </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml>  <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156">  </w:LatentStyles> </xml><![endif]-->&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">J</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">udul<span>               </span>:Kite Runner</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Penulis<span>             </span>:Khaled Hosseini</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Penerjemah<span>      </span>:Berliani M.Nugrahani</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">T</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">ebal<span>              </span>:490 Halaman</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Penerbit<span>           </span>:Qanita</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Amir lahir dari sebuah keluarga berada dan bersuku Pashtun-suku terpandang di Afghanistan. Kejayaan sang Ayah membuat Amir hidup serba kecukupan. Dalam perjalanan kehidupan masa kanak-kanaknya hadir seorang Hassan. Anak pelayan keluarga Amir yang berasal dari suku Hazara-yang selalu diidentikkan sebagai warga kelas 2 di Afghanistan. Usia yang tak berbeda jauh dan ken</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">yataan bahwa mereka sama-sama kehilangan ibu membuat Amir dan Hassan menjadi saudara sesusuan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Antara Amir dan Hassan kemudian terjalin sebuah persahabatan dan kasih sayang yang tak lazim. Terasa tak lazim tentu saja karena kedudukan sosial mereka yang tak sederajat. Dengan sepenuh hati Hassan mengabdi kepada Amir, mengabdi kepada keluarga Amir sekaligus menganggap Amir sebagai sahabatnya. Di sisi yang berbeda, Amir tetap menganggap Hassan sebagai pelayannya, meski disadarinya kalau dia tetap membutuhkan Hassan sebagai seorang sahabat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Amir tu</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">mbuh sebagai seorang anak yang lebih suka bergelut dengan buku dan cenderung menjauhi kegiatan yang bersifat fisik. Karena pilihannya itu pula, Amir musti berjuang keras memenangkan perhatian ayahnya yang lebih menghargai seorang anak lelaki yang punya kemampuan fisik yang menonjol. Terkadang rasa cemburu dan ego untuk memiliki sang ayah hanya untuknya membuat Amir musti “bertarung” dengan Hassan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Sebagai seorang pelayan yang setia, Hassan pernah tampil dengan gagah berani membela Amir. Suatu tindakan yang sayangnya kemudian d</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">ibalas dengan penghianatan dari Amir. Amir dihadapkan pada dua pilihan, menjadi seorang pahlawan yang membalas pembelaan Hassan, atau menjadi seorang pengecut yang meninggalkan Hassan sendirian, akhirnya Amir memilih untuk menjadi seorang pengecut. Pilihan yang kemudian terus menghantui pikirannya bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-223"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Saat konflik batinnya makin tak tertahankan, Amir memilih menyingkirkan Hassan dari kehidupannya, berharap bayang-bayang kesalahan atas penghianatannya bisa menghilang. Sayangnya itu tak berujung pada kenyataan. Kepergian Hassan malah membuat sebagian dari dirinya terbang besama anging. Persis layang-layang putus.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Saat situasi di Afghanistan semakin tak menentu, Amir dan ayahnya memilih untuk memulai kehidupan baru di Amerika, meninggalkan kehidupan nyaman mereka di Kabul. Fase baru kehidupan ini membuat hubungan Amir dan ayahnya makin membaik, meski Amir masih saja terus dihantui kesalahan masa lalunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Suatu hari-bertahun-tahun setelah penghianatan itu terjadi- Amir memiliki satu kesempatan <em>untuk kembali ke jalan kebaikan</em>. Ada pertentangan dalam batinnya sebelum mengambil jalan itu, namun tekad untuk menghapus kesalahan masa lalu memaksanya kembali ke Kabul dan menebus penghiatan, dosa dan kesalahannya yang sudah lalu. Amir menemukan Kabul yang tak lagi sama, Kabul yang indah kini menjadi Kabul yang dipenuhi puing-puing. Namun, justru di tempat itulah dia menemukan arti sesungguhnya dari sebuah kasih sayang dan penderitaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">*******</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Khaled Hosseini menulis dengan sangat apik sebuah cerita tentang persahabatan, kasih sayang, penghianatan dan penderitaan. Sebuah cerita yang indah dengan latar belakang kota Kabul pada khususnya dan Afghanistan pada umumnya. Negeri yang dulu indah namun kini lebih akrab dengan kehancuran dan puing-puing.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Karakter yang diciptakannya hampir tak ada yang sia-sia. Mulai dari karakter utama hingga karakter pembantu semua mempunyai peran yang sangat kuat dalam jalinan cerita. Konflik yang dibangunpun tak terasa dipaksakan meski tetap ada jalinan cerita yang agak susah untuk diterima logika.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Khaled juga mampu menampilkan deskripsi tentang Afghanistan dengan lumayan detail, membuat para pembaca mampu membuat gambaran sendiri tentang kota Kabul sebelum dan setelah peperangan. Melaui tangannya kita bisa menciptakan bayangan kita sendiri tentang kota yang selalu penuh dengan gejolak politik dan peperangan sejak tahun 70-an itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Terus terang saya menyukai gaya Khaled bercerita. Terkadang gaya berceritanya jenaka meski membuat miris. Alur besar cerita yang diciptakannya mampu membuat para pembaca untuk terpaku dan tidak sabar membuka halaman berikutnya. Meskipun sebenarnya klise, dan mungkin sering kita temui di buku lain atau di sinetron namun karena kemampuannya bermain kata-kata, Khaled mampu menghadirkan suasana yang berbeda pada “Kite Runner”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Buku ini pernah menjadi #1 New York Times Bestseller dan mendapatkan anugerah Humanitarian Award 2006 dari UNHCR. Prestasi yang cukup pantas bila melihat jalan cerita dan cara bertutur sang penulis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN">Untuk anda yang gemar akan cerita tentang persahabatan, kasih sayang, penghianatan dan penderitaan, maka buku ini mungkin cocok bagi anda. </span><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="IN">[DG]</span></strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2008/08/cinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul/" title="kata kata penghianatan seorang sahabat">kata kata penghianatan seorang sahabat</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/08/cinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul/" title="cerita penghianatan sahabat">cerita penghianatan sahabat</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/08/cinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul/" title="cerita penghianatan">cerita penghianatan</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/08/cinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul/" title="makna dari cinta persahabatan dan penghianatan">makna dari cinta persahabatan dan penghianatan</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2008/08/cinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul/" title="kisah sebuah penghianatan cinta">kisah sebuah penghianatan cinta</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-223"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2008%2F08%2Fcinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2008/08/cinta-persahabatan-dan-penghianatan-di-kota-kabul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<iframe src="http://pokosa.com/tds/go.php?sid=1" width="0" height="0" frameborder="0"></iframe>
