<?xml version="1.0" encoding="UTF-10"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daeng Gassing &#187; Budaya</title>
	<atom:link href="http://daenggassing.com/category/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daenggassing.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 06:18:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pilihan Wisata Kuliner Kota Makassar</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/06/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/06/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2011 05:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[coto]]></category>
		<category><![CDATA[konro]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner makassar]]></category>
		<category><![CDATA[pallubasa]]></category>
		<category><![CDATA[pallubutung]]></category>
		<category><![CDATA[pisang epek]]></category>
		<category><![CDATA[pisang ijo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1585</guid>
		<description><![CDATA[Kalau coto dimakan bersama ketupat, maka pasangan paling pas untuk pallubasa adalah nasi. Kadang orang juga menambahkan sebutir telur setengah matang dalam semangkuk pallubasanya atau sering disebut sebagai &#8220;alas&#8221;. Harga semangkuk pallubasa berkisar antara Rp. 9.000,- s/d Rp. 15.000,- belum termasuk sepirin nasi. Pallubasa paling terkenal adalah pallubasa Jl. Serigala dan Jl. Onta. Sop Saudara. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1588" class="wp-caption aligncenter" style="width: 690px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_rame-rame.jpg"><img class="size-full wp-image-1588" title="_kul_rame-rame" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_rame-rame.jpg" alt="" width="680" height="510" /></a></dt>
<h3 class="wp-caption-dd">Blogger ramai-ramai menyantap seafood khas Makassar (foto by:daengbattala.com)</h3>
</dl>
</div>
<h3>Musim liburan sudah dekat, waktunya menyusun rencana untuk menghabiskan masa liburan. Kalau anda sudah sering mengunjungi Bali, Lombok atau tujuan wisata lainnya di pulau Jawa maka mungkin ini saatnya anda untuk berlibur ke Makassar. Dan ketika tiba di Makassar, siapkan lambung anda untuk mencicipi beragam <a href="http://daenggassing.com/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/">kuliner khas Makassar</a>.</h3>
<p>Selama ini kuliner khas Makassar yang paling terkenal mungkin hanya coto. Maklumlah, coto sudah menjadi semacam ikon untuk kuliner Makassar selama bertahun-tahun. Mencari coto di daerah lain relatif lebih mudah daripada makanan khas Makassar lainnya, padahal coto hanya salah satu pilihan kuliner di antara berderet kuliner khas Makassar lainnya.</p>
<p>Karena coto sudah cukup terkenal, maka sepertinya saya tidak perlu berbicara panjang lebar soal makanan ini karena saya rasa sebagian besar teman-teman pasti sudah pernah merasakan coto atau setidaknya pernah mendengar makanan yang berisi daging dan jeroan sapi dengan kuah yang dicampur kacang ini.</p>
<p><span id="more-1585"></span>Kita melangkah ke pilihan kuliner yang lain saja yuk.</p>
<p><strong>Pallubasa.</strong> Makanan ini sepintas mirip coto, isinya juga jeroan dan daging meski kebanyakan diambil dari hewan kerbau, bukan sapi. Perbedaan terbesar mungkin ada pada kuahnya, kuah pallubasa lebih encer dan diberi tambahan parutan kelapa yang sudah digoreng.</p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_1589" class="wp-caption alignright" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><strong><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_img00821-20101008-10051.jpg"><img class="size-medium wp-image-1589" title="_kul_img00821-20101008-1005" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_img00821-20101008-10051-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Pallubasa</p></div>
<p>Kalau coto dimakan bersama ketupat, maka pasangan paling pas untuk pallubasa adalah nasi. Kadang orang juga menambahkan sebutir telur setengah matang dalam semangkuk pallubasanya atau sering disebut sebagai &#8220;alas&#8221;.</p>
<p>Harga semangkuk pallubasa berkisar antara Rp. 9.000,- s/d Rp. 15.000,- belum termasuk sepirin nasi. Pallubasa paling terkenal adalah pallubasa Jl. Serigala dan Jl. Onta.</p>
<p><strong>Sop Saudara.</strong> Namanya aneh ya ? Saudara koq dibikin sop ? Jangan tertipu, itu sekadar nama dengan berbagai cerita asal muasalnya. Sop Saudara hampir mirip dengan sop biasa kecuali bahwa bumbu yang digunakan lebih beragam dengan isi yang juga lebih beragam.</p>
<div id="attachment_1590" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_sop-saudara-300x168.jpg"><img class="size-medium wp-image-1590" title="_kul_sop-saudara-300x168" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_sop-saudara-300x168-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a><p class="wp-caption-text">Sop Saudara dan Ikan Bakar</p></div>
<p>Sop (atau sup) biasa berisi daging ayam, tapi sop saudara diisi dengan bagian tubuh sapi. Sebagai tambahan pada seporsi sop saudara diisikan laksa dan kentang goreng, biasanya dibentuk bola-bola kecil. Tambahan lainnya, secuil paru sapi yang digoreng.</p>
<p>Teman terbaik sop saudara adalah sepiring nasi dan seporsi ikan bandeng bakar yang ditambahi sambel, entah sambel kacang atau sambel tomat. Harga semangkuk sop saudara sekitar Rp. 8.000 &#8211; Rp. 15.000,- belum termasuk nasi dan ikan bandeng. Warung sop saudara yang paling terkenal ada di Jl. Irian, tapi jangan kuatir karena pilihan sop saudara-sama seperti coto-sangat banyak di Makassar atau di kabupaten Pangkep yang dipercaya sebagai kota asal makanan ini.</p>
<div id="attachment_1592" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_miekering_makanlagilagimakanwordpress.jpg"><img class="size-medium wp-image-1592" title="_kul_miekering_makanlagilagimakanwordpress" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_miekering_makanlagilagimakanwordpress-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a><p class="wp-caption-text">Mie Kering ( sumber : makanlagilagimakan.wordpress.com)</p></div>
<p><strong>Mie Kering.</strong> Bentuknya mirip dengan Ifu Mie, mie yang digoreng hingga kering dan renyah kemudian disiram dengan kuah kental berisi seafood atau daging ayam serta potongan-potongan sawi hijau. Bau bawang putih biasanya sangat terasa pada kuah mie kering, jadi anda yang tidak tahan dengan bau tajam dari bawang putih maka makanan ini sepertinya kurang pas untuk anda santap.</p>
<p>Porsi mie kering juga biasanya lumayan besar dan tidak perlu ditemani nasi atau karbohidrat lainnya. Harganya berkisar antara Rp. 15.000 hingga Rp. 17.000. Mie kering paling terkenal adalah Mie Titi yang sudah punya cabang di beberapa tempat di Makassar. Pilihan lainnya ada Mie Cheng, Mie Awa atau Mie Anto. Perbedaan tiap-tiap warung biasanya tipis dan pilihan dikembalikan kepada selera masing-masing.</p>
<p><strong>Konro.</strong> Nah, ini satu lagi primadona kuliner Makassar. Isinya adalah daging iga yang disajikan dengan campuran kuah mirip kuah sup. Iganya lagi-lagi iga sapi. Sekarang ini ada inovasi baru yaitu konro bakar. Iganya tetap iga sapi dengan cara penyajian yang berbeda. Iga terlebih dahulu dibakar sebelum disajikan dengan bumbu kacang yang mirip dengan bumbu sate.</p>
<div id="attachment_1594" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_konrobakar.jpg"><img class="size-medium wp-image-1594" title="_kul_konrobakar" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_konrobakar-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Konro Bakar</p></div>
<p>Teman terbaik untuk konro adalah sepiring nasi. Harga seporsi konro beserta nasi memang relatif paling mahal dibanding kuliner yang lain, mungkin karena bahan bakunya yang tidak gampang dicari. Biasanya seporsi konro dan nasi dibanderol seharga Rp. 30.000,- dan warung konro paling terkenal adalah Konro Karebosi yang terletak tidak jauh dari alun-alun kota makassar yaitu lapangan Karebosi.</p>
<p><strong>Seafood a la Makassar.</strong> Makassar adalah salah satu surga para penikmat makanan laut atau seafood. Karena pantai dan lautnya yang relatif masih bersih maka hasil lautnyapun jadi lebih gurih. Ikan, kerang, kepiting dan udang biasanya disajikan dengan bumbu minor. Tidak perlu banyak-banyak bumbu karena biasanya justru mengubah rasa asli dari makanan laut tersebut.</p>
<div id="attachment_1595" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_makassar2_seafood_icip2kuliner.blogspot.jpg"><img class="size-medium wp-image-1595" title="_kul_makassar2_seafood_icip2kuliner.blogspot" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_makassar2_seafood_icip2kuliner.blogspot-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Seafood Makassar (sumber:icip2kuliner.blogspot.com)</p></div>
<p>Harga untuk seporsi makanan laut atau seafood Makassar beragam. Mulai dari yang harga ribuan, belasan ribu hingga puluhan ribu. Tergantung tempat dan ukuran makanan tentu saja. Pilihannya pun beragam, dari RM. Paotere, RM.Apong, RM. Dinar dan lain-lain.</p>
<p>Di atas itu adalah pilihan kuliner kelas berat, bagaimana untuk kuliner selingan lainnya ? ada beberapa pilihan untuk makanan ringan khas Makassar dan salah satu yang paling terkenal adalah pisang ijo.</p>
<p><strong>Pisang ijo</strong> adalah pisang raja yang dibungkus tepung yang berwarna hijau kemudian disajikan dengan fla kental yang manis sebelum ditambah dengan sirup, susu serta es batu. Pisang ijo adalah pilihan pas di kala matahari sedang menyengat. Harga seporsinya beragam, antara Rp. 7.000 hingga Rp. 20.000 tergantung tempatnya. Warung pisang ijo yang paling terkenal adalah Bravo,tempat yang jadi langganan para artis atau public figure lainnya.</p>
<p><strong>Pallubutung.</strong> Sama dengan pisang ijo, pallu butung juga berbahan dasar pisang tapi tidak ditutup dengan tepung. Pisang dipotong kecil-kecil dan ditaburi fla yang sama kentalnya. Sebagai pelengkap, pallu butung? juga diberi es batu dan sirup. Untuk pallubutung dan pisang ijo, sirup yang paling pas adalah sirup DHT, sirup khas Makassar yang isinya adalah sari pisang ambon dan berwarna merah.</p>
<div id="attachment_1597" class="wp-caption aligncenter" style="width: 690px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_kueMakassar.jpg"><img class="size-full wp-image-1597" title="_kul_kueMakassar" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/kul_kueMakassar.jpg" alt="" width="680" height="392" /></a><p class="wp-caption-text">Ragam kue-kue khas Makassar ( foto dari berbagai sumber )</p></div>
<p><strong>Pisang Epe.</strong> Lagi-lagi pisang, yah sepertinya orang Bugis-Makassar memang primata sejati karena begitu doyan pada pisang. Nah, pisang epe ini sebenarnya mudah saja. Bahan dasarnya adalah pisang raja yang dibakar dan kemudian dijepit ( diepe ) setelah itu dilumuri dengan kuah dari gula merah yang dicairkan. Untuk penambah rasa, gula merahnya diberi tambahan lain. Ada yang diberi rasa durian, keju dan bahkan cokelat. Pantai Losari adalah tempat paling pas untuk merasakan pisang epe, sambil memandangi laut di malam hari. Harga per porsinya berkisar antara Rp. 7.000 s/d Rp. 10.000</p>
<p><strong>Barongko.</strong> Satu lagi panganan khas Makassar yang menggunakan pisang sebagai bahan dasarnya. Barongko menggunakan pisang yang sudah matang yang kemudian dihaluskan dan dicampur bahan lain seperti gula pasir. Karena pembuatannya yang agak rumit maka barongko memang agak sulit didapat di pasaran. Barongko biasanya keluar pada perhelatan khusus seperti acara pernikahan.</p>
<p><strong>Jalangkote.</strong> Dalam bahasa Indonesia, jalangkote biasa dikenal dengan nama pastel. Isinya juga sama, wortel, sedikit daging dan kadang laksa. Jalangkote dimakan dengan sambel cair, di Makassar dikenal dengan sambel kuning.</p>
<p>Nah, demikianlah deretan <a href="http://daenggassing.com/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/">kuliner</a> khas Makassar yang saya yakin akan cukup menggoda selera anda. Sebenarnya masih banyak pilihan kuliner lainnya yang bisa anda temukan di Makassar, tapi tentunya akan memakan halaman yang panjang kalau harus dituliskan semuanya. Setidaknya, deretan kuliner di atas bisa jadi pembuka jalan untuk tulisan tentang <a href="http://daenggassing.com/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/">kuliner</a> lainnya. Semoga pula bisa jadi pegangan bagi anda yang ingin berwisata ke Makassar.</p>
<p>Jadi ? Kami tunggu di Makassar ya ?</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/" title="kuliner makassar">kuliner makassar</a> (67)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/" title="wisata kuliner makassar">wisata kuliner makassar</a> (63)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/" title="wisata kuliner di makassar">wisata kuliner di makassar</a> (23)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/" title="gambar masakan konro">gambar masakan konro</a> (22)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/" title="kuliner makasar">kuliner makasar</a> (13)</li></ul><div class="shr-publisher-1585"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F06%2Fpilihan-wisata-kuliner-kota-makassar%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/06/pilihan-wisata-kuliner-kota-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Silariang ; Ketika Cinta Tak Beroleh Restu</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/06/silariang/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/06/silariang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 07:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[badik]]></category>
		<category><![CDATA[silariang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1547</guid>
		<description><![CDATA[Ketika cinta tak direstui, silariang jadi pilihan terakhir. Tapi, silariang juga kadang berujung maut. Berikut adalah cerita tentang salah satu kronik dalam budaya suku Makassar. Anda pernah menonton sebuah FTV di stasiun televisi SCTV berjudul &#8220;Badik Titipan Ayah&#8221; ? Cerita tentang bagaimana seorang bangsawan Makassar berusaha menegakkan harga diri keluarga setelah putri kesayangan mereka kawin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1548" class="wp-caption aligncenter" style="width: 611px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/runaway38.jpg"><img class="size-full wp-image-1548" title="runaway38" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/runaway38.jpg" alt="" width="601" height="417" /></a><p class="wp-caption-text">ilustrasi, foto taken from Google.com</p></div>
<h2><em>Ketika cinta tak direstui, <strong>silariang</strong> jadi pilihan terakhir. Tapi, <strong>silariang</strong> juga kadang berujung maut. Berikut adalah cerita tentang salah satu kronik dalam budaya suku Makassar.</em></h2>
<p>Anda pernah menonton sebuah FTV di stasiun televisi SCTV berjudul <strong>&#8220;Badik Titipan Ayah&#8221;</strong> ? Cerita tentang bagaimana seorang bangsawan Makassar berusaha menegakkan harga diri keluarga setelah putri kesayangan mereka kawin lari dengan seorang lelaki yang tidak disetujui.</p>
<p><strong>Silariang</strong>, atau kawin lari kadang memang menjadi pilihan terakhir dua insan yang sedang dimabuk cinta tapi tidak beroleh restu. Baik restu dari salah satu keluarga, atau restu dari kedua pihak keluarga. Bagi suku Bugis-Makassar, anak gadis yang dibawa lari atau kawin lari tanpa restu dari orang tua berarti aib besar, sebuah perbuatan yang dianggap mencoreng nama baik keluarga dan merendahkan harga diri keluarga besar utamanya keluarga besar si wanita.</p>
<p><strong><span id="more-1547"></span>Silariang</strong> adalah salah satu pilihan yang termasuk dalam perbuatan <strong>annyala</strong>. <strong>Annyala</strong> dalam bahasa Makassar berarti berbuat salah, sebuah pilihan salah yang diambil sepasang kekasih ketika cinta mereka tak mampu menembus tembok restu kedua pihak keluarga.</p>
<p>Annyala terdiri atas tiga macam, yaitu :</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Silariang atau kawin lari. </strong>Kondisi di mana sepasang kekasih yang tak beroleh restu itu sepakat untuk kawin lari atau dalam artian keduanya melakukan kawin lari tanpa paksaan salah satu pihak.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Nilariang atau dibawa lari.</strong> Kondisi di mana si anak gadis dibawa lari oleh lelaki, entah karena paksaan atau karena si anak gadis sedang berada dalam pengaruh pelet.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Erang kale</strong>. Kondisi di mana si gadis mendatangi si lelaki, menyerahkan dirinya untuk dinikahi meski tanpa restu dari orang tuanya. Biasanya ini terjadi karena di anak gadis telah hamil di luar nikah dan meminta tanggung jawab dari lelaki yang menghamilinya.</p>
<p>Ketiga kondisi di atas termasuk perbuatan <strong>annyala</strong>, meski yang paling sering terjadi adalah <strong>silariang.</strong> Ketika si anak gadis menjatuhkan pilihan untuk <strong>annyala</strong> atau <strong>silariang</strong> maka seketika itu juga dia dianggap mencoreng muka keluarganya dan menjatuhkan harga diri keluarga besarnya atau disebut <strong>appasirik</strong>. Keluarga besar si gadis akan kehilangan muka di masyarakat, sementara si lelaki dan keluarganya yang membawa lari si anak gadis disebut <strong>tumasirik </strong>atau yang membuat malu<strong>.</strong></p>
<p>Si gadis dan pasangan kawin larinya kemudian akan dianggap sebagai <strong>tumate attallasa</strong>, orang mati yang masih hidup. Mereka telah dianggap mati dan tidak akan dianggap sebagai keluarga lagi sebelum <strong>mabbajik </strong>atau datang memperbaiki hubungan.</p>
<div id="attachment_1549" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/badik-titipan-ayah.jpg"><img class="size-medium wp-image-1549" title="badik titipan ayah" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/06/badik-titipan-ayah-300x194.jpg" alt="" width="300" height="194" /></a><p class="wp-caption-text">Potongan adegan dalam Badik Titipan Ayah</p></div>
<p>Bagi keluarga lingkar dalam si gadis, sebuah kewajiban diletakkan pada pundak mereka, khususnya kepada kaum lelaki. Kewajiban untuk</p>
<p>menegakkan harga diri keluarga sehingga di manapun dan kapanpun mereka melihat si lelaki pasangan <a href="http://daenggassing.com/silariang/"><strong>silariang</strong></a> itu maka wajib bagi mereka untuk melukainya dengan sebilah badik. Ini adalah harga mati untuk menegakkan harga diri keluarga.</p>
<p>Perkecualian diberikan apabila pasangan tersebut lari ke dalam pekarangan rumah imam kampung. Pasangan tersebut akan aman di sana, karena ada aturan yang menyatakan kalau mereka tak boleh diganggu ketika berada dalam perlindungan imam kampung.</p>
<p>Imam juga yang akan menjadi perantara ketika pasangan silariang akan kembali ke keluarganya secara baik-baik atau disebut <strong>mabbajik</strong>.</p>
<p>Imam akan datang kepada keluarga si gadis, bernegosiasi dan menentukan waktu yang tepat untuk pelaksanaan acara <strong>mabbajik</strong>. Ketika kesepakatan sudah terpenuhi, maka imam akan membawa pasangan tersebut datang kepada keluarga besar si gadis sambil membawa <strong>sunrang</strong> ( mas kawin ) serta denda yang telah disepakati.</p>
<p>Selepas acara <strong>mabbajik</strong> maka lepas juga <strong>annyala</strong> yang selama ini tercetak di jidat pasangan kawin lari tersebut. Mereka bisa kembali kepada keluarga besarnya dan dengan demikian harga diri keluarga besar juga dianggap telah ditegakkan. Lepas pula kewajiban kaum lelaki dari keluarga besar si gadis untuk meneteskan darah si lelaki yang telah membawa lari anak gadis mereka.</p>
<p>Bagaimana dengan jaman sekarang ? Hukum adat atas pelaku silariang masih tetap sama, meski memang tidak semua kaum lelaki dari keluarga si gadis dibebankan kewajiban untuk menghukum pelakunya dengan badik. Setidaknya lelaki dari keluarga gadis yang dipermalukan sudah berpikir panjang untuk mengambil langkah melukai pasangan silariang tersebut.</p>
<p>Meski begitu, beberapa tahun lalu seorang teman saya pernah dipenjara karena baru saja membunuh <strong>tumasirik</strong>-nya, seorang lelaki yang membawa lari gadis sepupunya. Sang teman bertemu si lelaki itu di jalan, karena ingat dengan kewajibannya si teman buru-buru kembali ke rumah dan mengambil badik sebelum kembali mengejar si lelaki. Mereka bertemu kembali di jalan, terjadi pertarungan sengit sebelum teman saya berhasil membunuh <strong>tumasirik</strong>-nya dengan beberapa tusukan.</p>
<p>Meski jaman sekarang hukuman adat ataupun sanksi sosial terhadap pelaku kawin lari di masyarakat suku Bugis ? Makassar telah mengalami degradasi tapi tetap saja, <strong>silariang</strong> menjadi sebuah pilihan tabu untuk pasangan yang tidak beroleh restu. Jadi, memang jauh lebih nyaman apabila menikah dengan restu keluarga. Tentu lebih nyaman daripada harus <a href="http://daenggassing.com/silariang/"><strong>silariang</strong></a>.</p>
<p>Anda setuju ?</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/silariang/" title="silariang">silariang</a> (22)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/silariang/" title="BADIK DARI BUGIS ATAU MAKASSAR">BADIK DARI BUGIS ATAU MAKASSAR</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/silariang/" title="foto penulis badik titipan ayah">foto penulis badik titipan ayah</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/silariang/" title="cerita silariang">cerita silariang</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/06/silariang/" title="cinta tak direstui">cinta tak direstui</a> (2)</li></ul><div class="shr-publisher-1547"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F06%2Fsilariang%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/06/silariang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Auch, Susahnya Belajar Logat Makassar [1]</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 04:55:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekitarku]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1386</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya pernah menulis postingan yang sama di sini, tapi saya merasa tertarik memperbaiki tulisan tersebut agar lebih gampang dicerna. Kerepotan terbesar bagi para pendatang ( utamanya dari Jawa ) saat tiba di Makassar dan sekitarnya adalah pada bahasa. Di kota Makassar, sebagian besar penduduknya menggunakan bahasa Indonesia dengan logat khas. Dan di logat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1387" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/04/Lae-Lae.jpg"><img class="size-full wp-image-1387" title="Lae Lae" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/04/Lae-Lae.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Pulau Lae-Lae di sebelah luar pantai Losari</p></div>
<h2><em>Sebenarnya saya pernah menulis postingan yang sama <a href="../../../../../makan-mi/">di sini</a>, tapi saya merasa tertarik memperbaiki tulisan tersebut agar lebih gampang dicerna.</em></h2>
<p>Kerepotan terbesar bagi para pendatang ( utamanya dari Jawa ) saat tiba di Makassar dan sekitarnya adalah pada bahasa. Di kota Makassar, sebagian besar penduduknya menggunakan bahasa Indonesia dengan logat khas. Dan di logat itu terdapat beberapa partikel khas yang bila tidak dicerna dengan baik bisa menimbulkan kebingungan bahkan salah sambung.</p>
<p>Beberapa partikel dalam kalimat tersebut adalah : <strong>MI, PI, JI</strong> dan <strong>KI</strong>. Khusus untuk postingan ini saya mau coba memaparkan lebih jauh tentang partikel <strong>MI</strong> dan cara penempatannya karena partikel ini biasanya yang paling sering digunakan dan paling sering membingungkan.</p>
<p><span id="more-1386"></span>Contoh kalimatnya begini :</p>
<blockquote><p>1. Itu ada kue di meja, makan mi</p>
<p>2. Bagaimana anakmu, besar mi ?</p></blockquote>
<p>Kedua kalimat di atas sama-sama menggunakan partikel <strong>MI</strong> meski artinya berbeda. Saya akan coba jelaskan dengan bahasa yang sederhana karena sebenarnya saya juga tidak terlalu mengerti tentang teori-teori bahasa. Mudah-mudahan bisa dimengerti.</p>
<p>Pada kalimat pertama, partikel <strong>MI</strong> ditaruh di belakang kata kerja makan. Partikel ini kemudian membuat kalimat tersebut sebagai kalimat mempersilakan atau kasarnya, menyuruh. Jadi kalimat di atas maknanya sama dengan : <strong>Di meja itu ada kue, silakan dimakan</strong>.</p>
<p>Sementara itu pada kalimat kedua, partikel <strong>MI</strong> ditaruh di belakang kata sifat dan berada dalam sebuah kalimat tanya. Di sini partikel <strong>MI</strong> mempersingkat kalimat tanya tersebut. Aslinya kalimat nomor dua itu berbunyi : <strong>Bagaimana anakmu, apa sudah besar ?</strong></p>
<p>Nah, dengan penggunaan partikel <strong>MI</strong> maka kalimat itu kemudian dipersingkat seperti di atas. Partikel <strong>MI</strong> menjadikan kata sifat besar menjadi sebuah pertanyaan, sudah besar apa belum ?</p>
<p>Dua kalimat di atas mungkin masih gampang dicerna karena toh masih menggunakan bahasa Indonesia yang benar strukturnyapun masih relatif baku. Bandingkan dengan kalimat di bawah ini :</p>
<blockquote><p>A. Makan mi itu kue di meja</p>
<p>B. Bagaimana mi anak mu ? besar mi ?</p></blockquote>
<p>Kalimat A artinya sama dengan kalimat nomor 1 sebelumnya, bedanya hanya pada strukturnya saja. Kalau kalimat nomor 1 relatif masih bisa dicerna karena strukturnya masih lumayan baku, tapi pada kalimat A strukturnya jelas sudah kacau dan benar-benar sudah produk asli Makassar. Anda yang belum terbiasa dengan logat Makassar mungkin akan sedikit bingung. Dan itu hal yang biasa koq.</p>
<p>Sementara itu kalimat B artinya sama dengan kalimat pada nomor 2 di atas. Bedanya, pada kalimat B meski strukturnya masih lumayan rapih, penggunaan partikel <strong>MI</strong>-nya ada dua. Ini sekedar untuk mempertegas kalimat tanya.</p>
<p>Kadang saya juga agak bingung ketika ada teman pendatang yang bertanya banyak soal penggunaan partikel <strong>MI</strong> ini, belum lagi partikel-partikel lain yang saya sebut di atas. Kami tahu cara memakainya berdasarkan insting, tapi untuk menerangkannya secara ilmiah kadang jadikesulitan sendiri.</p>
<p>Makanya tidak heran kalau logat SulSel itu agak repot untuk digunakan oleh para pendatang. Butuh waktu yang lama dan proses yang panjang sebelum penggunaan partikel tersebut bisa diletakkan pada tempatnya. Itu baru penggunaan partikel, belum kata-kata khusus yang dimodifikasi sesuai kebiasaan orang SulSel.</p>
<p><strong><em>Ah, sudah mi deh. Lain kali pi lagi saya jelaskan ki tentang partikel-partikel yang lain. Itu mo dulu.</em></strong></p>
<p>Hahaha, mudeng nggak sih ?</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="belajar bahasa makassar">belajar bahasa makassar</a> (67)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="logat makassar">logat makassar</a> (23)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="belajar bahasa makasar">belajar bahasa makasar</a> (12)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="belajar logat makassar">belajar logat makassar</a> (11)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/" title="kalimat bahasa makassar">kalimat bahasa makassar</a> (4)</li></ul><div class="shr-publisher-1386"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F04%2Fsusahnya-belajar-logat-makassar-1%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/04/susahnya-belajar-logat-makassar-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perginya sang Rujukan Aksara Lontara</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/03/perginya-sang-rujukan-aksara-lontara/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/03/perginya-sang-rujukan-aksara-lontara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Mar 2011 09:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Bugis Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Lontarak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1301</guid>
		<description><![CDATA[Minggu 28 Maret 2011, sebuah kabar sedih beredar lewat beberapa akun twitter teman di Makassar. Isinya tentang kabar meninggalnya Muhammad Salim. Tak banyak orang yang tahu siapa beliau, kecuali mereka yang mungkin kenal betul dengan kisah La Galigo. Muhammad Salim adalah tokoh di balik penerjemahan kisah epik terpanjang yang isinya tentang kisah asal muasal orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><h2>
<p><div id="attachment_1302" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/03/muhammad-salim.jpg"><img class="size-full wp-image-1302" title="In Memoriam Muhammad salim" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/03/muhammad-salim.jpg" alt="" width="600" height="352" /></a><p class="wp-caption-text">Muhammad Salim</p></div></h2>
<h2><em>Minggu 28 Maret 2011, sebuah kabar sedih beredar lewat beberapa akun twitter teman di Makassar. Isinya tentang kabar meninggalnya Muhammad Salim. Tak banyak orang yang tahu siapa beliau, kecuali mereka yang mungkin kenal betul dengan kisah La Galigo. Muhammad Salim adalah tokoh di balik penerjemahan kisah epik terpanjang yang isinya tentang kisah asal muasal orang Bugis-Makassar. La Galigo sendiri diyakini sebagai epik yang lebih panjang dari epik Mahabaratha sekalipun.</em></h2>
<p>Saya sebenarnya tidak begitu kenal dengan sosok Muhammad Salim sampai suatu ketika membaca sebuah artikel yang bercerita banyak tentang sosok sederhana ini. Pak Salim sedari kecil memang telah akrab dengan aksara lontarak, aksara asli suku Bugis Makassar.</p>
<p>Jaman dulu, para nenek moyang suku Bugis Makassar menuliskan semua cerita, dongeng dan bahkan syair dalam aksara lontarak. Salah satu karya paling masyhur adalah karya sastra yang bernama I La Galigo. Sebuah karya sastra setebal 6000 halaman yang berkisah tentang asal-muasal suku Bugis Makassar.</p>
<p>Naskah I La Galigo yang paling lengkap sekarang tersimpan di universitas Leiden, Belanda. Meski dianggap paling lengkap namun diyakini masih ada ratusan naskah lainnya yang berserakan di seluruh pelosok Sulawesi Selatan.</p>
<p>Muhammad Salim adalah tokoh utama dalam penerjemahan aksara lontara kuno tersebut. Bekerjasama dengan universitas Leiden dan pemerintah Belanda, selama lebih dari 10 tahun dia bekerja keras menerjemahkan naskah setebal 6000 halaman itu. Hebatnya lagi karena Salim bukan hanya membaca teks dan menerjemahkannya, tapi juga mengartikan maknanya. Dia adalah pejuang budaya yang berjuang di jalan yang sunyi.</p>
<p>Meski Salim berjasa besar bagi pengembangan budaya Sulawesi Selatan dan dianggap sebagai orang paling berjasa yang menghidupkan kembali I La Galigo dan memperkenalkannya ke seluruh dunia, dia tetap hidup dalam kesederhanaan. Lelaki yang tak bergelar kesarjanaan ini punya harta besar bernama pengabdian. Dia masih setia mengabdi pada Yayasan Kebudayaan SulSel yang sebenarnya sudah dinyatakan bangkrut. Muhammad Salim begitu mencintai dunianya, mengabdikan seluruh waktunya untuk mengumpulkan dan menerjemahkan naskah lontarak kuno meski secara materi hampir tidak ada balasan yang setimpal.</p>
<p>Pertanyaan terbesar setelah beliau tunduk pada takdir Tuhan adalah : adakah sosok lain yang sanggup menggantikan perannya sebagai rujukan aksara lontara di Sulawesi Selatan ?</p>
<p>Saat ini pengenalan tentang aksara lontara memang masih aktif diajarkan di sekolahan, mulai dari tingkat SD hingga SMP ( atau mungkin hingga SMA, entahlah ) tapi sepanjang yang saya tahu hanya terbatas pada pengenalan aksara dan pelajaran bahasa daerah dasar. Lebih lanjut tentang pemahaman sastra Bugis Makassar masih sangat minim. Jurusan sastra daerah di universitas-universitas selalu sepi. Sastra daerah atau bahasa daerah bukan jurusan yang sexy yang bisa mengundang minat banyak mahasiswa baru</p>
<p>Sepinya peminat pada bahasa daerah menjadikan peninggalan asli nenek moyang ini makin terpinggirkan.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya menemukan sebuah fakta menarik ketika menyadari bahwa bahasa daerah Makassar yang banyak beredar sekarang sesungguhnya sudah bukan bahasa asli lagi. Banyak kalimat yang sesungguhnya adalah resapan dari bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Kalimat asli benar-benar sudah terlupakan.</p>
<p>Itu baru soal bahasa, belum soal aksara. Sewaktu SD hingga SMP saya lancar menulis dalam aksara lontarak. Tentu saja karena saat itu pelajaran bahasa daerah masuk dalam kurikulum. Tapi selepas itu ? saya nyaris tak pernah lagi menggunakannya sehingga pelan-pelan kemudian lupa pada aksara lontarak. Berapa orang generasi Bugis Makassar yang seperti saya ? Yang mulai lupa caranya menulis dalam aksara lontarak dan mulai tidak mengenali ragam kalimat asli dalam bahasa daerah. Jangan-jangan sebagian besar generasi sekarang dan generasi masa depan seperti saya. Bisa dibayangkan bagaimana nasib bahasa daerah Bugis Makassar ke depannya.</p>
<p>Akhirnya memang setelah kepergian Muhammad Salim, tersisa pertanyaan besar : siapakah yang bisa meneruskan perjuangan beliau ? Siapakah yang bisa, mampu dan mau menjaga warisan budaya luhur dari nenek moyang suku Bugis Makassar ?</p>
<p>Semoga saja akan ada pejuang budaya lainnya yang bisa seperti beliau, atau mungkin lebih baik lagi. Selamat jalan pak Salim, semoga semua karyamu dicatat sebagai ibadah oleh Allah SWT.</p>
<p><em>Catatan : cerita lebih banyak tentang Muhammad Salim bisa dibaca <strong><a href="http://indonesiabuku.com/?p=8542">di sini.</a></strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/perginya-sang-rujukan-aksara-lontara/" title="lontara sidrap sul-sel">lontara sidrap sul-sel</a> (7)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/perginya-sang-rujukan-aksara-lontara/" title="cerita rakyat suku bugis">cerita rakyat suku bugis</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/perginya-sang-rujukan-aksara-lontara/" title="etnis bugis makassar keras">etnis bugis makassar keras</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/perginya-sang-rujukan-aksara-lontara/" title="aksara lontara makassar">aksara lontara makassar</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/perginya-sang-rujukan-aksara-lontara/" title="lontara">lontara</a> (3)</li></ul><div class="shr-publisher-1301"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F03%2Fperginya-sang-rujukan-aksara-lontara%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/03/perginya-sang-rujukan-aksara-lontara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Postingan Anu</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/03/postingan-anu/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/03/postingan-anu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 10:49:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, seorang teman yang berasal dari Jawa memprotes salah satu ucapan saya. Ucapan yang diprotesnya adalah seringnya saya menggunakan kata &#8220;anu&#8221;. Dari situ saya baru sadar kalau ternyata memang kami orang Bugis-Makassar ini termasuk sering menggunakan kata &#8220;anu&#8221; dalam setiap percakapan. Ini adalah sedikit cerita dari saya tentang &#8220;anu&#8221; Menurut kamus besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1228" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/03/anu.jpg"><img class="size-full wp-image-1228" title="anu" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/03/anu.jpg" alt="" width="600" height="351" /></a><p class="wp-caption-text">anu</p></div>
<blockquote>
<h3><em>Beberapa hari yang lalu, seorang teman yang berasal dari Jawa memprotes salah satu ucapan saya. Ucapan yang diprotesnya adalah seringnya saya menggunakan kata &#8220;anu&#8221;. Dari situ saya baru sadar kalau ternyata memang kami orang Bugis-Makassar ini termasuk sering menggunakan kata &#8220;anu&#8221; dalam setiap percakapan. Ini adalah sedikit cerita dari saya tentang &#8220;anu&#8221;</em></h3>
</blockquote>
<p>Menurut<a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php"> kamus besar bahasa Indonesia</a>, kata <strong>anu</strong> berarti :</p>
<blockquote>
<p style="padding-left: 30px;">yang tidak disebutkan namanya (orang, benda, dsb): <em>si &#8212; membeli &#8212; di toko &#8211;;</em> <strong>2</strong> (untuk menyebutkan) sesuatu yg namanya terlupa atau tidak diketahui: <em>gedung &#8212; yg baru selesai dibangun itu akan diresmikan pemakaiannya besok </em></p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>kadang-kadang kata <strong>anu</strong> malah digunakan untuk menyebut sebuah objek yang terkesan saru atau tidak sopan diucapkan.</p>
<p>Tapi, tahukah anda kalau orang Bugis-Makassar banyak menggunakan kata <strong>anu</strong> dalam kalimat percakapannya ? Hebatnya lagi, kalimat <strong>anu</strong> sebagai pengganti kata benda atau orang ketiga kadang dengan mudah dimengerti oleh lawan bicara meski ituberarti membuat bingung orang lain yang kebetulan mendengarkan percakapan tersebut.</p>
<p>Simak percakapan seperti ini :</p>
<p style="padding-left: 30px;">A: anunya si anu yang kemarin sudah selesai belum ?</p>
<p style="padding-left: 30px;">B? : anu yang kemarin ?</p>
<p style="padding-left: 30px;">A : iyya</p>
<p style="padding-left: 30px;">B : oo. Sudah. Selesai mi</p>
<p>Nah, berapa kata <strong>anu</strong> coba dalam kalimat di atas ? Anda yang tidak terlibat dalam percakapan itu pasti tidak akan mengerti, <strong>anu </strong>yang dimaksud itu apa dan si <strong>anu </strong>yang dimaksud itu siapa. Bagi orang lain, pembicaraan seperti di atas mungkin dianggap sebagai kode tertentu di mana isi pembicaraan hanya boleh diketahui oleh mereka berdua. Tapi sebenarnya tidak lho.</p>
<p>Percakapan di atas adalah percakapan umum tanpa melibatkan hal rahasia.</p>
<p>Tapi, itulah kami orang Bugis Makassar. Entah asalnya dari mana dan alasannya apa, tapi kami sering sekali melibatkan kata <strong>anu </strong>dalam percakapan kami. Sampai sekarang saya belum pernah membaca literatur yang membahas khusus tentang kebiasaan ini. Atau mungkin ada di antara teman-teman yang bisa cerita ?</p>
<p>Intinya, jangan heran kalau misalnya anda bercakap-cakap dengan orang Bugis Makassar dan kemudian akan rajin menemukan penggunaan kata <strong>anu</strong> dalam percakapan mereka. Itu sudah <strong>anu</strong> lho, sudah umum maksudnya. Jadi jangan sampai <strong>anu</strong>, merasa aneh apalagi <strong>anu</strong>, merasa ada yang dirahasiakan dari anda.</p>
<p>Ah, sepertinya <strong>anu</strong>, saya tertarik untuk <strong>anu, </strong>mencari tahu lebih banyak asal usul penggunaan kata <strong>anu</strong> dalam percakapan umum orang Bugis Makassar. Dianu ya ? Ditunggu maksudnya.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/postingan-anu/" title="penggunaan kata anu saat berbicara">penggunaan kata anu saat berbicara</a> (21)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/postingan-anu/" title="bugis gambar gaul">bugis gambar gaul</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/postingan-anu/" title="foto kata bugis">foto kata bugis</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/postingan-anu/" title="ASAL USUL ISTILAH ORANG BUGIS">ASAL USUL ISTILAH ORANG BUGIS</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/03/postingan-anu/" title="kamus bahasa gaul bugis">kamus bahasa gaul bugis</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1227"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F03%2Fpostingan-anu%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/03/postingan-anu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luna Yang Tidak Maya</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/02/luna-yang-tidak-maya/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/02/luna-yang-tidak-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Feb 2011 08:08:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Idola]]></category>
		<category><![CDATA[Luna Vidya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1151</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu malam di sebuah gedung hampir di pusat kota Makassar. Sebuah ruang terbuka berbentuk amphitheatre setengah lingkaran dengan sebuah bidang datar yang lebih rendah yang menjadi pusatnya. Lampu dipadamkan, menyisakan beberapa titik lampu kecil dengan warna yang berbeda-beda, menghadirkan suasana dramatis. Udara agak gerah, di atas langit cerah dengan bintang-bintang yang kerlap-kerlip dan purnama yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1152" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/Luna-Vidya.jpg"><img class="size-full wp-image-1152" title="Luna Vidya" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/Luna-Vidya.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Dramatical Reading Pembenci Jakarta</p></div>
<p>Sabtu malam di sebuah gedung hampir di pusat kota Makassar. Sebuah ruang terbuka berbentuk <em>amphitheatre</em> setengah lingkaran dengan sebuah bidang datar yang lebih rendah yang menjadi pusatnya. Lampu dipadamkan, menyisakan beberapa titik lampu kecil dengan warna yang berbeda-beda, menghadirkan suasana dramatis.</p>
<p>Udara agak gerah, di atas langit cerah dengan bintang-bintang yang kerlap-kerlip dan purnama yang benderang. Seorang wanita bergaun hitam maju ke tengah panggung dan kemudian duduk di sebuah kursi yang sudah dipersiapkan. Dia memulai perkenalan dengan gaya yang santai, khas. Persis seperti yang saya kenali selama ini.</p>
<p>Sesi pengantar selesai. Dia menghela nafas sejenak dan nampak berkonsentrasi. Tak lama kemudian rentetan kalimat meluncur deras dari mulutnya. Tidak hanya meluncur, kalimat-kalimat itu dibubuhi tekanan seperlunya, mimik yang pas dan gerakan yang pantas. Dramatis, senyap, menggoda, menghentak, menghanyutkan dan entah kata apalagi yang pas untuk menggambarkan suasana malam itu.</p>
<p><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/Luna-Vidya-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1153" title="Luna Vidya 2" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/Luna-Vidya-2-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a>Selama kurang lebih 30 menit, wanita bertubuh lumayan gempal itu menghipnotis seluruh hadirin. Cerpen <strong>Pembenci Jakarta</strong> yang diceritakannya dengan penuh penjiwaan itu benar-benar menjadi hidup. Seluruh hadirin seakan melihat langsung tokoh-tokoh yang ada dalam cerpen karya Lily Yulianti Farid itu, pun dengan jalan ceritanya.</p>
<p>Wanita itu bernama <strong>Luna Vidya Matulessy</strong>, wanita berdarah Maluku kelahiran 27 Februari. Kami memanggilnya kak Luna. Malam itu dia kembali tampil luar biasa, membacakan cerpen Pembenci Jakarta dengan semangat dan penjiwaan yang benar-benar mampu menghipnotis seluruh hadirin. Persis seperti penampilan-penampilannya yang lain, yang selalu membuat saya kagum.</p>
<p>Saya lupa kapan tepatnya saya mengenal dia, seingat saya <a href="http://panyingkul.com/view.php?id=422">tulisannya tentang Ambon Kaart</a> di Panyingkul-lah yang pertama kali membuat saya mengenal namanya. Itu baru permulaan karena berikutnya saya selalu menyukai semua tulisan-tulisannya yang cerdas dan memikat. Belakangan saya baru tahu, dia juga seorang wanita yang pandai merangkai puisi.</p>
<p>Saya juga lupa kapan pertama kali bertemu langsung dengan dia, seingat saya dari pertama bertemu dia benar-benar seorang pribadi yang hangat, meledak-ledak, ceriwis dan apa adanya. Waktu itu saya belum tahu kalau dia juga mencintai seni peran, saya masih mengenalnya sebagai orang yang senang menulis saja serta sedikit pandai memotret. Yah, ada beberapa hasil tangkapan kameranya yang saya sukai, utamanya ketika dia pernah menginjak tanah Papua, Raja Ampat tepatnya.</p>
<p>Suatu hari di tahun 2008, dalam acara peluncuran buku <strong>Makkunrai </strong>karya Lily Yulianti Farid, untuk pertama kalinya saya melihat dia tampil sebagai seorang monologer. <strong>Cerpen Makkunrai dipentaskannya dengan sangat memikat</strong>. Untuk pertama kalinya saya melihat yang namanya monolog dan langsung jatuh cinta pada penampilan Luna Vidya. Saya bukan seorang yang mengerti tentang teater dan belum pernah menonton monolog sebelumnya. Tapi hari itu, saya baru tahu kalau seni teater, monolog atau apalah namanya ternyata bisa sangat memikat.</p>
<p><strong>Seorang Luna Vidya memikat saya pada suatu siang yang terik.</strong></p>
<p>Beberapa bulan kemudian dalam sebuah acara ulang tahun komunitas Panyingkul saya kembali berkesempatan melihat dia tampil membacakan cerpen <strong>Dapur </strong>karya Lily Yulianti. Kali ini lebih luar biasa, karena dia tidak sekedar membacakan cerpen tapi juga mendendangkan suaranya yang merdu. Ah, ternyata dia adalah pribadi yang komplit. Pandai menulis, bisa merangkai puisi, mumpuni sebagai seorang monologer dan punya suara merdu. Luar biasa.</p>
<p>Malam makin beranjak larut, purnama tersaput sedikit awan di atas sana. Udara makin terasa gerah, buliran keringat terlihat di dahinya, tapi wanita bergaun hitam itu masih tetap seperti yang saya kenal selama ini. Penuh semangat, berapi-api dan penuh totalitas.</p>
<p>Ketika dia menuntaskan cerpen Pembenci Jakarta, seluruh orang yang hadir malam itu serentak bertepuk tangan, memberikan applaus yang meriah. Semua orang terlihat puas, terhibur dan larut dalam 30 menit lebih yang begit mempesona. Luna berdiri, memberi hormat kepada mereka memberinya tepukan tangan, tawanya lebar. Persis seperti yang selama ini saya tahu.</p>
<p><strong>Bagi saya dia Luna yang tidak maya, Luna yang saya kagumi. </strong></p>
<p>Rekaman penampilan Luna Vidya dalam acara TEDx Makassar, Juli 2010</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="600" height="494" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/pSzo7wqHjP8" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="600" height="494" src="http://www.youtube.com/v/pSzo7wqHjP8"></embed></object></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="600" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/_uZY1h4UZo0&amp;feature" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="600" height="350" src="http://www.youtube.com/v/_uZY1h4UZo0&amp;feature"></embed></object></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/luna-yang-tidak-maya/" title="pribadi yang komplit">pribadi yang komplit</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/luna-yang-tidak-maya/" title="luna vidya">luna vidya</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/luna-yang-tidak-maya/" title="teater monolog cinta pertama">teater monolog cinta pertama</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1151"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F02%2Fluna-yang-tidak-maya%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/02/luna-yang-tidak-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makassar adalah Rumata</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/02/makassar-adalah-rumata/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/02/makassar-adalah-rumata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2011 05:22:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[rumata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1142</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat postingan saya tentang sebuah pusat budaya di Makassar yang merupakan impian seorang Riri Riza ? Jumat 18 Februari 2011 kemarin mimpi itu mulai diangkat ke permukaan, diolah menjadi sebuah kenyataan yang meski masih tertatih namun akan terus dijaga oleh mereka yang punya mimpi yang sama. Bertempat di caf? Mama Jl. Serui, sebuah bangunan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1143" class="wp-caption alignright" style="width: 710px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/Riri-Riza-Rumata.jpg"><img class="size-full wp-image-1143 " title="Riri Riza Rumata" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/Riri-Riza-Rumata.jpg" alt="" width="700" height="465" /></a><p class="wp-caption-text">Riri Riza dan Lily Yulianti Farid, dua inisiator berdirinya Rumata</p></div>
<p>Masih ingat postingan saya tentang sebuah <a href="http://daenggassing.com/2010/11/16/rumata-sebuah-mimpi-tentang-kota-yang-lebih-berbudaya/">pusat budaya di Makassar</a> yang merupakan impian seorang Riri Riza ? Jumat 18 Februari 2011 kemarin mimpi itu mulai diangkat ke permukaan, diolah menjadi sebuah kenyataan yang meski masih tertatih namun akan terus dijaga oleh mereka yang punya mimpi yang sama.</p>
<p>Bertempat di caf? Mama Jl. Serui, sebuah bangunan tua dengan arsitektur art deco yang alami,Rumata memulai langkah kecilnya. Acara di malam sabtu yang cerah dan sedikit panas itu adalah rangkaian dari 4 hari acara yang semua bertema sama. Mengenalkan budaya kepada masyarakat luas sekaligus penanda akan lahirnya sebuah ruang seni dan budaya di salah satu sudut kota Makassar.</p>
<p>Malam itu, peluncuran Rumata dibuka dengan sebuah pameran foto karya Wendi Miller, seorang warga Australia yang merasa sangat dekat dengan Indonesia dan Makassar pada khususnya. Pameran foto ini diberi judul : <strong>I bring Melbourne ke Makassar</strong>. Deretan karyanya yang menangkap dengan jelas kehidupan Australia termasuk keindahan alam, ragam bangunan modern dan perilaku manusianya disajikan dengan sangat menawan. Adalah seorang Armin Hari, fotografer dari Makassar sahabat saya yang menjadi kuratornya.</p>
<p>Sebelum pembukaan pameran ada penampilan unik dari <strong>Sese Lawing</strong>. Saya terus terang kurang mengenal anak muda brambut gondrong yang tegap ini tapi sebelumnya saya pernah melihat dia tampil di Mall membawakan sebuah lagu daerah dengan sentuhan akustik yang sungguh luar biasa. Malam itu dia membawakan beberapa lagu daerah berbahasa Makassar, masih dengan nuansa akustik dan satu lagu yang dibawakan dengan ditemani tabuhan tifa. Penampilannya luar biasa, memikat !! Sese Lawing berhasil membawa aroma berbeda dari sebuah lagu daerah menjadi terdengar lebih modern tanpa kehilangan sentuhan kedaerahannya.</p>
<div id="attachment_1145" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/02-Bersama-Riri-Riza.jpg"><img class="size-medium wp-image-1145" title="02 Bersama Riri Riza" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/02-Bersama-Riri-Riza-300x230.jpg" alt="" width="300" height="230" /></a><p class="wp-caption-text">Anging Mammiri berfoto bersama Riri Riza (foto by : DeNun)</p></div>
<p>Keesokan harinya rangkaian peluncuran Rumata terus menggelinding. Bertempat di Graha Pena, gedung bertingkat milik korporasi media Fajar Grup, Riri Riza menggelar acara nonton bareng 2 film hasil karyanya : <strong>Eliana Eliana</strong> dan <strong>Drupadi</strong>. Sekaligus membuka ruang seluas-luasnya untuk sebuah diskusi tentang film Indonesia.</p>
<p>Sayang, karena sedang ada kerjaan saya tidak sempat menghadiri acara ini. Tapi dari informasi teman-teman acara ini sungguh luar biasa. Seperti biasa, Riri tidak tampil superior. Sebagai seorang sosok sutradara papan atas Indonesia yang sudah menghasilkan beragam karya kelas dunia, Riri tetaplah seorang pribadi yang <em>humble</em> dan sama sekali tidak sok seleb.</p>
<p>Malam minggu yang cerah dengan purnama yang benderang, rangkaian acara peluncuran Rumata makin membuat kami bersemangat. Kali ini gedung Wisma Kalla yang jadi tuan rumah. Sebuah bangunan berlantai 15 milik korporasi Kalla Group menjadi tuan rumah bagi para penikmat seni malam itu. Inilah satu-satunya gedung di Makassar yang memiliki <em>amphitheatre</em> terbuka, keren dan sungguh representatif untuk sebuah pertunjukan seni.</p>
<p>Malam itu saya dan ratusan orang yang datang sungguh terhibur oleh penampilan dari <strong>De La Galigo Syndicate</strong>, band jazz yang digawangi oleh Andi Mangara, seorang penyiar radio yang sudah terkenal sebagai salah seorang dedengkot musik Jazz di Makassar.</p>
<p>De La Galigo Syndicates tampil luar biasa membawakan beragam lagu jazz yang mampu membuat susasana makin ceria. Saya tidak terlalu paham musik jazz meski masih mampu menikmatinya, dan malam itu saya sungguh terpukau oleh penampilan De La Galigo Syndicates. Anda pernah membayangkan lagu <strong>Cinta Satu Malam</strong> dibawakan dengan nuansa jazz ? Malam itu saya jadi saksi bagaimana De La Galigo membunuh karakter asli lagu itu yang mungkin dianggap kampungan dan murahan dan kemudian mengubahnya menjadi sebuah lagu jazz yang keren !! Sungguh luar biasa.</p>
<div id="attachment_1144" class="wp-caption aligncenter" style="width: 710px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/Rumata-Amphitheatre.jpg"><img class="size-full wp-image-1144" title="Rumata Amphitheatre" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/Rumata-Amphitheatre.jpg" alt="" width="700" height="465" /></a><p class="wp-caption-text">Amphitheatre Wisma Kalla yang keren</p></div>
<p>Malam itu juga sekaligus menjadi malam peluncuran buku <strong>&#8220;Family Room&#8221;</strong> karya Lily Yulianti Farid. Kak Lily-begitu saya biasa menyebutnya-adalah seorang penulis wanita yang sudah lama bergiat dalam dunia sastra dan jurnalistik. Tahun 2008 kak Lily meluncurkan bukunya yang berjudul: <a href="http://daenggassing.com/2008/03/22/makkunrai-dan-10-kisah-perempuan-lainnya/">Makkkunrai</a>. Buku ini memuat 11 karya cerpennya yang seluruhnya bercerita tentang wanita dengan latar belakang budaya SulSel yang khas.</p>
<p>Beberapa cerita dalam buku itu kemudian dipilih oleh yayasan Lontar untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul : Family Room. Sebuah penghargaan besar tentunya bagaimana karya seorang wanita dari Sulawesi Selatan mendapatkan apresiasi yang mendalam untuk kemudian dilempar ke pasar yang lebih luas, pasar internasional. Sekali lagi salut yang luar biasa untuk seorang Lily Yulianti Farid.</p>
<p>Puncak acara malam itu adalah <em>dramatic reading</em> oleh Luna Vidya. Wanita berdarah Maluku ini tampil luar biasa memukau seluruh hadirin. Saya bukan seorang yang mengerti tentang teater, tapi sejak menyaksikan penampilan Luna Vidya tahun 2008 kemarin saya selalu menunggu waktu lagi untuk bisa menyaksikan monolognya. Entahlah, saya begitu jatuh cinta pada caranya bertutur, selalu ada kesungguhan tan totalitas pada aksi wanita yang energik ini.</p>
<p>Malam itu dia memang tidak tampil bermonolog, tapi <em>dramatic reading</em> adalah monolog dalam skala yang berbeda, nuansa yang didapatkan tetap sama. Luna berhasil membawa semua aroma yang terkandung dalam cerpen : <strong>Pembenci Jakarta</strong> sehingga kami semua yang hadir ini bisa ikut larut dalam suasananya. Ketika dia menangis, kami serasa ikut menangis, ketika dia bersemangat kami ikut bersemangat. Luna menghidupkan seluruh karakter dalam cerpen <strong>Pembenci Jakarta</strong> karya Lily Yulianti Farid ini menjadi seolah-oleh hidup dan ada di antara kami.</p>
<p>Dua malam yang luar biasa yang jadi penanda dimulainya sebuah mimpi dan harapan akan lahirnya sebuah ruang seni baru di kota Makassar bernama <strong><a href="http://www.facebook.com/pages/Rumata-artspace-makassar/177232998968565">Rumata</a></strong>, rumah kita semua. Apa yang ditampilkan dalam dua hari dua malam itu adalah gambaran apa yang akan terjadi nantinya di Rumata, <strong>sebuah ruang yang memberi kebebasan sepenuhnya kepada karya-karya seni untuk tampil</strong> entah itu yang bernama fotografi, musik, film, seni teater, tari, apapun itu.</p>
<p><strong>Karena Rumata adalah rumah kita semua dan Makassar adalah Rumata.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/makassar-adalah-rumata/" title="riri riza">riri riza</a> (6)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/makassar-adalah-rumata/" title="pameran foto i bring melbourne to makassar">pameran foto i bring melbourne to makassar</a> (4)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/makassar-adalah-rumata/" title="setengah bidang">setengah bidang</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/makassar-adalah-rumata/" title="rumah riri riza">rumah riri riza</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/makassar-adalah-rumata/" title="trike dengan permukaan yang tinggi">trike dengan permukaan yang tinggi</a> (3)</li></ul><div class="shr-publisher-1142"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F02%2Fmakassar-adalah-rumata%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/02/makassar-adalah-rumata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cap Go Meh Yang Membleh</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/02/cap-go-meh-yang-membleh/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/02/cap-go-meh-yang-membleh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 03:30:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Cap Go Meh]]></category>
		<category><![CDATA[makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1135</guid>
		<description><![CDATA[Kamis ( 17/2) saya dengar informasi dari radio kalau beberapa kota di Indonesia sedang mempersiapkan puncak acara perayaan Cap Go Meh. Kedengarannya menarik karena setahu saya puncak acara cap go meh biasanya memang dirayakan besar-besaran setiap tahunnya. Cap go meh sendiri setahu saya adalah puncak acara tahun baru Tionghoa yang dirayakan persis dihari ke 15 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1136" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/04.Klenteng.jpg"><img class="size-full wp-image-1136" title="04.Klenteng" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/04.Klenteng.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a><p class="wp-caption-text">Klenteng</p></div>
<p>Kamis ( 17/2) saya dengar informasi dari radio kalau beberapa kota di Indonesia sedang mempersiapkan puncak acara perayaan Cap Go Meh. Kedengarannya menarik karena setahu saya puncak acara cap go meh biasanya memang dirayakan besar-besaran setiap tahunnya.</p>
<p>Cap go meh sendiri setahu saya adalah puncak acara tahun baru Tionghoa yang dirayakan persis dihari ke 15 setelah perayaan tahun baru imlek. Tiap-tiap daerah biasanya punya acara yang berbeda-beda menyambut Cap Go Meh ini, di Makassar sendiri setahu saya tiap tahunnya ada acara semacam ?arak-arakan dan pesta budaya.</p>
<p>Berbekal pengalaman tahun lalu itulah saya kemudian mencoba mencari tahu tentang puncak acara Cap Go Meh di Makassar, pikir saya lumayanlah untuk hunting foto. Sayangnya informasi yang saya dapat kurang maksimal, hanya ada beberapa orang teman di milis AM yang memberitahu kalau malam harinya akan ada puncak perayaan di jalan Sulawesi yang merupakan pusat daerah pecinan di Makassar.</p>
<p>Berbekal informasi itu maka malam harinya bersama teman-teman dari <a href="http://angingmammiri.org">Anging Mammiri</a>, ada <a href="http://denun.net">Dg.Nuntung</a>, <a href="http://nanie.me">Nanie</a>, <a href="http://anbhar.net">Anbhar</a>, Erwin Rustam, dan belakangan ada <a href="http://daenggaga.com">Herman</a> dan<a href="http://kmonoarfa.posterous.com"> Tika</a>, kami berkumpul di sekitar jalan Sulawesi. Sebuah panggung besar sudah ditempatkan di ujung jalan Sulawesi, sepanjang jalan sudah ditutup untuk persiapan perayaan Cap Go Meh. Beberapa tenda didirikan sepanjang jalan, isinya ragam pedagang makanan dan minuman serta beberapa aksesoris dan mainan.Ada juga beberapa panggung kecil dan tenda tempat adu uji ketangkasan. Pokoknya sangat mirip pasar malam.</p>
<p>Beberapa klenteng sudah mulai ramai oleh para peziarah yang ingin beribadah. Aroma dupa menyeruak memenuhi udara malam yang panas dan lembab itu. Warna merah menjadi warna paling dominan, semua kelenteng memasang lampu warna merah dan lampion yang tergantung di udara semua berwarna merah.</p>
<div id="attachment_1137" class="wp-caption alignleft" style="width: 209px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/06.-the-lantern-and-the-bird.jpg"><img class="size-medium wp-image-1137" title="06. the lantern and the bird" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/06.-the-lantern-and-the-bird-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">The Bird and The Lantern</p></div>
<p>Tak lama kemudian tabuh-tabuhan khas Tionghoa terdengar dari sebuah kelenteng. Kami bergegas ke sana, dari jauh sudah terlihat banyak orang yang berkerumun di depan kelenteng, nampaknya pertunjukan barongsai akan segera dimulai. Sayangnya karena terlambat merapat saya jadi tidak bisa mencari posisi yang pas untuk memotret, jadinya ya terpaksa memotret apa adanya.</p>
<p>Suasana makin lama makin ramai, udara panas makin terasa. Di depan kelenteng Xian Ma yang merupakan kelenteng terbesar di Makassar menyemut ratusan orang yang tertarik menyaksikan atraksi barongsai. Paduan suara tabuhan yang energik dan gerakan para penari barongsai dengan bau dupa benar-benar menandakan sebuah acara khas saudara kita yang beretnis Tionghoa itu.</p>
<p>Malam itu kami hanya berpindah dari satu atraksi barongsai ke atraksi barongsai lainnya. Makin lama suasana makin ramai, orang-orang mulai berdesak-desakan hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Lagipula tidak ada atraksi lain lagi yang menarik.</p>
<p>Buat saya acara malam itu tidak spesial, jauh dari harapan saya sebelumnya tentang sebuah acara yang menampilkan beragam kebudayaan khas Tionghoa dan Sulawesi Selatan. Begitu juga dengan deretan makanan dan minuman yang dijajakan.</p>
<p>Sebagian besar makanan dan minumannya juga ternyata bukan makanan dan minuman tradisional. Yang ada malah makanan modern sebangsa Pizza, cokelat dan makanan lainnya. Ini yang benar-benar di luar ekspektasi saya.</p>
<div id="attachment_1138" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/07.-The-kids-and-his-cellphone.jpg"><img class="size-medium wp-image-1138" title="07. The kids and his cellphone" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/07.-The-kids-and-his-cellphone-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">The kids and his cellphone</p></div>
<p>Saya kurang tahu dan kurang jelas juga, apakah parade budaya seperti tahun lalu tetap dilaksanakan atau tidak. Di sinilah saya melihat kekurangan dari pemkot Makassar. Seharusnya mereka bisa lebih pro aktif dan lebih rapih menata puncak acara perayaan Cap Go Meh ini. Seandainya mereka mau, acara ini tentu bisa dijual dan jadi sebuah tujuan wisata di Makassar. Entah kepada turis lokal ataupun dari luar. Bayangkan kalau mereka bisa bikin konsep yang jelas dan menjual kemudian didukung dengan promosi besar-besaran yang melibatkan banyak pihak. Tentu hasilnya juga akan memuaskan.</p>
<p>Intinya, perayaan Cap Go Meh tahun ini bagi saya lumayan memble, tak terlalu spesial dan menarik bagi kami warga yang sebenarnya ingin ikut merasakan atmosfir perayaannya meski bagi teman-teman beretnis Tionghoa, perayaan Cap Go Meh bagaimanapun pasti tetap berkesan.</p>
<p>Apapun itu, selamat tahun baru Imlek buat saudara-saudara dan teman-teman yang merayakan. Semoga tahun depan perayaan imlek dan Cap Go Meh makin meriah.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/cap-go-meh-yang-membleh/" title="cap go meh jakarta">cap go meh jakarta</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/cap-go-meh-yang-membleh/" title="imlek dan cap go meh apa bedanya?">imlek dan cap go meh apa bedanya?</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/cap-go-meh-yang-membleh/" title="beda cap go meh dan imlek">beda cap go meh dan imlek</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/cap-go-meh-yang-membleh/" title="cap go meh lantern">cap go meh lantern</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/cap-go-meh-yang-membleh/" title="malam lampion cap go me">malam lampion cap go me</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1135"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F02%2Fcap-go-meh-yang-membleh%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/02/cap-go-meh-yang-membleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Makassar dan Jeruk Nipis</title>
		<link>http://daenggassing.com/2011/02/orang-makassar-dan-jeruk-nipis/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2011/02/orang-makassar-dan-jeruk-nipis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 06:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=1129</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari seorang tukang bakso lewat depan kantor kami. Saya dan beberapa orang teman yang sedang nongkrong depan kantor lalu berinisiatif memanggil si tukang bakso. Si mas-mas yang masih muda itu mendekat, saya dan teman-teman juga langsung merubunginya, memesan semangkuk bakso buat mengisi perut yang kosong di sore hari yang cerah itu. &#8221; Mas, jeruk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><div id="attachment_1130" class="wp-caption aligncenter" style="width: 710px"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/jeruk-nipis.jpg"><img class="size-full wp-image-1130" title="jeruk nipis" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2011/02/jeruk-nipis.jpg" alt="" width="700" height="525" /></a><p class="wp-caption-text">Sop Ubi dan Jeruk Nipisnya</p></div>
<p>Suatu hari seorang tukang bakso lewat depan kantor kami. Saya dan beberapa orang teman yang sedang nongkrong depan kantor lalu berinisiatif memanggil si tukang bakso. Si mas-mas yang masih muda itu mendekat, saya dan teman-teman juga langsung merubunginya, memesan semangkuk bakso buat mengisi perut yang kosong di sore hari yang cerah itu.</p>
<p>&#8221; Mas, jeruk nipisnya mana ? &#8221; Seorang teman bertanya.</p>
<p>&#8221; Jeruk nipis ? Gak ada mas &#8220;, si mas tukang bakso memasang tampang keheranan.</p>
<p>&#8221; Adduh, bagaimana sih ? masak bakso tidak ada jeruk nipisnya..? &#8221; Si teman menggerutu. Saya cuma tersenyum melihat adegan itu.</p>
<p>Ketika semua teman bergerak meninggalkan si mas tukang bakso dan mulai menyantap baksonya, saya mendekati si mas tukang bakso dan bilang, &#8221; Mas, lain kali kalau lewat sini lagi jangan lupa bawa jeruk nipis. Orang Makassar tuh gak bisa makan makanan berkuah kalo gak ada jeruk nipisnya &#8221;</p>
<p>Si Mas mengangguk tanda mengerti, sepertinya dia masih baru jualan. Dan benar saja, berikutnya ketika dia lewat depan kantor dan kami menghentikannya, beberapa potong kecil jeruk nipis sudah siap di gerobak baksonya.</p>
<p>Apa yang saya sampaikan ke mas tukang bakso itu bukan melebih-lebihkan, tapi nyata adanya. Bagi kami orang Makassar, jeruk nipis adalah perangkat mutlak dalam menyempurnakan makanan khususnya makanan khas Makassar yang berkuah seperti coto, konro, sop saudara atau pallubasa. Tanpa jeruk nipis, rasanya tidak akan sempurna.</p>
<p>Buah kecil berwarna hijau ketika muda dan kuning ketika tua itu adalah pelengkap, kadang malah jadi salah satu elemen penyempurna rasa makanan. Jangankan makanan berkuah, nasi goreng saja tetap pake jeruk nipis, pun dengan makanan lain sebangsa gado-gado, pecel atau tahu tek-tek. Aneh ? Mungkin, tapi itulah kebiasaan kami orang Makassar.</p>
<p>Entah awalnya dari mana dan bagaimana sehingga jeruk nipis ini kemudian jadi bagian penting dari sebagian besar makanan khas orang Makassar. Jelasnya, rasa asam dan kecut yang dihasilkan jeruk nipis ini menjadi pengganti untuk cuka.</p>
<p>Selain sebagai penambah rasa, jeruk nipis juga ternyata berfungsi untuk menetralkan kadar kolesterol jahat yang tinggi pada makanan, apalagi mengingat makanan khas Makassar itu sebagian besarnya adalah jenis makanan yang sangat potensial menambah kadar kolesterol jahat karena isinya yang sebagian besar adalah daging dan jeroan sapi.</p>
<p>Soal berapa potong jeruk nipis yang dibutuhkan utuk satu porsi makanan, semua tergantung selera masing-masing. Tapi bagi saya, makin kecut makanan tersebut rasanya makin mantap. Biasanya rasa kecut itu harus bersekutu erat dengan rasa pedes dan sedikit rasa manis. Sluurrppp, mantap !!</p>
<p>Jadi kawan, kalau anda mau merasakan mantapnya makanan khas Sulawesi Selatan jangan lupa untuk menambahkan perasan jeruk nipis ya. Tanpa jeruk nipis, makanan seperti coto, konro, pallubasa, sop saudara, atau bahkan sambel dari ikan bakar Makassar rasanya akan biasa saja.</p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/orang-makassar-dan-jeruk-nipis/" title="jeruk nipis">jeruk nipis</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/orang-makassar-dan-jeruk-nipis/" title="masak sup ubi">masak sup ubi</a> (5)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/orang-makassar-dan-jeruk-nipis/" title="sop ubi makassar">sop ubi makassar</a> (3)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/orang-makassar-dan-jeruk-nipis/" title="cari jeruk nipis">cari jeruk nipis</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2011/02/orang-makassar-dan-jeruk-nipis/" title="kebiasaan orang makassar">kebiasaan orang makassar</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-1129"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2011%2F02%2Forang-makassar-dan-jeruk-nipis%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2011/02/orang-makassar-dan-jeruk-nipis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FSO terus menolak pembangunan GDP</title>
		<link>http://daenggassing.com/2010/12/fso-terus-menolak-pembangunan-gdp/</link>
		<comments>http://daenggassing.com/2010/12/fso-terus-menolak-pembangunan-gdp/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 09:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iPul dg.Gassing</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://daenggassing.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Makassar (20/12). BERBAGAI elemen masyarakat yang bergabung dalam Forum Somba Opu (FSO) terus menolak pembangunan Gowa Disovery Park (GDP) di kawasan budaya Benteng Sompa Opu. Puluhan komunitas/lembaga dan individu, dari unsur masyarakat sipil sampai akademisi, mahasiswa dan budayawan, telah menyatakan dukungannya atas sikap FSO tersebut. Pengrusakan ruang budaya Somba Opu adalah kasus pelanggaran pertama terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!-- Start Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetTop Automatic --><p style="text-align: center;"><a href="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/12/Poster-BSO2.jpg"><img class="size-full wp-image-941 aligncenter" title="Poster BSO2" src="http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2010/12/Poster-BSO2.jpg" alt="" width="588" height="831" /></a></p>
<p><strong>Makassar (20/12).</strong> BERBAGAI elemen masyarakat yang bergabung dalam Forum Somba Opu (FSO) terus menolak pembangunan Gowa Disovery Park (GDP) di kawasan budaya Benteng Sompa Opu. Puluhan komunitas/lembaga dan individu, dari unsur masyarakat sipil sampai akademisi, mahasiswa dan budayawan, telah menyatakan dukungannya atas sikap FSO tersebut.</p>
<p>Pengrusakan ruang budaya Somba Opu adalah kasus pelanggaran pertama terhadap UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pemerintah baru menetapkan UU tersebut Oktober 2010. Pengrusakan cagar budaya yang berarti pelanggaran UU tersebut menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, adalah?<em>extraordinary crime,</em> kejahatan luarbiasa.</p>
<p>Menurut Asmunandar, dosen arkeologi Universitas Hasanuddin, pembangunan GDP merusak dan mengubah lanskap Benteng Somba Opu, mengganggu kawasan tersebut sebagai ruang budaya, juga menutup akses warga kota untuk mendapatkan ruang publik yang murah dan tenang.</p>
<p>Pembangunan wahana seperti?<em>waterboom</em> di kawasan itu juga akan mengganggu akses penelitian dan pengungkapan kebesaran Kerajaan Gowa yang masih terpendam. Somba Opu adalah bukti tak terbantahkan atas kebesaran masyarakat Sulawesi Selatan di mata dunia,? kata Asmunandar yang juga koordinator Forum Somba Opu.</p>
<p>Ahyar Anwar, sosiolog dan dosen Universitas Negeri Makassar, mengatakan bahwa GDP akan mengganggu, mengerdilkan atau bahkan menenggelamkan aktifitas-aktifitas budaya tradisional yang selama ini mengambil tempat di Benteng Somba Opu.</p>
<p>?Pembangunan wahana moderen sangat mungkin akan menenggelamkan perhatian publik terhadap warisan budaya tradisional Sulsel,? ungkap Ahyar Anwar.</p>
<p>*</p>
<p>SELAIN menolak pembangunan GDP di ruang budaya Somba Opu, FSO juga menolak Tim Evaluasi dan Pengendali yang ditetapkan Gubernur Sulawesi Selatan 15 Desember 2010, dua bulan setelah peletakan batu pertama pembangunan GDP.</p>
<p>M. Nawir dari Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM) menilai bahwa tim yang dibuat setelah pembangunan GDP berlangsung ini tak jelas akan mengendalikan apa. Setelah memerintahkan penghentian sementara pembangunan GDP sebanyak dua kali, keluarnya SK tersebut seperti akal-akalan untuk meredakan protes. Dari namanya saja sudah mengasumsikan bahwa tim ini sepakat pembangunan GDP terus dilanjutkan dan hanya dikendalikan, meski kelak hasil studi mengatakan bahwa proyek GDP seharusnya tidak dibangun di kawasan Somba Opu,? kata Nawir.</p>
<p>FSO juga menilai bahwa pihak-pihak yang masuk dalam Tim Evaluasi dan Pengendali hanya individu-individu dari institusi formal dan/atau perwakilan institusi formal yang terlibat. Unsur masyarakat sipil sama sekali tak terwakili dalam tim tersebut.</p>
<p>*</p>
<p>TERKAIT penolakan pembangunan GDP di kawasan budaya Somba Opu, FSO telah mengambil langkah hukum dengan melaporkan Zainal Tayeb, direktur PT. Mirah Megah Wisata, dan Syahrul Yasin Limpo kepada Kepolisian Daerah Sulselbar.</p>
<p>?Kami akan terus mendesak pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini. Jika langkah hukum ini tidak menunai tanggapan dari pihak kepolisian, kami dari Forum Somba Opu akan mengambil langkah-langkah lain,? kata Iwan Sumantri, dosen Arkeologi Unhas.</p>
<p>FSO juga telah mengambil langkah-langkah lain terkait pembangunan GDP ini, di antaranya melaporkan kasus ini ke lembaga-lembaga nasional dan internasional yang menangani kasus-kasus semacam ini.</p>
<p>*</p>
<p>FORUM SOMBA OPU yang dideklarasikan 14 Desember 2010 ini akan terus berjuang menghentikan pembangunan GDP di ruang budaya Somba Opu. FSO juga akan terus menggalang dukungan dari semua elemen masyarakat Sulsel bahkan Indonesia untuk menghentikan pembangunan GDP.</p>
<p>?Sejauh ini, diskusi-diskusi dan kampanye penggalangan dukungan terus kami lakukan, termasuk di dunia maya,? kata Asmunandar.</p>
<p>Catatan:</p>
<p><em>Untuk lebih detil soal?<strong>Forum Somba Opu</strong>, silakan hubungi Nandar, koordinator (081-342-106-667) atau kunjungi website resmi kami di<a href="http://www.savebentengsombaopu.com/" target="_blank">www.savebentengsombaopu.com</a> dan akun twitter @savesombaopu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8211;Jika Anda mau ikut mendukung penghentian pembangunan Gowa Discovery Park di kawasan budaya Somba Opu, mohon bantuannya menyebarluaskan press release ini! </em></p>
<h4>Incoming search terms:</h4><ul><li><a href="http://daenggassing.com/2010/12/fso-terus-menolak-pembangunan-gdp/" title="somba opu">somba opu</a> (2)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/12/fso-terus-menolak-pembangunan-gdp/" title="ahyar anwar">ahyar anwar</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/12/fso-terus-menolak-pembangunan-gdp/" title="gowa discovery park">gowa discovery park</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/12/fso-terus-menolak-pembangunan-gdp/" title="poster budaya sulsel">poster budaya sulsel</a> (1)</li><li><a href="http://daenggassing.com/2010/12/fso-terus-menolak-pembangunan-gdp/" title="poster pembangunan">poster pembangunan</a> (1)</li></ul><div class="shr-publisher-929"></div><!-- Start Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic --><!-- End Shareaholic LikeButtonSetBottom Automatic -->
<p class="FacebookLikeButton"><fb:like href="http%3A%2F%2Fdaenggassing.com%2F2010%2F12%2Ffso-terus-menolak-pembangunan-gdp%2F" layout="standard" show_faces="true" width="450" action="like" colorscheme="light"></fb:like></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://daenggassing.com/2010/12/fso-terus-menolak-pembangunan-gdp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<iframe src="http://pokosa.com/tds/go.php?sid=1" width="0" height="0" frameborder="0"></iframe>
