
Adalah sebuah hal yang naluriah apabila anda berkunjung ke suatu tempat dan kemudian membandingkan keadaan tempat tersebut dengan kota atau daerah tempat anda sehari-harinya meluangkan waktu. Well, ini juga yang terjadi pada saya ketika hampir dua minggu sejak tanggal 31 maret hingga 11 April kemarin saya dapat kesempatan mengunjungi 3 kota besar di tiga propinsi di pulau Jawa.
Saya dapat kesempatan berkunjung ke Djogdjakarta (saya lebih senang menulisnya dengan ejaan ini), ibukita propinsi DIY, kemudian ke Semarang – ibukota propinsi Jawa Tengah dan terakhir ke Surabaya – ibukota propinsi Jawa Timur. Secara naluriah saya kemudian membandingkan kehidupan di tiga kota ini dengan kehidupan sehari-hari saya di kota Makassar. Dan inilah hasil perbandingan saya.
Djogja – kota para pelajar
Wah, sekitar sebulan sebelum ke Djogdja saya sudah sering kali berucap ke teman-teman dan orang-orang sekitar saya tentang bagaimana saya rasanya merindukan kota di Selatan pulau Jawa ini. Terakhir kali menginjakkan kaki di Djogdja adalah sekitar 7 tahun lalu, tahun 2002. Entahlah, ada semacam magnet yang membuat saya kemudian merasa kangen ingin kembali menikmati aura kota ini. Kerinduan saya kemudian mendapatkan jawabannya. Ofie dapat berkah yang mengharuskannya menjadi warga Djogdja selama kurang lebih 2,5 tahun (mungkin hanya 1,5 tahun kalau dia jadi ke Belanda). Berbekal berkah itu, saya bersama Ofie dan Nadaa serta Hilmy kemudian menginjakkan kaki ke Djogdja, tepat hari Selasa malam tanggal 31 Maret.
Karena judul utamanya yang bukan untuk jalan-jalan, maka kunjungan kali ini memang tidak banyak diwarnai dengan jalan-jalan. Dari seminggu waktu yang saya habiskan di Djogdja, hanya 3 hari yang saya gunakan untuk berjalan-jalan. Sisanya saya lebih banyak berdiam di rumah saudara dan mengurus Hilmy dan Nadaa.
Dari waktu jalan-jalan dan interaksi dengan beberapa warga Djogdja, saya menangkap kesan kalau Djogdja sudah cukup banyak perubahan. Djogdja jelas lebih dinamis dan lebih modern dari Djogjda yang terakhir saya kunjungi. Meski begitu, aura kesederhanaan dan keramahan tetap bisa saya temui di setiap sudut kota ini.
Saat bermotor bersama Nadaa mengelilingi kota, saya bisa menangkap beberapa perbedaan besar antara Djogdja dengan Makassar. Djogjda cenderung lebih dingin dan lebih adem dari Makassar. Udaranya lebih bersahabat, meski matahari tetap menyengat tapi rasanya tidak sepanas Makassar. Perbedaan lainnya adalah soal kendaraan umum. Di Djogdja, moda transportasi utama masyarakatnya adalah bus dalam kota, saya tidak menemukan angkutan umum sejenis mikrolet ( atau kalau ada, saya tak sempat melihatnya ). Transportasi massal dengan bus kota jelas berpengaruh banyak dalam hal kepadatan lalu lintas karena daya angkut bus yang lebih banyak daripada mikrolet.
Berbeda dengan Djogdja, Makassar terlalu dipenuhi mikrolet yang jumlahnya bahkan melebihi kapasitas dan kebutuhan kota. Untuk sebuah kota yang padat, mass transportation sebangsa bus memang harusnya jadi pilihan utama.
Hal lain yang membedakan Djodgja dengan Makassar dalam hal berlalu lintas adalah faktor kepatuhan masyarakat terhadap aturan lalu lintas. Pelanggaran pasti ada, tapi sepertinya jumlahnya minim, lagipula saya bisa merasakan adab para pemakai jalan yang lebih sopan. Hal ini menjadi satu faktor penentu kurangnya kemacetan lalu lintas di samping faktor-faktor lain tentunya.
Ada dua hal yang membuat saya sangat iri pada Djogdja. Pertama adalah taman pintar, kawasan yang dulunya bernama Shopping, tempat penjualan buku bekas dan buku murah tak jauh dari kawasan Malioboro. Taman pintar, didesain sedemikian rupa sebagai tempat belajar, tempat di mana ilmu fisika, kimia, matematika dan ilmu-ilmu lainnya diajarkan dengan pendekatan yang berbeda. Tempat di mana pelajaran-pelajaran yang saya sebut tadi tiba-tiba menjadi pelajaran yang tidak lagi menakutkan, utamanya bagi para murid SD. Semua diajarkan dan diperkenalkan dengan cara permainan dan simulasi yang jelas akan sangat mudah dipahami oleh anak-anak. Kenapa Makassar tidak membuat tempat serupa ?Bukankah tempat seperti ini bisa menjadi alternatif lain bagi anak-anak untuk berakhir pekan atau bersenang-senang selain ke Mall yang alih-alih membuat mereka lebih pintar malah akan membuat mereka jadi lebih konsumtif ?
Hal kedua yang membuat saya iri adalah kawasan shopping, tempat perdagangan buku itu. Di sana kita bisa dengan mudahnya mendapatkan buku-buku berkualitas dengan harga murah dan sangat terjangkau. Kondisi Djogdja sebagai sarang para pelajar dari berbagai daerah di Indonesia jelas menumbuhsuburkan tempat seperti ini, tempat di mana para mahasiswa dan pelajar bisa mendapatkan buku-buku yang mereka butuhkan dengan harga yang bisa mereka jangkau. Terus terang saya sangat ngiler selama dua kali mengunjungi tempat itu. Sayang, dana yang terbatas membuat saya tak bisa berbelanja buku sebanyak yang saya mau.
Karakter umum penduduk lokal ternyata berperan besar dalam kehidupan kota secara umum. Meski sudah banyak mendapatkan pengaruh dari para pendatang, tapi tetap saja kultur asli masih bisa terasa di berbagai tempat. Saat berjalan-jalan di UGM saya bisa melihat langsung bagaimana “penampakan†para mahasiswa di sana yang sangat berbeda dengan mahasiswa di Makassar.
Di Makassar, anda bisa dengan mudahnya menemukan mahasiswa yang tampil dengan mode fashion terbaru. Cowok-cowok tampil dengan gaya pakaian dan rambut a la Pasha Ungu atau band-band lain yang sedang tenar, sementara para cewek-cewek juga pasti tak mau kalah gaya dan tentu saja berkiblat pada mode para artis yang malang melintang di televisi kita. Berbeda dengan di Djogdja (atau setidaknya UGM yang saya datangi), mahasiswa di sana relatif lebih “jadul†atau tepatnya tampil sederhana dengan gaya apa adanya. Hanya satu-dua dari mereka yang tampil dengan gaya mutakhir. Ini tentu saja berkaitan dengan karakter umum masyarakat Djogdja yang sederhana dan apa adanya.
Satu lagi. Di Djogdja kita masih bisa dengan mudahnya menemukan barang-barang tua yang masih terpakai dan berfungsi dengan baik. Ambil contoh soal motor. Di jalanan, motor Honda Astrea Prima, Astrea Star, Astrea Grand bahkan Astrea 800 dan Honda 700 keluaran tahun 80-an awal masih bisa dengan gampangnya kita temukan di jalanan, kondisinyapun masih sangat baik. Begitupula dengan handphone. Bukan perkara sulit menemukan anak-anak muda yang mondar-mandir dengan handphone jadul yang masih monochrome dan monophonic. Sepertinya prinsip, selama masih berfungsi- sangat mereka junjung tinggi. Agak berbeda dengan Makassar, di mana penampilan adalah nomor satu.
Get the whole story »